Wednesday, July 12, 2017

Sinopsis Lookout Episode 30

Tags


Sinopsis Lookout Episode 30

Sumber Gambar: MBC

Soon Ae mendatangi ruang interogasi Soo Ji, memberitahu Soo Ji kalau harus dipindahkan ke tempat lain. Soo Ji mengerti dan ia langsung berdiri, tapi Soon Ae tidak berani menatap mata Soo Ji.


Soon Ae juga menolak pengawalan.


Do Han masih di jalan menuju kantor polisi, ia teringat saat menelfon Soon Ae tadi. Walanya Soon Ae hendak mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. Pikirannya sudah tidak enak, ia pun menambah kecepatan mobilnya.


Shi Wan tersenyum senang melihat Soon Ae membawa Soo Ji sesuai perintahnya. Saat ia akan pergi, Do Han memanggilnya.


Do Han bertanya, dimana ponsel Shi Wan. Do Han teringat waktu ia berkunjung ke rumah Shi Wan. Shi Wan berkata pada ibunya tidak akan membung ponsel yang sudah diretas, karena bisa memanfaatkan ponsel itu nanti.


Do Han mengulagi lagi, ponsel Shi Wan. Shi Wan balik bertanya, kenapa Do Han memintanya. Do Han menjawab, dengan ponsel itu, ia tahu apa yang telah Shi Wan lakukan. Shi Wan hanya tersenyu, lantas apa hak Do Han berbuat seperti ini?


"Kudengar, belakangan kau berteman dengan Jin Se Won. Setiap kali kau mendekati seseorang, selalu ada alasan di baliknya. Begitu pula dengan Se Won, 'kan? Sebab itulah kau berteman dengan dia."

"Lalu?"

"Untuk seseorang sepintar dirimu, Se Won pasti sangatlah mudah dimanipulasi."

Nyonya Park mengajak Shi Wan segera pergi tapi tidak dihiraukan oleh Shi Wan.

Shi Wan: Lalu, memangnya kenapa?


Do Han: Kau selalu menjahati orang yang lebih lemah darimu. Pada Yu Na pun begitu. Dan sekarang, Se Won juga. Kau tidak merasa dirimu itu pengecut dan rendahan? Kalau aku jadi kau, akan kutangkap sendiri Jo Soo Ji. Aku tidak serendah itu untuk membuat orang lain membunuhnya. Kulakukan sendiri. Tapi, kau tidak bisa melakukannya. Karena kau tidak memiliki keberanian melakukannya. Kalau kau pikirkan, tidak ada yang lebih penakut dan pengecut dibanding kau. Bukan begitu?

Shi Wan tampak Ma Rah tapi Do Han malah jadi semakin semangat. Nyonya Park membentak Do Han, Apa yang coba Do Han katakan pada anaknya? Lalu menarik Shi Wan pergi tapi Shi Wan lalah membentak, "Jangan ikut campur!"

Shi Wan: Kau bilang aku takut? Siapa bilang?


Do Han: Bukankah itu sebabnya kau melakukan hal-hal aneh di bawah bayang-bayang ayahmu? Dengan begitu, kau selalu keluar dari segala kondisi sulit.

Shi Wan: Aku tidak pernah sekalipun bersembunyi di belakangnya. Saat ini, aku bahkan melakukan sesuatu yang ayahku tidak mampu.

Do Han: Begitukah? Kalau memang kau tidak merasa, pergi sana tangkap sendiri dia. Berhentilah melampiaskan amarahmu pada orang yang tidak bersalah. Se Won di mana?


Shi Wan mendekati Do Han, awalnya dengan wajah marahnya tapi mendadak ia tersenyum. Shi Wan tahu, Do Han mencoba memprovokasinya agar mengatakan di mana keberadaan Se Won tapi tidak ada gunanya.

Do Han: Ini terakhir kalinya kubiarkan kau lolos karena masih di bawah umur. Hentikan semua rencanamu, secepatnya.


Shi Wan: Entahlah. Permainan ini... terlalu menyenangkan untuk diakhiri.

Do Han: Permainan?

Shi Wan: Ahjumma itu akan menyelamatkan putrinya, atau Jo Soo Ji, aku begitu penasaran mengetahui pilihan akhirnya.

Do Han: Aku tidak akan membiarkan rencanamu berjalan lancar.

Shi Wan: Kau pikir bisa? Bahkan kau, sudah masuk ke dalam permainan ini. Kau harus melakukan segala yang kau bisa untuk menyelamatkan Jo Soo Ji, bukan begitu? Cepatlah. Waktumu kurang dari 20 menit.


Shi Wan berjalan menuju mobilnya tapi berbalik lagi, "Kau bisa menjatuhkan ayahku, tapi tidak dengan aku."


Jadi apa yang dilihat Se Won tadi itu beneran bom. Se Won super ketakutan, lalu kembali menggedor pintu. Tapi lama-lama ia lelah dan hanya bisa duduk bersender di pintu. Lalu ia melihat foto ibunya,


"Eomma... Aku sangat ketakutan. Aku... untuk menyelamatkanku, kau akan datang, 'kan? Iya, 'kan?"


Dalam perjalanan, Soon Ae mengijinkan Soo Ji untuk memakai ponselnya. Soo Ji menggunakannya untuk menelfon ibunya.

"Apa kau makan dengan teratur?" Tanya Ibu.

"Tentu saja. Aku tidak mungkin membiarkan diriku kelaparan. Kebenaran di balik kematian Yu Na kita, Timjangnim mengatakan akan mengungkapnya."

"Pada Timjangnim... bisakah kau sampaikan terima kasihku, dan bahwa aku tidak akan pernah melupakan kebaikannya, ya?"


Soo Ji pun mengampaikannya pada Soon Ae, lalu kembali bicara pada Ibunya.

"Kapan kau akan pulang ke rumah?" Tanya Ibu.

"Aku akan segera pulang."

"Ibu akan membuatkanmu makanan yang hangat dan menunggu. Cepatlah pulang. Kau mengerti?"

"Aku juga sangat merindukan masakan Ibu. Aku harus pergi, Eomma. Jaga kesehatan."


Soo Ji minta ijin untuk menelfon satu orang lagi dan ia menelfon Eun Joong.

"Selama ini, terima kasih."

"Aku hanya... mengerjakan kewajibanku."

"Sebenarnya, memenuhi kewajiban adalah hal tersulit untuk dilakukan. Nanti setelah aku dibebaskan, akan kutraktir minum."

"Kau tidak akan dihukum berat berdasarkan pertimbangan situasinya."

"Ya."

"Timjangnim dan aku akan sering-sering mengunjungi ibumu."

"Terima kasih banyak."

"Sampai jumpa."


Eun Joong melihat ke bawah melalui jendela ruangannya dan disana ada banyak reporter. Yoon Seung Ro resmi ditahan, ia hendak dipindahkan.


"Mantan kandidat Jaksa Agung, Kepala Kejaksaan, Yoon Seung Ro, baru saja keluar dan dipindahkan ke pusat tahanan Seoul. Pihak Kejaksaan berpikir, ia mungkin akan mencoba kabur dan melenyapkan bukti. Mereka meminta pengadilan mengeluarkan surat perintah penangkapan, dan disetujui oleh pengadilan.


Ayah Eun Joong ada di ruang interogasi kejaksaan dan Eun Joong menemuinya.

"Aboji, Aku tahu rasanya berat, tapi Anda harus tetap makan. Abeoji, aku ingin bertanya sebagai seorang anak. Ponsel beserta passwordnya. Saat itu, Anda sudah tahu aku pasti akan mengambilnya, 'kan? Anda tahu aku akan mengambilnya, maka itu membiarkannya berada di sana, 'kan?"

"Cepat, agar aku bisa lekas membayar kejahatanku."

"Kalau begitu, investigasi atas tindak korupsi Kepala Kejaksaan Yoon Seung Ro, akan segera aku mulai."


Eun Joong memanggil jaksa yang bertugas untuk mulai menginvestigasi ayahnya.


Soo Ji selesai menelfon dan ia berterimakasih. Soon Ae bahkan menawari Soo Ji untuk menghubungi orang lain jika mau, tapi Soo Ji bilang tidak ada lagi.

Soo Ji menyadari kalau mereka tidak menuju ke kejaksaan.

"Tapi, Timjangnim. Ke mana kita akan pergi sekarang?"

*dilihat dari pesan-pesan Soo Ji tadi saat menelfon, ia tahu betul ada yang tidak beres tapi ia diam saja. 


Soon Ae memberikan kunci borgol pada Soo Ji dan Soo Ji menerimanya, "Anu... Kita harus mampir dulu ke suatu tempat." Kata Soon Ae.

Soo Ji menurut dan membuka borgolnya. Soon Ae berusaha keras menahan tangisnya dan Soo Ji paham itu.


Kyung Soo ke sekolah Se Won, sementara Do Han menuju tempat Soon Ae membawa Soo Ji dengan arahan Bo Mi. Do Han memerintahkan Kyung Soo untuk mencari ke semua tempat yang mencurigakan, Lab Sains, ruang musik, auditorium, kafetaria, di mana saja.

Kyung Soo: Sebentar. Shi Wan tahu selama ini kita mengawasinya lewat CCTV. Apa mungkin dia akan menyembunyikan mangsanya di sini?

Bo Mi: Ya, Se Won masih di dalam sana. Sejak dia hilang pagi tadi, aku belum melihat Se Won di CCTV manapun di luar sekolah. Dia belum keluar dari gerbang sekolah.

Do Han: Bukankah kau bilang ponselnya Se Won tidak bisa dihubungi? Cari di ruang bawah tanah atau atap dulu.

Kyung Soo: Aku mengerti.

Lalu ia fokus pada Bo Mi yang sedang mencari mobil Soon Ae dan menemukannya. Do Han langsung minta dibimbing menuju kesana.


Nyonya Park menyuruh Shi Wan beristirahat. Shi Wan juga berkata hal yang sama pada Nyonya Park.


Shi Wan ternyata menyimpan ponsel yang ia gunakan untuk mengirim pesan pada Soon Ae dibawah papan catur di kamarnya.

"Lalu, apakah sebaiknya... kumulai permainannya?"

Shi Wan kembali tersenyum, lalu keuar kamarnya membawa tas juga ponselnya itu.


Kyung Soo sampai di atap, tapi tidak ada apa-apa disana. Ia juga melihat gudang itu dan menggedor pintunya, memanggil-manggil Se Won.

Se WOn mendengarnya tapi ia tidak ada tenaga untuk menjawabnya. Suaranya pelan sekali, bahkan hanya rintihan. "Aku di sini. Aku di sini.

*Tapi bukan pintu itu deh, seingatku Shi Wan memasang gembok juga warna hijau, sedangkan pintu itu gak ada gemboknya.


Kyung Soo pun menjauh dari gudang itu dan melapor pada Bo Mi kalau Se Won tidak ada disana.

Bo Mi: Lalu, di mana dia?

Kyung Soo: Daejang bagaimana? Noonim baik-baik saja, 'kan?

Bo Mi: Sejauh ini, masih baik-baik saja.


Kayaknya Do Han tertinggal jauh dari mobil Soon Ae.


Soon Ae sampai di gedung yang dimaksud Shi Wan, ia tampak sangat frustasi.

"Soo Ji-ah, jangan tanya apa pun padaku. Ikuti saja aku."


Bo Mi terkejut melihat mereka turun disana. Bangunan itu adalah bangunan yang bermasalah dan sampai sekarang masih dalam proses hukum. Bo Mi menyuruh Do Han lebih cepat lagi karena sekarang mereka sudah masuk ke dalam.


Nyonya Park masuk ke kamar Shi Wan membawakan makanan tapi Shi Wan tidak ada. Ia turun kembali untuk bertanya pada Ahjumma.

"Tuan Muda keluar menemui temannya."

"Siapa? Kapan?"

"10 menit yang lalu, ya?"


Shi Wan ke sebuah ruangan, mirip gudang sih, ia tersenyum, "Para pemain sudah masuk arena."

Shi Wan lalu menelfon Soon Ae, video call.


Shi Wan: Sekarang, seperti yang kukatakan, lakukan. Jo Soo Ji... bawa dia ke tepi gedung.

Soo Ji: Yoon Shi Wan, 'kan?

Soon Ae: Soo Ji-ah, Soo Ji, maafkan aku. Sekarang, kalau aku tidak membunuhmu, dia bilang Se Won-ku yang akan mati.

Soo Ji: Se Won sekarang di mana?

Soon Ae: Oh? Entah! Aku juga tidak tahu keberadaannya. Aku hanya tahu dia berada di sebuah tempat dengan bom.


Shi Wan: Berhentilah bicara. Jo Soo Ji, jalan. Lee Son Ae Timjangnim. Kau punya tiga menit.


Do Han sampai di bangunan itu. Ia melihat mobil Soon Ae disana, ia pun bergegas ke atas.


Soon Ae menarik Soo Ji ke tepi tapi sebelum itu, Soo Ji menyalakan perekam di ponsel Soon Ae, jadi video call mereka dengan Shi Wan terekam.


Soon Ae menempatkan Soo Ji di tepi bangunan dan memperlihatkannya pada Shi Wan. Shi Wan memerintah Soon Ae mengarahkan pistolnya pada Soo Ji.

Shi Wan juga melakukan hal yang sama, tapi sengan tangannya. "Sekarang, Ahjumma akan menjadi avatarku. Wanita itu, bunuh dia."


Do Han masih harus menaiki tangga-tangga sebelum menuju ke mereka.


Shi Wan: Sekarang, akan kuhitung sampai lima. Lalu, tembak.

Soo Ji: Lakukan sesuai perkataannya, Timjangnim.

Shi Wan: Lima, empat, tiga, dua, satu. Tembak.


Tapi Soon Ae tidak bisa, ia malah menurunkan pistolnya dan berteriak frustasi. Ia mohon-mohon pada Shi Wan. 

"Shi Wan-ah, Shi Wan-ah, ini semua salahku. Shi Wan-ah, Shi Wan-ah. Shi Wan-ah, bunuh aku saja. Aku siap mati. Se Won-ku tidak melakukan apa-apa, Shi Wan. Tidak bisakah kau membiarkan dia hidup? Kumohon.


Soo Ji: Itu tidak ada gunanya. Semakin kau lakukan, dia akan semakin senang. Timjangnim, dengarkan aku.


Soo Ji: Dari kematian Yu Na, hal yang paling kubenci adalah... saat-saat Yu Na akan jatuh dari atap, dia begitu ingin bertemu denganku. Dia pasti sangat ketakutan. Setiap kali aku memikirkannya... Memikirkan aku tidak ada di sana untuk Yu Na-ku, merupakan hal yang paling membuatku marah. Sampai mati pun, aku tidak akan bisa memaafkan diriku. Kau mungkin tidak memahaminya. Dengan kekuatanku, seharusnya kulakukan segalanya... untuk bisa menyelamatkan Yu Na. Apa pun itu. Sekalipun pada Timjangnim, bila harus, aku sanggup membunuhmu. Sebab itu, Timjangnim. Jangan mengkhawatirkan aku. Lakukan saja keinginan si berengsek itu. Sejak awal, dia mengincarku. Jika aku mati, Se Won akan selamat.

Soon Ae: Soo Ji-ah.

Soo Ji: Pikirkan Se Won yang saat ini pasti hanya bisa memikirkan ibunya, kau!!!


Soon Ae bangkit dan kembali mengarahkan pistolnya pada Soo Ji.

Shi Wan: Benar, itulah yang harus kau lakukan. Jangan mengecewakan aku lagi.


Do Han sampai, tepat saat ada suara letusan pistol. Soo Ji kembali tertembak dibagian perut.


1 komentar so far

shi wan bener2 psikopat dan gila...kesel liat shiwan nya..ditunggu sinopsis ep selanjutnya mba.semangat nulisnya

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...