Tuesday, August 29, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 25

 
Sumber Gambar: MBC



Won sedang bicara berdua dengan Guru Lee di Kuil Cheoneunsa. Sementara Rin mengawasi mereka dari jauh.


San akan mendekati mereka dengan membawa makanan, Rin menahan karena takut menngganggu. San bergumam, makanannya tidak akan enak kalau sudah dingin. Rin melihat makanan buatan San, ia berkomentar kalau ia tidak pernah melihat kue yang semua bentuknya tidak sama seperti itu, ada yang kecil, besar, tipis, tebal.

San tersenyum mengatakan kalau ia membuatnya sendiri, Guru Lee sangat menyukainya. Rin berkata kalau ia akan mencicipinya dulu. San teringat wanita juru icip di istana dan mengijinkan Rin untuk memakannya.

Rin menggigitnya dan sepertinya rasanya tidak seperti yang ia bayangkan (kurang enak). San kembali tersenyum, bertanya bagaimana rasanya.

"Apa kau.. sudah mencicipinya?"

"Tentu saja."

"Rasanya.."

"Apa tidak enak? Setiap orang yang pernah mencicipinya bilang kalau mereka menyukainya."

Rin hanya tersenyum.


Guru Lee memberikan dua buku yang ia tulis setelah ia diberhentikan oleh Raja karena membuatnya marah. Won menerimanya dan membaca judulnya, "Jewang Ungi", itu buku sejarah.

"Buku pertama tentang China, dan kedua tentang Goryeo."

"Ini hari pertamaku memegang kekuasaan sebagai Raja. Dan aku datang untuk bertanya bagaimana harus menggunakan kekuasaan ini. Tidak ada waktu membaca buku sejarah seperti ini, Guru Lee."

" "Kami adalah negara satu ras dengan Dangun, putra dari Sun, sebagai nenek moyang". Anda harus mulai membaca dari sana."

"Bagaimana kau bisa mengatakan negara satu ras di hadapanku? Kau sedikit tidak bijaksana. Atau hanya sok berani."

"Semua orang membawa batu di dalam hati mereka. Anda adalah darah campuran."


Guru Lee lalu memandangi San, "Dia juga memiliki batu besar di hatinya meski dia tersenyum. Sekitar 7 atau 8 tahun lalu, dia datang menemuiku. Aku melihat batu yang dia bawa dan bukan melihatnya."


Saat San dan Koo Hyung sampai di tempat Guru Lee, Guru Lee bertanya siapa nama San, namun San hanya diam saja jadi Koo Hyung yang menjawab, So Hwa.


"Apa yang ingin kau pelajari dariku?" Tanya Guru Lee lagi dan San masih tetap diam. Guru Lee melanjutkan, "Kau bisa katakan apapun yang kau mau. Aku pendengar yang baik."

"Aku... Aku... Aku membuat Ibuku meninggal."

"Mengapa kau berkata begitu?"

"Karena.. akulah penyebabnya."


Narasi Guru Lee: Dia tidak menangis. Dia seperti batu.

San tidak mau makan nasi dan hanya mengunyah sedikit ramuan pahit. Guru Lee menekati dengan membawa kue beras Mugwort sebagai ganti nasi.

"Ini baru dikukus dan sangat enak."

San sudah mengambilnya tapi tidak jadi memakannya. Guru Lee mengerti, pasti San merasa bersalah makan makanan enak. Apa karena Ibunya? San mengangguk.


Guru Lee kemudian memberi San air putih hambar. Tapi sebenarnya itu adalah air asin dan anehnya San minum sampai tetes terakhir.

Narasi Guru Lee: Dia telah kehilangan indera perasa.


Guru Lee menjelaskan, sangat sulit bernafas ketika ada batu di hati. Dan Itulah satu-satunya cara San bisa bernafas.

Won menyimpulkan, "Dia merasa bersalah makan makanan yang enak, sehingga dia kehilangan indera perasa?"

"Anda juga pernah mengalami kesulitan bernapas, dan datang menemuiku. Dengan menceritakan kisah anjing serigala."

"Kapan So Ah baru bisa makan?"

"Aku menyuruhnya masak untuk kami."


San masak kue beras untuk teman-teman seperguruannya dan mereka semua mengintip acara masak San.


Setelah selesai, mereka masing-masing mengambil satu, mencicipinya. Dari ekspresi mereka, rasa masakan San aneh tapi mereka bilang rasanya sangat enak.  San pun mengambil satu dan memakannya.


Guru Lee melanjutkan, ada dua tipe orang. Mereka yang ingin bahagia sendiri dan mereka yang bahagia ketika yang lain juga bahagia. So Hwa adalah orang yang terakhir.

"Aku tahu itu." Jawab Won.

"Seperti itulah Raja yang aku inginkan. Seorang Raja yang senang ketika rakyatnya senang. Bacalah buku itu, dan Anda harus mencari tahu manakah Raja yang seperti itu."


Won pun membuka buku itu. Guru Lee mendadak mengingat sesuatu bahwa So Hwa hanya bisa merasakan satu hal. Guru Lee melihat ekspresi Won jadi sangat serius, ia lalu memanggilnya.

"Tidak. Dia bukanlah penyebab kematian Ibunya." Jawab Won.


Won memandang San sambil mengingat apa yang terjadi tujuh tahun lalu, dimana ia menganggap dirinyalah penyebab kematian Ibunda San.


Selanjutnya, Won-San-Rin minum bersama. San mencium bau anggur yang ada di botol dan ia langsung tahu kalau itu anggur Honghwa. Won tidak menyangka San bisa langsung tahu hanya dengan mencium aromanya.

"Aku akan memberitahumu. Ini setidaknya sudah berumur tiga tahun." Tambah San. San akan menuang anggur untuknya tapi ia teringat harusnya Seja yang minum duluan, jadi ia memberikannya pada Won, tapi Won menuangkan untuknya lebih dulu.


Won membahas mengenai Guru Lee yang tidak mungkin mau ikut dengan rencana mereka. San membenarkan, Guru Lee tidak suka istana dan pangkat. Won menyuruh San ikut sebagai ganti Guru Lee.

"Aku butuh seseorang untuk menyatukan para pejabat yang diasingkan Apamama."

San malah lebih asyik dengan anggurnya. Won kesal, bisakah San mendengarnya dan menjawabnya? San menjawab ia tidak bisa ikut. Won bertanya alasannya, San akan membawa ayahnya ke Saracen.

"Ayahku sedang sakit. Kami dengar ada tabib ahli di Saracen." Jawab San saat Rin bertanya tujuannya ke sana.

Won menyuruh Rin mengirim seseorang ke Saracen untuk membawa tabib itu. San protes dan Won segera menegaskan, San harus ikut mereka ke Istana.

"Bisakah kau mengerti keadaanku?" Pinta San.


Tanpa mereka tahu, Menteri Eun mendengar percakapan mereka dari bawah.

Won: Mengerti apa? Mengapa kau harus melakukan perjalanan sejauh itu? Ayahmu sedang tidak sehat. Bagaimana dia bisa jalan sejauh itu?

San: Kami akan pelan-pelan. Kami telah berpisah selama bertahun-tahun. Sekarang, aku ingin meluangkan waktu untuk melihat dunia.

Won: Aku melarangmu.

San" Kalau begitu aku akan pergi diam-diam.

Rin mengingatkan, Saracen itu sangat jauh, butuh waktu bertahun-tahun untuk kembali. Jadi kenapa San harus--

"Kau mungkin juga akan melarangku. Jadi aku akan mengucapkan selamat tinggal. Tidak ada yang tahu kapan kita akan bertemu lagi." Jelas San.


Demi mencegah San pergi, Won mulai membahas kejadian Sungjukjae delapan tahun lalu saat Ibu San diserang. Rin mengkode Won untuk berhenti tapi Won tetap melanjutkannya.

"Tidak hanya perampok saja. Namun ada sekelompok lain. Mereka membunuh para perampok dan Ibumu. Mereka tidak mengejar uang. Mereka membunuh semua orang di sana."

San ijin untuk bertanya sesuatu dan WOn membolehkannya. San bertanya, apa Won ada disana waktu itu? Won membenarkannya. San bertanya alasannya tidak melakukan apa-apa, Jika saja Won memberi perintah, Won bisa menangkap mereka, pria yang membunuh Ibunya, dan orang yang berada dibelakangnya.

"Saat itu.. aku egois. Aku tidak ingin terlibat. Ini memang sudah terlambat.. tapi aku yakin kita akan menemukan orang-orang itu sekarang. Dan mencari tahu alasannya. Aku akan membantumu menemukan keadilan."


Menteri Eun tiba-tiba sudah berada tak jauh dari mereka, berterimakasih atas apa yang barusan Won katakan, tapi ia dan putrinya tidak akan membalas dendam karena Almarhum istrinya tidak menginginkan itu.

"Jadi... Aku meminta Anda membiarkan kami tidak mengikuti perintahmu."

"Aku akan mengirim tabib kerajaan untuk merawatmu. dan membawa tabib Saracen. Jadi.. biarkan putrimu tetap bersamaku." Pinta Won.

Won juga meminta langsung pada San agar tidak pergi. 


Won dan Rin menunggu Ratu di jalan. Ratu melewati mereka begitu saja tanpa menyapa. Sementara itu, Rin memberikan dokumen yang ia bawa pada Furutai.


Ratu ternyata ke ruangan Raja. Ratu menjelaskan, supaya Seja Jeoha belajar bagaimana memerintah negara, ia harus punya pangkat. Jadi ia memilih beberapa kantor yang bisa Seja urus.

"Kantor? Hahaha.." Tanggapan Raja.

Utusan menjelaskan, Kaisar Yuan sudah menyiapkan beberapa pangkat untuk Seja Jeoha. Kanselir Kuasa Penuh atau Kanselir Senior Tingkat Pertama. Ratu melanjutkan, Seja harus memegang kantor Goryeo yang sesuai dengan pangkatnya itu, jadi ia menyiapkan beberapa dokumen.


Song Bang Young membaca dokumen yang diberikan Furutai, "Kanselir Utama", "Panglima Angkatan Bersenjata". Raja bertanya pada Ratu, apa Seja harus memegang semua pangkat itu?

"Anda hanya perlu menyetujuinya." Jawab Ratu.

"Apa ini ide Won?"

"Ini bukan idenya."

Raja bertanya pada Song Bang Young, dimana Pengawal dan Petugas Kantor Pemburuan? Song Bang Young menjawab mereka masih ditahan oleh tentara Eungyang dan Yongho.

"Jika begitu, Aku akan memberi dia kantor itu. Bawa cap emasku." Perintah Raja.

Song Bang Young terkejut, "Cap emas?"

"Oh, karena aku akan membawa cap emas, ada satu hal lagi."


Raja memanggil Boo Yong, Raja menyampaikan kalau ia berpikir untuk mengangkat Boo Yong sebagai Ratunya hari ini. Raja bahkan memberi Boo Yong nama Ratu, Ratu Mu?

"Dia berbeda, dan dia tidak mirip siapapun. Ratu Mu."

Ratu menahan tangis mendengarnya.

*Sebenarnya aku bingung, disini Ibu Won ini kedudukannya sebagai apa kok sampai Raja mengangkat Ratu baru?


Won merancang rencana bersama Rin, begitu mereka mendapat persetujuan, mereka harus pergi ke Yongmunchang (tempat penyimpanan untuk pendistribusian), mereka perlu mulai memberi makan tentara terlebih dahulu. Tapi tampaknya Rin tidak begitu fokus.


Won memanggil Rin, menjelaskan kalau mereka akan melakukan sesuai rencana untuk memberikan amunisi ke setiap tentara. Dan--

Won memandang Rin dan Rin masih saja tidak fokus. Won bertanya, apa yang Rin pikirkan? Katakan! Won akan mendengarkan apapun yang Rin katakan.

"Kau akan mengungkap siapa orang dibalik pembunuhan istri Menteri Keuangan?" Tanya Rin.

"Aku memang bilang begitu untuk membuat So Hwa tidak pergi. Tapi ya. Aku akan mengungkapkannya. Aku seharusnya sudah memulai penyelidikan ini ketika aku tahu So Hwa putrinya."

"Jeoha, sejujurnya..."


Perkataan Rin terpotong karena keluarnya Ratu dari Istana Raja. Won bertanya pada Ibunya tapi Ratu melewatinya begitu saja.

Di belakang Ratu, Furutai memberikan dokumen itu kembali pada Rin.


Rin buru-buru pulang, ia sampai tidak melihat adiknya sedang ada di luar dan tersenyum padanya. Dan heran melihat Rin sangat serius seperti itu.


Rin menuju ke ruangan ayahnya. Kanselir heran melihat Rin disana bukannya menemani Seja yang pasti sedang sibuk-sibuknya. Rin tanpa basa basi langsung mengatakan kalau Seja bertekad untuk menyelidiki apa yang terjadi di Sungjukjae delapan tahun lalu.

"Apa yang terjadi di Sungjukjae? Istri Menteri Keuangan?" Tanya Kanselir dan Rin membenarkannya, Kanselir bertanya lagi, "Kau bilang Kakak Keduamu ikut terlibat?"

"Aku yakin."


Tanpa mereka sadari, Dan menguping pembicaraan mereka. Kanselie bertanya, berapa banyak yang Seja tahu? Rin yakin begitu Seja menyelidikinya, dia akan segera tahu, saksi juga masih ada.

"Si gelandangan itu? Siapa yang akan percaya perkataan mereka?"

"Aku akan memberitahunya."

"Rin-ah"

"Inilah pilihan yang tepat. Aku sudah menyembunyikan ini terlalu lama."

"Dan.. tidak terjadi apa-apa selama ini."

"Hyungnim merencanakan semua cara untuk mengambil hartanya dengan memanfaatkan putrinya."

"Kakakmu mengatakan dia tidak melakukan itu. Aku sendiri yang bertanya padanya."

"Ayah mengatakan ini saat itu, "Diam. Tetaplah diam"."

"Jika orang mencari tahu, kakakmu akan menjadi dalang pembunuhan itu."

"Begitu banyak orang yang meninggal."

"Bagaimana dengan keluarga kita? Kita adalah keluarga kerajaan. Kita akan dituduh berkhianat jika kita salah jalan."


Dan akhirnya bersuara, bertanya apa yang akan terjadi padanya? Apa bisa adik seorang pembunuh menjadi seorang Putri Mahkota, Ayah? Orabeoni?

"Dan-ah." Panggil Rin.

"Aku hanya ingin menikah dengannya."


Kasim Kim ke ruangan WOn tapi ruangan itu kosong.


Won menyelinap untuk menemui Jang Eui. Won bertanya, masih belum? Jang Eui membenarkan. Won paham, ia bertanya lagi, apa Jang Eui  sudah memberitahu orang-orang di gerbang?

"Begitu Agasshi masuk ke kota, mereka akan langsung memberitahuku." Jawab Jang Eui.

"Baik."


Sementara itu, orang yang mereka bicarakan sedang berkemasdibantu Bi Yeon. Bi Yeon senang mendengar kalau orang terkuat kedua di negeri ini akan menemukan pembunuh Nyonya.

"Guru Lee pasti cukup kompeten. Seja Jeoha datang sendiri untuk meminta bantuannya. Dan dia sangat perhatian padamu sebagai muridnya." Lanjut Bi Yeon.


Bi Yeon melihat San memasukkan pisau ke dalam tas, ia langsung mengambil piasu itu, melarang San untuk tidak terus membawa barang menyeramkan. Sekarang Pengawal Seja juga akan menjaga San, jadi San tidak perlu pisau itu lagi.

"Aku membawa itu untuk keberuntungan." Jawab San dan meminta pisaunya kembali.

"Tapi kau seorang Nona sekarang. Maka kau harus bersikap seperti itu. Kau juga harus bertemu dengan orang yang kau sukai. Ya? Pakai pakaian yang cantik."

"Berhenti cerewet."


Menteri Eun memanggil San dan mengajaknya bicara berdua. Menteri Eun menyarankan untuk melakukan perjalanan lewat kapal. San setuju, sulit bagi Ayahnya untuk bepergian lewat darat.

"Kalau begitu aku akan menyuruh seseorang untuk menyiapkan kapal terbesar untuk kita berlayar. Aku juga akan mengumpulkan pelaut yang paling hebat."

"Makanya, Ayah. Kita tidak bisa pergi dengan cepat karena harus mempersiapkan semua itu. Aku hanya perlu waktu 10 hari. Kita tidak tahu kapan akan kembali. Aku ingin mencoba semua minuman keras yang ada di Ibukota. Hanya 10 hari, Ya?"


Menteri Eun kembali merasakan sakit di dadanya, San lalu menyuruhnya untuk duduk. Menteri Eun meminta San untuk menjawab jujur pertanyaannya.

"Kapan aku pernah bohong?"

"Kenapa kau tiba-tiba tidak ingin balas dendam atas meninggalnya Ibumu? Setiap tahun peringatan kematian Ibumu, kau berkeliling di Ibukota selama sebulan, sampai dua bulan, untuk mencari pria tato ular itu."

"Ayah sudah tahu?"

"Kau tahu betapa sedihnya aku melihatmu?"

"Aku minta maaf."

"Tapi sekarang, kau ingin menyerah dan pergi ke Saracen bersamaku. Kau akhirnya menemukan pria tato ular itu. Kau akhirnya menemukan orang yang berada di belakangnya."

"Selama ini Ayah benar. Tidak ada gunanya--"

"Apa karena kakak Rin ikut terlibat? Kau khawatir akan menyakitinya dan keluarganya?"

"Mereka semua orang baik. Rin dan adiknya. Semuanya kecuali kakak keduanya."

"Jadi? Kau mau menyerah dan pergi?"

"Ya."


Menteri Eun memegang kedua tangan San, ia dengar San berlatih bela diri setiap malam, sampai tangan San kapalan seperti sekatang.

"Aku memang sering melakukan itu."

"Temanmu datang karena dia mengkhawatirkanmu. Kau memintanya untuk mengajarkan beberapa keterampilan. Dia bilang kau ingin belajar bagaimana cara menyergap seseorang dan bisa membunuh mereka sekaligus. Apa yang kau pikirkan, San-ah?"


Jeon pulang dalam keadaan mabuk, ia bergumam gak jelas, "Arus turun dari Baekwunbong. Arus itu pergi ke manapun di dunia ini. Jangan bilang arus itu hanya sampai disungai. Dia akan sampai ke laut sebentar lagi."

Rin memandang kakaknya itu, sedih.


Sementara itu, Won juga kembali menatap kosong di dingiinya malam.


San kembali berlatih bela diri menggunakan pisau.


Guru Lee mendekatinya dan tiba-tiba menyuruh San untuk memilih satu. San bisa memilih cintanya sambil menatap langit atau melatih tubuhnya untuk membunuh orang. Tapi San tidak bisa melakukan keduanya saat bersamaan.

"Kudengar kau meminta waktu 10 hari pada Ayahmu. Apa kau berpikir bisa menemukan musuhmu dalam waktu 10 hari? Jawab cepat. Kau membuatku ngantuk."

"Pelaku pembunuhan waktu itu memiliki tato ular. Dan Tuannya.. adalah Song In."

"Apa kau akan menemui mereka dan bertanya apa mereka membunuh Ibumu? Jika mereka bilang iya, maka kau akan membunuh mereka untuk balas dendam? Tidak bisa kau menyerah saja? Dia sudah lama meninggal."

"Bagaimana dengan yang lain? Hari itu, banyak yang meninggal di Sungjukjae tanpa tahu alasannya. Mereka masih berkeliaran di sembilan benda langit."

"Bagaimana kau tahu?"

"Aku mimpi tentang mereka. Aku melihat mereka dalam mimpi."

"Baik. Kau bisa membalas dendam selama 10 hari itu. Tapi kau juga butuh bantuanku."

"Bantuan?"

"Aku sudah janji pada Seja. Kau harus melakukannya pada siang hari, dan melakukan pekerjaanmu di malam hari. Kau bisa melakukan dua pekerjaan ini saat bersamaan."


Rin datang menemui Won"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

"Apa?"

"Seharusnya aku sudah memberitahumu tadi. Sejujurnya--"

Won memotong dengan memberi Rin sebuah dokumen, mereka harus menyelesaikan itu dulu.


WOn lalu jalan duluan, Rin memanggil. Won mengingatkan bahwa para jendral sudah menunggu, ia tidak bisa terlambat pada hari pertama.

"Ayo! Tegakkan bahumu."

Rin terdiam sebentar, lalu ia menyusul Won.


Won menemui para Kepala Komandan Tentara dan Jenderal. Pertama, ia ingin memuji mereka terlebih dahulu. Ketika ia memerintahkan operasi penggerebekan, mereka tidak punya waktu untuk mengetahui rinciannya atau berlatih terlebih dahulu. Ia tidak menyangka mereka berhasil dengan sempurna. Mereka hebat.

Won telah membaca semua laporan penawaran dari semua tentara. Dan ia telah menulis sendiri rencana untuk sistem pasokannya. Ia memberikan dokumennya pada Jendral Tentara Yongho untuk diperiksa.


Semuanya diam tidak seperti yang Won harapkan. Jendral Yongho menyampaikan, dari semua gudang di Ibukota, Yongmunchang yang memiliki jumlah terbesar, tapi setelah ia periksa kemarin ternyata kosong, bahkan tidak ada sekantong gandum yang tersisa.

"Bagaimana dengan Daeuichang?" Tanya Won.

"Itu juga kosong." Jawab Jendral Eungyang.

"Itu kosong sejak awal, atau ada yang mengambilnya?

"Aku bertanya pada orang yang tinggal di sana, dan mereka bilang ada gerobak yang lewat tadi malam."


Song In memberikan sebuah kunci pada Raja, berkata bahwa ia sudah memindahkan semuanya ke Naebanggo. Song Bang Young menambahi, semuanya sudah selesai, dari tim pertanian sampai para tentara telah bergabung dengan pihak Won karena Won menjanjikan lebih banyak makanan, tapi jika mereka tidak menemukan apa-apa di sana dan sadar bahwa mereka akan kelaparan, mereka akan kembali.

"Mereka akan segera kembali. Kita hanya perlu menunggu beberapa hari." Tambah Song In.

"Saat mereka bergabung dengan kita, Anda perlu menghukum beberapa orang sebagai peringatan bagi yang lain. Jika Anda menggantungkan kepala mereka di Gerbang Selatan, mereka tidak akan pernah melakukan hal seperti itu lagi. Beraninya mereka mencuri tentara dan senjata Raja?" Lanjut Song Bang Young.


Raja melirik para tentara yang berjaga di depan pintunya. Song In bertanya, apa ia harus membawa lebih banyak tentara?


Raja meminta Song In mendekat, berbisik, apa Para Tentara itu bisa ia percayai? Song In menjelaskan ia sendiri yang memilih mereka, jadi Raja bisa mempercayainya.

"Tidak, kau tidak bisa mempercayai siapapun. Tidak boleh."

Raja tanpa sadar menggerakkan kakinya naik turun dengan sangat cepat, ia gugup. Boo Yong menyadari itu dan langsung bertindak, ia menyarankan agar Raja  harus membiarkan orang setianya untuk melakukan semuanya, dan pergilah berburu.


Boo Yong menyarankan Raja berburu keGunung Dora dan ia akan menemaninya. Raja sangat senang dan langsung akan pergi.

"Apa yang harus dipakai selir kerajaan?" Tanya Raja.

"Wanita istana bilang dia bisa memberikan jepit rambut selir kerajaan. Anda membutuhkan persetujuan Permaisuri Won Sung untuk mendapatkan jepit rambutnya." Jawab Song Bang Young.

"Dapatkan itu. Aku memerintahkanmu."

"Ya, Raja."

"Mulai sekarang, dia adalah Ratumu. Ini perintahku."

"Jika begitu, kunci wanita istana..."

"Kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Kenapa kau bertanya semuanya? Bagaimana aku bisa mengatur semuanya?"


Selepas Raja dan Boo Yong keluar, Song Bang Young langsung mengambil kunci itu.


Won meminta Rin untuk mencaritahu mereka membawanya kemana persediaan makanan kemana. Ia yakin mereka pasti tidak bisa mengeluarkannya dari Ibukota, jadi cari di semua gudang dan gang.

"Ada satu tempat yang tidak bisa aku masuki. Aku tidak bisa mencari di Naebanggo tanpa perintah Raja." Jawab Rin.

"Beraninya kau berpikir kalau dia yang melakukannya? Apa menurutmu Apamama, mengambil makanan yang disimpan untuk rakyat?"

"Aku hanya mengatakan itu satu-satunya tempat yang tidak bisa kita cari."

"Aku akan meminta bantuan di Wonseongjeon."


Rin memaksa untuk mengatakan sesuatu pada Won tapi Won sepertinya selalu mengalihkan pembicaraan. Rin kesal sampai ia membentak Won untuk berhenti menghindar darinya dan mendengarkannya.

"Apa itu sangat mendesak?"

"Menurutku, Wang Jeon, terlibat dalam insiden yang terjadi delapan tahun lalu di Sungjukjae. Aku telah curiga padanya delapan tahun lalu. Tapi aku menyembunyikannya karena aku pikir keluargaku akan bahaya. Karena itu.. bisa membuatku menjadi kaki tangannya."

4 komentar

Makasih recapnya. Kita jadi tau dan ikut merasakan apa yang dilalui San selama 7 tahun ini. Bukan episode favoritku sih... aku kasian liat Rin. Tapi juga nyesek banget liat Won, kebayang gitu beban yang harus dia tanggung antara cintanya atau persahabatannya.... 😶. Sampe kapanpun aku akan dukung kebahagiaan Won.

This comment has been removed by the author.

Rin kasian, habis ini pasti caeritanya bakal lebih rumit. pasti persahabatan merreka makin diuji dengan Rin mungkin tpksa berkhianat dan ikut Raja....

Semoga aja enggak 😯 aku sebel banget sama song in dan kalo sampe Rin nyebrang aku bakal sedih banget. Kasian Won...

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...