Thursday, June 8, 2017

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 3 Part 2

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 3 Part 2

Sumber Gambar: KBS2


Seo Noh memindahkan kadal air itu ke wadah berbeda dan ia duduk memperhatikannya. Ayahnya menegur, apa Seo Noh akan terus begitu?

"Aku tidak pernah menyangka kalau Ayah melakukan kesalahan. Tapi hari ini Ayah begitu. Kenapa Ayah melakukan itu?"

"Jika kau berteman dengan seseorang yang tidak sesuai dengan tandinganmu... Kau harus membayarnya. Seseorang harus tahu tempatnya."


Tiba-tiba orang-orang berkuda datang ke rumah mereka. Orang-orang itu datang untuk menangkap ayah Seo Noh.


Yeok terus menggendong Chae Gyung sampai di depan rumah Chae Gyung. Sesaat mereka kembali canggung sampai akhirnya Yeok bertanya,

"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan... Atau kau ingin ke kamar mandi?"

Chae Gyung tersenyum melihat cincin yang ia pakai, "Saat kau bersumpah, kau harus membuat sebuah upacara. Jika kau berjanji, kau harus meninggalkan sebuah tanda. Itu memang sudah seharusnya."


Chae Gyung lalu melepaskan cincinnya dan memakaikannya pada jari telunjuk Yeok, tapi tidak muat walaupun sudah dipaksa, akhirnya ia memakaikannya di jari kelingking Yeok.


Mereka kembali canggung. Giliran Yeok yang akan meninggalkan tanda, ia mendekati Chae Gyng. Chae Gyung sudah menutup matanya tapi kemudian Seo Noh datang memanggil Yeok dengan terburu-buru.


Yeok bertanya apa yang terjadi.

"Tolong selamatkan Ayahku, Pangeran. Ayahku bisa dibunuh. Akulah yang mencuri beras, tapi dia yang ditangkap."


Baik Chae Gyung maupun Yeok tidak mengerti, kan masalah itu sudah mereka bereskan.

"Aku yang seharusnya dibawa. Aku yang seharusnya dihukum atas apa yang telah kulakukan." Ulang Seo Noh sambil menangis.

Yeok menenangkannya, begitu pagi tiba ia akan pergi menemui Investigasi Kerajaan Bureau. Ia akan mengatakan Ayah Seo Noh tidak bersalah dan membebaskannya.

"Jadi pulanglah untuk saat ini. Tidak akan ada yang terjadi padanya."


Chae Gyung bertanya, bagaimana dengan dirinya? Yeok menyuruhnya untuk belajar dialek Hanyang di rumah.

"Maaf? Pangeran..."

"Jaga Seo Noh dan Neneknya. Jika kita gegabah... Keadaan bisa bertambah buruk."

Chae Gyung tetap tidak setuju, Jika ini karena beras, ia akan dihukum untuk itu. Jadi Yeok harus memberitahunya.

"Ini bukan salahmu. Bukan." Tegas Yeok lalu buru-buru berlari kembali ke kerajaan.


Yung mendatangi tempat interogasi Ayah Seo Noh, tapi lebih tepatnya tempat penyiksaan. Yung menanyakan nama Ayah Seo Noh. Ayah Seo Noh menjawab Mak Gae. Yung masih bertanya lagi, yang ia maksud nama asli Mak Gae.

"Saya tidak punya nama lain."

"Apa pekerjaanmu?"

"Saya tidak punya apa-apa yang bisa disebut pekerjaan. Saya seorang petani penyewa yang hanya bertani..."

"Tutup mulutmu!! Jika kau berbohong sekali lagi... Aku tidak akan bertanya menggunakan kata-kata lagi. Namamu!!"

"Mak Gae. Saya Mak Gae."

Lalu petugas meletakkan besi panas ke paha Mak Gae membuat Mak Gae berteriak kesalitan.


Yung mendekati Mak Gae, ia bertanya apa Mak Gae adalah juru tulis mendiang Raja?

"Apa yang Anda bicarakan?"

"Bagaimana kau bisa mengenal Pangeran Jin Seong?"

"Pangeran Jin Seong..."

"Mengapa Pangeran ada di rumahmu? Mengapa dia berteman dengan anakmu?!!"

"Itu kesalahpahaman. Pangeran tidak tahu apa-apa tentang..."

Yung tersenyum karena akhirnya Mak Gae keceplosan, "Tentang apa? Apa yang tidak diketahui Pangeran Jin Seong?"

Dan Mak Gae kembali disiksa.


Yung mencocokkan kata-kata Mak Gae tadi dengan kata-kata Chae Gyung bahwa keluarga harus hidup bersama dan mati bersama.

"Kau salah. Kami tidak bisa hidup seperti itu." Batin Yung.


Yung melihat sepatunya kotor, ia melepasnya langsung juga bajunya, ia memerintahkan kasimnya untuk membuang semua itu.


Ratu hendak berkunjung dan melihat kejadian itu, maka ia menggantikan kasim membawa pakaian Yung itu. Dayangnya mengingatkan mengenai pernikahan Yeok.

"Ini bukan saat yang tepat." Jawab Ratu lalu berjalan kembali.


Chae Gyung masuk ke kamar Ayah dan ibunya tapi ternyata disana ada Ratu. Ratu tak menyangka Chae Gyung sudah sebesar itu.

Ayahnya bertanya, ada apa Chae Gyung mencarinya. Chae Gyung lalu menyerahkan surat yang dikembalikan Seo Noh.

"Kau membaca surat ini?" Tanya Tuan Shin.

"Tidak, aku tidak membacanya."

"Baiklah kalau begitu. Aku sudah mendengarnya dari Pengasuhmu. Kau harus tidur. Kami harus mendiskusikan sesuatu dengan Ratu."


Chae Gyung hendak bertanya mengenai Biro Investigasi Kerajaan, tapi ia mengurungkannya dan segera keluar.

Chae Gyung hendak balik lagi tapi ia ingat perintah Yeok untuk menjaga Seo Noh dan neneknya. Dan jika mereka gegabah keadaan bisa bertambah buruk, maka Chae Gyung pun kembali ke kamarnya.


Tuan Shin membaca surat itu dan tampaknya ia tidak senang. Itu adalah surat dari Shaman (dukun). Sebelum wafat, Shaman mewanti-wanti agar Chae Gyung tidak terlibat dengan Keluarga Kerajaan. Jika iya maka mereka dan Istana Kerajaan akan mengalami gejolak kekerasan.


Tuan Shin memohon pada Ratu (Adiknya) untuk menghentikan pernikahan Chae Gyung dengan Yeok apapun yang terjadi.

"Yang Mulia... Chae Gyung tidak boleh menikahi Pangeran Jin Seong."


Pagi-pagi, Yeok mendatangi Biro Investigasi Kerajaan tapi Im Sa Hong sudah ada disana duluan.

"Yang Mulia. Apa yang membawa anda kemari?" tanya kepala Biro Investigasi Kerajaan.

"Aku yakin Kau sudah tahu. Apa alasannya?" Tanya Yeok pada Im Sa Hong.

"Dongjeokjeon adalah tanah milik keluarga kerajaan. Mereka harus memberikan semua hasil panennya. Dia menggelapkan beras dari hasil tanah itu."

"Itu tidak mungkin. Aku yang mengisi tempat penyimpanan mereka."

"Itulah mengapa... Dia juga dituntut karena menipu Pangeran. Dia telah menggelapkan beras untuk Keluarga Kerajaan dan belum memberitahu pejabat tentang kebenarannya setelah dia melakukan kejahatan itu. Dia telah mengabaikan otoritasnya. Anda juga tahu itu... Mengabaikan otoritas sama seperti kejahatan berat dan dianggap sebagai pengkhianatan di Joseon saat ini. Yang Mulia Raja... Tidak akan mengabaikan siapa pun yang menipu dan mengacuhkan keluarga kerajaan."

"Itu hanya sekantong beras. Itu beras... Yang mereka tanam dan panen sendiri. Mereka punya bagian dalam beras itu."

"Tidak peduli sekantong atau sebutir. Itu semua adalah beras Yang Mulia Raja."

"Apa kau mengatakan benar-benar akan menghukumnya?"

"Karena mengabaikan penguasa, dia akan dieksekusi, Yang Mulia."


Yeok lalu berlari keluar untuk menemui Yung langsung. Tapi Yung mengabaikannya, tidak peduli ia berteriak-teriak keras.

Raja saat ini akan menghadiri rapat. Yeok berkata, ia akan menunggu di luar sampai Yung selesai dengan rapatnya.


Kepala Kasim menyampaikanberita itu pada Nok Soo. Nok Soo lalu memberinya batu giok yang berukir aksara China.

"Begitu dia (Yeok) melihat ini... Dia akan meniru identitas Raja untuk menyelamatkan orang di penjara... Dia tidak tahu bahwa itu akan mengubah takdirnya." Jelas Nok Soo.


Akhirnya Yung selesai dengan rapatnya dan Yeok masih tetap disana.

"Aku menyuruhmu pergi. Apa kau menolak untuk mematuhi perintahku?"

"Pemenggalan kepala? Bagaimana bisa kejahatan itu diberi hukuman dengan dibunuh? Tidak. Dia tidak bersalah."

"Dia telah menghina Raja!!! Kejahatan apa yang lebih buruk dari itu?"

"Tidak ada kejahatan yang lebih buruk dari itu... Tapi ada beberapa hal yang lebih berharga. Yaitu hidup seseorang."

"Lalu... Apa kau mengatakan... Aku menahan seorang pria yang tidak berdosa dan membuat sebuah kejahatan untuk memberatkannya?"


Yeok tidak bermasksud begitu, tapi Yung kadung kesal, ia menuduh Yeok tidak taat kepada raja dan campur tangan dengan politik. Yeok kembali mengelaknya.

"Lalu apa?!!!"

"Aku mengatakan bahwa anda mungkin salah. Aku keberatan karena hukumannya tidak proporsional. Ini dapat didiskusikan di istana dengan para menteri atau di Biro Investigasi Bureau. Aku meminta anda memberinya kesempatan untuk dihukum dengan adil."

"Kau masih saja tidak berubah. Sekali lagi, keputusanku... berada di bawah kuasamu. Dengar baik-baik, saudaraku. Yang kau butuh bukanlah hukuman yang adil. Tapi adalah pengampunan, pengertian, dan belas kasihanku. Belajarlah untuk terbiasa taat dan kembali lagi."


Yeok memanggil Yung dengan Hyungnim dan memegang tangan Yung tapi Yung menepisnya hingga cincinnya tak sengaja menggores wajah Yung.

Semua orang terkejut, Yeok langsung diamankan. Yung juga terkejut karena Yeok berani melukai wajahnya, ia marah sekali.


Saat tidak ada yang melihat, Kepala Kasim menjatuhkan giok itu dibawah kaki Yeok. Yeok baru menyadarinya saat ia hendak melangkah dan ia mengambil giok itu. Ia tahu itu Giok apa.


Chae Gyung ke rumah Seo Noh dan disana keadaannya kacau sekali. Chae Gyung masuk ke dalam rumah, ternyata neneknya Seo Noh sudah meninggal dan sudah berbau.


Sementara itu, Seo Noh menangis dipojokan. Chae Gyung menghampirinya,

"Ini... emua salahku. Ini semua salahku." Ucap Seo Noh.


Chae Gyung berlari sekuat tenaga, ia menegaskan pada dirinya sendiri kalau semua ini salahnya. Ia berniat meminta bantuan ibu, ayah, Ratu dan Yeok.


Ibu Suri memarahi Yeok yang tidak dewasa-dewasa juga. Park Won Jong ada disana, Yeok bertanya bagaimana reaksi para menteri.

" "Kita harus bersyukur. Kumpulkan semua menteri an adakan rapat atau persidangan". Kami belum pernah mendengar hal seperti itu dalam waktu dekat ini. Beberapa orang berbicara bahwa bukan orang lain melainkan saudara laki-laki Raja yang keberatan dengan Keputusan Raja."

"Apa mereka menunjukkan ketertarikan? Tentang apa yang terjadi di Dongjeokjeon, bukan aku."

"Kehidupan petani menjadi taruhannya. Siapa yang akan menentang Raja untuk sesuatu yang rendah seperti itu?"


Yung berlatih pedang sambil berceloteh, "Kau bilang keputusanku salah, bagaimanapun aku akan memaafkanmu. Kau menentangku... Namun, di depan para menteri dan pejabat aku akan memaafkanmu. Aku akan memaafkanmu karena berani mengatakan orang yang tidak berdosa tidak harus mati. Namun... Jika kau mencoba untuk menyelamatkan nyawa juru tulis karena kemauan Raja terdahulu... dan jika kau menipuku sementara hanya menunggu waktu sampai kau dewasa... Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Aku akan membunuhmu dengan tanganku."


Yeok malam-malam ingin keluar istana tapi gerbangnya ditutup, lalu Yeok menunjukkan Giok itu dan otomatis penjaga membuka gerbangnya untuk Yeok.


Chae Gyung masih berlari hingga saat ini, kakinya yang terluka kemarin sakit lagi, tapi ia terus melanjutkan jalannya dengan tertatih-tatih.


Kebetulan, Chae Gyung bertemu Yeok yang keluar istana tadi. Yeok melihat keadaan Chae Gyung lalu mendudukkannya disebuah batu. Chae Gyung bertanya apa yang terjadi. Yeok menyuruhnya pergi tapi Chae Gyung tidak bisa, Nenek Seo Noh meninggal dan Seo Noh membutuhkan ayahnya untuk menjadi tuan rumah pemakaman.

"Kapan? Mengapa?" tanya Yeok terkejut.

"Mendengar bahwa Ayah Seo Noh telah ditangkap... Dia mencoba untuk mengejarnya dan jatuh. Dia sudah sakit parah dan ditambah terkejut... Katakan padaku yang sebenarnya."

"Raja memerintahkan... untuk memenggalnya."


Mereka berdua lalu mendatangi Boro Interogasi kerajaan. Seok bertekad akan mengeluarkan Ayah Seo Noh. Chae Gyung mencegahnya, takutnya malah Yeok yang akhirnya dipenjara.


Chae Gyung menyarankan untuk meminta bantuan ayahnya saja.

"Siapa yang bisa aku percaya sekarang? Sekretaris Utama Kerajaan melakukan apapun untuk Raja. Jangan menatapku seperti itu. Kita semua terluka. Aku merasa seperti gila. Mengapa tidak ada yang menghentikan ini?"

"Aku akan berbicara dengan mereka. Ayah, Ibu, Paman, Ratu. Aku akan menemui mereka semua. Jika itu tidak berhasil, Raja..."

"Jadi kau punya koneksi? Kau satu-satunya anak perempuan dari tuan yang berkuasa dan kuat. Jadi kau pikir mereka akan mendengarkanmu?"

"Yang Mulia.,,"

"Bagaimana jika ayah Seo Noh meninggal saat kau meminta pada koneksimu? Kau mau bertanggung jawab?"

"Bagaimana kau bisa mengatakan itu?!"

"Aku ingin kau tetap berada disana. Kaulah yang berbicara tentang nilai kehidupan."

"Aku tahu itu. Itu sebabnya aku menyesal melakukannya."

"Kalau begitu, pergilah! Kau bilang menyesal. Kalau begitu kau, anak sekretaris... tetaplah disana."


Yeok menegaskan, jika Chae Gyung menghentikannya sekali lagi, ia tidak akan pernah mau bertemu Chae Gyung lagi. Maka Chae Gyung pun membiarkan Yeok pergi.


Yeok bisa masuk dengan mulus berkast giok itu, bahkan penjaga membukakakn pintu sel Mak Gae saat Yeok memintanya.

"Buka gerbangnya. Raja mengatakan kekeringan adalah keadaan yang terjadi begitu saja dan memutuskan untuk tidak menghukummu. Biarkan aku masuk."

Dengan terbata-bata Mak Gae mencoba mendegah Yeok untuk melakukan semua itu, Yeok tidak boleh terlibat dengan ini, Yeok harus menutup mata.


Tapi Yeok tidak peduli, ia menggendong Mak Gae keluar. Mak Gae masuh tetap memohon pada Yeok untuk membiarkannya saja.

"Aku yang menyebabkan masalah ini. Aku tidak bisa membiarkanmu mati." Jawab Yeok.

"Aku hanyalah alasannya."


Saat tiba diluar, ternyata Chae Gyung sudah menunggunya bersama Seo Noh. Mereka membawa gerobak untuk mengangkat ayah Seo Noh.

"Apa menurutmu aku hanya berdiri di sini dan bersiul?" Kata Chae Gyung. Yeok yang awalnya terkejut jadi tersenyum.


Kepala Biro mengetahui hal itu, ia tahu itu giok palsu lalu menyuruh anak buahnya untuk mencari mereka segara. Tapi orang suruhan Im Sa Gong datang bersama Nok Soo, ia memerintahkan mereka untuk berhenti.


Yeok membawa gerobak itu sendirian menaiki gunung. Sementara tentara kerajaan mengejarnya.


Ayah Seo Noh ternyata ditandu oleh Chae Gyung dan Seo Noh ke jalur yang berbeda. Itu semua adalah ide Yeok. Yeok tahu tentara kerajaan akan mengejar mereka jadi ia sengaja menipu mereka.

"Aku harus mengakhiri ini." Kata Yeok.

"Bagaimana bisa?" tanya Chae Gyung.

"Ini urusanku."

"Tapi..."

"Tolong lakukan seperti yang aku katakan sekali saja. Pergi. Cepat."


Yeok mendorong gerobak kosong itu ke jurang, sementara ia bersembunyi. Tentara kerajaan berhasil tertipu dengan rencana Yeok itu.


Chae Gyung tidak kuat lagi, ia meminta waktu istirahat sebentar. Seo Noh kelihatan sangat oeduli pada ayahnya, ia bahkan menggunakan bajunya untuk mengusap darah ayahnya.

Chae Gyung tersentuh lalu ia ingat sesuatu, "Seo Noh, kita harus pergi. Kerabatku ada yang menjadi Hakim dan pergi ke selatan malam ini. Cepat."


Chae Gyung menitipkan Seo Noh dan ayahnya pada kerabatnya itu. Ia menjelaskan kalau Paru-paru ayahnya Seo Noh lemah. Jadi dia harus pergi ke selatan, ke tempat yang lebih hangat.

"Iya. Tuanku memberikan perintah. Aku akan melakukan apa yang dia minta."

"Dia adalah temanku, jadi jaga dia juga." pinta Chae Gyung.

"Jangan khawatir. Aku pikir dia pekerja yang baik baik."


Chae Gyung lalu memberikan bekal untuk Seo Noh.

"Bagaimana dengan Anda dan Pangeran?"

"Kau tahu siapa kami. Raja tidak akan membunuh kami."

"Saya akan... membayar Anda suatu hari nanti."

"Tidak perlu. Kita teman."

"Terima kasih." Ucap ayah Seo Noh lemah.


Yeok akhirnya terkepung oleh tentara kerajaan.


Yung bermimpi, ia mengira ayahnya masih hidup tapi ternyata malah Yeok yang menduduki kursi Raja.


Ia terbangun dengan nafas terengah dan keringat mengusur. Nok Soo yang tidur disampingnya mengelap keringatnya.

"Jam berapa sekarang?" tanya Yung.

"Bel berbunyi beberapa waktu lalu."


Yeok dibawa menghadap Yung. Yung sendiri yang menodongnya dengan pedang.

"Apa kau benar-benar melakukannya?"

"Iya."

"Mengapa? Kenapa kau melakukannya? MENGAPA?!!!!"

"Aku melakukannya untuk takhta."

"Apa?! Apa kau mengatakan... kau melakukannya untuk takhta?" Ulang Yung dengan wajah bersungut-sungut.

Yeok membalasnya dengan manatao mata Yung langsung.



5 komentar

Deg2an bacany,,suka bngt sama karakter pangeran yeok disini,,, gg sabar nunggu ep 4 nya,, fighting eonni

Semangat nulisnya min ditunggu eps selanjutnya.....

Wah, makin penasaran,
Makasih min, udah nulis sinop nya, ditunggu ep selanjutnya,

Entah kenapa aku jadi jatuh cinta sama Baek Seung Hwan 😍. Biarpun masih muda aktingnya benar2 luar biasa 😘.
Terima kasih sinopnya, aku akan terus ngikutin 👍.

Entah kenapa aku jadi jatuh cinta sama Baek Seung Hwan 😍. Biarpun masih muda aktingnya benar2 luar biasa 😘.
Terima kasih sinopnya, aku akan terus ngikutin 👍.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...