Thursday, June 15, 2017

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 5 Part 2

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 5 Part 2

Sumber Gambar: KBS2


Nak Cheon pun bersedia untuk tinggal dan makan. Chae Gyung menjelaskan kalau hari ini adalah hari peringatan kematian kekasihnya.


Nak Cheon menyisihkan kacang dalam kue beras sebelum memakannya. Chae Gyung menatapnya lekat-lekat lalu berkata kalau ia mirip sekali dengan kekasinya.

"Aku tidak keberatan meski dia hantu. Kenapa dia tidak mengunjungiku?" Keluh Chae Gyung. Lalu ia menatap langit, "Aku tidak akan terkejut meski kau hantu. Jika kau di sini, maukah kau berbicara denganku? Bisakah setidaknya kau mengatakan kalau ada di sini?"

Nak Cheon meletakkan sumpitnya kesal, ia melarang Chae Gyung menghina orang yag sudah meninggal.

"Aku pikir dia mati bukan untuk membuat kalian berdua merasa bernostalgia." Lanjut Nak Cheon lalu pergi.


Chae Gyung menghalangi jalannya, Chae Gyung tidak mengerti arti kata-kata Nak Cheon tadi, merasa bernostalgia? Penghinaan? Apa yang Nak Cheon tahu memangnya?

"Lalu apa yang kau tahu? Perasaan orang mati? Rasa sakitnya? Penderitaannya? Apa yang kau tahu?" Nak Cheon balik bertanya.


Lalu Yung keluar, "Apa yang terjadi? Istriku!"

Nak Cheon terkejut mendnegar Yung memanggil Chae yung istri.

"Kau harus setia pada kekasih barumu." Kata Nak Cheon pada Chae Gyung lalu pergi.


Yung melarang Chae Gyung bergaul dengan sembarang orang. Maski begitu, Chae Gyung tetap tidak suka Yung memanggilnya istri, kapan coba ia menikahnya?

"Kau bilang tidak ingin menikah beberapa jam yang lalu."

"Ada perbedaan antara tidak bisa dan tidak akan."

Chae Gyung akan memberekan meja. Yung menunjukkan kacang yang ia pisahkan, katanya ia tidak bisa makan itu karena akan membuatnya sakit.

"Siapa lagi? Apa ada orang lain yang tidak bisa memakannya?" Tanya Chae Gyung.

"Entahlah. Yeok biasa membuang ini saat dia mencoba meniru semua yang aku lakukan."


Chae Gyung langsung berlari keluar, ke tempat Nak Cheon makan tadi. Ia memastikan kalau Nak Cheon juga menyisihkan kacang.


Chae Gyung lalu berlari keluar mencari Nak Cheon. Nak Cheon tahu Chae Gyung mengejarnya tapi ia sengaja bersembunyi. Bahkan Nak Cheon melukai jarinya sendiri untuk mencengkeram dinding karena marah.


Myung Hye menemukannya. Myung Hye merasa ada yang mengikuti Nak Cheon karena nak Cheon bersembunyi begitu tapi Nak Cheon cepat-cepat bilang tidak ada apa-apa. Ia lalu pergi duluan.


Myung Hye masih ada di sana dan melihat Chae Gyung, lalu ia mendengar Yung memanggil nama Chae Gyung.

Yung bertanya ada apa. Chae Gyung menggeleng, tidak ada apa-apa. Yung lalu mengajak Chae Gyung kembali.

Myung Hye sekarang mengerti kenapa Nak Cheon begitu tadi.


Semua berkumpul di ruang rahasia untuk minum-minum, merayakan kebersamaan mereka. Gwang Oh dan Suk Hee berantem kecil. Nak Cheon menghentikan mereka dengan mengajak minum.


Myung Hye melihat jari Nak Cheon yang terluka, ia lalu membersihkannya dan membalutnya.

"Jangan lupa. Tubuhmu milikku." Kata Myung Hye.

"Kau memang menyelamatkan hidupku, tapi aku bukan punyamu." Jawab Nak Cheon.

Sementara Seo Noh memperhatikan sikap Myung Hye itu.


Chae Gyung akhirnya pulang ke rumah. Ibunya sudah menunggunya sejak tadi dengan cemas. Setelah melihat Chae Gyung, ibu langsung memukulnya.

"Kau! Darimana saja dan apa yang kau lakukan sampai sekarang? Apa yang kau lakukan sampai menyelinap kabur dari pengasuhmu?!"

"Ibu."

"Ibu pikir ada sesuatu yang terjadi padamu."

"Memangnya apa yang akan terjadi padaku?"

Pengasuh juga menegur Chae Gyung yang selalu membuat masalah akhir-akhir ini, maka dari itu ibu Chae Gyung kesal. Pengasuh lalu mengkode Chae Gyung untuk minta maaf dan akhirnya Chae gyung melakukannya.

"Tidak apa-apa selama kau baik-baik saja." Jawab Ibu.


Ayahnya menghampiri, bertanya apa ia baik-baik saja. Chae Gyung mengiyakan. Ayahnya puas dan kembali masuk ke dalam.


Setelah itu, ibunya mengambil sapu untuk memukuli Chae Gyung tapi pengasuh melindungi Chae Gyung, jadi mereka kejar-kejaran.


Pengasuh menggerutui Chae Gyung sambil menyiapkan alas tidur Chae Gyung. Ia tidak keberatan mau Chae Gyung pergi kemanapun, tapi Chae Gyung harus selalu membawanya. Setiap kali Chae Gyung kabur, ia merasa hidupnya tidak lama lagi.

Tapi Chae Gyung malah fokus memperhatikan kacang sisa Nak Cheon tadi yang dibawanya. Pengasuh bertanya apa itu.

"Jejak yang ditinggalkan oleh hantu." Jawab Chae Gyung.

"Hantu?"

"Iya."

"Aku...  memutuskan untuk percaya pada hantu. Inilah (kacang) satu-satunya penjelasan dan ini (sambil memegang dadanya."


Pengasuh tidak peduli dan melanjutkan beres-beres tapi Chae Gyung menarik tangannya lalu menempelkannya ke dadanya.

"Apa bibi merasakannya?" tanya Chae Gyung.

"Iya. Agasshi (nona). Sebelum terlambat... menikahlah. Payudaramu kendor sebelum melakukan sesuatu."

Chae Gyung kesal lalu ia keluar.


Di luar, Chae Gyung masih memperhatikan kacang itu. Ia mengingat perkataan Yung bahwa Yeok juga suka menyisihkan kacang.


Yeok bersikeras untuk hidup, padahal tubuhnya dipenuhi luka berat serta kaki dan tangannya patah. Tabib tidak mengerti kenapa Yeok berjuang sekeras itu, soalnya dari pengalaman, orang yang terluka parah seperti Yeok harusnya sudah meninggal sejak lama.

"Kau bodoh. Apa yang kau perjuangkan? Mengapa kau menginginkan kehidupan dengan mengepalkan tanganmu? Tinggalkan saja semuanya. Rasa bersalah dan dendam tidak akan berguna bagimu."

"Aku... aku tidak bisa mati. Tolong... tolong selamatkan aku. Aku akan hidup dan menjadi... menjadi... menjadi Raja. Aku akan menjadi Raja."

Lalu Tabib melakukan pengobatan yang super menyakitkan, menempel besi panas ke luka Yeok. Yeok berteriak sekencang-kencangnya. Selama proses pengobatan itu, Myung Hye berada disisinya.


Nak Cheon bermimpi, ia kembali mengalami masa itu hingga ia tidak bisa bernafas lagi. Myung Hye kembali berada di sisinya.


Saat Nak Cheon berkata tidak bisa berjalan, Myung Hye memberinya kruk seperti dulu. Nak Cheon menerima kruk itu tapi ia tetap tidakbisa berdiri, kakinya rasanya sangat lemah.

Myung Hye tidak menyerah, ia tetap memaksa Nak Cheon untuk menggenggam kruk itu, sampai pada akhirnya Nak Cheon menyerah dan membuang kruk itu.


Tapi kemudian Nak Cheon bangun, ia tidak bisa mati, tidak boleh. Myung Hye menangis lalu memeluk Nak Cheon seperti yang ia lakukan dulu.

"Selamatkan aku. Selamatkan aku, Chae Gyung-ah." Kata Nak Cheon disela-sela tangisnya.


Mendengar nama Chae Gyung yang disebut, Myung Hye melepaskan pelukannya. Tapi Nak Cheon kembali menyebut nama Chae Gyung padahal sudah memandang wajahnya.

"Aku akan kembali. Aku janji. Tunggu aku. Tunggu, Chae Gyung."

Myung Hye semakain sakit hati mendengarnya.


Myung Hye keluar, disana sudah ada Seo Noh. Myung Hye ingin tahu tentang Shin Chae Gyung dan setelah hari ini, ia tidak ingin mendengar namanya lagi.

"Aku bisa memberitahumu tentang dia. Tapi akan sulit untuk menghapus Chae Gyung Agasshi sepenuhnya." Jawab Seo Noh.


Seo Noh tahu Myung Hye berjasa besar dalam membantu menyembuhkan Pageran dan membuatnya berjalan lagi. Tapi tidak hanya bantuan Myung Hye yang menghidupkannya kembali. Pangeran pasti memiliki sesuatu yang lebih dari itu.

"Tidak. Keinginan lah yang membuat seseorang bangkit. Dia didorong karena kebencian terhadap Raja. Jangan berpikir kau bisa memanipulasi Orabeoni dengan cinta dan kerinduan. Jika kau mencobanya... aku akan membunuhmu." Tegas Myung Hye.


Nok Soo mendapatkan sketsa wajah Nak Cheon dan Seo Noh dari Ki Ryong. Ki Ryong menjelaskan kalau merekalah yang merampok kapal. Ia tidak tahu dari mana asal mereka.

"Kau punya waktu 10 hari. Bawa kembali barangnya atau bawakan kepala mereka. Jika tidak... Kau dan keluargamu harus menggantinya." Tegas Nok Soo.


Ki Ryong megerti lalu undur diri. Nok Soo tidak menemui Ki Ryong sendirian, melainkan bersama Im Sa Hong.

Im Sa Hong menyuruh Nok Soo untuk bicara dengan Raja dan meminta Raja untuk menulis sebuah pesan. Nok Soo bertanya, apa Im Sa Hong akan merampas koleksi lain dari orang-orang?


"Kasino pribadi Raja tidak terlalu ramai... dan kau membutuhkan aksesoris rambut baru. Kita harus menghubungi Gyeongsang, Jeolla, dan Tamra dan minta mereka mengirim setumpuk produk lagi. Aku khawatir tentang makanan yang harus aku siapkan pada pesta ulang tahun pertama cucuku."

Im Sa Hong melihat sketsa wajah Nak Cheon dan kayaknya ia berpikir.


Nok Soo mencoba bicara dangan Yung, ia mulai dari laporan Tuan Shin kalau banjir besar melanda tiga provinsi selatan.

"Kapal yang membawa hasil dan hadiah untuk Anda tenggelam banjir. Anda harus menulis pesan untuk..."

"Tahukah kau apa yang menyebabkan banjir? Itu karena kadalnya gila. Itulah alasannya. Aku akan mengadakan pertemuan besok." Jawab Yung.


Yung menggelar pertemuan, ia mempraktekkan kata Chae Gyung kalau ia harus menjadi Raja yang bijak. Setelah para menteri membungkuk empat kali pada Yung, Im Sa Hong memerintahkan mereka untuk membacakan laporan mereka secara bergantian.


Saat para menteri bergantian melaporkan daerah masing-masing. Ada dua menteri yang saling berbisik.

Menteri 1: Ini sangat mendadak. Apa kau membawa hadiah?

Menteri 2: Aku tidak punya waktu untuk melakukannya.


Yung membahas banjir yang baru-baru ini terjadi. Akibatnya padi rusak dan orang-orang menjadi terluka. Ia juga mendengar sebanyak 400 rumah roboh, hancur, dan hanyut.

"Hitung jumlah orang-orang yang meninggal karena tertimbun atau tenggelam dan hitung mereka yang kehilangan rumahnya. Lakukan apapun yang kau bisa, jadi mereka tidak menderita." Perintah Yung.

"Terima kasih atas kemurahan hati anda. Yang Mulia." Jawab para menteri bersamaan.

2 menteri tadi heran, apa gerangan yang terjadi pada Yung?


Yung lalu berjalan kembali dengan senyum mengembang, bahkan ia minta maaf pada para menterinya karena harus panas-panasan.


Ibu Suri kesal mendengar Yung bersikap bijak. Park Won Jong menjelaskan kalau para Menteri tampak sangat terkejut dan bingung.

"Beliau telah menghabiskan waktu diluar istana dan sama sekali tidak tertarik pada politik." Tutup Park Won Jang.


Myung Hye datang menghadap Ibu Suri, Myung Hye ternyata keponakan Park Won Jong. Saat Myung Hye masuk, Ibu Suri memanggilnya menantu masa depan. Myung Hye lalu memberikan salam untuk Ibu Suri.

Ibu Suri menanyakan bagaimana kabar Yeok. Myung Jye menjelaskan kalau Yeok baik-baik saja. Ibu Suri heran, kalau begitu kenapa Myung Hye sampai menghadapnya, kan Yeok orangnya sangat hati-hati?

"Beliau naik kapal pemerintah dari selatan dan kapal itu membawa kiriman untuk Raja, Nyonya Jang dan Sekretaris Utama Kerajaan. Dia dan anak buahnya mencuri kiriman itu dan mengirimku untuk melihat bagaimana reaksi Sekretaris Utama Kerajaan."

"Dia seharusnya tidak menimbulkan masalah begitu cepat setelah kembali."

Park Won Jong menenangkan, tidak perlu khawatir berlebihan begitu. Sebagian besar barang kiriman adalah sogokan dari pejabat, Sekretaris Utama Kerajaan tidak akanmenyelidikinya secara terbuka. Raja sudah mengirim pejabat untuk menghibur penderitaan banjir adi tidak ada yang bisa mengeluh tentang kehilangan hadiah.

Myung Hye: Raja mengirim pejabat?

Ibu Suri: Aku tidak tahu dari mana dia mendapat ide itu tapi dia berusaha menjadi Raja bijak.


Nak Cheon membaca buku "Kehidupan Rahasia di Kota".

"Hyungnim, aku benar-benar menghormatimu. Mapo, Gwacheon, Pocheon, Gimpo. Ya ampun. Kau memiliki setengah dari Provinsi Gyeonggi. Kau memiliki semua saluran air dan melarang orang biasa untuk memancing. Mengapa kau sering mengunjungi Gisaeng?" Batin Nak Cheon.

Nak Cheon teringat pertemuannya dengan Yung di warung kemarin, lalu ia menambahkan tulisan di buku itu, "Penginapan dipersimpangan. Raja dan Shin Chae Gyung."


Chae Gyung membawa pengasuhnya ke tempat Nak Cheon sambil membawa sekantung keras. Ia mendapat kabar kalau tempat itu memberikan beras jika diberi informasi, jadi kemungkinan tempat itu mengetahui banyak informasi.

"Bahkan jika mereka tahu banyak hal. Apa mereka juga tahu tentang hantu?" Tanya pengasuh.

"Aku harus bertanya dan menemuinya."

Chae Gyung lalu meminta beras yang dibawa pengasuhnya. Ia akan masuk, tapi pengasuhnya disuruh menunggu di luar saja. Sebelum masuk, pengasuhnya memberinya sesuatu, katanya tinggal nyalakan itu jika melihat hantu nanti.


Chae Gyung bertemu dengan Suk Hee, ia langsung memberikan berasnya.

"Kau memberi beras untuk mendapatkan informasi. Maukah kau memberiku informasi dengan beras ini?"

"Apa?"

Suk Hee menghalangi Chae Gyung tapi Chae Gyung memaksa untuk menemui Tuan Suk Hee. Nak Cheon yang masih membaca buku itu mendengar keributan di luar. Chae Gyung terus memaksa, sampai ia berhasil masuk ke bilik.


Chae Gyung mengintip melalui lubang di dinding tapi Nak Cheon berdiri jadi Chae Gyung tidak bisa melihatnya. Sebelum bicara, Nak Cheon menekanlehernya agar suaranya berbeda.

"Apa... yang kau lakukan?!" tegur Nak Cheon.

"Baiklah. Aku tidak akan melihat. Duduklah lagi. Aku punya kisah yang panjang untuk diceritakan."


Nak Cheon pun kembali duduk. Chae Gyung bertanya, apa Nak Cheon pemilik pegadaian itu dan Nak Cheon mengiyakannya.

"Benarkah kau tahu semua yang terjadi di ibukota?" Tanya Chae Gyung lagi.

"Apa yang ingin kau ketahui?"

"Apa mungkin... Kau bisa menemukan hantu untukku?"

"Hantu?"

"Tidak, manusia."

"Manusia?"

"Tidak, hantu."

"Pikirkan baik-baik. Apa itu hantu atau manusia?"

"Bagaimana aku bisa mengambil keputusan? Aku tidak tahu apa aku jatuh cinta karena hantu atau manusia. Mungkinkah orang yang menjadi hantu bisa berpikir dengan benar?"


Nak Cheon membatin kalau Chae Gyung tengah mencarinya. Ia lalu menyimpulkan bahwa yang dicari Chae Gyung adalah seorang pria.

"Iya. Ini melegakan. Aku pikir juga begitu. Aku senang hantunya memilih masuk ke tubuh pria."

Nak Cheon kelepasan ketawa. Chae Gyung mendengarnya tapi Nak Cheon membantahnya, ia hanya bernapas dengan keras saja, lalu ia meminta Chae Gyung melanjutkan ceritanya.


"Jadi, yang terjadi... Beberapa hari lalu, aku berada di penginapan persimpangan. Aku kebetulan berada di sana. Aku bertemu pria yang keluar dari kamar sebelah. Dia persis seperti temanku yang telah meninggal saat kami kecil. Matanya, bibir, suara, bahkan kebiasaan mereka sama. Tentu saja, aku belum melihat dia tumbuh dewasa, tapi dia tampak seperti apa yang aku bayangkan..."

Nak Cheon sibuk mengintip melalui lubang hingga lupa merespon Chae Gyung. Chae Gyung pun menghentikan ceritanya untuk bertanya, apa Nak Cheon mendengarnya?

"Permisi, germo." Panggil Chae Gyung mengejutkan.

"Apa? Kau panggil aku apa?" Tanggapan Nak Cheon refleks, ia pun lupa menekan lehernya.

"Pemilik rumah pegadaian... Tunggu."


Chae Gyung menyadari sesuatu, ia lalu mencari pintu yang memisahkan bilik itu. Ia menggedor-gedor semua dinding sampai akhirnya pintunya terbuka.


Chae Gyung menyadari sesuatu, ia lalu mencari pintu yang memisahkan bilik itu. Ia menggedor-gedor semua dinding sampai akhirnya pintunya terbuka.

Chae Gyung sangat terkejut melihat Nak Cheon. "Kau.."


Belum sempat Chae Gyung bicara apa-apa, dinding bilik mendadak roboh. Nak Cheok refleks menggunakan tubuhnya untuk menyangga dinding itu agar tidak menimpa Chae Gyung.


Dada Chae Gyung berdebar kencang. Ia tidak ingin Nak Cheon mendengarnya, ma aia refleks menutup kedua telinga Nak Cheon dengan kedua tangannya. Nak Cheon teringat kalau ia juga pernah melakukan hal yang sama pada Chae Gyung dulu.


Nak Cheon segera sadar, lalu melepaskan tangan Chae Gyung. Ia meyuruh Chae Gyung cepat keluar dari sana. Lagian apa yang coba Chae Gyung lakukan disana?

"Sudah aku katakan. Aku dihantui oleh hantumu."

"Aku tidak peduli. Ceoat pergilah."

"Kenapa kau mirip dengan dia? Kenapa kau harus mirip seperti dia? Siapa kau sebenarnya?"


Nak Cheon menegakkan dinding itu. Sementara Chae Gyung masih belum selesai dengan pertanyaannya, Nak Cheon itu pangeran kan?

"Tidak."

"Lalu... Mengapa aku selalu memperhatikanmu? Mengapa kau membuat jantungku berdebar?"

"Apa itu salahku? Ini salahmu karena begitu kasar. Wanita yang sudah menikah datang ke sini untuk mencari pria lain? Kau lari ke pelukan siapa pun dan mengatakan hatimu berdebar-debar."

Chae Gyung membuka bungkusan yang diberikan pengasuhnya tadi, ia melemparkan isinya pada Nak Cheon sambil bilang "pergi!" berkali-kali.

"Kau adalah hantu. Tidak ada manusia yang bisa seperti ini. Kau adalah hantu. Pergilah sekarang juga. Keluar!"

"Apa yang kau lakukan?!"


Nak Cheon menyudutkan Chae Gyung ke dinding, "Apa ini yang kau inginkan?"

Chae Gyung meronta tapi Nak Cheon tidak membiarkannya lepas, "Apa begini cara wanita mencari suami zaman sekarang? Apakah strategimu menyalahkan hantu untuk menggoda banyak pria?"

"Lepaskan sebelum kau menyesalinya."

"Penyesalan adalah untuk manusia. Hantu tidak pernah menyesal."


Lalu Nak Cheon mencium Chae Gyung.

1 komentar so far

Wow.....makin penasaran..makasih unnie 😊

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...