Sunday, August 20, 2017

Sinopsis Attention, Love! Episode 2 Part 1


Sinopsis Attention, Love! Episode 2 Part 1

Sumber Gambar: CTV


Li Zheng memergoki Shao Xi, ia langsung menuduh Shao Xi menguntitnya. Shao Xi segera menetralkan ekspresinya, ia membantah tuduhan Li Zheng itu, tidak mungkin ia mengikuti Li Zheng dan ia pun tidak tahu kenapa ia ada disana.

Li Zheng hanya diam saja dengan alasan tidak masuk akal itu. Shao Xi segera pergi untuk menghindari kemarahan Li Zheng.


Saat Shao Xi hendak membuka pintu gerbang, Li Zheng menarik tasnya. Dan tiba-tiba polisi datang. Ternyata tetangga yang melapor kalau ada dua anak masuk ke rumah kosong melalui pagar.

Shao Xi mencoba menjelaskan, mereka masuk bukan tanpa alasan, mereka meloncati pagar karena... Shao Xi berharap Li Zheng segera menyambung kalimatnya tapi Li Zheng diam saja.


Pemilik rumah datang yang ternyata adalah Ayah dan Ibu Shao Xi. Ayah menjelaskan pada petugas polisi kalau mereka itu orangtua Shao Xi dan Li Zheng. Ayah membujuk pak polisi jadinya masalah ini tidak di proses lebih lanjut.


Setelah kembali ke rumah, Li Zheng minta maaf karena sudah menyebabkan masalah, ia lalu ijin kembali ke kamarnya. Ayah dan Ibu hanya diam saja.


Ayah menjelaskan pada Shao Xi bahwa rumah yang mereka lompati pagarnya itu adalah rumah mendiang kakek Li Zheng. Li Zheng dulunya tinggal disana bersama ayah dan ibunya dan setelah Keluarga Li Zheng mengalami kecelakaan mobil, Li Zhneg tinggal bersama pamannya yang merupakan satu-satunya keluarga Li Zheng yang masih ada.

Li Zheng mendengar penjelasan ayah itu dan ia kembali untuk mencuri dengar.


Paman Li Zheng menitipkan rumah itu pada ayah dan ibu, terserah mau disewakan atau di jual, pokoknya uangnya nanti bisa untuk Li Zheng. Masalahnya ayah tidak tega menyewakan rumah itu pada orang lain, ayah pikir rumah itu satu-satunya peninggalan orang tua Li Zheng yang penuh dengan memori mereka. Jadi ayah memutuskan untuk menjaganya dengan menyewanya sampai Li Zheng cukup umur untuk menjaganya sendiri.

Ayah tidak memberitahu paman Li Zheng atau Li Zheng, hanya setiap bulan ia mengirim uang sewa ke Jepang. Shao Xi kesal, jadi ayah selama ini membuang-buang uang dong?

"Oh.. kau tidak mengerti. Jangan marah. Uang bisa dicari tapi kenagan tidak. Ketika orang tua Li Zheng meninggal, dia baru berusia 7 tahun, dia tidak mungkin bisa mengingat banyak hal. Pikirkanlah, jika Kuan Xiang dan Mei Yue tahu putranya tumbuh tanpa bisa mengingat apapun saat mereka masih bersama, betapa sedihnya mereka?"

Li Zheng tidak bisa mendengarnya lagi, ia langsung naik ke atas.


Ibu mendekati ayah, ia sangat mengerti maksud ayah, mereka adalah kawan ayah dan ayah cuma ingin membantu. Sekarang tinggal Shao Xi, mau bagaimana?


Ibu mendekati ayah, ia sangat mengerti maksud ayah, mereka adalah kawan ayah dan ayah cuma ingin membantu. Sekarang tinggal Shao Xi, mau bagaimana?


Li Zheng memikirkan ucapan ayah bahwa orang tuanya akan sedih jika ia melupakan mereka.


Li Zheng kecil bersedih setelah pulang sekolah, matanya memar. Paman bertanya, apa itu sakit dan Li Zheng menggeleng. Paman mengerti Li Zheng, Li Zheng tidak mungkin berkelahi tanpa alasan yang kuat, jadi apa itu?

Li Zheng bercerita, teman-temannya tahu apa yang terjadi pada orang tuanya dan teman-temannya memandanginya dengan pandangan mengasihani. Ia tidak suka disana lagi, ia tidak ingin bertemu teman-temannya.

Pamannya mengerti dan berjanji akan membawanya ke tempat dimana tidak ada satupun yang mengenal masa lalu Li Zheng. Dengan begitulah paman Li Zheng membawa Li Zheng ke Jepang.

Kilas Balik Selesai...



Li Zheng melihat potret dirinya saat masih kecil duduk di ranjang. Li Zheng menyalahkan dirinya, jika dulu dirinya tidak melarikan diri, ia sekarang pasti tidak akan berakhir seperti ini.

"Kenangan indah bersama Ayah dan Ibu menjadi sangat kabur. Kau tidak ingin kenangan itu, tapi aku butuh."


Li Zheng kecil mengulurkan tangannya, meminta kamera yang Li Zheng bawa. Li Zheng kecil lalu membuka film kamera itu.


Namun nyatanya, Li Zheng hanya menatap dinding kosong. Li Zheng berkata lirih, sesungguhnya ia tidak tahu apa yang sudah hilang dari dirinya. Jika begitu siapa dia yang dikasihani ini? Siapa dia yang mendapat banyak simpati ini?

Li Zheng manatap kamera di tangannya, dimana tutup filem-nya sudah terbuka.


Shao Xi mengetuk pintu kamar Li Zheng, ia memberi kunci rumah Li Zheng yang tadi ia minta dari ayahnya. Ia menggunakan mobil mainan tadi sebagai gantungan kunci itu.

"Dengan begini kau bisa kesana kapanpun kau inginkan dengan cara yang ben--"

Li Zheng kesal dan langsung membanting pintu di depan Shao Xi.


Shao Xi terus menggedor pintu sampai Li Zheng membukanya, ia juga super kesal.


"Yan Li Zheng, maaf, kau barusan membanting pintu di depan wajahku?"

"Kenapa kalau iya?"

Shao Xi menjelaskan kalau ia hanya mencoba peduli, tapi kenapa Li Zheng malah kasar begitu? Li Zheng terus maju menyusutkan Shao Xi, apa Shao Xi pernah berpikir, ia suka atau tidak Shao Xi beri perlakuan begitu? Apa ia pernah bilang ia butuh kepedulian Shao Xi?

"Kenapa aku harus menggunakan luka dan kesedihanku untuk memberimu kepuasan atas rasa pedulimu yang tidak seberapa itu? Toh kau tidak tahu apa-apa tentang masa laluku. Jika tidak ada yang penting, menjauhlan dari pandanganku!"


Li Zheng akan membanting pintu lagi, tapi Shao Xi kali ini berhasil menahannya, siapa bilang ia mengasihani Li Zheng? Shao Xi lalu menggunakan jurusnya untuk memelintir tangan Li Zheng.

"Hanya aku yang boleh membanting pintu di depan orang lain. Tak seorangpun boleh membanting pintu di depan wajahku!"

Asal tahu saja Shao Xi sudah menahan diri beberapa hari ini atas perlakuan kasar Li Zheng. Ia sama sekali tidak peduli kenapa Li Zheng tinggal di rumahnya, tapi jika Li Zheng tinggal disana, Li Zheng harus mengikuti aturannya.

"meskipun-aku-korban-tapi-aku-tidak-butuh-simpatimu-kau-lebih-baik-tinggalkan-aku-sendiri", berhentilah bersikap begitu.

Shao Xi menyuruh Li Zheng mengulangi ucapannya "Zhong Shao Xi, maaf, aku tidak akan pernah lagi membanting pintu di depan wajahmu lagi."

Li Zheng hanya diam saja awalnya. Shao Xi mengeraskan pelintirannya, jadi Li Zheng terpaksa mengulangi apa yang Shao Xi minta.


Shao Xi puas dan langsung keluar. Di kamarnya Shao Xi masih uring-uringan, ia bertekad untuk berhenti pura-pura bersikap baik pada Li Zheng.


Namun ia teringat, tadi ia sudah janji pada ayah ibunya untuk bersikap baik pada Li Zheng. Ia menyesal juga.


Tapi di luar gugaan. Li Zheng malah senang dengan perlakuan Shao Xi itu. 


Shao Xi berlatih minta maaf di depan pintu kamar Li Zheng, "maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu". "maaf, aku tidak bisa menahannya". "AKu harap kau tidak marah". Tapi Shao Xi merasa semua kalimat itu tidak pas, ia harus lebih lembut. Ia lalu berlatih bicara dengan lembut.


Namun saat Li Zheng keluar, semua latihannya tidak berguna. Li Zheng bertanya, ngapain Shao Xi ada di depan kamarnya. Shao Xi menjawab jutek, ia hanya ingin memperingatkan Li Zhneg agar tidak mengasu pada ayahnya, jika berani Li Zheng pasti habis sama dirinya.

"Jangan khawatir, aku tidak akan bilang apapun."

"Bagus. Dan.. ayahku menyuruhmu turun untuk makan malam. Tapi ingat! jangan berani bilang apapun padan ayahku. Hati-hati! aku akan menghabisimu."


Shao Xi kembali menyesali apa yang barusan ia lakukan? katanya mau minta maaf tapi kok malah mengancamnya?


Tiba-tiba Li Zheng memanggilnya dan Shao Xi kembali menyahut jutek. Li Zheng mendadak mengajak Shao Xi menemaninya keluar besok.


Li Zheng mengajak Shao Xi ke percetakan foto, ia ingin mencetak semua film di kamera yang ia ambil di rumahnya kemarin. Petugas memberitahu kalau kemungkinan hasilnya tidak bagus karena filmnya sudah lama dan Li Zheng sudah membuka penutup filmnya jadi kemungkinan sudah terpapar.

Li Zheng tidak masalah dengan itu. Petugas lalu meminta Li Zheng menunggu beberapa jam, mereka akan menghubungi jika fotonya sudah selesai.


Shao Xi bertanya, apa foto itu sangat berharga untuk Li Zheng? Li Zheng hanya diam saja. Shao Xi mengaku, ia sebanrnya penasaran Li Zheng mau mengajaknya kemana, eh ternyata cuma untuk mencetak foto.

"Aku ingin pergi sendiri, tapi takun tante dan om khawatir, jadi aku mengajakmu untuk menghindari masalah."


Shao Xi agak kesal juga, jadi ia cuma jadi alasan tok. Li Zheng lalu mengajak Shao Xi makan siang, ia yang traktir, sebagai kompensasi.

"Kau mau mentraktirku?"

"Masih ada beberapa jam setelah fotonya selesai. Terserah kau mau mati menunggu disini atau ikut aku."


Li Zheng mengajak Shao Xi ke restoran mahal. Shao Xi agak gimana gitu sebenarnya. Li Zheng mendiamkannya, pesan saja sesuatu.

Li Zheng lalu memanggil pelayan, ia pesan apa yang direkomendasikan chef saja. Shao Xi bingung, jadi ia pesan itu juga.


Li Zheng menyadari ada yang aneh dengan Shao Xi. Shao Xi bertanya, hanya untuk menghabiskan waktu di tempat mahal begitu dengan seorang gadis, sungguh tidak baik kan?

"Apa maksudmu?"

"Hanya saja, seorang gadis itu mudah sekali salah paham."

"Salah paham apa?"

"Ini bukan karena aku salah paham lho ya.. Aku hanya bilang kalau kebanyakan gadis akan merasa seperti itu."

"Kau berpikir terlalu jauh. aku tidak menganggapmu sebagai wanita."

"Aku juga gak butuh kau menganggapku sebagai wanita!"

Shao Xi menengahi, tidak usah mentraktirnya, mereka bayar saja makanan masing-masing. Terlebih, semalam Ia memukul Li Zheng dan hari ini Li Zheng malam mentraktirnya, ia rasa ini sangat aneh.


Shao Xi menengahi, tidak usah mentraktirnya, mereka bayar saja makanan masing-masing. Terlebih, semalam Ia memukul Li Zheng dan hari ini Li Zheng malam mentraktirnya, ia rasa ini sangat aneh.

"Aku hanya ingin mentraktir makan temanku, apanya yang aneh?"

Shao Xi terkejut, teman? Li Zheng bertanya, apa ia tidak boleh menganggap Shao Xi sebagai teman? Shao Xi cepat menyahut, tentu saja boleh, hanya saja.. terlalu mendadak.

"Dari dulu sampai sekarang, tak peduli siapapun itu, segera setelah mereka tahu latar belakangku, pandangan mereka terhadapku langsung berubah. Aku benci merasa mendapat simpati dari orang lain. Tapi kau berbeda."

"Apa bedanya aku?"

"Karena kau orang tanpa simpati. Ku pikir, aku bisa mencoba berteman denganmu."

Shao Xi kembali bengong.

"kenapa?"

Shao Xi segera bilang tidak apa-apa, ia mengereksi, berteman yang tinggal berteman saja, kenapa Li Zheng kedengarannya separti menyatakan perasaan? Sunnguh dramatis.

Tapi sebenarnya di dalam hati, Shao Xi berbunga-bunga.


Setelah dari restoran, mereka tak sengajabertemu pemimpin geng SMA sebelah dan Oppa-nya. Shao Xi akan mengajak Li Zheng jalan ke arah lain tapi terlambat, mereka keburu melihatnya.


Shao Xi serba salah, ia tidak ingin berkelahi di depan Li Zheng, tapi bagaimana kalau mereka melukai Li ZHeng? Si Pemimpin geng mendekat, menjelaskan kalau Oppa-nya tidak bisa bangun 3 hari setelah Shao Xi menghajarnya. Shao Xi malu malu di depan Li Zhang, tapi ia tidak peduli lagi, yang penting mereka tidak melukai Li Zheng.


Shao Xi maju beberapa langkah didepan Li Zheng. Si Oppa menyuruh dua temannya untuk maju. Tapi kemudian Li Zheng maju menggantikan Shao Xi. Mereka menyuruh Li Zheng minggir karena mereka hanya ingin berurusan dengan Shao Xi.

Tapi Li Zheng mendadak menghajar mereka semua termasuk si Oppa dan semuanya tidak berkutik.


Li Zheng memperingatkan si Oppa untuk menjauhi temannya, Shao Xi. Si Oppa pun menyuruh teman-temannya jangan mengganggu lagi.

Sementara itu, si pemimpin takut saat Shao Xi mendekatinya, "jangan pukul aku!"


Li ZHeng lalu menarik Shao Xi untuk berlari bersama.


Saat Shao Xi memperhatikan sekitar, apa mereka masih dikejar atau tidak, Li Zeng melihat tangannya yang digenggam Shao Xi tadi lalu melihat Shao Xi. Sepertinya ia sudah mulai ada rasa.


Shao Xi tak menyangka ternyata Li ZHneg jago berkelahi juga. Li Zheng menjelaskan, tadi ia hanya menggunakan teknik yang Shao Xi gunakan semalam padanya.

"Hai, Zhang Shao Xi. Aku baru sadar sesuatu yang buruk selalu menimpaku sejak aku bertemu denganmu. Pertama tertangka polisi, lalu dipukul cewek, dan sekarang bertemu para preman."

"Itu karena kau membawa kotoran."

"membawa kotoran? apa maksudnya?"

"Itu artinya kau menginjak kotoran saat kau sial."


Li Zheng menutup hidung sambil melihat ke kaki Shao Xi. Shao Xi melihat telapak sepatunya dan ia lah yang menginjak kotoran sekarang. Li Zheng ketawa ngakak dibuatnya.

"Aku baru sadar, setelah bertemu dengan Li Zheng, ini kali pertama aku melihatnya tertawa bahagia. Dan aku menyadari juga, kalau aku tertawa tanpa sebab. Meskipun, dia ketawa karena aku menginjak kotoran, akulah si pembawa kotoran itu. Tapi aku tidak tahu kenapa aku masih merasa bahagia."


Hari senin, pelajaran matematika. Ibu Guru memeriksa tugas Shao Xi dan ia terkejut Shao Xi bisa menyelesaikan semuanya. Wow! Amazing!

Shao Xi membatin, jika Li Zheng bisa membantunya mengerjakan PR setiap hari, dan bahkan menggantikannya ujian, akan benar-benar amazing!

Tapi Shao Xi juga penasaran apa yang Li Zheng lakukan untuk ujiannya hari ini.


Li Zheng ujian seorang diri dan ia menyelesaikannya dalam 15 menit, tapi ia percaya diri bahwa semua jawabannya benar.  Ibu Guru mengerti lalu menyueuhnya keluar.


Saat istirahat, Shao Xi sedang tiduran di kelas, tiba-tiba ada yang memanggilnya. Ia refleks langsung berdiri sambil mengangkat tangan. Ia kira yang memanggilnya itu guru.


Shao Xi kesal, siapa yang berani memanggilnya. Xiao Yu menggeleng lalu menunjuk ke luar, Li Zheng.

Li Zheng membawakan belak Shao Xi yang tadi dititipkan ibu. Shao Xi menerimanya dan bilang terimakasih. Li Zheng lalu pergi.


Setelah itu, teman-teman SHao Xi mengerumuninya, mereka heboh menanyakan siapa Li Zheng, pacarnya?

"Jangan ngawur, dia bukan cowokku, dia hanya.."

Rui Ping menyela, "hanya pengikut baru."

Shao Xi membenarkan tanpa sadar tapi setelah sadar, ia membantahnya.


Shao Xi lalu berlari keluar untuk mengejar Li Zheng, ShaoXi bertanya bagaimana ujian Li Zheng. Li Zheng bilang, ia lancar mengerjakannya.

"Jadi artinya, kau akan menjadi teman sekelasku?"

"Yah.. sepertinya."

Shao Xi senang, ia lalu maju memegang pundak Li Zheng, jangan khawatir, ia akan menjaga Li Zheng, Li Zheng tidak akan pernah di bully, okey?

"Kenapa hampir semua orang memanggilmu Brader Zhong? (panggilan yang biasanya untuk laki-laki)."

Shao Xi canggung, ia langsung melepaskan pegangannya di pundak Li Zheng? mereka begitu ya? kok ia tidak sadar mereka memamggilnya begitu.


Tiba-tiba kelopak bunga berguguran, sangat indah. Mereka terdiam beberapa saat sampai guguran kelopak bunga itu berhenti.


Tiba-tiba Li Zheng mendekatkan tangannya ke belakang telinga Shao Xi. Shao Xi gugup bangat, dan ternyata Li Zheng hanya inin mengambil kelopak bunya yang nyelip disana.


Li Zheng lalu pergi. Shao Xi masih mematung di tempatnya. Ia memegang dadany yang berdetak begitu kencang.


Li Zheng tidak benar-benar pergi, ia sembunyi di balik tembok mengintip Shao Xi.

1 komentar so far

Ceritanya Bagus..
Semangat min... Gk sbar nggu snopsisny..

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...