Thursday, June 29, 2017

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 9 Part 2

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 9 Part 2

Sumber Gambar: KBS2


Myung Hye mendatangi rumah siput, btw anak-anak juga lagi minum. Ia marah dan merebut minuman Suk Hee. Ia marah karena Suk Hee meninggalkannya dan mengambil kembali semua hadiahnya.

"Apakah itu Keputusan yang kalian gunakan untuk mengungkapkan bahwa Pangeran Jin Seong masih hidup?"

Suk Hee sudah mencoba menghantikannya, tapi pasti Myung Hye juga tahu sendiri jawaban Yeok, "Sembunyi bukanlah solusi satu-satunya".


Seo Noh menambahi, berkat mengungkapkan jatidiri Yeok, mereka berhasil menyelamatkan terdakwa yang tidak bersalah. Saat situasi berubah, strategi juga berubah, bukankah begitu?

"Apa kau mengatakan bahwa pernikahan sebuah strategi?"

"Aku tidak suka ide dia menggunakan Chae Gyung Agasshi."

"Lalu?"

"Tapi... Aku tidak akan menentangnya."

"Kenapa tidak?"

"Karena pernikahan mereka tidak akan diatur siapapun. Mereka akan... jatuh cinta sesungguhnya."

"Apa yang akan kau lakukan jika tidak?"

"Tidak ada yang bisa dilakukan. Tetap akan seperti itu."


Chae Gyung membaca kembali ramalan itu, tapi berapa kalipun ia membaca ia merasa itu tidak mungkin. Sementara itu, pengasuhnya sedang tidur sambil duduk di sampingnya.


Yeok mendatangi ruang perawatan Chae Gyung, "Apa ada orang di sana?!"

Pengasuh Chae Gyung terbangun karena suara itu. Chae Gyung juga terkejut. Yeok lalu memanggil Chae Gyung.

Chae Gyung menyuruh pengasuhnya berbohong pada Yeok, katakan ia sedang tidur dan jangan biarkan siapapun masuk karena ia masih sakit.

Sayangnya Yeok mendengar semua itu dari luar dan ia tersenyum. Chae Gyung lalu berbaring dan pengasuhnya pun keluar.


Tapi tidak ada suara kemudian. Chae Gyung penasaran, ia pun bangkit dan mendekati pintu, ia hendak membukanya tapi tidak jadi.


Penerangan tiba-tiba mati. Cae Gyung terkejut. Ternyata itu adalah ulah Yeok. Yeok masuk entah lewat mana lalu membekap mulut Chae Gyung.

"Tetap tenang. Berjanjilah kau tidak akan teriak. Lalu aku akan melepaskanmu."

Chae Gyung menangguk setelah melihat wajah Yeok.


Yeok mendudukkan Chae Gyung di ranjang. Tapi setelah ia melepaskan Chae Gyung, Chae Gyung malah berteriak jadi ia terpaksa membekapnya lagi tapi posisi mereka malah jadi romantis.


Chae Gyung mendorong Yeok. Yeok tersenyum, Chae Gyung pasti sudah baikan karena bisa berbohong padanya. Chae Gyung bahkan tidak memandang Yeok, ia menyuruh Yeok segera pergi.

Yeok terkejut, apa Chae Gyung tidak senang melihatnya. Chae Gyung menjawab tidak. Yeok menanyakan alasannya.

"Karena aku tidak bisa mempercayaimu. Kau hanya mengatakan kebohongan. Di penginapan, di pegadaian, di kuburan, dan di dalam gua. Jadi aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Silakan pergi."


Chae Gyung berjalan menuju pintu dan membukanya. Yeok mendekat tapi bukan untuk keluar, melainkan untuk menutup pintu kembali.

"Kau benar. Aku berbohong di penginapan, Pegadaian, Kuburan, dan di dalam gua."


Chae Gyung akan menjauh tapi Yeok malah menyudutkannya.

"Kebohongan terbesar yang aku katakan adalah bahwa aku tidak merindukanmu. Aku merindukanmu... Sangat. Sangat banyak."


Chae Gyung hampir menangis hingga ia menghindari kontak mata, "Kau mengatakan tidak ada janji lagi. Kau bahkan mengembalikan tanda bukti tersebut. Kenapa kau mengatakan itu sekarang?"

"Kenapa kau kembali? Mengapa aku kembali? Kau tidak ingat apa yang aku katakan? Alasan mengapa kita tidak lagi memiliki janji. Alasan aku mengembalikan cincin itu. Itu artinya aku akan segera... menepati janjiku untuk kembali."

Chae Gyung kembali teringat saat Yeok mengembalikan cincin itu.


Yeok tersenyum karena Chae Gyung mengingatnya, "Aku telah kembali dengan selamat. Kau tidak mau mengatakan bangga padaku?"


Chae Gyung kembali membuka pintu, "Kau telah menjaga semua janjimu, jadi jangan datang padaku lagi."

Dengan berat hati, Yeok pun keluar dari sana, tapi ia menoleh kembali pada Chae Gyung, namun Chae Gyung malah cepat-cepat menutup pintunya.


Yeok memanggil-manggil Chae Gyung, tapi Chae Gyung tidak menjawabnya. Sebenarnya Chae Gyung sedih karena sudah bersikap kasar pada Yeok.

Yeok juga sedih karena sikap Chae Gyung tidak seperti yang ia harapkan.


Seseorang berkunjung lagi. Chae Gyung langsung bangkit, Pangeran kah? tapi yang datang adalah Yung.

"Yang Mulia."

"Apa kau sedang menunggu Yeok?"

"Tidak. Tidak akan."


Yung mengajak Chae Gyung jalan di luar. Chae Gyung malah senang karena Tabib kerajaan menyuruhnya untuk berjalan kadang-kadang. Chae Gyung mendadak bersujud pada Yung.

"Saya berhutang budi kepada Anda, Yang Mulia. Jika bukan karena Anda... Saya pasti sudah meninggal."

Yung menarik Chae Gyung untuk kembali berdiri, "Berhutang? Kau juga pernah menyelamatkan hidupku sekali."

"Anda tidak bisa menyebut itu menyelamatkan hidup Anda. Saya minta maaf. Saya tidak bisa memberitahu Anda lebih awal. Saya telah berbohong kepada Anda."


Yung membenarkan, ia ingin mengatakan bahwa ia baik-baik saja tapi ia sangat terluka. Apa Chae Gyung tidak percaya padanya?

"Tidak, tolong jangan salah paham. Bukan begitu. Saya tidak ingin melihat hidup seseorang berantakan lagi karena saya. Mulai sekarang... Saya tidak akan berbohong lagi pada Anda. Saya minta maaf."

Yung tersentuh karenanya, ia tersenyum bahkan akan mengelus rambut Chae Gyung tapi ia urungkan. Ia menggantinya dengan menyentuh pundak Chae Gyung.


Yung tak bisa berhenti tersenyum mendengar janji Chae Gyung itu bahkan saat akan tidur pun ia masih terbayang Chae Gyung. Udah mulai ada rasa nih kayaknya.


Yeok diikuti beberapa orang jadi ia harus bersandiwara. Sampai akhirnya ia mempunyai kesempatan untuk melarikan diri dan menuju ke rumah pegadaian. Untuk mengelabuhi penguntitnya, ia berganti baju.


Sampai di rumah pegadaian, Yeok dikejutkan dengan kedatangan Park Won Jong. Park Won Jong meniru cara Yeok datang ke istana, tanpa sepatah katapun, maka ia kesana juga tanpa pemberitahuan.

"Aku yakin kau di sini bukan untuk meniruku. Apa yang membawamu kemari?"

"Sekarang setelah Anda menunjukkan diri kepada dunia... Kita akan membutuhkan seseorang untuk memimpin revolusi."

"Apa kau mengatakan kau akan melakukannya? Memimpin "Istri siput"?"


"Sementara Anda berusaha keras untuk menikahi putri Penasihat Negara Kedua... Kita harus tetap bergerak maju dengan istri siput, bisnis perdagangan, dan aspek lain yang terkait dengan revolusi."


Park Won Jong membuka sebuah tirai dan ternyata dibaliknya adalah strategi yang dirancang Yeok. Park Won Jong mengakui kecakapan Yeok.


Park Won Jong ternyata tidak datang sendiri, ia bersama orang-orang yang telah bersumpah untuk membantu Yeok dalam rangka mengubah negara ini. Ada orang-orang yang kehilangan keluarga dalam pembantaian terakhir kali dan orang-orang yang kehilangan seluruh hartanya karena tuduhan palsu yang diklaim oleh rakyat yang tidak setia. Dan juga, para ilmuwan yang tidak puas dengan pemerintahan Raja, Pejuang yang ingin membuat negara menjadi lebih baik ada di sana.

"Aku juga minta dukungan kalian. Aku adalah Pangeran Jin Seong... Lee Yeok."

"Jadilah Raja yang bijaksana." Ucap mereka bersamaan lalu mereka bersujud pada Yeok.


Nyonya Shin membahas soal biksu yang memberi mereka ramalan mengenai Chae Gyung dan keluarga kerajaan. Ia heran, saat Yeok lahir Biksu yang memberkati Yeok dan Chae Gyung mengatakan mereka cocok satu sama lain. Tapi mengapa biksu itu meninggali mereka dengan ramalan menghebohkan itu setelahnya?

"Aku pikir sesuatu terjadi antara Mendiang Raja dan Kepala Biksu. Aku ingat waktu itu dia diserang oleh pembunuh bayaran."

"Apa Anda mengatakan... Mendiang Raja adalah orang yang menyakitinya?"

"Aku tidak bisa mengatakan ini dengan yakin. Tapi biksu itu mengkhianatinya dan meninggalkan ramalan itu. Bisa dikatakan kejadiannya seperti itu. Namun... Aku tidak tahu mengapa mendiang Raja mencoba membunuh biksu tersebut. Aku tidak tahu apa hubungannya dengan Chae Gyung. Kita tidak bisa mengetahuinya. Yang pasti kita perlu berhati-hati."


Chae Gyung sudah diijinkan kembali ke rumah, namun ia masih memikirkan tentang ramalan itu.

Kilas Balik...


Seperti dugaan, Chae Gyung tidak percaya akan isi ramalan itu. Tuan Shin menjelaskan kronolosisnya, setelah Pangeran Jin Seong lahir, mendiang  Raja, Seong Jong ingin bertemu dengan Chae Gyung.


Raja sangat menyukai Chae Gyung kecil, bahkan ia langsung meminta Chae Gyung untuk dinikahkan dengan Yeok saat dewasa nanti. Tuan Shin dan Nyonya Shin hanya bisa saling pandanga. Biksu itu ada bersama mereka, ia mengatakan kalau Chae Gyung dan Yeok ditakdirkan untuk saling melindungi. Tuan SHin pun menerima pinangan Raja.


Biksu: Untuk mengingat janji hari ini dan demi kesehatan dan keberuntungan Chae Gyung. Saya akan membuat jimat untuknya dengan tato.

Raja dengan senang hati mengijinkannya.


Anehnya, setelah Chae Gyung mendapat tato itu, Chae Gyung yang sering sakit menjadi tumbuh dengan sangat sehat tanpa sakit. Namun, suatu hari Biksu diserang oleh seseorang dan datang kepada Tuan Shin dengan berlumuran darah.

Biksu: Jangan percaya pada Raja. Jika Chae Gyung berhubungan dengan keluarga kerajaan, akan ada pertumpahan darah di istana Kerajaan dan keluarga Kerajaan.


Chae Gyung bertanya, kalau begitu setiap hal buruk yang terjadi pada Yeok disebabkan oleh ramalan ini? Apa ini salahnya?

Ibu: Kau tidak salah. Kami hanya mengatakan beberapa orang seharusnya tidak pernah bertemu. Kau harus menghindari beberapa orang jika bisa.

Kilas Balik selesai...


Chae Gyung memeriksa tatonya, "Ini bukan pesona. Ini adalah kutukan."


Di luar, Yeok bersiul-siul memanggil Chae Gyung. Ia mengajak Chae Gyung keluar. Chae Gyung menggeleng, Yeok mengancam akan masuk nanti. AKhirnya Chae Gyung tersenyum dan bersedia keluar.


Chae Gyung berhenti saat mereka jalan, ia menanyakan tujuan mereka.

"Aku sedang dalam perjalanan untuk mendapatkan hatimu."

"Aku tidak punya hati untuk diberikan padamu."

"Aku akan membuatnya."

Lalu Yeok menggandeng Chae Gyung.


Ternyata ia membawa Chae Gyung ke rumah pegadaian. Yeok menyuruh Chae Gyung duduk tapi Chae Gyung tidak menjawabnya. Maka ia pun duduk sendiri.


Yeok lalu mengeluarkan sebuah buku, "Aku menulis hal-hal kejam yang aku lakukan, kebohongan yang aku katakan, hal-hal yang harus aku minta maaf, dan hal-hal yang harus aku jelaskan. Semuanya ada di sini."

Chae Gyung sok tidak tertarik, "Aku tidak peduli untuk mengetahui apapun."

"Pertama, saat kita ketemu di penginapan."

"Lupakan."

"Lalu... Di kuburan."

"Lupakan itu juga."

"Lalu... Apa kau ingin tahu bagaimana cara aku bertahan hidup?"


Chae Gyung melirik sekilas ke arah Yeok tapi berpaling lagi. Yeok melanjutkan, ia pergi ke pengasingan ketika pembunuh menyerangnya dan ia jatuh dari bukit. Sekelompok pedagang yang berbisnis di Ming menemukannya sedang sekarat. Mereka adalah pemilik sebenarnya dari pegadaian ini dan mitranya. Chae Gyung agak tertarik tapi pura-pura tidak lagi.


"Kami membeli informasi dari orang-orang dan menjualnya kepada para pedagang. Pedagang menggunakan informasi itu untuk melakukan transaksi bisnis atau mogok pada bangsawan."

"Itu sebabnya kau memberi beras untuk setiap informasi?"

"Iya. Sekarang, apa kau penasaran?"

"Tidak."


Yeok tersenyum lalu membuka-buka buku itu lagi, ternyata ada tentang Chae Gyung juga.

"Shin Chae Gyung. Tinggal di Bukchon. Putri Penasihat Negara Kedua. Dia terlalu jelek untuk menikah meski sudah di usia menikah."

Chae Gyung memaksa untuk meminta buku itu, ia tidak jelek kok. Tapi tentu saja Yeok tidak dengan mudah memberikan buku itu, ia malah melanjutkan kembacanya.

"Pada peringatan kematian Pangeran Jin Seong, dia minum sendiri seperti orang gila. Kapan pun dia melihat orang yang mirip Pangeran Jin Seong, dia bertanya apa dia hantu?"


Yeok akhirnya memasukkan buku itu kembali ke bajunya. Yeok bertanya, apa Chae Gyung sebegitu merindukannya? Chae Gyung membantahnya, ia tidak begitu.

"Apa kau sungguh tidak penasaran? Apa kau pikir aku percaya itu?"

"Aku tidak penasaran. Berikan aku buku itu. Sini."

Yeok maju, ia mengangkat kedua tangannya, menyuruh Chae Gyung mengambil sendiri bukunya di dadanya. Chae Gyung tanpa pkir panjang langsung membuka baju Yeok untuk mengambil buku itu.


Tapi ia tercengang saat melihat bekas luka di tubuh Yeok. Chae Gyung lupa dengan buku itu, ia sekarang penasaran, apa waktu itu... Yeok terluka parah? Apa Yeok... masih kesakitan?

"Aku sudah sembuh."

Chae Gyung mulai menangis, "Bisa aku... melihatnya?"


Chae Gyung lalu meniup penerangan satu per satu hingga disana gelap. Ia akan menutup matanya dan merasakan Yeok. Jika memang luka Yeok sudah sembuh, jika Yeok tidak lagi sakit.


Yeok pun melepas bajunya dan mendekati Chae Gyung yang mulai menutup mata. {artama Chae Gyung menyentuh perut Yeok. Ia merasakan lukanya disana, ada beberapa bekas luka.

"Apa tidak sakit?"

"Aku baik-baik saja."


Chae Gyung berjalan ke belakang Yeok, airmatanya makin deras melihat bekas luka di punggung Yeok. "Kau masih muda dan tampan. Bagaimana ini bisa terjadi?"

"Apa kau menggejekku karena aku berubah menjadi jelek?"

"Kau tidak jelek. Aku bangga padamu. Kau tumbuh menjadi pemuda yang kuat. Terima kasih. Terima kasih... telah hidup kembali, Pangeran."

Chae Gyung lalu memeluk Yeok. Yeok juga berkaca-kaca, ia menyentuh tangan Chae Gyung.


Nok Soo kembali memprovokasi Yung, Yeok terus kehilangan ekornya secara perlahan. Yung bisa mengalahkan lawan jika mengenalnya dengan baik tapi Yung tidak tahu di mana Yeok berada dan apa yang Yeok lakukan. Jadi bagaimana Yung bisa mempersiapkan perang?

"Tetapi tetap saja, Apa harus Chae Gyung?"

"Iya. Itulah cinta. Orang mungkin bisa menipu yang lain tapi bukan kekasihmu sendiri. Hampir tidak mungkin untuk mengabaikan penderitaan kekasihmu. Itu sebabnya dia akan menjadi mata-mata yang tepat."

"Itulah alasan lain untuk tidak mengirimnya. Aku tidak bisa mengirim Chae Gyung sebagai mata-mata. Cinta? Kasih sayang? Keduanya? Itu hanya kasihan dan rasa bersalah. Mereka baru saja bertemu sebagai orang dewasa. Mereka belum lama untuk jatuh cinta. Jika itu cinta... Maka Chae Gyung akan mampu mencintai semua yang dia lihat dan temui."

"Diluar dari itu... Pangeran Jin Seong sangat istimewa."

Kelihatannya, Yung mulai goyah.


Saat kembali pulang, Chae Gyung menanyakan siapa saja yang bekerja di pegadaian bersama Yeok. Terakhir kali ia bertemu dua dari mereka, satu memiliki wajah yang sedikit panjang dan satu lagi memiliki wajah bulat.

"Ah... Kau bertemu dengan Gwang Ho dan Suk Hee. Mereka adalah teman-temanku. Dan.. ada satu orang lagi."


Chae Gyung menyangka yang dimaksud adalah Myung Hye.


Tapi ternyata bukan, Seo Noh lah yang dimaksud Yeok. Chae Gyung terkejut, Seo Noh? Temannya Seo Noh? 

"Mengapa dia temanmu? Dia... Dia teman kita."

"Bagaimana kalian berdua bisa bertemu lagi?"

"Begitu aku pulih, aku pergi mencarinya."

"Kenapa kau tidak mengajaknya? Pasti sangat menyenangkan. Bawa dia ke tempatku besok. Jadi aku bisa menyapa."


Yeok kelihatan tidak senang, ia bertanya, diantara dirinya dan Seo Noh, siapa yang paling Chae Gyung rindukan?

"Tentu saja, itu... Seo Noh."

"Bohong banget."

"Aku jujur. Saat ini aku merindukan Seo Noh. Aku bisa melihatmu dengan sering sampai bosan sekarang."

"Aku tidak bertanya sekarang. Tapi ketika kita berpisah."

"Sekarang lebih penting. Apa yang terjadi selanjutnya, lebih penting lagi. Itulah mengapa kau harus melihat wajahku sebanyak mungkin. Kau tidak akan bisa melihatnya lagi."

"Apa maksudmu?"

"Aku di sini sebagai pertemuan terakhir kita. Kita seharusnya tidak bertemu lagi."


Yung datang tepat saat itu, ia melihat mereka berdua.

Yeok tidak setuju dengan kata-kata Chae Gyung. Ia mengejar Chae Gyung lalu memeluknya.

Suara Nok Soo: Waktu tidaklah penting. Pandangan sekilas saja, nafas yang dihembus angin, bahkan sedikit sentuhan sudah cukup untuk menyalakan api cinta.

Yung membukatikan sendiri kalau kata-kata Nok Soo itu tepat.


2 komentar

Makasih unni sinopsis nya. Ini yg paling ditunggu-tunggu. Semakin pensaran sama kisah selanjutnya ๐Ÿ˜ Yung udah mulai cemburu nih

Ditunggu eps 10nya
Mangat๐Ÿ˜‚

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜š
EmoticonEmoticon