Wednesday, August 16, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 19

Sinopsis The King Loves Episode 19

Sumber Gambar: MBC


Rin menunggu Dan di luar seperti janjinya pada adiknya itu. Rin bertanya, apa Dan baik-baik saja dan Dan tersenyum.


Seorang memanggil Dan untuk memberinya selamat. Dan mengakui ia masih terkejut, semua masih terasa seperti mimpi.


Wanita itu berkata pada Rin kalau Dan akan menjadi Putri Mahkota jadi Rin juga pasti akan naik pangkat. Rin terkejut mendengar adiknya dipilih. Dan bahagia sekali tapi tidak dengan Rin.


Rin langsung mendatangi Won dan meneriakinya, apa yang Won lakukan ini? Kenapa memilih adiknya? Won sendiri yang bilang tidak memiliki perasaan apapun padanya.

"Apa kau sudah tidak waras?"

"Andalah disini yang tidak waras. Anda sudah dengar semuanya. Kenapa Anda melakukan ini? KENAPA?"

"Apa yang sudah aku dengar? Apa yang harusnya ku dengar?"

"San-nie Agasshi menemui Anda dan mengatakan semuanya."


Won terkejut mendnegar Rin menyebut San-nis Agasshi. Rin masih belum ngeh kalau Won belum tahu, ia masih meneriaki Won, kenapa Won memilih adiknya dan memiarkan San pergi.

"Apa kau tahu siapa So Hwa sebenarnya?"

"Aku tahu kalau dia adalah putri Menteri Keuangan."

"Apa So Hwa tahu siapa aku?"

"Dia tahu."

"Ah.. hanya aku disini yang tidak tahu. Aku satu-satunya yang bodoh. Kalian berdua menipuku--"

"Tentu, bagaimana bisa kami memberitahu anda?"

"KENAPA TIDAK?!"


Jin Gwan dan Jang Eui hanya saling pandang melihat mereka saling berteriak. Sementara kasim Kim tegang. Rin menyuruh semuanya keluar.

"Siapa kau menyuruh mereka keluar?" Sindir Won.

"Lalu saya akan membiarkan mereka mendengar semuanya. Kenapa kami tidak bisa memberitahu pada Anda kebenarannya?"

Akhirnya Won menyuruh semuanya keluar.


Won mempertanyakan, sejak kapan keduanya menipunya. Rin balik bertanya, apa itu penting sekarang?

"Ah.. tidak masalah menipu Seja, begitu?"

"San-nie Agasshi.. akan dikirim sebagai persembahan. "

"Apa kau bilang?"

"Jika anda pintar, bagaimana anda tidak bisa membaca situasi ini? Anda tidak bisa menebaknya?!"

"Sejak kapan kau menjadi sekasar ini?"

"Aku selalu mempelajarinya karena aku menghabiskan banyak waktu bersama seseorang (yang pemarah / Won)."


Won lalu menyuruh Rin untuk duduk, meminta Rin menjelaskan satu per satu. Rin menghela nafas dan Eon juga.

Rin mulai menjelaskan, Ratu menemukan fakta bahwa putri Menteri keuangan bertukar posisi dengan agar tidak dikirim sebagai persembahan, Won bisa menebak itu.

Won bertanya, lalu anak yang mereka lihat terluka 7 tahun lalu siapa? Rin menjelaskan kalau itu adalah pelayannya?

"Itulah mengapa kau tidak bisa memberitahuku? Karena itu berarti aku ikut-ikutan menyembunyikan identitasnya, begitu" Tanya Won.

"Iya, benar."

"Bodoh kau."


Rin menjelaskan bahwa ratu mendatangi rumah menteri Keungan sendiri, ia yakin Ratu kesana untuk mengancam San. "Jadilah Putri Mahkota, atau terima hukumanmu."

Won melanjutkan, "Pilih salah satu atau tidak keduanya". Dia pasti memikirkan nasib ayahnya."

"Aku sudah menyuruhnya untuk memberitahu anda semuanya. Aku menyuruhnya untuk mengungkapkan semuanya dan menjadi Putri Mahkota."

"Kau menyuruhnya?"

"Apa yang kalian bicarakan kemarin pagi?"

"Dia minta tolong padaku. Dia minta agar aku tidak memilih Nona-nya apapun yang terjadi."

"Kenapa?"

"Karena hati Nona-nya.. Maksudnya hatinya.. sudah terisi orang lain."


Rin langsung diam. Won berdiri dan berkata sekarang mereka harus mencari So Hwa, tidak.. San.

"Ikut aku!"

Tapi Rin masih terdiam, baru setelah beberapa detik ia bergegas beranjak.


San dimasukkan ke sebuah ruangan dan semua pisaunya diambil, termasuk tusuk rambut pemberian Won yang selalu ia sembunyikan.


Won akan mengunjungi Ratu tapi Dayang Jo bilng Ratu sedang tidak enak badan dan menolak kunjungan siapapun. Tapi Won memaksa, kalu memang keadaan Ratu demikian, maka alasannya untuk menjenguk Ratu semakin kuat.

"Ibuku kecapekan, bagaimana aku pura-pura tidak tahu?"

"Dia bilang, "Jika Seja Jeoha datang, katakan padanya untuk kembali karena keadaannya tidak serius."


Rin protes, kenapa ia juga tidak diijinkan masuk? Ia kan yang membantu ratu sampai sekarang. Dayang Jo menjawab, mereka hanya melakukan sesuai perintah Ratu, mereka tidak pernah menanyakan alasannya.


Kasim Choi memberikan pisau dan jepit rambut yang mereka ambil dari San. Ratu heran, barang-barang itu tidak biasa dibawa oleh seorang putri bangsawan. Ratu mengambil pisau itu, apa itu juga berbahaya, kan bukan pisau silver?

Furutai menjelaskan, nampaknya San belajar ilmu bela diri. Juga mengatakan kalau San selama ini bersembunyi di Gunung Duta, menjadi murid Guru Lee Seung Hyu, dengan nama samaran So Hwa. Furutai menekankan, So Hwa adalah salah satu murid terbaik Guru Lee.


Ratu mengeluarkan pisau San dan bercermin disana. Furutai bertanya, apa Ratu akan membiarkan ayah San tetap hidup? Sebaiknya Ratu segera memenjarakannya.

"Jika aku memenjarakan dia dan mengambil kekayaannya, Bagaimana akibatnya nanti?"

"Apa maksud Anda?

"Harta itu akan disita oleh negara. Lalu para pejabat akan mengorupsinya lebih dari setengahnya. Kebanyakan dari mereka berada di pihak Raja, jadi kemungkinan besar akan berakhir pada Raja. Jadi kenapa aku harus melakukan itu?"

BTW, sedari tadi kasim Choi mendengarkan dengan seksama.


Ratu melihat tusuk rambut itu dan saat ia akan mengambilnya, tiba-tiba ia merasa sangat kesakitan. Kasim Choi segera menyiapkan obat Ratu, sambil menjelaskan kalau Ratu akan mengalami efek samping jika keseringan minum obat.

"Sebelum Yang Mulia melakukan apapun, Kita harus menjadi yang pertama--" Kata Ratu yang terpotong rasa sakitnya sampai menjatuhkan obatnya.

"Segera hubungi tabib!" teriak Furutai.


Kasim Choi berlai keluar tapi wajahnya berubah jadi senang karena Ratu semakin parah.


Rin akan mendekati Won yang sedang sendirian. Kasim Kim memberitahu Rin kalau sejak Won ke pesta minum Teh ratu, Won sama sekali tidak minum, baik itu air atau teh.

"Anda harus memaksanya makan sesuatu."


Rin pun mendekati Won. Won bertanya, apa Rin ingat waktu mereka berdua pergi ke Gunung Duta.

"Itu sudah lama sekali."

"Apakah aku pernah memberitahumu.. tentang pertanyaan yang kutanyakan pada Guru Lee?"

"Tidak."

"Kau tidak bertanya."

"Ya."

"Aku bertanya kepadanya apakah akan lebih baik jika aku mati. Aku bertanya, "Apakah tidak akan lebih baik jika seseorang sepertiku tidak pernah ada di dunia ini?"

Kilas Balik..


Won berkata pada Guru Lee bahwa keluarganya memelihara kawanan domba selama beberapa generasi dengan bantuan anjing gembala. Dan suatu hari, serigala turun dari gunung dan menghamili anjing itu.

"Lalu lahirlah serjing (serigala anjing)." Lanjut Guru Lee dengan senyum."

"Saat serjing tumbuh, Akankah itu menjadi anjing gembala?"

"Bagaimana aku tahu? Terserah si serjing."

"Ada masalah. Domba takut pada serjing."

"Pasti."

"Apa yang harus dilakukan pada serjing itu? Haruskah dikejar? Atau karena takut akan masa depan, Haruskah dibunuh?"

Kilas Balik selesai..


Rin balik bertanya, kenapa Won menanyakan pertanyaan yang tidak masuk akal itu? Won menjawab kalau ia hanya ingin tahu jawabannya.

"Lalu, apa dia menyuruh Anda mati? Atau anda harus mati nanti? Maukah anda mati nanti?"

Won menatap Rin, Guru Lee memberinya jawaban tapi saat itu ia tidak mengerti apa maksudnya. Ia berbikir, pemabuk itu hanya bicara omong kosong dan ia melakukan perjalanan yang sia-sia.

Kilas Balik..

Guru Lee bertanya, akankah serjing akan mati jika diberitahu untuk kebaikan akan masa depan?

"Itu akan terasa salah." Jawab Won.

"Salah dan takut."

"Dia tidak akan takut."

"Kenapa?"

"Mungkin dia tidak bebas?"

"Apakah mati akan membuatnya bebas?"

"Mungkin."

"Berarti pertanyaanmu yang salah. Maka setiap jawaban yang kuberikan pasti hanyalah omong kosong. Dia yang tidak punya apapun untuk ditinggalkan dan tidak ada yang mau peduli dengan dombanya jika dia pergi. Maka tidak berguna bagi siapapun. Kau cuma buang-buang waktu. Jika kau punya sesuatu yang membuatmu tetap ingin tinggal, tanyakan padaku lagi hal ini. Tentu, jika kau masih ingin mengetahui jawabannya."

Kilas Balik Selesai..

Rin bertanya, apa sekarang ada yang membuat Won ingin tinggal? Won membenarkan.

"Lalu.."

"Tapi aku tidak akan bertanya lagi, meskipun dia orang baik yang akan memberiku jawaban yang bagus. Aku tidak butuh jawaban yang bagus, aku ingin jawaban yang bermanfaat."

"Apa yang Anda pikirkan?"

"Aku butuh kekuatan."

"Anda tidak suka mempunyai kekuatan karena bisa disalah gunakan. Yuan sangat kuat, begitu pula penindasnya."


Won tidak menyukai ayah dan ibunya yang kuat. Tapi, ia bukan apa-apa tanpa kekuatan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi orang-orang yang ia kasihi. Mereka semua malah mencoba melindunginya, dan itu membuatnya merasa lebih buruk lagi. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengeluh. Jadi, ia butuh kekuatan.

"Bagaimana caranya mendapatkannya?" Tanya Won.

"Harus bertindak bagaikan ular."

"Jeoha."

"cukup berjanji padaku.. bahwa kau akan selalu disisiku. Aku ingin kau menjadi tiang benderaku. Apapun yang terjadi pada benderaku dan kekacauan apapun yang mungkin kuhadapi, Aku membutuhkanmu sebagai tiang bendera.. untuk membuatku tetap tegak."


Won lalu kembali mengunjungi Ibunya, kali ini ibunya menerimanya dan meminta semua orang keluar termasuk Kasim Choi yang bersikeras ingin tinggal.

Ratu mendengar kalau WOn ingin berbicara tentang kekuatan dan kekuasaan. Won mendadak minta tolong pada Ratu, saat ini yang Won miliki hanya ibu dan kakeknya, Kaisar Yuan. Kakeknya tinggal jauh, 2 bulan berjalan kaki dan setidaknya 20 hari dengan menunggang kuda dengan kecepatan penuh.

"Kau butuh apa?" Tanya Ratu.

"Apa atau siapa.. yang harus kudapatkan?"

"Untuk apa?"

"Untuk mendapatkan segalanya."

"Apakah ini tentang dia? Putri Menteri Keuangan?"

"Dia hal pertama yang aku inginkan."

"Kenapa kau memilih yang lain saat aku memberimu kesempatan untuk memilihnya?"

"Aku tidak ingin kehilangan Rin."


Ratu tersenyum, jadi maksud Won, harus menjadi Raja dulu biar punya dua wanita? Won menjelaskan, jika San mudah ditangkap, pasti ia sudah menangkapnya lebih dulu.

"Kau tidak peduli dengan kekuasaan atau politik sampai sekarang seolah-olah itu hal yang kotor. Sekarang, kau menginginkan kekuatan?"

"Aku menjadi Putra Mahkota saat aku berumur tiga tahun. Dari dulu, Aku tidak pernah mengucapkan kata ini keras-keras. Aku hanya mengatakannya pada diriku sendiri. Eomoni (Ibu), Bantu aku, Eomoni."


Furutai mengantar Won keluar, ia menyampaikan perintah ratu mengenai San, ia bisa menunjukkan dimana San jika Won ingin bertemu.

"Tidak. Ibuku pasti akan memperlakukannya dengan baik. Katakan padanya aku tidak khawatir."

"Pasti."


Won selalu bersyukur ada Furutai disisi ibunya. Ia putranya tapi tidak bisa melihatnya setiap hari.

"Itu karena--"

"Aku tumbuh sangat lambat. Sekarang, aku ingin menjadi anak yang baik, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku mungkin harus meminta saran darimu."

Furutai menundukkan kepala dalam-dalam, setuju dengan permintaan Won itu.


San kesepian di ruangannya. Ia mendesah sambil menatap langit-langit.


Sementara itu, Won berlatih pedang sendirian.


Dan Won? Ia membaca semua dokumen kenegaraan sendirian juga.


Saat Won merasa lelah, ia mengeluarkan kalung pemberian San juga gelang pemberian San. Meskipun sudah rusak, tapi ia tetap menyimpannya.


Kasim Choi melapor pada Song In yang saat ini tengah bersama Boo Yong. Kasim Choi melapor kalau Ratu tidak akan memenjarakan Menteri Keuangan tapi Ratu menahan putrinya. Jadi kemungkinan, kekayaan Menteri Keuangan akan jatuh ke tangan Ratu.

"Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi. Apa lagi?"

Kasim Choi tersenyum, lalu akan keluar, berarti tidak ada laporan lagi. Song In bertanya, apa yang San lakukan?

"Ratu masih merenung Tentang menginterogasi gadis itu dan jika ya, bagaimana caranya."

"Baiklah."


Song In tersenyum tiba-tiba dan Boo Yong nampak tidak suka.

Kilas Balik..


San menemui Song In di rumah Gisaeng. Song In memberi San alkohol, ia tahu kalau Guru Lee suka minum, apa San juga suka minum?

"Guru Lee pernah mengatakan ini padaku, "minuman adalah  hal yang aneh karena jika kau minum dengan orang yang mulia, kau akan menjadi mulia. Tapi jika kau minum dengan orang rendahan, kau akan menjadi rendahan pula"."

Song In meminum miliknya tapi San hanya diam saja. Song In menyimpulkan kalau San pasti menganggapnya rendahan.


San mulai serius, ia kesana bukan untuk menghakimi Song In, ia perlu membuat kesepakatan. Song in merasa San bicara seperti putri pedagang besar.

"Kurasa aku akan dikirim ke Yuan."

"Astaga."

"Aku tidak khawatir tentang diriku sendiri karena aku bisa menjelajahi negara yang lebih besar. Namun, Ayahku yang akan kutinggalkan sendiri yang kukhawatirkan."

"Apa orang-orang sudah tahu? Apa kau berpikir untuk mengungkap identitasmu?"

"Identitas asliku telah diketahui Olehmu."

"Sejujurnya, Aku sangat khawatir. Jika aku menyimpan rahasiamu, aku juga bisa menjadi kaki tanganmu. Apa yang harus kulakukan?"

"Tolong lindungi Ayahku."

"Apa yang akan kuterima sebagai balasannya?"

"Sepertinya.. kau bekerja demi kebaikan rakyat."

"Kami--"

"Aku tidak perlu tahu detailnya. Aku akan memberimu subsidi selama 10 tahun. Kau bisa menghabiskan uang untuk prajuritmu atau membeli makanan untuk rakyat."

"Kenapa 10 tahun? Kau bisa memberikannya kepadaku sekaligus."

"Aku memintamu untuk melindungi Ayahku setidaknya selama 10 tahun."

"Apa kau percaya padaku?"

"Tentu saja tidak. Tapi.. aku akan memberitahumu ini. Bahkan jika kau mengiris perut ayam, Kau tidak akan bisa menemukan telur. Kau harus menunggu untuk mendapatkan telur setiap pagi."


Song In menyadari San menggenggam erat tangannya (tegang) dan ia tersenyum. San menyadari apa yang Song In lihat. ia pun segera bersikap biasa.

Kilas Balik Selesai...


Boo Yong mengaku, ia tidak suka jika Song In tertawa karena San. Song In malah menyuruh Boo Yong kembali ke istana, mereka tidak seharusnya membuat Raja menunggu.

"Hanya satu hari lagi. Aku ingin tinggal denganmu satu malam lagi." Mohon Boo Yong.

"Apa.. kau belum pernah menghabiskan malam dengan Raja?"

"Dia menganggapku sebagai teman. Itu sudah cukup untuk--"

"Tidak."

"Tapi Raja--"

"Kenapa menurutmu.. kau harus belajar sampai sejauh ini? Sudah kubilang.. Jangan melewati batas."


Boo Yong menangis, ia juga bisa melakukannya, bisa membuat Song In tertawa juga. Apa yang harus kulakukan untuk membuat Song In tertawa? Ia bisa merasakan denyut nadi Ratu. Haruskah aku memasukkan sesuatu ke dalam obatnya? Mungkin ular piton?

"Aku tahu bagaimana cara menangkapnya. Aku bisa melakukannya dengan baik."

Song In lalu memeluk Boo Yong yang nampak menyedihkan itu.


Furutai membawa kereta ke gerbang ibukota. penjaga menhadangnya karena belum waktunya gerbang dibuka,masih 2 jam lagi. Furutai menjelaskan kalau ia sedang mengemban tugas mendesak. Penjaga pun membukakan pintu, tapi ai bertanya siapa yang ada di dalam kereta.


Pintu kereta dibuka dan isinya kosong. Pengawal bertanya lagi, kenapa keretanya kosong?

"Aku akan mengawal seseorang."

"Siapa?"

"Aku akan kembali hari ini, tapi aku mungkin terlambat. Beritahu semua orang untuk membuka pintu saat aku tiba."

"Jika kita bisa memeriksa identitasmu--"

Furutai tidak peduli, ia tetap keluar.


Raja kembali bermimpi buruk dan Boo Yong menenangkannya. Raja akhirnya terbangun. Boo Yong bertanya, apa Raja mimpi buruk lagi? Raja balik bertanya, kenapa Boo Yong datang terlambat?

"Aku akan tinggal beberapa malam lagi, tapi Aku mencemaskan anda, jadi aku kembali lebih awal."

Raja menceritakan mimpinya, ia melihat Won menatapnya dengan tatapan merendahkan saai ia berjongkok dan merangkak dengan tubuh berlumur kotoran. Sampai ia tidak bisa bergerak, tapi Won tetap menatapnya dengan tatapan yang sama, malah ketawa.

Raja memeluk Boo Yong, meminta Boo Yong mentakan kalau semua itu bukan apa-apa, hanya mimpi belaka.

"Itu mimpi buruk, kan?"


Boo Yong langsung duduk, mungkin itu bukan hanya sekedar mimpi. Raja ikuta bangun, terkejut, jadi kalau bukan hanya mimpi apa yang akan terjadi?

"Aku tidak berani mengatakannya."

"Kau tidak berani? Kau tidak akan berani menolakku."


Song In ke rumah Menteri Eun pagi-pagi bersama Moo Suk, ia disambut oleh Koo Hyung. Song In bertanya, apa Menteri Keuangan ada?

"Saya akan mengatakan kepada Tuan kalau anda datang. Jadi mohon tunggu--"

"Ini sangat mendesak. Kehidupan putrinya dan keluarganya bergantung pada masalah ini."


Boo Yong menyampaikan pada Raja soal rumor yang menyebar. Apakah Raja ingat wanita yang dicintai Seja?

"Apa maksudmu wanita rendahan itu?"

"Sebenarnya, dia putri Menteri Keuangan."

Raja ketawa, itu tidak masuk akal karena Putri Menteri Keuangan punya bekas luka yang sangat besar pada wajahnya-- tapi Raja sadar, apa dia memalsukan identitasnya?

"Ya."

"Jadi dia tidak akan dikirim ke Yuan?" Boo Yong mengiyakan.

"Dan Putra Mahkota membohongiku meskipun dia tahu?"

"Mungkin."

"Apakah karena dia mencintainya?"

"Itulah yang dia katakan, tapi.. wanita yang dia pilih untuk menjadi istrinya adalah Putri Kanselir."

"Jadi? Apa itu? Rumor apa?"

"Putra Mahkota, memilih.. 2 dari 3."


Menteri Eun menemui Song In, bertanya, apa yang ingin Song In katakan padanya? Song In basa-basi, apa Menteri Eun tidak ingin menawarinya teh?

"Kau bilang kau sedang terburu-buru."

"Putrimu datang kepadaku untuk meminta bantuan."

"Aku tahu."

"Itulah Kenapa.. aku datang ke sini untuk memberitahu cara terakhir."


Menteri Eun lalu memanggil Koo Hyung untuk membawakan apa yang sudah ia siapkan.

Koo Hyung segera bergerak namun ia diikuti oleh Moo Suk dan sepertinya Koo Hyung menyadarinya.


Moo Suk kemudian melihat Bi Yeon melintas ke arah berbeda dengan Koo Hyung, ia pun lebih memilih untuk mengikuti Bi Yeon sepertinya (tapi gak gitu jelas juga sih).


Koo Hyung membuka brankas rahasia dan mengeluarkan sesuatu.

Kilas Balik...


Sebelumnya, Menteri Eun mengeluarkan beberapa catatan dari brankas itu, ia memberinya pada San. San menjelaskan, raja dan Song In berada dalam satu kubu dan ratu berlawanan dengan kubu mereka. Dan kedua kubun itu sama-sama ingin mendapatkan keuntungan dari ayah.

"Apakah menurutmu semuanya sudah sesuai rencana?" Tanya Menteri Eun.

"Aku harus mencoba yang terbaik."

San pada Koo Hyung: Tidak peduli apa yang kita lakukan, kita tidak bisa membiarkan pihak manapun mendapatkannya. Itulah satu-satunya cara agar Ayahku aman.

Koo Hyung: Jangan khawatir. Aku akan melindungi ini dengan nyawaku.

Menteri Eun, "Kau sangat pintar dan cantik."

Koo Hyung juga setuju, ia yakin Seja Jeoha juga punya pemikiran yang sama. Seja tidak akan menolak San. Semuanya akan teratasi jika San menjadi putri mahkota.

San hanya bisa menunduk. Menteri Eun membujuk lagi, apa San tidak bisa menjadi Putri Mahkota saja?

"Maaf, Ayah. Anda harus tetap aman. Aku benar-benar tidak bisa hidup.. Jika ayah dirugikan dengan cara apapun karena diriku."

"Jika aku tetap aman, bagaimana denganmu?"

"Ya bagaimana dengan anda, Agasshi?" Imbuh Koo Hyung.


San kembali hanya bisa menunduk.

2 komentar

Seru abis.... makin jatuh cinta sama drama ini makasih rekapnya☺

Wah ... Semakin seru deh !!!!

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...