Tuesday, August 1, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 10

Sinopsis The King Loves Episode 10

Sumber Gambar: MBC


Won sudah memutuskan, tapi kita belum tahu siapa yang ia belum tahu siapa yang ia bebaskan. Ia pergi ke Jeonokseo dan bertemu prajurit yang menyeret kasar San tadi. Ia langsung menghunus pedangnya, tapi hanya meletaknnyanya di leher prajurit itu, ia tak mampu menebasnya.

Won lalu menghajarnya saja dengan kekuatan penuh.

"Aku peringatkan kau! Jika kau berani menyentuh orangku lagi, akan kupastikan kau mengemis untuk hidupmu."


Won mengunjungi Rin setelah berteriak-teriak dimana orangnya berada. Rin langsung berdiri dan memberi hormat.

"Kenapa Anda disini?" tanya Rin.

" "Apa yang membuatmu begitu lama?" Itu yang seharusnya."

Won lalu minta ditinggalkan berdua.


Won masuk ke dalam sel Rin. Rin membuka pembicaraan, ia memberitahu kalau San dimasukkan ke sel orang biasa. Won sudah mendengarnya ternyata.

"Dia sedikit terluka."

"Dia adalah Soo Hwa."

"Dia terluka disini (menunjuk sudut bibirnya). Dia berdarah."

"Aku melihatnya, kakakmu yang melakukannya. Aku melihat Soo Hwa dipukuli dan diseret pergi. Aku hampir muntah. Aku sangat marah. Beritahu kakakmu untuk menjauh dariku. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan padanya."

Rin membebaskannya untuk melakukan apapun pada kakaknya.


Won membahas soal Raja yang hanya akan membebaskan satu sari mereka berdua dan ia memilih untuk membebaskan Soo Hwa.

"Aku akan membiarkanmu disini. Aku tidak tahan memikirkan dia dipukuli dan diseret-seret lagi. Itulah mengapa."

"Anda bilang, saya satu-satunya teman Anda dan satu-satunya yang bisa Andapercayai sepenuh hati."

"Itu benar."

Rin tersenyum, "dan Anda akan membiarkan saya disini jadi wanita itu bisa bebas?"

"Itu juga benar."


Rin tertawa, lalu Won juga ikut-ikutan tertawa, jadi mereka ngakak berdua.


San dibangunkan oleh prajurit. Awalanya prajurit itu kasar tapi diingatkan temannya untuk sopan, prajurit itu pun sopan.

Namun balik kasar lagi saat San bertanya soal Rin dan kembali diingatkan oleh prajurit satunya untuk sopan.


San berjalan dan salju turun untukpertama kalinya. San melihat Won di sebuah jembatan, ia langsung berlari menuju Won.


San memarahi Won yang baru muncul. Tahu gak kalau teman Won, si Han Cheon atau Soo In itu sekarang dipenjara dan semua itu karena dirinya.

"Aku dijebak saat mengejar pria bertato ular itu.."

Won tiba-tiba menyentuh bibir San yang terluka. San terkejut, apa yang Won lakukan? Tapi Won hanya diam saja.


Won tiba-tiba memeluk San. San berusahan melepaskan pelukan Won, "Kutanya kau sedang apa?"

"Kau tergelincir di salju, kau jatuh, jadi bersandarlah padaku sebentar."

San akhirnya berhenti melawan dan membiarkan Won memeluknya semakin erat, San menangis.


Yeom Bok dan Gae Won menunjukkan diri. Mereka menyamar sebagai Nyonya dan pelayannya. Yeom Bok protes karena Gae Won selalu saja dapat peran baik. Gae Won mendiamkannya, semua ini gara-gara anak panah yang mereka curi itu jadi diam saja. Pokoknya Gae Won Nyonya dan Yeom Bok pelayannya.


Namun anak-anak suruhan Won dan Rin menemukan mereka, anak-anak itu membuntuti mereka.


Won melihat San sedang menulis surat. Won mendekatinya dan terkejut mengetahui bahwa ternyata Tuan San mengajarinya menulis juga.


Won ingin membaca surat San itu tapi San melarangnya, San ragu seorang pengawal bisa membaca. Won memaksa dan merebut surat itu. Jadinya mereka sangat dekat dan setelah menyadarinya mereka berhenti berdebat.

San meminta Won untuk melepaskannya. Won cepat-cepat melepaskannya, jadi canggung gitu.


Untuk mengembalikan suasana Won bertanya, apa surat itu untuk Menteri Keuangan? San menegur Won yang tidak sopan, memangnya kedudukan Won itu diatas menteri ya?

Won berujar, ia baru menemui seorang pelayan yang menulis surat untuk Tuannya. San menjelaskan, Tuannya pasti terkejut mendengarnya ditangkap jadi ia hanya ingin mengatakan kalau ia baik-baik saja.

"Dan juga.. bertanya apa beliau bisa membantu temanmu si Han Cheon atau Soo In itu."

"Dia Soo In dan aku Han Cheon. Bisakah kau ingat itu?!" Bentak Won.

"Tuanku mengenal banyak orang, aku yakin beliau bisa membantu."

"Han Cheon. Namaku Han Cheon. Ulangi, Han Cheon."

"Aku mengerti!"


Lalu orang suruhan Won datang, mereka meminta bayaran pada Won. 5 nyang untuk yang gemuk dan 5 nyang untuk yang kurus. Anak-anak sedang mengawasi mereka, jadi Won harus bayar dulu jika mau ikut.

Won menyuruhnya menunggu, ia akan mengambil uangnya.


San lalu mendekati orang itu. San memintanya untuk mengantarkan surat ke rumah Menteri Keuangan, berikan pada Ketua Pelayan, Ko Hyung.

"Berapa biayanya?" Tanya Orang itu.

"Kau bisa bertanya padanya soal bayaran." Jawab San menunjuk ke arah datangnya Won, lalu ia pergi.


Won ingin protes tapi orang itu menahannya, ia minta 1 nyang lagi untuk bayaran surat itu.


Yeom Bok yang pertama menyadari kalau mereka sedang diikuti. Lalu tiba-tiba Jang Eui menghadang jalan mereka. Mereka akan kabur tapi Jin Gwan berhasil menangkap mereka.


Jin Gwan dan Jang Eui lalu membawa mereka pada Won.

"Kalian kan?"

"Tidak." Jawab Yeom Bok.

"Apanya yang tidak?"

Gae Won menawari, jika mereka butuh uang, ia bisa  minta suaminya jadi..


San tidak tahan, ia langsung menyudutkan Gae Won dan melepas rambut pasangannya.

"Ahjusshi."

"Ya."

"Seseorang dipenjara karenaku. Jadi aku sedang buru-buru. "

"Oh.. gitu ya.."

San langsung saja mengatakan kalau mereka yang mencuri anak panah Seja tapi mereka jelas mengelaknya. San bertanya tegas, siapa yang menyuruh mereka mencuri panah itu, ia hanya perlu tahu hal itu.

"Maaf.. aku rasa kalu salah menangkap informan." kata Gae Won.

"Ah.. ini akan memakan waktu lebih lama dari yang aku duga."


San mengkode Won untuk ikut bertindak. Won menyampaikannya (kode) pada Jang Eui dan Jin Gwan. Jin Gwan dan Jang Eui memelintir tangan Yeom Bok. Yeom Bok protesm kenapa ia yang disakiti.

Jin Gwang berkata kalau ia bisa mematahkan satu per satu semua tulang Yeom Bok. Jang Eui menyarankan untuk mulai dari jari dulu.

Gae Won menyuruh Yeom Bok menahan sebentar. Jin Gwan langsung memutar lengan Yeom Bok. Akhirnya Yeom Bok menyerah,

"Dia adalah Dol Bae, si pedagang garam!"


San dan Won mengawasi si Dol Bae itu tapi tidak ada yang anh dalam pengintaian ini.


San menatap Won yang tersenyum manis padanya. San jadi ingat kembali pelukan malam kemarin, ia salah tingkah dibuatnya.


San minum untuk meredakan hal itu tapi ia malah tersedak. Won khawatir, tapi San mendadak membahas matahari yang akan segera terbenam. Won menjawab kalau matahari terbenam setiap hari.

"berapa lama kita akan mengawasinya?" tanya San.

"Sedikit lagi."

"dia si Dol Bae, pedagang garam."

"Ya. Kita tunggu saja sampai ia menemui seseorang atau seseorang datang menemuinya."

"Apa kau yakin ada seseorang dibelakangnya?"

"Apa kau pikir, seorang pedagang garam sengaja mencuri anak panah Seja Jeoha, lalu menggunakannya untuk memanah Raja? Tentu saja ada seseorag dibelakangnya."

Ayo tangkap dia saja. Kita bisa mengancamnya. Dia pasti akan mengaku. "

"Setelah kau masuk penjara, kau jadi orang yang berbeda rupanya. Kau ingin mengancam orang dan mematahkan tulang mereka. Jadi So Hwa-ya?"

"Ya,"

"Siapa namaku?"

Won tersenyum setelah bertanya hal itu. San melotottak percaya, apa Won tidak khawatir dengan temannya? Bagaimana bisa Won tersenyum seperti itu? saat ia cemas setengah mati.

"Kau bisa begini karena tidak tahu tempat seperti apa disana.. Orang-orang membawa besi panas."

"Jangan cemas, dia memiliki banyak koneksi, jadi dia tidak perlu melalui semua itu."

"Ah.. kau memiliki kepercayaan berlebih pada temanmu itu."

Dan percakapan mereka terhenti saat seorang pembeli datang ke kios Dol Bae. Tapi setelah memperhatikan, San menyimpulkan kalau orang itu hanya pelanggan biasa yang membeli garam.

"Soo Hwa-ya"

"Baiklah! Namamu Han Cheon. Puas?"

Won tersenyum puas.


Won membawakan selimut dan alas tidur untuk Rin. Sementara ayah Rin membawakannya makanan. Tapi semua itu dibawa oleh Prajurit. Prajurit senang karena mereka dibayar. Rin melihat makanan itu dan ia tahu betul kalau itu adiknya yang memasak, Wang Dan.


Orang yang membawa surat San sampai di rumah Menteri Eun tapi ia malah dipanggil oleh Moo Suk. Moo Suk berkata kalau ia tinggal disana. Orang itu meminta uang baru mau memberikan suratnya,


Moo Suk membawa surat itu pada Song In, menjelaskan bahwa Soo Hwa (San) berhubungan dengan Menteri Eun. Song In menjawab sambil membaca surat San, menurutnya hubungan mereka tidak biasa, surat itu kelihatan formal tapi jika dilihat isinya sepertinya San memohon dan meminta bantuan.

"Seolah 'wanita' pada Tuannya. Atau anak pada ayahnya."

"Wanita? dengan penampilan seperti itu?"

"Tulisannya tebal dan rapi menunjukkan kelas. Soo Hwa yang seorang pelayan, tapi bagaimana bisa menulis seperti ini?"

Moo Suk menemuka ada yang aneh. Selama 7 tahun ini tidak ada pelayan yang bekerja di rumah Menteri Eun. Song In ingat, saat Nyonya Eun meninggal itu sudah 7 tahun, kan?

Moo Suk membenarkan dan sejak hari itu, Tuan Eun mengusir seluruh pelayannya.

"Bagaimana kau melakukan kesalahan lagi? Kau melukai wajah puterinya."

"Saya mencoba membunuh pelayannya. Tapi dia tiba-tiba melompat ke depan pelayannya."


Song In bangkit, memerintah Moo Suk untuk mencari pelayan yang bekerja di rumah Tuan Eun 7 tahun lalu, seseorang yang dekat dengan puterinya.

"Apa putrinya bernama San?"

Moo Suk mengangguk.

"Aku harus melihat dengan mataku sendiri."


San terus mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Won langsung menggenggamnya, apa San segutu gugupnya? Sangat khawatir pada Soo In? San berdalih, bukan khawatir tapi hal itu terus mengganggunya, ia benci orang yang terluka atau sekarang karena dirinya, ia punya pengalaman soalnya.

San selesai menjelaskan dan berusaha melepaskan tangannya tapi genggaman Won malah semakin erat.

"Dia akan segera bergerak." Kata Won.

"Siapa?"


Won lalu membisiki San, ia menggunakan trik melalui pelanggan tadi.


Pelanggan tadi ternyata adalah Jang Eui. Jang Eui meletakkan surat di kotak takar Dol Bae, meminta untuk disampaikan pada Tuan Dol Bae.

"Anda siapa" tanya Dol Bae berbisik.

"Dia akan tahu kalau kau bilang ini mendesak."


Dol Bae langsung bergerak. Won tersenyum senang. Ia lalu mengajak San mengikutinya. Tapi San masih terdiam di tempatnya duduk, ia menyentuh tangannya yang tadi digenggam Won.


Bi Yeon masih berdoa di tugu yang sama. Song In memutari tugu dar arah berlawanan. Bo Yeom menyadari hal itu jadi ia putar arah.


Tapi Song In juga putar arah dan saat Bi Yeon berjalan menuju ke arahnya, ia menyapa Bi Yeon. Bi Yeon awalnya mengabaikan Song In tapi saat Song In bertanya apa ia mengenal Soo Hwa, Song In langsung berhenti.

Bi Yeon terkejut, bagaimana Song In bisa mengenalnya. Song In berbohong kalau Soo Hwa meminta bantuannya. B Yeon tambah terkejut, Soo Hwa kan diperjara tapi kenapa Song In bisa menemuinya?

Song In lalu mengulurkan surat Soo Hwa. Ia sengaja membukanya suratnya itu dan menyerahkannya pada Bi Yeon. Ia mengatakan kalau Bi Yeon bisa membaca surat itu lalu membalasnya, ia akan menunggu.

"Apa ini untukku? Apa ini dari Soo Hwa? Kenapa? Ini tentang apa?"

"Aku belum membacanya, jadi akau tidak tahu. Kita seharusnya tidak membaca surat yang tidak ditujukan untuk kita."

Bi Yeon membolak-balik surat itu karena ia tidak bisa membaca. Song In semakin yakin kalau Bi Yeon bukan Putri Menteri Eun.


Won dan San terus membuntuti Dol Bae sampai Dol Bae masuk ke sebuah rumah, rumah Gibang. San akan langsung masuk tapi Won menahannya. Won menjelaskan kalau disana itu rumah gibang, tempat minum dengan para Gisaeng (Wanita penghibur).

"Aku pernah kesini sebelumnya. AKu tahu." Jawab San santai dan berjalan masuk ke dalam. Won bertanya-tanya heran, bagaimana San bisa masuk ke dalam dan ngapain?


Moo Suk menemukan pelayan Menteri Eun dulu. Bibi Pengasuh itu menjelaskan bahwa San sudah terlahir sangat cantik.

"Kau berhenti menjadi pengasuhnya 7 tahun lalu?"

"Iya. Setelah Tuanku kehilangan istrinya, Tuan sangat menderita. Dia lalu menyingkirkan semua orang yang mengenal istrinya. Aku pikir karena melihat wajah kami mengongatkannya pada Nyonya."

"Apa kau bisa mengenali Agasshimu jika melihatnya sekarang?"

"Aigo.. tentu saja. Wajahnya memang terluka, tapi aku membesarkannya seperti anakku sendiri. Jangankan 7 tahun, aku akan mengenalinya bahkan setelah 70 tahun."


Pelayan mengatakan mereka belum buka, tapi Won menyogoknya jadi mereka diijinkan masuk.


San memastikan, kalau mereka tahu siapa dibalik semua ini Seja akan melepaskan Soo In kan? Won mengiyakan.

"Bagaimana jika Putra Mahkota berubah pikiran?"

"Tidak akan. Menurutmu, dia mungkin malas dan jahat. Tapi dia selalu menepati kata-katanya."

"Jadi apa Seja-nim-mu itu.."

"Dia bukan Seja-nim-ku daja, Dian juga Seja-nim-mu juga."

"Baiklah."

San lalu menunjukkan lantai yang ia rasa aneh.


Won menahan San naik, ia takut ada Gisaeng diatas sana. Kebetulan saat mereka berdebat Bibi Pengasuh yang ditinggal Moo Suk melihat mereka. 

San tetap masuk dan Bibi Pengasuh sepertinya mengikuti.


Mereka sampai di lorong yang ada beberapa ruangan di kiri kanannya, mereka memeriksa satu persatu(lebih teoatnya San sih yang memeriksa, Won celingukan mengamati keadaan). San merasa rumah gibang itu sangat mencurigakan saolanya ia pernah mengikuti Tuannya kesana sekali dan putra Kanselir juga ada disana.

"Keluarga Kanselir sangat tidak berguna." Tutup San.

"Anak-anaknya tidak semua seperti itu."

"Saudara itu sama. Ah.. dia ada disana juga."

"Dia siapa?"

"Ada orang yang menguping selain aku, dia memakai masker. Kupikir dia mata-mata tapi dia malah membantuku."


Bibi pengasuh mengikuti San dan Won tapi Song In tiba-tiba membekapnya dari belakang. Song In melarangnya membuat suara.


San menunjukkan tempat dimana mereka bersembunyi, pria itu dan dirinya. Won menggut-manggut, disana rupanya. San penasaran, siapa orang itu dan kenapa orang itu membantunya, apa dia orang yang ia kenal?

"Tidak mungkin. Aku tidak kenal banyak orang disini. Tapi berkat dia aku selamat." Tutup San lalu ia sembunyi dibawah meja.

Menurutnya kalau mereka disana, mereka bisa melihat semua orang yang lewat di lorong. Tapi Won tidak menyahut saat ia meminta pendapatnya.


"Bagaimana kau bisa melakukan ini?" tanya Won tiba-tiba, San pun keluar.

Won ternyata masih di luar dan saat ia menyibak tirai aka masuk, San juga akan keluar jadi mereka saling berhenti di depan tirai.

"Kenapa kau bisa melihat ke arah lain saat aku ada di sini? Bagaimana bisa kau memikirkan pria lain saat aku ada tepat di hadapanmu? Kalau aku tidak bisa (melakukan itu semua saat San ada di depannya)."

1 komentar so far

Salpok sm jang eui dia ganteng bgd 😂😂 cerita'a makin seru suka bgd

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon