Thursday, June 15, 2017

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 5 Part 1

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 5 Part 1

Sumber Gambar: KBS2


Kapal yang dibajak Yeok sudah sampai di Hanyang. Ia menceburkan awak kapal yang tersisa (anak buah Ki Ryeong ke laut).


Seo Noh naikke atas, ia memanggil Yeok. Ternyata di pelabuhan ada confetti yang diluncurkan keatas, untuk menyambut Yeok.


Jo Gwang Oh dan Baek Suk Hee menanti di pelabuhan dengan cemas. Mereka khawatir, jangan-jangan orang yang ditunggu tidak nak kapal itu.

Lalu keluarlah seorang pria. Mereka yakin itu adalah orang yang mereka tunggu, mereka pun semangat memanggil pria itu "Hei, Nak Cheon-ah!"

Mereka menendang pria itu lalu mengguyurnya dengan arak, "Selamat datang di Hanyang."


Mereka salah orang, itu bukan Nak Cheon (Yeok) melainkan Seo Noh. Seo Noh pun kesal diperlakukan seperti itu. Tapi Gwang Oh dan Suk Hee belum tahu kalau itu adalah Seo Noh, mereka masih berpikir dia adalah Nak Cheon dan mereka heran karena wajah Nak Cheon sangat berbeda saat remaja dulu.


Dalam perjalanan, mereka baru tahu kalau dia itu ternyata Seo Noh yang dulu terkenal.


Sementara Nak Cheon yang mereka cari pergi ke Dongjeokjeon, sayangnya disana tidak ada lagi pemukiman penduduk dan lahan pertanian. Jalan masuk kesana pun dijaga oleh pengawal kerajaan.

"Ini tempat berburu Yang Mulia. Kau dilarang masuk!" tegas pengawal itu.


Nak Cheon tidak mau ribut, ia mengalah dan pergi dari sana.

"Tanah Raja? Tanah Hyungnim? Hyungnim, aku akan menghancurkan duniamu. Aku juga akan mengambil... tahtamu."


[Tahun ke 10 Raja Yeonsan]

Nok Soo memeriksa barang-barang yang datang, ia lalu memberitahu Yung kalau mereka tidak memiliki ramie hitam, amphibole (macam-macam warna), dan pendingin.

"Apa yang terjadi? Aku sudah menyuruhmu untuk mempersiapkan itu hari ini." Jawab Yung.


Im Sa Hong yang menjelaskan. Ia meminta maaf terlebih dahulu, karena musim hujan, kapal dengan semua barang itu belum tiba di Hanyang.

"Maka kau seharusnya mempersiapkan itu di awal musim."


Satu menteri lagi maju menjelaskan. Itu tidak mungkin dilakukan karena ini musim semi, dimana musim semi adalah musim sibuk bagi para petani.

"Apa itu... juga... musim yang sibuk... bagimu?"


Yung lalu turun mendekati para menterinya. Yung mencopot jubahnya lalu memakaikannya pada menteri tadi.

"Pakailah ini. Aku sudah lama memakainya."

"Yang Mulia. Tolong ambil kembali jubah Yang Mulia dariku." Jawab menteri itu lalu bersujud.


Yung beralih pada Park Won Jong, ia memberikan dua kaus kakinya padanya. Park Won Jong menerimanya lalu bersujud.


Yung teringat, cucu dari salah satu menterinya akan melangsungkan pernikahan. Ia lalu mencabut jepit rambut Nok Soo dan menghadiahkannya pada cucu menteri itu.

"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia."


Yung membentak, "Terima kasih, terima kasih! Jangan hanya mengatakannya saja. Jika kau berterima kasih, tunjukkanlah!"

Lalu Yung keluar dari ruang raoat.


Para menteri resah karena penyakit Yung kambuh kagi nampaknya, mereka tidak tahu sampai kapan Yung akan bersikap seperti ini pada mereka.

Park Won Jong: Sekretaris Utama Kerajaan. Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan pada kami? Apa yang harus kita lakukan agar Raja puas? Aku ingin mendengar pendapatmu.

Tuan Shin: Seperti biasa... Beliau akan kembali normal dengan sendirinya.


Yung memainkan gayageum di salah satu rumah hiburan. Penampilannya itu menarik semua perhatian gadis-gadis bahkan mereka sampai berjejer di pagar demi melihatnya bermain.


Yung teringat saat ibundanya diusir dari kerajaan. Ia melihat ibunya diseret paksa untuk meninggalkan kediamannya.

Saat melihatnya datang dengan bunga, ibunya menghampiri lalu memutus benang yang terjuntai di lengan bajunya dengan menggigitnya.

"Anda harus menjadi Raja. Anda harus selalu menggunakan pakaian yang semestinya."


Lalu saat ia remaja, ia mengunjungi tempat pengasingan ibunya. Tapi yang ia dapatkan hanya jubah ibunya dengan noda darah. Pelayan ibunya menjelaskan kalau ibunya tidak meninggal karena sakit, melainkan telah di bunuh.


Chae Gyung kebetulan lewat depan rumah hiburan itu, ia penasaran karena banyak yang berkerumun, akhirnya ia ikutan ngintip.

Ia terkejut saat melihat Yung menjadi pusat perhatian para gadis-gadis.


Yung baru sadar kalau ia ditonton banyak orang, ia tidak bisa membiarkan hal itu maka ia mengemasi barangnya lalu lari dari mereka. Semua mengejar Yung. Chae Gyung yang mungil terdingkir dari gerombolan.


Chae Gyung merasa tidak mungkin itu adalah Yung, ia yakin kalau ia salah lihat. Tapi tiba-tiba Yung muncul di hadapannya.

"Yang Mulia." Panggil Chae Gyung.

Yung terkejut ada yang mengenalinya.


gerombolan gadis-gadis itu melihatnya, ia lalu menarik Chae Gyung untuk berlari bersama. Mereka lari menuju pasar dan para gadis itu tetap kekeh untuk mengejar mereka.


Sampai akhirnya mereka menemui jalan buntu. Chae Gyung berinisiatif untuk melindungi Yung. Untunglah gerombolan gadis itu tidak melihat mereka.


Yung tiba-tiba meletakkan pisau di leher Chae Gyung, bertanya siapa Chae Gyung dan bagaimana Chae Gyung tahu siapa dirinya.

"Ini aku, Yang Mulia. Chae Gyung."


Yung membawa Chae Gyung makan disebuah warung. Cara  makan Chae Gyung tidak beribah, masih sama seperti saat mereka bertemu dan itu membuat Yung tersenyum.

"Apa ini normal? Setiap kali aku ke Hanyang, mengapa aku selalu melihat Anda di jalanan bukannya di istana?"

"Itu artinya kau selalu datang ke Hanyang setiap kali aku keluar menyamar."

Yung mendapati ada yang aneh di wajah Chae Gyung, muka Chae Gyung penuh bintik-bintik. Chae Gyung menyentuh pipinya, ternyata itu bisa dihapus.


"Aku akan memulai rumor kalau aku ini jelek. Aku tidak ingin menikah." Jelas Chae Gyung.

"Kau tidak perlu mencoba seperti itu. Begini sudah terlihat jelek."

"Lalu mengapa Anda tidak mengenali wajah jelek ini dalam pertama kali lihat?"

"Kau terlalu jelek."

"Baiklah kalau begitu. Hyungnim, karena kau memujiku... Aku akan melayanimu dengan baik hari ini."

"Apa yang kau bicarakan. Kenapa kau berpikir begitu? Aku tahu. Haruskah kita bertaruh?"

"Kau harus mempertaruhkan hidupmu untuk melakukan itu."

"Aku tidak berani mengungkitnya jika begitu."

"Lakukan apa yang kau inginkan. Namun... Berhenti memanggilku Hyungnim."

Chae Gyung pun mengganti cara panggilnya, menjadi Oraboni. 


Nak Cheol jalan-jalan ke pasar, ia bernostalgia melihat tempat-tempat yang dulu ia gunakan untuk bermain bersama Gwang Oh dan Suk Hee. Disana juga ia pertama kalu bertemu dengan Chae Gyung.


Chae Gyung dan Yung juga kembali ke pasar, mereka membeli bahan-bahan makanan.


Nak Cheol sampai di kedai penjual wadah tinta bentuk kadal air. Ia kembali teringat saat ia memperebutkan benda itu dengan Chae Gyung dulu.


Sementara itu, Yung dan Chae Gyung saling bercanda, membandingkan buah dengan bentuk kepala masing-masing.


Semua orang memandang wajah Yung saat mereka berjalan. Chae Gyung pun melakukan hal yang sama.

"Kenapa?" tanya Yung heran.

"Aku bertanya-tanya apa ada emas di wajah Orabeoni."

Yung pun tidak memperdulikannya. Lalu setelah beberapa langkah giliran ia yang memandangi Chae Gyung.

"Kenapa?" tanya Chae Gyung.

"Tidak ada. Aku hanya mengikutimu."


Seseorang mengetik pintu karena ia mendengar bisa menukar barang dengan beras disana. Yang membukakan pintu adalah Suk Hee.

"Lalu, apa yang bisa aku berikan untuk mendapatkan beras? Aku hanya membawa sendok dan sumpit." Tanya orang itu.

"Aku tidak butuh apapun. Kami hanya mengambil informasi. Pertama, beritahu aku nama dan asalmu. Kami membutuhkan informasi yang berbeda dari setiap orang. Jumlah beras juga berbeda."

"Aku hanya seorang pelayan untuk keluarga bangsawan."

"Kau sangat memenuhi syarat. Sekarang, masuklah."


Suk Hee menyuruh orang itu masuk ke sebuah bilik, disana tersedia satu kursi dan dinding bilik itu ada lobangnya. Ternyata disebelah bilik itu ada bilik lagi. Disana duduklah Jo Gwang Oh dengan membawa buku berjudul "Kehidupan Rahasia di Kota".

Gwang Oh menanyai identitas orang itu.

"Aku adalah pelayan untuk Tuan Yun." Jawab orang itu, Gwang Oh lalu mencatatnya di buku tadi. Setelah itu, orang itu mendapatkan beras.


Datanglah seorang wanita, Myung Hye bersama beberapa pengawal. Myung Hye mengawasi ruangan itu dan menyuruh pengawalnya menunggu di luar. Gwang Oh pun menyuruh orang tadi keluar juga.

Gwang Oh: Sekian banyak orang... Apa dia yang akan datang hari ini?

Suk Hee: Aku pikir begitu. Dia cantik.

Gwang Oh akan memperkenalkan diri tapiMyung Hye menyela, perkenalannya di dalam saja.


Myung Hye langsung menuju ruangan rahasia. Baik Suk Hee dan Gwang Oh bengong, kok Myung Hye bisa tahu ya?


Di dalam ruangan itu (ruangan bawah tanah) ada Seo Noh. Seo Noh bertanya siapa Myung Hye tapi Myung Hye diam saja. Myung Hee malah langsung duduk lalu melepas topinya. 

Suk Hee: Dia bertingkah seperti punya tempat ini.


Gwang Oh: Nona. Saya telah banyak mendengar tentang anda... Tapi ini pertemuan pertama kita secara langsung. Mari kita bersikap sopan.

Myung Hye: Aku tidak mengerti mengapa pria Joseon dipusingkan oleh sikap sopan. Kau tidak tahu siapa aku?

Suk Hee: Anda sangat cantik...

Gwang Oh: Kami tidak tahu anda begitu...

Gwang Oh dan Suk Hee: sulit diatur.


Seo Noh menunduk lalu memperkenalkan namanya. Tapi tiba-tiba Myung Hye mendekati dan langsung menamparnya. Myung Hee menjelaskan kalau ia hanya membalas Seo Noh karena Nak Cheon hampir mati karena Seo Noh.

"Dia mengalami sesuatu yang lebih buruk daripada kematian. Tamparan ini... tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan itu."

Myung Hye menyerahkan tongkat (kruk) pada Seo Noh, "Kau harus membayarnya kembali meski kau mati."

"Saya akan... ingat itu." Jawab Seo Noh sambil menerima kruk itu.

Myung Hye lalu memutuskan kalau sesi perkenalan mereka sudah selesai sekarang. Tapi... dimana Nak Cheon Oraboni?


Nak Cheon saat ini sedang mandi, ditubuhnya penuh bekas luka. Ia teringat bagaimana ia memperoleh luka itu dan siapa yang menyebabkannya yang tidak lain adalah kakanya sendirri, Yung.


Setelahnya, Nak Cheon memotong rambutnya, ia tidak mau lagi mematuhi Joseon-Yung (peraturan Yung) lagi. Ada larangan memotong rambut bagi pria pada jaman itu.


Chae Gyung menyewa seluruh warung, sampai dapurnya juga. Setelah beres, ia lalu memanggil Yung untuk masu ke salah satu ruangan.

Chae Gyung jadi teringat saat mereka pertama kali bertemu. Yung bertanya, bisakah mereka mempercayai pemilik warung kali ini?

"Hahaha... Siapa yang peduli jika dia seorang perampok? Aku akan menyelamatkanmu lagi dan membuat sebuah keinginan."


Ternyata Nak Cheok ada di ruangan sebelah dan mereka tidak tahu itu.


Chae Gyung memasak di dapur, setelah semuanya masak dan siap dihidangkan, Yung datang san membawanya masuk.


Nak Cheon akan keluar tapi ia terkejut saat melihat Yung. Maka ia pun memutuskan tetap di dalam. Nak Cheon mendengar suara lagi, ia mengintip dan ternyata itu adalah Chae Gyung. Chae Gyung juga membawa masuk satu meja penuh makanan.


Ternyata Yung sedang melakukan upacara Peringatan kematina Ibundanya, Ratu Yoon. Nak Cheon menguping mereka.

Upacara ditutup dengan bersujud di hadapan persembahan. Tapi Chae Gyung juga ikut melakukannya.


Yung menatap Chae Gyung penuh tanya. Chae Gyung menjelaskan, jika dia ibu Yung, maka dia juga ibunya.


Disebelah meja persembahan untuk Ibu Yung, ada satu lagi yaitu untuk memperingati kematian Yeok. Tapi kalau ini cuma Chae Gyung yang melakukan ritualnya, Yung tidak ikutan.


Chae Gyung menangis di sujudnya yang terakhir.

"Sama seperti kematian Ibu bukan kesalahanku... Kematian Yeok juga bukanlah kesalahanmu. Jangan salahkan dirimu sendiri. Bencilah dia karena meninggalkan dunia ini begitu cepat. Bencilah dia... karena meninggalkanmu." Kata Yung.

Yeok tersenyum getir mendengarnya.


Chae Gyung menangis di sujudnya yang terakhir.

"Sama seperti kematian Ibu bukan kesalahanku... Kematian Yeok juga bukanlah kesalahanmu. Jangan salahkan dirimu sendiri. Bencilah dia karena meninggalkan dunia ini begitu cepat. Bencilah dia... karena meninggalkanmu." Kata Yung.

Yeok tersenyum getir mendengarnya.


Chae Gyung kembali menangis, tapi kemudian ia menghapus air matanya dan menggantinya dengan senyum. baguslah, mereka masing-masing mengatakan apa yang malu mereka ungkapkan. Memiliki keluarga sangatlah bagus, bukan?

"Bagiku, keluarga... seperti bola api. Aku tidak bisa menelannya dan juga meludahnya. Itu selalu menghantuiku. Aku lari dari mereka seumur hidupku. Dan sekarang... Aku bersembunyi dari mereka untuk mengadakan upacara peringatan."

"Anda bisa menjadi Raja yang bijak."

"Raja bijak?"

"Iya. Jika Anda menjadi Raja yang bijak... Anda akan percaya diri di depan makam almarhum Raja. Akan datang suatu hari dimana Anda akan mengambil papan peringatan Ibu Anda di depan semua pejabat dengan rasa bangga untuk mengadakan upacara peringatan untuk Beliau. Almarhum Pangeran juga akan bangga pada Anda."


Chae Gyung mengeluarkan tempat tinda bentuk kadal, ia bertanya, apa Yung ingat benda itu?

"Itu..."

"Ya. Pangeran membeli ini untuk Anda. Orang bilang kadal adalah naga sungai yang bisa menurunkan hujan. Tapi kadal ini sangat gila dan membuat banjir besar..."

Yung akhirnya tersenyum sampai berubah menjadi tawa. Chae Gyung memintanya berhenti tertawa tapi tunjukkanlah pada semua orang soalnya untuk menjadi Raja bijak itu harus bisa mengendalikan langit. Tapi mereka malah tertawa lagi.


Nak Cheon memutuskan untuk keluar tapi bertepatan dengan keluarnya Chae Gyung juga, jadi mereka tak sengaja saling memandang. Chae Gyung langsung mengenali Nak Cheon.

"Pangeran?" Panggilnya.


Nak Cheon tidak memperdulikannya tapi Chae Gyung tidak bisa membiarkannya pergi, Chae Gyung menahan lengannya.

"Pangeran!"

Tapi Chae Gyung melepaskan lengan Nak Cheon perlahan-lahan. Ia tahu Nak Cheon bukan Yeok karena Nak Cheon adalah manusia bukan hantu. (Setahu Chae Gyung Yeok sudah meninggal jadi kemungkinan hanya muncul sebagai hantu).

Nak Cheon akan melanjutkan jalannya tapi Chae Gyung menghalanginya.

"Apa kau... "

"Tidak!" Jawab Nak Cheon tegas.

"Kau bahkan tidak tahu apa yang mau aku tanyakan."

Nak Cheon kembali tudak menjawab, ia hendak jalan lagi tapi kali ini Chae Gyung memegang tali tasnya. Chae Gyung mengundangnya untuk makan karena orang bilang harus berbagi makanan dari upacara peringatan kematian.

Nak Cheon jadi teringat dulu saat Chae Gyung memegang tali kudanya agar ia tidak pergi. Nak Cheon berkaca-kaca.

1 komentar so far

Gomawo.. ditunggu yaa Kak part 2 nya

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...