Friday, July 14, 2017

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 13 Part 2

Sinopsis Queen For Seven Days Episode 13 Part 2

Sumber Gambar: KBS2


Tuan Shin diundang oleh Ibu Suri ke kediamannya. Ratu khawatir karena kecurigaan Raja makin bertambah.

"Mereka mengatakan kecurigaan adalah salah satu kebajikan Raja. Jika Pangeran benar, kecurigaannya akan berakhir."

"Apa kau juga mencurigai Pangeran Jin Seong?"

"Cara dia---"

"Apa kau menyelidikinya.. karena tidak bisa mempercayainya?"

"Bukan begitu... Apa maksud Anda, saya sedang menyelidikinya? Satu-satunya hal yang saya selidiki adalah istri siput. Mengapa Anda khawatir tentang itu? Apa ada hubungan antara Pangeran Jin Seong dan apa yang sedang saya selidiki?"

"Bagaimana aku bisa tahu apa yang sedang kau selidiki? Aku hanya mengatakannya secara spontan."

"Ibu Suri. Saya meminta dengan sungguh-sungguh. Tolong pikirkan tentang kebahagiaan anak-anak kita."

"Apa kau mengatakan.. aku membuat mereka menderita?"

"Bukankah Anda yang mengatakan Chae Gyung dan Pangeran Jin Seong sudah ditakdirkan? Memikirkan itu lagi sekarang.. Mendiang Raja juga ingin mereka menikah. Sepertinya nasib mereka sudah dimulai sejak lama. Mereka mengatakan itu adalah takdir karena peristiwa yang harus terjadi akan tetap terjadi. Bagaimana kalau kita membiarkan mereka menjalani hidupnya?"


Yeok dan Chae Gyung tidur bersama. Chae Gyung membuka matanya memandangi wajah Yeok.


Ibu Suri perpikir keras menemukan wanita itu. "Dia pasti seseorang yang akan membantu Yeok karena ini tentang tahta."


Ibu Suri teringat saat Mendiang Raja ingin bertemu dengan Chae Gyung dihari Yeok lahir.

Ibu Suri heran, kenapa ia lupa tentang itu?


Chae Gyung mengeluarkan surat permohonan dari Yung, yang diberikan Yung saat ia pertama bertemu Yung sulu.

Chae Gyung membuka pintu kamarnya, ia meminta dayang memanggil Kasim Song.


Yeok kembali dari membeli obat (?). Bibi pengasuh mengatakan kalau Chae Gyung baru saja keluar. Yeok marah, kenapa Chae Gyung keluar disaan sakit begini?

"Itulah yang aku katakan. Aigoo. Dia mengatakan pergi ke istana."

"Istana?"

"Dia mengatakan akan menemui Yang Mulia. Dia pergi bersama Kasim Song."

Yeok langsung berlari ke Istana.


Chae Gyung membawa surat permohonan itu. Sampai di istanana, ia menuju ke perpustakaan. Kasim Song meninggalkannya untuk memberitahu raja.

Chae Gyung mengeluarkan kunci pemberian Yung, ia membuka pintu perpustakaan.


Yung sedang minum-minum, Kepala Kasim memberitahukan bahwa Yung punya waktu dua jam sebelum rapat Istana.

"Kepala Kasim. Aku sedang tidak ingin duduk dan mendengarkan orang-orang tua itu mengomel. Bagaimana jika kau yang menghadiri rapat di Istanaku? Kau bisa menggunakan segel kerajaan dan duduk di atas takhta."

"Yang Mulia, tolong jangan katakan itu. Saya mohon belas kasihan Anda."

Kasim Song memanggil dari luar, Yung langsung berpikir Chae Gyung ada disana, matanya berbinar.


Yung bergegas menemui Chae Gyung di perpustakaan. Yung terlihat sangat bahagia melihat Chae Gyung. Tapi Chae Gyung takut tatkala mengingat saat Yung memenggal dus menteri tempo hari, namun Chae Gyung tetap berusaha bersikap seperti biasa.

"Yang Mulia. Apa Anda baik-baik saja?"

"Kau akhirnya tiba."

"Apa Anda menunggu saya? Jika Anda ingin saya datang, Anda seharusnya mengirim surat. Sejak kapan Anda..."

"Sejak kapan? Apa kau bertanya tentang pertemuan ini? atau kau bertanya berapa lama aku menunggumu? Sudah lama. Sudah lama sekali."

"Yang Mulia. Anda meminta pada saya.. untuk mencari informasi lebih lanjut tentang pegadaian."

"Iya. Apa yang kau lihat di sana?"


Chae Gyung berbohong, ia tidak melihat apapun yang aneh. Tapi sebelum saya menerima perintah kerajaan Yung, ia tersadar kalau melupakan sesuatu yang sangat penting. Ia sadar harus bertanya lebih banyak dan mendengar jawabannya.

"Apa yang ingin kau ketahui?"

"Sejak kapan... Anda curiga terhadap Pangeran?"

"Sejak saat dia kembali."

"Mengapa?"

"Karena dia kembali untuk membalas dendam padaku dan mengambil tahtaku. Dia percaya bahwa aku yang mencoba membunuhnya."


Yeok sampai ke istana, ia menuju kamar Yung tapi Yung. Ia bertanya pada dayang, dimana Yung sekarang.


Chae Gyung bertanya, apa Yung sungguh memerintah orang untuk membunuh Yeok? Yung membenarkan, ia membunuh Yeok. Ia tidak melakukannya sendiri, tapi setiap malam.. ia menusuk dada Yeok dalam mimpinya. Ia berharap siapapun akan melangkah dan membunuh Yeok untuknya.

"Tetapi tetap saja.. Anda tidak membunuhnya."

"Tidak. Jika aku punya alasan dan kesempatan, aku akan membunuhnya sendiri."

"Apa ada cara.. supaya kalian berdua bisa mengatasi kesalahpahaman dan saling berdamai? Ini mungkin kesempatan terakhir untuk mengembalikan semuanya."

"Jika begitu.. kau akan melakukannya juga. Jika kami menyelesaikan masa lalu dan berdamai kau akan memaafkannya dan baik-baik saja dengannya."

"Yang Mulia."


Yung: Kau akhirnya mulai mencurigainya. Hubunganmu akhirnya mulai rusak. Aku tidak mau melihat kalian berdua hidup bahagia lagi.

Chae Gyung: Yang Mulia, apa yang Anda---

Yung: Apa kau tidak mengerti?! Yang penting sekarang bagi kami bukan berdamai. Yang lebih penting adalah kau dan Yeok saling membenci, tidak saling menyukai, dan berpisah. Dengan begitu... Dengan begitu...

Chae Gyung: (meneteskan airmata, mengetahui perasaan Yung)


Chae Gyung berlutut, ia memberikan surat permohonan pemberian Yung itu,  "Yang Mulia, Anda pernah berjanji kepada saya akan mengabulkan satu keinginan saya. Apa Anda masih ingat? Ketika saya mencoba menggunakan ini sebelumnya, Anda mengatakan saya harus menggunakannya nanti dan menghentikan saya untuk menggunakannya. Kali ini.. Saya ingin dikabulkan.


Yeok sampai ke depan perpustakaan tapi Kasim Song menghentikannya. Yeok memelototinya dan kasim Song pun menyingkir. Tapi Yeok tidak langsung masuk, ia mendengarkan percakapan mereka.


"Tolong beri Pangeran dan saya izin untuk mengundurkan diri dan tinggal di pedesaan. Saya tahu betul ini melanggar hukum karena.. seorang pangeran tinggal di luar ibu kota. Itu sebabnya saya meminta izin Anda. Kami akan menjalani kehidupan biasa di pedesaan yang jauh dari kota ini. Saya percaya.. ini satu-satunya cara Anda bisa berhenti meragukannya.. dan bagi kita semua untuk hidup damai."

"Apa kau dan Yeok yang mendiskusikan ini?"

"Iya."

"Tidak mungkin. Dia tidak akan mengundurkan diri ke pedesaan. Tidak akan. Setelah dia tahu surat rahasia itu bahkan pada hari pernikahannya."

"Surat rahasia?"

"Surat rahasia almarhum Ayahku yang memberitahuku untuk memberi Yeok takhta saat dia dewasa."

"Dimana tempat surat rahasia itu?"

Yung tertawa, mendiang Raja rupanya mentatokan itu i tubuh wanita.


Yung menghunus pedangnya dan Yeok mendengar suara itu. Chae Gyung langsung menundukkan kepala ketakutan, ditambah Yung meletakkan pedang itu di lehernya. Yung meminta Chae Gyung menjawab pertanyaannya, apa yang Chae Gyung lihat di pegadaian? APa Chae Gyung menemukan bukti penghianatan?

"Saya tidak mengerti apa yang sedang Anda bicarakan."

"Jika tidak, mengapa kau berjalan keluar pegadaian dengan linglung?"

"Apa Anda... melihat saya?"

Yung semakin mendekatkan pedangnya ke leher Chae Gyung, "Katakan padaku."

Yeok tidak tahan lagi, ia menerobos masuk, "Saya akan memberitahu Anda."


Yeok menjauhkan pedang itu dari Chae Gyung dengan tangannya sendiri. Yeok menatap tajam Yung sebelum melepaskan pedangnya.


Yeok lalu membantu Chae Gyung berdiri, Chae Gyung melotot melihat tangan Yeok berdarah. Yung kalap, ia menyabetkan pedangnya ke arah Yeok, Chae Gyung tahu, jadi ia melindungi Yeok dengan tangannya.

Yung shock melihat tangan Chae Gyung terluka karena dirinya, ia tidak mampu lagi memegang pedangnya, otomatis pedang itu jatuh.

Yung akan mendekati Chae Gyung tapi Yeok melarangnya.
"Dia istriku!" Tegas Yeok.


Chae Gyung memecah ketegangan, meminta mereka berdua berhenti.

Yeok akan membatu Chae Gyung tapi Chae Gyung menolaknya. Yeok tidak peduli, ia langsung menggendong Chae Gyung.

Yung masih shock, tak percaya ia melukai Chae Gyung dengan tangannya sendiri.


Yeok melarang Chae Gyung mendatangi Yung seorang diri, sangat berbahaya.

"Bukankah ancamanmu lebih besar daripada aku? Bagaimana jika kau terjebak dan jatuh?"

"Lalu pegang erat-erat. Apapun yang terjadi.. Jangan lepaskan aku."


Yung tidak bisa lupa apa yang ia lakukan tadi. Nok Soo menghampiri, mengatakan kalau ia sudah mengumpulkan beberapa wanita di ruang hiburan, apa Yung mau melihatnya?

"Kau pilih saja."

"Iya."

"Tidak. Ada seorang wanita yang ingin aku temui. Dia sering mengunjungi Ibu Suri. Dia kenal dengan Yeok."

"Keponakan Wakil Komandan?"

"Mereka adalah Mertua Ayahku. Dia lah salah satu wanita almarhum Raja."

"Iya. Saya akan menyuruhnya datang."


Bibi pengasuh terkejut melihat Chae Gyung pulang dengan tangan terluka. Ia refleks memarahi Yeok. Chae Gyung menegurnya.

"Saya hanya kesal saja. Saya minta maaf."

Lalu Bibi pengasuh mengajak Chae Gyung masuk. Yeok sebenarnya juga terluka tapi ia menyembunyikannya.


Bibi pengasuh mengobati luka Chae Gyung sambil menggerutu, "Bagaimana ini bisa terjadi? Aku sangat kecewa. Aku tidak tahu apa yang kalian berdua lakukan ini bukanlah, apa yang seharusnya dilakukan oleh pengantin baru. Kau akan menyusahkanku."

Bibi selesai, lalu keluar agar Chae Gyung bisa istirahat.


Chae Gyung memastikan tidak ada siapapun di luar, lalu ia membuka bajunya dan melihat tatonya lagi. Chae Gyung sepertinya menyadari sesuatu.


Myung Hye datang menemui Raja. Raja lalu menyuruh semuanya (para wanita yang diperiksa) keluar termasuk Nok Soo.

Yung langsung menodong Myung Hye dengan pedangnya. Apa Myung Hye tahu apa yang terjadi hari ini karenanya? Karena Yeok, Chae Gyung terluka. Sekarang.. Myung Hye harus membayar untuk menyelamatkan hidupnya. Yung lalu menyayat lengan Myung Hye, sama seperti yang ia lakukan pada Chae Gyung.


"Jawab pertanyaanku satu persatu. Jika tidak, aku akan memotong pakaianmu satu per satu. Bila pakaiannya sudah habis, badanmu akan terlihat. Lalu... Kita akan tahu akhirnya."

"Yang Mulia."

"Siapa yang memimpin istri siput?"

"Siapa itu istri siput?"

Yung memotong tali baju Myung Hye dan melepas bajunya dengan pedang.

"Aku bertanya siapa yang memimpin istri siput. Apa Pangeran Jin Seong?"

"Saya tidak tahu."


Yung langsung menyayat rok Myung Hye, ia tak peduli dengan tubuh telanjang Myung Hye. Jika Myung Hye terus begini, ia mungkin tidak punya pilihan. Mereka mungkin menjadi sangat dekat malam ini, bukankah begitu?

"Kau tahu mengapa.. aku belum membunuh Yeok? Karena itu menyenangkan. Dia gemetar, tidak tahu kapan dia akan mati,namun agar bisa bertahan hidup dia memakai topeng dan berpura-pura. Aku merasa lucu. Di mana lagi aku bisa melihat tontonan seperti ini? Kau telah menghiburku. Aku akan memperlakukanmu dengan hormat saat kau mati. Kau akan disiksa, dibakar dengan batang besi. Anggota badanmu akan pisah dari tubuhmu dan kau akan digantung di luar tembok istana untuk mangsa hewan liar."

Myung Hye menangis.


Myung Hye pulang dan ia meringis memegangi tangannya yang terluka. Chae Gyung menyadari sesuatu. Ia lalu mengemas beberapa baju.


Chae Gyung keluar diam-diam, ke pohon suci tempat berdoa.

"Apa ini pohon suci yang dibicarakan orang-orang?" Tanya Chae Gyung.

"Iya. Pohon inini mengusir kejahatan dan kebencian. Pohon ini sudah berusia lebih dari 200 tahun. Raja sebelumnya bahkan dimakamkan disini."


Chae Gyung berjalan mendekati pohon itu.

"Mengapa Anda memberi saya tugas berat seperti ini? Bagaimana Anda bisa meminta saya untuk memilih... siapa yang harus menjadi Raja?"
Chae Gyung menggali kuburan Raja dan ia menemukan surat rahasianya.

"Saya hanya seorang wanita yang ingin menjalani kehidupan biasa."


Ibu Suri berkunjung ke rumah Yeok, ia masuk dengan seorang budak.

"Kau tidak peduli dengan keamanan? Wanita ini mengintip di dinding dan tidak ada yang menghentikannya."


(Ini Sandiwara)! Dia adalah Myung Hye yang sedang menyamar. Chae Gyung mengenali Myung Hye sebagai gadis yang dipejara bersamanya waktu itu. Chae Gyung pun menghentikan hukuman yang akan dijatuhkan pada Myung Hye.

"Dia bekerja dengan saya saat saya tinggal di Geochang. Saya yang memanggilnya." Jelas Chae Gyung.

"Kalau begitu... berarti aku salah. Banyak hal yang terjadi baru-baru ini. Kau harus berhati-hati."

Chae Gyung membantu Myung Hye berdiri lalu ia memasrahkannya pada Bibi pengasuh.

Chae Gyung selanjutnya mempertanyakan tujuan Ibu Suri kesana pagi-pagi.

"Kita harus mendiskusikan tentang pernikahan." Jawab Ibu Suri.


Ibu Suri kembali membawa tabib kerajaan untuk memeriksa Chae Gyung.


Myung Hye menjelaskan, ia bertemu dengan Chae Gyung dipenjara dan Myung Hye sangat senang karena Chae Gyung mengingatnya.

"Ingatan dia hilang saat membutuhkannya dan dia ingat saat-saat terburuknya. Sangat hebat."

"Apa kau mengizinkan orang-orang untuk bekerja membuat makanan dan menginap? Aku butuh tempat tinggal juga."

"Bagaimana kami bisa menerima seseorang yang dulu sering dipenjara?"

"Aku mencoba untuk memulai lagi dari awal. Tolong bantu aku."

"Aku tidak percaya kau menargetkan wanita kesayangan kami karena baiknya dia. Aku sedang berbicara dengan diriku sendiri."


Ibu Suri memberikan surat untuk Chae Gyung, karena Chae Gyung sudah pulih, ia sudah menyiapkan tanggalnya. Chae Gyung membatin, apa Ibu Suri juga sudah tahu tantang wanita dengan surat rahasia itu?

"Apa Yeok sedang keluar?" Tanya Ibu Suri.

"Iya. Dia berangkat pagi ini karena ada urusan."

"Aku mengerti. Dia sangat menyukai teman-temannya dan sering pergi keluar. Kudengar itu mengganggumu. Begitu kau punya anak, dia akan meluangkan lebih banyak waktu di rumah. Lakukan apapun yang kau bisa. Aku ingin cucu yang mirip dengan Yeok."

"Tentu saja.. Ibu Suri."

"Ho hoh. Kita adalah keluarga. Kau tidak bisa terus memanggilku begitu."

"Iya.. Ibu."


Myung Hye diam-diam masuk kamar Chae Gyung-Yeok. Ia membawa lap dan ember air, tapi tujuan sebenarnya adalah untuk menggeledah isi kamar itu.


Chae Gyung membuka pintu kamar dan ia melihat Myung Hye mengelap laci. Bibi pengasuh sudah memberitahunya kalau Myung Hye meminta pekerjaan.


Chae Gyung mendekati Myung Hye hendak menyapa, ia sudah tersenyum tapi berubah menjadi terkejut tatkala melihat Myung Hye dari samping. Ia teringat siapa Myung Hye.

"Kenapa kau..." Batin Chae Gyung.

Chae Gyung akan kembali ke luar tapi Myung Hye memanggilnya. 

"Agasshi. Tolong biarkan saya bekerja di sini. Saya ingin melayani Anda."

Batin Chae Gyung: Untuk mendapatkan surat rahasia itu dariku, semua orang.. sudah mulai menipuku.

Yeok masuk dan ia terkejut melihat Myung Hye ada disana.

Myung Hye: Salam, Pangeran. (seolah ia baru pertamaa bertemu Yeok)


Komentar:

Cepet benget mereka mengetahui soal wanita surat rahasia. Tapi untunglah Chae Gyung juga cepat menyadari jadi ia bisa lebih waspada. Chae Gyung pinter baget, sangat. Chae Gyung sekarang mengambil resiko besar karena dialah satu-satunya orang yang tahu dimana SUrat rahasia itu.

Kasihan Chae Gyung juga yang harus 'dibagunkan' paksa dari kepolosannya dengan melihat kekejaman Yung dan rencana pemberontakan Yeok. Memang sih, ini akan segera terjadi, tapi gak nyangka bisa terjadi sekaligus. Salut dengan Chae Gyung yang mencaritahu dulu alasan kenapa Yeok harus menjadi Raja, lalu melihat sebenarnya Yung itu Raja yang seperti apa.

Sedih juga melihat Yeok merasa sangat sedih saat melihat perubahan Chae Gyung. Jadi megerti kenapa Yeok merasa egois dengan tetap ingin bersama Chae Gyung, karena dia tahu saat ini akan tiba, dan dia akan menjadi alasan kenapa Chae Gyung berubah dan membawa beban dihati Chae Gyung.

Myung Hye ini akan jadi perenggang hubungan Chae Gyung Yeok deh kalau bener-bener jadi tinggal sana, apalagi kalau Yeok yang memberikan ijin soalnya Chae Gyung sudah mencurigai Myung Hye sebagai kekasih Yeok. Tapi, kita harus tetap percaya pada cople kita satu ini, mereka bisa bertahan terhadap semua kesalahpahaman hingga sampai sejauh ini. Rumah itu jadi semakin menakutkan dengan kehadiran Myung Hye. Sudah cukup dengan semua orang-orang istana yang mencurigai setiap gerak mereka untuk dilaporkan pada Raja. Pasti stress banget tinggal disana.

Yung sadar gak ya kalau hati Chae Gyung tidak otomatis beralih padanya jika dia berhasil membuka topeng Yeok. Tapi sedih juga sih saat Yung mengungkapkan pemikirannya pada Chae Gyung, patah hatinya terasa begitu nyata saat ia berdiri di depan Chae Gyung, namun terlalu takut untuk mengakui bahwa ia menginginkan cinta Chae Gyung, atau tidak bisa ke sisi Chae Gyung dengan yakin seperti Yeok. Yung sepertinya tidak punya pikiran kalau Chae Gyung mungkin sangat mencintai Yeok hingga cukup untuk mempercayai Yeok tidak peduli apapun, karena cinta Chae Gyung pada Yeok bukan cinta yang selama ini ia ketahui. Hanya bisa membayangkan bagaimana kecemburuan Yung akan bertumbuh saat tahu gigihnya cinta keduanya.

3 komentar

Ough.... mba diana unch bgt deh komennya and i agree with u :-) btw ko kmrn sinopsisnya lm bgt y d post nya?

Seru bngt, gg sabr bca ep 14 ny smngt eonni

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon