Friday, June 2, 2017

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 2 Part 2

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 2 Part 2

Sumber Gambar : KBS2


Chae Gyung tidak mau kembali ke desa, ia memutuskan untuk merayu Yeok, ia akan menikahi Yeok dan tinggal di Hanyang. Ia akan berada di dekat Ibu dan Ayah.

"Tapi bagaimana caranya?" Tanya pengasuh.

"Pengeran itu dan aku punya janji. Besok pagi... Kami akan bertemu di desa Dongdongdong."

"Agasshi.."

"Siapkan gaun cantik, sepatu terbaik dan tandu terbaik. Besok, aku akan menunjukkan betapa cantiknya aku."

"Ya. Seperti Anda tahu... ada batas berapa banyak pakaian dan sepatu bisa mengubahmu."

"Bibi, kau tidak percaya padaku? Kau malu denganku?"

"Oh tidak. Bukan begitu. Bagaimana jika dia tidak datang dan melanggar janjinya?"

Chae Gyung nampak berpikir.


Chae Gyung sudah ada di tandu, ia dandan cantik. Ia teringat pesan pengasuhnya,

"Jaga emosimu. Cobalah feminim sebisa mungkin."


Tapi mendadak, Chae Gyung mual di dalam tandu, ia meminta Ahjussi yang membawanya untu menurunkanya, pada akhirnya ia berjalan menuju tempat janjian. Ia sampai disebuh desa tapi sepi, periuknya pun tidak mengepul.

Lalu Chae Gyung melihat tanda "Dongjeokjeon", itu adalah tempat janjian mereka. Chae Gyung tersenyum, ia merapikan kembali gaun bajunya.


Sementara itu, Yeok sudah di dekat paviliun, ia mondar mandir di tanah yang becek jadi sepatunya lengket dengan tanah. Ia tak sengaja menginjak ranting kering, asal saja ia buang ke lahan pertanian.

"Baiklah, aku akan menemukan pencuri itu untuknya. Tunggu dan lihat saja. Hubungan kita akan berakhir mulai hari ini." Gumamnya.


Para warga berkumpul untuk mengadili satu keluarga yang dituduh mencuri beras Raja. Keluarga itu membantahnya, mereka tidak mencuri tapi tak ada yang percaya.

"Sebelum kau membawa malapetaka bagi keluargamu dan desa ini, serahkan dirimu sekarang."

Keluarga itu terus membantah tuduhan itu. Warga bertanya, lalu dengan apa mereka memasak sarapan hari ini? Mereka yakin pencurinya salah satu dari orang-orang yang memasak sarapan hari ini.


Yeok akan menolong tapi langkahnya terhenti saat mengingat kata Ibu Suri untuk tutup mata dan telinga jika di luar dan jangan melakukan apapun.


Chae Gyung mendekati Yeok. Ia terkejut mendengar penjelasan warga, jika mencuri beras Raja maka akan dipenggal.

Yeok mengajak Chae Gyung pergi, Chae Gyung tidak mau soalnya mereka akan dibunuh.

"Mereka mencuri beras Raja." Yeok meningatkan.

"Apa itu dosa yang bisa dibayar dengan kematian?"

"Hakim yang akan memutuskannya."

"Kau buta? Kau tidak lihat itu? Tanaman mereka sudah mati. Ladang gagal panen karena kekeringan. Tidak masalah mereka mencuri beras Raja. Itu sudah jelas, mereka bahkan tidak memiliki makanan untuk dimakan. Bagaimana kau bisa membunuh seseorang karena
mencuri beras Raja? Dan lihat, dia anak kecil."

"Kekeringan itu bukanlah salahku. Lupakan mereka."

"Kau tidak pernah meminta maaf. Kau tidak pernah membantu orang lain. Jika kau tidak melakukan apapun, mengapa kau lahir?"

"Mengapa?"

"Kau bahkan tidak kenal dengan mereka. Dan anak itu yang mencuri barangmu."

"Lalu, kita juga tidak saling kenal!"


Seseorang menyenggol Seo No hingga bungkusan yang dibawanya jatuh. Para warga makin yakin kalau ia lah pencurinya. Mereka akan membawa Seo No ke biro keamanan. Chae Gyung tidak bisa membiarkan hal itu, ia mencoba menolong tapi malah kena lempar.

Tiba-tiba Yeok bersuara lantang, "Aku tahu siapa pencuri itu!"

Semua perhatian tertuju padanya. Apalagi saat Chae Gyung tak sengaja memangilnya pangeran.


Yeok membuka identitasnya sebagai pangeran maka semua warga bersujud padanya. Yeok menjelaskan bagaimana pencuri itu mencuri beras.

"Lihatlah penyimpanan beras itu. Untuk sampai ke bangunan itu... Kau harus berjalan melintasi tanah itu. Karena tidak hujan, tempatnya dipenuhi dengan pupuk yang banyak. Pencurinya adalah orang yang memiliki kotoran [pupuk] disepatunya. Oleh karena itu, akulah pencurinya."

Yeok menunjukkan sepatunya yang dipenuhi pupuk. Padahal Seo No pelaku sebenarnya, sepatunya juga penuh pupuk.


Semua orang tidak percaya bahwa Yeok lah pelakunya. Yeol mengatakan kalau ia membuang ranting di lahan pertanian, mereka diminta menemukannya jika tidak percaya. Dan benar saja ranting itu ada karena memang tadi ia yang membuangnya.

"Sama seperti seorang budak yang tidak bisa melapor tentang tuan mereka... Aku dengar, sangat sulit dan rumit bagi orang rendahan untuk melaporkan orang yang berstatus tinggi. Alih-alih memberontak, Kau malah akan dihukum karena melanggar prinsip moral.

Apa kalian mau melaporkanku? Atau mengambil kembali berasnya dan mengakhirinya?"

"Tentu saja, kami tidak akan melaporkannya. Bagaimana mungkin kami yang rendah ini melaporkan Anda, Pangeran? Jika anda memberi kembali berasnya, semuanya akan berakhir."



Yeok melemparnya pada Chae Gyung untuk menyelesaikan masalah berasnya. Chae Gyung hanya tersenyum garing.

"Apa kau melempar bola ke arahku? (Lempar batu sembunyi tangan)" Batin Chae Gyung.

"Kau bisa mencoba untuk selesaikan situasinya."

Chae Gyung berpikir, ia kemudian memutuskan untuk menjual tandunya guna membeli beras.


Chae Gyung membagikan beras pada para warga. Sementara Yeok mendapat pujian dari para warga karena sudah menyelesaikan masalah. Chae Gyung tersenyum manis padanya.


Chae Gyung tidak hanya membantu membagikan beras tapi ia juga menjelaskan keadaan.

"Kami memiliki lebih banyak beras tersisa di penyimpanan. Pastikan kalian makan nasi hari ini. Ini dari Pangeran kaya, jadi jangan ditolak.

Istana juga prihatin dengan kekeringan. Kami bahkan mengadakan ritual untuk turun hujan, Tapi tidak mudah untuk menyenangkan langit. Rasanya mau mengutuk... Itu sangat sulit."

Seorang nenek memberikan buah kesemek kering untuk Yeok. Yeok menerimanya dengan canggung.


Kilas Balik...

Yung mengintip Mendiang Raja terdahulu yang dipaksa para menteri untuk membuat surat wasiat, soalnya kalau Yung yang merupakan putera dari Ratu yang dituturunkan menjadi raja maka istana akan kacau. Jadi mendiang Raja diminta menulis suart wasiat untuk Yeok.


Yung menerima baju ibunya yang penuh darah dari neneknya.

"Jangan lupa dengan putriku, Yang Mulia. Dia Ibumu, Yang Mulia." Kata neneknya.


Setelah Yung menjadi Raja, ia menebas sendiri para menteri yang menentangnya.

"Aku akan memastikan bahwa aku akan menjadi Raja yang bijak."

Kilas Balik Selesai...


Yung terbangun karena mimpi itu, semua tadi mimpi buruk baginya. Karena ia sangat gugup, tinta yang ada dimejanya tak sengaja ia senggol jadi tumpah ke jubahnya.

Yung melepas jubah itu kesal, ia memanggil kepala kasim agar membakar jubah itu.


Setelah urusan selesai, Yeok membawa Chae Gyung ke Paviliun yang dimaksud. Disana indah banget.


Chae Gyung melihat gaunnya, bawahnya ternyata kotor, tangannya juga kotor karenamembantu orang-orang tadi. Ia menggerutu, gagal deh.. ia sama sekali tidak feminim.

"Kenapa kau menggerutu?"

"Tidak apa-apa..."

Chae Gyung kembali mencoba bersikap feminim, ia bertanya kenapa Yeok tadi berubah pikiran? Yeok balik bertanya, siapa orang yang akan diam saat seseorang bertanya mengapa mereka dilahirkan?

Chae Gyung lupa bersikap feminim, "Aku hanya emosi sesaat..." Lalu ia mulai lagi, "Dan juga, kita sudah memberi mereka kehidupan. Kita melakukan hal yang bermanfaat. Anda lahir dari... sebuah keluarga yang sangat berkelas dan mulia. Anda melakukan sesuatu yang besar dan bermanfaat."

"Aku?"

"Iya. Lihatlah apa yang Anda lakukan tadi. Anda menyelamatkan nyawa seseorang."


Yeok menjawab segalanya tidak ada yang berubah, ia sudah menyelamatkan nyawa pengecut itu, tapi dia tidak muncul.


Seo No rela dipukili sampai 10 kali. Ia melakukan itu untuk mendapatkan sesuatu dari bandar.

"Kembalikan. Kau bilang akan mengembalikannya setelah 10 pukulan."


Yeok penasaran, bagaimana Chae Gyung bisa tahu kalau Seo No lah pencurinya? Chae Gyung balik bertanya, bagaimana Yeok bisa tahu pencurinya?

"Aku melihatnya hari itu. Aku sering datang ke sini, jadi aku hampir mengenal semua anak laki-laki. Banyak dari mereka terpaksa mencuri karena suruhan preman."


Chae Gyung mendadak menatap Yeok dengan senyuman manis, Yeok jadi salah tingkah dibuatnya.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?"

"Anda sangat tertarik dengan keadaan mereka. Mengapa pura-pura tidak peduli? Apa khawatir dengan mertua Anda?"

"Apa?"

Chae Gyung mendadak memegang lengan Yeok, "Pikirkan tentang itu. Anda pura-pura tidak lihat atau dengar. Anda menutup mulut. Itulah yang dilakukan wanita saat mereka akan menikah. Anda bertingkah seperti wanita yang baru saja menikah."

"Kau benar. Itulah yang harus aku lakukan untuk bertahan hidup."


Seo No datang dan langsung berlutut pada Yeok, ia sangat berterimakasih pada Yeok. Yeok dan Chae Gyung kemudian turun menghampirinya.


Seo No mengembalikan surat yang ia curi dari Chae Gyung. Ia lega mendapatkan itu kembali.


Chae Gyung lalu menoleh pada Yeok, "Kau bertanya apa yang akan berubah? Ini yang berubah (sambil menunjukkan suratnya)."

Yeok berdecih, lalu memandang Seo No, "Kupikir kau seorang pengecut. Tapi kau masih memiliki hati nurani juga. Apa kau dipukuli karena ini?"

Chae Gyung khawatir, benarkah?


Seo No tidak memiliki apapun untuk diberikan pada Yeok, maka ia akan memberikan hidupnya, ia akan mati untuk Yeok. Seo No lalu bersujud, tapi Yeon menjadikan tangannya sebagai alas dahi Seo No agar tidak kena tanah.

"Hei! Mengapa kau memberikan hidupmu untukku?"

"Anda menyelamatkan hidupku. Saya akan membalasnya dengan itu. Terima kasih, Yang Mulia. Terima kasih, Agasshi."

"Terserah. Lakukan apapun yang kau mau."


Chae Gyung menyarankan, daripada menyerahkan hidup, Bisakah mereka menjadi teman?

"Siapa? Dia, kau dan aku?"

Chae Gyung mengangguk.

"Ae... Leluconmu tidak lucu."

"Sangat bagus jika kita memiliki teman. Kau akan merasa bangga dengan apa yang kau lakukan ketika melihatnya. Dan dia akan menunjukkan penyesalan atas apa yang dia lakukan dan tidak akan pernah mencuri lagi. Dan aku akan punya alasan untuk mengunjungi Hanyang mulai sekarang."

"Itu sebabnya kau ingin kita berteman? Itu sangat murahan. Apa kau benar putri Sekretaris Utama Kerajaan? Kau yakin kau ini keponakan Ratu?"


Chae Gyung marah karena Yeok mendadak membawa latar belakang keluarganya? Bagaimana jika bukan?

"Anda benar. Aku bebek jelek yang dicurigai semua orang sebagai anak yang tidak sah."

"Agasshi." Panggil Seo No.

"Aku akan kembali ke Geochang dan menikahi keponakan guru itu. Selamat tinggal. Aku akan pergi dari Hanyang hari ini."

Chae Gyung berjalan sambil menangis, padahal ia berharap punya teman supaya memiliki alasan untuk kembali.

Chae Gyung berbalik menatap Yeok, "Aku tahu Anda malu berteman denganku."


Yeok merasa bersalah, ia lalu berlutut di tengah jembatan sambil mengangkat tangan kanannya, "Pangeran Jin Seong, Lee Yeok dan Shin Chae Gyung."

Yeok melirik Seo Noh untuk bergabung. Seo Noh pun mengikuti Yeok dan mengucapkan namanya.

"Lee Yeok, Shin Chae Gyung, dan Seo Noh. Kami bertiga bersumpah untuk menjadi teman mulai hari ini." Lanjut Yeok, ia lalu menyuruh Chae Gyung untuk berlutut juga.


Chae Gyung berlutut dengan senang hati, "Aku bersumpah. Aku bersumpah untuk menjadi teman terbaik dan setia yang tak seorang pun malu berteman denganku."

Seo Noh juga menucapkan sumpah.

Chae Gyung merasa ada yang kurang, mereka harus mengatakannya dengan ritual.

"Saat aku bersama anak-anak perempuan... Kami berbagi rahasia untuk menutup perjanjian. Itu membuat kita jadi lebih dekat dengan cepat."

"Lupakan." Jawab Yeok lalu berdiri, ia hendak melangkah ke kanan tapi terhalang Seo No, melangkah ke kiri tapi terhalang Chae Gyung. Ia pun menyerah.




Yung kembali ke kamarnya dengan muka sebal. Nok Soo mulai menyalakan lilin, ia akan memberitahu kasim dan dayang untuk menjaga agar lilin itu tetap menyala sepanjang malam. Lilin-lilin itu akan menghentikan Yeok dari mimpi buruk.

Im Sa Hong datang menghadap. Yung kesal, apa Sa Hong belum juga menemukannya (dokumen rahasia mendiang Raja)?

"Saya mohon maaf, Yang Mulia. Tolong beri saya lebih banyak waktu."

"Aku tidak bisa tidur sampai surat rahasia itu hancur!" Yung juga kesal pada Nok Soo, "Apa kau tidak memiliki solusi selain wangi lilin ini?"

Yung mengingat senandung siulan Chae Gyung, ia berharao bisa pingsan kembali seperti waktu itu.


Seo Noh membawa Yeok dan Chae Gyung ke rumahnya. Kebetulan rumahnya kosong karena ibu dan ayahnya sedang membawa neneknya ke pengobatan akupuntur. Chae Gyung menangguk pada Yeok, lalu Yeok masuk ke dalam mengikuti Seo Noh.

Sementara itu, Chae Gyung masih berdiam di luar, ia teringat kata pengasuhnya,

"Jika kau pikir itu tidak akan berhasil, jangan terus menempel padanya. Segeralah berubah. "Bagaimana kalau kita menjadi teman?" Omong kosong apa itu? Itu hanya menunjukkan kalau kau tidak berkelas. Jangan melakukan apapun yang merugikan. Kau mengerti?"

Chae Gyung tidak peduli hal itu karena saat ini ia diposisi yang tidak memungkinkan untuk memilih.


Mereka bertika menyalakanlilin dan duduk mengelilinginya sambil mengatupkan tangan. Yeok membuka matanya duluan, ia menyindir Chae Gyung, pasti Chae Gyung tidak punya teman, 'kan? Chae Gyung ingin melakukannya karena iri dengan yang orang lain lakukan, bukan?

"Apa yang kau katakan? Aku melakukan ini berkali-kali sebelumnya."

"Cih... Baiklah, aku akan percaya itu. Sejak kita menjadi teman."


Yeok menawarkan bukunya, Chae Gyung tahu itu buku apaan jadi ia sigap membuangnya. Tapi Yeok lebih sigap lagi, ia kembali merebut bukunya. Yeok membuka buku itu untuk ditunjukkan pada yang lain. Chae Gyung panik dan refleks menutup mata Seo Noh.


Yeok paham, ia menutup gambarnya dengan tangan jadi hanya terlihat tulisannya saja. Ia menjelaskan,

"Ini sebenarnya sebuah buku yang ditulis oleh Mencius. Ini salah satu buku paling sulit didapat tentang Konfusianisme. Aku membuatnya terlihat seperti ini karena..."

"Itu sudah jelas." Tanggapan Seo Noh dan Chae Gyung bersamaan.

"Itu karena aku tidak mau para menteri dan bangsawan mengetahui kalau aku belajar."

Mereka berdua tidak percaya. Yeok menambahi, ia lebih banyak membaca tulisan suci daripada Raja.

Chae Gyung bicara serius, kenapa Yeok tidak belajar? kan bagus jika menjadi pintar?

"Itu karena... Tunggu!"


Di luar ada beberapa orang berpakain hitam-hitam, mereka membawa pedang. Mereka memperhatikan rumah Seo Noh dan kebetulan, Yeok keluar bersama Chae Gyung.


Ternyata Yeok mau buang hajat, tapi saat ia melihat toilet Seo Noh, ia terkejut.

"Kau takut atau tak tahan baunya?" Tanya Chae Gyung.

"Keduanya."

"Jika kau takut, aku akan jaga disini untukmu. Hidungmu nanti akan terbiasa."

Dan Chae Gyung memaksanya masuk.


Chae Gyung berdiri di luar sambil bersiul.

"Apa itu kau?" Tanya Yeok.

"Siapa lagi yang akan melakukannya? Aku bersiul seperti ini saat aku takut. Ini membuatku jadi tenang."


Yeok mencoba bersiul meniru Chae Gyung,

"Kenapa aku merasa sangat nyaman dengan itu?" Gumam Yeok.


Yung sedang menulis sesuatu di tempat ia biasa berdoa. Belum sempat ia menyelesaikannya, Im Sa Hong masuk menemuinya.


Im Sa Hong melapor bahwa ia akhirnya menemukannya. Ia menemukan juru tulis yang melakukan tugas malamnya di kamar mendiang Raja saat Raja meninggal dunia. Dia menyembunyikan identitasnya dan saat ini tinggal di Dongjeokjeon di luar Dongdaemun.

"Apa kau melihatnya?"

"Ya, Yang Mulia. Saya mengirim beberapa orang untuk mengawasinya dari kejauhan."

Wow, jangan-jangan orang-orang yang tadi mengawasi rumah Seo Noh?

"Bawa dia padaku setelah ritual hujan. Aku akan temui dia secara langsung."

"Ya, Yang Mulia."


Im Sa Hong mengompori Yung, ia percaya Ibu Suri melakukan sesuatu. Kemarin sore Beliau membawa Pangeran Jin Seong bersamanya ke luar istana. Beliau juga tidak mengatakan tujuannya.

"Dia sedang mencoba untuk menemukan cara melindungi anaknya yang berharga itu dariku." Jawab Yung santai.

"Cara yang terbaik adalah... menemukan surat rahasia... yang berisi kemauan almarhum Raja lebih dahulu."

"Apa maksudmu?"

"Bagaimana jika Ibu Suri mengetahui keberadaan surat rahasia itu? Bagaimana jika... Beliau mencoba mencari juru tulis itu untuk menahannya?"

"Itu sebabnya aku harus menemukannya. Temukan segera mungkin dan hancurkan itu."

"Surat rahasia nya saja? Apakah menghancurkan surat rahasia itu... adalah akhir dari semua ini?"

OMG! Maksudnya, Im Sa Hong secara terselubung meminta Yung membunuh Yeok. 


Chae Gyung merentangkan kedua tangannya menikmati angin sepoi-sepoi. Ia juga bersiul sambil menutup mata. Yeok yang sudah selesai dengan urusannya pelan-pelan mendekati Chae Gyung.


Ia melakukan apa yang Chae Gyung lakukan. Tapi matanya memperhatikan Chae Gyung,

"Semakin dekat aku menatapnya... Dia semakin menakjubkan." Batin Yeok.

Yeok menyadarai ada kotoran di rambut Chae Gyung, ia hendak mengambilnya pelan-pelan tapi Chae Gyung mendadak membuka matanya.

"Aku..." Yeok mencoba menjelaskan.


Chae Gyung tersenyum, "Aku sudah lama memikirkannya."

Ia lalu menoleh dan memegang tangan Yeok, "Sepertinya aku harus... menikah dengan Anda, Yang Mulia."

Yeok tidak bisa berkata apa-apa mendengar hal itu.


3 komentar

Ceritanya bagus...lanjut ya mbaa...yg gambar2 terakhir sepertinya sinopsisnya belum lengkap..semangat mba..

Aaaa suka suka. Makasih mbak sinopsisnya, semangat ngelanjutnya minggu depan. Di tunggu mbak

Ditunggu minggu depan..trimakasih mbak...

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...