Thursday, August 24, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 22


Sumber Gambar: MBC


San tersenyum lalu berjalan masuk melewati Rin untuk memberi hormat pada Won dan Ratu.

"Saya diperintahkan untuk datang dan membantu ketika utusan tiba, Seja Jeoha."

Won memandang ibunya seperti tak percaya dan ibunya hanya tersenyum. San juga tersenyum lebar memanggil Gurunya, Guru Lee.


Guru Lee aneh melihat San memakai gaun. Ratu menjawab kalau ia yang memberikan gaun itu untuk San dan memuji kalau San cantik dengan gaun pilihannya itu.

"Ini sebuah kehormatan bagiku." Jawab San.

"Kudengar kau punya bakat unik."

"Tidak. Saya tidak punya sesuatu yang unik."

"Aku sudah memberitahunya." Kata Guru Lee. San berbisik, kenapa? Guru Lee membalas, apa?

Won akhirnya bisa tersenyum juga.


San, Won dan Rin jalan keluar dan San tiba-tiba terjatuh. Won dan San sama-sama refleks memeganginya. Mereka bertiga jadi canggung, lalu sama-sama saling melepaskan.

Won berkata, waktu mereka tinggal setengah hari lagi sampai San akan dibawa ke Yuan. Mereka harus cepat mencari cara.


San mengkonfrontasi Won, ia pikir Won sudah punya rencana tapi nyatanya nihil. Won menjawab, ia pikir Guru Lee akan membuat rencana untuk mereka. Rin menyahut, ia pikir mereka harus--

San memotong, "Oh, jadi kau hanya duduk-duduk dan menunggu orang lain."

"Lalu kau? Kau punya bakat unik. Kau seharusnya melakukan sesuatu, bukan malah tertangkap."

Rin memanggil kedunya agar berhenti tapi ia dihiraukan.

San menyindir, yang mengurungnya adalah orang tua orang yang sedang berbicara saat ini (sebut: Won). Won tidak terima disalahkan begitu, ia mengingatkan betapa banyaknya ia berkorban untuk San.

"Memangnya aku kenapa?" Kesal San.


Rin terpaksa berdiri diantara mereka untuk menghantikan mereka. "Kita harus pergi dan menyelamatkan Menteri Keuangan terlebih dahulu."


Guru Lee heran, Ratu adalah putri dari Kaisar Agung Yuan. Pasti mudah baginya untuk menghapus nama San dari daftar itu. Ratu menyimpulkan, apa Guru Lee bertanya mengapa ia mempersulit sesuatu?


"Saya bertanya-tanya apa anda membutuhkan hiburan." Jawab Guru Lee.

"Saat Seja pertama kali bisa jalan, bicara, dan mulai mengerti kata-kata, Aku selalu mengatakan padanya bahwa dia harus menjadi Raja. Jika dia ragu-ragu, maka orang lain akan meremehkan dia untuk menjadi Raja."

"Kurasa dia bukan tipe yang mau mendengarkan anda."

"Dia tidak pernah mendengarkanku. tapi dia yang lebih dulu datang padaku. Dia menginginkan kekuasaan. Itu karena dia.


Guru Lee mengingatkan, jika hanya demi seorang wanita maka motif yang berbahaya. Ratu sepertinya tidak setuju dengan Guru Lee, Apa gunanya bagi pria memiliki sebuah negara jika dia tidak bisa memeluk wanitanya?


Won mengingatkan pada Rin, "Kita harus menyerang mereka dan mengeluarkannya sebelum mereka sadar. Dia (mungkin yang dimaksud adalah Song In) mempunyai ruang perburuan dan orang-orang suruhan Raja di belakangnya. Banyak hal-hal yang mengerikan disana.

"Aku akan mengingatnya. Permisi."


Won mendekati San, berkata kalau akhirnya ia bersama So Hwa. San bertanya, saya?

"Siapa lagi yang ada disini?"

San tersenyum, "Apa kau tak apa?"

"Ya, kerja bagus. Tapi.. kau sungguh akan melakukannya sendirian? Aku akan ikut bersamamu jika saja aku tidak dikurung."

"Oh, sebentar."


San berlari ke arah Rin dan tak sengaja kakinya tersandung gaun yang ia pakai.Rin refleks menangkapnya hingga tidak terjatuh. Won melihat itu, aku rasa ia cemburu tapi ia manahannya.


Rin setengah memuji, gaun San terlihat cantik. San menjawab gaunnya memang cantik tapi susah dipakai. Rin lalu bertanya, apa yang ingin San katakan.

"Ah. Ayahku menderita penyakit kronis. Penyakit jantung, jadi dia tidak boleh stres."

"Apa dia butuh obat?"

"Ada pil yang harus dia minum. Tabib kita pasti tahu."

"Aku akan membawanya."

"Ya."

Rin memutar-mutar bola mata beberapa saat, "Aku pergi."

San juga melakukan hal yang sama, "Ya."


Won melihat keduanya berpisah, ia sedih melihat San memandang kepergian Rin.


Gae Won kembali mendatangi rumah Rin, ia bertanya pada pelayan yang keluar untuk menyapu, apa Tuan Muda Ketiga ada di dalam? Pelayan itu menggeleng.

Gae Won menggerutu, "Jawablah dengan bicara. Apa yang kau sapu? Kenapa kau menyapu tanah?"

Tapi pelayan itu malah mengacuhkannya.

Tanpa Gae Won tahu ia ternyata di buntuti seseorang.


Tunggu! Tapi kok ada Jin Gwan yang melihat mereka dari atas.

Suara Jin Gwan: Seperti yang anda katakan, ada seseorang yang mengintai, dan dia memakan umpannya.

*OWWW


Gae Won ternyata tahu kalau ia dibuntuti dan itu memang tugasnya. Ia menggerutu karena ditugasi hal yang sulit. Ia kesal karena Yeom Bok bicara soal kasim itu pada yang lain, jadinya ia mendapat tugas ini.


Gae Won mendatangi sebuah rumah dan disana ada Jang Eui, Yeom Bok, Pengawal Won dan dua anggota pengawal Bayangan. Gae Won melapor sesuatu dengan berbisik.


Sementara itu, Jin Gwan mengawasi dari atas, ia melihat Orang yang membuntuti tadi mengintip dari pagar, orang itu melihat Koo Hyung sedang memeluk kotak.


Orang itu bergerak, Jin Gwan langsung mengokde yang lain untuk mulai bergerak juga.


Song In mengunjungi Menteri Eun di ruang sekapan, bertanya apa Menteri Eun sudah makan, karena ia menyuruh orang-orangnya untuk memperlakukan Menteri Eun dengan baik.

"Aku sangat menikmati makanannya."

"Tapi kau masih tidak mau bicara."

"Jika itu tentang harta putriku, aku menyuruhmu untuk bertanya pada dia."

"Ini lebih sulit dari yang aku kira. Raja sangat marah sehingga... aku tidak bisa mengeluarkan dia dari istana."


Song In lalu duduk, "Kau tahu siapa yang dipanggil Seja Jeoha tadi malam?"

"Apa aku harus tahu?"

"Dia memanggil Guru Lee Seung Hyu. Ini berarti... pengkhianatan. Bahkan jika itu tidak benar, itu bisa dibuat agar terlihat benar."

"Lalu?"

"Jika kau tidak ingin terlibat, berikan kekayaanmu lalu pergi."

"Jika aku menolak?"

"Satu. San akan dikirim ke Yuan, dan kau akan ditemukan tewas disuatu tempat. Dua. Pemberontakan Seja Jeoha akan terungkap, dan semua yang mendukungnya, termasuk keluarga dan budakmu, akan dibunuh. Tiga. Kekayaan yang coba kau sembunyikan dengan susah payah.. akan disita. Apa kau sudah mendapat gambarannya?"

"Itu berarti, Jika hartaku disita, kau juga tidak akan
mendapatkan apapun. Bukankah begitu? ha ha ha."


Song In masuk, mengabari kalau mereka sudah menemukan tempat persembunyian Koo Hyung. Song In langsung berdiri dan Menteri Eun terkejut sampai dadanya kembali sakit.


Orang yang mengikuti Gae Won tadi menemui SOng In dan Moo Suk. SOng In bertanya, siapa yang bersama Koo Hyung?

"Mereka tampak seperti pengawal." Jawab orang itu. Lalu Moo Suk menambahi, mereka semua adalah pengawal Seja Jeoha, mungkin di situlah mereka tinggal setelah meninggalkan Geumgajeong.

"Berapa banyak?"

"Sangat banyak. Aku tidak menghitungnya."

Song In lalu memerintahkan untuk mengumpulkan semua prajurit mereka dan melakukan penyerangan sekarang juga sebelum mereka kabur lagi.


Si pengawal Won dan Rin mengawasi mereka dari atap dan setelah Song In pergi bersama para tentara, mereka langsung bergerak. Ternyata bukan hanya berdua tapi semua anggota pengawal bayangan.


Anggota pengawal bayangan masuk ke rumah Gibang dan ternyata masih ada beberapa pengawal, tapi mereka bisa dengan mudah melumpuhkannya.


Rin terus masuk sampai ia menemukan kamar Song In. Jin Gwan memberitahu Rin, ada ruangan yang dikunci di bangunan itu. Rin langsung menuju ke sana.


Menteri Eun merebahkan kepalanya ke meja, sakit jantungnya tadi tidak mau hilang. Untungnya Rin datang tepat waktu. Ia mengenalkan siapa dia lalu memberikan obat Menteri Eun yang ia dapatkan dari tabib keluarga Menteri Eun.


Jin Gwan masuk, mengabari bahwa Song In dan para tentaranya sepertinya sudah tahu bahwa mereka telah di tipu. Rin minta maaf, ia langsung menggendong Menteri Eun.

"Putriku?" Tanya Menteri Eun.

"Dia aman, dan dia mengakhawatirkanmu."


Furutai mendatangi utusan yang dari Yuan (Sebelumnya sebut kepala prajurit, maaf!). Utusan itu bertanya, apa Ratu baik-baik saja.

"Aku membawa asisten dan kepercayaan Ratu, Nona Eun San." Jawab Furutai.


San menghormat sopan dan menunjukkan senyum manisnya. Utusan merasa pernah melihat San sebelumnya. Ia berpikir dan teringat, ia melihat San adalah sebab Won ditampar Raja karena menentang.


San dan Furutai membawakan hadiah dari Ratu  untuk Utusan, sekotak gingseng Goryeo. San bersikap Saaangat manis di depan utusan.


Namun itu bukan tanpa alasan, diam-diam ia mengambil kunci yang terselip di punggung Utusan saat Utusan lengah. *Mungkin ini yang dibilang keahlian unik San.

"Ratu berencana membuat perjamuan yang sangat mewah untuk menyambutmu dan orang-orangmu malam ini. Aku pikir ini akan menjadi acara yang luar biasa yang pernah kita saksikan."

San tiba-tiba memeluk lengan Utusan dan menariknya duduk untuk memberitahu sesuatu. San lalu memberikan kunci itu diam-diam pada Furutai.


San tiba-tiba menangis, Utusan bingung, Nangja (Nona)?


Sementara itu, Furutai menjalankan bagiannya, membuka kotak berisi dokumen daftar gadis-gadis yang akan dikirim ke Yuan. Furutai mencari dokuman yang bertuliskan nama San.


San masih terus bersandiwara untuk mengalihkan perhatian Utusan, "Yang Mulia Ratu... sangat... kesepian."

"Aku sudah mendengar rumor itu. Dia selalu sendirian di kamarnya."

"Saat anaknya, Seja Jeoha, mengunjunginya sehari sekali, hanya itulah yang memberinya kekuatan untuk bertahan."

"Tapi sekarang dia dihukum, mereka sudah tidak bisa bertemu."

Furutai berhasil menemukan tugas itu. San menunjuk ke luar agar bisa menerimakunci itu kembali dari Furutai. San lalu menyelipkannya kembali pada punggung utusan.

San: Sekarang, aku harus melakukan perjalanan jauh ke Yuan. Apa Ratu bisa bertahan tanpa aku?


Setelah San berhasil, ia langsung berubah drastis, kembali seperti ia yang biasanya dan ia langsung pamit karena Ratu sudah menunggu.


Song In menyerbu rumah itu tapi disana kosong. Song In menyadari mereka sudah ditipu.

"Rumahku. Eun Young Baek." Kata SOng In kesal.


Song In kembali ke rumah danMenteri Eun sudah tidak ada di sana.


Song In lalu ke kamarnya dan ia tahu kalau tirainya itu ada yang membuka karena tutup guci dekat tirai terbuka. Song In lalu membanting guci itu.


"Beginilah manusia. Perlakukan mereka dengan baik, dan mereka mengkhianatimu. Ikuti hukum, dan yang suka melanggar hukum akan menginjak-injakmu. Beginilah manusia. Jadi... Kebaikan dan hukumku... akan berakhir disini."


Utusan dan dua anggotanya datang ke istana, mereka melihat ada kereta yang membawa pernak pernik hiasan. Utusan berpikir, itu pasti untuk perjamuan mereka.

"Kudengar Ratu sedang menyiapkan perjamuan terbesar untuk menyambut kita. Aku sudah tidak sabar."


Rin menyambut mereka dan meminta mereka untuk mengikutinya. Utusan tampak agak bingung tapi mereka menurut saja.


Rin mengajak utusan menemui Won, dimana saat ini WOn sedang pura-pura sakit. Utusan panik, ada apa?

"Dia sakit apa?" Bisik utusan.

"Dia hanya tidak enak badan." Jawab Rin.

"Dia mengalami stres dan sangat sedih." Imbuh Kasim Kim.

"Saya bisa membayangkan apa yang anda alami. Anda pasti sangat terluka dan merasa terhina. Itulah mengapa anda sakit saat ini." Jawab Utusan.


Won minta maaf karena meminta Utusan bertemu seperti ini. Ia langsung menyuruh Utusan duduk.

"Aku ingin meminta bantuanmu."

"Aku akan melakukan apapun. Aku akan kembali ke Yuan dan berbicara dengan kakek anda. Apapun yang anda butuhkan, aku akan membantu anda, Seja Jeoha."

"Hancurkan daftar itu untukku. Daftar persembahan."

"Apa ini tentang wanita waktu itu?"

"Benar. Kau sungguh orang yang luar biasa."

"Seja Jeoha. Wanita yang ada dalam daftar sudah menjadi milik kakekmu. Jika aku menghancurkan daftar itu, aku harus menerima resikonya.

"Wanita itu teman satu-satunya Omamama dan orang kepercayaannya. Aku hanya Putra Mahkota yang tidak berdaya, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sangat menyedihkan."

"Daftarnya sudah berada di dalam peti yang dikunci. Karena itu..."


Rin membentangkan dokumen daftar itu di meja. Won bertanya, apa itu dokumennya? Utusan mengambil daftar itu dan membacanya.

Won menunjuk bara api penghangat di belakang Utusan, utusan bisa membakar daftar itu disana. Rin kembali mengeluarkan sesuatu (seperti surat) dan menaruhnya di meja.

Won: Ladang ginseng di Pulau Ganghwa.

Rin: 300 kapling. Itu semua sudah atas namamu.

Utusan gugup dan membuka surat yang dikeluarkan Rin itu.

Won: Itu pasti akan menghasilkan jumlah ginseng yang luar biasa setiap tahunnya. Ginseng Goryeo. Ah. Kau bisa menyimpan ini (surat itu), dan membakar itu (daftar nama San).


Utusan tidak punya pilihan lain, ia membakar Dokuman daftar nama San lalu pamit. San dan Rin lega.


San keluar dari ruangan dibelakang ranjang Won.

"Tunggu sebentar lagi. Pengawal Utama akan memberitahu Apamama pada akhir perjamuan."

"Memberitahu bahwa dia tidak akan menerima daftar tahun ini?" Tanya San.

"Benar. Lalu seseorang akan datang ke penjara untuk membebaskanmu."


Rin menyela, ia akan menunggu di luar. San menoleh dan tersenyum. Won menyuruh San pergi. San kembali menatap Won untuk pamitan.


Won menyuruh San untuk memakai pakaiannya karena sel-nya sangat dingin dan lembab. San menolak, ia tidak berani memakai Jubah Seja.

"Maka dari itu... Pakai ini, supaya yang lain takut." Kata Won sambil memakaiakan Jubah itu pada San.

Kali ini giliran Rin yanga hanya bisa menandang mereka.


San berjanji tidak akan melupakan apa yang Won lakukan untuk ia dan Ayahnya.

"Sekarang, pergilah." Kata Won. San tersenyum lalu menunduk pamit.


Rin akan mengantar San tapi Won menyuruh Kasim Kim saja yang mengantarnya, ia ingin bicara dengan Rin. San sih oke-oke saja, tapi Rin tampaknya kurang suka.


Won mengajak Rin minum, Sesuatu yang mahal ketika So Hwa tidak ada disini.


Dalam perjalanan San tertawa. Kasim Kim bertanya, apa yang membuat San tertawa begitu.

"Dia adalah Seja Jeoha. Semua hormat padanya. Aku sangat kasar padanya. "Hei, kemari dan duduklah. Minumlah. Han Chun, minum lagi"."

"Apa?"

"Aku tidak tahu."

"Bagaimana bisa anda tidak tahu? Dia jelas terlihat seperti Putra Mahkota."


San melihat ke depan ada kereta itu lalu beberapa prajurit berpakaian serba hitam muncul dari belakang kereta. San bertanya, apa Kasim Kim bisa bertarung? Kasim Kim diam saja, San tahu apa artinya, ia lalu menyuruh Kasim Kim kembali untuk meminta bantuan.

"Bagaimana dengan anda?"

"Pergi!!"

Kasim Kim pergi dan San mengeluarkan piasunya.


Rin dan WOn beneran minum bersama. Won mengakui, terkadang ia mempertimbangkan untuk melepaskan San. Saat kebahagiaan sudah berakhir, dan itulah akhir dari segalanya. Saat bunga bermekaran, maka itulah puncaknya.

"Satu persatu mulai layu--" Sambung Rin.

"Cara terbaik adalah tidak melihatnya. Saat kau mulai melihat bunga yang layu dan membusuk, maka itu akan merusak kenangan tentang bunga yang mekar dan harum. Aku berusaha sangat keras untuk memikirkannya."

"Lalu, Mengapa Anda menahannya?"


Won mengakui tidak bisa hidup, ia tidak bisa hidup seharipun tanpa San. Rin bertanya, apa Won meminta San untuk tinggal di sisinya?

"Tidak. Belum."

"Bagaimana jika dia bilang tidak... ketika Anda memintanya?"

"Itu tidak mungkin. Aku sudah bilang. Aku tidak bisa hidup tanpa dia."

"Apa Anda akan membuat kandang besar untuknya?"

"Ya."

"Bagaimana jika dia tidak bahagia? Bagaimana jika dia tidak bahagia di kandangmu?"

"Itu tidak mungkin."

"Bagaimana kau bisa yakin?"

"Kenapa kau mengatakan.. dia mungkin tidak bahagia.. disisiku?"


San dikepung para prajurit tadi, lalu Moo Suk mendekatinya sambil menunjukkan tato di lengannya. San menodongkan pisau ke arah Moo Suk.


Lalu.. Song In muncul. San melawan beberapa prajurit itu, ia hampir bisa kabur.  Song In melirik Moo Sun untuk  bertindak.


Moo Suk langsung terbang ke depan San, menghalangi jalannya. San mundur perlahan dan berbalik, namun ia disambut oleh hantaman tongkat Song In yang tepat mengenai kepalanya. Ia pun pingsan seketika.


Kasim Kim bersama Jang Eui mendatangi kamar Won. Won dan Rin keluar. Kasim Kim tidak bisa mengatakannya, Agasshhi.. Agashhi..

Jang Eui melanjutkan, "Dia diculik."

"Diculik? Tutup gerbang istana! Pastikan tidak ada yang keluar! Minta bantuan Wonseongjeon!" Perintah Won.


Furutai dan pengawal Ratu yang lain langsung bergerak.


Won dan Rin menuju ke tempat lokasi namun mereka hanya menemui jubah Won dan pisau San.


Won dan Rin bergerak lagi. Jin Gwanmelapor bahwa tidak ada orang yang melewati gerbang selatan.

"Bawa kudaku." Perintah Won.

"Ya."


Won dan Rin melihat Moo Suk dan mereka langsung berlari mengikuti Moo Suk.


Sementara itu, San ada di dalam kereta yang membawa pernak pernik hiasan itu bersama Song In. Tapi Rin dan Won tidak tahu ada orang di dalam kereta itu, mereka melewati kereta itu tanpa curiga.

***

Maaf lama, sebenarnya juga gak ingin lama-lama ngepost-nya tapi kesehatanku gak mendukung. Ini aja disempet-sempetin. Mohon do'anya ya semua.. moga cepat sehat kembali akunya biar bisa lancar lagi ngepost-nya..

7 komentar

Semoga lekas sembuh ya. Aku suka baca sinopsisnya meskipun sudah lihat filmnya. Semangat y. Makasih

Akhirnya,makasih byk sinopnya.
Semoga cpt sembuh mba.

SeMoga lekas sembuh ya kak jdi bisa nulis sprti biasanya....semangat kak 😊☺

semoga lekas sembuh y..aku suka banget ini drama sudah d tonton tp tetep penasaran sampai ingin baca dr blog ini jg..

Thx udah recap...semoga sehat selalu..aamiin

Thanks ... Min .. Dan semoga cepat sembuh !!! :-)

Makasih rekapnya walaupun sakit tetep berusaha kasih yang terbaik makasih banget mbak diana sehat terus yaaa.
Diepisode ini aku sedih banget aku dukung kebahagiaan Won dan ngebayangin perasaan dia liat San ama Rin 😢 tapi aku juga gemes liat Won yang obsesif banget ama San. Pengen bikin sangkar yang besar buat San 😕 pengen deh aku pukul belakang kepalanya Won biar dia sadar. Tetep di tunggu recapnya tetap sehat juga yaaa

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon