Monday, August 28, 2017

Sinopsis Attention, Love! Episode 4 Part 2


Sumber Gambar: CTV


Setelah perjanjian itu, Shao Xi kembali bersikap biasa, ia melarang Li Zheng mengeruttkan alis karena semuanya sudah jelas sekarang.


Li Zheng lalu mengajak Shao Xi pulang. Shao Xi memiliki banyak hal untuk diceritakan dan Li Zheng menyuruhnya bicara selama perjalanan pulang.

"Begitu banyak yang telah terjadi. Bagaimana aku bisa menyelesaikan semua dalam perjalanan pulang?"

"Jika tidak selesai, kau bisa melanjutkan kembali saat di rumah."

"Hari itu dalam perjalanan pulang, kami mengobrol tentang banyak hal. Hal-hal yang terjadi pada satu sama lain tetapi belum sempat di ceritakan. kami mengobrol tentang sekolah, teman sekelas, tentang kehidupan, tentang film, musik, pokoknya kami membicarakan segalanya kecuali perasaanku padanya.

Namun perasaan itu.. adalah apa yang sebenarnya ingin kukatakan padanya selama ini. Tapi kami sudah berjanji tidak akan membicarakan hal itu lagi karena kami adalah keluarga dan teman. Aku hanya terus berbicara dan berbicara, tanpa pernah mengatakan kepadanya bahwa aku menyukainya."



SUatu hari, saat Shao Xi memandangi fotonya bersama Li Zheng, Li Zheng memanggilnya untuk mengajak pulang bersama.


Shao Xi membicarakan soal Dao Mao yang pindah sekolah. Li Zheng bereaksi biasa saja membuat Shao Xi heran. 

"Lalu bagaimana menurutmu aku harus bereaksi?"

"Bahkan jika kau tidak merasa terkejut, bukankah seharusnya kau merasa sedikit sedih?"

"Sedih? Mengapa aku harus sedih?"

"Bukahlah kalian teman baik. Saat teman baikmu pindah sekolah, bukankah seharusnya kau merasa sedikit sedih?"


Li Zheng menjelaskan, ia tidak pernah menganggap Dao Mao sebagai teman. Satu-satunya orang yang ia anggap sebagai teman adalah Shao Xi.


Shao Xi bengong mendengarnya, membuat Li Zheng bertanya, ada yang salah?

"Tidakkah orang normal merasa malu dan canggung untuk mengakui bahwa mereka hanya memiliki sedikit teman? Bagaimana Kau bisa mengatakannya dengan tenang bahwa satu-satunya teman yang kamu miliki adalah aku?"


"Kau adalah satu-satunya temanku. Itu adalah kebenaran. Tidak ada yang harus aku sembunyikan." Tegas Li Zheng.

Batin Shao Xi: Itu benar. Itu adalah fakta. Karena aku satu-satunya temanmu, maka aku tidak bisa terus menyukaimu.


Shao Xi tidak ingin melihat Li Zheng sendiri saat di sekolah, jadi ia selalu mendekati Li Zheng dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


Sepertinya Shao Xi mengusulkan pada orang tuanya untuk mengambil foto keluarga bersama Li Zheng juga. Shao Xi ingin Li Zheng merasakan bagaimana rasanya memiliki ayah dan ibu serta saudara.

Sementara Li Zheng dan Shao Xi memasang foto, Ibu dan Ayah berdebat soal letak foto itu. Li Zheng memutuskan untuk mengabaikan mereka dan mengajak Shao Xi segera menyelesaikannya saja.


Akhirnya selesai juga dan membuat ayah-ibu puas. Ayah berkata, setiap orang jaman sekarang mengambil foto dengan ponsel mereka tapi menurutnya, foto itu harus dicetak dan di bingkai untuk merasakan maknanya.

Sementara Ibu memuji kecantikannya, yang kata oarng di pasar mirip Jun Ji Hyun. Ayah tentu saja membantah itu dan menyuruh ibu membantunya mengemasi teh saja.


Tinggallah Shao Xi dan Li Zheng mengawasi foto itu berdua.

"Aku hanya bisa bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi, untuk tetap berada di sisimu sebagai anggota keluarga."


Suatu hari, Li Zheng masuk kamarnya membawa pakaian yang sudah ia lipat rapi. Tapi ia melihat Shao Xi tiduran di tempat tidurnya sambil main ponsel. lalu di dinding kamarnya banyak barang-barang Shao Xi, Shao XI bahkan memajang fotonya bersama Xiao Yu dan Rui Ping di sana.

Yang lebih parah, Shao Xi membawa bantal karakter kesukaannya ke kamar Li Zheng.

"Zhong Shao Xi, kenapa kamarku penuh dengan barangmu?"

"Aku hanya membantu menambahkan beberapa barang agar kamarmu terlihat hidup. Ini juga, lucu kan?

"Cepat bersihkan, atau aku akan membuangnya."

"Aku tidak mau."


Li Zheng mendesah, ia terpaksa membersihkan semuanya sendiri. Tapi ia tidak membuangnya cuma mengatur letaknya.

Sebenarnya Shao Xi sengaja melakukannya, ia menuhi kamar Li Zheng dengan barang-barang agar Li Zheng tidak cepat pergi.


Saat Li Zheng sedang bersih-bersih, Shao Xi sengaja mengambil gambar diam-diam. Li Zheng menyadari dan Shao Xi langsung membantahnya.

"Kau pikir kau selebriti apa sampai aku harus mengambil gambarmu diam-diam?"


Shao Xi melihat koper besar di sudut kamar Li Zheng, "Karena aku sahabat terbaikmu, keluarga terdekatmu, jadi tidak peduli betapa aku menyukaimu, aku hanya bisa bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi, agar tetap bisa berada di sisimu."


Namun, Shao Xi masih saja memandangi Li Zheng diam-diam setiap ada kesempatan. Shao Xi menyadari, jarak mereka lebih dekat dari sebelumnya tapi juga lebih jauh dari sebelumnya.

Li Zheng menoleh pada Shao Xi, bertanya apa Shao XI mengerti apa yang ia jelaskan tadi dan Shao Xi langsung mengalihkan pandangan sambil menjawab bahwa ia mengerti.


Saat Li Zheng kembali ke tempat duduknya, Shao Xi masih memandangi jika ada kesempatan. Dan jika Li Zheng memandangnya balik, ia segera memandang ke arah lain.


Di rumah, Shao Xi dan Li Zheng kembali mendengarkan musik yang sama sambil bersandar di dinding.

"Antara aku dan dia, meski kami sudah membicarakan semuanya, tapi pada saat yang sama, aku juga merasakan ada semacam perasaan aneh di antara kami, "Aku tidak mengakui dan dia tidak mau menghadapinya".  Tapi aku hanya bisa terus mengatakan pada diri sendiri, "kita baik-baik saja, kita baik-baik saja"."



Shao Xi akan segera melakukan kompetisi tapi saat berlatih, waktunya terus mengalami penurunan, ia selalu lebih lambat. Shao XI merasa strat-nya yang terlalu lambat tadi.

"Tidak apa-apa. Aku akan berlari sekali lagi." Putus Shao Xi.


Tapi Rui Ping melarangnya karena Shao Xi sudah terlalu banyak berlatih, istirahatlah sebentar. Xiao Yu bertanya, apa Shao Xi ingin masuk Universitas terbaik? Soalnya Shao Xi terlihat berlatih sangat keras, ia dengar dari pelatih bisa masuk 3 besar saja sudah bisa membantu masuk Universitas.

"Ini tidak ada hubungannya dengan penerimaan universitas. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik di bidang yang bisa aku lakukan dengan baik, mengingat tidak banyak hal yang bisa aku lakukan dengan baik." Jawab Shao Xi.

Rui Ping lalu menyenggol Xiao Yu karena menanyakan pertanyaan tadi. Rui Ping tetap meminta Shao Xi berhenti latihan dan melanjutkannya besok lagi.

"Jangan khawatir, Aku akan berlari sekali lagi."


Rui Ping mengadukan Shao Xi yang keras kepala. Pelatih menyuruh mereka membiarkan Shao Xi saja, biarlah Shao Xi melakukan apa yang dia mau.


Shao Xi melihat Li Zheng menatapnya di tempat biasa, ia tersenyum saat Li Zheng mengucapkan sesuatu.

"Teruskan."


Namun baru mulai, Shao Xi malah terjatuh, kakinya kesleo. Li Zheng khawatir dan langsung berlari ke lapangan. Sampai disana, Xiao Yu sudah membantu Shao Xi untuk berdiri.


Namun Shao Xi tampaknya tidak bisa berdiri. Pelatih menyuruh Xiao Yu menggendong Shao XI ke rumah sakit. Xiao Yu bengong, tak mungkin ia kuat menggendong Shao Xi. AKhirnya Li Zheng turun tangan dan langsung menggendong Shao Xi.


Pelatih heboh, siapa Li Zheng sampai lancang menggendong Shao Xi begitu. Li Zheng menjawab kalau ia saudara Shao Xi. Pelatih kurang percaya. Rui Ping akhirny memotong, sekarang bukan saatnya menanyakan siapa Li Zheng yang penting Shao Xi segera dibawa ke rumah sakit.


Shao Xi menenangkan teman-teman, ini cuma luka kecil jadi jangan terlalu cemas begitu. Xiao Yu menjawab, tentu saja ia khawatir, tanpa Shao Xi sekolah mereka tidak mungkin bisa memenangkan mendali apapun.

Rui Ping mengur Xiao Yu, teman macam apa yang lebih mementingkan mendali daripada teman yang sedang terluka.


Pelatih menengahi, Shao Xi tak perlu terlalumemikirkan kompetisi, memang kompetisi itu penting tapi kesehatan Shao Xi jauh lebih penting.

"Aku tahu. Karena semuanya baik-baik saja, aku masih bisa berkompetisi." Kata Shao Xi.

Sementara itu, Li Zheng hanya diam mendengarkan.


Karena sedang sibuk, jadi ibu tidak menyadari kalau kaki Shao Xi terluka. Ayahlah yang pertama melihat dan langsung khawatir. Ibu jugalangsung keluar untuk melihat keadaan kaki Shao Xi. Shao Xi menenagkan, ia hanya kesleo ringan, sebentar juga sembuh.

Ayah: Tapi kompetisimu sudah dekat. Kau masih bisa berkompetisi? Ibumu dan Aku telah mengumpulkan tim yang bersorak untuk menghiburmu.

Ibu: Itu benar. Bibi Haimei dan Pamanmu mengatakan mereka akan datang.

Li Zheng: Om, Tante, jangan khawatir Shao Xi bisa--

Shao Xi: Tidak perlu merepotkan mereka. Aku lupa mengatakan bahwa aku tidak berkompetisi dalam lomba ini.


Ayah dan ibu terkejut, kenapa tidak mengatakan dari awal kalau Shao Xi tidak akan mengikuti kompetisi? Tapi mereka lebih penasaran alasan Shao Xi tidak ikut kompetisi.

"itu... karena Aku tidak mendaftar." Jawab Shao Xi.

"Kenapa kau tidak mendaftar? Siapa yang menyebabkannya? Katakan pada ayah, ayah akan mengatasinya."

"Plis yah! Jika aku bilang tidak mendaftar ya tidak mendaftar, tidak ada yang perlu ditangani. Kakiku tidak akan sembuh selama beberapa minggu. Bagaimana aku bisa lari?"

"Baiklah. Jika karena cedera kakimu jangan terlalu memaksa. Ayah akan mengurusnya, ayah engenal seorang terapis yang sangat bagus."

"Jangan membicarakannya lagi! Bahkan jika kakiku sembuh, aku tidak akan berpartisipasi dalam perlombaan. Aku akan segera lulus. Aku sudah menang berkali-kali. Aku pikir aku harus memberikan kesempatan pada adik-adik kelas."

Ayah dan ibu mengerti dengan alasan Shao Xi itu dan mereka tidak lagi membicarakannya.


Tapi sebenarnya Shao Xi sedih dan hanya Li Zheng yang menyadari itu.


Shao Xi menyendiri di atap sekolah dan tiba-tiba Li Zheng datang. Shao Xi heran melihat Li Zheng ada di sana.


Shao Xi bertanya, ngapain Li Zheng ada di atap saat jam pelajaran begini? Shao Xi mengerti, Li ZHneg bolos kan?

"Bukannya kau juga bolos?"

"Itu tidak sama. Aku bolos setiap saat. Tapi kau anak  Kelas A."

"Tidak ada yang benar-benar berbeda. Aku juga punya waktu saat ingin bersantai."


Shao Xi bertanya, apa Li Zheng juga sedang bad mood? Li Zheng balik bertanya, kenapa Shao Xi juga kelihatannya sedang kesal? Shao Xi diam saja.


Li Zheng lalu berdiri, mengajak Shao Xi meninggalkan sekolah, kalau bolos jangan tanggung-tanggung.


Li Zheng membantu Shao Xi meloncati pagar karena kaki Shao Xi masih terluka. saat Li Zheng menangkap Shao Xi yang turun dari pagar, mereka jadi sangaaat dekat.

Li Zheng yang menyadari duluan, jadi ia yang menjauh terlebih dahulu.


Shao Xi mencairkan suasana dengan bertanya tujuan mereka, karena ia tak bawa uang, semua uangnya ada di tas.

"Aku punya uang." Jawab Li Zheng lalu menyetop taksi.

"Kau seorang pemula, tapi sudah menyiapkan segalanya. Sebagai senior tukang bolos, kau membuatku malu." Gerutu Shao Xi pelan.


Li Zheng mengajak Shao Xi naik kapal. Selama perjalanan mereka sama sekali tidak bicara hanya menatap lautan luas.

Tapi akhirnya mereka bicara juga sih.

Shao Xi: Hei, kakiku kesleo. Aku tidak bisa berjalan jauh.

Li Zheng: Tak apa, aku bisa memberimu tumpangan.


Lalu Li Zheng membonceng Shao Xi dengan sepeda, mereka keliling taman. Shao Xi memberanikan diri untup

Shao Xi: Ini adalah pertama kalinya aku merasa bolos itu menyenangkan. Sebelumnya, meski aku melewatkan kelas, aku tidak tahu harus ke mana. Pada akhirnya, aku hanya akan kembali ke kelas.

Li Zheng: Kedepannya, akau akan selalu menemanimu.

Shao Xi: Kau adalah siswa yang paling berbakat di mata guru.

Li Zheng: Itu tidak sepenting dirimu.


Akhirnya mereka berhenti dan duduk di bebatuan di tepi suangai kecil. Li Zheng membuak pembicaraan, apa Shao Xi masih tidak mau memberitahu kenapa Shao Xi merasa kesal? Li Zheng menebak Shao Xi bohong soal tidak mendaftar kompetisi.

"Kau pikir Kau tidak bisa menang, kan? jadi kau tidak mau berpartisipasi, kau malu, benarkan?"


Shao Xi membenarkan, semua tebakan Li Zheng adalah kenyataan. Li Zheng tidak mengerti, Shao Xi kan belum bertanding, kok bisa mengetahui pasti akan kalah?

"Tentu saja Aku tahu. Aku telah berkompetisi selama bertahun-tahun. Bagaimana aku tidak tahu kondisi tubuhku sendiri? Sejujurnya, aku harap cederaku lebih parah. Dengan begitu aku tidak harus mewakili sekolah dalam perlombaan."

"Aku tahu apa yang Kau khawatirkan. Tapi menurut perspektifku, orang tuamu tidak tampak seperti orang yang peduli atas kemenangan atau kekalahan. Apa yang mereka benar-benar ingin lakukan adalah menghiburmu.

"Aku tahu. Tapi--"

"Jangan bilang tapi. Biarkan mereka menonton kompetisimu. Kecuali Kau benar-benar tidak ingin mereka datang mendukungmu."


Tentu saja Shao Xi ingin mereka datang mendukungnya hanya ia tidak ingin mereka melihatnya kalah dari seseorang. Shao Xi langsung berdiri dan nampak kesal.


Li Zheng mengikuti Shao Xi, membantunya berjalan. Shao Xi akhirnya berhenti dan mulai cerita, Sejak dulu, ia tidak dapat melakukan apapun dengan baik, ia tidak pernah membawa pulang penghargaan apapun. Tapi ia terus melihat orang tua lain membanggakan anakknya di depan ayah ibunya.

"Tapi sejak Aku bergabung dengan tim atlet dan mulai berlari, aku sadar bahwa ada sesuatu yang bisa aku lakukan lebih baik daripada yang lain. Ibu dan ayah ku akhirnya bisa membawa pulang pialaku dan memamerkannya pada teman-temannya ahwa putri mereka benar-benar menakjubkan dan luar biasa."

Itulah satu-satunya yang bisa membuat Orang Tua Shao Xi bangga padanya, jadi Shao Xi tidak ingin melihat Orang Tuanya melihat ia kalah dari orang lain.


Li Zheng mendekati Shao Xi, ia mengulurkan tangan seperti akan menghapus airmata Shao Xi. Saho Xi menyadari jadi ia segera menghapus airmatanya sendiri. Namun ternyata Li Zheng malah menoyor kepala Shao Xi.

"Jika kau berpikir terlalu benyak seperti ini, kau bukanlah Shao Xi. Jika kau sungguh berbikir lari bukan keahlianmu, maka kau tidak akan kesal seperti sekarang. Dan.. mau kau menang atau kalah, kau tetap akan menjadi Zhong Shao Xi. Itu tidak akan berubah."

Shao Xi bertanya, jadi Li Zheng juga berpikir kalau ia harus mengikuti kompetisi itu? Li Zheng tidak mau memutuskan untuk Shao Xi, tapi mau Shao Xi tetap berlari atau tidak, ia akan tetap memperlakukan Shao Xi seperti setelah mereka berjanji dulu, ia tida akan memberitahu siapapun.

Batin SHao Xi: ini aneh. Yan Li Zhen tidak banyak bicara. Tapi.. semua ketidaknyamanan dan ketakutan di hatiku lenyap seperti yang disebut orang bahwa keberanian telah datang. Karena lebih dari sekedar menang atau kalah, di matanya, Aku ingin menjadi "orang yang tidak takut pada apapun", Zhong Shao Xi."


Saat melewati kelas Shao Xi, Li Zheng tak sengaja melihat Rui Ping memaksa Xiao Yu untuk bolos sekolah dan menonton pertandingan Shao Xi. Xiao Yu tak mau, ia takut ketahuan guru, tapi Rui Ping tetap memaksa.


Rui Ping bersama dua orang temannya akan meloncat pagar, tapi mereka gagal karena ada guru datang bersama Xiao Yu. Rui Ping kesal karena ia gagal datang ke pertandingan Shao Xi, ia menginjak kaki Xiao Yu kesal saat berjalan mengikuti guru ke kantoe.


Li Zheng melihat hal itu, jadi ia memutuskan untuk bolos sekolah untuk menyemangati Shao Xi.


Shao Xi bersiap lari tapi yang menyemangatinya hanya pelatih dan beberapa anggota pelari.


Li Zheng kecapean berlari, ia berhenti sebentar dan mendengar suara letusan pistol. Ia langsung lanjut lari lagi karena itu tanda bahwa lomba sudah dimulai.


Shao Xi pun lari lebih cepat dan berhasil melewati beberapa pelari.

Shao Xi: Kau datang untuk menyemangatiku?

Li Zheng: Memangnya kenapa?


Shao Xi terus berlari dengan penuh kekuatan dan akahinya ia berhasil menjadi yang pertama sampai garis finish.

Shao Xi: Aku jelas mengatakan bahwa aku tidak ingin kau melihat Aku kalah.

Li Zheng: Pertama, Kau hanya mengatakan bahwa kau tidak ingin ibu dan ayahmu datang untuk menyemangatimu. Kau tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak boleh datang untuk menyemangatimu. Kedua, Kau menang jadi aku bahagia untukmu.

Shao Xi: Benar kah?

Li Zheng: Sungguh. Aku sangat senang. Aku bangga padamu.

Shao Xi disambut oleh pelatih dan teman sesama atlet, tidak seperti yang lain, dimana keluarga mereka menunggu di garis finish. Namun Shao Xi melihat Li Zheng tersenyum padanya dari jauh, ia pun membalas senyum itu, ia sungguh bahagia hanya dengan kehadiran Li Zheng.


3 komentar

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...