Tuesday, July 4, 2017

Sinopsis The Best Hit Episode 14

Sinopsis The Best Hit Episode 14

Sumber Gambar: KBS2


Bo Hee Gwang Jae bertemu dengan Timjang dari pihak iklan yang akan mengontrak Bo Hee. Ternyata Bo Hee bukan menjadi karakter perempuan yang memakan kimbab lalu meminum obat pencernaannya, melainkan karakter kimbabnya.

"Orang ini benar-benar. Kau serius? Kau tidak boleh membuat Sang Peri jadi karakter kimbab. Bagaimana bisa Anda menjadikannya karakter kimbab? Seharusnya kau dipukul dengan kimbab. Ayo, Bo Hee. Augh." Kesal Gwang Jae.

Soon Tae memprotes tindakan Gwang Jae tadi. Industri hiburan memang kelihatan besar, namun sebenarnya kecil. Gwang Jae pasti akan bertemu dengan Timjang itu lagi kemudian hari. Soon Tae jamin, emosi Gwang Jae akan membuatnya menderita nanti.

"Uang tak lebih penting dari manusia. Aku tak mau keluargaku terluka karena masalah uang." Jawab Gwang Jae.

"Kau tak bisa melindungi keluargamu dengan tak melakukan apa-apa. Gedung ini akan segera dilelang. Kau punya uang untuk membayar hutang?"

"Aku akan mencarinya."

"Dengarkan aku kali ini. Aku melepas semua harga diriku dan menghubungi Young Jae."

"Kenapa Anda melakukan itu?"

"Kita harus mengupayakan sesuatu. Ayo temui dia dan berterima kasih padanya. Baik. Anggap saja dia seekor anjing. Lalu kau akan pikir dia manis seperti apa yang sudah dia lakukan. Anggap saja dia anjing menggonggong saat dia mengatakan sesuatu yang buruk. Jangan anggap serius perkataannya. Kau mengerti? Ayo."


MJ akan menemui Young Jae tapi Young Jae-nya sedang ada rapat, maka manajernya memintanya menemui Young Jae lain waktu saja.

"Dia menghubungiku saat aku sakit dan sedang syuting malam hari. Apa yang dia pikirkan? Hyung! Kapan kontrakku dengan Star Punch berakhir?"

"Kenapa kau bertanya begitu? Puteri bungsu Taewoon Industries akan wawancara hari ini."

"Aku takkan kesana."

"Obat yang pahit selalu bagus untuk tubuhmu. Begitulah dengan orang-orang. Seseorang yang tak ingin kau jumpai akan berguna bagi dirimu."

"Bagaimana aku bisa memperkerjakan seorang amatir?"

"Siapa bilang? Lakukan wawancara saja. Sepertinya dia fansmu. Dia hanya ingin berbicara denganmu."

"Lupakan. Aku sangat lelah."


Woo Seung datang ke Star Punch, ia menemui resepsionis, bertanya dimana tempat interview untuk intern. Manajer MJ mendatanginya, memintanya mengikutinya karena Woo Seung bilang datang untuk wawancara.


Manager MJ mengira Woo Seung adalah Puteri bungsu Taewoon Industries. Namun sebenarnya Puteri bungsu Taewoon Industries datang sesaat setelah mereka berdua masuk.


Woo Seung dibawa ke ruang Young Jae. Manajer MJ menambahi kalau Woo Seung hanya sendirian. Woo Seung tersenyum senang, itu artinya ia memiliki kesempatan besar. Lalu Manajer meninggalkan Woo Seung untuk mencari MJ.


MJ ternyata ketiduran di kursi Young Jae dan ia terbangun saat manajernya keluar. Ia lalu mendekati WOo Seung dan menyuruhnya bernyanyi, tapi ia melakukannya tanpa melihat wajah Woo Seung.

Woo Seung bingung tapi ia berpikir memang begitu cara perusahaan hiburan merekrut intern. Maka Woo Seung pun menyanyi, tapi suara kurang enak di dengar, MJ pun menyuruhnya berhenti dan menyuruhnya untuk menari saja.


"Kenapa dia tiba-tiba menyuruhku menari? Tidak. Kurasa mereka melakukan wawancara dengan cara ini." Batin WOo Seung, maka ia pun menunjukkan kebolehannya dalam menari tapi gerakannya kaku.


Akhirnya MJ melihat wajahnya dan mengenalinya. "Kau... Kau! Jo Woo Seung [pemenang kedua]? Jo Woo Seung [pemenang kedua]. Lucu sekali."


Gwang Jae dan Soon Tae menemui Young Jae untuk minta bantuan. Gwang Jae langsung ke intinya saja, ia ingin meminjam uang pada Young Jae agar gedung mereka tidak disita.


"Berapa yang kaubutuhkan?" tanya Young Jae.

"Kurasa 20 juta won cukup."

"Kita sudah kenal lama. Kau tahu... Aku kesusahaan saat aku masih menjadi member J2, 'kan?"

"Apa? Ya tentu saja. Aku tahu itu."

Young Jae ngomong panjang lebar mengenai kesusahannya dikucilkan dulu tapi Soon Tae dan Gwang Jae hanya menanggapnya sebagai anjing. 


Lalu pegawai Young Jae menghampiri untuk memberikan laporan. Dia memberikan daftar trainee yang gagal debut, dia ingi Young Jae memilih siapa yang harus dikeluarkan.

"Apa aku harus repot-repot melakukannya?"

"Maafkan aku."

"Lakukanlah sendiri. Pergilah."

Lalu setelah pegawainya itu pergi, Young Jae membuang daftar itu ke tong sampah.


Young Jae akhirnya setuju untuk meminjamkan uang, setelah Soon Tae dan Gwang Jae pura-pura menjelekkan Hyun Jae untuk membesarkan hatinya.

Soon Tae memuji Gwang Jae karena sudah menanggalkan harga dirinya dan melakukan yang terbaik.


Namun, Gwang Jae tak sengaja mentap tong sampah dan di daftar teratas trainee itu adalah Ji Hoon. Emosinya pun kembali melonjak.  


Gwang Jae mengejar Young Jae dan langsung marah-marah.

"Kau pandai melihat potensi seseorang? Tidak, kau sangat buruk melakukannya. Kau tak tahu apa yang akan terjadi. Sama seperti pecundang sepertimu menjadi CEO agensi ini, tak ada yang tahu seberapa berharganya para trainee ini yang kau buang di tempat sampah itu, akan sesukses apa. Aku kasihan dengan para trainee yang berjuang disini. Aku memang orang bodoh yang datang mengemis uang denganmu. Aku takkan mengambil uangmu bahkan jika kau memberikannya secara cuma-cuma padaku."


Ternyata Ji Hoon melihat itu dari atas.


Soon Tae balik memarahi Gwang Jae setelah sampai di toko roti. Soon Tae kesal karena Gwang Jae menghancurkan semuanya padahal sudah berhasil tadi.

"Bo Hee sedang mendengarnya. Kita bicara lagi nanti." Pinta Gwang Jae.

"Dia harus tahu tentang masalah ini juga. Gedung kita akan segera dilelang. Harga dirimu takkan bisa menutupi kenyataan itu. Apa kau pikir ini mudah bagiku untuk kesana dan menjilatnya di umurku ini?"

Gwang Jae lalu menyerat Soon Tae untuk ikut dengannya.


Bo Hee melihat kembali kartu nama Timjang perusahaan iklan itu. Ia merasa harus berbuat sesuatu.


Manajer MJ minta maaf pada Woo Seung karena sudah salah orang. Woo Seung bilang tidak apa-apa, lalu ia bergegas ke tempat wawancara sesungguhnya.

MJ keluar kemudian, bertanya pada manajernya apa Woo Seung akan dipekerjakan di agensi mereka?


Woo Seung terlambat banyak, wawancara sudah selesai dan Woo Seung dianggap absen.


Woo Seung tidak menyerah begitu saja, ia mencegat Young Jae yang baru keluar dari ruang wawancara.

"Halo, Daepyo-nim. Saya Choi Woo Seung."

Young Jae heran, ada apa ini. Lalu pekerja wanita tadi menjelaskan, mereka sedang melakukan wawancara untuk intern tapi Woo Seung datang terlambat.

"Saya hanya sedikit terlambat. Jika Anda memberikan aku kesempatan lagi, saya akan melakukan yang terbaik."

"Kesempatan tidak dengan mudah diberikan. Itu sesuatu yang harus kau raih. Jika kau tak bisa datang wawancara tepat waktu, aku tak yakin bagaimana aku bisa memberikanmu kesempatan lagi."


Sekretaris Young Jae mendekat, melapor soal pria yang dimaksud MJ. Ternyata adalah wanita bukan pria.

"Kudengar dia mirip Hyun Jae."

"Aku mencari tahu, dan dia adalah orang yang kerja disana."

Young Jae lalu meminta sekretaris untuk menghubungi nomor pekerja paruh waktu itu. 


Yang dihubungi tentu saja adalah nomor Woo Seung. Young Jae yang bicara, bertanya apa Woo Seung mengenal MJ, bukan hanya namanya, tapi mengenalnya secara pribadi.

"Apa? Secara pribadi? Ya, sedikit." Jawab Woo Seung.

"Bagaimana kau tahu dan seberapa kau mengenalnya?"


Woo Seung melihat Young Jae lah ternyata yang bicara, ia lalu mendekatinya, "Tunggu, apa Anda... Park Young Jae Sajang-nim?"

Young Jae membantahnya tapi ia sudah tertangkap basah.


Hyun Jae membaca e-mail menganai diterimanya ia menjadi anggota forum. Ia lalu membuka forum itu. Ia tak menyangka masih banyak yang merindukannya.

"Kalian belum melupakanku. Aku benar-benar sudah mati."

Hyun Jae kemudian menemukan postingan soal dugaan "Si Pelaku". Pertama, Park Young Jae. kedua, Lee Gwang Jae. Hyun Jae terkejut Gwang Jae masuk dalam daftar "pelaku".


Gwang Jae mengajak Hyun jae bicara berdua di mobil. Hyun Jae mengira Gwang Jae mau menyuruhnya pergi lagi, tapi ia tetap tidak bisa pergi.

"Kau turun ke toko roti tadi."

"Bo Hee menawarkannya padaku."

"Butuh 20 tahun baginya untuk melupakanmu."

"Aku tak memiliki perasaan padanya. Tak ada yang terjadi antara aku dengannya."

"Kau tidak ingat apapun. Tapi Bo Hee tidak. Pindahlah dari sana."

"Apa? Lalu, apa yang bisa kulakukan?"

"Terserah padamu. Aku tak peduli dimana kau akan tinggal. Kau punya banyak uang."

"Bagaimana aku bisa kaya?"

"Kau membawa lari uang hasil penjualan albumnya. Kupikir kau sedang mencarinya."

"Aku kesini sebelum aku sempat menghabiskan uang itu."


Gwang Jae berpikiran, mungkin saja uangnya pasti masih ada karena Hyun Jae meninggalkannya. Gwang jae memperjelas, ia hanya penasaran dimana Hyun Jae menyimpan uang itu.

"Dimana apanya?"

"Di hari kecelakaanmu, kau tak ingat aku dan Lee Sajang-nim datang ke studiomu?"

"Apa? Kau dan Sundae datang?"

"Kau tak ingat?"

Kilas Balik...


Hyun Jae bersiap meninggalkan studio dan ia tidak sengaja menjatuhkan dompetnya.

Tapi sebelum itu, Gwang Jae datang. Mereka menggedor-gedor pintu. Hyun Jae melirik tas berisi uangnya.


Namun saat Gwang Jae masuk tas itu sudah tidak ada disana. Gwang Jae menyuruh Hyun jae memberikan uang itu kembali dan meminta maaf.

"Apa yang salah denganku? Pikirkanlah kembali. Apa yang sudah kulakukan?? Aku membuat J2 dan menciptakan semua lagu itu. Apa masuk akal kalau Sundae ingin mengambil semua uang yang kuhasilkan? Bukankah itu lebih aneh lagi?

"Dia mungkin terlihat baik, tapi dia adalah Ketua Asosiasi Manajemen Industri Hiburan. Dia banyak mengenal PD stasiun TV dan menganggap mereka sebagai saudara. Jika kau begini terus, kau takkan dapat pekerjaan apapun. Apa kau mau melakukan itu?"

"Mari lihat saja."


Soon Tae tidak tahan lagi, ia langsung masuk ke dalam hendak menyerang Hyun Jae tapi Gwang jae manahannya.

"Aku akan memberikan satu kesempatan lagi. Dimana kau menyembunyikan semua uangnya?"

"Uang? Entahlah."

"Kau. Jika kau berani melangkahkan kakimu keluar dari pintu itu, aku takkan menemuimu lagi."

"Sampai jumpa."

Dan Hyun Jae keluar tanpa mengindahkan ancaman Soon Tae. Soon Tae lalu memerintahkan orang-orang bawaannya untuk menggeledah studio itu.

Kilas Balik Selesai...


Gwang Jae menjelaskan kalau tidak ada apapun di atap studio itu. Hyun Jae heran, Lalu bagaimana dengan uangnya?

"Kau yang tahu, bukan aku. Kau tidak ingat?"

"Kau pikir aku akan disini kalau aku ingat?"

"Ingatlah baik-baik. Hanya itu yang bisa kaulakukan."


Hyun Jae membuat skema untuk memecahkan teka teki menghilangnya uang itu.

"Aku kesini saat terjadi badai. Dan dua juta dollar itu menghilang."

"Bo Hee dan aku sedang berkencan, dan Ji Hoon adalah puteraku."

"Gwang Jae dan Bo Hee yang dulunya kekasihku, hidup bersama sekarang."

"Young Jae menggunakan laguku dan menjualnya dengan menggunakan nama MJ. Tahun 1994, aku menghilang, dan pelaku utamanya ialah... Gwang Jae."

Woo Seung memanggilnya dari luar. Ia pun menyembunyikan bagan itu dibawah kasur.


Hyun Jae menanyakan bagaimana wawancara Woo Seung tadi. Woo Seung mengatakan ada sedikit masalah terjadi, tapi Star Punch Entertainment memperkerjakannya!

"Benarkah?"

"Ya. Mereka menerimaku."

"Tunggu. Star Punch Entertainment adalah milik Park Young Jae?"

"Ya. Park Young Jae adalah CEO-nya."

"Begitu. Kalau begitu tepati janjimu. Kau bilang mau traktir samgyepsal jika diterima kerja."

"Baiklah. Ayo pergi saat semuanya sudah kembali."


Young Jae memutuskan untuk mempekerjakan Woo Seung adalah untuk mengawasinya. Ia memeintahkan Manajer MJ untuk mengawasi Woo Seung.

"Kau harus selalu dekat dengan musuhmu daripada teman dekatmu. Aku harus tahu hal lain yang dia ketahui mengenai MJ dan apa maksud dibalik itu."


Ji Hoon merekam dirinya sendiri saat latihan untuk mencari letak kelemahannya. Ia malah teringat kata-kata Hyun Jae dan Woo Seung diatap semalam.


Ia juga cemburu melihat Hyun Jae dan Woo Seung semakin dekat. Makanya tadi pagi ia cemberit pada Hyun Jae karena Hyun jae bilang Woo Seung cantik dan itu membuat Woo Seung sedikit salah tingkah.


"Dia benar. Aku sangat frustasi." Gumam Ji Hoon.


Hye Ri datnag, heran melihat Ji Hoon masih ada disana. Ji Hoon berkata akan pulang lalu Hye Ri mengajaknya makan bersama.

"Aku bisa makan apapun yang kumau sekali dalam sebulan. Aku yang traktir. Kau tak mau ikut?"

"Kenapa kau begini?"

"Apa maksudmu?"

"Apa kau tak punya teman? Kau bosan? Kau pikir aku tak sibuk?"

"Jika kau tak mau, lupakan saja."


Hye Ri pergi lalu Woo Seung menelfon Ji Hoon. Woo Seung mengajak Ji Hoon makan daging, ia yang traktir.

"Kau akan mentraktir? Aku tahu kau suka makanan gratis."

"Kita bertemu dimana? Aku bisa ke agensimu."

"Terserah. Atau aku akan menghampirimu."

Tapi terdengar suara Hyun Jae sedang bersama Woo Seung. Ji Hoon pun membatalkan persetujuannya.


"Apa yang dia katakan? Dimana kita menemuinya?" Tanya Hyun jae.

"Dia ada urusan mendadak. Jadi, kita saja yang pergi."

"Apa? Tidak mungkin. Yah, setidaknya satu orang tidak ikutan. Ayo pergi. Aku lapar."

"Apa kita beli samgyeopsal dan membawanya pulang?"

"Apa?"

"Lebih enak dimakan bersama. Aku pintar memanggang samgyeopsal, tahu."

"Kalau begitu pangganglah di restorannya langsung. Restorannya ada dimana-mana. Aku lapar. Kurasa aku mau pingsan."


Ji Hoon tak sengaja bertemu dengan Hye Ri di minimarket. Ia menyetujui ajakan Hye Ri untuk makan malam bersama.

"Ayo pergi makan."

"Apa?"

"Kau bilang mau mentraktir tadi, ayo."


Hye Ri membungkuskan daging untuk Ji Hoon tapi Ji oon menolaknya, Hye Ri makan sendiri saja kan tadi bilang akan makan banyak hari ini.

"Aku hanya mengatakannya saja. Makanlah. Buat aku bahagia."

"Tak apa."

"Ayolah. Buka mulutmu."

"Tidak apa."

"Aku hanya ingin melihat orang lain makan."

"Kalau begitu aku akan membungkusnya sendiri dan memakannya. Kau juga makanlah."

"Aku mau lihat kau makan apa yang kubuatkan. Cepat. Buka mulutmu."

"Aku harus memberitahukan ini padamu. Ini akan jadi terakhir kalinya aku menuruti perintahmu."

"Kenapa?"

"Aku menyukai seseorang, dan aku akan menyatakan perasaanku padanya. Bertemu seperti ini mungkin bukan apa-apa bagimu, tapi aku..."

"Ayolah. Buka mulutmu."

Ji Hoon pun makan dari suapan Hye Ri. Lalu Hye Ri mengaku kalau ia menyukai Ji Hoon, "Apa yang harus kulakukan?"


Saat itu Woo Seung dan Hyun Jae datang.

"Lee Ji Hoon! Apa yang kaulakukan disini?" Tanya Woo Seung.


E P I L O G :
 
 

Woo Seung menginjak salah satu bagian lantai di kamarnya dan rasanya lantai itu berderit.

"Aish, bikin kaget saja. Kenapa rumah terasa sangat aneh?"


Ternyata di lantai itu ada lubang rahasia dan Hyun Jae dulu menyembunyikan uangnya disana.

3 komentar

Di tunggu lanjutan sinopsis ep selanjutnya ya mba...dan sinopaia lookout nya jg tolong dilanjutin...terima kasih

Lanjut ep 15-20 nyaaa :) makasih ;)

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...