Friday, July 7, 2017

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 12 Part 2

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 12 Part 2

Sumber Gambar: KBS2


Saat Yeok akan makan, Chae Gyung menjauhkan semua daging dan ikan dari Yeok. Ia menyodorkan sayuran untuk Yeok.

"Apa ini balas dendammu karena aku terlambat?"

"Ayahku mengatakan bahwa makanan rumahan itu enak karena Ibuku. Ayah mengatakan itu enak tidak peduli bagaimana rasanya karena Ibu memasaknya dengan cinta untuk keluarganya. Aku harap... Kau memiliki pola pikir yang sama seperti Ayah. Aku harap kau berpikir makanannya enak bukan karena rasanya yang enak tapi karena aku yang membuatnya. Karena aku membuatnya sambil memikirkanmu."

Yeok mengiyakannya dan memakan semuanya tapi setelah itu ia langsung minum.


Yeok: Mulai sekarang... Aku akan selalu makan di rumah tidak peduli apapun. Kau satu-satunya orang yang selalu memikirkanku... Jadi makanan di rumah pasti sangat enak."

Chae Gyung bahkan menyuapinya kacang. Kayaknya Yeok benci banget makan kacang tapi ia paksakan demi istri.


Pengasuh cekikikan di luar menguping mereka. Tapi bukan hanya ia saja yang menguping, Kasim SOng juga. Namun pengasuh memelototinya jadinya Kasim Song takut, lalu segera pergi.

"Aigoo. Mereka semua mengawasi pasangan muda ini. Aku harus mencolok matanya keluar." Gerutu Pengasuh.


Yung datang ke tempat ayah Seo Noh diikat, semua taktik mereka membuahkan hasil. Im Sa Hong berkata kalau anak buahnya membawa ayah Seo Noh diam-diam karena tahu semua akan rumit jika Yeok mengetahuinya.


Yung menanyai Ayah Seo Noh seorang diri. Ia menyesal sudah melepaskan Ayah Seo Noh lima tahun lalu.

"Jika ini lima tahu lalu, aku akan mendengarkan alasanmu dengan baik-baik. Tapi sayang sekali, akudatang menemuimu hari ini lagi... jadi sulit bagiku untuk menunjukkan belas kasihan. Karena kau menyembunyikan dokumen rahasia itu dan melarikan diri untuk waktu yang lama... Apa kau tahu apa yang harus aku lakukan? Dimana dokumen rahasia itu?!"

Yung lalu menempelkan besi panas di dada Ayah Seo Noh.


Chae Gyung mengeluarkan selimut untuk alas tidur Yeok. Setelah menyiapkannya ia akan keluar. Yeok heran, keluar kemana?

"Kamarku di gedung yang lain." Jawab Chae Gyung.

"Apa kau mengatakan... kita menggunakan kamar yang berbeda pada malam pertama?"

"Iya. Ibu Suri sudah mengatakannya dengan jelas. Kita hanya tidur bersama pada hari-hari tertentu."

"Kenapa Ibu mengatakan itu?"

"Aku diperiksa oleh tabib setelah menikah, dan dia mengatakan aku perlu minum obat untuk lebih sehat sebelum... Bagaimanapun, terlepas dari itu Kau harus tidur sendiri malam ini."


Yeok memperingatkan, Chae Gyung pasti akan menyesalinya nanti. Chae Gyung pasti akan menendang seprainya. Chae Gyung menjawab, itu akan lebih baik daripada menendang Yeok.

"Chae Gyung. Tidak, istriku."


Chae Gyung selesai menata selimut, Yeok langsung tiduran sambil melipat kaki. Chae Gyung menyuruhnya ganti baju dulu sebelum tidur.

"Kudengar pria menjadi bayi saat mereka menikah. Kau sudah memulainya?"

"Jika dua orang menikah... Kupikir istri harus tinggal dengan suaminya."

"Kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Selamat malam."


Chae Gyung akan pergi tapi yeok menahan tangannya. Yeok memintanya untuk bersamanya malam ini.


Pengasuh tidur di kamar Chae Gyung untuk mengelabuhi para dayang yang mengawasi. Setia banget ini pengasuh, suka dia.. hahaha


Chae Gyung hanya duduk membelakangi Yeok.

"Apa kau akan tetap di sana?"

"Aku sudah mengatakan akan pergi setelah kau tertidur. Jadi cepatlah tidur."


Namun Yeok malah terus memandangnya, Chae Gyung bisa goyah nanti, maka ia akan pergi ke kamarnya tapi Yeok malah menariknya.


Chae Gyung mengingatkan janji Yeok tadi kalau mereka tidak akan tisur bersama.

"Aku tidak mengatakan apapun. Aku akan tidur." Kata Yeok sambil memeluk Chae Gyung.


"Aku tidak tertipu olehnya. Aku menunggunya. Hanya karena dia mengatakan yang sebenarnya sedikit terlambat... Bukan berarti dia bohong."


Setelah Yeok tertisur, Chae Gyung keluar, ia menangis.

"Bagaimana... Mengapa... kau terluka?"


Yung terus menyiksa ayah Seo Noh, keji banget. Im Sa Hong sampai memperingati, takut ayah Seo Noh meninggal sebelum mengaku.

"Aku akan menanyakan untuk terakhir kalinya. Jika kau tidak menjawab sekarang... Aku akan membunuh anakmu. Kau akan memberitahuku?"

"Yang Mulia. Tolong... jangan ganggu anak saya. Anak saya... sungguh tidak tahu apa-apa. Hanya karena... Kejahatan yang dia lakukan saat kecil. Dia berada di sisi pangeran... karena dia merasa berhutang budi kepadanya. Yang Mulia. Saya... akan menceritakan semuanya."

"Iya. Begitulah seharusnya seorang Ayah. Inilah yang harus dilakukan seorang Ayah. Ayah melakukan sesuatu untuk menyelamatkan anaknya. Beginilah seorang Ayah. Tapi kenapa Ayahku... sangat dingin? Mengapa Ayahku... meninggalkan dokumen rahasia untuk menghancurkanku? Mengapa?"


Ayah Seo Noh menjawab, semua itu untuk Joseon. Raja sendiri tidak bisa memimpin rakyat dan negara. Jadi mendiang Raja mengatakan, orang yang memiliki dukungan dari menteri harus menjadi Raja. Mendiang Raja tidak membuat keputusan sebagai Ayah, tapi dia melakukannya sebagai Raja negeri ini.

"Hentikan omong kosongmu!"

"Dokumen rahasia... Dokumen rahasianya... ditato di tubuh seorang wanita."

"Wanita? Ditato di tubuh seorang wanita? Siapa wanita itu?"

"Silahkan periksa wanita... disekitar almarhum Raja. Saya tidak tahu apa-apa lagi."

"Baik. Aku akan mempercayaimu. Tapi... Tidak ada orang lain yang boleh tahu tentang ini. Jadi... Kau harus lenyap."

Yung menghunus pedang lalu menancapkannya ke tubuh Ayah Seo Noh. Tapi ayah Seo Noh masih bisa berkata, "Ini sebabnya... Anda tidak boleh menjadi Raja..."


Dalam perjalanan kembali, Yung mengingat perbedaan perlakuan Ayahnya padanya dan pada Yeok.


Di sebuah desa yang ia lewati, ia melihat anak-anak bermain dengan riang dengan ayah-ayah mereka.

"Besok aku akan berburu disini. Bersihkan seluruh desa dengan segera dan buat tempat berburu. Hancurkan semuanya. Apapun. SEMUANYAAAAAA!" Perintah Yung.


Rapat pagi ini membahas permintaan rakyat untuk menghukum atas perlakuan Wakil Menteri Pertahanan, Yoo Ja Gwang. Orang-orang mengatakan Tuan Yoo memeras abalon dan tiram dari nelayan untuk kepentingan pribadinya. Tuan Yoo membela diri, itu semua untuk Yung karena makanan itu adalah kesukaan Yung.

"Aku tidak... ingat kalau aku pernah suka itu."

"Yang Mulia. Saya melakukannya karena kesetiaan..."

"Penasihat Negara Kedua. Apa nama kejahatannya dan apa hukumannya?"

Tuan Shin menjawab, semua itu dianggap sebagai penyuapan. Jadi gelar Tuan Yoo bisa dilepas dan mungkin diasingkan atau dicambuk.


Yung memberi pilihan, Tuan Yoo maunya dicambuk atau diasingkan?

"Yang Mulia. Saya adalah Yoo Ja Gwang. Bagaimana Anda bisa menghukum saya?"

"Apa kau memilih keduanya?"

"Saya akan pilih diasingkan." Akhirnya Tuan Yoo memilih.

"Aku sangat lelah hari ini. Aku tidak akan menghadiri pertemuan."


Tuan Shin bertanya pada salah satu menteri, apa menteri itu menulis surat banding untuk menghukum Tuan Yoo?

"Aku menulisnya sebagai perwakilan dari menteri lainnya yang merasakan hal yang sama." Jawab menteri itu.

"Aku tahu itu. Yang ingin aku ketahui, bagaimana kau bisa tahu semua rincian kesalahannya?"

"Istri siput adalah orang pertama yang memberitahuku. Tapi inspektur dan aku juga melakukan penyelidikan."


Yeok menandai nama Yoo Ja Gwang di skema pemberontakannya.


Menteri tadi menjelaskan, "Pengumumannya yang ditempel di dinding, mengungkapkan korupsi yang disebabkan oleh para menteri dan orang-orang kaya. Orang-orang percaya apapun yang dikatakan istri siput itu. Itu karena istri siput menyelamatkan mereka dengan membagikan beras selama mereka kelaparan, sementara Raja dan para menteri tidak melakukan apapun untuk membantu mereka."

Tuan Shin mengerti dan menteri itu pun pergi.


Kemudian Im Sa Hong mengajaknya bicara, "Munculnya istri siput bertepatan dengan waktu Pangeran Jin Seong datang ke Ibukota. Kau tidak tahu tentang ini?"

"Ya, aku tahu. Aku tahu betul kau mencoba untuk membuatnya dihukum oleh Raja dan menjadi seperti penjahat. Tolong... perhatikan sikapmu."


Tuan Shin menemui Ratu. Tuan Shin menyangkal bahwa Yeok ada bersama Istri Siput, tidak mungkin dan tidak boleh.

"Tapi kau tidak bisa begitu saja mengabaikannya. Saat ini, mereka hanyalah penyelamat rakyat. Tapi bagaimana jika Pangeran Jin Seong bersama mereka?" Jawaban Ratu.

"Bagaimanapun, Yang Mulia. Jangan sedih atau senang. Tenang saja. Aku akan menyelidiki istri siput dan berjaga-jaga."


Chae Gyung memegang sebuah kunci, kunci itu adalah pemberian Yeok dihari pernikahannya.

"Menurutku, pegadaian itu mencurigakan. Apa kau tidak mau tahu pa yang Yeok sembunyikan? Setelah kau menemukannya, datanglah ke kebun belakang diistana."


Pengasuh datang, menanyakan soal semalam tapi dari ekspresi Chae Gyung, ia langsung tahu bahwa semalam mereka tidak melakukannya, ia kesal jadinya.

"Aku sudah mengatakan. Tidak akan ada yang terjadi
sementara waktu ini. Ibu Suri juga menyuruhku untuk tidak melakukannya."

"Itu tidak masuk akal. Jika kau sudah menikah, itu adalah sesuatu yang harus kau lakukan. Agasshi, itu juga terserah padamu. Kau juga harus berusaha."

"Aku tidak bisa melakukan itu."

"Tentu saja kau bisa. Pertama-tama, siapkan meja berisi minuman. Lalu katakan, "Apa kau di rumah malam ini, suamiku?" dan kau menatapnya dengan mata seksi. Kemudian kau membuatnya dia meminum itu. Itu akan bekerja. Setelah itu... Kau bertanya siapa cinta pertamanya dan jumlah mantannya sebelummu. Katakan kau baik-baik saja, dan dia akan membicarakan semua masa lalunya karena dia sedang mabuk. Itulah saatnya kau membersihkan masa lalunya dan mengambil inisiatif dalam hubungan ini."


Chae Gyung mendapat ide, ia meminta pengasuh memberinya semua minuman yang mereka punya.

"Apa? Semuanya? Jika dia minum terlalu banyak, dia tidak bisa berbuat apa-apa."

"Ya, agar dia tidak bisa berbuat apa-apa. Beri aku beberapa minuman keras untuk memabukkannya dengan cepat."

"Cepat?"


Seseorang mengetuk pintu pegadaian saat semua senya sedang rapat. Seo Noh mengintip ke luar, lalu mengkode semuanya untuk sembunyi dan beres-beres.


Yang datang adalah Chae Gyung membawa dua gentong minuman. Chae Gyung mengajak semuanya untuk minum bersama.


Yeok keluar dan Chae Gyung masih memanggilnya Pangeran. Suk Hee dan Gwang Oh menyinggungnya, harusnya Chae Gyung sudah menanggalkan panggilan itu.

"Tidak mudah untuk memanggil... suamiku... dalam waktu singkat." Jawab Chae Gyung.

Semua menahan tawa mendengarnya, apalagi saat Yeok memanggil Chae Gyung "istriku". Kemudaian Suk Hee dan Gwang Oh memperkenalkan diri dengan benar.


gentong pertama sudah habis. Chae Gyung pun mengeluarkan gentong kedua, katnya itu adalah favorit Mendiang Raja, Anggur Merah dari Pulau Jin. Suk Hee dan Gwang Oh sangat senang mendapat semua itu.

Yeok membisiki Chae Gyung, apa Chae Gyung disana untuk mengomelinya karena selau pulang terlambat?

"Aku di sini bukan untuk mengomel. Kau sudah bekerja keras, jadi aku datang untuk menunjukkan dukunganku." Jawab Chae Gyung.


Seo Noh tidak minum lagi karena sudah terlihat akan mabuk tapi Chae Gyung memaksanya minum bersama dengannya juga Yeok.

Ternyata Chae Gyung cuma pura-pura, ia tidak minum sama sekali. "Aku hanya ingin melihat-lihat. Lalu aku dengan yakin akan mengatakan pada Yang Mulia bahwa tidak ada apa-apa di sini dan dia tidak perlu khawatir."


Yung juga sedang minum-minum ditemani Nok Sook. Ia bertanya pada Nok Soo, apa mereka sedang bersama, tapi Yung yakin mereka bersama karena sudah menikah.

"Itu berarti.. inilah awal.. dari kemalangan mereka. Pasangan suami-istri.. yang tidak akan bisa bahagia. Mereka akan selalu curiga.. cemburu.. dan saling membenci."

Kilas Balik...


Ratu (Ibu Yung) gelisah di depan kamar Raja, lalu Yung kecil datang. Ratu ingin Yung pura-pura sakit, Yung mengalami mimpi buruk dan hidungnya berdarah setiap malam jadi itu sebabnya Ratu mengantarnya pada Raja. Namun sesungguhnya Yung itu baik-baik saja.


Mereka menerobos masuk saat Raja sedang bersama Ibunya Yeok. Ratu mengatakan kalau Yung sedang sakit dan membutuhkan ayahnya.

"Bukan berarti... Kau boleh menerobos masuk ke kamarku. Silahkan pergi." Jawab Raja.

"Jika aku tidak datang seperti ini... maka sangat sulit untuk menemuimu. Aku tahu kau sibuk dengan urusan negara... Tapi sebaiknya kau mengurus keluargamu terlebih dahulu."


Ibu Yeok mendekati Yung, memeriksa keadaan Yung, tapi Ratu menepis tangannya.

"Ratu." Tegur Ibu Yeok.

"Iya. Aku adalah Ibu Putera Mahkota dan Ratu negeri ini. Jadi, keluar. Ini bukan tempat untukmu."

Kilas Balik Selesai...


Pada saat itu, Yung malu dan membenci ibunya karena menerobos kamar ayahnya menggunakan dirinya sebagai alasan. Tapi... ia paham sekarang, ibunyah anyalah manusia biasa. Ibunya hanya ingin dicintai oleh kekasihnya. Sebelum ibunya menjadi Ratu negeri ini, dia hanya seorang wanita yang ingin hidup sebagai istri seseorang.

"Yang Mulia." Nok Soo berkaca-kaca.

"Itulah mengapa... aku penasaran. Apa aku... ingin hidup sebagai Raja? Atau... Apa aku ingin hidup... sebagai suami seseorang?"

"Yang Mulia."


Im Sa Hong masuk, membawa wanita-wanita istana yang melayani kebutuhan Mendiang Raja. Setelahnya, Im Sa Hong keluar. Nok Soo menyuruh para dayang untuk mencopot baju mereka semua.

Yung mendekati mereka satu-satu dan menemukan satu yang a sebit mirip dengan "dia", baik hidungnya, pipinya dan hidungnya.

Nok Soo mengingatkan, tujuan mereka adalah untuk menemukan dokumen rahasia tersebut. Namun Yung malah meminta wanita itu untuk menghabiskan malam bersamanya. Nok Soo jelas cemburu tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Yung menarik wanita itu untuk mendekatinya. Ia lalu berbering dipangkuan wanita itu.

"Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu."


Minuman yang dibawa Chae Gyung sudah habis, dan semuanya sudah mabuk berat. Chae Gyung bilang masih ada minuman dirumahnya, ia akan mengambilnya tapi saat berdiri, ia hendak jatuh.

Yeok menolongnya, dan ia menggantikan Chae Gyung keluar untuk membeli minuman.


Chae Gyung hanya pura-pura, ia masih sadar 100%. Dan setelah Yeok pergi dan memastikan semuanya mabuk, ia mulai keliling melihat-lihat.


Yeok melewati pasar dan ia melihat ada penjual jepit rambut. Ia mendekatinya.


Chae Gyung memeriksa setiap sudut dinding pegadaian itu karena rasa penasarannya akibat omongan Yung. Namun ia tersadar,

"Apa yang aku lakukan? Kenapa aku bertingkah seperti pencuri? Seharusnya aku tidak melakukan ini. Aku tidak boleh begini. Aku mengatakan akan mempercayainya."


Chae Gyung akan berlari keluar dan ternyata Yeok ada di depan pintu, kemungkinan besar mendengar kata-katanya tadi.


Yeok meletakkan minuman yang ia bawa lalu melangkah maju dan memeluk Chae Gyung. Chae Gyung meluapkan airmatanya.

"Bisakah kita... pindah ke Geochang dan tinggal di sana? Mari kita pergi ke Geochang... bertani... dan hidup sederhana."

"Iya. Mari kita lakukan itu."


Chae Gyung pulang dan ia langsung mandi.


Myung Hye datang ke pegadaian, di luar ada mayat dan membuatnya berteriak terkejut. Suk Hee, Gwang Oh dan Seo Noh terbangun lalu keluar untuk memeriksa.


Seo Noh membuka tutup mayat itu. Ternyata itu adalah ayahnya.

"Ayah... Ayah... Ayah." tangisnya.


Yeok kepikiran ayah Seo Noh juga.

Kilas Balik...


Saat Ayah Seo Noh datang, Yeok mengajaknya masuk. Ia bertanya apa yang terjadi dan kenapa ayah Seo Noh tidak menghubungi mereka sama sekali. Apa karena dokumen rahasia?

"Sekarang Anda sudah tahu? Iya. Dokumen rahasia.... kemauan mendiang Raja. Tidak. Tepatnya, itu bukan kemauannya. Itu adalah perintah rahasianya. Itu ditulis ditahun Anda lahir... dan beliau memerintahkan agar dirahasiakan. Sehingga Anda bisa melihatnya setelah dewasa. Dan juga... Itu akan memberi Anda kekuatan yang Anda butuhkan."

"Dokumen rahasia itu... dimana dia?"

Kilas Balik Selesai...


Chae Gyung melanjutkan mandinya, diperlihatkan kembali tato yang ia dapatkan saat bertemu mendiang Raja.

Suara Ayah Seo Noh: Lokasi surat itu ditulis dengan tinta di tubuh seorang wanita. Wanita itu... (Chae Gyung?)


Chae Gyung masuk ke kamar Yeok, malam ini ia akan tidur disana, ia akan merahasiakannya dari Ibu Suri. Chae Gyung lalu memeluk Yeok.


Namun semua itu terganggu, Suk Hee memanggil Yeok dari luar. Yeok terkejut, lalu mendekatinya karena nanti semuanya bisa bangun.

"Ayah Seo Noh sudah meninggal." Kata Suk Hee.

"Apa?"

"Kami menemukan jasadnya. Di luar pegadaian."


Yeok langsung berlari, namun ia teringat Chae Gyung. Akhirnya ia berbalik, "Ada sesuatu yang terjadi di pegadaian. Aku tidak akan lama. Aku akan segera kembali."

Tanpa menunggu jawaban Chae Gyung, Yeok langsung melesat.


Kasim Song terbangun dan keluar. Melihat ada Chae Gyung di luar, ia pun bertanya apa yang terjadi.

"Tidak ada apa-apa." Jawab Chae Gyung sambil tersenyum.


Chae Gyung kembali masuk ke dalam. Ia jongkokdisana sampai ketiduran dan sampai matahari terbit, Yeok belum juga kembali.


Semalam mereka menguburkan ayah Seo Noh dan pagi ini mereka melakukan upacara pemakaman. Seo Noh tak berhenti menangis saat memberi penghormatan terakhir untuk ayahnya.


Ia teringat saat ayahnya memberinya baju dan pertemuan singkat mereka kemarin. Juga teringat surat peninggalan ayahnya.


Semua turut bersedih melihat Seo Noh. Yeok yang laing dekat dengan Seo Noh memegang pundaknya untuk menguatkan.


Chae Gyung nekat mendatangi Pegadaian dan ia terkejut melihat darah berceceran di tangga masuk. Chae Gyung mengetuk pintu pegadaian tapi tidak ada jawaban dan pintunya digembok dari luar.

Lalu ia membeli palu dan ia gunakan palu itu untuk merusak gemboknya. Setelah pintu terbuka, Chae Gyung menyusuri ceceran darah di lantai.


Sampai akhirnya berakhir di dinding pintu. Chae Gyung mendorong dinding itu dan terbukalah pintunya. Ia turun ke ruang rahasia. Kata-kata Yung kembali terdengar jelas ditelinganya.

"Yeok bertekad menjadi pengkhianat. Semua yang dia lakukan merupakan skema pengkhianatan."


Sampai akhirnya Chae Gyung melihat tirai penutup skeman penghianatan Yeok.


Yeok meminta maaf pada Seo Noh, maaf karena gagal melindungi ayah Seo Noh.

"Kalau begitu... Jadilah Raja secepat mungkin. Jika Anda menjadi Raja... Anda bisa melindungi kita semua. Pastikan bahwa... tidak ada lagi... orang tak berdosa... seperti Ayahku, yang harus mati."

Mendengarnya, tentu saja tekad Yeok untuk memberontak semakin kuat.



Chae Gyung terkejut melihat skema itu, apalagi namanya dan ayahnya juga ada disana. Chae Gyung menangis ketakutan. Ia teringat kata-kata Yeok,

"Ini belum terlambat. Ini kesempatan terakhirmu. Jika kau takut, jika kau menyesali keputusanmu... Kau bisa berhenti sekarang."

5 komentar

Kadang aku pikir chae gyung berpihak pada yung...knapa ya??? Pdhal yung bukan raja yg baik..

Tapi seprtinya disini yang jaht adalah yeok

iya nih aku jadinya sebel! kenapa juga yung kayak benci bgt sama yeok

Lucu banget si bibi ya...😂
Moment paling saya suka pas chae kyung sama yeok mengelilingi kasur itu..chae kyung nendang2 kasur kaya kesel gitu...hihi...pasangan yg lucu...

Sebenernya Nok Soo itu siapanya raja? Aku masih gak ngerti posisi dia itu apa, selir atau apa?

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon