Thursday, August 31, 2017

Sinopsis Hospital Ship Episode 1


Sumber Gambar: MBC


Sebuah kapal terombang ambing di latuan, kala itu hujan turun deras disertai angin kencang dan petir. Kapten memerintahkan semuanya untuk  cepat pindah ke markas besar demi keamanan.

Kemudian lonceng dibunyikan oleh orang yang memakai jas hitam.


Dua orang awak kapal membuka tutup sebuah tank. Lalu satu orang masuk ke dalam dan satu lagi berjaga di luar, mereka saling membantu memasukkan barang-barang berharga ke dalam tank itu. Namun naas, tutup tank terterpa angin dan menjepit tangan orang yang menunggu di luar. Ia menjerit kesakitan. Orang yang di dalam berteriak, "Jung Ho!"

Kng Jung Ho (Song Ji Ho) berusaha menarik tangannya tapi susah, ia terus berusaha sambil menahan sakit.


Dua orang awak kapal membuka tutup sebuah tank. Lalu satu orang masuk ke dalam dan satu lagi berjaga di luar, mereka saling membantu memasukkan barang-barang berharga ke dalam tank itu. Namun naas, tutup tank terterpa angin dan menjepit tangan orang yang menunggu di luar. Ia menjerit kesakitan. Orang yang di dalam berteriak, "Jung Ho!"

Kng Jung Ho (Song Ji Ho) berusaha menarik tangannya tapi susah, ia terus berusaha sambil menahan sakit.


Lalu Choo Won Gong (Kim Kwang Kyu) menarik kerahnya, membentak, jika mereka terus jalan kapal akan terbalik! Mereka semua akan mati!

Choon Ho balik membentak, Bagaimana dengan Jung Ho? Apa Won Gong akan membiarkan tangannya cacat?

"Lengan cacat? Tidak akan!" Jawab Won Gong.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Dia bisa operasi di rumah sakit kapal."


Won Gong lalu keluar ruang kemudi dengan langkah mantap.


Di sebuah lorong rumah skit, seorang dokter wanita berlari kencang.

-=EPISODE 1=-


Song Eun Jae (Ha Ji Won) sedang berlari di tengah hutan berkabut, keringatnya mengucur dan nafasnya ngos-ngosan tapi ia tidak berhenti.


Tiba-tiba ada sebuah mobil merah melaju kencang dan menabrak mobik yang sedang parkir. Mobil itu terbalik beberapa kali sebelum berhenti. Eun Jae sigap, ia langsung mendekati mobil itu.


Eun Jae menelfon ambulan dan membawa pengemudi mobil itu ke Rumah Sakit Seoul Daehan, tempat ia bekerja, Eun Jae adalah seorang dokter. Saat ini Eun Jae sedang melakukan pertolongan pada korban itu. Ia melakukan CPR.


Rekan Eun Jae mengatakan bahwa jantung pasien tertahan, pasien tidak bereaksi terhadap obat-obatan terlarang. Eun Jae meminta injeksi intracardiac (penyuntikan yang diberikan langsung kedalam otot jantung karena sudah tidak mampu diserap intravena).

Juniornya memegang injeksinya dan sepertinya enggan memberikannya pada Eun Jae. Tapi Eun Jae langsung merebutnya dan menginjeksikannya ke dada pasien.


Eun Jae membersihkan diri setelah pasien di bawa ke ruang operasi.


Setelah itu ia masuk ke ruang operasi dan bersiap melakukan operasi pada pasien tadi.


Ada dua orang yang menjadi sorotan, Kim Jae Geol (Lee Seo Won) dan Cha Joon Young (Kim In Sik). Mereka menandai lokasi yang menurut mereka buruk.


Petugas mengumumkan, "Kita akan mulai memilih. Ada kartu dengan nomor yang tertulis di dalamnya. Berdasarkan nomor yang kalian pilih, kalian diberi kesempatan untuk memilih lokasi kerja secara berurutan."

Kapten Bang dan Won Gong ada di sana. Kapten Bang yakin mereka semua pasti gugup.


Petugas melanjutkan, kecuali untuk mereka yang memilih kartu bertuliskan "rumah sakit kapal", mereka akan bekerja di sana. Joon Young menempelkan jimat di dahinya, ia tidak ingin Rumah Sakit Kapal.

"Semuanya akan baik-baik saja kecuali rumah sakit kapal." Jae Geoljuga sama.


Pada akhirnya, Jae Geol dan Joon Young memilih kartu Rumah Sakit kapal dan mereka harus pergi bersama Kapten Bang dan Won Gong. Joon Young merobek-robek kertanya kesal, sementara Jae Geolmemandanginya tanpa tenaga.


Kapten Bang menoleh ke belakang, melarang mereka untuk memasang wajah sedih begitu. Rumah sakit kapal tidaklah angker.

"Jalanilah dengan semangat." Sambung Won Gong.


Di dalam Rumah Sakit Kapal, ada dua orang perawat yang sedang berbincang. Ia adalah Kepala Perawat Pyo Go Eun dan Perawat Yoo Ah Rim (Min Ah).

Perawat Pyo menjelaskan kalau orang asing menanggap Kapal Rumah Sakit mereka Kapal berhantu, bahkan menganggapnya lebih buruk dari kapal bajak laut.

"Mengapa mereka sangat membenci rumah sakit kapal?" Tanya Ah Rim.

"Karena lebih banyak pasien di sini. Kau harus bekerja sepanjang malam di kapal."

"Kedengarannya romantis."

"Sama sekali tidak romantis. Bagaimana jika kau jatuh sakit? Kau tidak bisa berhenti di tengah laut. Ini mengerikan."


Won Gong panik, menjelaskan kalau ia tidak bisa menemukan dokter Penyakit Dalam.


Di sebuah jalanan yang sepi, seorang Pria sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Dia adalah Kwak Hyun (Kang Min Hyuk).


Hyun masuk ke tempat parkir di sebuah gedung dan tiba-tiba ada yang menabrak mobilnya dari belakang, ia pun berhenti dan keluar untuk memeriksanya.


Seorang wanita paruh baya keluar dari mobil yang menabrak dan mereka tampak saling kenal. Wanita itu berkata kalau ia tidak akan minta maaf karena ia memang sengaja. Hyun juga tidak sengaja melihatnya bersamanya.

"Aku menabrak mobilmu, tapi aku tidak akan meminta
maaf." Ulang Wanita itu tapi Hyun masih tetap diam saja. "Kau tidak bisa pura-pura senang melihatku? Kau bertingkah seperti orang asing." Kata wanita itu lagi.

"Apa yang kau lakukan? Apa maumu?"

"Aku ibumu, tapi aku juga seorang wanita. Aku ingin lebih dari seorang wanita."

"Ibu."

"Ini bukan salahku. Ayahmu yang membuatku seperti ini.

Hyun mengambil ponselnya di dalam mobil, ia akan menelpon sopir pengganti untuk ibunya, ia rasa lebih aman jika ada yang menyetir untuk ibunya. Ia meminta ibunya istirahat saja di hotel.

Ibunya tak mau, ia menyuruh Hyun yang menyetir mobilnya, lalu menelfon pusat layanan untuk membawa pulang mobil Hyun. Cepat, dan pulang ke Seoul sekarang. Hyun menolaknya.


Ibu memaksa, mereka akan menugaskan Hyun ke tempat yang bagus. Ada banyak tempat bekerja di Seoul. Hyun memotong, ia tidak ingin membicarakan itu.


Ibu tidak menyerah, ia berkata akan meminta pada kakek Hyun, mereka harus menemukan solusinya.

"Kau melarikan diri. Jika ada yang tidak beres, karirmu sebagai dokter--"

"Sopir sudah dijalan."


Hyun akan pergi tapi ibu menahan tangannya. Ibu mengaku, ia tidak peduli dengan Ayah Hyun lagi. Hyun menoleh ke Ibunya meminta Ibuny istirahat di hotel lalu menggunakan supir untuk mengantar pulang ke Seoul.

Hyun lalu pergi meninggalkan ibunya.


Hyun berjalan di sebuah dermaga.


Sementara itu, di Rumah Sakit Kapal (RS Kapal), Perawat Pyo mengeluh pada Ah Rin kalau ia ingin pergi ke Seoul. Ah Rin ternyata juga ingin kesana.


Hyun menyapa mereka, ia mengenalkan diri sebagai dokter kesehatan masyarakat spesialis Penyakit Dalam. Perawat Pyo bertanya, apa proses undiannya sudah selesai? Hyun bilang belum. Perawat Pyo heran, bukannya Hyun seharusnya ada disana?

"Aku mengajukan diri untuk bekerja di sini." Jawab Hyun.


Choon Ho buru-buru bergabung dengan keduanya, penasaran dengan orang yang mengajukan diri untuk bekerja dengan mereka. Perawat Pyo berbisik, Hyun mengatakan akan mengajukan diri untuk bekerja di sana.

"Selama lima tahun aku bekerja di rumah sakit kapal, ini tidak pernah terjadi." Kata Choon Ho.

"Bahkan selama 10 tahun aku menjadi perawat." Jawab Perawat Pyo.

Hyun menyela, apa ia boleh naik. Ah Rim yang menjawab, ia sangat senang dan mempersilahkan Hyun naik.


Kapten Bang akhirnya bisa kembali ke RS Kapal setelah mendapat kabar bahwa ada dokter penyakit dalam yang mengajukan diri. Joon Young tak menyangka ada yang mengajukan diri, Jae Geol malah menduga kalau orang itu sudah gila.


Won Gong langsung menghentikan mobil, ia dan Kapten Bang menoleh ke belakang dengan tatapan kesal.


Perawat Pyo dan Ahrim mengajak Hyun berkeliling untuk mengenalkannya pada anggota-anggota di kapal. Perawat Pyo menjelaskan, tim rumah sakit dibagi menjadi Tim Operasi Kapal dan Tim Medis. Tim Operasi Kapal bekerja di ruang kemudi dan ruang mesin, mereka bertugas mengoperasikan kapal, mereka juga membantu memindahkan pasien.


Kemudian Perawat Pyo mengajak Hyun masuk ke dalam, menunjukkan peralatan pemeriksaan yang ada di sana, ada X-Ray, Ultrasound, dan alat tes darah dan juga apotek.

"Ada Pengobatan Penyakit Dalam, Pengobatan Gigi, dan Pengobatan Korea."


Lalu Ah Rim menunjukkan ruangan Hyun, ruang dokter penyakit dalam. Perawat Pyo bertanya, apa Hyun suka disana dan Hyun mengiyakannya.


Eun Jae masih melakukan operasi pada pasien kecelakaan tadi diman ia membedah perutnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.


Tiba-tiba tekanan darah pasien turun, juniornya panik, tapi Eun Jae mah tenang-tenag saja. Eun Jae bertanya, siapa yang mereka operasi sekarang? Apa ayah Dokter Kim (juniornya)?

"Jangan gegabah. Anggap saja itu mayat. Lebih baik jika kau tidak menganggapnya manusia."

"Tapi tanda-tanda vitalnya--"

"Tarik nafas."


Eun Jae meminta Dokter Kim untuk memasukkan tangannya, tapi Dokter Kim hanya memandang Eun Jae saja dengan tatapan menolak. Eun Jae memaksanya dan akhirnya Dokter Kim memasukkan tangannya.

"Apa kau merasakan pembuluh darah yang aku pegang?" Tanya Eun Jae dan dokter Kim menggeleng. Eun Jae tanya lagi, "Kau takut? Kau takut pasien akan meninggal?"

Dokter Kim menangguk. Lalu Eun Jae menasehati, "Kalau begitu lebih baik kau tenang. Tanganmu gemetaran karena gugup. Mereka akan bertanggung jawab atas kematiannya. Pergilah jika kau tidak bisa."

"Tidak."

"Kalau begitu, ambil vena (pembuluh darah yang membawa darah menuju jantung) yang aku pegang. Pegang dan tahan."


Seorang Dokter masuk ke ruangan Professor dengan terburu-buru, memberitahu kalau ada kabar buruk, pasien  di ruang operasi 3 (yang sedang dioperasi Eun Jae) adalah Jang Sung Ho.

"Jang Sung Ho? Pewaris Doosung Group?" Tanya Professor.

"Ya."


Dokter anestesi mengatakan kalau ini tidak bisa lagi, tidak akan bekerja. Dokter Kim lengah karenanya sehingga Eun Jae membentaknya untuk tetap memegang erat. Eun Jae berhasil mengeluarkan sesuatu lagi dari sana.

Eun Jae lalu menyuruh Dokter Kim melepaskannya, dan mereka akan mulai menjahit.


Dokter Kim sudah tenang sekarang, ia memuji kerja Eun Jae, DAEBAK!!


Professor masuk ke ruang operasi, bertanya bagaimana hasilnya. Eun Jae menjawab kalau mereka sudah selesai.

"Serahkan ke tim, dan ikut aku." Perintah Professor.


Professor meminta Eun Jae untuk menceritakan secara singkat tentang kondisi pasien.

"Trauma besar akibat kecelakaan lalu lintas. Itu terjadi pukul 5:07 pagi. Hati dan limpa-nya rusak parah. Saya segera melakukan pelepasan ureter (prosedur yang dilakukan untuk mengobati sumbatan dan striktur pada ureter) dan harus mengeluarkan limpa karena rusak parah."


Di luar ruang operasi, banyak wartawan sudah menunggu. Mereka bertanya, apa benar Professor yang mengoperasi pewaris Grup Doosung? Bagaimana kondisinya?

"Kecelakaan itu terjadi pukul 05.07 pagi. Hati dan limpa-nya rusak parah. Kami segera melakukan pelepasan ureter. Limpa-nya sangat rusak dan harus dipotong." Jawab Professor.

"Siapa ahli bedah yang mengoperasinya? Apa anda yang mengoperasinya sendiri?"

"Apa itu lebih penting daripada pasiennya selamat."

Sementara itu, Eun Jae meninggalkan mereka.


Eun Jae tiduran di sofa ruang kerjanya, lalu Dokter Kim mendekatinya, bukankah itu tidak adil? Ia melihat Professor (juga adalah Kepala bagian) dibanjiri wartawan.

"Ini tidak adil." Jawab Eun Jae.

"Iya, 'kan? Kaulah yang menyelamatkan nyawa pasien, dan dia menerima--"


"Bukan itu. Jika aku yang melakukannya, operasi akan berakhir 20 menit lebih cepat. Karena kau lamban, pasien harus menderita lebih lama lagi. Itulah yang tidak adil."

"Dokter Song~"

"Jika kau punya waktu untuk bersantai, luangkanlah untuk membuatnya tangan ini menjadi tangan dokter."


Dokter yang melapor tadi masuk dan sedikit mendengar percakapan mereka, ia bertanya pada Dokter Kim, apa Dokter Kim kesal?

"Apa aku melakukan kesalahan?"

"Tentu saja."

"Aku pikir dia akan merasa bersalah."

"Kenapa? Dia sudah memperkirakan itu semua."

"Memperkirakannya?"

"Apa kau tahu mimpinya?"

"Menjadi Kepala Bedah Wanita termuda. Dia membiarkan Kepala menerima semua itu jadi dia akan diberi tempat nantinya. Dia akan tidur sambil memeluk sepatunya jika itu bisa memberinya pangkat. Dia memang tangguh."


Eun Jae berkeliling mengecek keadaan pasien sendirian, terutama pasiennya yang baru ia operasi tadi.


Di rumah peristirahatan para Dokter RS Kapal, Hyun sedang membuat kopi. Lalu Jae Geol dan Joon Young mendekati, mengajaknya berkenalan. Hyun bertanya mereka siapa.


Jae Geol: Kim Jae Geol, Pengobatan Korea.

Joon Young: Cha Joon Young, dokter gigi.

Dan ternyata mereka sudah mengenal Hyun, Hyun jadi tidak enak karena tidak tahu nama mereka.

"Tidak apa. Kami tidak berharap lebih dari putra seorang bintang." Jawab Jae Geol.

Hyun bingung, bintang? Jae Geol menjelaskan, Korea memiliki sistem status selama bertahun-tahun. Ayah Hyun seorang bintang, maka begitu juga Hyun. Jae Geol lalu bertanya, kenapa Hyun mengajukan diri? Apa ayahnya yang menyuruhnya?


"Kwak Sung dari Dokter Lintas Batas (Sebuah organisasi kemanusiaan medis internasional yang memberikan pengobatan masyarakat yang terkena dampak konflik bersenjata, epidemi dan bencana alam). Dia melakukan perjalanan ke Irak, Afghanistan, Afrika untuk mengobati pasien. Warga Korea dan penduduk setempat menjulukinya Albert Schweitzer. Dia bagaikan pahlawan. Apa dia menyuruhmu untuk tidak merusak namanya?" Tanya Jae Geol.

"Tidak."

Joon Young semakin tertarik, lalu alasannya apa Hyun menjadi relawan untuk pekerjaan yang sulit begini?

"Perubahan Konsep." Jawab Hyun.


Kemudian mereka terlihat berjemur di atas kapal sambil memancing. Hyun menjelaskan, jika tidak bisa menghindarinya, nikmati saja, mereka harus berpikir kalau sedang berada di kapal pesiar. Jae Geol dan Joon Young setuju.


Sementara itu Ah Rin uring-uringan melihat kelakuan mereka bertiga. "Mereka sudah kehilangan akal sehat, bukan? Mereka pasti mengganggap ini layanan tentara. Aku tidak percaya mereka yang bekerja dikapal kita.

"Aku menikmatinya." Bentak Perawat Pyo.


Ah Rim lalu menghampiri mereka, bertanya apa yang sedang mereka lakukan ini? Joon Young malah mengajaknya gabung, masih ada satu kyrsi lagi.

"Apa kalian benar dokter?" Tanya Ah Rim.

"Tidak. Kami masih punya waktu 38 menit." Jawab Hyun.

"Apa? Apa maksudmu?"

"Kami bukan dokter sebelum sampai 10 menit kami bertugas. Jadi sampai saat itu--"

Joon Young menyambung, "kami punya hak untuk bersenang-senang seperti yang lain. Dokter yang bahagia akan membuat pasien senang."

Jae Geol hanya membenarkan saja.


Kapten Bang dan Won Gong menawasi mereka dari atas. Won Gong mengaku, ia telah mengawak rumah sakit kapal selama 20 tahun, dan ia belum pernah melihat dokter seperti itu.

"Aku pikir anak Albert Schweitzer akan berbeda. Aku jadi ingin mendorong mereka bertiga ke laut." Kata Kapten Bang.

"Aku pikir kita harus mengambil tindakan darurat."

"Tindakan darurat?"


Eun Jae tiba-tiba dihampiri oleh sepasang kakek dan nenek. Kakek itu mengenali Eun Jae sebagai keponakannya  Hye Jung.

"Ibumu sering cerita tentangmu." Kata kakek dan langsung menunjukkan bagian tubuhnya yang sakit. Eun Jae lalu mengajak kakek itu mengikutinya, sebenarnya ia kesal.


Ibu Eun Jae sedang bersantai dan tiba-tiba Eun Jae menelfonnya. Ibu sampai menjatuhkan ponselnya karena terkejut. Tetangga ibu melihat layar ponsel, lalu berkata "Itu Malaikat Pencabut Nyawa. Tamatlah kau."

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Apa lagi? Angkat."

"Aku tidak tahu harus bicara apa. Kau yang angkat, Mi Jung."

"Tidak. Dia menyumpahi kita tapi teringat sampai 5 abad. Ayo, angkat."


Ibu akhirnya mengangkat telfon Eun Jae.

"Ini sudah kelima kalinya, Bu."

"Aku tahu."

"Ketiga kalinya bulan ini."

"Aku tahu itu."

"Kapan Ibu akan berhenti? Ibu akan berhenti jika aku mati?"

"Jangan bicara begitu. Kau tidak bisa mengatakan itu pada ibumu sendiri."

"Apa Ibu berhak memarahiku sekarang?"

"Ibu... Ibu minta maaf. Ibu tidak punya pilihan. Aku minta maaf, Nak."

"Ini yang terakhir. Jika Ibu mengirim pasien lagi, Ibu tidak akan bisa melihatku lagi."


Mi Jung sudah menduganya, Eun Jae 10 kali lebih dingin dari cuaca di Siberia. Ibu membantah, diluar Eun Jae memang seperti ini, tapi dia punya hati yang hangat.

"Lihatlah kau memujinya."

"Dia akan merawat pasiennya. Dia setuju."

"Kenapa kau membual kepada orang lain tentang Eun Jae  ketika kau tahu dia sibuk?"


Ibu menjawab jujur, karena ia kesepian, ia merasa sedih karena hidupnya yang menyedihkan, tidak berarti, dan membosankan. Suaminya pergi setelah menipu bank, dan rumah mereka disita. Ia tinggal di jalanan. Selama 6 tahun sejak hari itu, ia meminta putrinya untuk membayar uang sewa, biaya hidup, dan bahkan uang kuliah adiknya.

"Aku ibunya, tapi aku membuat hidupnya berantakan. Aku menjalani hidup yang memalukan. Aku bahkan tidak menghasilkan uang. Sekarang, aku tinggal di rumah adikku dan berjalan di atas cangkang telur (bagai diambang kehancuran). Aku bodoh."

"Tidak, Unnie."

"Mi Jung-ah. Lihat.. Aku membual tentang Eun Jae disetiap kesempatan yang aku bisa. Aku tahu itu membuatnya kesulitan, tapi aku tetap mengirimnya pasien. Orang-orang di pulau ini.. memuji Eun Jae setelah datang ke Seoul. Mereka bilang dia dokter terhebat yang pernah mereka jumpai, dan mereka iri karena aku punya anak seperti itu. Mendengar itu saja.. sudah membuatku bahagia. Aku bahagia mendengarnya. Ketika aku mendengar itu, aku merasa.. hidupku belum gagal sepenuhnya. Itulah alasannya."

"Unnie~"


Di sela-sela kesibukannya, Eun Jae masih tetap menyempatkan untuk belajar. Dan tiba-tiba kepala menghubunginya.


Kapala menyuruhnya ke ruang perawatan Jang Sung Ho. Disana, Kepala mengenalkannya pada ayah Jang Sung Ho, Ketua Jang dari Doosung Group.

"Ini Dokter Song Eun Jae. Dia salah satu ahli bedah terbaik di rumah sakit kami." Kata Kepala.


Ketua Jang berterima kasih pada Eun Jae, ia mendengar Eun Jaebertindak sangat cepat saat kecelakaan itu terjadi.

"Saya tidak bisa melakukannya tanpa bantuan Profesor Kim." Jawab Eun Jae.

"Aku harap kita bisa dekat. Aku menyukai orang yang kompeten. Aku lebih suka orang yang rendah hati." Kata Ketua Jang.

Jang Sung Ho menimpali, ia menyukai penampilan Eun Jae. Eun Jae pasti banyak menarik perhatian pria.

"Jaga bicaramu. Dia telah menyelamatkan hidupmu saat kau hampir meninggal, dan kau malah lancang." Bentak Ketua Jang dan ia meminta Eun Jae memahami putranya.

"Tidak apa. Aku baik-baik saja." Kata Eun Jae.

Lalu Kepala mengajaknya berpamitan.


Kepala Kim memuji Eun Jae yang sangat berguna dalam banyak hal, kompeten, dan pandai membaca orang. Ia merasa yakin karena punya murid seperti Eun Jae.

"Saya merasa tersanjung."

"Suasana hati Direktur sedang bagus. Doosung Group mengatakan akan meningkatkan donasi mereka. Apa ada yang kau mau? Kau bisa memberi tahuku. Direktur mungkin akan mengabulkannya."


Jika tidak keberatan, Eun Jae punya pasien yang sepertinya mengidap kanker hati. Kepala bertanya, apa itu pasien dari kampung halamannya lagi? Eun Jae membenarkan.

"Kau mengakuinya? Siapa nama pasiennya?"

"Jang Man Bok."


Kepala lalu menghubungi seseorang, "Ini Kim Do Hoon. Pindahkan Tuan Jang Man Bok ke kamar pribadi, dan jadwalkan operasinya segera mungkin."

Kepala Kim bertanya pada Eun Jae, siapa yang akan melakukan operasinya? Eun Jae atau dirinya? Eun Jae hanya diam saja.

Kepala Kim melanjutkan bicaranya pada orang yang sedang ia telfon, "Dokter Song Eun Jae yang akan mengoperasinya. Jika pasiennya terlalu banyak, aku akan ke sana."

"Terima kasih, Profesor."

"Tidak apa-apa. Ini adalah hadiah, jadi santai saja. Ibumu orang yang tidak mementingkan diri sendiri. Aku mengaguminya. Tapi menurutku dia harus berhenti melakukan ini. Dia juga harus mempertimbangkan posisimu. Kau akan menjadi Kepala Bedah penggantiku, bukan? Untuk itu, kau juga harus berhati-hati dengan reputasimu di sini. Kau tahu maksudku, bukan?"

"Iya. Saya mengerti, Profesor."

2 komentar

ini drakor yg aku tunggu tunggu. wlo bukan comedy romantis.tp pemerannya hajiwon. dan ceritanya jg brtema medis...
tmbah penasaran dgn jln ceritanya..

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon