Tuesday, August 22, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 21

 
Sumber Gambar: MBC

Won datang ke sel tahanan San. Penjaga tahanan heran, bukankah Seja harusnya di kurung di istananya?

San menghormat saat Won datang, ia menggunakan bahasa formal. Won aneh mendengar San memanggil seperti itu (Seja Jeoha).

Won menyadari, baju yang San pakai seperti bajunya Rin. San menjelaskan, Rin memberinya baju itu supaya mereka bisa kabur.

"Aku dengar Lin sudah tahu.. identitasmu sebelum aku."

"Iya."


"Kapan kau tahu.. siapa aku?"

"Saat kau datang.. ke rumahku pada hari aku menerima
hadiah pernikahan."

Wok kembali bertanya, jadi Wanita yang mengenakan cadar itu San? Dan apa San juga wanita yang diundang ayahnya dan Wang Jeon? San kembali membenarkan.

"Kau pasti sudah melihat semuanya. Kau melihat aku berlutut dan dipermalukan. Namun kau tetap disisiku. Dan.. kau memberiku kalung, dan menaruh es di lukaku. Apa kau tidak merasa bersalah? Dan kau memintaku.. untuk tidak memilihmu sebagai istri."

"Maafkan aku."

"Kau minta maaf? Aneh sekali mendengar kau berbicara seperti itu."


Won cerita, ia pernah kesana sebelumnya saat Rin disana. Mereka duduk sambil membicarakan San. Won lalu duduk dan meminta San duduk juga di sampingnya. San menggeleng, ia tidak seharusnya duduk disitu.

"Apa karena aku Seja? atau karena aku akan menikah dengan wanita lain? Kau kenapa? Mengapa kau memintaku untuk tidak memilihmu sebagai istri? Apa karena ada orang lain dalam pikiranmu?"

"Aku sudah tahu, agar Tuan Muda Rin tetap disini, Nona Dan harus menjadi istrimu."

"Bahkan jika kau dikirim ke Yuan?"

"Aku akhirnya akan pergi dan..."


Won kesal, ia langsung berdiri ke hadapan San, apa San tahu apa yang akan terjadi di sana? San akan menjadi istri ke 5 atau 6 seorang pejabat tua. Apa itu yang San mau? San sanggup melakukan itu?

"Aku..."

"Aku tidak bisa membiarkan ini."


San mengalihkan pembicaraan, ia khawatir dengan Ayahnya, jika Won mendengar kabar tentangnya... Won menyela, ia akan mencoba mencari tahu.

"Bisakah aku meminta kau menjaga Ayahku?"

"Aku akan mengurusnya."

"Tuan Rin bertarung dengan tentara Raja karenaku. Jadi..."

"Aku akan mengurusnya. Apa lagi? Apa ada lagi yang harus kulakukan untuk Han Cheon?"


San: Jika kau bertemu dengannya, katakan padanya bahwa So Hwa sangat berterima kasih. Tanpa sepengetahuanku, dia melakukan banyak hal untukku. Aku baru tahu. Dia selalu ada untuk melindungiku. Aku baru tahu. Dan... Katakan padanya untuk bersikap baik pada orang tuanya, mencintai mereka, dan berdamai. Tolong katakan itu.

Won tidak mau, ia tidak akan memberitahunya.


Won akan pergi tapi San memanggilnya, Jeoha! Won pun berbalik.

"fokuslah saja pada satu hal. Bagaimana cara kembali ke wanita itu. Kembali ke wanita yang aku kenal, dan katakan sendiri padanya. Aku akan menangani sisanya."

Won pun benar-benar pergi.


Pengawal Raja mendatangi penjara, bertanya kemana Seja. Pengawal menunjuk ke arah perginya Seja.


Won kembali ke istananya diam-diam, ia menghindari Prajurit yang berpatroli. Tapi ia tidak sendiri, dari atas, ada Jang Eui yang mengikutinya.


Won bertanya bagaimana tentang Menteri Eun. Jang Eui menjelaskan kalau Menteri Eun tidak dibawa ke gedung pemerintah dan ada yang melihat dia dibawa ke rumah pribadi, seorang pedagang dan mengenal Menteri Eun.

"Rumah yang mana?"

"Itulah yang lucu. Tepat di belakang Chiwollu. Ada dua pintu masuk yang terpisah, tapi rumah-rumah itu sejajar."

"Cari tahu siapa pemiliknya."

"Ya."

"Walaupun aku sudah bisa menduganya."

"Aku akan mencari tahu."

"Dia tidak ditangkap secara resmi, dan dibawa ke rumah pribadi. Orang itu pasti sangat percaya diri."


Kasim Kim berlari pada Won. Won bertanya, apa ibunya membuat pergerakan? Kasim Kim menjelaskan bahwa Ratu barusan ke kamar Raja.


"Dia sangat bersikeras sehingga tidak ada yang bisa menghentikannya."


Ratu langsung menerobos masuk ke kamar Raja. Saat itu Raja sedang bersama Boo Yong dan Ratu melihat saat Boo Yong masuk ke balik tirai di samping ranjang Raja.

"O-Ho Sikapmu semakin buruk saat bertambah tua. Masuk begitu saja. Kau tidak tahu aku sibuk."

"Kau tampak sibuk, jadi aku akan langsung ke intinya."

"Kalian yang diluar tidak bisa menghentikannya?"

"Ratu ada di sini. Siapa pun  harus menunjukkan rasa hormat."


Boo Yong langsung keluar dan bersujud pada Ratu. Raja berkata, jika Ratu datang dengan pemberitahuan terlebih dulu, ia pasti bisa bersiap-siap, minimal menyiapkan minuman.

"Ini bukan hal mendesak jadi tidak perlu aku memberitahumu dulu."

"Kau datang larut malam begini padahal bukan hal mendesak?"

"Aku akan menyelenggarakan perjamuan untuk para utusan."

"Lakukan apapun yang kau mau."

"Aku perlu izin untuk melakukan persiapannya."

"Sejak kapan kau meminta izin dariku?"

"Kalau begitu aku akan melakukannya."

"Lakukanlah."


Boo Yong menyampaikan pada Ratu saat Ratu akan pergi, bahwa raja selalu peduli pada kesehatan Ratu. Boo Yong memang tidak banyak tahu, tapi ia tahu beberapa obat.

"Jika anda mengizinkanku untuk memeriksa..."

"Jika kau tahu apa penyakitku, kau akan membuatkan obat untukku?"

"Dengan seluruh usaha dan ilmuku, aku akan..."

"Nak~"

"Ya, Ratu."

"Kau sangat buru-buru. Kau pasti ingin meracuni obatku."

"Saya tidak akan berani."

"Kita lihat dulu apa Raja akan menjadikanmu selir. Dengan begitu kau baru bisa bermimpi untuk meraih pergelangan kakiku."


Ratu berjalan ke pintu dan Boo Yong kembali ke Ranjang Raja. Ratu mendengar suara tawa Raja, ia menoleh sebentar dan tampak cemburu.


Won curhat, Kasim Kim akan menanggapi tapi Jang Eui menahannya.

"Aku tahu bagaimana rasanya. Bagaimana rasanya memiliki perasaan yang tidak terbalas. Setiap hari, hatimu akan terluka. Aku sering melihatnya."


Won lalu menatap cincin pemberian San, "Mana yang lebih sulit? Untuk membuatnya tetap dekat dan membiarkan hatiku terluka setiap hari, atau tidak melihatnya sama sekali? Aku berharap lupa. Aku hanya berharap."


Won lalu berbalik, bertanya pada Jang Eui, apa Jang Eui yakin So Hwa ada di daftar persembahan?

"Ya. Daftarnya sudah bersama para utusan."

"Kapan mereka akan pergi?"

"36 jam lagi. Mereka akan berangkat pagi-pagi sekali."

"Tidak ada waktu. Aku butuh Guru Lee. Kau masih belum menemukannya?"


Guru Lee sedang menikmati minum yang tampaknya sangat lezat diwarung yang sangat ramai.


Furutai memeriksa warung itu tapi ia terlambat, Guru Lee sudah pergi.


Lalu Guru Lee pindah di rumah Gibang. Seorang wanita ingin menuangkannya minum tapi ia menolaknya. Wanita itu mengeluh, lalu ia harus ngapain?

Guru Lee tiba-tiba berdecak, wanita itu bertanya, apa rasanya tidak enak?

"E-heh! Dia datang terlalu cepat. Dia hanya mementingkan kepentingan sendiri."

"Maaf?"


Pintu di buka dan Furutai sudah berdiri di sana. Guru Lee berkata bahwa masih ada minuman yang belum ia coba. Furutai mendesah.

"Bisakah aku minum masing-masing seteguk?" pinta Guru Lee.


Song In memperingatkan Moo Suk bahwa utusan akan pergi satu hari lagi jadi Moo Suk harus menemukan dokumen
Menteri Eun sebelum itu.

"Orang suruhanku sudah mencari-cari di pinggiran Ibukota." Jawab Moo Suk.

"Jika San dikirim sebelum kita membuat dia mentransfer hartanya, maka semuanya akan menjadi rumit."


Tak sengaja Song In melihat Guru Lee di tangkap. Guru Lee tersenyum pada Song In tapi sepertinya Song In tidak kenal siapa Guru Lee. Baru setelah Guru Lee menjauhinya beberapa langkah, tampaknya ia baru mengerti.


Jeon mengadu pada ayahnya bahwa Rin berani melawan tentara Raja. Jeon menegaskan pada ayahnya, Rin pasti akan menghancurkan keluarga mereka suatu hari nanti, jadi ia meminta ayahnya untuk menyuruh Rin pergi sekarang.

"Dia bilang akan dikirim ke Yuan--"

"Perhatikan ucapanmu."


Kanselir bertanya pada Kasim Choi, apa Ratu mengatakannya sendiri. Kasim Choi membenarkan, Rin mengantar San karena perintah Ratu.

"Mereka yang membuat keributan atas apa yang terjadi, sama saja dengan menantang Ratu. Oleh karena itu, anda tidak perlu khawatir tentang Tuan Rin yang melawan tentara Raja."

"Tolong katakan padanya aku sangat berterima kasih."

"Saya akan memberitahunya. Permisi."

"Kau bisa pergi. Rin-ah. Dia banyak membantu kita malam ini. Kita harus berterima kasih padanya."

Kasim Choi senang mendengarnya, ia keluar dengan langhkah bahagia.


Rin akan mengikutinya keluar tapi terhenti saat kakaknya bicara pada ayahnya.

"Nona San adalah tunanganku. Aku akan meminta bantuan Raja."

"Kalian berdua belum ada hubungan secara hukum."

"Dia pasti sudah menjadi istrik jika Seja Jeoha tidak mengganggu. Aku akan meminta Raja untuk membuat dia menjadi wanitaku, Dia akan berada dibawah kendaliku jadi dia tidak pernah melakukan ini lagi. Dan aku akan mengambil harta mereka dan mengurusnya seolah-olah itu miliknya. Bukankah menurut ayah Raja akan senang?"


Rin tidak bisa mendengarnya lain, ia berjalan keluar, tapi setelah menutup pintu pun ia masih mendengar suara kakaknya.

"Dia sangat menyanyangiku. Apa Ayah ingat dia memanggilku dan Nona San? Dia memanggil kami berdua. Ayah~"


Kasim Choi ternyata masih menunggu di luar, "Ah.. Aku tidak percaya Kanselir akan seperti ini padaku. Ini sebuah kehormatan."


Namun tiba-tiba Rin menudutkannya, "Kau bekerja untuk siapa?"

"Apa yang anda bicarakan?"

"Kau membawaku dan Nona San ke tempat dimana semua orang ada disana."

"Aku hanya memberi anda jalan pintas..."

"Dan kau mengunci pintunya."

"Aku tidak ingin disalahkan. Aku tidak bisa menolong kalian. Jika seseorang melihatku, itu akan membahayakan Ratu..."


Tiba-tiba Dan datang danmemanggilnya, namun untung saja tidak melihat apa yang ia lakukan pada kasim Choi karena terhalang pohon bunga sakura. Rin lalu melepaskan Kasim Choi dan mengkodenya untuk tutup mulut.

Rin menghampiri Dan dan menariknya menjauh.


Saat kasim Choi keluar dari rumah Rin, ia bertemu dengan Gae Won. Gae Won bertanya, apa Tuan Muda Ketiga ada di dalam? karena mereka harus menemuinya, tapi berhubung ini sudah larut malam, jadi mereka tidak bisa mengetuk pintu. 

Kasim Choi tidak menjawabnya dan ia tampak kesal. Gae Won menyadari hal itu, maka ia pun mengajak Yeom Bok pergi.

Saat mereka berjalan, Yeom Bok membicarakan soal kepala pelayan menteri Eun yang membawa kotak, si Koo Hyung itu.


Kassim Choi tertarik jadi ia mengikuti mereka. Gae Won bilang pada Yeom Bok kalau ia sudah melihat isi kotak yang dibawa Koo Hyung tapi isinya cuma kertas. Kalu saja isinya emas pasti ia sudah mencurinya.

Gae Won menyadari mereka diikitu jadi ia berbalik mengejar tapi tiba-tiba Yeom Bok menembakkan panah tangan (yang cukup dilempar saja).


Gae Won terkejut bukan main, untung saja ia refleks menunduk, kalau tidak kepalanya pasti sudah menjadi korban. Gae Won kesal, sudah gila ya? tapi Yeom Bok senang karena ia akhirnya tepat sasaran.

"Kau tadi melihat orang, bukan? Iya, 'kan?" tanya Gae Won.

"Tidak."


Rin mengajak Dan kembali ke kamarnya. Dan minta maaf karena ia tadi menguping. Rin bertanya, seberapa banyak yang Dan sengar?

"So Hwa... Tidak, Nona San dikurung. Lalu Orabeoni menyelamatkannya dan melarikan diri, dan dia tertangkap lagi--"

"Jangan khawatir. Jeoha akan menemukan caranya."


Dan kembali bertanya, apa San akan dikirimsebagai persembahan? Rin menggeleng, ia tidak akan membiarkan hal itu. Dan khawatir karena sepertinya San pergi untuk menggantikannya.

"Itu tidak masuk akal."

"Kapan kau tahu So Ah ternyata Nona San?"

"Sudah lama."

"Kau mencintainya, bukan? Nona San. Aku sudah tahu."

"Hati seseorang tidak bisa dilihat. Bagaimana kau bisa tahu?"


Dan mulai menangis. Rin terkejut, kenapa? Dan bertanya, apa Won juga mencintai San? Dan tahu saat melihat cara Won menatap San, tatapannya sangat berbeda.

"Aku terus mengatakan pada diriku bahwa ini tidak apa-apa... karena So Hwa lahir dari keluarga rendahan. Aku katakan pada diriku tidak apa-apa. Aku pikir dia hanya menganggapnya seperti bunga cantik atau anjing imut."

"Dan-ah."

"Jika tidak, aku akan meminta bantuanmu. Karena kau juga mencintainya, kau pasti membawanya menjauh dari sisi Jeoha. Jika tidak, aku yang akan melakukannya. Inilah aku, Orabeoni."

Rin memajukan kursinya, ia lalu memegang tangan adiknya. Ia tahu adiknya selalu begitu sejak kecil. Dan tanya, seperti apa memang?

Rin menghapus airmata adiknya, "Kau mengatakan sesuatu lalu menangis. Dan begitu menangis, kau tidak akan berhenti. Lalu kau akan tertidur, bangun, lalu menangis lagi."

"Tempat pertama di hati Jeoha.. adalah Nona San, bukan?"

"Entahlah."

"Aku pikir.. tempat pertamanya adalah Orabeoni."


Rin tertawa, aku? Lalu Rin kembali memegang tangan adiknya.

"Dan-ah. Kau akan segera menjadi Putri Mahkota. Kau adalah Putri Mahkota yang dipilih oleh Seja Jeoha. Jika kau menjadi cengeng seperti ini, maka akan memalukan Seja Jeoha."

"Ya."

Dan mencoba keras untuk berhenti menangis.


Pagi-pagi, Jin Gwan datang untuk menyampaikan pesan ratu ke rumah Rin.

"Saya tidak akan menerima perintah Ratu."


Pada saat bersamaan, Dayang Jo mendatani Rin di kamarnya. Dayang Jo menyampaikan bahwa Ratu membutuhkan bantuan saat mengirim utusan pergi. Jadi Ratu meminta Won untuk segera datang ke Wonseongjeon.


Jin Gwan menyampaikan, Ratu meminta Rin untuk segera datang ke Wonseongjeon. Rin menunduk mengerti.


Dayang Jo melanjutkan, "Mulai sekarang, Seja Jeoha hanya boleh berada di istana Seja, Wonseongjeon, dan jalan yang menghubungkan kedua tempat tersebut."


Rin melihat Won saat akan ke Wonseongjeon (Istana Ratu). Beberapa saat kemudian Won berbalik dan Rin memberi salam, Won membalasnya dengan senyum.


Rin dan Won lalu berjalan bersama menuju Wonseongjeon. Won bercerita kalau ia menemui So Hwa semalam.

"Aku pikir kau sedang dikurung."

"Aku kabur. Aku ahli dalam hal itu."

"Itu akan membuat pelayanmu mendapat masalah."

"Mereka kehilangan aku, jadi mereka tidak mungkin melaporkanku."

"Ada beberapa orang yang berpegang pada peraturan."

"Berhenti basa-basi, dan tanyakan apa yang kau mau."


Rin bertanya, apa San baik-baik saja. Won menjawab kalau San tidak menangis, tapi ia rasa, San bukanlah orang yang akan menangis didepannya. San akan menangis ketika tidur tanpa sepengetahuan mereka.

"Aku meminta bantuan Omamama. Aku membutuhkan tiga orang untuk melakukan ini. dan salah satunya kau, Wang Rin."


Tiba-tiba saja mereka semua sudah di dalam Ruangan ratu. Ratu menyampaikan, sepertinya ada orang yang tidak mau bahkan jika ia panggil. Ia harus bersusah payah membawa mereka.


Tiba-tiba Guru Lee masuk dan menyahut, "Ini namanya penculikan, Ratu."

Guru Lee lalu memberi salam pada Ratu.

WOn juga menyapa Guru Lee, selamat datang! Guru Lee balik memberi hormat pada Won, "Anda baik-baik saja, Seja Jeoha?"


Kasim Choi mulai memasang mata dan telinganya. Tapi Rin menghampiri, menyuruhnya keluar karena ada hal penting yang perlu mereka bahas.

"Setuju. Tidak banyak orang yang memiliki itu. Indra keenam."

Ratu menyuruh Dayang membawa Kasim Choi keluar. Guru Lee belum puas, "Jika sudah begini, bisakah kita menyuruh mereka semua pergi?" Sahut Guru Lee.

Ratu mendesah, ia lalu menyuruh Furutai dan Dayang Jo keluar.


Guru Lee mulai melantur, mengajak mereka pergi ke tempat minum yang terkenal kelezatannya. Won pun mendekati Guru Lee untuk mengingatkannya. Guru Lee paham dan berhenti.

"Seja Jeoha. Apa sebenarnya yang anda inginkan?"

"Maaf?"

"Apa anda menginginkan kekuasaan, atau mencari sekutu?"

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Aku mungkin tidak dengar langsung, tapi aku punya banyak murid di seluruh Goryeo."


Saat Guru Lee minum di tempat pertama, ternyata ia berbincang dengan salah satu muridnya.

Guru Lee: Itu artinya mereka mengincar harta Menteri Keuangan.

Murid: Seja Jeoha dan Putra Ketiga Kanselir, Wang Rin berada ditim yang sama, sedangkan yang lainnya teman dekat Raja.

Guru Lee: Pasti ada seseorang di tengahnya.

Murid: Ada. Dia adalah Song Bang Yeong.

Guru Lee: Song In, bukan? Dia terus menggangguku apanpun aku dengar apa yang terjadi di Ibukota.

Murid: Aku tahu dimana dia tinggal. Rumah Gisaeng yang disebut "Chiwollu".

Guru Lee bersama dua muridnya, satu menyampaikan informasi, satunya lagi mengawasi keadaan. Jadi saat Furutai dan orang-orangnya datang, Guru Lee bisa langsung kabur.


Guru Lee juga mendengar Raja memukul Won. Guru Lee bertanya, apa Raja memukul atau hanya menampar?

"Kau sangat cepat mendapat berita."

"Itulah kenapa. Itu terjadi di istana yang tertutup. Bagaimana bisa kabar itu menyebar begitu cepat?"


Saat Guru Lee minum di Rumah Gisaeng milik Song In, ia mendengar Kepala Prajurit (atau sebangsanya) megoceh di ruangan sebelah soal kejadian Raja memukul Won.

"Raja Goryeo memukul Pangeran Mahkota di depan semua pelayan seperti kasim dan tentara."

Guru Lee berkata, salah satu dari mereka mengatakan melihatnya dengan mata kepala sendiri. Won menggerakkan bola matanya, gugup.

AKhirnya Won mengakui, "Aku tidak tahu akan seperti ini. Aku bermaksud mengalihkan perhatian Apamama saat kalian berdua kabur."


Won sengaja membawa Kepala Prajurit tadi. Ia meminta Kasim Kim untuk membawa Kepala Prajurit itu ke lokasi ia menentang Raja.


Dan begitulah ceritanya bagaimana Kepala Prajurit itu bisa melihat Raja memukul Won di depan semua orang.


Rin menyadari, jadi Won sengaja agar ditampar? Supaya supaya para pelayan melihatnya?

"Kita tidak bisa membuang waktu. So Hwa akan dikirim besok." Jawab Won.


Won lalu beralih kembali pada Guru Lee, ia bilang kalau ia sudah menyiapkan semuanya dan ia butuh bantuan Guru Lee untuk rencana selanjutnya. Ia butuh bantuan kemampuan Guru Lee, koneksi, dan--

"Saya tidak mau."

"Kau... kau sangat dingin."

"Saya tidak ingin berada di antara anda dan Raja. Saya tidak tahu mana yang baik."

"Kau memang tidak mengenalku dengan baik--"

"Entah itu pertarungan untuk kekuatan atau persekongkolan, saya merasa kasihan pada orang-orang yang akan dikorbankan."

"Itu sebabnya aku membawamu kemari. Bagaimana cara supaya aku meminimalkan jumlah orang yang akan dikorbankan?"


Guru Lee menyarankan, seharusnya Won angan melakukan apapun. Apapun. Maka tidak akan ada yang dikorbankan.

"Baiklah. Kalau begitu aku akan melakukan ini sendiri. Maaf aku membawamu sejauh ini." Jawab Won.

"Tapi.. Menteri Keuangan telah mendukung Yongandang secara finansial selama tujuh tahun terakhir, dan aku telah mengajar putrinya."

"Kau akan membantuku?"

"Aku tidak ingin melakukannya sendiri, tapi muridku akan membantu anda. Anda bisa mempercayai muridku."


Ratu memanggil Rin, mengatakan kalau murid Guru Lee pasti sudah menunggu di luar, Ratu menyuurh Rin membukakan pintu.


Rin membuka pintu dan ternyata San lah yang ada di luar. Won langsung berdiri kaget. San memandangnya dan perlahan tersenyum manis.

***

Jangan Lupa Baca Sinopsis On-Going yang lainnya ya.. Ada Attention, Love! (Klik Disini) dan Manhole (Klik Disini!) ~~

6 komentar

daebak.... sedih saat sadar kalau cinta Won tidak berbalas.tapi baiklah drama ini emang keren, bikin penasaran, semoga episode berikutnya bisa lebih baik buat Won (akhirnya aku dukung kebahagiaan Won) ada banyak adegan seru antara Won, San dan Rin. soalnya persahabatan mereka itu indah. makasih buat rekapnya dan tetap semangat

Akhirnya keluar jg sinopnya.. Makin kesini intrik nya makin dalam.sealalu gak sabar nunggu sinopnya tiap minggu. Tetap semangat ya mba. Tks

Kalau lihat kedudukan pemerannya san bakalan sama won deh.

Gomawo.. Ep 22 donk.. Semangat.. 😍😍

Asli ini drama susah di tebak. Kayaknya yg dipilih rin tp kok kayakny perhatiannya itu karna kasian tp tau deh..

Maaf .. Min mana episode selanjutnya ??? Gue nunggu lama banget !!!

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon