Tuesday, August 8, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 13

Tags

Sinopsis The King Loves Episode 13

Sumber Gambar: MBC


Saat latihan tari, Rin bertanya apa San akan segera menikah. San menjawab ambigu, kalau ada yang melamarnya ia pasti akan menikah.

Dan tiba-tiba Rin melarang San menjawab "iya" untuk lemaran itu, San Agasshi.

San berbalik, terkejut mendengar Rin memanggil nama aslinya.


Dan kembali dengan seorang musisi tapi Rin dan San sudah tidak ada disana.


San bertanya, seberapa banyak yang Rin ketahui. Rin menjawab ia cukup tahu. San tidak puas, cukup tahu seberapa dan apa?

Rin mejelaskan, setelah kejadian tujuh tahun lalu, pelayan yang wajahnya terluka bertukar tempat dengan Agasshinya. Setelah itu, sang Agasshi menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sebagai murid Guru Lee. Tapi, Putra kedua Kanselir mengetahui kebenarannya dan mengancamnya. Putra Kedua Kanselir bilang akan menjaga rahasia keluarga Agasshi jika Agasshi mau menikah dengannya.


"Jadi.. apa kau akan menikah dengannya?" Tanya Rin.

"Keluarga kerajaan memintaku untuk menikahinya, aku harusnya merasa bersyukur."

"Pernikahan berarti membuat dan menjaga sebuah janji selama hidupmu. APa kau melakukan ini karena kau merasa takut?"

"Banyak orang menikah tanpa mengetahui siapa suminya. Dibandingkan dengan itu.."

"Orang yang memperlakukanmu dengan buruk saat interogasi dan yang menyebabkanmu berdarah adalah Wang Jeon, 'kan?"


San berbohong kalau ia tidak ingat dengan baik. Rin membentak, San tidak bisa melupakan sesuatu seperti itu.

"Lihat aku San-nie Agasshi.. AKu akan menemukan jalan. Jika Han Cheon tahu hal ini pun, dia tidak akan mrah tapi akan menemukan jalan keluar."

"Aku.."

"Apa?"

"Aku minta tolong."

"Katakan. Aku akan membantu apapun itu."


selama 7 tahun terakhir ini yang San pelajari dengan sungguh-sungguh hanya minum, tapi Guru Lee tetap mengajariku. Jadi aku tahu betul bahwa aku tidak boleh membiarkan orang terlibat masalah (terluka) karenanya karena itulah yang membuatnya sebagai manusia seutuhnya.

"Dan karenanya aku tidak boleh membiarkan itu terjadi, aku adalah manusia."

"Kau tidak harus menahan semua ini."

"Aku tahu."

"Kau tidak mungkin bahagia dengan orang seperti dia dan orang dengan cara pikir seperti dia."

"Makanya.. biarkan aku belajar menari hari ini. Jadi.. aku memiliki kenangan indah untuk menghiburku besok-besok. Tolong bantu aku melakukannya."


Di Istana, Tiang yang akan digunakan untuk menari hampir roboh. Won was-was melihatnya dan petugas berama-ramai memperbaikinya.


Rin mendatangi kakaknya, di rumah Gibang biasa, ia dingin banget sampai mengusir semua gisaeng untukbisa bicara berdua dengankakaknya. Rin bahkan tidak segan-segan membalik meja agar semuanya mau keluar.


Jeon pikir, ia tahu apa yang ingin Rin katakan. Rin bertanya, apa Jeon meminta Puteri Menteri Keuangan menikahinya?

"Putri mana yang kau maksud? Yang memiliki bekas luka atau yang memalsukan identitasnya?"

Rin menjawab dengan tanang, meminta kakaknya untuk membatalkan lamaran itu. Jeon mengerti dengan rekasi Rin yang tidak terkejut itu, artinya Rin sudah tahu semuanya.

"Aku kan sudah bilang kalau wanita itu memiliki hubungan khusus denganku."

"Kita perjelas saja. Kau ataukah Seja Jeoha yang memiliki hubungan khusus dengannya? Aku mendengar apa yang Seja Jeoha ucapkan pada Raja, "Dia adalah wanitaku"."

Rin semakin tidak mengerti, jika Jeon sudah mendengarnya tapi kenapa Jeon berani-beraninya meminta San, apalagi dengan ancaman begitu. Jeon ngakak mendengarnya.


Jeon akan menuang minum tapi gelasnya kosong karena Rin membalik mejanya tadi hingga semuanya tumpah. Jeon marah dan menyudutkan Rin. Rin mencoba menenangkan kakaknya dengan memanggilnya, Hyeong-nim.

"Kau masih berani menyebutku Hyeong-nim? Saat kau hanya anjing penjaga si palsu, sampai kau membahayakan keluargamu dan negara kita."

Rin kesal karena kakaknya menyebut Won palsu. Jeon tidak taku, lantas kenapa? Apa Rin mau melaporkannya? melaporkan kakak kandungnya sendiri?


Rin balik menyudutkan Jeon dengan memelintir tangan jeon. Rin menegaskan kalau Jeon lah yang membahayakan keluarga dan negara mereka.

"Tujuh tahun lalu.. perampok yang membunuh Istri Menteri Keuangan. Kau mengenalnya, kan?"

"Apa yang kau bicarakan ini?"

"Banyak orang meninggal hari itu. Pengawal istri Menteri Keuangan dan semua perampok meninggal seluruhnya. Apa kau yang membunuh mereka semua?"

"Sudah gila ya kau? Apa yang kau bicarakan ini?"

"Alasan kau sejauh ini untuk menikahi puteri Menteri Keuangan, apa?"


Song In tiba-tiba masuk, mengingatkan kalau mereka bisa didengar orang lain. Jeon lalu melepaskan diri dan berjalan kebelakang Song In, minta perlindungan.

Song In menghormat pada Rin tapi Rin menyelanya, ia sedang bicara dengan kakaknya, tidak ada urusannya dengan Song In.

"Saya pikir, Seja Jeoha belum tahu akan hal ini, jika sudah pasti akan ada kegemparan."

"Beliau akan segera tahu, Aku sediri yang akan memberitahukan semuanya sekarang. Sepupu Asisten Kerajaan, Song In, dan kakak kandungku, Wang Jeon. Aku akan mengatakannya pada beliau bahwa beliau harus menginvestigasi kalian tanpa secepatnya."


Jeon memelototi Rin marah dan kesal sambil menahan tangannya yang masih sakit tapi Song In kemudian mengambil alih. Apa Rin sungguh ingin melindungi San? Rin balik bertanya, apa Song In sekarang sedang mendeklarasikan akan membunuh San?

Song In menjelaskan, selama 7 tahun ini, untuk membatalkan dikirmnya San ke Yuan, Menteri Eun menipu negara. Pada saat pemilihan, dia menunjukkan putri yang memiliki bekas luka diwajah. Apa yang akan terjadi jika semua kebenaran ini terungkap?

"Itu bukan urusanmu." Jawab Rin.

"Dia akan langsung diberangkatkan. Dia sudah menunda selama 7 tahun, Jadi tahun ini dia akan langsung diberangkatkan ke Yuan. Maka, dia akan menjadi putra seorang kriminal, tidak akan ada seorang pejabat pun yang mau padanya walau hanya untuk selir. Saya memprediksikan, dia akan menjadi istri seorang tentara di medan perang atau dijual untuk menjadi Gisaeng. Oleh karena itu, saudara Anda mencoba untuk menyelamatkannya sekarang, demi San-nie Agasshi."


Rin melangkah dengan berat menuju Istana untuk menemui Won, ia dilema antara memberitahu Won atau tidak. Kasim Kim keluar saat Rin sampai di depan pintu kamar Won, menjelaskan kalau Won sedang mandi jadi Rin bisa masuk saja dan menunggu.

"Tidak." Jawab Rin.

"Maaf?"

"Aku akan menunggu disini."

Kasim Kim mengerti dan pamit.

Kilas Balik..


Song In mengikuti Rin saat keluar dari ruangan kakaknya minum-minum tadi. Song In tahu kalau Won tampak sangat menyukai San dan jika Won pura-pura tidak tahu akan identitas asli San, maka Won akan dianggap kaki tangan.  Jika Won menentang hukum maka akan mengakibatkan banyak pertumpahan darah. Rin memotong, katakan saja apa maksud Song In.

"Sesungguhnya, saya menunggu Anda untuk mengatakan semuanya pada Seja Jeoha. Seja jeoha akan sangat marah, dia akan mengobrak abrik pengadilan, dia dan ayahnya akan bertindak lebih jauh lagi. Jadi.. saya harap Seja Jeoha akan kehilangan tahtanya sebagai Putra Mahkota."

"Kau punta lidah licin rupanya. Apa begini juga caramu membujuk kakakku?"

"Anda adalah target utama kami. Andalah sebenarnya yang ingin kami panggil Tuan (yang ingin kami dukung). Anda lebih pintar dari kakak Anda dan Anda lebih potensial menjadi Raja yang bermartabat. Tujuh tahu lalu, anak laki-laki yang akan kami nikahkan dengan Nona Shin adalah Anda."


Rin siap dengan pisaunya (yang pemberian San itu), jika ia membunuh Song In sekarang, dunia akan mejadi amat tenang.

"Apa Anda tidak mendengar saya? Saya terus mengatakan "kami" dan "kami". Bukan hanya saya, ada banyak yang tahu soal Nona Shin. Singkirkan persahabatan buta Anda itu, dan untuk sesaat saja, maukah Anda mempertimbangkan masa depan Goryeo? Puluhan gadis negara kita akan dikirim ke Yuan. Dalam keadaan seperti ini.. Apa Anda benar-benar baik-baik saja dengan Raja yang seperti itu?"

Kilas Balik Selesai..


Won selesai mandi dan Kasim Kim masuk. Kasim Kim heran karena Rin tidak ada di dalam, soalnya ia pikir tadi Rin masuk. Won bergegas keluar mendengar tadi Rin menunggu di depan pintu. Tapi Rin tidak ada disana.


Won diajak ibunya apagi-pagi sekali, ia jelas protes karena masih ngantuk. Ibunya menjelakan akan ada pertemuan untuk festival 8 janji. Won juga tahu hal itu, karenanya semua orang pasti sibuk, jadi ia harus menjauh dari lokasi keramaian.

"3,000 tentara bersenjata akan berjaga mengelilingi istana. Ketika wine dituangkan pada Raja yang mendirikan Goryeo.."  Kata Permaisuri.

"Tidak perlu khawatir, aku akan bersiap dimana aku harus berada. Tapi, aku harus menemui seseorang sekarang."

"Kau harus selalu bersama ayhmu sepanjang hari ini."

"Beliau tidak akan terlalu menyukai ini."

"pasta Chaeryun malam ini."

"Tentu aku akan hadir, mengingat Ibunda adalah tuan rumahnya."

"Kau akan segera menikah."

"Apa?"


Permaisuri menjelaskan kalau Won membutuhkan sekutu. Mereka harus menemukan wanita dari keluarga yang kuat.


Permaisuri mengunjungi ruangan Raja bersama Won, dimana Raja sedang sarapan. Raja bertanya, kenapa mereka kesana tanpa pemberitahuan, ia merasa seperti penyergapan saja.  

"Saya ingin membahas beberapa hal sebelum pertemuan Anda dimulai."


Permaisuri lalu mengkode Boo Yong untuk keluar. Raja menyuruh Permaisuri untuk bicara saja. Permaisuri bicara tapi dengan memandang Boo Yeon, permaisuri ingin Raja menghadiri pesta Chaeryun.

"Kenapa aku harus pergi ke pesta di mana orang muda mencari pasangan? Aku akan terlihat sangat konyol." Jawab Raja.

Permaisuri menyentuh wajah Boo Yong dengan jarinya sambil menjawab Raja, "Kalau begitu saya menganggap Anda tidak akan hadir. Sepertinya Anda memiliki hal lain yang harus dilakukan setelah matahari terbenam."

Permaisuri menusukkan kukunya (yang terbuat dari logam) ke dagu Boo Yong sampai darah Boo Yong keluar baru Permaisuri menarik jarinya.


"Kupikir kau punya beberapa hal untuk dibicarakan. Apa lagi?" Tanya raja

"Saya ingin memulai pencarian untuk pernikahan Seja Jeoha. Maukah Anda menurunkan perintah?"

"Pernikahan Seja? Apa dia juga ingin menikah?"

"Begitu dia menikah, Dia tidak akan keluar sesering yang dia lakukan saat ini. Sepertinya dia tidak bisa tenang sekarang." Jelas permaisuri sambil memutari Boo Yong yang berdiri tegang.

"Bukankah kau sudah jatuh hati pada seseorang?" Tanya Raja.


Permaisuri terkejut dengan pertanyaan Raja. Won menjelaskan bahwa ia sudah memberitahukan semuanya pada Raja. Permaisuri balik bertanya, tentang apa?

"Dia bahkan menelantarkan satu-satunya teman dan sahabatnya seperti sesuatu yang tidak berguna hanya demi wanita itu. Putra kita, Seja, melakukan itu. Hatinya sudah terpaut padanya." Lanjut Raja

"Keluarga manakah dia?" Tanya Permaisuri.

"Sepertinya dia tidak memiliki keluarga yang mengesankan."

"Apa Anda sudah melihatnya?"

"Kau tak pernah tahu. Dia mungkin menyembunyikan identitas aslinya seperti anak kita."


Permaisuri mendekati Won kesal, apa benar itu. Won menjelaskan bahwa wanita itu berasal dari keluarga rendah memang. Raja menyindir permaisuri, bagaimana bisa tidak tahu semua ini, ia pikir permaisuri tahu setiap langkah dan nafas yang Won ambil.

"Saya tidak peduli. Dia hanya naksir sesaat. Saya tidak peduli jika dia menautkan hatinya pada 12 atau 24 wanita sekaligus. Tapi kalau Sejabin (Putri Mahkota) lain kasus. Dia akan menjadi Ratu masa depan dan Ibu bangsa ini. Dia harus tinggal bersamanya sampai hari dia meninggal. Jadi saya akan memilih seseorang sebisa mungkin."


Raja hanya tersenyum. Permaisuri lalu mendekati Raja, menyuruh Raja berhati-hati pada Boo Yong karena mata Boo Yong tidak bergetar saat ia mendekatinya tadi, bahkan nafas Boo Yong tetap tenang saat ia membuatnya berdarah. Boo Yong tidaklah seputih gaunnya.


Permaisuri langsung keluar tanpa mengatakakn apapun lagi, pamit pun tidak. Sementara itu, Won tetap tinggal, ia menyampaikan pesan ibunya bahwa ia harus tetap bersama Ayahnya sepanjang hari ini. Tapi Raja mengisyaratkannya untuk pargi, maka Won pun pergi.


Boo Yong lalu mendekati Raja, kebetulan gelas Raja kosong jadi Boo Yong menuangkannya lagi. Raja menjelaskan, ia sudah begitu jahat pada Permaisuri dalam waktu yang sangat panjang tapi sepertinya Permaisuri masih memiliki perasaan terhadapnya.

Raja tersenyum lalu meminum minumannya, ia melanjutkan, harusnya Permaisuri tidak boleh memiliki perasaan padanya. Boo Yong tidak menyahut, ia malah mengusap dagunya yang berdarah.


Wang Jeon kembali mengunjungi rumah Menteri Eun. Menteri Eun nampak tidak senang, ia bisa kok mengantar San ke Istana, tidak perlu dijemput segala.

"Tidak seharusnya begitu, Saya yang membawa tiketnya dan saya yang memintanya datang, tentu saya harus menjemputnya."


San keluar dengan memakai masker. Jeon khawatir, apa San itu asli, lalu San menatapnya. Jeon yakin, ia hafal betul tatapan mata San yang asli.


Saat Jeon menuju kereta, Menteri Eun bicara pada San. Menteri Eun meminta San untuk mencoba menghabiskan waktu sehari dengan Jeon, mungkin Jeon kelihatan jahat dari luar saja, mungkin Jeon bisa jadi pria yang tulus.

"Aku tidak yakin."

"Jika kau tidak bisa melakukan ini, beritahu ayah saja."

"Baiklah."


Jeon memanggil San untuk segera masuk karena ia sudah membuka pintunya. Jeon memamerkan dalaman kereta itu, ia yang memilihnya sendiri. Jeon lalu mengulurkan tangannya pada San.


San akan memberikan tangannya tepat saat Rin datang, mengatakan kalau ia memang tidak menyiapkan kereta yang nyaman, tapi ia datang untuk mengantar San, jadi maukah San mengijinkannya melakukan itu sebagai penghormatan?


"Apa yang kau lakukan?" Tegur Jeon.

"Ini adalah perintah dari Seja Jeoha. "Antar putri Menteri Keuangan pergi ke Pesta Chaeryun"."

"Aku sungguh minta maaf, tapi katakan padanya kalau dia sudah bertunangan."


Lalu Jeon kembali mengulurkan tangannya pada San, meminta San untuk naik ke keretanya. Ki Hyung menjelaskan pada Menteri Eun, itu dia Putra Ketiga kanselir yang dipenjara menggantikan San.


San menjelaskan, ia memiliki penyakit, sering panik jika merada di ruang sempit yang tertutup, ia menderita penyakit histeria. "Jika aku melakukan itu, bagaimana kau akan menghadapi rasa malu?"

"Dengarkan aku, San-nie Agasshi."

"Ini adalah hari yang dingin, dan kuda itu terlihat tidak nyaman. Tapi apa yang bisa kulakukan? Kalau begitu aku akan menemuimu di istana."


San memilih naik kuda bersama Rin.


Rin bertanya, apa San kedinginan. San mengiyakan, ia kedinginan setengah mati. Rin menyesal, harusnya ia membawa kereta tadi. San tersenyum dan Rin bisa melihatnya dari mata San.


"Aku lega, aku khawatir kau mungkin menangis sepanjang waktu."

"Begitu rupanya.. Kau khawatir?"

"Iya."

"Haruskah kita berlomba ke istana?"

"Jangan lakukan itu."

"Ayaolah.."

"Terlalu berbahaya."

"Kenapa? Apa kau takut kalah?"

"Kudamu dulunya adalah kuda perang. Ini sangat.."

Belum selesai Rin menjelaskan, San sudah memacu kudanya untuk berlari. Rin pun terpaksa mengikuti kemauan San.


Menteri Eun terpaksa memulangkan Bi Yeon sekarang, tapi ia sudah membeli rumah dan toko untuk Bi Yeon di pinggir laut. San sekarang akan menggunakan kamarnya dan memaki penutup wajah selamanya.

"kau harus pergi sebelum ada yang curiga. Dan.. terima kasih atas semua yang telah kau lakukan."

"Tuan.. Akankah San-nie Agasshi benar-benar akan menikah dengan tuan muda itu?"

"Aku rasa begitu."


Bi Yeon langsung berlutut meminta menteri Eun membatalkannya. Menteri Eun curiga, apa San cerita sesuatu pada B Yeon. Bi Yeon menjelaskan, San membeli beberapa pisau baru, satu San simpan di dadanya dan dua ia simpan di kedua kakinya. terlebih San memilih pisau yang ujungnya paling panjang.

"Apa maksudmu?"

"Dia tidak akan membiarkan suaminya mendekatinya setelah menikah. Dan dia siap membahayakan nyawanya. Tapi itulah kebenarannya!"

"Woah.. Apa dia mengatakan kalau dia memikirkan orang lain?"

Bi Yeon menangguk.

"Apa dia memberitahumu siapa orang itu?"

"Saya bisa menebaknya. Saat dia kembali, dia terus memikirkan seseorang. Kapan pun dia memikirkannya, dia tersenyum."


Para tamu sudah mulai berdatangan ke Pesta Chaeryun. Jin Gwan juga disana dan ia menanti seseorang, Wang Dan. Dan melewatinya tapi ia langsung bisa mengenali walaupun Dan menggunaka masker.

"Bagaimana kau mengenaliku?"

"A.. Ada kupu-kupu di sana."

Dan memegang maskernya yang memang bersulam motif kupu-kupu. Dan bertanya apa Jin Gwan menunggunya dan Jin Gwan mengiyakan. Dan bertanya lagi, kakaknya mana?

"Dia.."

"Kakakku tidak bisa datang, kan? Dia pasti punya sesuatu untuk dilakukan."

"Iya. Itu.. Itu sebabnya Seja.. Seja.."

"Itulah sebabnya Seja Jeoha mengirimmu untuk menungguku  dan menunjukkan jalannya."

"I.. Iya."

"Kalau gitu ayo.."

"Tapi bagaimana?"

"Bagaimana aku mengenalimu?"

"Iya."

"Namamu tertulis disana (menunjuk dada Jin Gwan). Jin Gwan bacannya."

Dan berjalan dan Jin Gwang kelabakan memegagi dadanya, heran karena tidak ada apa-apa didadanya.


Permaisuri memperhatikan siapapun yang datang, ia mencari Dan. dan ahirnya ia melihat Dan, sebenarnya kasim sih yang memberitahunya.


Permaisuri bertanya siapa yang bersama dan itu. Dayang Jo menjawab kalau dia adalah bayangan Seja (Penjaga Seja).

"Apa itu berarti Seja peduli padanya?"

Kasim menjelaskan, pasti itu karena kakak Dan, Wang Rin.


Lalu datanglah Rin bersama San. Mereka tahu kalau itu adalah Putra Kanselir karena motifnya kupu-kupu tapi tidak tahu pastinya, Rin atau Jeon. Kasim heboh karena masker San tidak bermotif, ia mencari di daftarnya tapi tidak ada.


San memuji Rin yang tampak ganteng. Rin malu mendengarnya. San lalu bertanya maksud motif kupu-kupu di topeng Rin itu, Rin menjelaskan kalau adiknya yang menyulamnya. 

"Oh.. kau punya adik ternyata."

"Iya."


San terpesona dengan keramain dan kecantikan tempat itu. Selama ini ia menjalani hidup tanpa pernah tahu bahwa ada tempat sebagus itu.

"kau benar."

"Ah.. Ini juga pertama kalinya kau kesini, kan?"


Seseorang mendadak menarik tangan Rin, Rin sontak memelintirnya tapi ternyata itu adalah Won yang teriak kesakitan.

"Kenapa kau terlambat?" Tanya Won.

"Kau siapa?" Tanya San yang 100% sudah tahu siapa Won.

"Diam. Kita harus pergi. Seseorang terus menatapmu."

Won langsung menarik San mengikutinya. San bertanya, siapa memangnya. Won menjelaskan kalau orang itu adalah orang yang paling menakutkan, ia lalu kembali menarik San untuk menurutinya.


Rin menoleh dan ia melihat Permaisuri sedang menatap mereka. Ia lalu mengikuti San dan Won.


Won membawa San ke tempat yang sepi. Won tersenyum sambil menatap San.

"Kau sedang apa?" Tanya San.

"menatapmu."

"Mau mati ya?!"

"Sejujurnya, aku lebih suka kau yang dulu."

"kau memang layak mendapat pukulan."


San akan memukul Won tapi Won menahannya. Won menunjukkan masker hadiah untu San. San bertanya, kenapa?

"kau harusnya hanya harus menerimanya dengan ucapan terima kasih."

"Kenapa?"

"Topengmu yang tanpa gambar bisa berbahaya. Orang pasti sudah tertangkap tadi."

San menoleh pada Rin, apa benar hal itu. Rin membenarkan, mungkin saja jika ada yang melihat mereka masuk tadi.


San pun melepas maskernya dan akan menerima masker dari Won tapi Won malah menjauhkan maskernya.

"Apa?" San mulai kesal.

"Apa.. apa aku terlihat lucu?"

"Tidak. kau lebih cantik dari yang aku duga."


San tidak menjawab, ia langsung menyahut maskernya dan memakainya.

"Apa kau puas sekarang?"

"Tidak terlalu buruk."

Dan Won memberi satu hadiah lagi, ia melepas jepit rambut San dan menggantinya dengan yang baru.

"Aku meminta gambar burung kecil."

"Kenapa? Apa artinya?"

"kau tidak perlu tahu. Matahari akan segera terbenam. Pestanya akan dimulai sebentar lagi. Ayo."


Won mengulurkan tangannya dan perlahan tapi pasti San memberikan tangannya untuk Won. 

Kasihan Rin, cuma bisa melihat doang.

4 komentar

Rin yang malang😒 makasih recapnya nonton dramanya gak pake subtitle bikin tambah penasaran. Aku sih tetep dukung san... πŸ˜… jamannya emansipasi biar san yang pilih calon suaminya sendiri πŸ˜† ayo san... mau won apa rin, dua duanya keren

Rin yang malang😒 makasih recapnya nonton dramanya gak pake subtitle bikin tambah penasaran. Aku sih tetep dukung san... πŸ˜… jamannya emansipasi biar san yang pilih calon suaminya sendiri πŸ˜† ayo san... mau won apa rin, dua duanya keren

Siapa, siapa yg diceritain san ke biyeon, siapa yg selalu membuat san tersenyum hnya dngan memikirkan'a, won atw rin 😭

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...