Tuesday, July 18, 2017

Sinopsis School 2017 Episode 1 Part 2

Sinopsis School 2017 Episode 1 Part 2

Sumber Gambar: KBS2


Dalam perjalanan pulang, Dae Hwi memandangi uang pemberian Ibu Hee Chan tadi. Setelahnya ia melamun menatap keluar.


Dae Hwi sampai di rumah. Ibunya menjalankan bisnos salon kecil-kecilan dan sekarang Ibunya sedang minum dengan teman-temannya.

Teman 1: Ya ampun. Dia tampan sekali.

Teman 2: Kau benar-benar beruntung. Anakku les di banyak tempat.

Ibu: Kau tahu 'kan, orang bilang kau butuh uang banyak.. untuk membuat anakmu sukses? Itu semua omong kosong. Lihat saja Dae Hwi. Apa dia pernah les? Apa dia butuh guru les?

Dae Hwi terlihat sangat tertekan. Ia langsung masuk ke kamarnya.


Kamar Dae Hwi penuh dengan catatan dimana-mana. Oh ya, ia menyimpan uangnya di laci yang ia kunci dan kuncinya ia bawa kemana-mana. Uangnya ada banyak loh.


Dae Hi belajar bukan tanpa usaha, saking lamanya memegang pensil (bulpen) jarinya sampe lecet. Setelah mengganti  plaster lukanya, ia lanjut belajar.


Orang tua Eun Ho memiliki restoran ayam. Malam ini, Eun Ho bilang ke Ibunya kalau ia ingin masuk les seperti teman-temannya, sebulan saja, ia hanya butuh waktu sebulan.

"Begitu aku dapat ide untuk ceritanya.." Jelas Eun Ho.

"Kenapa kau butuh les untuk menggambar komik? Peringkatmu saja sudah sangat parah."

"Bukan komik. Webtoon. Itu yang akan membuatku lulus masuk universitas. Universitas Hanguk."

Baik ibu dan saudaranya melongo tak percaya.


"Eun Ho-ya. Aku suka dengan sikap ambisiusmu, tapi sebaiknya periksakan dirimu ke dokter besok. Bu. Lihat saja, sebentar lagi dia pasti akan bilang mau masuk ke Universitas Seoyul." Kata saydara Eun Ho.

Eun Ho memelototi saudaranya lalu kembali membujuk ibunya, "Ibu. Aku sungguh bisa masuk ke Hanguk. Zaman sekarang kalau jago menggambar pun, bisa masuk ke kampus top loh. Ada 2000 cara lebih untuk bisa masuk kuliah."

"Diamlah! Bisnis keluarga kita juga sedang tidak bagus. Kunyuk yang satu hanya menganggur sepanjang hari. Kita tidak punya uang untuk memasukkanmu les komik."

"Terserahlah. Aku tidak akan kuliah, tidak akan jatuh cinta, dan tidak akan menikah. Aku akan hidup sendirian seumur hidup, dan semua ini adalah salah Ibu. Aku tidak akan menikah." Kesal Eun Ho lalu masuk ke dalam.


Ayah baru datang dan hanya mendengar sekilas, ia bertanya. "Ada apa? Apa Eun Ho mau menikah? Dia 'kan sudah dewasa."

"Apa sih yang kau bicarakan? Ada apa sih dengan hidupku ini?" Keluh ibu.


Eun Ho menyiapkan bukunya untuk belajar buat ujian besok, tapi ia males banget, malah menggambari bukunya. Tapi ia membuatnya mendapat ide, ia pun menghubungi Sa Rang.


Sa Rang mengingatkan kalau besok ujian jadi Eun Ho mestinya harus belajar. Tapi Sa Rang malah nonton konser Boy Group.

"Aku hanya butuh 5 menit. Dengarkan dulu."


Tapi bukan hanya mengobrolkan cerita, mereka malah mengobrolkan macam-macam sampai 1 jam terlewati tanpa terasa. Eun Ho mulai panik karena ia mesti belajar.

"Matilah aku. Aku bahkan belum mulai belajar. Baiklah. Kututup dulu. Dah."

Eun Ho kembali duduk di meja belajarnya. Ia bingung mau mulai dari mana, akhirnya ia mulai dengan menyusun rencana dulu.

"Baiklah. Sekarang sudah jam 9, jadi.. aku punya waktu 10 jam sampai pukul 7. Ada banyak waktu."


Dae Hwi belajar sendiri di rumah. Bit Na menggunakan tutor pribadi. Sementara Hee Chaen belajar di ruang belajar dengan ditemani kopi agar tidak mengantuk.


Dan Eun Ho.. dia ketiduran. Dan ia belum menyelesaian rencananya.

"Kami selalu merasa gila dan cemas selama ujian. Sebagian orang merasa begitu mereka meletakkan pulpen, ada seribu kompetisi lain yang siap menyerang, dan mereka akan belajar sampai jari mereka melepuh. Mereka akan menggertakkan gigi kuat-kuat dan melalui semua itu. Kami adalah anak-anak 18 tahun. Kami masih muda. Sedihnya, bukan orang tua kami, tapi kamilah yang meyakini.. kalau hidup ditentukan saat seseorang berusia 18 tahun."

(Hari-H Ujian Percobaan Ketiga)


Sa Rang tidak ikut Ujian karena ia tidak akan masuk Universitas, ia akan mengikuti Ujian PNS setelah lulus. Sa Rang berjanji akan mentraktir Eun Ho ddeokbokki setelah ujian ini.

"Enak sekali kau. Sepertinya aku juga sebaiknya ikut ujian masuk PNS saja."

"Jangan bikin sainganku bertambah dan pergilah saja sana ke Hanguk."

Eun Ho merengek, "Apa kau benar-benar harus meninggalkan sekolah sekarang? Jangan, ya? Kumohon."

"Eun Pal-ku ini rupanya lumayan obsesif juga ternyata. Jawab saja soal ujianmu."

"Ujian ini tidak ada artinya bagiku. Jangan pergi."

"Kau 'kan anak SMA."




Guru Koo kebagian menjaga kelas Eun Ho. Tak berlama-lama, soal pun dibagikan. Guru Ko menjelaskan, "Mulai sekarang nilai ujianmu.. akan menentukan peringkatmu di sekolah ini. Yang bodoh dan malas akan jadi orang-orang menyedihkan, suka berburuk sangka, dan akan menderita."


Ujian dimulai, namun baru beberapa menit sprinkle sudah menyemprotkan air (karena jam sekola tiba-tiba langsung berubah jadi jam 9:00). Semua senang karena mereka tidak jadi ujian hari ini.

"Ini keren sekali. Belakangan suasana terlalu tenang. Benar-bena kejutan yang luar biasa."

"Ini benar-benar penyelamat."


Eun Ho membuang soal ujiannya dengan sangat gembira.


Ternyata tidak hanya sprinkle di kelas saja yang menyemprotkan air tapi di seluruh gedung sekolah, termasuk ruang guru, koridor, laboratorium dan kantin.  

"Di antara semua keisengan, ini benar-benar luar biasa."

"Ketika mereka bilang akan ada ujian tambahan, aku sudah berharap ini terjadi."

"Tapi tetap saja, ini adalah sebuah keisengan yang luar biasa."


Seorang polisi cantik berjalan menju arah Guru Shim sambil membawa payung. Dia adalah Han Soo Ji (Han Sun Hwa).

"Sekolah yang luar biasa." kata Soo Ji.

"Apa?"

"Pasti menyenangkan. Bukan begitu?"

Lalu Soo Ji meninggalkan Guru Shim yang nampak masih bertanya-tanya.


Semua anak keluar kelas, tinggal Eun Ho seorang yang masih ada di dalam menikmati semua ini.


Kepala Sekolah mengumpulkan semua murid dan guru di aula.

"Ini adalah penghinaan! Ini bukan sekolah! Kalau kau bertindak nakal di sekolah, sekolah tidak akan tinggal diam. Jangan kalian kira ujiannya dibatalkan. Ujiannya akan diulang dalam tempo seminggu.. dan akan segera dijadwalkan. Diamlah!

Aku adalah pimpinan di sekolah ini. Kalau sesuatu semacam ini terjadi lagi, kau akan diskorsing! Tanpa batasan waktu!"


Sementara itu, Eun Ho malah sibuk menggembar Kepala Sekolah. Dari itu ia mendapatkan ide untuk cerita Webtoon-nya. Ia langsung menceritakannya pada Sa Rang dengan keras.

"Seorang pahlawan kelas persiapan. Bukankah itu akan jadi cerita yang keren? Kepala sekolah adalah penjahatnya!"


Semua orang memandangnya kesal, cuma Dae Hwi dan Tae Woon yang tersenyum. Sa Rang berbisik, "Kalau aku jadi kau, aku akan mengatakannya dalam hati saja."


Para Guru membersihkan ruangan mereka, semuanya basah. oh ya, disana ada Ibunya Sa rang juga yang sedang mengepel. 

Kepala Sekolah masuk bersama Soo Ji, ia terpeleset karena lantai licin, kemudian marah-marah karena grafik nilai siswa terlepas. Guru Shim langsung berlari untuk menempelnya lagi dan ikutan terpeleset. 


Kepala Sekolah masuk bersama Soo Ji, ia terpeleset karena lantai licin, kemudian marah-marah karena grafik nilai siswa terlepas. Guru Shim langsung berlari untuk menempelnya lagi dan ikutan terpeleset. 

Kepala Sekolah: Aku tahu segalanya sedikit berantakan hari ini, tapi.. Petugas Kepolisian Han Soo Ji akan mengurus semua urusan di sekolah kita. Lihat ini. Tekanan darahku naik. Etika di sekolah ini benar benar sudah jatuh ke jurang.

Guru Park: Kita harus membereskan mereka semua. Kalau perlu, kirimkan mereka ke penjara.

Kepala Sekolah: Sadarlah kau. Siapa yang mau kaukirimkan ke penjara?

Guru Park: Kita tidak bisa membiarkan ini begitu saja.

Kepala Sekolah: Tentu saja tidak. Harusnya mereka dipenjarakan saja.

Guru Park: Tadi 'kan aku bilang begitu.

Kepala Sekolah: Benar 'kan, Bu Polisi?

Soo Ji: Ya. Penjara. Tentu saja. Aku akan melakukan yang terbaik menemukan pelakunya.


Guru Jang So Ran mengeluh, anak-anak jaman sekarang benar-benar sudah kelewatan. Sepertinya pelakunya tidak hanya 1 atau 2 anak saja.

Guru Koo: Ini sudah direncanakan. Ini bukan sesuatu keisengan yang biasa dilakukan anak-anak.

Guru Shim: Permisi. Mungkin saja pelakunya bukan dari sekolah kita. Seperti pepatah zaman dulu, kau tidak bersalah.. sampai ada bukti yang menunjukkannya..

Kepala Sekolah: Diamlah. Karena kau yang mengajarkan tata krama, bekerja samalah dengan petugas kepolisian dan tangkap pelakunya. Direktur bisa mengamuk kalau dia sampai tahu!

Kepala Sekolah melemparkan koran basah dengan kesal sebelum keluar dan itu mengenai kepala Guru Shim.


Soo Ji: Tapi... maaf. Apa selama ini ada kejadian yang lain di sini?


Eun Ho makin mantap dengan konsep Webtoon-nya,

"Rentetan kejadian.. yang mengacak-acak sekolah mulai terjadi. Pelakunya masih belum ditemukan. Siapa, ya kira-kira? Kenapa dia melakukannya? Semua orang penasaran, tapi sama sekali tidak ada petunjuk."



Nam Joo: Benar-benar sekolah yang luar biasa! Siapa kira-kira pelakunya?

Dae Hwi: Sepertinya dia tidak akan bisa melakukan ini sendirian. Ini terlalu besar.

Hee Chan: Mungkin saja semacam organisasi rahasia. Mereka tidak saling kenal satu sama lain, dan melakukan apa yang sudah ditugaskan pada mereka.

Ko Hak Joong: Mungkin saja orang luar, bukan siswa.

Bit Na: Kalau begitu, apa motifnya? Kenapa mereka melakukannya?

Nam Joo: Bagaimana kita bisa tahu? Merekalah yang tahu.


Won Byung Goo: Mereka mungkin semacam Avengers.

Tae Woon: Mereka hanya sekelompok orang-orang kekanakan yang tak punya pikiran.

Byung Goo: Bukan. Sepertinya.. mungkin saja mereka ada dalam sebuah organisasi rahasia yang besar.

Tae Woon: Apa?

Byung Goo: Apa aku terlalu pintar?

Tae Woon: Minum sajalah susumu. Minum semuanya


Eun Ho menebak, pelakunya 1 orang, firasatnya mengatakan begitu. Pahlawan itu biasanya adalah orang-orang yang kesepian.

"Pahlawan?" tanya Sa Rang.

"Keren sekali. Seorang penegak keadilan, yang menyelamatka kita dari keputus-asaan. Apapun itu, tetaplah lakukan hal-hal keren macam ini. Biarkan aku masuk Hanguk dengan bantuanmu. Semangat! Semangat."

Sementara itu, pelaku sebenarnya ada di atap gedung.


Beberapa anak saling mengirim pesan.

suara anak laki-laki: Untuk sementara, tetaplah tenang.

Sura pria yang disamarkan: Berhati-hatilah dan tunggu kabar dariku.


Dae Hwi dan Tae Woon berpapasan, mereka sama-sama sedang bermain ponsel. Lalu keduanya sama-sama memasukkan ponselnya kedalam saku.

Tae Woon: Benar-benar hari yang menyebalkan.

Dae Hwi: Apa kau suka hidup seperti itu?


Tae Woon awalnya sudah melewati Dae Hwi tapi ia balik lagi.

"Anak-anak akan suka jika tahu.. identitas yang sebenarnya dari Ketua OSIS kita."

"Kau pasti rindu dengan pukulanku, ya."

"Aku tidak akan mengelak, kok."

Dae Hwi akan terpancing tapi ia memilih pergi.

Mereka berdua sama-sama menggumamkan, "Dasar psiko." saat berjauhan.


Guru Koo menulis puisi di papan, ia menyurh para siswa menghafal puisi itu dalam waktu 10 menit. Kemudian, dalam waktu 10 menit juga, interpretasikan puisinya.

"Paham?"

Semuanya mengeluh.

"Paham tidak?"

"Iya" semua kompak menjawab.


Eun Ho malah menggembar bukannya melakukan apa yang diperintahkan dan ia ketahuan, bukunya pun disita oleh Guru Koo.

"Pak Guru, bukan begitu. Anu, sebenarnya bukan. Itu sebenarnya.. Anu.. sebenarnya.."

"Peringkat 280. Kau ini bodoh, jadi aku tidak akan menyalahkanmu karena kau tidak paham ucapanku. Datang dan ambillah ini kalau kau sudah lulus nanti."


"Tidak! Aku bisa mati tanpa itu, Pak."

Guru Koo lalu membuka gambar Eun Ho itu, dan makin rumitlah semuanya.


Bel berbunyi, dan sebelum keluar, Guru Koo merampas ponsel Tae Woon karena sedari tadi Tae Woon main ponsel terus.



Eun Woo mengejar Guru Koo, memohon agar bukunya dikembalikan.

"Kumohon. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi. Kumohon kembalikan itu padaku. Itu sangat penting bagiku."

"Walaupun ada hal yang lebih besar yang diambil darimu, yang bisa kau lakukan hanya meminta dan memohon.. agar itu dikembalikan, 'kan? Kau benar-benar menyedihkan."


Tae Woon juga keluar dan ia langsung berkata kalau ia ingin ponselnya dikembalikan, soalnya itu adalah hadiah dari ayahnya. Tanpa mengatakan apapun, Guru Koo langsung mengembalikan ponsel Tae Woon.


Eun Ho tidak terima, ia juga meminta bukunya dikembalikan. Eun Ho keceplosan menyindir, kenapaGuru Koo repot-repot merampas ponsel Tae Woon kalau akan dikembalikan secepat itu.

"Karena Bapak harus patuh pada peraturan." Jawab Guru Koo.

"Menaati peraturan memang penting, tapi ini tidak adil. Kenapa Bapak mengembalikan miliknya tapi milikku tidak?"

"Kalau begitu kau carilah seseorang yang kuat yang bisa menjadi koneksimu di sini. Koneksi itu sangat kuat sampai bisa meruntuhkan segala aturan. Siapa yang peduli itu tidak adil? Ini adalah kenyataan kejam dari kehidupan sosial kita."

"Apa? Apa aku harus menerimanya begitu saja? Ini benar-benar tidak adil, aku harus diam saja  dan membiarkan orang lain mengambil milikku? Aku harus berjuang sampai mati agar semua orang mendapatkan kesetaraan!"

Eun Ho meminta persetujuan Tae Woon yang akan kembali masuk. Tapi Tae Woon menjawab bahwa tidak ada yang harus diperjuangkan sampai mati.


Guru Koo akan menuju ruang Guru tapi Eun Ho manahan tangannya.

"Kumohon."

"Kau bisa mengeluh soal itu.. kalau kau sudah punya kekuatan untuk mengubah kenyataan ini. Kekuatan macam apa yang kau kira kau punyai di sekolah ini? Hei, Peringkat 280."

"Kumohon. Kenapa Bapak melakukan ini padaku?"

Eun Ho tidak menyerah, ia bahkan mengikuti Guru Koo ke ruang guru.


Eun Ho mendekati Tae Woon, memintanya untuk bicara pada Guru Koo agar bukunya dikembalikan.

"Kenapa aku harus membantumu?"

"Benda itu sangat penting bagiku. Aku memerlukannya agar bisa kuliah. Aku akan ikut kompetisi membuat webtoon.. dan masuk ke Universitas Hanguk. Yaa! Ini tidak adil. Ponselmu dikembalikan. Apa ini masuk akal?"

"Dia bilang semua ini masuk akal. Itu yang dikatakan Pak Guru tadi."

"Kenapa kau.. Teman sekelasmu sedang ada dalam masalah. Bahkan kalaupun kau tidak bisa melakukan sesuatu seperti  yang sudah dilakukan oleh pahlawan sekolah kita.. tidak bisakah setidaknya kau menolongku?"


Tae Woon: Pahlawan? Kau ini kekanak-kanakan sekali.

Eun Ho: Memang benar aku kekanak-kanakan. Jadi tidak bisakah kau bicara pada Pak Guru?

Tae Woon: Tidak bisakah kau diam?


Eun Ho di perpustakaan dengan Sa Rang dan ia menggerakkan kakinya naik turu dengan tempo yang sangat cepat. lalu ia ketawa-ketawa sendiri dan tiba-tiba akan menangis. 

"Aku harus ke tempat les. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Sa Rang.


Eun Ho semakin panik, lalu tiba-tiba ia berdiri, "Aku harus pergi juga. Aku harus masuk Hanguk."



Malam-malam, Eun Ho menyelinap ke sekolah, Tujuannya adalah ke ruang guru untuk mengambil bukunya.


Namun, apa yang dilihatnya malam itu diluar perkiraan. Eun Ho melihat grafik nilai siswa dirobek dan berserakan di lantai. Ia mengendap-endap dan tak sengaja melihat pelaku yang sedang membakar kertas-kertas.


Eun Ho melongo, "Daebak! Kau.."

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon