Sunday, August 20, 2017

Sinopsis Attention, Love! Episode 1 Part 2


Sinopsis Attention, Love! Episode 1 Part 2

Sumber Gambar: CTV

 
Shao Xi tahusekarang siapa pria yang memeluknya sampai ia bisa lupa bernafas, yang memegang tangannya sampai ia tidak takut hari akhir tiba.


Ayah menjelaskan kalau Li Zheng tinggal bersama pamannya di Jepang tapi pamannya akan menikah. Li Zheng kembali ke Taiwan untuk melanjutkan sekolah jadi pamannya meminta ayah untuk menjaganya.

"Yan Li Zheng akan tinggal bersama kita untuk sementara waktu."


Tapi Shao Xi tidak mendengatkan ayah, ia masih bengong memandangi Li Zheng, saking terpesonanya. Ayah sampai heran melihat putri berharganya bengong begitu.

Shao Xi segera sadar, ia kembali galak lagi. Ia mengatakan ayah sangat membosankan, tunangan apa coba? Bisa tidak ayah berhenti bicara omong kosong atau becandaan?

Shao Xi lalu kembali ke kamarnya dengan kesal.


Ayah dan ibu bingung dengan apa yang Shao Xi katakan tadi tapi mereka tidak mempermasalahkannya, mereka menyuruh Li Zheng duduk dan mengobrol santai.

Shao Xi diam-diam mengintip Li Zheng. "Sejak dia tinggal disini, aku merasa diriku aneh. Pertama, jantungku akan berdetak dengan tempo yang aneh, tiba-tiba akan terlalu lambat atau terlalu cepat."

Li Zheng menyadari Shao Xi mengintip dan Shao Xi cepat-cepat kembali naik ke atas.


Shao Xi kembali ke kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat. "Hal teraneh yang aku pikirkan adalah setiap kali aku melihatnya, aku selalu memikirkan lagu ini."
*Lagu Close To You bu Karen Mok diperdengarkan.
♫ Every time you walk by ♫



Tapi Shao Xi menggelengkan kepalanya, diam jangan nyanyi lagi! Ia lalu menutup telinganya dengan bantal.

Shao Xi mengangkat kepalanya, ia melihat gaun yang ibunya pilihkan tadi. Tahu akan begini jadinya, ia pasti mendengakan ibunya tadi untuk memakai gaun itu. Ia menyesal.


Li Zheng akan menggunakan kamar sebelah, tepat di sebelah kamar Shao Xi. Shao Xi diam-diam keluar kamarnya untuk mengintip kamar sebelah.

Di dalam ada Ibu dan Li Zheng sedang beres-beres. Ibu melihat Shao Xi hanya berdiri saja di depan pintu, ibu memanggilnya untuk membantu karena disana kebanyakan juga berisi barang-barang Shao Xi.

Sementara itu, Li Zheng hanya diam saja dan melanjutkan acara gotong-gotong barang ke luar.


Shao Xi pun masuk, ia berbisik pada ibunya untuk berhenti teriak, ia akan bersihkan kok. Ibu memperingatkan Shao Xi untuk menhaga bicaranya di depan orang lain.

"Kau tahu kalau ayah ibu Li Zheng meninggal saat dia masih sangat kecil, kan?"

"Bukankah ibu bilang mereka kecelakaan mobil?"

"Setelah orang tuanya meninggal dunia, Li Zheng dibesarkan oleh pamannya. Dia jadi lebih pendiam karena mungkin kesepian. Jadi jika kau punya waktu, temani dia. Juga, dia baru saja kembali ke Taiwan dan tidak punya teman. Jadi, Kau bisa mengenalkan temanmu padanya. Setiap orang harus mengobrol dengannya. Kau perlu menjaganya, oke?"

Shao Xi mengangguk mengerti. Ibu senang mendengarnya lalu menyuruh Shao Xi melanjutkan bersih-bersihnya.


Li Zheng kembali masuk. Ibu mejelaskan kalau ia sudah selesai bersih-bersihny, ibu juga menyampaikan kalau Li Zheng butuh sesuatu jangan ragu memberintahunya, eh tidak! beritahu Shao Xi saja. Shao Xi akan dengan senang hati membantu.

Ibu lalu pemit kebawah dan Li Zheng mengucapkan terimakasih.


Li Zheng membuka kopernya, semuanya tersusun sangat rapi, semuabajunya ia lipat sama besar. Shao Xi memulai pembicaraan, jika Li Zheng butuh sesuatu bilang padanya saja tapi Li Zheng tidak menjawab, tetap melanjutkan memasukkan bajunya ke almari.


Sha Xi keluar membawa barang-barangnya dan Li Zheng segera menutup pintu tapi Shao Xi berbalik menahan pintu itu. Shao Xi baru ingat kalau ia belum memperkenalkan dirinya.

"Namaku Zhong Shao Xi. Aku tujuh belas tahun ini dan Aku siswa SMA. Orang tuaku bilang kita berada di kelas yang sama. Dan ibuku hanya mengatakan kita bertemu saat masih kecil. Tapi aku tidak begitu ingat. Bagaimana denganmu, apa kau ingat aku?"

Li Zheng hanya diam saja, Shao Xi ingat, ia lalu bicara menggunakan bahasa Jepang, "Aku Zhong Shao Xi. Nice to meet you." Tapi kemudian Shao Xi sadar kalau ia menggunakan bahas inggris dibelakangnya.


Li Zheng terus maju sampai membuat Shao Xi tidak nyaman. Shao Xi agak gugup, bertanya Li Zheng mau ngapain. Li Zheng cuma ingin Shoa Xi mematikan musiknya karena terlalu berisik. Li Zheng lalu menutup pintu.

Shao Xi kesal karena baru Li Zheng yang berani membanting pintu di depan matanya. Tai berhubung ini kali pertama mereka bertemu, Shao Xi membiarkannya.


Shao Xi kembali ke kamarnya dan langsung mematikan musiknya. Ia kesal dengan sikap arogan Lin Zheng itu, padahal tadi ia sudah sopan memperkenalkannamanya.


Shao lama-lama penasaran karena tidak ada suara dari kamar sebelah. Ia membuka jendelanya, lalu menengok ke kamar sebelah, niatnya mau ngintip tapai tetap tidak ada hasil.


Shao Xi menoleh ke pintu dan tiba-tiba Li Zheng sudah berdiri di sana sambil membawa kardus. Shao Xi segera mencari alasan, ia langsung menghitung 12, 13, 14, 15 sambil menggerakkan kakinya ke atas.

"Aku sangat lelah. Aku berkeringat begitu banyak."

Namun Yi Zheng tahu kalau Shao Xi sedang menguping. Shao Xi jelas membantahnya, Li Zheng pikir dia siapa sapai ia harus mengupingnya?

"Aku tadi kan habis makan dan sekarang berusaha mencernanya."

Shao Xi mulai menghitung lagi, 23, 24, 25. Li Zheng mengingatkan bahwa tadi Shao Xi baru menghitung sampai 15.


Shao Xi berbalik dengan kesal, "Aku tahu! Jangan dekat-dekat denganku! Aku akan menghitung sesukaku! Tiga puluh tujuh, tiga puluh delapan, tiga puluh sembilan! Empat puluh, empat puluh satu, empat puluh dua!"

Akhirnya Li Zheng keluar juga. Shao Xi pun bisa bernafas lega.


Shao Xi berjalan ke kamar mandi, ia menyesal dengan apa yang ia lakukan tadi. Ia kesal pada dirinya sendiri karena sampai ketahuan tadi. sangat memalukan!

Shao Xi akan membuka pintu kamar mandi tapi terkunci. Ia mengira itu ayahnya dan memintanya cepat.


Namun yang keluar malah Li Zheng yang setengah telanjang. Shao Xi bengong lagi, jantungnya berdetak tak karuan. Shao Xi cepat-cepat mengalihkan pandangannya dan sepertinya LI Zheng tidak peduli, ia santai saja kembali ke kamarnya.


Shao Xi bergumam, tadi ia hampir mati, kenapa juga Li Zheng harus muncul tiba-tiba seperti tadi?

Lalu Shao Xi mencium aroma segar di kamar mandi, ia penasaran shampo apa yang Li Zheng pakai, baunya enak juga.


Shao Xi segera sadar dan menutup hidungnya, "Zhong Shao Xi, apa yang kau lakukan? Kau sama saja sedang mencium aromanya secara diam-diam. Ya Tuhan, kau mirip orang mesum!"


Ayah membuyarkan lamunannya, bertanya kenapa Shao Xi hanya berdiri saja di sana, sudah mandi belum? Shao Xi lari keluar, ia menyuruh ayahnya mandi duluan, ia mau latihan lari dulu.


Dalam larinya, Shao Xi menegaskan pada dirinya sendiri, Li Zheng itu cuma anak muda biasa, jangan terpengaruh, dia cuma anak muda yang agak sedikit keren yang tinggal di rumahmu!


Shao Xi bertekad untuk membenci pertuangan mereka. Tapi ia terus kepikiran, Li Zheng tunangannya? Shao Xi berteriak kesal.

"AHHH!!! Kenapa kau terus ada di kepalaku? Keluar sana!!!"


Anak-anak yang sedang main basket langsung diam semua mendengar teriakan Shao Xi itu. Shao Xi malu dan segera pergi dari sana.


Li Zheng di kamarnya membuka sebuah buku yang didalamnya ia simpan foto keluarganya bersama ayah dan ibunya.


Alaram Shao Xi berbunyi pagi ini, namun Shao Xi hanya mengeluarkan tangannya dari balik selimut lalu mematikannya dan ia kembali tidur.


Sesaat kemudian, Ibu masuk kamar Shao Xi dan mendapati Shao Xi tidur di kolong ranjang. Ibu menarik Shao Xi untuk bangun tapi susah sekali, butuh beberapa saat sampai Shao Xi mau bangun.


Dengan mata masih tertutup, Shao Xi sikat gigi sekaligus BAB. Ia menyalahkan Li Zheng sebagai penyebab semalam ia tidak bisa tidur nyenyak.


Shao Xi sudah selesai dan hendak mengambil tisu namun tiba-tia Li Zheng masuk. Shao Xi mematung terkejut. Li Zheng minta maaf dan segera menutup pintunya kembali.


Shao Xi keluar, tapi Li Zheng menutup hidungnya, Li Zheng akan kembali lagi nanti.


Shao Xi langsung berlari ke kamarnya, ia super malu. Ia yakin Li Zheng tadi mencium bau kotorannya.


Shao Xi menyesal, kenapa tadi ia minum tehnya pagipagi sekali?


Shao Xi melihat Li Zheng sedang sarapan danseperti tidak terjadi apa-apa. Shao Xi pun memutuskan untuk bersikap sama, ia akan pura-puta tadi tidak terjadi apa-apa.


Shao Xi menyusul Li Zheng sarapan, ia menyapa seperti tidak terjadi apa-apa tadi. Namun Li Zheng hanya diam saja.

Shao Xi menyadari, Li Zheng menggunakan dua sumpit, untuk mengambil lauk sendiri dan untuk dia makan sendiri. Ia bertanya, kenapa Li Zheng menggunakan dua sumpit? Dan Li Zheng kembali hanya diam saja.

Shao Xi menggigit sumpitnya lalu menggunakannya untuk mengambil lauk. Li Zheng langsung berhenti makan.


Shao Xi heran, apa yang salah? Li Zheng dengan dingin menjelaskan, ia merasa tidak nyaman saat seseorang menggunakan sumpit mereka yang penuh dengan ludah untuk mengambil lauk bersama.

"Tidak nyaman? Apa? Apa maksudmu aku kotor?"

"Aku tidak bilang begitu. Kau yang bilang sendiri."


Li Zheng langsung pergi dan kebetulan ibu datang. Li Zheng langsung berubah manis, ia berterimakasih atas sarapannya, ia baru kali ini makan enak. Ibu senang mendengarnya, ia berjanji akan selalu memasak sarapan untuk Li Zheng.

"Terima kasih Tante. Aku akan mencuci piring."


Shao Xi tak percaya mendengarnya. Tadi Li Zheng sangat menjengkelkan dan sedetik kemudian bisa berubah menjadi manis pada Ibunya. Ibu memuji Li Zheng yang mau mencuci piring setelah makan, bukan seperti seseorang (sambil melirik Shao Xi).


Shao XI menegur mereka, mau kemana mereka dengan pakaian seperti itu pagi-apgi? Ayah mengatakan kalau mereka akan ke sekolah untuk mendaftarkan Li Zheng.


Ayah, Ibu, Li Zheng dan Shao Xi kesekolah lersama dan otomatis mereka jadi pusat perhatian.


Mereka menduga ayah Shao Xi pasti bos preman karena tampangnya garang dan menyeramkan. Lalu mereka membicarakan Li Zheng yang tampak keran, pasti saudaranya Shao Xi.

Rui Ping menjelaskan pada yang lain, Shao Xi tidak mungkin memiliki kakak. Ia menduga kalau Shao Xi pasti sudah memukuli cowok itu dan cowok itu datang ke sekolah untuk melaporkannya.

"Mustahil. Aku belum melihat orang yang bisa berjalan tegap seperti itu setelah dihajar oleh Brader Zhong." Balas Xiao Yu.


Shao Xi malu, ia menyuruh mereka pergi sendiri saja ke ruang guru setelah ia menunjukkan arahnya. Rui Ping dan Xiao Yu langsung menghamoiri Shao Xi. Rui Ping bertanya, siapa cowok di depan Shao Xi tadi. Xiao Yu bertanya, apa wanita itu beneran Ibu Shao Xi atau ayah Shao Xi selingkuh?


Ayah Shao Xi mendadak muncul, perselingkuhan apa?! Xiao Yu langsung berdiri di belakang Rui Ping. Ternyata ayah cuma mau bertanya dimana letak toilet. Shao Xi menunjukkan arahnya dan ayah segera kesana.

"Wow sangat menakutkan, aku hampir pipis di celana." kata Xiao Yu.

Shao Xi kesal dan menyuruh mereka minggir dari jalannya. Rui Ping mengikutinya, menuntutnya untuk mengatakan siapa pria itu.


Pak Guru melihat nilai Li Zheng dan ia tidak puas, walaupun nilai Li Zheng di Jepang hebat tapi kurikulum Jepang dan Taiwan berbeda jadi Li Zheng harus mulai dari kelas 1 dulu tidak bisa langsung kelas 2.


Ayah tidak terima, mana bisa begitu? Pak Guru pun menengahi, mereka akan mengetes Li Zheng dulu dan jika Li Zheng lulus, maka boleh masuk langsung ke kelas 2. Semuanya setuju.


Di kelas Shao Xi, ibu guru sedang membagikan hasil ulangan matematika. Xiao Yu mendapat nilai tertinggi dan Shao Xi mendapat nilai paling rendah.


Ibu Guru memberi tugas lagi, PR halaman 38-58, harus dikumpulkan pada hari senin. Semuanya menggerutu, terlalu banyak bu? tapi Ibu Guru malah menyuruh mereka diam.

Ibu Guru lalu mendekati Shao Xi, Ibu Guru seperti meremehkan Shao Xi yang pasti tidak akan bisa menyelesaikan semua tugas itu. Shao Xi kesal, ia akan menunjukkan pada ibu guru kalau ia bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu.

Ibu Guru senang mendengarnya dan akan mengakhiri kelas.


Shao Xi baru sadar kalau sebentar lagi ia ada kompetisi lari jadi waktu luangnya tidak banyak, ia meminta keringanan pada Ibu Guru tapi Ibu Guru tidak peduli.


Shao Xi pulang, ia langsung menyalakan TV sambil makan camilan. Ibu melihat itu dan langsung menegur, anak perempuan kok duduknya gak sopan gitu!

"Jangan ganggu aku. Aku sedang dalam suasana hati yang buruk."

Ibu mendekat, kenapa? Shao XI menjelaskan, sebentar lagi ia ada kompetisi, tapi Ibu Guru malah memberinya tugas buanyak.


Ibu tidak begitu menanggapi karena ayah keburu memanggilnya. Ayah dan Ibu akan pergi dan mereka tidak akan pulang malam ini, mereka menitipkan rumah pada Shao Xi. 

Shao Xi terkejut, tidak pulang? Berarti ayah dan ibu akan meninggalkannya bersama Li Zheng? Ayah membenarkan.


Shao Xi mendekati ayahnya, ia mengingatkan bahwa putrinya ini adalah seorang wanita yang cantik, apa benar jika seorang ayah meninggalkan sang putri bersama seorang pria?

"Putri cantik dari keluarga Zhong, Li Zeng itu bukan pria asing. Dia adalah tunanganmu. Kita hanya ingin memberimu kesempatan untuk membangun hubungan bersamanya!"

"Apaan ayah ini!"


Tak lama kemudian Li Zheng turun mendekati mereka. Ayah lalu pamitan pada Li Zheng dan berpesan agar Li Zheng memina Shao Xi mengajarinya untuk menyiapkan tes.

"Oh, please. Tes terakhirku hanya mendapat 100 untuk tiga mata pelajaran." Kata Shao Xi.

Ibu malu dan meminta Shao Xi jangan membual. Shao Xi meralat, ia tidak bohong kok, ia jujur apa adanya.

"Om, jangan khawatir. Aku akan mengulas dulu, jika aku tidak paham, aku akan bertanya pada Shao Xi." Kata Li Zheng.


Ibu dan Ayah mengerti. Sebelum pergi, ibu memberi uang pada Shao Xi untuk makan malam. Shao Xi merayu minta tambah karena mereka berdua. Ibu pun kasihan dan memberi uang selembar lagi.


Setelah ayah dan Ibu pergi, Shao Xi dan Li Zheng hanya saling pandang. Saat Shao Xi hendak melangkah, Li Zheng mengejaknya, dapet 100 untuk tiga mata pelajaran?

Shao Xi berbalik, kenapa? Li Zheng bilang tidak apa-apa, bahkan jika ia mengatakannya, Shao XI tidak akan mengerti.


Shao Xi berbalik, kenapa? Li Zheng bilang tidak apa-apa, bahkan jika ia mengatakannya, Shao XI tidak akan mengerti.

Shao Xi kesal, apa Li Zheng mengejeknya sangat bodoh? Li Zheng membantah, ia hanya terkejut saja. Ia lalu meminta Shao Xi membawakan buku pelajarannya.


Shao Xi menasehati, apa begitu cara meminta bantuan?

"Aku mengerti. Kamu hanya mengatakan bahwa Aku bodoh. Li Zheng berbalik, maaf sudah mengganggu dan terimakasih. Shao Xi kesal, rasanya mau meninju Li Zheng.


Shao Xi membawakan buku pelajarannya pada Li Zheng. Li Zheng membukanya dan kembali mencela, Shao Xi membacanya gak sih? kok kosong mlompong?

"Berhenti mengoceh. Cepat dan lihatlah. Itu sangat sulit. Apalagi Kamu mengambil bagian yang lebih tinggi. Aku tidak yakin kau bisa menyelesaikannya sebelum minggu depan."

Shao Xi berpesan agar Li Zheng menyiapkan tesnya dengan baik. Jang jadi juniornya dan menjadi bully-an.


Li Zheng merasa semua soalnya tidak terlalu sulit. Shao Xi tidak percaya, ia lalu menyuruh Li Zheng mengerjakan soal yang menurutnya paling sulit, ia yakin Li Zheng tidak akan bisa menyelesaikannya.

Namun baru beberapa detik, Li Zheng sudah selesai.


Shao Xi tidak mau kalah, ia membawa buku itu dan mencoba menyelesaikannya juga. Tapi setelah satu jam berlalu ia masih belum selesai.

Li Zheng mendekati, memberitahu kalau jawabannya sebenarnya ada di halaman terakhir. Shao Xi membuka halaman terakhir dan benar saja ada disana.


Shao Xi menyadari, Li Zheng lebih pintar dari yang ia duga. Li Zheng membenarkan, jika Shao Xi pembandingnya memang ia jauh lebih pintar.


Shao Xi menantang, ia akan memberi Li Zheng soal matematika kelas 2 dengan begitu ia bisa tahu kemampuan Li Zheng yang sebenarnya. Shao Xi memberikan PR nya halaman 38 sampai 58.

"Jika kau berhasil menyelesaikan semuanya. Aku akan mentraktirmu makan."


Li Zheng benar-benar menyelesaikan semuanya dan itu membuat Shao Xi kagum karena semua jawabannya tampak benar.

Li Zheng tahu,pertanyaan yang Shao Xi berikan itu PR Shao Xi kan? Shao Xi membantahnya, ia hanya ingin membantu Li Zheng mempersiapkan tesnya, jadi ia memberi Li Zheng latihan soal.

Li Zheng sepertinya tetap tidak percaya. Shao Xi mengganti topik, seperti janjinya, ia akan memasak untuk Li Zheng.

"Kau akan masak makan malam untukku?"

"Iya. Kau tersentuh ya?

"Tante meninggalkan uang untuk makan malam. kenapa kau masak?"

"Benarkah? Aku kok tidak begitu ingat."

"Jangan bilang kau ingin menyimpan uang itu untukmu sendiri. Makanya kau mau masak untukku?"

"Terserahlah! Kau memang orang aneh, kenapa kau berpikir begitu? Aku bilang aku mau masak. Terserah kau mau makan atau gak!"


Shao Xi memasak mie instan untuk Li Zheng, tapi ia mmenjamin rasanya top markotop. Li Zheng mencobanya setelah dipaksa.

"Aku belum pernah merasakan mie instan seperti ini. Apa yang kau tambahkan kedalamnya?" tanya Li Zheng.

"Aku menambahkan... puding!"

"Puding? Orang macam apa yang menambahkan puding kedalam mie instan?"

"Bukan itu poin utamanya. Menurutmu enak atau tidak?

"Jika aku tidak tahu kau menambahkan puding, rasanya akan terasa lebih enak lagi."

Tapi walaupun begitu, Li Zheng tetap memakannya sampai habis.


Shao XI bangun pagi di sofa depan TV, ia heran kenapa ia tidur disana dan siapa yang menyelimutinya.


Lalu samar-samar ia mengingat kalau Li Zheng lah yang menutup jendela serta tirainya kemudian menyelimutinya.


Li Zheng keluar pagi-pagi daan entahkenapa Shao Xi malah kembali tidur. TV dari semalam masih menyala dan sekarang ada berita mengenai pelaku pembakaran di Taipe. Shao Xi terkejut karena pakaian pelaku itu sama persis dengan pakaian Li Zheng tadi.


Shao Xi pun mengikuti Li Zheng diam-diam. Li Zheng berjalan dengan mengikuti navigasi internet.


Li Zheng sampai di alamat yang ia tuju, tapi karena gerbangnya terkunci, ia pun melompati pagar.


Sepertinya itu rumah Li Zheng dulu dan didalam masih sama. Li Zheng menemukan piringan hitam di tempat biasa dan ia memutarnya. Lagu Close To You.

Sementara itu Shao Xi melihat Li Zheng ada di dalam, ia pun meloncat masuk.


Li Zheng mengeluarkan foto dari dalam tasnya dan foto itu sama dengan yang ia temukan di sana. Li Zheng mengingat kejadian masa kecilnya.

Saat kecelakaan mobil itu, mobil keluarga Li Zheng terbalik dan bahan bakarnya bocor. Li Zheng menangis, Ibunya memeluknya sambil mengatakan semua akan baik-baik saja. 


Lhi Zheng membatin, kenapa dalam foto itu ia tersenyum begitu bahagia? Li Zheng lalu mengambil kamera yang ada disana dan memasukkannya kedalam tas.


Shao Xi tak sengaja menjatuhkan mobil mainan kecil. Ia sontak duduk untuk bersembunyi.


Setelah dirasa aman, Shao Xi berdiri lagi, ia melihat ke dalam tapi tidak ada siapapun. Dan tiba-tiba Li Zheng berdiri di sampingnya.

"Kau membuntutiku, ya?"

Shao Xi melotot terkejut.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon