Friday, July 28, 2017

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 18 Part 2

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 18 Part 2

Sumber Gambar: KBS2


Im Sa Hong dan Nok Soo keluar, ia heran melihat banyak penjaga di sana. Ia bertanya pada Kepala penjaga, apa dia membawa bala bantuan?

"Tidak. Mereka dibawa masuk oleh Menteri Pertahanan." Jawab Kepala Penjaga.

Sementara itu, Gwang Oh siap mencabut pedangnya jika ada apa-apa.

Nok Soo akan berkata tapi Im Sa Hong menariknya pergi.


Mereka sudah agak jauh. Nok Soo menghentikan Im Sa Hong, ia heran, bukannya semua pasukan berada di gerbang?

"Ini adalah pertarungan tanpa darah. Dia meninggalkan pasukannya di luar gerbang kota dan masuk ke kota bersama pemberontak." Kata Im Sa Hong.

"Itu berarti..."

"Yoo Ja Gwang sudah mengkhianati kita."

Nok Soo mengingat tentara yang bersama Menteri Pertahanan tadi, ia akan memastikannya lagi dengan kembali tapi Im Sa Hong menahannya.

"Ini sudah terlambat. Kita tidak bisa menghentikan mereka dengan hanya pasukan kerajaan. Raja sudah.."

"Anda.. harus ikut bersama orang yang Anda layani. Aku akan bersamanya."

Nok Soo memberi hormat lalu berjalan kembali.


Yeok berkata, Yung sudah memberinya kesempatan jadi ia akan memberi Yung kesempatan juga.

"Apa?"

"Ini kesempatan terakhir kita sebagai saudara."

Yung tertawa, ia mengangkat pedangnya dan mulai menyerang Yeok.


Semua dayang dan kasim Raja berhamburan keluar bersama Menteri Pertahanan. Menteri Pertahanan lalu memerintahkan Istri SIput untuk bersiap. Mereka berhadapan satu-satu dengan Penjaga Istana.

Gwang Oh: Cepatlah, Pangeran.


Yung dan Yeok sama-sama menyerang.


Chae Gyung masih merawat Ibu Suri, lalu kasim itu datang lagi.


Ia mengabari bawasannya Menteri Pertahanan dan Pangeran baru saja memasuki Istana.

"Istana?"

"Mereka mungkin berhadapan satu sama lain untuk terakhir kali."


Dalam perlawanan, Yung berhasil menyayat bahu Yeok duluan. Yeok membalasnya dengan menyayat paha Yung.


Mereka diam sebentar saling berkomunikasi dengan tatapan mata.

"Kenapa kau terlahir didunia ini?" Tanya Yung.

"Aku menyesal telah lahir didunia ini. Tapi karena aku sekarang sudah terlahir disini, Aku harus melakukan apa yang harus aku lakukan. Jadi tolong pergi."

"Pertarungan ini hanya akan berakhir ketika salah satu dari kita mati."



Chae Gyung datang, ia memanggil Yeok dan Yung bersamaan. Yung dan Yeok sama-sama menoleh ke arah Chae Gyung. Lalu Yung mendahului menyerang.

 Narasi Chae Gyung: Sebagai dua saudara yang akan bertarung hingga akhir, Kekuatan yang dimiliki Pangeran adalah menghadapi Pengawal Istana yang melayani Raja dalam situasi yang sangat fluktuatif.Istana.. dipenuhi dengan orang yang berusaha menyelamatkan nyawa mereka sendiri.


Yeok berhasil unggul dari Yung, ia menjatuhkan pedang Yung dan menyudutkannya. Chae Gyung mewanti-wanti Yeok.


Yung menyuruh Yeok untuk memotong kepalanya, inilah saat-saat yang Yeok nantikan. Chae Gyung berteriak dari samping, melarang Yeok melakukan itu.

"Apa yang kau lakukan?!" bentak Yung, "Apa kau datang sejauh ini.. tidak memiliki nyali untuk membunuhku?!"

Yeok mengangkat pedangnya dan mengayunkannya ke arah Yung sambil berteriak. Chae Gyung menutup matanya.


Tapi pedang itu berhenti tepat di samping leher Yung. Yeok berteriak frustasi. Chae Gyung lalu berlari ke arah Yeok untuk memeluknya.


Dua istri Siput masuk untuk mengamankan Yung. Chae Gyung menurunkan pedang Yeok. Yeok akan mengajak Chae Gyung pargi tapi Yung berkata.

"Baik.. Ini luar biasa. Yeok, Kau akhirnya menjadi Raja. Kau akhirnya menjadi Raja juga. Terima kasih, Balas dendamku sudah selesai."


Yeok dan Chae Gyung berbalik menatap Yung kembal. Yung tertawa, saat Yeok keluar dari sana, mengambil takhta, memegang tangan Chae Gyung, ia bermimpi untuk membalas dendam pada Yeok.

"Bagaimana aku bisa membuatmu menderita lebih banyak lagi? Aku memikirkan itu lagi dan lagi."

"Dan apa ini yang kau dapatkan? Menjadi.. sungguh-sungguh hancur?"

"Tidak. Aku dulu.. ingin membuatmu menjadi Raja. Aku ingin menjadikanmu Raja, untuk membuatmu menderita seperti aku saat aku berada di atas takhta. Aku bertekad membuatmu merasakan hal yang sama denganku. Yeok-ah. Aku kakakmu. Apa kau tidak ingin tahu bagaimana menyakitkannya.. ini?"

"Hyungnim."

"Kau bisa menantikannya."

Yung tertawa ngakak dengan mata berkaca-kaca. Bahkan ia masih tertawa saat Istri siput membawanya keluar.


Yeok tersenyum pada Chae Gyung. Chae Gyung bertanya, apa ini semua sudah berakhir sekarang?

"Iya. Semuanya sudah berakhir sekarang." Jawab Yeok.

"Lalu.. Bisakah kita bahagia sekarang?"

"Tentu saja. Kita bisa.. bahagia sekarang."

Chae Gyung menangis haru menatap Yeok.


Para dayang dan kasim masih berlarian dan mereka berhenti saat melihat Raja (mantan ya..) mereka diikat oleh penjaga.

Yung berteriak pada mereka, "Tertawalah. Jika kau tidak akan menangis untukku, lalu tertawalah. Tertawa sebanyak yang kau mau."

Mereka semua berlari ketakutan dan Yung tertawa puas.


Tuan Shin menenangkan Nyonya Shin yang menangis.

"Istriku. Aku minta maaf." Kata Tuan Shin lalu berdiri.

"Apa kau akan pergi.. walau aku menghentikanmu?"

"Aku berjanji pada Yang Mulia, bahwa aku akan menjadi Ayah dan keluarganya, tapi aku tidak menepati janji itu. Aku pikir... Inilah waktu terakhir bagiku untuk bisa menepati janji itu."

Nyonya Shin ikut berdiri, "Aku mengerti. Aku akan.. menunggumu. Ini bisa jadi perjalanan panjang. Bagaimana aku bisa membiarkanmu pergi begitu saja?"


Nyonya Shin mengambil seragam Tuan Shin, ia akan menyetrikanya dulu karena Tuan Shin sudah lama tidak memakainya, pastinya itu jadi kusut. Tapi Tuan Shin menahan Nyonya Shin.

"Kali ini aku.. tidak pergi ke sana sebagai rakyatnya. Aku pergi.. sebagai keluarganya."

"Tidak bisakah kau.. memberiku waktu 15 menit? Bagaimana dengan Chae Gyung? Apakah Chae Gyung akan baik-baik saja?" Tangis Nyonya Shin.

Tuan Shin lalu memeluknya, "Ini semua salahku. Maafkan aku, istriku. Maafkan aku."


Tuan dan Nyonya Shin keluar dan mereka dihadang oleh penjaga. Kasim Song menyaksikan semua itu.


Istri siput mendatangi rumah Im Sa Hong yang saat ini tengah mengemasi hartanya. Im Sa Hong malah santai saat ditodong banyak pedang begitu.

"Kau akhirnya sampai sejauh ini. Ini mengesankan. Sangat mengesankan."

"Kami berjuang dengan mempertaruhkan hidup. Jadi para pecundang harus menyerahkan nyawa mereka."

"Kau dan Penasihat Negara Kedua begitu keras kepala. Aku selalu.. meninggalkan orangku untuk menyelamatkan diri sendiri."

"Aku tidak yakin ada jalan untukmu agar tetap hidup."

"Wakil Komandan, Kau yang harus memerintahkan mereka untuk membuat jalan bagiku."


Im Sa Hong lalu berdiri dan membisiski Park Won Jong.

"Jika mereka tahu bahwa kaulah yang melaporkan istri siput saat itu, Apa menurutmu mereka akan membiarkanmu?" Im Sa Hong menjauhi Park Won Jong, "Aku pernah menawarkan jalan keluar bagimu. Aku percaya.. ekarang giliranmu untuk membalasnya."


Im Sa Hong dengan santainya berjalan ke luar, Suk Hee dan yang lain mencegahnya tepat di depan pintu.

Im Sa Hong: Hanya karena ini era baru, bukan berarti kau bisa mengubah segalanya. Aku bisa menawarkan layananku kepadamu dan Raja yang baru.

Suk Hee meminta perintah, apa yang harus mereka lakukan. "Wakil Komandan. Beri kami perintah."

Im Sa Hong berbalik menatap Park Won Jong, "Haruskah kau membunuhku? Aku masih bisa membantu. Barang-barang berharga.. akan menjadi hadiah pertamaku untukmu."

Park Won Jong akhirnya membiarkan Im Sa Hong pergi. SUk Hee tak percaya sampai ia tak bisa berkata apa-apa selain memanggil "Wakil Komandan".


Im Sa Hong naik tandu dan ditengah jalan ia menyuruh mereka berhenti karena mereka salah belok.

"Inilah jalannya, Tuanku." Kata Gi Ryong.

Para pengangkat tandu menurunkan Im Sa Hong dan mereka berlari pergi.

Im Sa Hong: Bodoh. Apa yang kau lakukan?

Gi Ryong: Merupakan suatu kehormatan untuk melayanimu sampai akhir.


Gi Ryong musuk Im Sa Hong dengan pedangnya sendiri. Lalu muncullah Myung Hye saat Im Sa Hong sudah kehilangan nyawanya.

"Seperti yang dijanjikan, keluargamu akan aman. Juga seperti yang dijanjikan, Aku akan membiarkanmu tinggal di gunung sebagai petani."

Myung Hye memberi Gi Ryong sesuatu (surat). Myung Hye memerintahkan Gi Ryong untuk membayarnya juga.


Gi Ryong lalu duduk dan menyayat lutut bagian dalam (pergelangan).

"Kau akan cacat, tapi sekarang kau bisa menjadi manusia yang lebih baik." kata Myung Hye lalu pergi.


Nok Soo mendatangi ruangan Yung disekap, tapi ia dihalangi oleh Istri Siput.

"Minggir. Bahkan jika aku disuruh pergi, Aku harus membayar perbuatanku terlebih dahulu."

Akhirnya Gwang Oh membiarkannya masuk.


Nok Soo berkaca-kaca melihat Yung, ia lalu berlutut memberi hormat. Yung memerintahkannya untuk pergi selagi bisa, tetaplah hidup sehingga Nok Soo bisa melakukan sesuatu.

"Apa.. ku harus melakukannya tanpa Anda? Bunga.. tidak akan bisa mekar dengan lama. Bunga paling cantik.. ketika ia mekar selama satu musim. dan kemudian layu. Saya adalah.. bunga Anda dalam hidup ini dan itu.. sudah cukup bagiku."


Nok Soo lalu memberikan tusuk rambutnya pada Yung.

"Saya ingin Anda... mengambil hidupku."


Nok Soo lalu memeluk Yung. Yung menyambut pelukan itu tapi ia tidak sadar sedang memegang tusuk rambut Nok Soo yang mana bagian tajamnya langsung menusuk leher Nok Soo saat ia merangkul Nok Soo.

Nok Soo meninggal, Yung menangis histeris.


Chae Gyung kembali ke kamarnya dan tidur, baru sebentar ia sudah tampak lelap. Yeok mendatanginya diam-diam, lalu tidur disampingnya pelan-pelan.

"Aku tidak tahu perasaan kosong apa ini, dan aku tidak tahu bagaimana harus menatapmu. Jadi aku lebih suka menutup mata." Batin Chae Gyung.

"Aku mendapatkan apa yang aku inginkan, tapi kenapa aku merasa begitu hampa?" Batin Yeok.


Ibu SUri sudah sehat kembali dan para Menteri yang mendukung Yeok semalam mengunjunginya.

Ibu Suri: Banyak hal yang terjadi tadi malam dan aku sangat prihatin. Semuanya berakhir dengan sangat baik.

Menteri gemuk: Ini pertanda bagus.

Menteri Personalia: Ini berkat Anda, Ibu Suri. Kami datang menemui Anda untuk meminta persetujuan.

Park Won Jong: Kami ingin mengangkat Pangeran Jin Seong sebagai raja. Kami mohon persetujuan Anda.

Ibu Suri: Aku tidak yakin dia akan tahan dengan beratnya mahkota.

Menteri Personalia: Aku yakin dia akan sanggup.

Menteri Gendut: Iya. Karena dia bergerak sangat cepat, kami berhasil menangkap mantan Raja tanpa banyak pertumpahan darah. Tidak ada pertarungan antara pemberontak dan tentara. Dia adalah Raja yang telah kita nantikan.

Ibu Suri: Aku menyetujuinya.


Yung dihukum berserta istri dan anak-anaknya.


Park Won Jong membacakan hukuman untuk Yung, "Raja telah kehilangan otoritasnya, Rakyat sangat menderita, dan bangsa berada dalam kekacauan. Ada banyak kekacauan. Kami mengangkat Pangeran Jin Seong untuk memperbaiki semua ini. Para menteri dan pejabat harus mematuhi perintah ini.

Lee Yung akan diturunkan menjadi Pangeran an diasingkan ke Pulau Ganghwa. Ratu Shin yang diturunkan akan diasingkan ke Istana Jungchun. Lee Hwang akan diasingkan ke Jungsun, Lee Sung akan diasingkan ke Suan, Lee Yi akan diasingkan ke Jechun."

Selama pembacaan itu, Chae Gyung menangis dan terus menatap Yung, Yeok memegang tangannya untuk menguatkan.

"Chae Gyung-ah. Apa kau baik-baik saja? Lihat aku." Batin Yeok.


Chae Gyung menjabat sebagai Ratu dan ia memiliki kamar baru tapi ia tidak tampak senang.


Chae Gyung sangat terkejut mendengarnya ia langsung menuju rumah orang tuanya menggunakan tandu.


Tuan Shin memaksa untuk pergi jadi para penjaga membunuhnya tapi bukan hanya dirinya, Nyonya Shin juga.

"Istriku! Dengan mati seperti ini.. Aku harap.. kita bisa melindungi Chae Gyung. Aku bukan ayah yang baik.. dan aku tidak mati sebagai Rakyat yang setia. Aku minta maaf."


Chae Gyung syok berat melihat ayah dan ibunya meninggal dengan cara yang mengenaskan.


Ibu Suri dan Park Won Jong senang melihat Yeeok naik tahta tapi wajah Yeok tetap suram.

Park Won Jong: Raja yang digulingkan itu sekarang menjadi Pangeran. Sekarang, Pangeran... Tidak. Yang Mulia, Anda bisa pindah ke kamarmu. Akan segera ada penobatan. Anda harus bersiap-siap.

Yeok: Aku mengerti. Bagaimana keadaan ANda, Ibu?

Ibu Suri: Ibu baik-baik saja. Kejadian hari ini telah menyembuhkanku sepenuhnya. Kenapa kau jadi murung?

Yeok: Aku sudah mengatasi rintangan besar. Tapi aku tidak merasa senang. Aku terlalu banyak kehilangan. Aku juga takut.. dengan apa yang akan terjadi nanti.

Ibu Suri: Kau hampir mengalami kematian dan selalu mencemasi keselamatanmu. Kau sudah lupa bagaimana rasanya kebahagiaan yang sebenarnya. Sekarang kau bisa menikmati masa depan yang bahagia.

Yeok: Aku akan.. menemui istriku sekarang.

Ibu Suri: Iya. Dia memiliki peran besar dalam menangkap kakakmu.


Kamar ChaeGyung dijaga oleh SUk Hee dan Gwang Oh. Yeok heran tapisaat ia tanya ada apa mereka tidak menjawab.


Kamar Chae Gyung dijaga oleh SUk Hee dan Gwang Oh. Yeok heran tapisaat ia tanya ada apa mereka tidak menjawab.

Chae Gyung bicara pada Ibunya dengan sedih, menanggap ibunya masih hidup.

"Ibu. Aku sudah lama tidak pulang. Kenapa kau masih tidur? Kau harus memasak untukku, memarahiku, dan memukul punggungku. Ibu. Ibu. Ibu."


Chae Gyung beralih pada ayahnya. "Ayah. Aku minta maaf karena marah padamu. Aku tahu posisimu, dan aku masih saja menyalahkanmu. Ayah. Anda tidak perlu menjadi Ayah yang hebat. Ayah tidak perlu menjadi Menteri yang hebat. Tolong... Tolong kembalilah. Ayah, tolong... Ayah."


Chae Gyung menggenggam tangan Tuan Shin dan ternyata Tuan Shin menggenggam cangkang siput, tanda dari Istri SIput. Chae Gyung mengaga terkejut.


Lalu Yeok masuk, ia tak bisa berkata apa-apa melihat kedua mertuanya tidak bernyawa. Yeok tidak mengerti, kenapa ini.. kenapa bisa.. bagaimana..


Chae Gyung akan berdiri mendekati Yeon tapi ia tidak kuat dan jatuh pingsan.


Yeok berjalan menuju kursi Raja, tapi ia tidak mampu dan berhenti di tangga. Yeok mengingat kata-kata Tuan Shin.

"Jadilah menantuku, Suami Chae Gyung, dan saudara Raja."

"Seorang pelayan harus melindungi Tuan nya sampai akhir, Jika semuanya gagal, Maka dia harus mati untuk Tuan nya. Itulah takdirnya."


Yeok tidak mengerti, kenapa Tuan Shin begitu bodoh? Mengapa? MENGAPA?!!!!

Dan Yeok menangis.


Chae Gyung sama sekali tidak bersemangat, pandangannya kosong.


Bibi pengasuh datang dan ia langsung bangkit memeluknya.

"Bibi, Kau masih hidup. Kau tidak apa-apa?"

"Iya."

"Kau masih hidup, 'kan? Kau baik-baik saja?"

"Ya, aku masih hidup."

"Bibi, sepertinya aku mengalami mimpi buruk. Aku bermimpi... Aku bermimpi melihat.. Ibu dan Ayahku... Ini tidak mungkin benar. Ini mimpi buruk, bukan? Bibi, bawa aku temui orang tuaku."


Bibi Pengasuh lalu memeluk Chae Gyung. Mereka menangis bersama.


"Apa maksudmu?" Tanya Ibu Suri.

"Jangan khawatir dengan Ratu yang baru. Dia akan mengundurkan diri atas kemauannya sendiri."


Chae Gyung meminta Bibi Pengasuh untuk mengambilkan cerminnya.


Bibi pengasuh sedikit heran tapi ia menurut saja.


Lalu Chae Gyung memanggil dayang, ia ingin menemui Raja tapi tidak bisa berpakaian seperti itu.

"Saya akan menyuruh pelayan menyiapkan pakaian Anda." Jawab Dayang.

"Beritahu mereka untuk membawanya dengan hati-hati."


Chae Gyung menemui Yeok yang saat ini duduk di kursi Raja.


Yeok langsung turun untuk mendekati Chae Gyung dan Yeok langsung memeluknya.


Chae Gyung menyambut pelukan itu dan diam-diam ia mengeluarkan pisaunya, pisau yang Yung hadiahkan padanya.


Namun Chae Gyung tidak sanggup menusukkannya pada Yeok dan Yeok keburu menyadari hal itu. Yeok menuntun tangan Chae Gyung untuk membunuhnya.

"Ini hatiku. Maka bunuhlah."


Chae Gyung berusaha menarit tangannya dari genggaman Yeok, menjauh dari dada Yeok. Tidak jelas siapa yang mendorong atau menariknya, yang jelas Yeok pisau itu turun lagi ke dada Yeok dan Yeok meringis kesakitan, sementara Chae Gyung melotot kaget.


== K O M E N T A R ==

Jadi kita akhirnya sampai padaadegan klimaks, inti dari semua episode selama ini.

Sungguh sedih melihat mereka berdua merasa kosong setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Yeok berhasil mendapatan tahta Kakaknya tanpa harus membunuh kakaknya dan Chae Gyung bisa mengakhiri perang dimana dia menjadi sumbernya.

Kejadian yang paling disayangkan adalah kematian Tuan Shin, kemungkinan besar itu adalah perintah dari Park Won Jong, karena ia ingin posisi Tuan Kim nantinya. Tapi kurang setuju juga dengan rinsip Tuan Shin sebenernya, memangsih dia setia pake banget malah. Tapi Tuan Shin tidak lihat kondidi dimana Yung itu salah karena menjadi tirani.

Yung yang tidak bisa disadarkan oleh Chae Kyung dan Tuan Shin, akhirnya bisa sadar dengan kematian Nok Soo. Padahal menurutku Yung tidak memiliki perasaan khusus pada Nok Soo (seperti yang ia rasakan pada Chae Gyung). Mungkin Yung menyadari kalau ia bukan hanya kehilangan orang tapi hal lain yang lebih berharga, yaitu loyalitas. Mungkin Yung baru menyadari kalau ia memiliki orang yang sangat loyal kepadanya dan itu membuatnya sangat-sangat sedih.

Sekarang kita tunggu saja akhirnya bagaimana, soalnya sampai saat ini pun masih ada salah paham. Chae Gyung pasti mengira kematian orang tuanya ada hubungannya Istri Siput (dengan kata lain, Yeok).

4 komentar

apa gara2 yeok ketusuk jd chae gyung yg disalahkan smp dihukum gantung ya (ep awal)..kan melukai raja hukuman nya mati.
sejarah aslinya raja yeok naik tahta tp dia ga bisa berbuat apa2 ditekan oleh pengikutnya yg bikin dia naik tahta ...mknya dia ga bisa belain istri nya x ya

So sad!ky empress ki! ktka smuanya ud d tngn tp mlh akhirnya mati smua!!!andweeeeeeeeeee

Bener bener episode yg bikin nangis.. Biarpun cuma baca sinopsis tapi bikin hati nyesek.. Makasi ka tas sinopnya..

Kalau saya baca di sejarahnya, sebenarnya yg mau didukung oleh Tuan Shin itu bukan Yung, tetapi anak2nya (pangeran2 Yung yg masih kecil itu), Tuan Shin percaya meskipun Raja Yeosangun/Yung yg sekarang adl seorang tiran, namun moral putra2nya masih bisa diperbaiki. Di sisi lain Tuan Shin juga dalam kondisi terjepit sebagai bagian dari keluarga kerajaan, jika ia ikut memberontak dan berada di sisi pangeran, itu berarti ia juga mendukung putrinya, namun ia sama saja seperti mengkhianati adiknya (Ratu Shin yg merupakan adik dari Tuan Shin), namun berada di pihak Yung juga pada akhirnya ia berada di kubu yg berbeda dgn Chae Gyung (Dangyeong), sampai sebenarnya para pemberontak dulu (kalau di sini namanya "Istri siput") bertanya pada Tuan Shin, "mana yg akan kau pilih? Adikmu atau anakmu (Putrimu)?
Sangat disayangkan menurutq karena di drama ini kisah dan alasan Tuan Shin tidak begitu dijelaskan, putra2 Yeosangun juga cuma lewat kayak cameo sehingga kita kesulitan memahami apa yg sebenarnya dipikirkan oleh Tuan Shin dan keputusannya utk mendukung Yung sampai mati, menurutq justru adegan Yung sama Chae Gyung terlalu banyak dan membuat hubungan dgn sejarah menjadi terdistorsi.
Akhirnya Tuan Shin hanya terlihat seperti pendukung naif yg keras kepala mendukung Raja yg sudah jelas sgt kejam & tiran, menurutq maksud Tuan Shin ingin mendukung anak Yung juga supaya ia tidak perlu memilih antara adiknya atau anaknya (Ratu Shin tidak perlu diturunkan dan Chae Gyung (Dagyeong) tetap menjadi istri dari pangeran (& bukan Ratu)).

Lalu juga bahwa di sejarah tidak pernah ada ceritanya kalau Yung jatuh cinta pada Chae Gyung, rata2 sejarah menceritakan bahwa wanita yg paling dicintai oleh Yung adalah Nok-Soo dan ia dibuat tergila2 padanya, namun meskipun ia sangat mencintai Nok-Soo, ia juga sangat menghormati dan menghargai Ratu Shin (tante Chae Gyung) sbg Ratunya, setidaknya sama seperti yg digambarkan di drama ini.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon