Friday, June 23, 2017

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 8 Part 2

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 8 Part 2

Sumber Gambar: KBS2


Ibu langsung memeluk Chae Gyung, putri kesayangan satu-satunya. Oh ya, di leher Chae Gyung terpakai kalung dengan bandul cincinnya. Yeok pasti yang memakaikannya


Yung menanyakan Im Sa Hong pada kepala kasim. Kepala Kasim menjawab kalau Im Sa Hong telah berjaga-jaga seperti yang Yung minta minta.


Ditempat Chae Gyung digantung tadi, ada bebarapa tiang lagi untuk menggantung Ki Ryong dan antek-anteknya. Yung datang kesana.


Ditempat Chae Gyung digantung tadi, ada bebarapa tiang lagi untuk menggantung Ki Ryong dan antek-anteknya. Yung datang kesana.

Im Sa Hong mendekatinya, lalu pengawalnya membungkuk agar Yung ada tempat berpijak saat turun dari kuda. Tapi Yung diam saja, ia melah memandangi Im Sa Hong sedari tadi.

Im Sa Hong paham, maka ia menggantikan pengawal yang membungkuk tadi dan menggantikannya. Yung pun pabu mau turun dengan pijakan punggung Im Sa Hong itu.


"Kepala Sekretaris Kerajaan. Apa "tanda" itu terlalu besar untuk kau pegang? Aku memerintahkanmu untuk menangkap pencuri. Bagaimana ini? Apa kau selalu tidak kompeten begini?"

"Maafkan saya, Yang Mulia."

"Itu seperti terlihat "baik-baik saja selama tidak terjadi apa-apa" Menteri Sogyeokseo yang berbicara dengan Yang Mulia telah melakukan pekerjaan yang terbaik untuknya."

"Saya akan pastikan yang seperti ini tidak terulang lagi..."


Yung menghunus pedang pengawalnya lalu meletakkannya di leher Im Sa Hong. "Jika kau.. menyakiti orang-orangku tanpa seizin dariku lagi... kau harus merelakan kepalamu.. bukan punggungmu."

"Saya akan mengingatnya, Yang Mulia."


Yung kembali ke Istana. Sementara Im Sa Hong mengawasinya.

"Tidak, Yang Mulia. Aku pasti yang menjadi satu-satunya. Aku akan menangkap Pangeran Jin Seong dan Shin Su Geun demi kita."


Chae Gyung akhirnya bangun. Ia memanggil Ibu dan pengasuhnya yang pertama ia lihat. Lalu ia menanyakan tanggal berapa hari ini, aApa sudah lewat tanggal 30?

"Belum. Apa kau baik-baik saja? Apa kau merasa baikan?" Tanya Ibunya.


Chae Gyung bangun, ia heran kenapa ia masih hidup. Ibu dan pengasuh sangat terkejut mendengarnya. Chae Gyung tidak mau hidup karena Yeok kemungkinan akan datang kesana.

Ibu memukuli Chae Gyung, "Kau bodoh. Beraninya kau mengatakan itu di depan ibumu? Kau ingin mati? Kau tidak punya pilihan untuk itu. Mati? Apa tidak cukup bagimu menggantung diri disana melawan kematian? Kami hampir tidak membawamu kembali... dan sedang kau berbicara tentang kematian lagi. Baik. Jika kau sangat berharap untuk mati, matilah. Aku tidak butuh anak sepertimu. Baik? Kau tidak memikirkan perasaan orang tuamu. Aku tidak butuh anak sepertimu yang ingin mati untuk mendapatkan kedamaian hati. Aku tidak membutuhkanmu."


Bibi gagal menenangkan Ibu, Ibu pun keluar sambil menangis. Namun saat di luar ada pelayan yang membawakan obat, ia mencicipinya dulu sebelum dibawa masuk.

Bibi mengerti bagaimana perasaan Chae Gyung tapi kau tidak bisa membiarkan Ibunya pergi seperti itu. pa Chae Gyung mengatakan ia bisa hidup terpisah dengan Ibunya demi pencuri aneh itu yang tidak peduli jika ia hidup atau mati?

"Dia tidak datang karena tidak bisa. Aku juga berdoa agar dia tidak datang. Aku berjanji tidak akan menunggunya."

"Tunggu, apa kau berpihak padanya? Lupakan. Minum saja obatmu."


Pengasuh membangunkannya untuk minum obat, jika tidak, Chae Gyung harus melawan pengasuh yang jago bela diri itu. Chae Gyung pun akhirnya tersenyum.


Ibu Chae Gyung tidak benar-benar pergi, iamengintip Chae Gyung yang sedang dirawat oleh pengasuhnya.


Ayah Chae Gyung datang, ia heran melihat Ibu tidak masuk begitu. Ibu mengatakan kalau ia baru akan masuk. Ayah menanyakan keadaan Chae Gyung.

"Racunnya hampir dinetralisir. Tabib mengatakan dia bisa makan bubur malam ini."

Ayah pun ikut-ikutan ibu mengintip ke dalam.


Namun ayah malah pergi lagi. Ayah sengaja melakukannya karena jika Chae Gyung melihatnya, Chae Gyung hanya akan menangis dan membuat keadaannya bertampah parah. Ayah akan kembali lagi nanti, ibu bingung jadi ia mengikuti ayah saja.

"Tunggu. Kenapa kau mengikutiku?"

"Aku bertengkar dengannya."

"Aigoo, kalian berdua sangat impulsif. Ini bukan waktunya untuk bertengkar."

"Aku tahu."


Raja membandingkan surat yang ditulis Yeok dengan surat yang ada pada anak panah itu dan keduanya sama persis.

"Aku bodoh! Aku tidak percaya bisa bertindak pengecut untuk menangkap orang sepertimu."

Yeok lalu membakar kedua surat itu. Ia mengundang Yeok untuk datang jika berani, ia akan menyambut Yeok dengan senang hati.


Yeok datang ke makamnya, disana ia berteriak sekuat-kuatnya. Ia teringat pesan Ayahnya sebelum meninggal.

"Yeok-ah. Kau... adalah Pangeran dinegeri ini, Joseon. Kau sama pentingnya dengan gelarmu. Saat Ayah mati... semua orang akan mengejarmu."

Yeok menggenggam tangannya erat.


Tuan Shin berpapasan dengan Ibu Suri yang sedang dalam perjalanan menjenguk Chae Gyung. Tuan Shin berterimakasih atas kemurahan hati IBu Suri.

"Ibu Suri.. Sementara kita disini.. Saya yakin Anda lebih tahu dari siapapun tentang siapa putriku yang ingin aku lindungi. Saya berharap Anda membebaskannya dari hutangnya yang lama dulu."

"Kau mengatakan kalau diantara kita tidak dibenarkan ada hutang. Apa begitu? Apa kau memintaku untuk mengambil langkah mundur dan tidak melakukan apa-apa lagi? Itu mungkin bisa membantumu."

"Terima kasih sudah memikirkannya.. tapi saya akan melindungi putri saya sendiri."

"Lakukan itu, kalau begitu."

Ibu Suri pun berbalik pergi, tidak jadi mengunjungi Chae Gyung.


Ibu Suri kembali ke kediamannya dan disana sudah ada Park Won Jong dan Myung Hye. Ibu Suri menyuruh Park WOn Jong mengambil sikap soalnya Tuan Shin bilang sudah tidak memiliki hutang pada mereka.

"Itu berarti dia tahu tentang Pangeran Jin Seong."

"Aku akan mengambil langkah mundur. Mari kita tunggu dan lihat untuk sementara waktu. Kidak ada yang bisa dilakukan untuk saat ini. Kita akan membiarkan Dewan Penasihat Kedua dan melihat bagaimana nasib putrinya."

"Ya, Yang Mulia."


Ibu Suri lalu beralih pada Myung Hye, ia tahu Myung Hye pasti marah karena semua tidak berjalan sesuai rencana Myung Hye. Bagaimana Chae Gyung bisa menahan racunnya?

"Itu bukan perbuatan saya. Dia sudah terkena anak panah. Namun dia tidak mengatakan siapa pun... sampai akhirnya demam."

"Apa kau mengatakan wanita itu mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi Yeok?"

"Iya."

"Cari tahu apa yang dilakukan Yeok, jangan sampai dia peduli dengan wanita itu lagi. Awasi dia dan pastikan dia tidak mengambil tindakan. Kau bahkan bisa mengatakan kepadanya kalau Nona Shin akan dibebaskan."


Myung Hye ke rumah pegadaian tepat saat Yeok akan keluar untuk mencarinya. Myung Hye bertanya, apa ada sesuatu?

"Tidak. Kau perginya sangat lama. Padahal kau satu-satunya sumber berita istana." Jawab Yeok lalu mengajak Myung Hye masuk.


Seo Noh bertanya, apa maksudnya Chae Gyung akan dibebaskan? Myung Hye menjelaskan, Chae Gyung tidak dibebaskan sekarang sih, Raja memerintahkan menangkapnya, maka Raja juga butuh alasan untuk membebaskannya. Raja akan mengumumkan pengampunannya saat sidang.

Suk Hee: Itu bagus sekali. Pengampunan Raja?

Myung Hye: Para Menteri menyarankan memberinya pengampunan karena banjir di selatan. Mereka menerima petisi.

Gwang Oh: Pengampunan dari Kerajaan bukanlah hal yang mudah.

Seo Noh: Ini bukan hanya tentang Nona Shin. Ini akan baik-baik saja.


Myung Hye menanyakan rencana Yeok selanjutnya. Yeok berencana untuk meninggalkan Ibukota untuk sementara waktu. Semua orang terkejut dengan rencana Yeok itu. Yeok menjelaskan, hanya sementara kok, ia akan kembali saat suasana sudah tenang. Bagaimana?


Myung Hye mengkode Seo Noh untuk bicara berdua. Myung Hye penasaran, kenpa Seo Noh diam saja soal kelakuannya di tahanan kemarin.

"Apa kau mempertimbangkan untuk mengubah metodemu?" Tebak Seo Noh.

"Apa?"

"Aku dengar cinta mengubahmu menjadi menyukai metode seseorang dan menyalinnya. Itulah mengapa cinta itu sulit."

"Siapa yang mengatakan aku jatuh cinta?"

"Jika bukan cinta, lalu apa itu? Chae Gyung Agassi membantu Nak Cheon membuka diri, mengubah pola pikirnya, dan membuatnya yakin. Namun, kau... "

"Aku kenapa?"

"Jika kau ingin mengalahkan Chae Gyung Agassi, kau harus berusaha lebih keras."


Myung Hye kesal dan memalingkan muka tapi saat ia menoleh ke arah Seo Noh lagi, Seo Noh sudah tidak ada disana.


Chae Gyung menatap jendela yang dilewati Yeok kemarin, ia turun dari ranjangnya dan berjalan menuju jendela itu. Ia lalu membukanya dan angin menerpa wajahnya.

"Kau mengatakan tidak akan menunggu. Namun, kau tetap menungguku. Kau tetap memanggil namaku ribuan kali. Meskipun kau menyuruhku untuk tidak datang, kau masih akan menungguku."

Ternyata Yeok memakaikan kalung itu sesaat sebelum ia pergi.

"Kau mengatakan bahwa sebuah janji membutuhkan "tanda bukti". Saat janjinya batal, kau harus mengambil kembali "tanda buktinya". Kita tidak memiliki janji lagi. Jangan menunggu. Kita tidak memiliki janji lagi."

Yeok lalu menyentuh tangan Chae Gyung sekali lagi dan membenarkan selimutnya lalu pergi.


Chae Gyung menangis mengingatnya, ia menggenggam erat kalung itu.


Yeok ditemani Seo Noh pergi meninggalkan ibukota. Dalam perjalanan itu, Yeok mendengar siulan Chae Gyung.


Im Sa Hong membacakan keputusan Raja, "Banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya melanda bagian Selatan dan menyebabkan rakyat sangat menderita. Saya takut itu terjadi karena beberapa penjahat yang dihukum tidak pantas dengan hukuman berat. Karena itu mereka yang dipenjara karena kejahatan yang lebih rendah dari pengkhianatan dan tidak mempengaruhi bangsa secara keseluruhan, terlepas dari apa pun baik itu dijatuhi hukuman atau sedang menunggu putusan harus diampuni dan dilepaskan. Hal ini bermanfaat untuk menghibur rakyat dan menenangkan para dewa di atas sana.

Karena itu, Nona Shin yang ditangkap sembilan hari lalu karena membantu penjahat melarikan diri akan diampuni dari semua tuduhan."

Semua menteri tidak setuju, mereka bersujud pada Yeok memintanya meninjau kembali keputusannya itu.

"Apa maksud kalian? Pengampunan kerajaan dikeluarkan karena bencana alam. Apa yang salah?"


Menteri 1: Yang Mulia, di malam sebelumnya, pencuri itu masuk ke tempat penyimpanan saya dan mengambil semua makanan saya.

Menteri 2: Iya, Yang Mulia. Saya juga begitu.

Menteri 3: Gandum saya juga dirampok, Yang Mulia.

Menteri 1: Saya tidak keberatan makanan saya diambil. Namun, pencuri ini menghina otoritas Anda dan itu sesuatu yang tidak bisa kami terima.

"Dia menghinaku?"


Lalu mereka menunjukkan surat yang ditinggalkan perampok itu. Yung membacanya, "Jangan marah. Raja juga dirampok". Semua suratnya memiliki isi yang sama. Yung meresamya lalu melemparkannya.

"Apa yang terjadi?"


Im Sa Hong menjelaskan, semalam pencuri yang mencuri hadiah Raja masuk ke gudang penyimpanan para Menteri yang tinggal di Bukchon. Ia akan menyuruh Biro Keamanan dan Biro Investigasi Kerajaan menyelidikinya. Padahal ia yang menyuruh para pencuri itu.

Wakil menteri berdiri, "Ini belum pernah terjadi sebelumnya, para Menteri dan petugas menjadi bingung. Yang Mulia, Nona Shin satu-satunya saksi dan kaki tangan. Anda harus mempertimbangkan kembali pengampunannya."

Satu menteri lagi menyetujui hal itu, "Ya, Yang Mulia. Kita tidak akan tahu, semakin beraninya pencuri jika Anda memaafkan Nona Shin.


Tuan Shin memungut surat yang dilempar Yung dan membacanya, ia terkejut sekali. Kemudian ia berlutut di depan Yung, "Yang Mulia. Saya yang akan bertanggung jawab dan akan mengajukan pengunduran diri. Mohon diterima. Dan juga, meskipun kita tidak punya apa-apa yang secara langsung menghubungkan putri saya dengan pencurinya untuk membuktikan apa dia benar bersamanya. Saya meminta Anda menahanku untuk bertanggung jawab dan menghukum saya atas tindakannya. Tolong terima permintaan saya dan biarkan saya mengambil hukuman untuk anak saya yang sedang sakit. Saya mohon."


Yung menolaknya, itu tidak bisa dilakukan. Mereka harus menangkap pencuri itu. Karena itu, ia tidak bisa melepaskan Chae Gyung karena dia satu-satunya saksi dan kaki tangan?

"Ya, Yang Mulia." Jawab para Menteri bersamaan.

"Apa kau mengatakan itu bukan karena kau dirampok tapi karena aku dihina? Apa ini semua karena kesetiaan kalian?"

"Ya, Yang Mulia."

"Baik. Kita harus menangkap pencuri itu. Kita harus!"


Yung lalu melemparkan semua tanda Kuasa yang dimilikinya. "Ambil masing-masing. Ini... memberimu kendali penuh pada para prajurit. Ini sama dengan perintahku."

"Yang Mulia."

"Ambillah masing-masing dan tangkap pencurinya."

"Mohon ingat kembali ini perintah Anda. Anda tidak harus memberi kami lencana kerajaan dengan mudah."

"Kenapa tidak? Apa karena jika kalian membuat kesalahan saat membawa ini maka bisa mengancam hidup kalian? Itukah sebabnya kalian semua takut? Ayo, ambil satu."


Yung meminta Tuan Shin untuk berdiri. Tuan Shin berterimakasih, tapi seseorang harus bertanggung jawab.

"Kenapa harus begitu? Kenapa harus begitu? Apa hukuman putrimu tidak cukup bagimu?"

"Kasus ini tidak memiliki akhir yang jelas. Seseorang harus mengambilnya dan dihukum untuk menyelesaikan semuanya."

"Yang harus membayarnya... adalah pencuri pengecut yang sedang bersembunyi itu. Dia tidak hanya mengambil apa yang menjadi milikku... Dia mengancam Chae Gyung dan mencuri gandum Menteri dari rumah mereka. Pencuri itu yang seharusnya membayar ini semua!!"


Yung: Saat pertama kali mendengar Nona Shin ditangkap, tidak ada yang bisa bicara. Kalian bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Tuan Shin dan aku. Sekarang setelah kalian dirampok, kalian akhirnya mengambil sikap dan mengeluh. Pikirkan kebijakan kalian ini. Betapa memalukannya itu! Siapa yang menginginkan Tuan Shin untuk bertanggung jawab harus membawakanku beberapa bukti atau kepala pencurinya. Hanya dengan begitu aku akan berdiskusi dengan Tuan Shin atau menghukum Nona Shin.


Raja keluar diikuti Kasim lalu para menteri. Tinggal Park Won Jong, Im Sa Hong dan Tuan Shin yang masih berlutut. Park Won Jong mengajak Im Sa Hong bicara.

"Kupikir... kau akan kalah lagi kali ini. Raja memiliki anggota Dewan Penasihat Kedua. Aku mendengar sesuatu yang lebih menarik. Ini bukan "Bahkan gunung tertinggi ada di bawah langit". Ini versi yang lebih baik... "Kepala Sekretaris Kerajaan Selalu di bawah Dewan Penasihat Kedua". "

"Ketika itu belum menjadi terwujud, kau tidak berhak mengulangi pembicaraan semacam itu. Aku berhasil mengancam Anggota Dewan Penasihat Kedua. Kau bahkan belum menyentuh bayangannya. Ini bukan waktunya untuk menghina."


Park Won Jong menatap punggung Tuan Shin lalu pergi. Ia teringat kata Ibu Suri, "Aku akan melangkah mundur. Mari kita tunggu dan lihat untuk sementara waktu."

Chae Gyung hanya ditemani pengasuhnya. Ia bertanya, apa Ibunya benar-benar marah? Apakah dia datang hari ini? Tapi pengasuhnya malah melamun, ia sampai harus memanggilnya beberapa kali baru pengasuhnya itu sadar.

"Tidak. Tidak ada yang terjadi." Kata pengasuh keceplosan.

"Ada apa?"

"Agasshi..."


Chae Gyung langsung berlari menuju ayahnya. Saat ini ayahnya sedang berlutut di bawah terik matahari untuk meminta Raja mengabulkan permintaannya. Semua orang menyaksikan itu, termasuk Ibu Chae Gyung dan Ratu.

Para Menteri berbisik, mereka harus melakukan sesuatu. Tuan Shin mengirimi mereka sebuah surat tulisan tangan melalui seorang utusan. Dia memohon pada mereka untuk tidak mendukungnya dengan cara apa pun.


Ibu Suri berserta dayangnya juga dalam perjalanan menuju tempat Tuan Shin. Tak ketinggalan, Nok SOo juga berjalan kesana.


Im Sa Hong juga ada disana, ada satu menteri yang membisikinya. Bahkan jika Tuan Shin melakukan itu, tetao tidak bisa melepaskan putrinya karena pencuri itu masih belum ditemukan, kan?

"Hari ini tanggal 30. Kita masih punya waktu sampai jam 6 sore. Mari kita tunggu. Entah itu pencuri atau Nona Shin, dia berjanji seseorang harus membayarnya." Jawab Im Sa Hong.


Chae Gyung sampai disana setelah Nok Soo. Ia masih lemah sebenarnya. Ia langsung menuju ayahnya. Ibunya akan mencegahnya tapi Ratu menghalangi.


"Ayah. Aku... Aku sungguh menyesal. Aku membuatmu mendapat masalah."


Yung mendekati mereka, karena terkejut ada Chae Gyung juga disana.

"Yang Mulia. Keluargaku tidak bersalah. Jika harus dihukum, salah lah orangnya."

Ayahnya tidak setuju dengan Chae Gyung tapi para menteri yang lain sangat setuju dengannya. Ibu Chae Gyung bahkan hampir pingsan mendengarnya.

Chae Gyung melanjutkan, "Yang Mulia. Supaya otoritas Anda tidak menurun, tolong hukum saya seperti yang telah direncakan."

Yung sebenarnya juga tidak menyetujui Chae Gyung tapi hae Gyung bersikeras. Chae Gyung menjawab bahwa seorang Raja harus menghukum rakyatnya dengan adil tapi selama ini Yung berusaha keras untuk menyelamatkan hidupnya dan memberinya kesempatan.

"Saya lah yang mengecewakanmu. Jadi... Tolong hukum saya."


Yung tidak peduli, ia memerintahkan untuk membawa Chae Gyung kembali ke klinik. Chae Gyung hendak mengejar Yung yang berjalan pergi tapi pengawal Yung menghadangnya dengan pedang.


Chae Gyung tidak kuat lagi, kahirnya ia pingsan. Untung ibunya sigap menangkapnya saat jatuh. Yung bahkan sampai berbalik saking khawatirnya.


Seseorang datang dan berseru, "Berhenti!"

Dibelakangnya ada banyak barang bawaan. Dia adalah Yeok.


Yung bertanya siapa Yeok. Tapi Yeok belum menjawabnya sampai Yung harus bertanya lagi.

"Lee Yeok. Hyungnim. Ini aku. Aku kembali."

Ibu Suri hampir jatuh mendengar itu. Semua yang ada disana juga terkejut.


3 komentar

Serrrru bgt unnie:-) ceritanya jauh lbh bgs dr master of the masknya yoo seung hoo!tp knp ratingnya g bagus y pdhl crtnya seru bingit fighting unnie

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon