Wednesday, August 2, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 12

Sinopsis The King Loves Episode 12

Sumber Gambar: MBC


Koo Hyung memberitahukan kedatangan Jeon. Menteri Eun bertanya, apa Jeon membawa banyak orang. KooHyung menjawab kalau Jeon hanya membawa beberapa orang saja dan ada seseorang juga yang kita kenal.



Jeon merasa terhormat Menteri Eun menemuinya karena ia datang tanpa pemberitahuan. Menteri Eun bertanya, memangnya ada apa. Jeon mengatakan ada suatu hal yang melibatkan San juga.

"Kenapa dengan San?" Menteri Eun balik bertanya.

Jeon mengeluarkan sesuatu, Menteri Eun tahu itu, itu adalah tanda (undangan) dari Paermaisuri untuk berpartisipasi dalam pesta. Jeon bertanya, apa Menteri Eun menerimanya juga. Menteri Eun tersenyum, tidak mungkin.

"Anda bisa membeli semuanya dengan kekayaan Anda."

"Tidak ada seorangpun di rumah ini yang pantas pergi ke pesta itu."

"Putri Anda akan berkecil hati jika mendengarnya."

"Putriku tidak suka keramaian pesta. Seperti yang Anda tahu, dia punya bekas luka diwajahnya."


Jeon meletakkan undangan itu di meja, ia menghadiahkannya untuk San. Menteri Eun berterimakasih tapi..

Jeon memotong, ia juga membawa satu orang lagi, orang yang disukai San. Jeon lalu memanggil Bibi Pengasuh San. Bibi memberi hormat pada Menteri Eun.


"Saya dengar dia Bibi Pengasuh San waktu kecil, benarkah?"

"Anda benar."

"Mereka tidak pernah bertemu lagi setelah 7 tahun."

"Mungkin Anda juga benar."

Menteri Eun beralih pada Bibi Pengasuh, mengingatkan, bukannya saat ia menyuruh Bibi Pengasuh pergi, ia bilang tidak mau melihat Bibi Pengasuh lagi?

Jeon meminta Menteri Eun untuk memanggil San, ia yakin San pasti sangat senang bertemu dengan Bibi Pengasuhnya lagi, ia juga akan mendapatkan ucapan terimakasih.

"Tidak mungkin.. Anda menolak permintaanku, 'kan?"


Koo Hyung buru-buru mengendarai kuda bersama dua pengawal. Menteri Eun sebelumnya memerintahkan untuk mencari San dan membawanya ke Gunung langsung.

"Kali ini, dia benar-benar tidak boleh terlihat di Kaesong. Begitu dia kembali ke Gunung Duta, katakan padanya untuk bersembunyi dibawah batu atau di dalam gua. Katakan kalau itu satu-satunya cara agar mereka semua bisa tetap hidup."


San berjalan biasa saja tapi lama-lama ia mendengar sesuatu. Ia diikuti dan San menyadari itu, San langsung berlari tapi yang mengikutinya itu naik kuda.


San ngos-ngosan, maka ia pun berhenti karena merasa sudah tidak ada yang mengikuti tapi tiba-tiba orang berkuda itu muncul di depannya. Orang itu adalah Song In.

San pura-pura tidak ingat Song In. Song In mengingatkan, mereka bertemu di gunung dan ia mengambil pisau San.

"Ah. pisau itu? Anda bisa menyimpannya." Lalu San putar arah.


Tapi Song In masih mengikutinya. Song In bertanya, apa San mau pulang. San menjawab ia tidak punya rumah, ia hanya lewat saja. Song In mengingatkan arah rumah Menteri Eun bukan kesana, San harus putar arah.


San berhenti untuk menatap Song In curiga. Song In berkata ia dalam perjalanan kesana dan ia menawari San tumpangan.

"Saya tidak mengerti apa yang anda katakan."

"Matahari sebentar lagi tenggelam dan jalanan akan membeku. Jika kau jalan sendirian kau akan terpeleset dan jatuh. Biarkan saya mengantar Anda. Secepat apapun Anda, Anda tidak mungkin bisa melebihi larinya kuda. Mungkin Anda berpikir untuk melawanku, tapi kita sudah pernah bertarung dan Anda bukan lawanku. Lalu.. Ayahmu, Menteri Keuangan, akan berada dalam masalah."


San pun terpaksa menerima uluran tangan Song In untuk naik ke kudanya. San mengeluarkan belati dari sepatunya tapi Song In tahu dan segera merebutnya lalu membuangnya.


Rin ke Istana untuk menemui Won dan ia harus melewati Furutai yang berjaga di depan.


Won memamerkan jubah barunya. Rin tersenyum mengatakan Won pantas menggunakannya. Won curhat kalau jubahnya makin lama makin ketat saja, tukang jahit harus segera memperbaikinya.

Rin bertanya, apa Won sudah mengunjungi Permasisuri. Won melanjutkan dan mendapatkan omelan. Won lalu menyuruh Rin duduk.


Won menunjukkan hadiah So Hwa, untuk Seja Jeoha. Rin memuji hadiah itu yang terlihat keren. Won lebih suka pisau Rin tapi Rin menegaskan kalau Won tidak boleh memilikinya.

Won menawari, haruskah mereka menukar itu dengan pedang Soyong-nya? Rin tersenyum, pedang khayalan itu? WOn menegaskan kalau pedang itu beneran ada.

"Tidak perlu." Kata Rin.


Won memberikan undangan/tiket ke Pesta Chaeryun, Won mengatakan kalau milik Rin sudah diambil kakaknya. Rin berkata tidak ingin datang tapi Won memaksanya untuk datang. Won memberikan satu lagi, untuk So Hwa.

"Apa Anda mau mengundangnya ke Pesta Ratu?"


Won membenarkan, lagi pula semua orang yang datang menggunakan masker, jadi So Hwa bisa menyembunyikan identitansya.

"Tapi.."

"Aku ingin melihatnya untuk beberapa hari lagi. Dan pesta ini alasan yang bagus."

"Sebaniknya Anda berikan padanya sendiri. Dia akan menyukainya."

"APa kau tidak lihat? penjaga Ibuku mengelilingi ruanganku? Dari pagi hingga malam sampai Festival * janji, aku harus menurut pada ibuku."

Rin memandangi dua tiket itu.

"Kau selama ini tidak pernah melewati batas. Selama kita menghabiskan waktu sebagai teman, kau tidak pernah duduk sebelum aku menyuruhmu."

"Apa yang Anda katakan tiba-tiba?"

"Karena itu aku meminta bantuanmu. Bawakan wanita yang aku cintai. Aku berani memintamu, yang notabene adalah pria lain."

*Jadi ceritanya, Won ingin menguji Rin setelah melihat Rin menatap So Hwa tadi.

Tapi kemudian Won tersenyum dan mengubah nadanya menjadi santai, ia meminta Rin untuk membawanya. Rin mengingatkan, Won sendiri mendengar kalau So Hwa akan pergi besok.

"Oleh karena itu aku memberimu perintah. Bawa dia, tidak pesuli bagaimanapun caranya. Dan buat dia merubah gayanya yang tomboi itu. Buat dia menjadi lebih feminim."

Won menegaskan, ia memberi Rin perintah, perintah Seja Jeoha.


Jeon memberikan tiket itu pada Bi Yeon, berkata kalau Menteri Eun sudah memberi ijin. Bi Yeon tidak menjawab, ia melirik takut ke arah Bibi Pengasuh.


Jeon tersenyum, menjelaskan kalau semua orang dipesta menggunakan masker. Nama dari persta itu berarti pria dan wanita dapat berbaur tanpa memperdulikan status sosial mereka. Jadi Bi Yeon tidak perlu khawatir dengan wajahnya.

"Apa kau mendengarku?"

"Ya" jawab Bi Yeon gugup.

"Selama kau mengatakan siapa kau karena Ratu akan sangat membenci orang yang menyembunyikan nama aslinya."


San muncul bersama Song In dan Bibi Pengasuh langsung mengenalinya dan terus memanggilnya, "San Agasshi." Ia juga mengatakan kalau ia melihat San kemarin.


Rin pergi ke rumah Menteri Eun untuk menjalankan tugas dari Won tapi ia melihat dua orang pelayan dari rumahnya ada disana. Rin langsung bersembunyi.


Koo Hyung kembali dan ia mendapati Bibi Pengasuh diseret keluar. Bibi Pengasuh meronta karena tidak tahu salahnya dimana.


Jeon dengan santainya minta maaf karena tidak mengenali San saat interogasi kemarin. Ia bertanya, kenapa San menyembunyikan identitasnya?


San hanya mentap Jeon kesal, lalu ia meminta Bi Yeon keluar. Ia memastikan kalau semua akan baik-baik saja. Bi Yeon menatap Menteri Eun dan Menteri Eun menangguk, barulah Bi Yeon keluar.

Menteri Eun menyuruh San duduk.


San minta maaf, semuanya jadi rumit karena ia keras kepala. Menteri Eun tenang, ia rasa ini semua akhirnya dan semoga ini yang terbaik.

Menteri Eun beralih pada Song In, "Kita bicara bahasa yang sama, jadi aku pikir kita perlu bicara."


Song In tersenyum, mentapa Jeon. Jeon balas tersenyum sambil mengangguk. Song In menjelaskan dugaannya, 7 tahun lalu ada kejadian yang tidak diinginkan dan beruntung, Jeon melintas, lalu menolong.

"Itulah mengawa Putri Anda bisa tetap hidup. Tapi masalahnya.. dia keliru waktu itu. Dia pikir pelayan yang wajahnya terluka sebagai San Agasshi. Menteri Keuangan, Anda membuat keputusan dadakan."

Menteri EUn memanfaatkan kekeliruan Jeon untuk mengirim San pergi agar tidak perlu mengirim San ke negeri Yuan sebagai persembahan, karena wajah wanita cacat tidak memenuhi syarat.


Menteri Eun tidak membantah kesimpulan Song In itu, ia meminta mereka mengerti perasaan seorang ayah. Jeon menjawab tegas kalau ia mengerti. Menteri Eun lalu bertanya, apa yang mereka mau untuk membalas pengertian itu.

"Anda pasti sudah menduga jawabannya. Nikahkan dia dengan Tuan Wang Jeon sesuai rencana." Jawab Song In.

Jeon tersenyum, "ia selalu menantikan hari untuk menjadi menantu Menteri keuangan."

Song In memerintahkan San untuk menggunakan masker selamanya agar kebohongannya tidak terungkap. San menatap benci kearah Song In. Song In melanjutkan, itu satu-satunya cara San bisa menyelamatkan ayahnya yang sudah melawan hukum. San berkaca-kaca.


Rin berjalan disaat petir menyambar dan ia tak sengaja melihat pria bertato itu, Moo Suk. Rin melewatinya tapi Moo Suk berhenti, Rin pun berhenti dan mengeluarkan pisau pemberian San.


Rin melawan Woo Suk, fokus utamanya adalah untuk membuka topi Moo Suk dan melihat wajahnya. Dengan sedikit usaha akhirnya, Rin berhasil melepas topi Moo Suk.


Rin: Jadi benini rupamu? Aku selalu penasaran selama ini.


Moo Suk minta ijin untuk mengajukan satu pertanyaan. Rin tidak memberinya, mereka harus bertarung dulu jadi tanyanya nanti saja.

"Sampai kapan Anda akan hidup begini?"

"Hidup seperti apa?"

"Seperti anjing penjaga. Kapan Anda akan berdiri demi Rakyat Goryeo?"

"Apa yang coba kau katakan?"

"Tolong simpan Goryeo dalam benak Anda. Saya akan menunggu."

Moo Suk lalu kabur dan Rin tidak mampu mengejarnya.


Jeon dan Song In pergi beserta orang-orang mereka. Koo Hyung dan Menteri Eun mengentar mereka ke depan.


Bi Yeon tidak bisa membiarkan San menikah dengan kunyuk macam Jeon. San mengingatkan, Jeon itu masih keluarga kerajaan. Bi yeon tidak peduli, soalnya San kan bilang Jeon memukulnya dan luka dibibir San itu akibat pukulan Jeon.

"Kau yang mengatakan sendiri kalau Jeon itu memiliki kepribadian yang mengerikan dan kau melarangku untuk menikah dengannya."

"Aku juga punya kepribadian kasar juga."

Bi Yeon menyuruh San untuk naik kapan dan pergi ke negara lain, ia bersedia melayani San selamanya. San memikirkan nasib ayahnya kalau ia pergi. Bi Yeon menjawab, Menteri Eun bisa ikut dengan mereka.

"Kemana kita akan pergi dengan smeua aset Ayah itu?"

"Siapa yang peduli dengan semua kekayaan itu sekarang?"

"Ada banyak orang yang hidupnya bergantung pada pekerjaan yang diberikan ayahku. Haruskah kita meninggalkan mereka smeua hanya demi aku?"

"Maksudmu, kau akan menikah dengannya?"


San tidak menjawabnya, ia malah membentak Bi Yeon karena mulai nangis lagi. Bi Yeon bukannya menghentikan tangisnya tapi malah semakin keras. San lalu pergi, ia mau minum dengan ayahnya karena Bi Yeon sedang menangis.


Di luar, San melihat Rin, ia terkejut, ada apa Rin kesana? Rin tidak menjawabnya hingga ia harus mengulangi pertanyaannya.


"Sejak kapan.. kau berdiri di sana?" Tanya San.

"Barusan." Jawab Rin akhirnya.

"Apa yang kau dengar?"

"Adakah.. yang perlu aku dengar?"


Rin lalu maju untuk memberikan Tiket itu pada San. Rin menyampaikan kalau itu balasan dari Sej Jeoha atas hadiah San.

"Jadi ini.."

"Besok! Datanglah ke pesta Chaeryun. Bersamaku."

Rin lalu mengambil tangan San dan meletakkan tiket itu di telapak tangan San.


Rin mengajak San bertemu besok. San bertanya, untuk apa? Rin bilang mereka harus menyiapkan sesuatu, San tidak bisa pergi ke pesta dengan pakaian seperti itu.

"Semua jadi makin rumit sekarang, jadi.."

"Jika kau harus pergi, aku akan mengatakan padanya. Aku akan memberitahukan padanya kalau kau tidak bisa datang ke pesta karena kau harus pergi secepatnya.. Bolehkah aku mengatakannya?


San tersenyum, baiklah ayo pergi ke pesta Chaeryun. Rin heran, kenapa?

"Mungkin ini akan menjadi yang terakhir?"

"Apa maksudmu yang terakhir?"

"Hanya.. untuk semuanya. Terakhir untuk tersenyum dan berjingkrak. Terakhir kali untuk melakukan hal seperti itu."

San menatap tiket itu, ia akan menggunakan tiket itu untuk membuat kenangan indah terakhir kali.


Besoknya, Rin membawa San bertemu Dan. Dan tampak antusias menyambut mereka karena ia sudah lama menunggu.


Dan bertanya, jadi San butuh gaun untuk ke pesta itu kan? San membenarkan, tapi jangan yang mencolok, sederhana saja, agar ia tidak ketahuan.

"Itukah sebabnya kau berteman dengan Soo In?"

"Kami bukan teman." Jawab San.

Dan lalu bertanya pada kakaknya, apa benar? Rin menjawab kalau ia hanya mengawal San karena ini pertama kalinya untuk San.

"Benarkah?" bisik Dan.

"Kau!!"


Dan heran, selama ini SOo In tidak pernah ke pesta itu. San terkejut karena SOo In bersikap seolah pernah pergi ke sana.

"Dia hanya mengatakannnya saja "Bagaimana bisa seorang pria pergi ke sana dan berdansa bersama orang asing? Aku lebih suka meniru seekor kambing ditangah jalan." Itulah yang dia katakan."

Rin protes, kapan ia pernah mengatakan hal itu? San tersenyum melihatnya. Dan selesai memilihkan satu gaun, ia meminta pendapat Rin tapi Rin hanya diam saja.

"Dia tidak mungkin tahu, ini kan bukan kulit kambing." Kata San.

Lalu Rin pun keluar karena merasa tidak bisa membantu.


Diluar, Rin memandangi pisaupemberian San. Dan tak lama kemudian Dan keluar, Rin cepat-cepat menyembunyikan pisau itu.


San keluar setelah Dan dan Rin tampak terpesona karena San sangat anggun.


Dan menambahkan asesoris di rambut San, ia meminta pendapat Rin tapi Rin kembali hanya diam saja.

Dan melangkah ke step berikutnya, mereka harus latihan menari. Rin dan San sama-sama menolaknya. Dan menjelaskan kalau inti dari Pesta Chaeryun adalah tarian maypole.


Di istana disiapkan tiang yang diikat beberapa kain sutra panjang. Salah satu kain terbang dan mendarat di tangan Won.


Dan mengajari mereka untuk melakukan tarian maypole. Kain sutra yang diikat pada tiang itu mewakili takdir, kita harus mengikat dan melepasnya lagi untuk mengecek apa orang itu adalah takdir kita. 

Dan berputar mempraktekkan satu tarian mengikat kain Rin.



Dan lalu menuntun San untuk melakukannya, ia juga meminta Rin berlatih. Tapi menurutnya tidak pas tanpa musik. Ia pun meninggalkan mereka untuk memanggil musisi.


San dan Rin canggung di tinggal Da. Mereka sama-sama menatap ke atas. Ternyata Won juga menatap ke atas.


Won mengangkat tangannya untuk menatap gelang pemberian San.


San serius berlatih, sementara Rin hanya memandanginya saja. Rin lalu bertanya, apa maksud San dengan yang terakhir kalinya itu karena San akan segera menikah?

"Hanya pria dan wanita yang belum menikah yang bisa menghadiri pesta Chaeryun." Jelas Rin agar San tidak curiga.

"Begitu ta?"

"Iya."

"Kalau bagitu, mungkin itu juga yang aku maksud."


Rin bertanya lagi, apa San akan menikah? San memaksakan senyum, mungkin saja jika ada yang melamarnya.

"Apa kau akan menerimanya?" tanya Rin.


Rin melarang San bilang "iya" untuk pernikahan itu.

"Jangan lakukan itu.. San Agasshi."

San sontak enatap Rin melotot karena Rin tahu identitasnya yang sebenarnya.


Sementara itu, di Istana, Won masih saja menyentuh dan memperhatikan gelang hadiah San.

2 komentar

Terimakasih... Gak sabar nunggu lanjutannya

G seru ah lw akhrny san sm rin,,,,

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon