Tuesday, July 25, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 5

Sinopsis The King Loves Episode 5

Sumber Gambar: MBC


Won berlatih pedang melawan jang Ae dan Jin Gan. Ia mengingat percakapannya dengan San semalam. San mengacam, jika Won mencoba menemuinya lagi atau ia mendengar Won berbicara tentangnya. Mungkin nanti, ia harus membunuh Won.

Kilas Balik...


Won mengijinkan San membunuhnya kapanpun. San memberikan makanannya pada anjing, ia lalu menjawab Won,

"Berikan saja pada anjing. Aku tidak perlu itu."

Kilas Balik Selesai...


Won masih kesal, ia melampiaskannya dengan menyerang Jang Ae bertubui-tubi. Untung ada Pengawal Won yang menghentikannya.


Won sadar dan ia bertatapan dengan Rin.


Rin bertanya, kenapa tadi Won bilang anjing terus menerus saat menyerang Jang Ae.

"Diam. Wanita itu--"

"Wanita mana yang kau bicarakan?"

"Doot--"

Sebelum Won menjelaskan, ia menyuruh kasim dan dayang menjauhi mereka.


Won lalu berbisik, Wanita dari Gunung Doota itu. Won mengajukan pertanyaan, Bukankah wanita itu bilang dia meninggalkan perguruan karena peringatan kematian Nyonya nya? Kalau begitu, dia akan pergi ke rumah Menteri, bukan?

"Apa mungkin Anda ingin bertemu dengannya?" Tanya Rin.

"Temukan dan panggil dia."


Rin melarang karena identitasnya belum mereka konfirmasi. Won tidak masalah, memangnya mengapa kalau identitasnya belum mereka konfirmasi? Dia adalah pembantu Menteri, dan dia murid Guru Lee..

"Itulah mengapa dia terlihat mencurigakan. Bagaimana bisa seorang pembantu menjadi murid Guru Besar." Potong Rin.

"Apa itu mencurigakan?"

"Aku akan mencari tahu lagi. Untuk melihat, apa dia wanita yang bisa kau temui."

Won melarang Rin melihat San terlalu dekat. Ia takut kalau terlalu dekat identitas Rin akan..


Perkataan Won terhenti karena kedatangan kasim Kim. Won langsung membekap mulut Kasim Sim.

"Kau tidak lihat aku? Karena kau, aku tidak bisa menyampaikan maksudku. Kalau begitu cepat cari Seja Jeoha!"

"Ibu ANda mencari Anda!" Jawab Kasim Kim.

Won malah berlari menjauh dari kasim Kim.


Rin menghormat pada Won sambil senyum. Dan tiba-tiba ia ingat sesuatu.


Won pernah mengatakan kalau ia selalu mengingat San dan itu sangat aneh.


Lalu saat mereka bertemu kembali. Won mengatakan kalau San masih sama seperti dulu. San masih terlihat aneh.


"Menurut anak laki-laki itu, kata-kata terakhir Ibuku, "Jangan menaruh dendam pada siapa pun. Tetap menjadi dirimu yang selalu tersenyum, dan jalani hidupmu"."

Kilas balik...

Saat pertama San datang ke perguruan Guru Lee. Guru Lee mengijinkan San menanyakan apapun yang San mau. San bertanya, apa ia yang membuat Ibunya meninggal?

"Siapa yang mengatakan itu?"

"Apa ini salahku?"

Kilas Balik Selesai...


Ayah San dan Koo Hyung keluar malam-malam. San bersembunyi lalu mengikuti mereka.


Mereka menuju tempat makan dan hiburan. San terus mengawasi mereka.


Namun bukan hanya San yang mengikuti mereka, Rin juga. Tapi sepertinya Rin lebih mengikuti San daripada Menteri Eun.


San menyamar menjadi pelayan untuk mengelabuhi Koo Hyung. Ayahnya masuk ke dalam dan ia harus masuk juga.


Rin terus mengawasi San.


San melihat ayahnya masuk ke sebuah ruangan. Ia akan mengikuti tapi seseorang memanggilnya untuk melayani tamu.


Rin menguping ruangan yang dimasuki Menteri Eun tadi, ia lalu masuk ke ruangan sebelah.


Rin mengintip dari celah pintu. Menteri Eun bertemu pejabat istana dan kakaknya, Wang Jian. Disana juga ada Song In juga. Rin mengingat apa yang Wang Jian lakukan dulu, dimana ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Wang Jian menanyakan soal puteri Menteri Eun. Menteri Eun mengiyakan dan menyampaikan bahwa puterinya sangat berterimakasih pada orang yang menyelamatkannya. Menteri Eun mengingat kata San dulu bahwa Wang Jian sangat aneh. Jadi ia waspada saat ini.

Wang Jian mulai pembicaraan, bukankah ini sudah tujuh tahun?

"Waktu berjalan dengan cepat." Jawab Menteri Eun.

Pejabat istana menyela, tidak usahlah basa basi, karea mereka orang sibuk, langsung saja pada intinya.


San selesai melayani tamu tadi, lalu ia cepat-cepat menguping.

Pejabat istana membahas soal pernikahan puteri Menteri Eun. Wang Jian berkata, ia tidak bisa membantunya tapi itu adalah kesalahannya karena membuatnya berakhir seperti itu. Kalau saja ia lebih cepat, dia pasti baik-baik saja.

Pejabat Istana (Song Bang Young): Itu sebabnya dia menantikan anakmu tumbuh dewasa, dan ingin menikahinya sekarang.

Menteri Eun: Pernikahan? Ini tidak masuk akal. Aku akan menganggap Anda sedang menghiburku.

Wang Jian: Apa Anda mengatakan aku berbohong sekarang?

Menteri Eun: Setelah insiden itu, anakku memiliki bekas luka. Mana mungkin dia menikah--


Song In menyela, jika Tuan istana (Wang Jian) mengatakan dia mau, maka dia (San) harus mau. Tidak bisakah Menteri Eun menerimanya?

"Tuan istana kita ini akan mencuri hatinya, dan putri Anda akan mendapatkan sebuah hubungan yang dia impikan. Dan Anda akan mendapatkan kekuatan dalam istana. Bukankah ini nilai tambah bagi semua orang?" Lanjut Song In.

"Apa dia ini Song In dari keluarga Song yang terhormat itu?" Tanya Menteri Eun.

"Terhormat? Dia hanya sepupuku yang lebih muda. Dia sangat pintar." Jawab Song Bang Young lalu ketawa.


Rin keluar, ia membekap mulut San dan mengajaknya sembunyi. Tak lama kemudian Song In keluar. Ia curiga ada orang yang megintip. Ia membuka sebuah tirai tapi untuk gisaeng memanggilnya jadi ia tidak sempat masuk.


Setelah situasi aman, San meminta Rin melepaskannya. Rin akan pergi tapi San mencegahnya. San mencoba untuk melihat wajah Rin tapi Rin berhasil memelintirnya.

"Siapa kau?" tanya San.


Terdengar suara tawa, ada tamu yang datang. Rin lalu mendorong San masuk ke sebuah ruangan. San masih ingin melihat wajah Rin, jadi mereka ribut dan tak sengaja menjatuhkan sumpit dan gulungan lukisan.

"Siapa yang mengirimmu ke sini sebagai mata-mata? Apa yang kau lihat dan yang kau dengar?"


SOng In mendegar suara itu dari ruangan sebelah. Ia kembali curiga.


Song In lalu membuka pintu ruangn sebelah lebar-lebar, ia menjelaskan pada yang lain kalau sepertinya seekor burung terbang ke kamar sebelah. Ia akan mengatasinya jadi yang lain teruskan saja pembicaraannya.


Song In menemukan sumpit yang jatuh dan lukisan itu, ia juga mendapati jendela terbuka. Ia lalu keluar.


Song In mengamati keluar tapi tidak ada yang mencurigakan. Tanoa ia sadadi ada kaki San tergantung dibalik tiang.


San seperti akan terjatuh dari atap dan Rin memeganginya kuat-kuat. Mereka hasrus bersabar sampai Song In masuk kembali.


Setelah Song In masuk, Rin lalu menarik San ke atas. Rin sangat baik memperlakukan San membuat San curiga.


Rin melapor, pria yang bernama Song In juga hadir. WOn tahu, SOng In adalah orang yang sering mengunjungi tempat tidur Abamama (Ayahanda) dan ia dengar dia memiliki lidah yang berbahaya.

"Tapi kenapa Eun Young Baek bisa bertemu dengan mereka?" Tanya Won.

"Dalam pertemuan itu..."

"Dalam pertemuan itu?"

"Kakak laki-lakiku ada di sana. Ada pembicaraan tentang pernikahan.. antara kakakku dan putri Menteri."

"Putri yang mengalami insiden itu?"

"Ya."

"Yang memiliki bekas luka di wajahnya sehingga dia selalu menutupinya itu?"

"Iya."

"Ini sangat mencurigakan."

"Iya."


Bagi San tidak ada yang mencurigakan. Semua pria yang berkumpul di sana memiliki pangkat yang tinggi. Salah satunya seorang Tuan di rumah Susagong. Bi Yeon bertanya, apa San melihat wajahnya.

"Bukan wajahnya. Tapi Tuan itu mengatakan ingin menikah denganku. Dari semua tempat, mengapa mereka bertemu secara rahasia ditengah malam?"

"Kau harus mengatakannya dengan benar. Dia bukan mau menikah denganmu, tapi aku."

San berhenti makan, "Kau sengaja mengungkit ini, bukan? Kau tahu aku merasa bersalah setiap kali kau mengungkitnya."

"Tentang apa? Bekas luka disini? Aku suka ini! Hidupku indah karena ini. Lihat! Aku tinggal di kamarmu, mengenakan pakaianmu, dan mendapatkan perawatan."

San tersenyum, ia lalu mengajak Bi Yeon untuk bersulang. San berpikir, menurutnya orang-orang itu menginginkan uang Ayahnya.


Rin dan Won juga berpikiran sama, tapi Won heran, kenapa mereka membutuhkan uangnya?

"Aku akan menyelidikinya lagi. Jika kakakku memiliki niat lain..."

"Kakakmu.. adalah darah murni Goryeo, tidak sepertiku, campuran darah Yuan."

"Apa maksud Anda?"

"Bukankah bangsa ini lebih suka yang seperti itu? Raja seperti dia?"

"Bisakah Anda menceritakan pentingnya darah padaku, Jeoha?"

"Apa?"

"Karakter seseorang. Seberapa besar rakyat memujanya. Bagiku semua darah tampak sama, jadi aku tidak tahu. Jadi aku tidak pernah melihat dari darah, tapi dari orangnya."


Won tak bisa menjawabnya, ia mengalihkan pembicaraan. Ia bangkit dan berkata akan memakai tempat tidur Rin hari ini. Rin agak gak suka karena Won tidak kembali ke istana lagi.

"Apa kau akan menendang Jeoha mu di tengah malam?"

"Kasim Kim akan menunggumu semalaman."

"Kau jauh lebih baik."

"Apanya?"

"Jika aku memilih harus menyerahkan tempatku kepadamu atau kakakmu."

"Jeoha."

"Aku tidur dulu."


Won membuka pintu lalu menutupnya. Won bertanya, Rin bilang San tidak melihatnya, bukan?

Rin mebenarkan, lalu WOn menyuruhnya tidur.

Kilas Balik...


San bertanya, Rin menyelamatkannya? sejak tadi? Karena khawatir padanya? Tapi... Rin siapa?

San berputar, hendak menarik masker Rin tapi Rin menahan tangannya, lalu Rin melesat pergi melalui atap-atap.

Kilas Balik Selesai...


Moo Suk berlatih panah di tempat latihan Song In. Ia menggunakan sararan seorang manusia yang sedang menunggang kuda, tapi panahnya meleset.


Song In mendekat, menyuruhnya memanah lebih dekat, Ia mempaktekkan seberapa dekat dengan jarinya. Dan panah Moo Suk harus meninggalkan bekas, ia ingin melihat beberapa tetes darah.

"Beberapa tetes?" Ulang Moo Suk.

"Iya. Hanya beberapa tetes." Jawab Song In.


Ok Boo Young menuangkan teh untuk Wang Jian yang sedang menonton Moo Suk latihan memanah. Boo Young berkata, tidak ada pengorbanan tanpa tangisan dan ini sudah lama sejak Wang Jian berkorban.

"Tujuh tahun. Itulah berapa lama kau menyuruhku untuk menunggu." Jawab Wang Jian kesal lalu menenggak tehnya.

Ada beberapa tetes yang tertinggal di dagunya dan Boo Young mengusapnya sengan cara seksi, "Rakyat Goryeo juga sedang menunggu. Seorang raja dengan darah murni untuk mengambil takhtanya." Kat Boo Young.


Kasim Kim mengintip ke ruangan Raja. Disana juga ada Puteri Wonsung.


Raja hendak memasang tali busur panah barunya tapi ia sangat kesulitan, itu adalah  busur terkuat yang pernah ia pegang dalam hidupnya. Song Bang Young menjelaskan, itu adalah busur khusus yang dibuat dengan tanduk kerbau dewasa dan rusa jantan, bahkan Jendral tidak bisa mengikatnya sendiri, dan harus dibantu tiga tentara..

"Apa kau mencoba untuk berbicara manis padaku dengan merendahkan Jenderal ku?"

"Tidak, Yang Mulia."

"Dimana kita akan berburu kali ini?"

"Menteri Keuangan memiliki lahan perburuan yang bagus." Jawab Ayah Rin.

"Eun Young Baek memiliki tanah di sebelah barat laut Gunung Songak."

"Iya. Tempat itu disebut Bokjeonjang."

"Aku tahu tempatnya. Lembah yang dalam, dan pemiliknya tidak suka berburu, Jadi banyak rusa dan babi hutan disana."

Song Bang Young memuji, memang tidak ada yang tidak Raja ketahui. Song Bang Young membahas Putera Kanselir (Ayah Rin) yang juga sangat hebat, pemuda itu sangat pintar dan licik.

"Tidak begitu." Bantah Ayah Rin.

"Anakmu yang mana? Jeon (yang selama ini aku sebut Wang Jian) atau Rin?" Tanya Raja.


Putri Won Sung yang menjawab, jika dia mahir dalam berburu, itu pasti Jeon. Sedangkan Rin lebih hebat dalam menggunakan pisau.


"Dia bukan hanya ahli menggunakan pisau. Dia juga seperti Ayahnya, berkelas dan bermartabat. Tidak seperti anak kita." Tanggapan Raja. Dan Raja menyuruh Ayah Rin untuk membawa Jeon dan Rin pergi berburu. "Anakku tidak suka berburu, dan aku bosan jika sendiri."

"Mereka tidak berguna, dan hanya akan mengganggu Anda." jawab Ayah Rin.

"Aku ingin mereka ikut. Pria seusiaku harus menghabiskan waktu dengan pemuda yang cerdas dan gagah. Bukan dengan pria yang bodoh." (Raja mengatakannya sambil melirik Putri/Permaisuri Wonsung).


Permaisuri Wonsung lalu menekan Kasim Kim, jika Kasim Kim tidak membawa Won untuk berburu, ia pastikan Kasim Kim akan kehilangan kepala.

"Apa menurutmu aku bercanda?"

"Tidak, Mama."

"Syukurlah kau mengerti."


Song In menjelaskan, saat Raja dan Won pergi ke Bokjeonjang, semuanya akan dimulai.


Moo Suk kembali memanah dan kali ini ia berhasil melakukan seperti apa yang Song In perintahkan. Anak panahnya berhasil mengenai sedikit telinga pria yang berkuda dan pria itu jatuh ke tanah.


"Tidak akan ada orang lain selain Yang Mulia. Setelah itu, Seja Jeoha akan tiba. Yang Mulia akan terkejut. "Mengapa anakku.. mencoba membunuhku?"


Jeon ragu, apa Raja akan mempercayainya?

"Itu sebabnya kita harus bersiap-siap."


Diperlihatkan sekelompok orang yang sedang membuat anak panah khusus. Song In menjelaskan, Raja dan Won akan menggunakan anak panah pribadi mereka, setiap anak panah memiliki lambang yang diukir pengrajin.


"Lambang yang diukir tidak bisa ditiru. Anak panah akan ditembakkan pada Yang Mulia oleh para pemburu. Seja Jeoha akan berdiri dimana arah anak panah itu, dan anak panah itu artinya milik Seja Jeoha. Bukankah itu.. gambaran yang sempurna?"


Won keluar pagi-pagi, ia melarang semua orang menyapanya. Ia melangkah dengan hati-hat deh pokoknya.


Rin menyapanya, berkata kalau adiknya tidak ada di sana, adiknya tidak mungkin keluar pagi-pagi.

"Apa adikmu sungguh tidak ada di sini? Didunia ini, aku paling takut padanya."

"Bukankah sudah aku katakan? Jangan terlalu jelas menghindar darinya."

"Dia sangat imut saat kecil."

"Apa kau mengatakan dia tidak imut sekarang? Adikku?"

"Tidak."

"Aku kasihan melihat dia.. dan dia selalu ingin kau datang."


Won dan Rin tak sengaja melihat San ikut bantu-bantu di dapur rumah Rin.

"Apa yang aku lihat sekarang? Tidak mungkin.. Aku rasa ini benar." Kata Won.


San mendekati seseorang untuk bertanya soal Tuan Muda yang tinggal disana.

"Tuan Muda yang mana? Tuan Muda yang paling tua sudah menikah, dan sudah pindah sejak lama."

"Lalu apa itu Tuan Muda kedua?"

"Jika berbicara tentang penampilan.. Tuan Muda ketigalah yang paling tampan. Mereka semua adalah Tuan Muda yang tampan."

Won langsung menatap Rin tak percaya.


San menanyakan bagaimana kepribadian mereka?

"Jika berbicara tentang kepribadian, sini aku jelaskan. Tuan Kedua bukanlah orang yang kau cari."

"Tidak?"

"Dia sangat pemilih. Dia bahkan tidak memperlakukan kami sebagai manusia."

"Aish."

"Benar. Tuan Muda Ketiga.. Dia tidak menghiraukan siapa pun termasuk kami, pelayannya. Dia tidak menghiraukan siapapun. Ketika dia lewat halaman depan, Kami tidak yakin apa yang dia lihat atau apa yang dia dengarkan. Dia selalu berada di dunianya sendiri."

"Berarti.. Dia juga tidak tertarik pada wanita."


Wanita itu tidak tahu apa Rin sadar ada wanita di dunia ini. Soalnya Rin juga tidak akan melihatku sebagai wanita. HAHAHA


San mengendap-endap dan ia berhasil mengintip Wang Jeon. Won mengikutinya dan mengagetkannya.

"Dia orang yang tampan? Apa kau berpikiran begitu?" Tanya Won.


San menariknya untuk bersembunyi, ia heran kenapa Won bisa ada disana? Won menjawab kalau ia datang untuk menemui Tuan Muda di sana.

"Apa kau mengenalnya?"

"Iya."


San lalu menunjukkan Wang Jeon, dia Tuan Muda kan? Won membenarkan dia adalah Tuan Muda kedua Wang Jeon.

"Ahhh, dia yang kedua. Apa kau kenal Tuan Muda ketiga juga?"

"Tuan Muda ketiga--"


Won berbalik dan kebetulan ada Rin disana, ia berkata bahwa Rin lebih mengenal Tuan Muda Ketiga ketimbang dirinya. Won berbisik, Rin sangat dekat dengan Tuan Muda ketiga.

"Kita bertemu lagi." sapa San.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Apa yang kalian berdua lakukan.. ketika kalian hampir ditangkap penjaga istana?" San menemukan pertanyaan lain.

"Itu..." Won mencoba menjelaskan tapi San menyelanya.

"Kalian berdua terlihat aneh sama seperti terakhir kita bertemu."

"Itu karena kami berdua satu tim." Jawab Won.

"Tim apa? Apa pekerjaanmu?"

"Itu..."


Adik Rin, Wang Dan, memanggil dari jauh, "Seja Jeoha!"


Won mengulanginya, "Seja Jeoha". Ia melanjutkan bahwa tugas mereka adalah menjaga Seja Jeoha. Rin batuk-batuk tak percaya.


WOn lalu menyambut Wang Dan, "Agasshi, Anda sudah bangun. Saya kesini untuk menemui Tuan Muda ketiga rumah ini karena perintah Seja Jeoha."

Wang Dan bingung, tapi Rin kemudian mengkodenya untuk diam. Dan pun berbohong, TuanMuda kedua keluar lebih awal hari ini, ada pesan yang ingin Won sampaikan?

"Han Chun dan Soo In." Lanjut Dan.

"Tidak ada. Kami akan menyampaikan pesan itu sendiri, kalau begitu kami permisi.."

Dan menahannya, Jika ia membiarkan Won pergi seperti ini, kakaknya akan memarahinya nanti. "Minumlah teh sebelum kau pergi."

Won terpaksa ikut.


Rin bicara pada San, ia akan membiarkan San pergi kali ini jadi San lebih baik segera pergi.

"Tapi jika kau datang lagi, Aku tidak punya pilihan selain melaporkanmu kepada mereka." Lanjut Rin lalu ia permisi.

Namun Dan malah mengundang San dan Rin untuk bergabung, ia akan mentraktir teh yang enak. San tersenyum lebar menanggapi undangan Dan itu.


Dan bertanya, siapa San? Won menanggapi Dan dengan malas, ia tidak tahu.

"Mengapa kalian menyembunyikan identitas segala?"

"Entahlah." Won mencoba melepaskan tangannya tapi Dan tidak mengijinkannya.

"Aku akan mencari tahu sendiri."

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon