Thursday, July 20, 2017

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 15 Part 1

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 15 Part 1

Sumber Gambar: KBS2


Yeok memeluk Chae Gyung setelah mereka keluar dari kantor Kerajaan.

"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Yeok.

"Ya."

Yeok melarang Chae Gyung berada dalam bahaya lagi. Chae Gyung tersenyum, ia akan menjauh dari bahaya.


Im Sa Hong dan Tuan Shim bersujud pada Yung. Yung menjatuhkan pedangnya, lalu melihat gulungan SUrat Rahasia itu. Tanpa berkata apa-apa ia keluar dengan langkah berat.


Sampai di kamarnya, ia membanting semuanya. Nok Soo hanya melihatnya. Yung berteriak marah.


Im Sa Hong dan Tuan Shin menunggu di luar kamar Yung. Nok Soo keluar, menegur mereka (tepatnya Tuan Shin sih) yang berani berdiri di depan kamar Raja. Tuan Shin bertanya, apa Yung baik-baik saja?

"Beliau memberi perintah agar tidak membiarkan siapa pun masuk. Datanglah lagi nanti." Jawab Tuan Shin.


Tuan Shin pun membungkuk lalu pergi. Sementara itu, Im Sa Hong tersenyum tipis.


Ibu Suri marah pada Yeok, bertanya apa Yeok tahu apa yang barusan ia lakukan? Yeok tahu, ia menyerahkan tahtanya.

"Kau pikir... Tahta adalah hal yang bisakau serahkan? kau menyerahkan hidupmu. kau menyerah untuk hidup."

"Seperti Hyungnim, aku mencurigai keluargaku, mengancam mereka, dan bahkan hampir membunuh mereka untuk menjadi raja."

"Kapan kau melakukan itu?"

"Ibu, Wakil Komandan, dan Myung Hye, semuanya adalah Lee Yeok. Ibu, Wakil Komandan, dan semua orang kita adalah aku. Semua yang mereka lakukan, segala sesuatu yang mereka impikan, dan dunia yang mereka inginkan.. akan menjadi kenyataan.. melalui mataku, mulutku, dan kehendakku. Karena, aku menjadi lebih seperti Hyungnim. Dan itulah sisi yang paling aku benci, aku tidak begitu berbeda dengannya. Mengapa aku harus menggulingkan dia dan menjadi raja? Jadi.. aku tidak bisa menemukan alasan untuk menjadi raja. Aku akan melindungi yang aku ingin lindungi.. dan berbahagia dengan hidup ini."

Ibu Suri membentak, "Apakah kau lupa bahwa hidupmu bukan hanya milikmu sendiri?"

"Hanya karena Anda melahirkanku dan menyelamatkanku, Jangan mencoba mengendalikan takdirku."


Yeok keluar menahan airmatanya. Ibu Suri terduduk lesu, "Tidak, Yeok-ah. Yeok-ah!"


Yeok lalu menghampiri Chae Gyung. Ia mengajak Chae Gyung ke suatu tempat yang Chae Gyung inginkan karena ia sedang tidak ingin pulang.


Mereka berjalan sambil bergandengan dan saling memandang.

Narasi Chae Gyung: Akhirnya hidup kami menjadi mudah dan sederhana, tanpa curiga atau rahasia. Sekarang kita hanya harus takut akan kematian.

Narasi Yeok: Namun semua orang akhirnya mati. Kami saling memuji untuk menjadi bahagia sampai hari kami mati.


Yeok membawa Chae Gyung ke penginapan dimana mereka pertama bertemu kembali. Yeok menjelaskan, mereka tidak bisa kembali ke masa kecil, jadi ia pikir mereka bisa pergi ke tempat mereka pertama bertemu kembali sebagai orang dewasa dan menyelesaikan kesalahpahaman untuk mulai dari awal lagi.

"Tapi... bukankah disini bukan kenangan indah untukmu? Aku mengadakan upacara peringatan kematian untukmu yang jelas-jelas masih hidup."

Yeok tersenyum, apa yang paling menyakitinya adalah kenyataan kalau Chae Gyung sedang bersama Hyung-nya.

"aku tidak tahu.. kalian berdua memiliki kesalahpahaman. Maksudku, rasa sakit seperti itu.

"Aku tahu. Itulah mengapa.. aku tidak membencimu. Dan karena aku tahu, aku bisa mencintaimu."

"Begitu yah."

Chae Gyung berbunga-bunga mendengar kalimat terakhir Yeok itu. Ia memancing Yeok untuk mengatakannya kembali tapi Yeok pura-pura tidak ingat dan memilih untuk masuk duluan.


Myung Hye kembali dengan langkah lesu setelah bertemu Ibu Suri.

"kau sudah terlambat. Yeok memberikan surat rahasia itu kepada saudaranya dan mendeklarasikan bahwa dia menyerahkan takhtanya!"


Myung Hye kesal, bagaiaman Yeok bisa menyerahkan surat rahasia untuk raja?

Seo Noh kebetulan ada disana, Myung Hye bertanya, apa Seo Noh juga tahu hal ini.

"Tidak. Ini salahmu karena membahayakan Chae Gyung Agasshi. Hyungnim memutuskan untuk menjadi raja, jadi dia bisa melindunginya."

"Dia memutuskan untuk menjadi raja karena seorang gadis?"

"Jika dia adalah alasan Hyungnim tetap hidup, maka itu mungkin, bukan?"

"Aku tidak akan menyerah."

"Jika kau melakukan sesuatu yang salah, kau hanya akan memperburuk keadaan."


Nyonya Shin bertanya, apakah semuanya berakhir bila Yeok dan Chae Gyung meninggalkan ibukota? Tuan Shin menjelaskan, Raja mungkin tidak akan mengijinkan mereka tinggal di pedesaan.

"Kenapa?"

"Menurutku, Raja menyukai Chae Gyung sebagai wanita."

Nyonya Shin menganga tak percaya, mengingat Raja sendiri yang menikahkan mereka. Tuan Shin menjawab, Raja sedang berperang dengan cara yang mereka tidak mengerti. Raja mempertaruhkan Surat Rahasia mendiang Raja, cintanya pada Chae Gyung, hidup dan mati, takdir, dan bahkan tahtanya.

Nyonya Shin menyarankan untuk segera mengirim Yeok dan Chae Gyung ke pedesaan. Please..


Chae Gyung masuk membawa pakaian. Ia menjelaskan kalau pemilik penginapan itu sangat baik. Dulu saja mereka dibolehkan untuk menggunakan seluruh dapur dan malam ini dia meminjaminya baju.

"Itu karena kita membayarnya." Jawab Yeok.


Chae Gyung akan berganti baju dan ia memastikan Yeok supaya tidak melihatnya. Yeok berjanji tidak akan mengintip tapi ia masih berusaha sebenarnya.


Chae Gyung memperlihatkan penampilan barunya. Ia nyaman menggunakannya.

"kau terlihat oke. Dalam baju apapun kau terlihat cantik." kata Yeok.


Ibu Suri masih memikirkan kata-kata Yeok dan tiba-tiba Yung masuk.


Yung datang membawa botol alkohol dan ia mabuk.

"Ibu... Yeok menusukmu di belakang juga. Ibu pasti sudah mencari surat rahasia itu dengan putus asa. Apa yang akan kau lakukan sekarang? Yeok memang.. sesuatu yang tak terduga. Dia tidak berubah sedikitpun, bukankah begitu?"

"Kau sangat mabuk. kau harus berhati-hati.."

"Bawa Yeok kesini, Ibu. Haruskah aku memberikannya.. pada Yeok? Maksudku takhta. Beritahu Yeok untuk menjadi Raja. Lalu.. aku akan menjadi suami Chae Gyung, menantu Penasehat Negara Kedua, dan putra Ibu. Aku akan hidup seperti itu."

"Kau.. sudah terlambat sekarang."


Yung merenahkan kepalanya ke pangkuan Ibu Suri. Ibu Suri melanjutkan, Yung harus terlahir kembali baru bisa hidup seperti keinginannya itu.

"Di kehidupan selanjutnya, lahirlah sebagai anak perempuanku. Lalu, aku akan mengepang rambutmu, menjahit gaunmu, dan sangat mencintaimu."

Ibu Suri hendak mengelus kepala Yung tapi ia urungkan.

Ibu Suri meminta Dayang untuk memberitahu Ratu.


Ratu dengan bantuan kasim membawa Yung kembali ke kamar Raja. Ratu berkata akan menemani Yung malam ini. Yung gelisah dalam tidurnya, seperti ketakutan gitu. Ratu dengan lembut menepuk-nepuk tangan Yung  untuk menenangkannya.


Chae Gyung menyiapkan makanan di dapur.


Sementara itu, Yeok mengeluarkan sebuah bungkusan dari bajunya.


Chae Gyung tahu Yeok menyambunyikan sesuatu. Yeok berkata bukan apa-apa tapi Chae Gyung tidak percaya.

"Apakah kau menyembunyikan sesuatu dari aku lagi?" tuduh Chae Gyung.

Yeok akhirnya mengeluarkan bungkusan itu, sebenarnya ia selalu membawa itu kemana-mana karena ingin memberikannya pada Chae Gyung. Chae Gyung tersenyum, jadi itu hadiah untuknya?

"Kapan kau punya waktu untuk mempersiapkan ini?"

"Sudah lama kusimpan, tapi aku pikir ini bukan hadiah yang cocok disuasana seperti sekarang. Yang aku maksud adalah, aku tidak berpikir ini bahkan bisa dihitung sebagai hadiah."


Chae Gyung tidak peduli, ia merebut bungkusan itu dan mengocok-kocoknya tapi tidak bisa menebak apa isinya. Yeok tahu, Chae Gyung banyak terluka karenanya, jadi mulai sekarang Chae Gyung tidak perlu menahannya lagi jika marah atu frustasi terhadapnya. Lemparkan saja semau Chae Gyung.

Chae Gyung membuka bungkusan itu dan ternyata isinya adalah kacang hitam. Chae Gyung tersenyum, ia teringat saat ia melempari Yeok dulu dengan kacang itu karena menganggap Yeok adalah hantu.

"Sedikit sakit. Tidak, itu sangat menyakitkan. Maksudku, sedikit sakit, tapi aku bisa menerimanya jika itu membuatmu merasa lebih baik."

"Apakah ini yang kau sebut sebagai hadiah?"


Chae Gyung lalu mengeluarkan semua isinya dan hendak melemparkannyapada Yeok tapi Yeok manahan tangannya lalu mendorongnya ke lantai.

"AKu tidak merasa aku sudah siap. Tapi kupikir... terakhir kali itu sangat menyakitkan.

"Apakah ini caramu menghindari apa yang layak kau dapatkan?"

"aku selama ini. sangat pengecut, bukan? Dan itu membuatmu sangat menderita."

"Jika kau tidak melakukan apapun sekarang, kau benar-benar seorang pengecut. Lakukanlah sesuatu!"


Chae Gyung menutup matanya, tapi Yeok masih diam saja. Chae Gyung kesal, kembalilah jadi pengecut kalau begitu. Barulah Yeok beraksi.

"Apakau mencintaiku?" Tanya Chae Gyung.

"Bagaimana bisa aku tidak mencintaimu? Aku menyayangimu. Aku memujamu. Aku mencintaimu. Sangat, Sangat banyak."

"Satu kata saja sudah cukup."


Yung bermimpi buruk, ia terus teringat kata-kata Yeok dan itu membuatnya terjaga. Yung lalu memanggil kasim untuk membawakannya alkohol.


Dalam mabuknya, Yung melihat sosok ayahnya mendekat.

"Bodoh kau! Beraninya kau.. menentang perintah ayahmu? Apakah kau bertekad untuk mempertahankan tahta ini?!!!"


Yung panik karena sosok ayahnya itu semakin mendekat. Yung mengambil pedang disampingnya untuk mengusir sosok ayahnya.

"Apa aku tidak memberitahumu bahwa Joseon akan binasa jika kau naik takhta?!"

"Pergi dari sini."


Yung menyabetkan pedangnya tapi hanya mengenai udara, sosok ayahnya hilang. Namun muncul lagi di lokasi berbeda.

"Rakyat Joseon akan menderita karena sikap tiranimu, tempramenmu, dan dogmatismu."

"Ayah, Anda hanya.. mencintai Yeok. Anda.. membenciku, benar 'kan?"


Yung merangsek maju lalu menusukkan pedang ke perut Ayahandanya. Ternyata yang ditusuk Yung adalah Kepala Kasim.

Yung tersadar setelah kasim yang lain memanggilnya. Tapi ia malah tertawa melihat kepala Kasim tergeletak di lantai.


Yeok mengantar Chae Gyung pulang. Yeok berkata tidak ingin pisah. Chae Gyung menjawab, mereka tidak akan berpisah mulai sekarang.

"Bukan kau., maksudku, dengan teman-temanku. Gwang Oh, Suk Hee, dan Seo Noh."

"Baiklah, Kita semua bisa pergi ke pedesaan bersama. Bagaimanapun.. istri siput akan bubar jika tidak ada kau 'kan?"

"Entahlan. Aku rasa begitu."

"Aku akan segera pulang, kan?"

"Tentu"


Chae Gyung pun mengijinkan Yeok pergi. Yeok tersenyum, Chae Gyung harus melepaskan tangannya dulu baru ia bisa pergi. Chae Gyung juga tersenyum, ia kira tang itu adalah tangannya. HAHAHA


Chae Gyung mendisiplinkan Kasim Song dan dayang yang lain.

"Kalian semua... Apakah kalian masih disini setelah mengetahui apa yang aku alami tadi malam? Keluar dari sini segera, aku tidak bisa mempercayai kalian."

Kasim Song mengingatkan, mereka disana atas perintah Raja. Chae Gyung membentak, kalau begitu ia diculik semalam juga karena perintah Raja?

"Atau apakah aku harus memberitahu Yang Mulia tentang apa yang terjadi? Dan kau harus bertanggung jawab karena tidak menjagaku? Jika ini adalah pertama, maka akan menimbulkan masalah untuk pemerintahan kerajaan dan keluarga kerajaan. Jika ini yang terakhir, beberapa dari kalian akhirnya akan mulai dieksekusi. kau harus pergi saat kau masih memiliki kesempatan."

"Kami akan melakukan seperti yang Anda katakan." jawab Kasim Song.

Kasim SOng dan yang lain pergi.


Bibi pengasuh menangis di kamar Chae Gyung. Chae Gyung masuk dan memanggilnya. Bibi sangat senang melihat Chae Gyung, terlebih Chae Gyung terlihat baik-baik saja.

"aku berjanji tidak akan membuat masalah, tapi aku terus membuatmu menangis."

"Agasshi. Tidak bisakah kita hidup di Geochang seperti dulu? Bahkan jika Anda nakal, aku tidak akan mengatakan apapun. Mari kita tinggalkan saja Hanyang, ya? aku takut sesuatu bisa terjadi padamu. Aku tidak bisa tinggal di sini lagi."

Chae Gyung menangguk, "Kita akan segera pergi. Begitu Pangeran menyelesaikan urusannya, kita akan pergi. Raja akan segera mengijinkan kita tinggal di pedesaan."


Myung Hye menghilang dan saat ini ia datang menggunakan pakaiannya seperti biasa, ia tidak datang sebagai Jjong Ah tapi sebagai Myung Hye.


Mereka bicara setelah Chae Gyung berganti baju. Myung Hye memperkenalkan nama aslinya. Chae Gyung menyela, ia tahu Myung Hye adalah keponakan Wakil Komandan.

"Sejak kapan kau sudah tahu?"

"Sejak pertama kali kau datang kesini."

"Tapi kau masih membiarkan aku masuk."

"Mengapa kau menjalani hidup yang begitu sulit? Jika kau harus berada di bawah kepura-puraan palsu, Apakah itu hal yang benar untuk dilakukan?"

"Aku tidak berpikir, aku perlu diajari olehmu."

"kau mengatakan orang-orang menjalani kehidupan rendahan atau kehidupan yang kejam. Dan kau bilang kau memilih hidup yang kejam karena kau tidak menginginkan hidup rendahan. Tapi, Apa yang kau lakukan adalah.. rendahan. Tidak layak memiliki kebencian atau kemarahan. Selamat tinggal."

"Bagaimana jika itu.. untuk Yeok? Seberapa rendah.. yang bisa kau lakukan untuk Yeok? Bisakah kau mengabaikan dirimu sendiri? Tampaknya.. aku lebih putus asa darimu."


Ibu Suri bicara pada Tuan Shin. Ibu Suri tidak mengira kalau SUrat Rahasia itu ternyata ada pada Chae Gyung. Tuan Shin menjawab kalau ia juga tidak menyangka. Tapi Ibu SUr tampak tidak percaya.

"Bagaimanapun, Pangeran melakukan apa yang dia lakukan.. Dan sekarang kita harus melakukan penutupan yang baik. Semua orang tampak bingung."

"Tapi bagaimana? Raja tidak akan mengijinkan Yeok dan Chae Gyung pergi ke pedesaan. Kita harus bersyukur.. bahwa dia tidak membunuh mereka."

"Apa maksud Anda?"

"Pokoknya.. Raja pasti merasa dikhianati olehmu. Terutama oleh Chae Gyung. Memalukan memang untuk mengatakannya karena Chae Gyung adalah menantuku, Tapi Raja.. nampaknya sangat menyayanginya. Anda tahu itu?"

"Saya tidak mengerti apa yang Anda maksud.. sama sekali."

"Bagaimanapun, beritahu dia (Chae Gyung) untuk bersikap dan bertindak yang masuk akal."


Tuan Shin keluar tapi ia menengok lagi ke arah ruangan Ibu Suri.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon