Thursday, August 31, 2017

Sinopsis Hospital Ship Episode 2

 
Sumber Gambar: MBC
 

Ibu Eun Jae malam-malam memasak sup daging dan ia merasa kembali mengalami gangguan pencernaan. Mi Jung heran, Ibu terlalu sering mengalami itu.

"Kau sudah minum obat?" Tanya Mi Jung.

"Aku sudah menghabiskannya."

"Bagaimana ini?"

"Sebentar lagi juga hilang."

"Pulau ini terlihat menyedihkan pada saat seperti ini. Orang-orang akhir-akhir ini bahkan pergi ke bulan dan Mars. Kenapa kita tidak punya apotek, maupun rumah sakit disini?"


Mi Jung menyuruh Ibu menemui dokter besok. Ibu menolak, hanya gangguan pencernaan saja, tidak perlu ke dokter segala, lagian ia tidak punya uang untuk kedokter.

"Maksudku rumah sakit kapal. Mereka akan kesini besok." Kata Mi Jung.

"Rumah sakit kapal? Benar. Aku pernah melihatnya sekali atau dua kali. Gratis, bukan? Ini bukan obat yang susah dicari tapi untuk gangguan pencernaan. Mereka pasti punya, bukan?"

"Apa kau senang?"

"Ya."

"Astaga, kau punya putri seorang dokter. Kenapa kau senang?"

Ibu hanya tersenyum.


Besoknya, ia langsung ke RS kapal, disana ia dilayani oleh Hyun. Hyun menanyakan keluhan Ibu.

"Aku sering mengalami gangguan pencernaan. Aku juga merasa sesak di dada." Kata Ibu.


Won Gong memandangi gambar Eun Jae di majalah, judul artikelnya "Keajaiban tangan yang membawa hidup". Perawat Pyo bertanya, apa Won Gong menginginkan dia?

"Aku bahkan tidak bisa bermimpi. Dokter seperti dia tidak akan bisa bekerja sama dengan kita." Jawab Won Gong.

"Jika kau tidak bisa, cobalah buat janji dengannya."


Won Gong khawatir, apa perawat Pyo merasa tidak enak badan? Perawat Pyo menjawab, menyepelekan sesuatu tidaklah baik. Hati dan perutnya sepertinya ingin memberontak.

"Dia juga cantik. Apa yang harus kau makan supaya punya anak cantik?" Tanya Perawat Pyo.


Hyun selesai memeriksa Ibu Eun Jae, ia akan memberi Ibu obat untuk gangguan pencernaan dan acid reflux (kenaikan asam lambung kekerongkongan sehingga menyebabkan ketidaknyamanan). Ibu meminta obat yang banyak. Hyun menjawab kalau resepnya untuk satu minggu.

Hyun merasa Ibu perlu memeriksakan jantungnya. Ibu bertanya, apa Hyun menemukan kelainan pada jantungnya. Hyun tidak bisa tahu pasti, tapi melalui tes elektrokardiogram (tes diagnostik umum yang digunakan untuk mengevaluasi fungsi jantung) bisa menjelaskan segalanya.

"Lakukan pemeriksaan itu untuk berjaga-jaga." Lanjut Hyun. Ibu kelihatan sedih, Hyun pun melanjutkan, "Jantung yang lemah dapat menyebabkan gejala seperti gangguan pencernaan."


Ibu tiba-tiba mengatakan kalau Hyun sangat ganteng juga baik hati. Ibu harap, putrinya bisa bertemu dengan seseorang seperti Hyun. Hyun bertanya, apa Ibu memiliki putri? Ibu menjawab kalau putrinya sangat cantik dan pintar.

Ibu lalu menunjukkan foto Eun Jae. Hyun langsung meminta ibu untuk mengaturkan kencan buta dengan Eun Jae.

"Dia mungkin sangat sibuk. Dia sangat cerewet dan--"

"Dan?"

"Dia menggertakkan giginya ketika tidur."

"Apa dia mendengkur?"

"Sangat keras sampai bisa meniup atap. Apa anda takut?"

"Sedikit."

"Kalau begitu menyerahlah."

"Tidak, aku bisa mengatasinya. Demi cinta."

"Terdengar sangat bagus. Anda benar. Ini demi cinta. Itulah cinta seharusnya."

Ibu dipanggil oleh Ah Rim dari luar, mengatakan kalau obatnya sudah siap. Ibu lalu pamit pada Hyun, untuk masalah kencan butanya akan ia bicarakan saat kunjungan berikutnya.


Ibu kembali naik perahu untuk kembali ke rumah. Hyun selesai dengan dokumennya dan ia menyadari ibu meninggalkan foto Eun Jae. Di perahu ibu juga ingat fotonya ia tinggalkan tapi ia terlambat.

Hyun keluar dan ia hanya melihat perahu yang dinaiki ibu sudah semakin menjauh. Hyun memutuskan untuk memberikannya di kunjungan Ibu berikutnya.

Hyun memandangi foto Eun Jae, "Dia terlihat cantik.. tapi aku sedikit kepikiran."


Mi Jung menyarankan ibu untuk pergi ke rumah sakit Eun Jae besok dan melakukan pemeriksaan dari kepala hingga ujung kaki, Jangan menunggu sampai sakit.

"Aku akan bungkus beberapa kepiting asin. Kimchi kita rasanya sangat sempurna. Itu favorit Eun Jae. Pergi temui Eun Jae dan masak untuknya."

"Apa begitu?"

"Ya."


Seorang dokter menanyai Eun Jae saat Eun Jae sedang istirahat. Dokter itu mendengar kalau Wun Jae bersedia saat dipanggil jam 1 dini hari untuk menggantikan Kepala. Eun Jae mengambil alih tugas 17 jam, sungguh loyalitas yang sangat luar biasa.

Eun Jae mengambil roti dan akan memakannya. Dokter itu heran, apa Eun Jae juga belum makan?

"Kau pasti berpikir ini tidak bisa. Apa aku harus membagikan beberapa operasi padamu? Ah. Bukankah kau belum cukup kompeten?"

"Code Blue, Code Blue. Kamar 187, Ahli Bedah, Dewasa, Code Blue."
Eun jae langsung berlari kesana tanpa sempat memakan rotinya.


Kamar 187 adalah kamarnya Jang Sung Ho, tapi Sung Ho baik-baik saja saat Eun Jae kesana. Eun Jae meminta penjelasan pada perawat yang ada disana.

"Itu ideku. Aku ingin bertemu denganmu." Jawab Sung Ho.

Eun Jae lalu menyuruh perawat keluar.


Eun Jae menanyakan kondisi Sung Ho, sudah baikan kan? Sung Ho membantahnya dan ia pura-pura kesakitan. Eun Jae lalu menyuruhnya berbaring dan mulai memeriksanya.

"Kau sulit juga. Aku meneleponmu, ruanganmu, dan departemenmu, tapi aku masih belum bisa." Kata Sung Ho.

"Anda tampaknya baik-baik saja. Aku permisi."

Saat Eun Jae melangkah pergi, Sung Ho tiba-tiba menyelipkan sesuatu di sakunya. Eun Jae berbalik dan mengeluarkan itu, bertanya apa maksudnya itu. Sung Ho menjelaskan itu adalah harga untuk menyelamatkan hidupnya, ayahnya yang meninggalkannya.

"Tidak perlu." Eun Jae mengembalikannya.

"Anggap saja kompensasi."

"Rumah sakit yang membayarku."

"Anggap saja itu gajimu."

"Anda bisa melunasi tagihanmu di lantai pertama."

"Kau memang tipeku."


Sung Ho mengancam, jika Eun Jae keluar, ia akan menekan tombol code blue lagi. Eun Jae tak habis akal, ia menghubungi seseorang.

"Ini Song Eun Jae dari Ahli Bedah. Pindahkan pasien Jang Sung Ho ke Psikiatri."

Sung Ho tersenyum dengan kelakukan Eun Jae itu.


Ibu sudah sampai di rumah sakit dan menghubungi Eun Jae, tapi hanya berkata kalau ia ada di Seoul. Eun Jae bertanya dingin, apa yang terjadi?

"Ibu minta maaf tapi--" Ibu terhenti saat melihat Eun Jae, lalu ibu berjalan mengikuti Eun Jae.

Eun Jae menebak, apa ibunya membawa banyak pasien dari pulau lagi? Ibu membenarkan tapi pasien itu-- Eun Jae memotong, apa Ibu Presiden mereka? Kenapa Ibu suka mengurus mereka?

"Eun Jae-ya. Bisakah kau membiarkan Ibu selesai bicara dulu?"

"Bawa pasiennya pulang. Aku tidak bisa lagi. Profesorku sudah cukup menyusahkanku. Bisakah Ibu membantuku? Aku harus berjuang untuk bertahan di sini."


Eun Jae menutup telfonnya kesal. Ibu akan kembali tapi ia tidak tega.


Sementara itu, Eun Jae ke ruang baca, ia sedih. Eun Jae menerogoh sakunya dan roti tadi ada di sana, ia lalu memakannya.


Ibu diam-diam mengamati Eun Jae dari luar, Eun Jae tersedak dan Ibu kelihatan sangat khawatir. Ibu bergumam, harusnya Eun Jae makan itu dengan air atau susu.


Ibu berjalan pulang dan saat ada di jembatan, ia memandang gedung rumah sakit Eun Jae. Ibu menatapnya dengan berkaca-kaca, lalu melanjutkan jalannya.


Eun Jae dan yang lain keluar setelah melihat peralatan terbaru yang dimiliki rumah sakit. Yang lain meminta Eun Jae mentraktir mereka untuk merayakannya.

"Ayolah, dokter. Oke?"

"Oke." Kata Eun jae.


Tapi tiba-tiba Eun Jae mendapat telfon. Itu adalah telfon dari Mi Jung, yang panik, "Eun Jae! Ibumu pingsan. Ibumu pingsan."

Eun Jae juga ikutan panik, ia meminta Mi Jung menyalakan speaker telfon dan mulai mengiteruksikan apa yang harus Mi Jung lakukan.


"Apa kau merasakan sesuatu yang keras di antara payudaranya? Tekan yang keras itu dengan kedua tangan. Kau harus menekan minimal sampai 5 cm."

Mi Jung melakukan itu sambil menangis panik.

"Jangan menangis. Kau melakukannya dengan baik."

"Eun Jae, Penjaga Pantai ada di sini. Aku melihat mereka."


Eun Jae bergegas keluar rumah sakit tapi kemudian ia kembali lagi kala mengingat sesuatu. Eun Jae masuk ke kamar Sung Ho.

"Bayar aku karena sudah menyelamatkan hidupmu. Telpon."

Sung Ho jelas bingung ditodong begitu oleh Eun Jae.

"Kau tidak mendengarku? Telpon sekarang juga!"


Yang dimaksud Eun Jae adalah menelfon helicopter yang bisa langsung membawanya ke rumah ibunya di pulau.


Ibu Eun Jae sudah dibawa oleh penjaga pantai ke rumah sakit, di dalam perahu Ibu juga mendapatkan pertolongan pertama. Eun Jae tidak bisa tenang di dalam heli, ia terus melihat ke bawah.


Ibu sampai di rumah sakit, dokter menanganinya tapi detak jantung ibu tidak mau kembali.


Eun Jae datang dan langsung melakukan CPR pada ibunya. Eun Jae meminta perawat menyuntkkan apinefrin (obat yang digunakan untuk penyuntikan pembuluh darah dalam pengobatan hipersensitivitas akut).


Dokter yang menangani Ibu tidak bisa mengijinkan hal itu, ia menanyakan siapa Eun Jae. Eun Jae membentak, ia adalah anak kandung pasien.


Eun Jae terus berusaha untuk mengembalikan detak jantung ibunya, ia menggunakan alat pacu jantung.

"Aku akan melakukan ini sepanjang waktu. Itu datang secara alami padamu seperti bernapas. Itulah mengapa.. Itulah mengapa untuk sementara, Aku lupa bahwa aku sedang mengobati.. ibuku sendiri. Aku lupa."
Narasi Eun Jae
Eun Jae tetap gagal, ibunya meninggal. Eun Jae lalu melihat jam di dinding.

"Waktu kematian, 19:05."

Dokter: Anda tidak perlu melakukannya. Anda tidak perlu mengumumkan waktu kematiannya.


Eun Jae ingat, ia mengirim ibunya pergi kemarin.

"Hari itu, pasien yang mengunjungiku, pasti dia. Jika aku mau mendengarkannya.. Jika aku membiarkannya dia bicara, mungkin aku bisa berbuat lebih banyak untuknya."


Eun Jae berjalan ke luar rumah sakit tanpa bertenaga. Ia lalu berlutut disana.

"Tapi.. Tapi yang aku lakukan untuknya sebagai dokter hanya mengumumkan dia sudah meninggal. Aku.. tidak bisa menangis saat dia meninggal. Mungkin aku berpikir.. kalau aku tidak punya hak untuk menangis."


Eun Jae kemudian berlayar.


Joon Young malang, ia mabuk laut.


Jae Geol melakukan tugasnya sebagai dokter pengobatan Korea, ia melakukan akupuntur pada pasien. Tapi pasien terus protes, memintanya bilang kalau mau memasukkan jarum.

"Apa anda ingin menyakitiku?"


Perawat Pyo membantu Pasien, ia menyampaikan pada Jae Geol untuk memberitahu pasien sebelum memasukkan jarumnya.

"Apa tidak sakit jika aku memperingatkannya?" Tanggapan Jae Geol, lalu ia bertanya untuk pasien selanjutnya. Perawat Pyo dan satu perawat yang disana hanya bisa mendesah.


Perawat Pyo selanjutnya melihat catatan seorang pasien, ia terkejut melihat Joon Young akan melakukan cabut gigi pada pasien itu.


Perawat Pyo langsung masuk ke ruangan Joon Young untuk menghentikannya.


Perawat Pyo menceramahi Joon Young, pasien itu minum obat untuk diabetes, tekanan darah tinggi, dan hiperlipidemia (penyakit dimana kadar lemak dalam tubuh sangat tinggi). Joon Young langsung membuka mulut lebar, menyadari kesalahannya.

"Aspirin itu untuk pengencer darah. Dengan banyak obat itu, apa yang akan terjadi jika anda mencabut giginya?"

"Akan sulit menahan darahnya."

"Apa kau sadar kalau kita hampir mengalami kecelakaan medis?"

"Aku minta maaf. Aku tidak berpikir jernih karena sedang mabuk laut."

"Jangan gunakan itu sebagai alasan. Ini bukan kesalahan pertamamu bulan ini."


Won Gong dan perawat yang bertugas bersama Joon Young tadi melihat itu. Perawat merasa bersalah dan Won Gong terlihat menenangkannya.


Seorang kakek berlari panik dengan membawa cucunya yang  menangis ke RS kapal


Di dalam, Hyun menangani anak itu. Kakek menjelaskan kalau cucunya dari kemarin ia sakit perut dan hari ini dia menggeliat kesakitan.


Hyun bersikap manis, bertanya pada anak itu siapa namanya. Kakek yang menjawab untuk anak itu, Seo Woo Jin. Hyun lalu memanggil nama anak itu dan mulai memeriksa.

Hyun menekan perut Woo Jin, dan pada bagian tertentu Woo Jin mengerang kesakitan.


Woo Jin lalu mengecek menggunakan USG, ternyata ada radang usus buntu akut, diameternya mendekati 2 cm dan Woo Jin demam tinggi.

"Telpon 911. Kita harus mengoperasikannya sesegera mungkin." Kata Hyun.


WOn Gong menelfon ambulan dan mendapat kabar buruk, "Angin terlalu kencang bagi helikopter untuk lepas landas."

"Apa maksudmu? Kita tidak punya waktu. Kita harus mulai operasi. Jika tidak--"


Si kakek bingung, "Apa yang akan terjadi? Apa dia akan mati jika tidak dioperasi? Apa anda bilang dia akan mati?" Kakek lalu memaksa Hyun untuk melakukan sesuatu, ia meminta Hyun segera mengoperasi cucunya.


Tiba-tiba Eun Jae muncul, mengatakan kalau operasi bisa dilakukan di RS kapal. Eun Jae memeriksa Woo Jin, tapi Hyun menampik tangannya, siapa Eun Jae?

"Aku baru saja ditugaskan kesini. Aku akan bekerja di sini mulai sekarang. Aku Song Eun Jae dari Ahli Bedah." Jelas Eun Jae.

6 komentar

Kyyknya menarik,,,lanjut trus min,,,

Lanjut terus y min...seru ha ji win

TT sedih bgt jd doktr tp gk bisa mnyelamatkn ibuny sndri, psti rsany sesek TT TT

Akhirnya drama ha ji won muncul lagi... Terus semangat ya mimin.. Lanjutkan smp akhir

Ditunggu lanjutan critanya..😘

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...