Friday, June 9, 2017

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 4 Part 2

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 4 Part 2

Sumber Gambar: KBS2


Im Sa Hong menemui Yung saat Yung sedang berendam, ia tidak menyetujui keputusan Yung yang akan mengampuni Yeok sekarang karena Yeok sendiri yang berjalan ke lembah kematian, jadi tidak mungkin ada kesempatan untuk Yeok.

"Anda harus menghukum dengan memenggal kepalanya."


Im Sa Hong lalu melirik pada Nok Soo, Nok Soo paham kode itu, ia membenarkan ucapan Im Sa Hong. Jika Yung menghukum Yeok dengan hukuman ringan, rumor akan mulai menyebar di antara para menteri dan juga rakyat.

"Rumor?" Ulang Yung.

"Orang akan kasihan pada Pangeran Jin Seong karena dia dipenjara. Pangeran Jin Seong akan dipuji sebagai pahlawan yang menyelamatkan petani miskin. Bukannya menjadi pengkhianat, dia malah menjadi pahlawan."

Nok Soo lalu melirik Im Sa Hong lagi,

Im Sa Hong: Anda sudah melihat ada sejumlah besar kekuatan yang mendukung Pangeran Jin Seong.

Yung: Apa aku harus takut pada mereka? Aku berjanji pada Yeok kalau aku akan mempercayainya. Aku tidak akan mengubah keputusanku.

Yung menulis putusan, ia akan menarik status kriminal dari Yeok dan mengusirnya ke Provinsi Hamgil.


Yeok memberi penghormatan sebelumkeluar Istana, ia mengingat masa kecilnya bersama Yung, dimana saat itu ia sangat dekat dengan kakaknya dan kakaknya sangat menyayanginya serta mau mengajarinya apapun.


Kamar Yeok sudah di bereskan, saat itu Ibu Suri datang dan langsung memeluknya. Ibu Suri memintanya untuk tetap hidup, bagaimanapun juga Yeok harus harus bertahan.

Yeok sepertinya tidak paham dengan maksud ibunya itu.


Yeok dikawal menuju tempat pengasingan. Saat ia keluar gerbang istana, teman-temannya memanggilnya. Yeok sedikit kesal, kemana saja mereka selama ini?

Gwang Oh: Kami pergi ke istana, tapi mereka tidak mengizinkan kami masuk.

Suk Hee: Kenapa kau harus buat masalah?

Yeok: Jadikan kegagalanku ini sebagai pelajaran bagi kalian. Jadi... Tetaplah disini sampai aku kembali.


Chae Gyung mendengar kabar soal Yeok, ia hendak kabur lagi tapi ayahnya ternyata menunggunya di depan gerbang rumah.

"Kau beruntung masih hidup!!! Tetaplah disini. Jangan melihat dia pergi. Kau... seharusnya tidak pernah bertemu dengannya."

Chae Gyung kembali menangis.


Yeok dan rombongannya sampai di jalan pinggir hutan. Ia mendengar suara Chae Gyung memanggilnya tapi saat ia melihat sekitar, tidak nampak ada orang.


Tapi itu benar-benar Chae Gyung karena tak lama kemudian Chae Gyung muncul dari semak-semak. Yeok lalu meminta rombongannya berhenti dan ia turun dari kuda.

"Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkanmu? Haruskah aku membawa Ayah Seo Noh? Lalu... Lalu... Seo Noh lah yang melakukan kesalahan. Dia mencuri. Mengapa dia harus mencuri..." Sesaat Chae gyung sadar tentang apa yang dikatakannya, "Apa yang aku katakan? Bagaimana aku bisa mengatakan itu? Apa tidak ada cara lain? Kau bilang kau pintar. Kau bilang membaca buku yang lebih sulit dari Raja. Apa gunanya menjadi Pangeran? Kau bahkan tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Kau hanyalah orang bodoh."

"Tidak ada yang mati. Aku tidak akan mati. Aku akan kembali setelah istirahat sebentar. Kau pikir aku akan tinggal di sana selamanya?"

"Tetapi tetap saja."


Chae Gyung memegang tali kuda Yeok, ia tidak ingin Yeok pergi. Ia berjanji tidak akan pernah meminta Yeok untuk mencampuri urusan orang lain lagi.

Yeok memegang tangan Chae Gyung agar melepaskan tali kuda itu, "Di kamarku, ada laci. Ada pot tinta berbentuk kadal. Kau bisa mengambilnya."

"Apa itu tanda darimu? Apa itu janji bahwa kau akan kembali?"

Yeok mengangguk.


Chae Gyung lalu mengelus cincin di jari kelingking Yeok, ia mohon supaya Yeok penjaganya karena itu adalah tanda dari dirinya. Yeok kembali menangguk.

"Ini janjiku... untuk menunggumu." Lanjut Chae Gyung.


Chae Gyung memandang Yeok. Yeok ternyata menangis, lalu ia mengusap airmata Yeok.


Chae Gyung masuk ke kamar Yeok, disana cuma ruangan kosong. Ia mencari laci yang dibicarakan Yeok, ia menemukan wadah tinda yang mereka perebutkan dulu.

Seseorang masuk tapi Chae Gyung malah bersembunyi. Setelahnya Chae Gyung menyalahkan dirinya sendiri yang malah bersembunyi.


Yang datang ternyata adalah Yung. Yung hendak berbalik lagi tapi ia melihat alat musik Yeok, ia mendekatinya lalu menyentuhnya.

"Aku menyelamatkan hidupmu. Ini terakhir kali aku menunjukkan belas kasihanku." Batin Yung.


Chae Gyung menunjukkan diri. Ia memberi hormat pada Yung seperti yang ia lakukan pada Ibu Suri dulu.

"Saya akan di sini untuk anda. Sampai Pangeran kembali... saya... akan menjadi adik perempuan anda... teman anda... dan keluarga anda. Jadi... Mari kita tunggu dia... bersama."

Yung berkaca-kaca mendengarnya.


Selama perjalanan, Yeok memandangi cincin itu.


Tapi tiba-tiba mereka diserang. Beberapa anak panah menghujani rombongan. Yeok diperintah oleh pengawalnya untuk segera melarikan diri, Yeok pun langsung memacu kudanya menjauh.

Beberapa saat kemudian, pria-pria berpakaian serba hitam menyerbu rombongan, mereka banyak dan kelihatan sangat ahli jadi tidak butuh waktu lama untuk melumpuhkan pengawal Yeok.


Yeok dipanah oleh ketua tim penyerang, anak panah itu mengenai punggungnya dan ia tumbang. Namun saat orang-orang penyerang mendekati lokasi ia jautuh, tidak ada siapa-siapa disana, cuma ada kudanya.


Yeok bersembunyi di balik salah satu pohon di dalam hutan. Orang-orang itu berpencar mencarinya. Yeok sangat kesakitan tapi ia memaksa untuk mematahkan anak panah itu.

Ketua Tim penyerang membuka maskernya, jadi Yeok bisa melihat wajahnya. Yeok tidak asing dengan wajah itu, dia adalah salah satu tentara kerajaan (Ki Ryong) juga orang yang mengejarnya dan Chae Gyung kemarin.


Yeok sia-siap dengan pisaunya dan saat Ki Ryong mendekat, ia menyerang. Yeok bertanya siapa Ki Ryong dan siapa yang menyuruhnya lalu giok raja (seperti yang ia gunakan untuk membebaskan ayah Nok Soo) jatuh. Yeok terkejut melihatnya.

Yeok: Perintah Raja? Apa ini perintah Raja?

Ki Ryong tidak menjawabnya dan ia berhasil menusuk perut Yeok saat lengah itu. Yeok sebera sadar, ia mengambil batu lalu memukulkannya beberapa kali ke kepala Ki Ryong sampai ia bisa kabur.

Kilas balik...


Ibu Suri meminta Yeok untuk bertahan, pokoknya harus bertahan tidak peduli apapun.

"Raja... sedang mencoba untuk membunuhmu. Dia ingin membunuhmu karena sebuah dokumen rahasia mendiang Raja terdahulu."

"Bagaimana bisa kakak membunuhku?"

"Mendiang Raja... ingin kau menjadi Raja berikutnya. Jika kita menemukan dokumen rahasia tersebut, Kau bisa menjadi Raja. Itu sebabnya Raja ingin membunuhmu sebelum itu. Dia berusaha menghilangkan kemungkinan tersebut."

Kilas Balik selesai...


Yeok mendapat jawaban sekarang, kenapa belakangan ini Yung sangat gencar menyerangnya, tapi ia tidak kuat untuk berjalan lagi. Ia berbaring lemah di batu pinggir sungai.

"Apa ini benar kau? Apa kau akan membunuhku, Hyungnim? Katakan bukan. Katakan ini bukan kau. Hyungnim."


Ki Ryong berhasil menyusulnya, ia tak membuang waktu, ia langsung menghabisinya. Darahpun mengalir ke sungai.


Chae Gyung berlari ke istana tapi yang ia lihat hanya jenazah Yung. Chae Gyung menangis sejadi-jadinya.


Yung terguncang mendengar kabar itu, seluruh tubuhnya bergetar. Tapi kemudian ia buru-buru menuju suatu tempat.


Ibu Suri membuka penutup jenazah Yeok, tapi wajah puteranya itu sudah tidak bisa dikenali. Ia shock berat.


Yung ternyata menuju ke rumah Seo Noj dengan beberapa pengawalnya, ia mengobrak abrik tempat itu (yang sudah kacau balau) untuk menemukan dokumen rahasia itu tapi tidak ada.

Lalu tiba-tiba ia mendengar suara Yeok memanggilnya.  Hyungnim... Hyungnim... Hyungnim.


Yung meminta obor dari para pengawalnya lalu menyulutkannya pada rumah Seo Noh. Ia memutuskan untuk membakar habis rumah itu.


Dalam kobaran api, Yung melihat bayangan ayahnya yang menatapnya penuh kebencian.

"Ayah. Mengapa... Ayah menatapku seperti itu? Ayah seharusnya tidak melakukan itu. Itu Ayah. Bukan aku... Yang membunuh Yeok, itu Ayah.. Ayah membunuhnya!!!!"


Yung menangis, ia juga kehilangan adiknya. Tapi itu tak berlangsung lama, karena ia ingat posisinya sebagai Raja.


Chae Gyung mendatangi tempat dimana ia bertemu Yeok. Di sungai, tempat Yeok dkk mengintip orang mandi. Lalu di pasar, tempat ia dan Yeok memperebutkan tempat tinta itu. Di kedua tempat ia ia menunduk lalu mengucapkan maaf untuk Yeok.


Chae Gyung juga mendatangi rumah Seo Noh tapi ternyata sudah terbakar habis.


"Yang Mulia... Aku minta maaf... Karena membuatmu menjalani hukumannya sendiri. Aku minta maaf... sudah ikut campur dalam hidupmu. Aku minta maaf... karenaku kau meninggal. Maafkan aku, Yang Mulia."


Chae Gyung melarung bunga krisan di sungai tempat Yeok melamarnya. Setelahnya, kelopak bunga sakura berguguran menerpa dirinya.

 
[5 tahun kemudian, 1504]

Ada sebuah upacara pernikahan, dimana wajah pengantin wanitanya disembunyikan.


Tenang, itu bukan pernikahan Chae Gyung. Chae Gyung hanya membatu saja kok disana. Pengantin wanita menyindir, sekarang tinggal Chae Gyung satu-satunya perawan tua di desa karena ia sudah menikah.


Jadi Chae Gyung kembali ke desa dengan pengasuhnya. Hari ini ia kembali mendapat surat dari Hanyang.

"Surat dari Hanyang lagi? Siapa yang mengirimnya kali ini? Ibu? Ayah? Pamanku?"

"Seseorang yang lebih tinggi."

"Itu dari Bibiku. Ratu membuat pergerakan juga akhirnya."

"Itu sebabnya kau harus menikah. Jika Ratu memberi perintah tidak ada jalan keluar sekarang."

Chae Gyung mengalihkan pembicaraan, ia memuji pengasuhnya yang sudah fasih bicara tanpa dialek sekarang. Pengasuhnya tersanjung dan lupa sejenak soal surat itu.


Chae Gyung masuk ke kamarnya, ternyata ia masih menyimpan tempat tinta itu.


Pengasuhnya mengingatkan, janji itu sudah batal sekarang, Chae Gyung tidak bisa menunggu pria yang telah dimakamkan.

"Siapa bilang aku menunggu?! Aku tidak berniat menikahi hantu." Elak Chae Gyung.

"Lalu mengapa menolak semua pria yang memenuhi syarat dan hidup di Geochang menjadi pengiring pengantin setiap orang dan tabib hewan?"


Chae Gyung mengambil kain dari almari. Dengan berat hati ia mengambil tempat tinta itu lalu membungkusnya dengan kain. Ia menunjukkannya pada pengasuhnya lalu pergi.

"Aku harap kau berhasil kali ini." teriak sanga pengasuh.


Chae Gung pergi ke sungai, ia sudah siap melempar tempat tinta itu tapi tidak mampu, ia teringat janji Yeok.

"Tidak ada yang mati. Aku tidak akan mati. Aku akan kembali setelah istirahat sebentar."

"Apa yang dilakukan sungai sampai berhak menerima ini? Tidak ada." Gumam Chae Gyung.

Lalu hujan turun.


Sementara itu, disebuah lautan ada kapal yang terjebak badai. kapten kapal., Ki Ryong memerintahkan anak buahnya untuk membuang semua barang-barang prioritas mereka adalah jangan sampai kapal tenggelam.


Tapi dua penumpang kapal itu malah santai, mereka makan sesuatu. Salah satu orang itu wajahnya tertutupi.


Tapi dua penumpang kapal itu malah santai, mereka makan sesuatu. Salah satu orang itu wajahnya tertutupi.


Pria bertudung itu tidak terima, menurutnya, Ki Ryong lah yang paling berat disana, ia lalu menyerang Ki Ryong sementara rekannya tadi menyerang anak buah Ki Ryong.


Ki Ryong terpojok. Ia bertanya siapa pria bertudung itu. Pria bertudung itu lalu membuka tudungnya, dia adalah Lee Yeok (Pangeran Jin Seong).


Ki Ryong sudah mengingat siapa Yeok. Ki Ryong menyerang Yeok dan mereka berdua sama-sama tercebur ke laut.

Rekan Yeok tadi khawatir, "Pangeran! Yang Mulia! Yang Mulia!" Panggilnya. Dia adalah Seo Noh, putera dari juru tulis mendiang Raja.


Di dalam air pun Yeok masih bergelut dengan Ki Ryong. Untungnya Yeok yang memenangkannya dan ia berhasil muncul ke permukaan.

8 komentar

Seruuu...lanjut ya mba.ceritanya bagus drpd ruler mster of the mask...ngebosenin...

Semangat min...lnjut nulisnya 😊😊

Makin menarik cerita nya,g sbr nunggu lanjutan nya

Makin menarik cerita nya,g sbr nunggu lanjutan nya

Di tunggu mb,seru ceritanya .mantap

Kamsahamnida...baca sinopsis mba diana ni bs bayangin adegan aslinya heheh...ditunggu minggu depan..

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon