Wednesday, August 2, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 11

Advertisement

Sinopsis The King Loves Episode 11

Sumber Gambar: MBC


Won heran, bagaimana bisa San memikirkan dan menyebut orang lain saat ia tepat berada di depan San, padahal ia sama sekali tidak bisa melakukan itu.

San mengakui, tidak mudah juga memikirkan orang lain saat Won ada di depannya. Won membuatnya merasa tidak nyaman, khawatir, dan bingung jadi ia meminta Won pindah dari jalannya.

Won diam saja, masih spechless. San mengulanginya lagi, "Kubilang minggir!". Barulah Won membuka jalan untuk San.



Bibi pengasuh mengenali San dan memanggil San, "San Agasshi". Song In tersenyum, rencananya berhasil. Bibi Pengasuh heran, bagaimana bisa San ada disana, kenapa memakai pakaian seperti itu dan bagaimana bisa wajahnya tetap mulus.

 
 
Saat sedang mengejar San yang buru-buru keluar, Won melihat Jeon datang. Won lalu menarik San untuk mengintip. Jeon bicara dengan kepala Dol Bae disana. Jeon bertanya apa pustakawan sudah datang, Dol Bae mengatakan belum, ia juga sedang menunggunya.

"Orang itu selalu saja membuatku menunggu." kesal Jeon.

Won mengajak San pergi karena mereka sudah melihat lebih dari cukup tapi San malah sudah nggeloyor duluan dan Won bicara sendiri.


San berbicara dengan keras saat keluar gerbang rumah Gibang, "Aku ada urusan mendesak, bilang padanya aku harus pergi duluan."

Jin Gwan dan Jang Eui muncul dia atap. Mereka bertanya-tanya, apa San berpesan pada mereka dan siapa yang dimaksud "dia" oleh San.


Lalu Won muncul, Jang Eui berpikir, mungkin maksud San adalah menyampaikan pesan tadi pada Won. Jin Gwan akan turun untuk menyampaikannya pada Won tapi Jang Eui menahannya, tidak sekarang.

Sementara itu, Won serius mengawasi kepergian San.


San pulang ke rumahnya, Menteri Eun kelihatan sangat khawatir dan ia lega saat San bilang ia tidak apa-apa. Menteri Eun memegangi dadanya dan hampir jatuh. San khawatir, apa jantung ayahnya sakit lagi?

"Jika kau begitu mengkhawatirkan ayahmu ini, maka lakukanlah seperti yang aku katakan. Biarkan Koo Hyung mengantarmu kembali ke Gunung. Layani Gurumu.."


San memotong, putra kedua Kanselir terlibat dalam kejadian 7 tahun lalu. Pria bertato ular yang membunuh ibunya dan melukai Bi Yeon bekerja sama dengan Putra kedua Kanselir.

"Apa kau tertangkap saat menyelidikinya?"

"Itu bukan masalah penting."

"Kau hanyalah seorang pelayan. Jika seseorang hendak mengambil nyawamu, kau tidak bisa komplain."

"Mereka.. mencoba menjebak putra mahkota. Mereka memaksaku memberi pengakuan palsu. Jika dia tidak ikut campur, aku pasti sudah terluka parah."

"dia?"

"Dia sekarang dipenjara karena mencoba menyelamatkanku. Jadi aku butuh bantuan ayah."

"Dia yang kau bilang itu.."

"Salah satu pengawal Seja Jeoha. Namanya Soo In."


Menteri Eun melirik Koo Hyung, mungkin memintanya untuk membantu. San berterimakasih dan ia khawatir, ia tidak bisa berhenti memikirkan Soo In (Rin). 


Dan berlari-lari menuju tempat Won berada, ia ingin bertemu tapi Jang Eui dan Jin gwan melarangnya, meminta bertemu Won besok saja.

"Nanti kapan? Dia pasti akan pergi tanpa pamit lagi."

"Beliau bilang ingin bicara berdua dengan Kanselir." Jawab Jang Eui.

Jang Eui meminta Dan pergi saja, pasti ia nanti sampaikan kalau Dan datang.

"Janji ya?"

"Iya, Saya janji."


Dan berbalik pergi, kecewa. Jang Eui mendorong Jin Gwan untuk mendekati Dan. Dan menoleh, kenapa.

"Jalannya licin.. ada saljunya." Kata Jin Gwan gagap.

"apa?"

"Jalan, salju.. Licin"

"Jalannya licin karena bersalju?"

"Iya."

"Kau memintaku hati-hati?"

"Iya."

"Kau juga harus hati-hati."

Jin Gwan tersenyum lebar. Jadi sepertinya Jin Gwan suka dengan Dan danJang Eui membantunya mendekati Dan.


Saat ini Kanselir sedang membaca puisi Do Yeon Myeong. Won menganalogikan isi puisi itu dengan tindakan Kanselir saat ini. Kanselir diam saja, tidak berusaha menolong Rin dan tidak punya rencana juga.

"Saya tidak bisa menggunakan perasaan dalam ranah hukum. Meskipun dia adalah keluarga kerajaan..."

"Omong kosong. Kau tahu putra keduamu berusaha merebut tahtaku?"

"Seja Jeoha!"

"Dia harusnya hanya menginginkan tahtaku saja."


Won duduk, ia menjelaskan bahwa Jeon bekerja dengan orang lain untuk menjebaknya. Kanselir langsung berlutut, Putranya itu bodoh dan tamak tapi dia tidak mungkin berani...

"Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menyebabkan pertumpahan darah? dan melihat siapa diantara kami yang akan menang?"

"Mohon maaf, tapi saya mengenal ANda."

"mengenalku?"

"Jika Anda berencana saling menumpahkan darah, Anda tidak mungkin datang menemui saya."




Kanselir sangat paham bahwa Won mencintai rakyatnya lebih dari siapapun. Won meletakkan gelasnya dimeja, mengingatkan Kanselir agar tidak bicara omong kosong.

"Raja sangat dingin dan Permaisuri sangat pedas. Anda mungkin kesulitan bernafas diantara mereka. Saya melihatnya. Saya melihat Anda menahannya dari waktu ke waktu karena tidak ingin orang menderita karena Anda. Katakan yang Anda mau, saya akan melaksanakannya."

"Apa tebakanmu soal keinginanku?"

"Apapun itu, saya pikir sesuatu yang mencegah pertumpahan darah."


Won menjajari Kanselir, ia ingin Kanselir membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Kanselir jelas terkejut mendengarnya. Won menjelaskan, ayahnya tidak ingin ia menemukan siapa pelakunya.

"Yang ayah inginkan adalah mengkorfirmasi bahwa aku adalah seorang pengecut, tidak setia, dan bodoh. Karena itu.."

"Jeoha!"

"Tolong buat aku terlihat seperti itu, maka Rin akan dibebaskan."


Won beranjak, Kanselir menanyakan soal Putra keduanya. Won memerintahkan untuk mendiamkannya saja dulu, jika datang waktunya nanti pasti Jeon akan menyadari apa yang terjadi. Jika dia menerima akibat dari apa yang dia lakukan.

"Dan satu hal lagi, kau salah akan satu hal. Aku tidak takut akan adanya pertumpahan darah."


Dol Bae dimasukkan ke dalam sumur oleh dua orang pemuda. Pemuda itu hanya menjalankan perintah, karena Dol Bae akan berguna suatu saat jadi mereka memastikan Dol Bae aman. Mereka lalu menutup sumur itu.


Koo Hyung memberitahu, pria yang mencoba menyelamatkan San adalah Putra ketiga Kanselir. Menteri Eun heran, apa Rin menyembunyikan identitasnya. Koo Hyung membalas, putri Menteri Eun juga melakukan hal yang sama.

"Kau benar."

"Lalu apa yang akan Anda lakukan."

"Bagaimanapun dia telah menyelamatkan putriku. Kita harus membalas budi."

"Saya mengerti."

Tapi Menteri Eun bertanya-tanya, kenapa Rin menyelamatkan San sampai mempertaruhkan keselamatannya sendiri begitu. Apa maksud/rencana Rin?


Prajurit menyalakan penghangat (bara api) untuk Rin, ia bertanya apa Rin merasa tidak nyaman. Rin merasa sangat malu, ia pikir kehidupan penjara sangat pas untuknya, ia sangat nyaman.

"hehe, manamungkin. Anda kan dikurung."

Lalu Prajurit itu keluar.


Rin memikirkan San, saat mereka terjebak bersama di rumah Gibang dalam rangka mengikuti Menteri Eun.

"Dia terus bertanya, siapa aku?"



Waktu itu Rin ternyata mengikuti San pulang. San mengumpulkan salju diatas pagar lalu membentuknya menjadi bola dan melemparkannya. Saat San akan membuat bola salju yang kedua, ia terpelest dan bola saljunya jatuh tapi San tidak mengambilnya dan memilih melanjutkan jalan.


Rin mendekati bola itu dan memungutnya. Ia meletakkan bola salju ditangannya sampai mencair semua.

"Aku tidak bisa menjawab siapa diriku dan hari dimana aku bisa menjawabnya, tidak akan pernah datang."

Saat ini Rin memandangi tangannya yang ia gunakan untuk memegang bola salju itu.

"Aku tidak boleh memimpikan hari itu akan datang."

Menteri Eun dan Koo Hyung ke istana, Koo Hyung menjelaskan kalau ia mengirim gading dan obat herbal untuk komandan. Ia mengirim kayu sebanyak tiga kereta untuk Menteri pekerjaan umum dan sekarang dia sedang memperbaiki rumahnya.

Mereka melihat Song Bang Yeong dan menunduk hormat, Koo Hyung menjelaskan kalau ia hanya mengirim beberapa perak untuk Song Bang Yeong.

"Kerja bagus, dia tidak memiliki mata jeli untuk melihat mana yang lebih menguntungkan."


Kasim Song melapor pada Permaisuri bahwa para Menteri mendadak meminta bertemu Raja tapi Raja menolaknya dengan alasan tidak enak badan. Tapi mereka bilang akan menunggu dan sampai sekarang masih menunggu, padahal sudah sejak pagi tadi, jadi Raja..

"Apa yang mereka inginkan?"

"Anu.. ini tentang putra ketiga Kanselir yang ditahan."

"Rin?"

"Mereka ingin dia dibebaskan."


Mereka mohon pada Raja untuk melepaskan Rin, Putra ketiga Kanselir dan Keponakan Mantan Ratu, mereka takut berita buruk akan tersebar.

Song Bang Yeong membanggakan Rin atas segala kelebihan Rindan diatas semua itu, Rin adalah keturunan murni Goryeo. Rin ditahan dengan bukti yang kurang jadi dikhawatirkan rakyat akan berontak.


Tanpa ada yang tahu, Permaisuri menguping dari luar.


Raja kesal, apa maksud mereka ia salah tangkap, begitu? Song Bang Yeong mengelak, bukan begitu maksudnya.


Lalu Kanselir datang bersama beberapa mahasiswa. Raja bertanya, apa Kanselir membawa mereka smeua untuk membebaskan putranya, Rin?

"Saya tidak datang untuk membebaskannya. Saya datang untuk bertanya apa kesalahannya."

"Bagaimana kalau kau tidak suka setelah mendengarnya?"

"Jika Anda begitu percaya kalau putra saya bersalah, bagaimana ayahnya ini tetap melanjutkan hidup? Saya disini untuk menyerahkan hidup saya dan seluruh keluarga saya."

Menteri yang lain membela, mengingatkan bahwa keluarga kerajaan hanya bisa dipenjarakan jika mereka berkhianat, apa Rin mengkhianatai Raja?

"Penghianatan apa? Aku menyuruh Seja untuk menyelidiki sesuatu, tapi Rin melakukan sesuatu yang mencurigakan selama penyelidikan berlangsung." Jelas Raja.

"Jika demikian, dimana Seja Jeoha?" Tanya Song Bang Yeong.

"Bagaimana aku tahu? kau pikir aku kasimnya? Beraninya kau!!"

Knselir menengahi, menyampaikan apa yang Won katakan padanya. "Apapun yang Rin lakukan adalah atas perintahku dan Rin adalah satu-satunya temanku."


Song Bang Yeon menyela, ia juga mendengar itu, dan bukan hanya dia saja, banyak orang juga mendengar itu. Mahasiswa mewakili bicara, ia ingin mendengar Won mengatakan sesuatu untuk Rin.

"Tapi tidak ada yang melihat beliau, setelah Tuan Wang Rin dipenjara. Dia menghilang."

Menteri yang lain memandang rendah Won karena tidak bertanggung jawab atas perintahnya.


Permaisuri tidak bisa lagi mendengar Won direndahkan begitu. Ia meremas roknya kesal. 


Koo Hyung bertemu seseorang lalu melapor pada Menteri EUn bahwa Raja sudah memerintahkan untuk membebaskan Wang Rin. Raja juga menyerahkan penyelidikan yang semula dilakukan Won pada Militer karena WOn tidak kompeten.

"Apa ini permainan antara Kanselir dan Seja Jeoha? Tampaknya Rin terjebak ditengah-tengah mereka."


Menteri EUn bertemu dengan Song In, mereka saling menunduk hormat lalu melanjutkan jalan masing-masing.


Tapi saat sudah agak jauh mereka saling menoleh.


San langsung merebut minuman Rin dan meminumnya. WOn melanjutkan, San juga tidak bayar apapun setelah minum banyak. Jin Gwan dan Jang Eui duduk manis memperhatikan mereka.

San Kesal, bagaimana bisa Rin pergi ke tempat itu tanpa takut. Asal tahu saja, mereka meremukkan tulang dan memotong tendon, Rin benar-benar naif.

San: Kau benar-benar beruntung.. Untuk bisa tetap hidup, berterimakasihkah pada Seja-nim. Bukankah begitu? (San meminta persetujuan Won).

Won membenarkan. San tidak habis pikir pada Rin yang datang-datang langsung bilang kalau ia adalah wanitanya, apa kau pikir aku...

San berhenti saat menyadari semua mendengar ucapannya, ia pun mengubah topik, ia memperingatkan Rin untuk tidak mencampuri urusannya lagi.


Rin menjelaskan, San nampaknya salah paham. Makanya San melarang Rin membuatnya salah paham. Rin membentak, ia melakukan semua itu untuk Seja.

"Ini adalah kasus yang beliau selidiki dan aku tidak mau kau salah paham, jadi aku akan meluruskannya. Hari itu, aku snagat buru-buru, makanya aku melewati batas."


San duduk, canggung, ia lalu membuka tasnya. San mengeluarkan pisau, katanya itu hadiah dari Tuannya untuk Rin. Won menanyakan hadiahnya juga. San mengeluarkan bungkusan, meminta Won memberikan itu untuk Seja.

"Ini untuk Seja, lalu punyaku?"

"Memang kau melakukan apa?"

"YAA! Apa kalian tahu bagaimana aku memohon pada Seja Jeoha untuk menyelamatkan kalian? Dan kau bilang "Memang kau melakukan apa?" Berikan milikku. AKu tahu kau menyiapkannya, cepat!!"


San bingung mau memberi apaan untuk Won karena ia tidak menyiapkannya. San memutuskan untuk memberi Won gelangnya. Won kecewa, apaan itu?

"Ini.. Aku membuatnya sendiri brrhari-hari ulai dari awal."

Won berdiri seperti tak suka. San mengantonginya lagi kalau Won memang tak suka, tapi Won memintanya, baiklah ia terima.


Won mendapatkan gelang itu tapi mencibirnya karena kotor dan ia membandingkannya dengan pisau baru milik Rin. San memintanya kembali tapi Won tidak memberikannya, ia akan menyimpannya.

Rin menyinggung,pasti San sagat dekat dengan Tuannya sampai menghadiahi mereka dengan barang mahal begitu. San menjawab sinis, bukan urusan Rin ia mau dekat dengan Tuannya atau tidak.


San pamit, ia akan kembali ke Gunung. Semua terkejut, San menjelaskan kalau Tuannya menyuruhnya menyerah untuk balas dendam atas kematian Nonya, harusnya San mendengarkan Tuannya dari dulu, ia menyesal.

"Aku membuatmu (Rin) menderita dan... terimakasih."

San akan pergi tapi Won menahannya, bertanya kapan San akan kembali. Besok, Won tanya lagi jam bertapa. San tidak tahu.

"Kau harus tinggal lebih lama."

Won membujuk San untuk makan dan minum dulu, San menolak. Won tidak menyerah, ia menyuruh San mengatakan apa yang ia mau lihat, disana banyak hal menarik.

San mengingat pintu terlarang itu, ia ingin masuk.


Won memukul-mukul pintu itu sebelum membukanya,katanya itu adalah kode rahasia. Tapi temponya tidak teratur, San curiga. Won menyuruhnya diam, kodenya berubah tiap jam, kata Won.

"Kemarin, aku bisa membukanya tanpa perlu kode."

Won membelakangi pintu, "Jika kau masuk hanya karena pintu ini terbuka, kau mungkin akan tertembak tepat di kepalamu."


Dan tiba-tiba pintunya terbuka. Won terdorong dan menubruk San, tapi ia menggunakan kesempatan itu untuk memeluk San.

Won lalu mengajak San masuk. Ternyata disana adalah tempat latihan, Geumgajeong, tempat latihan pedang untuk para bayangan.


Dan tiba-tiba saat mereka jalan mendekat ada sebuah panah tangan mendarat tepat disamping San. San terkejut, lalu Rin mencabut panah itu dan melemparkannya kembali ke asalnya.


Dan tiba-tiba saat mereka jalan mendekat ada sebuah panah tangan mendarat tepat disamping San. San terkejut, lalu Rin mencabut panah itu dan melemparkannya kembali ke asalnya.


San heran, bukannya seharusnya mereka latihan diistana. Won menjelaskan, mereka itu adalah bayangan, jadi tidak boleh terlihat saat sedang latihan. Semua ini tentang keahlian, kerahasiaan, taktik dan kemisteriusan.

Salah satu dari mereka ada yang sedikit tidak sopan pada Won. Jang Eui membisiki WOn, ia menyuruh yang lain tidak usah membungkuk pada Won, tidak usah menggunakan bahasa formal, dan perlakukan Won selayaknya teman. Rin tersenyum, kerja bagus.


Akan digelar pesta di Istana, pesta Chaeryun. Kasim Choi menjelaskan, Festifal Delapan Janji Nikah adalah acara inti.

Permaisuri berkata, tahun lalu tiangnya terlalu tinggi dan terlihat jelek, untuk tahun ini ia meminta agak dipendekkan. Kasim Choi mencatatnya.

"Hanya bangsawan Goryeo yang berumur 15-an dan memiliki undangan Anda yang bisa berpasrtisipasi.Semua orang mencoba untuk mendapatkan undangan itu." Kata Kasim Choi.


Kasim Choi membenarkan, mereka perlu memperingatkan Kanselir. Permaisuri berpikiran kalau Kanselir ingin puteranya mengambil tahta Seja karena sudah repot-repot membawa mahasiswa hanya untuk menghina Seja.

"Itu juga yang saya pikirkan. Anda harus mengubah cara berpikir Anda mulai saat ini."

"Merubah?"

"Yuan akan mengirim delegasi ke Goryeo. Saya dengar mereka menginginkan gadis terpilih sebagai upeti."

"Gadis?"

"Mereka ingin 50 warga sipil dan tiga bangsawan."

Permasuri berencana untuk mengirim Putri Kanselir, Wang Dan, kesana dan ia harus melihat Dan sendiri.

"Saya akan memanggilnya." Kata Kasim Choi. Tapi sebelum itu, Permaisuri ingin bertemu Seja dulu, sekarang juga.


Won menceritakan bagaimana Rin menyerah padanya saat mereka berkompetisi dan cerita habis saat Rin menyajikan teh. San waspada, apa ada racun di teh itu?

"Apa?" Rin terkejut."

"Bukan begitu.. kurasa tidak ada yang tahu tempat ini, tapi aku mendadak diijinkan masuk. Kau mungkin ingin membuatku tetap diam."

Won dan Rin hanya tersenyum. Won membenarkan, memang itu salah satu cara, atau ia bisa menjadikan San salah satu bagian dari mereka.


Won menatap ke depan dan San mengikutinya. Ternyata mereka melihat Yeom Bok dan Gae Won.

Won: Mereka tahu banyak hal karena sudah lama hidupdi jalanan tapi jika mereka ditangkap karena mencuri anak panah Seja, meeka hanya akan dipukuli sampai mati, sayang kan? Jadi karena itu akau membawanya kesini.


Mereka mencoba memanjat dinding tapi tiba--tiba panah tangan tertancap di samping mereka. Mereka terkejut bukan main. Si pelempar berkata kalau panahnya terlepas dari tangannya dan meminta mereka mengembalikan panah itu.


Belum pulih keterkejutan mereka tiba-tiba seseorang melompat tepat di depan mereka (dari atas), dia adalah jang Eui.


Jang Eui akan menyampaikan pesan dari Istana tapi Won mengkodenya untuk diam karena disana ada San. LaluJang Eui mengajak Won keluar.


Won memastikan pada San kalau mereka belum selesai bicara, jadi jagan coba-coba pergi. San tersenyum.


Tapi setelah melihat Rin, senyum San hilang dan tingkahnya jadi canggung. San pun menjauhi Rin untuk melihat Won yang sedang bicara di luar.

Rin bertanya, apa ada alasan khusu yang membuat San harus pergi secepat ini. San menjawab ambigu, Rin boleh saja berpikir demikian.

"Apa kau tidak nyaman tinggal di rumah Menteri Keuangan? "

San tersenyum, "mungkin itu juga alasannya."

"Han Cheon sepertinya sangat sedih melihatmu pergi."

San lalu berbalik menatap Rin, "itulah sebabnya, aku harus pergi sebelum dia merasa terlalusedih melihat kepergianku."


San kembali ke kursinya, ia menjelaskan, dengan begitu semuanya tidak akan jadi rumit, soalnya ia tidak suka kerumitan.

Rin mengingatkan, ada Festifal 8 janji, apa San tidak ingin lihat?

"Kudengar tidak ada yang bisa ditonton."

"Apa kau belum pernah menontonnya sebelumnya?"

"Tidak untuk tujuh tahun terakhir ini."

"Ada banyak yang bisa ditonton. Ada taria di malam hari,"

San tersenyum, ia tidak mengerti kenapa ia harus menonton orang lain menari di malam hari. Rin menatap San, itu akan menjadi kenangan indah. San balas menatap Rin, kenapaia harus membuat kenangan indah?

"Kau bisa mengingatnya sepanjang hidup. Saat hidupmu sulit dan kau butuh sesuatu untuk bersandar. Itulah kenangan yang seharusnya."


Won menatap Rin dan San yang saling menatap.

3 komentar

Lanjuut author. Suka bgt sinopsis disini. Ga lama juga updatenya:)

Di sini setiap adegan san sm rin ko liat'a ikt berdebar2 yaa 😍 lanjut thor

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon