Thursday, July 20, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 4

Advertisement

Sinopsis The King Loves Episode 4

Sumber Gambar: MBC


Wang Won meminta Wang Rin untuk ke ruangannya. Disana ia memberi Rin obat untuk luka di bibirnya.

"Aku tidak separah itu sampai butuh obat-obatan."

"Setidaknya pakai saja, demi aku. Aku mencari obat terbaik dari tabib kerajaan."

Rin mengoleskannya tapi tidak tepat dilukanya. lalu Won merebutnya dan membantu mengoleskannya.

"Kau sudah tahu perkataaan ibuku tidak pernah lembut. Kenapa kau berdiri disana?"

"Dia muncul begitu saja."

"Aku mohon mengertilah. Ibuku sangat peka terhadapmu dan kakakmu."

"Aku mengerti. Kakakku sudah lama menginginkan tahtamu."

"Menjadi Seja Jeoha tidaklah menyenangkan. Aku seharusnya memberikan padanya. Kakakmu akan menjadi Putra Mahkota dan aku akan menjadi Pangeran Tiara atau Pangeran Hairpin!"

"Itu bukan lelucon lucu."

"Tidak lucu, ya? Kurasa dia juga tidak tertawa. Meskipun kubuat bercanda."

"Siapa?"

"Kita pulang ke sini mengunggangi kuda. Dan kunyuk itu jalan kaki, jadi dia mungkin masih diperjalanan, 'kan?"

"Memangnya siapa orang yang jalan kaki itu?"


"Sepertinya anak itu diusir dari rumah saat masih kecil. Dia tidak bisa melindungi Nyonya-nya... Berkeliaran ke sana-sini... Dan akhirnya tiba di hutan. Lalu... Dia berjumpa Guru sebelum mati kelaparan dan menjadi muridnya."

"Kau memikirkan pembantu itu? Dari tadi?"

"Aku hampir membunuhnya... sama dengan yang lain. Aku tidak meminta bantuan dan hanya melihat saja... Sehingga sangat banyak orang yang mati. Sepertinya kau sudah lupa semuanya... tapi aku tidak. Aku tidak bisa mengakui kalau itu aku."

Rin mengubah topik, karena obat itu malah, ia akan menggunakannya dengan baik.


Rin memanggil Jang Ae (Yang kemaren aku sebut Jang Ui), memintanya untuk mencaritahu soal murid Guru Lee, So Ah (San).

"Jeoha ingin bertemu dengannya lagi. Aku perlu mencari tahu orang seperti apa dia."

"Saya akan mencari tahu."

"Laporkan.."

"Saya akan mengirim beberapa orang."

"Tidak, aku akan pergi menemuinya.. sendiri."


Rin melihat kakaknya, Wang Jian, bersma Song In. Song In memberi hormat pada Rin.

Kilas Balik..


Rin melihat kakaknya saat semua pengawal sudah meninggal. Ia akan mendekat tapi pengawal Won menariknya untuk sembunyi.


Ternyata Moo Suk ada di dekat mereka. Moo Suk menyuruh anak buahnya untuk memberitahu 'Tuan' kalau San kabur.

Anak buah itu lalu memberitahu Jian.


Rin mengonfirmasi pada kakaknya bahwa 'Tuan' yang dimaksud Moo SUk adalah kakaknya, kan? Jian takut ada yang mendengar, ia mengancam Rin supaya diam.

"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Rin.

"Apa kau sedang bersama dengan Seja? Ketika orang lagi sekarat, apa yang dilakukan Seja? Dan bagaimana denganmu? Aku disana mempertaruhkan hidupku!"

"Kami... kami...!"

"Kudengar itu adalah hobi Seja melihat orang-orang miskin dan kelaparan. Apa benar?"

"Jangan konyol."

"Jika aku jadi kau, aku akan berpura-pura tidak ada di sana bersama Seja. Semua orang membencinya. Jadi, kau tetap diam saja."

Kilas Balik selesai..

Jang Ae melapor pada Rin, So Ah (San) telah tiba di provinsi Jang Dan. Rin mengerti dan akan kesana.

"Tapi... Jeoha juga membuat perintah." Kata Jang Ae.


Jin Gan melapor pada Won bahwa San baru saja tiba di provinsi Jang Dan.

"Jika dia dalam perjalanan ke ibu kota... kemana dia akan berhenti berikutnya?" Tanya Won.

"Dia mungkin menuju ke gerbang Jang Pae."

"Sendirian?"

"Iya."

"Berjalan jauh seperti itu.."

"Haruskah kami terus mengikutinya? Atau menangkapnya?"

"Mengapa?"

"Maaf?"

"Mengapa menangkap dia?"


Kasim Kim membawakan makanan untuk Won dari Ratu (Putri Wonsung). Dan lagi-lagi, Won tidak ada di kamarnya.


San kehabisan air, dan saat itu ada orang lewat di depannya sambil membawa air seember penuh. San memanggilnya, bertanya apa ada sumur di dekat sana. Orang itu berbalik, lalu mengisi botol minum San dengan airnya.

"Apa kau menjual air ini? Aku kekurangan uang.." Kata San tapi orang itu malah pergi, tidak berkata apa-apa. San pun meminum airnya.


San diikuti penjahat. Jin Gan dan Jang Ae menghadang mereka untuk melindungi San. San sih tidak tahu apa-apa.


San mampir ke kedai mandu. Ia menunjukkan uangnya yang tinggal satu keping. Pemilik kedai mengambil uang itu lalu menyuruh San duduk.


Pemilik menyajikan 'segunung' mandu untuk San. San terkejut karena itu sangat banyak untuknya, tapi ia tetap memakannya.

Ternyata di meja sebelah ada Won yang sedang menyamar, aku rasa mandu itu juga dari Won. Won tidak sendirian, ia bersama Jin Gan. 

"Rumah Ansan memiliki wine Arab terbaik!" Kata Won dengan lantang, lalu ia berbisik pada Jin Gan, "Di mana rumah Ansan itu?"

Jin Gan mengulanginya dengan lantang, "Di mana rumah Ansan itu?"

"Kau tidak tahu? Di Desa Namsan... Kau tahu, tepat pas masuk."

"Oh disana!"

"Kau tidak boleh melewatkan ini! Kau bisa mencium bau alkohol dari jarak seratus kaki."

"Ah.. Be.. Benar!"

"Kau mau pergi?"


San merasa tidak nyaman disana, ia mengambil dua mandu dan pergi. Tapi ada yang memegang pundaknya, ternyata cuma pemilik kedai yang membungkuskan sisa mandunya.


San melanjutkan perjalanannya sambil menikmati mandu. Ia tidak sadar Won mengikutinya dari atas.


"Ini pertama kalinya aku melihat wanita makan dengan sangat lahap. Aku pikir Gurunya tidak memberinya makan dengan baik. Ini tidak boleh terjadi. Aku perlu menyiapkan makanan lain. Bagaimana jika daging kukus?"

Jin Gan muncul, ia akan menyiapkan makanan itu. Mandu San jatuh dan San mengambilnya lalu membersihkannya.

San celingukan, setelah yakin tidak ada yang melihat, San memakannya.

Won tersenyum melihatnya, "Syukurlah.. kau menjalani hidupmu dengan baik.. dan kita bertemu lagi."


San berkaca-kaca melihat gerbang depan rumahnya.

Kilas Balik..


Menteri Eun mengantar San keluar. San diminta untuk pergi ke rumah Guru Lee, San akan kesana bersama Goo Hyeong. Menteri Eun berpesan untuk langsung memberikan suratnya saat San bertemu Guru Lee nanti.

"Ayah tidak ikut bersamaku?" tanya San.

"Goo Hyeong akan mengantarmu."

"Kapan aku bisa pulang ke rumah?"

"Lebih baik jangan pernah."

"Ayah ingin melihatku menangis?"


Menteri Eun menjelaskan, sekarang orang akan akan mengira Bi Yeon dengan bekas lukanya itu dirinya. Tapi jika San disamping dia, rahasia itu akan terungkap.

"Aku tidak akan membiarkan itu. Aku bisa menjaga janji!" Janji San.

"Ada seseorang.. yang menargetkan rumah kita dan juga kau. Salah selangkah saja dan kita bisa dijebak."

"Aku tidak akan pernah memanggilmu Ayah. Aku bahkan tidak akan bernafas! Biarkan aku tinggal bersama Ayah!"

Menteri EUn memeluk San, "Kau akan dikirim ke Yuan sebagai persembahan. Aku harap... kau mengerti. Aku mengirimmu pergi, untuk melindungimu. Anakku... San-ah."

Kilas Balik selesai...


San mengingat kalimat terakhir ayahnya malam itu, "Mulai sekarang, namamu So Ah. Seperti bunga liar di padang rumput yang luas, hiduplah dengan tenang."

Bi Yeon sangat senang San datang, ia sampai menangis. San memeluknya, "Apa yang harus aku lakukan dengan anak cengeng ini?"


Mereka masuk ke dalam. San menanyakan kabar ayahnya, baik-baik saja kan?

"Beliau baru saja kembali dari Yuan untuk berbisnis."

"Aku sepertinya perlu mencari seorang janda."

"Agasshi!"

"Seseorang yang bisa mengomeli dan memperhatikan kesehatannya."

"Tapi..."

"Apa? Dia melakukannya! Ada janda yang ia temui!"

"Bukan janda, tapi orang mencurigakan yang terus datang."

"Mencurigakan?"

"Tampaknya Tuan baik-baik saja."

"Siapa?"

"Aku tidak tahu, itu sebabnya aku curiga."

"Aku rasa itu bukan janda. Aku harus menikahkannya dengan perawan!"

"Aigoo, dasar."

"Wanita itu pasti seusia kita. Itu sebabnya ayah merasa seperti berada dalam situasi yang canggung."

"Beristirahatlah!"

"Aku harus memberitahu ibu agar dia tetap waspada."

"Kau akan menemuinya?"

"Harus, saat tidak ada yang melihatku."

"Tinggalkan tasmu disini."

"Aku tidak tidur disini."

"Kenapa?"

"Orang-orang akan melihat. Aku akan tidur di tempat pelayan."

"Agasshi!"

San kembali bersin dan Bi Yeon menggunakan lengan bajunya untuk mengelap ingus San. Bi Yeon kembali membujuk San untuk tidur disana karena San terserang flu begitu.

"Seollongja, sutanjulgu, yumilgwa.. Aku ingin memakan itu semua." Kata San.


Rin naik ke atap rumah San. Dari sana ia melihat San, lalu ia cepat-cepat bersembunyi tapi tetap mengintip San.


San masuk ke sebuah ruangan, tapi sebelumnya ia memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya.


Di ruangan itu telah dipersiapakan untuk upacara peringatan kematian Ibu San. San melepas tasnya lalu memberi penghormatan pada nisan ibunya.


Rin melihat Menteri Eun masuk ke ruangan itu juga.


Dari luar Rin melihat mereka saling memegang tangan.


"Bagaimana keadaan Ayah?"

"Kau makin tinggi setiap kali aku melihatmu."

"Aku sudah lama tumbuh besar."

"Mengapa tanganmu jadi kasar? Apa sunbae pria masih menyuruhmu memotong kayu dan mencuci pakaian?"

"Ada sekelompok anak yang aku suruh. Aku bahkan tidak perlu memberi tahu mereka dengan kata-kata. Mereka mencari tahu apa yang harus dilakukan dengan melihat aku."

"Tapi kunyuk ini masih mudah menangis juga?"

"Tuan sudah sangat tua. Setiap hari, aku merindukan Ayah."

"Iya. Aku juga."


Menteri Eun lalu memeluk San. Rin yang melihat semua itu dari luar merasa aneh tentunya.


Kasim Song menyalakan penerangan sambil memegangi lehernya yang sakit karena pedang Putri Wonsung waktu itu.


Won memberi makan seekor anjing. Ia bercerta pada anjing itu.

"Aku punya teman. Dia pasti mengomel lagi jika menemuiku. "Bagaimana kau bisa mengatur janji tanpa tahu waktunya?" "Yang benar saja". Tidak apa-apa aku kemari tanpa memberitahu dia, bukan?"


Won mendengar pintu dibuka dan ia menoleh ke arah pintu.


Sementara itu, Rin ada di luar memandangi bulan yang tepat berada diatas pohon bunga sakura.


Rin mendengar suara langkah kaki, ia bersembunyi dan siaga dengan menghunus pisaunya. Tapi itu cuma San yang masih bersin-bersin. Rin tersenyum.


Ternyata yang membuka pintu tadi adalah San.


San langsung duduk tanpa dipersilahkan dan ia meminum minuman Won.

"Kau harus mengatakan hai ketika bertemu."

San tidak menjawab, ia malah mengambil makanan Won, memakannya lalu memberikan sisanya pada anjing.

Won melanjutkan, "Saat orang makan makanan orang lain, mereka biasanya mengatakan 'Aku akan memakannya dengan lahap' dan juga 'Terima kasih'."

"Kejahatan apa yang kau lakukan?"

"Kejahatan?"

"Jika ada perintah pengawal untuk datang kesana, Aku yakin itu bukan kejahatan biasa."

"Berarti kau membantu penjahat lari?"

"Anggap saja aku membayar hutangku."

"Hutang apa?"


San menuangkan minuman untuk Won. won mengambilnya, barulah San menjawab.

"Jangan menaruh dendam pada siapa pun. Tetap menjadi dirimu yang selalu tersenyum. Agasshi-ku."


Won terkejut, ternyata San mengingatnya. San bertemakasih karena Won menyampaikan kata-kata terakhir almarhum Nyonya.

"Kau mengingatku?"

"Aku selalu ingat dan terima kasih."

"Ha Ha, Lalu mengapa kau berpura-pura tidak mengenalku?"

"Membantumu melarikan diri hari ini untuk membayar wine embun salju dan bunganya. Dengan begitu, tidak ada lagi hutang diantara kita."

"Maksudmu..."

"Aku hidup bersembunyi saat ini. Jadi tidak ada yang tahu kalau aku pembantu hari itu. Tapi kemudian kau muncul."

"Maksudmu, kita jangan bertemu lagi?"

"Ya! Aku datang untuk memberitahumu itu. Jika pernah coba menemukanku lagi atau mendengarmu berbicara tentangku."

"Jika masih begitu?"

"Mungkin nanti.. Aku harus membunuhmu."

Mereka terdiam dan anjing itu keluar.


Rin melihat anjing itu keluar.


Rin minum lalu tersenyum, "Kelahiranku adalah sebuah kesalahan. Jika kau membunuhku, pasti banyak orang yang akan meneteskan air mata bahagia. Aku selalu punya pemikiran seperti itu. Jika itu demi mereka, bukankah lebih baik aku mati? Jika aku mati, hanya ada satu orang di seluruh negeri yang akan menangis."

"Teman yang bersamamu?"

"Iya."


Rin mendengar percakapan itu dari luar. Won berkata ia belum boleh mati, ia takut Rin menangis.


Won: Tapi jika saatnya tiba, saat aku memutuskan harus mati, aku akan meminta bantuanmu.

San: Apa yang kau bicarakan?

Won: Karena aku yakin, aku tidak akan marah jika mati ditanganmu. Kau berhak membunuhku kapanpun. Aku mengizinkanmu. Karena itu.. Aku harus terus melihatmu.


1 komentar so far

This comment has been removed by the author.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon