Saturday, June 17, 2017

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 6 Part 2

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 6 Part 2

Sumber Gambar: KBS2


Nak Cheon memimpin jalan, Chae Gyung batuk-batuk menkodenya tapi Nak Cheon tidak berekasi. Akhirnya Chae Gyung pun bertanya, mau kemana mereka sebenarnya?

"Sekarang giliranku. Akan adil jika aku bisa pergi kemanapun juga."

"Kau setidaknya harus berjalan sesuai langkahku."


Maka Nak Cheon pun berhenti, ia lalu berbalik dan mendekati Chae Gyung, Chae gyung beringsut mundur. Kemudian Nak Cheon mengulurkan tangannya. Chae Gyung lama tidak menyambutnya, Nak Cheon pun hendak jalan lagi tapi Chae gyung langsung buru-buru menangkap tangan Nak Cheon. Jadilah mereka berjalan sambil bergandengan tangan.


Yung kembali keluar istana, ia akan memberikan lukisan itu pada Chae Gyung.


Nak Cheon membawa Chae Gyung ke makam Yeok. "Kudengar dia diserang oleh penjahat saat diasingkan. Apa itu benar?" Tanya Nak Cheon.


Chae Gyung terkejut melihat nisan Yeok. Ia hendak melepaskan gandengan tangan Nak Cheon tapi Nak Cheon malah semakin erat menggandengnya.

"Terima kasih. Aku berterima kasih karena bisa bertemu dengan wanita bangsawan. Puteri Sekretaris Utama Kerajaan. Aku menikmatinya." Kata Nak Cheon pada makam Yeok.


Chae Gyung menatap Nak Cheon tidak suka. Nak Cheon bertanya, apa Chae Gyung takut Yeon akan bangkit dari kematian lalu menyakitinya?"

Chae Gyung meronta lagi tapi Nak Cheon tidak membiarkan gandengan tangan mereka lepas.

"Seperti yang Anda lihat, Chae Gyung dan aku sudah berbagi hati. Tidak hanya itu... kami berbagi kehangatan dan berbagi nafas."


Chae Gyung akan menampar Nak Cheon dengan tangan satunya tapi Nak Cheon berhasil menangkap tangannya itu.


"Orang mati mungkin bertanya-tanya... Apa kau benar-benar percaya bahwa aku Pangeran Jin Seong... atau kau menggunakan dia sebagai alasan untuk merayuku." Tegas Nak Cheon.

"Permisi."

"Bukankah kau berpura-pura tidak mengenal Pangeran Jin Seong bahkan saat kau melihatnya membantu dia? Dia mungkin cinta pertama masa kecilmu dulu... Tapi apa kau miliknya? Bagaimana kau bisa menjamin dia merindukanmu?

Nak Cheon: Dengarkan baik-baik. Namaku Nak Cheon. Aku juga punya wanita... Jadi jika kau menghargai Pangeran Jin Seong, Jangan gunakan namanya untuk mengejar orang asing. Kau membuat orang mati terlihat menyedihkan.


Nak Cheon lalu pergi meninggalkan Chae gyung yang menangis sedih akan kata-katanya.

"Pangeran Jin Seong yang menyukaimu sudah tiada. Dia sudah mati."


Chae Gyung terduduk di depan nisan Yeok, ia menangis dan hujan tiba-tiba turun.


Malam datang.Nak Cheon sudah sampai di Desa tapi Chae Gyung masih duduk di makam.


Nak Cheon sampai di rumah pegadaian, semua bertanya kenapa Nak Cheon basah kuyup begitu tapi Nak Cheon hanya diam saja. Suk Hee dan Gwang Oh mengerti tatapan tajam Myung Hye, mereka pun meninggalkan mereka berdua.


Myung Hye menyinggung soal Nak Cheon yang pulang terlambat. Nak Cheon hanya menyahut, "iya".

"Apa yang terjadi?"

"Tentang apa?"

"Suk Hee menceritakan semuanya padaku."

"Kalau begitu jangan bertanya."

"Wanita itu... bahkan datang ke pegadaian. Apa yang akan kau lakukan? Orabeoni."


"Aku marah. Sementara aku menderita... Dia dekat dengan orang yang tidak lain adalah kakakku! Aku ingin menyiksanya."

"Jadi... Kau menghabiskan sepanjang hari dengan dia... Dan... kau menciumnya. Balas dendam apa yang semanis itu?"

"Kita jangan bertengkar untuk sesuatu yang tidak penting begini."


Nak Cheon berdiri tapi Myung Hye mendadak menariknya dan menciumnya. Sayangnya tepat saat itu Chae gyung masuk, jadilah Chae Gyung melihatnya.

Nak Cheon melepaskan Myung Hye dan Chae Gyung buru-buru pergi. Sebenarnya Chae Gyung ingin mengembalikan jubah Nak Cheon.


Myung Hye: Bahkan jika ini bukan berarti apa-apa... Aku harus menghapus tandanya.


Lalu terdengar suara berisik di luar. Nak Cheon memeriksa keluar tapi tidak ada siapa-siapa hanya jubahnya saja. Nak Cheon mengerti siapa yang barusan datang, ia pun berjalan untuk mengejarnya.


Tapi langkah Nak Cheon terhenti saat melihat Chae Gyung di jalan.


Pengawal menunjukkan lukisan bunga China itu pada Yung. Yung mengamatinya sebentar lalu mengangguk, pengawalnya pun menggulung kembali lukisan itu.


Yung menoleh ke jalan dan ia melihat Chae Gyung sedang berjalan melanun di tengah hujan. Yung pun menghampirinya dengan membawa payung.


Tapi saat Yung ada di sampingnya memayungi, Chae Gyung tidak menyadari itu, ia terus saja berjalan. Sampai akhirnya ia ambruk. Yung refleks memeganginya.

"Yang Mulia. Yang Mulia. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Aku tidak tahu mengapa seperti ini. Bagaimana... Bagaimana ini bisa terjadi?"

"Bangunlah. Bajumu basah." lalu Yung membantu Chae Gyung berdiri dengan merangkulnya.


Nak Cheon mengejar Chae Gyung lagi dan ia melihat Chae Gyung dirangkul Yung. Setelah berdiri, Chae Gyung malah pingsan.


Nak Cheon hendak mendekatinya tapi Seo Noh menghampiri. Seo Noh memakaikan topi pada Nak Cheon. Kebetulan lagi, Ki Ryong dan anak buahnya melihat mereka. Seo Noh lalu menyeret Nak Cheon untuk segera berlari. Nak Cheon masih juga memandangi Chae Gyung saat ini, Seo Noh terus-terusan memanggilnya untuk sadar.

Sementara Chae Gyung dibawa Yung berteduh. Ki Ryong dan anak buahnya mengejar Seo Noh dan  Nak Cheon sambil memanah.


Mereka berhasil lari tapi terpojok di tebing, maka mereka memutuskan untuk meloncati tebing itu, untungnya di bawah adalah air.  Sementara Ki Ryong masih menghujani mereka dengan anak panah.

Nak Cheon masih belum sadar sepenuhnya, ia masih terngiang saat Chae Gyung memanggilnya atapun ia memanggil Chae Gyung. Seo Noh bergerak, ia menyeret Nak Cheon untuk segera menepi. Nak Cheon sadar dan berenang ke tepi.


Yung bertanya apa yang terjadi, kenapa Chae Gyung basah kuyup dan apa maksud perkataan Chae Gyung tadi.

"Aku bertemu seseorang yang mirip dengan Pangeran."

"Mirip seperti Yeok? Siapa orang itu?"

"Namanya Nak Cheon. Anda melihat dia sekilas di penginapan hari itu."

"Itu sebabnya kau tiba-tiba berlari keluar pada hari itu."

"Matanya, suaranya... Bahkan kebiasaannya sangat sama. Itulah mengapa aku membuat kesalahan. Aku ingin membuktikan dia adalah Pangeran tidak peduli apapun."

"Lalu... Apa kau menangis karena tahu itu bukan dia?"


Chae Gyung menangis semakin kencang, ia tidak tahu mengapa ia menangis. Ia tidak tahu apa itu karena kata-katanya yang kasar, atau ia terkejut karena dia bukan Pangeran.

"Jika bukan karena itu... Aku pasti sudah gila. Aku sudah gila. Aku tidak tahu apa aku punya hak untuk menangis seperti ini. Aku merasa sangat kasihan pada Pangeran, Yang Mulia. Aku merasa menyesal pada Pangeran, Yang Mulia."


Ki Ryong melapor pada Im Sa Hong kalau ia kehilangan Nak Cheon lagi. Ki Ryong meminta maaf, tapi jangan khawatir, sekarang ia tahu dia ada di Ibu kota. Jadi ia pastikan untuk menangkapnya.

"Tidak usah begitu. Singkirkan saja dia saat kau melihatnya. Dia harus mati gar kau bisa hidup."

"Saya akan mengingatnya."


Suk Hee, Gwang Oh dan Myung Hye cemas menunggu. Mereka sedikit lega saat Nak Cheon alhirnya pulang bersama Seo Noh.


Myung Hye memarahi Nak Cheon. "Mengapa kau sangat ceroboh? Siapa dia sampai kau mengejarnya seperti itu? Kau sudah gila, 'kan? Apa kau ingin mati? Apa kau ingin membiarkan semua orang tahu siapa kau? Jika kau tidak bisa mengurusnya... Aku yang akan mengurusnya. Jangan lupa berapa banyak yang kita lakukan... untuk sampai kesini."


Yung tertidur, ia bermimpi saat ia melihat jenazah Yeok dulu, dimana wajah Yeok sangat hancur sampai ia tidak sanggup melihatnya. Lalu ia teringat perkataan Chae Gyung soal pertemuannya dengan orang yang mirip Yeok.


Nak Cheon diam-diam masuk ke ruangan Yung itu dengan memakai baju kasim, ia mengeluarkan pisau. Namun Yung keburu membuka matanya dan ia melihat Nak Cheon samar-samar.

"Terlalu mudah jika mati. Kau akan mengalami rasa sakit yang lebih parah daripada kematian." Batin Nak Cheon.

Yung bangkit tapi kepalanya pening, ia pun kembali menutup matanya, tapi saat ia membuka matanya lagi, Nak Cheon sudah tidak ada di hadapannya.


Nak Cheon keluar istana diam-diam, tapi ia malah bertemu dengan rombongan Ratu. Ratu memanggilnya, untungnya Ibu SUri datang jadi perhatian Ratu teralihkan.


Ibu Suri melirik Nak Cheon, ia terkejut melihat Puteranya disana. Maka ia pun mengalihkan Ratu agar segera pergi dari sana.


Setelahnya, Ibu Suri dan Yeok bicara berdua. Ternyata Ibu SUri sudah mendapat kabar dari Myung Jye kalau Yeok ada di istana dan itu membuatnya sangat terkejut.

"Aku minta maaf telah menimbulkan kekhawatiran." Kata Yeok.

"Kenapa kau tidak sabaran? Kau harus sabar dan menunggu waktumu."

"Ibu telah menunggu dan kehilangan seorang putera selama itu. Aku... akan menemukan cara yang tepat. Sembunyi dan menghindar bukanlah caraku. Aku ingin mengatakan itu."


Sebelum pergi, Yeok mengatakan kalau ia merindukan Ibu Suri. Airmata Ibu Suri tumpah setelah mendengarnya.

Yeok lalu melompati pagar keluar istana, ia melepas baju kasimnya lalu menunggang kudanya menjauhi istana.


Ibu Suri memeluk baju Yeok, "Yeok-ah. Anakku."

Yeok: Ibu, Tunggu aku. Aku akan segera kembali ke sisimu.

Esoknya, Yung melukis wajah Yeok. Im Sa Hong terkejut melihatnya. Ia pura-pura tidak tahu saat Yung bertanya lukisan itu mirip siapa.

"Pangeran Jin Seong. Siapa ya namanya? Nak Cheon. Ya, namanya Nak Cheon. Dia mirip dengan adikku, dia bahkan bertemu dengan Chae Gyung." Kata Yung.


Yung lalu melemparkan Tanda Kuasa, tanda itu diberikan pada orang yang diberi misi oleh Raja. Yung membebaskan Im Sa Hong membawa pengawal istana, penjaga istana, tentara, dan siapapun.

"Saya akan menemukan dan membunuhnya." Jawab Im Sa Hong.

"Tidak. Bawa dia padaku. Aku harus... melihatnya sendiri."


Im Sa Hong keluar dengan membawa Tanda Kuasa dan lukisan itu, beberapa saat kemudian Nok Soo menyusulnya. Nok Soo heran, bagaimana Raja bisa bertemu Nak Cheon.

"Itu sebabnya kita harus bertindak cepat." Jawab Im Sa Hong.

"Dia memang memberimu "tanda kuasa" Tapi jika Anda mengerahkan para tentara, Ibu Suri akan mencari tahu. Bukankah itu akan menjadi lebih rumit?"

"Kita akan menggunakan putri Shin Su Geun. Mereka sudah bertemu. Dia sepertinya masih memiliki perasaan untuknya. Dia akan masuk perangkap."


Chae Gyung mengunjungi makam Yeok dengan membawa nasi bungkus daun talas, ia memberi hormat lalu makan nasi itu.

"Yang Mulia. Apa kau kecewa padaku? Aku datang untuk meminta maaf. Jangan terlalu marah padaku."

 
"Aku minta maaf. Aku minta maaf karena menyamakanmu dengan seseorang yang sangat berbeda. Aku sangat merindukanmu. Sepertinya aku kehilangan akal pikiran untuk sementara waktu."


Gwang Oh, Suk Hee dan Myung Hye mengumpulkan orang-orang mereka. Malam ini mereka akan menjalankan misi, membagikan beras pada warga yang membutuhkan.

Gwang Oh: Aku peringatkan kalian lagi. Jangan tertangkap atau ketahuan. Kita tidak berusaha menjadi pahlawan. Kita hanya ingin menghidupkan harapan. Para dewa belum berpaling dari Joseon.

Suk Hee: Siput-siput akan berada disisi rakyat. Itulah motto kita.


Nak Cheon keluar bersama Seo Noh, ia juga ingin ikut. Suk Hee melarang Nak Cheon ikut tapi Nak Cheon tidak mau, ia tidak mungkin selamanya bersembunyi dibelakang Suk Hee. Sementara Myung Hye hanya diam saja. Tapi setelah Nak Cheon pergi, raut wajahnya sangat khawatir.


Chae Gyung pulang saat malam, ia menyadari ada beberapa orang mengikutinya. Mereka adalah Ki Ryong dan anak buahnya, mereka mengikuti Chae Gyung atas perintah Im Sa Hong.


Chae Gyung takut dan ia pun berlari. Namun ia malah bertemu dengan Suk Hee dan Gwang Oh yang tengah menjalankan misi. Mereka melompati pagar dan gayanya seperti maling. Chae Gyung pun berteriak sambil berlari.


Namun tiba-tiba seseorang menariknya untuk sembunyi sambil menutup mulutnya, dia adalah Nak Cheon.

"Kau tidak tahu kalau kau bisa terkena masalah?!" Bisik Nak Cheon.


Chae Gyung pun diam saat melihat siapa yang menariknya. Nak Cheon memastikan orang-orangnya berhasil menjalankan misi, setelah itu ia mengisyaratkan agar mereka cepat berpindah. Chae Gyung ikutan mengintip tapi disana sudah sepi.


Chae Gyung teringat Yeok, saat Yeok selalu menyuruhnya pergi/tidak ikut campur karena bisa terkena masalah. Dan tadi Nak Cheon pun mengatakan hal yang sama.


Chae Gyung juga teringat saat mereka lari dari para penguntit dulu. Saat itu ia bertanya kenapa mereka lari padahal tidak salah.

Jawaban Yeok: Bahkan jika kita tidak melakukan kesalahan, kita bisa dibunuh.


Maka Chae Gyung menanyakan hal yang sama pada Nak Cheon, kenapa mereka lari padahal tidak melakukan kesalahan.

"Bahkan jika kita tidak melakukan kesalahan..."

"Kita bisa dibunuh?" Potong Chae Gyung.

Chae Gyung jadi yakin kalau Nak Cheon itu adalah Yeok. Yeok tidak bisa menjawabnya, ia sudah ketahuan. Maka Yeok pun pergi.


Chae Gyung mengejarnya, setelah dapat ia memeluk Yeok dari belakang.

"Ini benar kau. Ini benar kau. Mengapa kau berbohong? Mengapa kau menyangkalnya? Ini benar kau. Kau benar dia."


Baik Chae Gyung maupun Nak Cheon menangis saat ini. Kebetulan lagi, Myung Hye melihat mereka, Myung Hye tampak sekali membenci Chae Gyung.


1 komentar so far

Makin suka sma drama ini,, yung itu nganggep chae gyung sbgai adik atau wanita ya?? Kok kyknya tatapannya bda gtu :v

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...