Tuesday, August 1, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 9

Advertisement

Sinopsis The King Loves Episode 9

Sumber Gambar: MBC


Ternyata yang mengendarai kuda dan hampir menabrak anak kecil itu adalah rombongan Furatai yang hendak menjemput Won. Tapi setelah sampai disana, Jang Eui dan Jin Gan menghadangnya.


Won keluar dengan pakaian yang belum diikat, soalnya ini masih pagi, ia pun malas. Furutaimenjelaskan bahwa Permaisuri ingin  bertemu Won. Won bertanya, untuk apa pagi-pagi benini. Furutai menjawab kalau nanti Permaisuri akan memberitahu Won.

Won berbalik hendak mencuci muka dulu sambil menggerutu kalau Furutai membanynkannya. Furutai meninggikan suaranya, sekarang juga!

Won pun balik lagi dan berjalan keluar. Rin akan ikut tapi dihalangi Furutai. Won pamit pada Rin dan alisnya di angakat sebelah sambil melirik ke atas. Rin paham, maksud Won adalah untuk melindungi San.


Rin mengantar Won sampai ke depan dan setelah WOn pergi, dua orang dari rumahnya datang. Mereka memberitahu bahwa ayah Rin mencarinya, beliau ingin bertemu Rin sekarang juga.


San terbangun karena ia jatuh dari ranjang dan ia merasakan kepalanya pusing sekali. San lalu keluar, ia melihat sekitar dan menemukan sebuah kamar yang sepertinya habis di gunakan, satu di ranjang dan satu di kursi.


San turun karena di atas tidak ada siapa-siapa dan dibawah ia dihadang oleh seorang Ahjumma. Ahjumma itu hanya menatapnya tanpa berkata. San mengatakan kalau ia tidur dengan nyenyak, lalu bertanya kemana pria yang tidur di atas pergi.

Ahjumma itu menunjukkan arah untuk cuci muka, buang air, dan arah pintu keluar. Tapi Tuan mudanya menyuruhnya untuk menjaga San agar teta tinggal, jadi Ahjumma meminta San menganggap pintu keluar itu tidak ada.

San bertanya intu yang satu lagi (dibelakang Ahjumma). Ahjumma menjelaskan kalau itu intu terlarang, San tidak boleh masuk ke sana. San manggut-manggut mengerti.


namun saat Ahjumma pergi, San mengendap-endap membuka pintu itu dan ternyata Ahjumma ada dibalik intu itu. San pelanpelan menutup kembali pintu itu.


Won sampai di tempat ibunya. Ia melihat ada pengawal tambahan, tidak seperti biasanya. Permaisuri menuangkan teh, katanya dari Yuan. Won meminta ibunya untuk bicara saja. Permasisuri melanjutkan bahwa teh itu bisa menjernihkan pikiran dan menenagkan diri.

"Apa semua ini?" tanya Won.

Permaisuri lalu menyuruhnya duduk.


Won pun duduk dan Permaisuri meminum tehnya. Permaisuri berkata, Won bersamanya semalam untuk menemaninya yang tidak bisa tidur, ia menceritakan soal masa kecilnya dan mereka bermain baduk.

"Omamama.." Sela Won.

"Aku bersenang-senang." Lanjut Permaisuri mengabaikan Won.


Ayah Rin memberitahu mengenai Raja yang menduga kalau salah satu orang Seja membunuh saksi mengenai kasus pemanah itu. Jadi Ayah ingin Rin tetap di rumah agar tidak dicurigai. Rin menduga bahwa ini semua pasti ulah Jeon dan ia yakin ayahnya tahu betul kalau semua kecurigaan ini tidak masuk akal.

"Mana ada orang Seja Jeoha yang..." Rin berhenti, ia terpikir seseorang.

Ayah menjawab kalau ada seseorang. Rin bertanya lagi, apa dia dijebak. Ayahnya menjawab, mereka akan tahu nanti jika saatnya tiba.

"Kenapa harus menunggu?" tanya Rin.

"Kakakmu pergi untuk menyelidiki."

"menyelidiki apa?"

"Apa yang dia lakukan tadi malam dan apa yang akan dia lakukan hari ini."


Rin langsung berdiri, ia tahu ini semua jebakan. Ayah menyuruh Rin duduk, Permaisuri sudah memanggil Won jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dia pintar jadi ayah yakin dia akan menghindari jebakan.

"Dia tidak akan! Jika Jeoha tahu wanita itu dalam bahaya, Jeoha tidak akan tinggal diam!" Lalu Rin pergi menghiraukan panggilan ayahnya.


San duduk di luar sambil menikmati sinar matahari di bawah pohon sakura.


Dan tiba-tiba ia melihat Moo Suk tak jauh darinya. Tanpa pikir panjang, San langsung mengikutinya.


Moo Suk sengaja kayaknya agar San mengikutinya. Ia sempat berhenti untuk memastikan San mengikutinya dan saat ia sudah yakin, ia melanjutkan jalannya.


Song In mejelaskan pada Raja. Ada tiga orang yang mendatangi pengrajin yang mengukir anak panah Seja. Mereka bertiga mengaku sebagai utusan Seja. Song In mendapat laporan kalau 3 orang itu adalah Won, Rin dan seorang wanita.


Raja terkejut, seorang wanita! Song In membenarkan dan menjelaskan kalau banyak yang melihat Won dan Rin selalu bersama seorang wanita dan sejujurnya.

"Sejujurnya apa?" tanya Raja penasaran.

Song In menceritakan kalau ia melihat seorang wanita di tempat berburu kemarin. Ia pikir itu wanita yang sama,deskripsinya pas dan wanita itu juga memiliki pisau.

"Apa dia bersama Putra Mahkota?" Tanya Raja.

"Dia sendirian. Saya ingat karena hutan itu tampak sangat berbahaya bagi wanita untuk berada disana sendirian."

"hutan?"

"iya."

"Hutan yang.. aku dan Seja masuki?"

"Iya."


Moo Suk berhenti di depan sebuah rumah, lalu ia masuk ke dalam. San tidak berhenti mengikutinya, ia memastikan keadaan aman lalu meloncati pagar.


San mencari-cari Moo Suk, ia sudah mengeluarlan pisaunya. Ia melihat sebuah pintu terbuka namun yang iatemui setelah masuk adalah dua orang pria tak bernyawa.

San terkejut, ia keluar lagi tapi malah bertemu dua orang pria lagi. Pria satu menghadangnya dan yang satu memeriksa di dalam. Pria yang memeriksa mengatakan ada yang meninggal dan menuduh San sebagai pembunuhnya.


San terkejut, apa lagi ia masih memegang pisaunya tadi. Ia langsung berlari namun naas, di luar ada prajurit kerajaan yang sedang berpatroli jadi ia tertangkap.

Tapi benarkah itu hanya kesengajaan? Tidak, karena Jeon muncul tak lama kemudian, ia tersenyum lalu memerintahkan untuk membawa San.


Raja bertanya, siapa yang meninggal. Song In menjawab, dua murid pengrajin itu, meeka bertugas mengantarkan anak panah Seja.

"Seja menangkap mereka dan ada yang membunuh mereka?"

"Tuan Wang Jeon berhasil menangkap wanita itu yang kemarin saya lihat sedang melarikan diri dari hutan."

Raja menanyakan siapa ayah wanita itu. SOng In menjawab kalau wanita itu orang biasa yang bahkan namanya saja ia tidak tahu. Raja terlihat kesal karena Song In tak tahu apa-apa soal wanita yang dekat dengan puternaya itu.

"Sekarang wanita itu ada di Biro Investigasi, saya akan memantau proses persidangan."

"Lakukan dengan baik." Tapi Raja berubah pikiran, ia akan memantaunya sendiri.

Song In mengingatkan kalau itu hanya interogasi orang biasa jadi sebaiknya Raja tidak menunjukkan diri. Raja bilang kalau ia hanya akan melihat dari belakang, sembunyi-sembunyi.


Song In tersenyum puas, dari jauh ada yang tersenyum padanya juga. Song Bang Yeong, Asisten Sekretaris Kerajaan.


San menghentikan semuanya, ia tidak mengerti kenapa ia di tangkap. Ia ingin mereka mengatakan apa yang mereka mau, maka ia akan menceritakan semuanya. San melihat sekitar, semua alat pengiksaat sudah siap, ada rantai, bersi panas, pasung, dll. Ia ngeri duluan.


Jeon datang. San langsung menyentuh tangannya, ia tahu Jeon adalah putra kedua Menteri Penasehat Kerajaan (Konselir). Jeon menepis tangannya dan Kepala Tentara membentaknya yang berani-berani menyentuh Tuan mereka, lalu memerintahkan untuk mengikat San.

San berteriak, "Tuan muda! Saya kenal baik dengan adik Anda. Anda bisa tanya sendiri kalau tidak percaya."

"Dia terlalu banyak berbicara."kata Jeon lalu kepala Tentara tadi berkata kalau ia bisa mencopot beberapa gigi San dan melepuhkan bibir San dengan setrika panas.

San melirik setrika panas di sampingnya. Jeon menjawab, jangan dulu lakukan itu, ia harus mendengar jawaban San terlebih dahulu.


Jeon melihat Raja dan Song In datang dan mereka langsung duduk dibalik tirai. Raja bertanya pada Song In, apa wanita it orangnya dan Song In membenarkan.

"Dia terlihat sangat ceroboh. Dia terlihat seperti orang yang tinggal di ponsk pemburu."

"Dia adalah wanita yang saya lihat di hutan."

"Tidak mungkin, wanita seperti itu berteman.. dengan putraku, seorang Putra Mahkota Negeri ini? Bukan hanya Seja, tapi Rin juga ada disana."


Permaisuri mengajak Won main baduk berdua. Song Bang Yeong mengumumkan kedatangannya, ia bertanya mengenai Won.

Permaisuri tidak memberi ijin masuk, malah meminta Won fokus pada permainan saja. Song Bang Yeong tidak menyerah, ia meminta Won keluar karena saat ini di Biro Inverstigasi ada...

Permaisuri meyela, menegur Song Bang Yeong yang berani teriak di depan ruangannya dan mengganggu waktunya bersama Seja.

Won meminta ibunya untuk membiarkan Song Bang Yeong masuk. Permaisuri kesal, beraninya Won membantahnya, padahal setiap nafasnya ia persembahkan untuk Won.


Won tidak peduli, ia menjawab Song Bang Yeong untuk melanjutkan apa yang hendak dia bilang soal Biro Investigasi tadi. Song Bang Yeong menjawab kalau wanita itu sudah ditangkap.

"Wanita mana?" tanya Won.

Permaisuri memerintahkan Furutai untuk membuat Song Bang Yeong tutup mulut. Song Bang Yeong melanjutkan, wanita yang menerima perintah Won dan membunuh para saksi, apa Won mengenalnya?

"Ditempat pengrajin..." Song Bang Yeong tidak bisa melanjutkan karena ia ditarik pergi olehanak buah Furutai.


Won akan keluar tapi ia dihalangi pengawa yang ada di dalam. Permaisuri mengatakan kalau ini jebakan. Won menjelaskan kalau ia kenal wanita itu.

"Kau tidak boleh kenal. Siapapun dia. Kau tidak boleh kenal. Seseorang mencoba menjebakmu melalui wanita itu."

Won tidak peduli, ia meminta Permaisuri menyuruh pengawalnya minggir.


Permaisuri meninggikan suranya, apa Won  tidak mengerti?! Jika WOn pergi kesana duluan, Won pasti akan mengakui kesalahannya. Won membantah, ia tidak memiliki kesalahan untukdiakui.

"Jadi bertindaklah seolah kau tidak mengenalnya!" Permaisuri mengambil tangan Won, meminta untuk menunggu disana tanpa melakukan apapun.

Won melepaskan genggaman ibunya, ia minta maaf lalu memerintah mereka semua untuk minggir. 

 "Tidak apa-apa jika Seja terluka. Halangi dia jangan sampai keluar dari ruangan ini!" Perintah Permaisuri.

Won pun dihadang oleh beberapa pedang pengawal.

 
Rin bertanya pada Kasim Kim dimana Won. Kasim menjelaskan bahwa Won ada di ruanga Permaisuri sejak tadi pagi tapi belum keluar juga. Kasim kim juga hendak kesana.

Rin panik, ia langsung kesana duluan sambil berlari.


Won memperingatkan, apa Permaisuri ingin ia menggunakan pedangnya di ruangan itu. Permaisuri mengajak Won menyelesaikan permainan lalu makan siang bersama dan setelahnya mereka bisa minum teh bersama, baru kemudian Permaisuri akan membiarkan Won pergi.

Won berjalan maju, "Kasim Choi, dayang Jo. Tolong jaga Permaisuri sehingga beliau tidak terkejut."


Won memanggil Jin Gwan dan Jang Eui. Mereka langsung muncul dari atas ruangan itu dan melindunginya. Permaisuri memrintah mereka tapi tidak ada yang patuh. Won menjelaskan kalau mereka hanya menjalankan perintahnya. 

Won menyuruh mereka untuk mengeluarkan pedang. "Aku harus keluar dari sini, jadi buatlah jalan itu."


Jin Gwan dan Jang Eui langsung melakukan perintah Won. Mereka melwan pengawal untuk  memberikan jalan keluar bagi Won dan mereka berhasil.


Jeon melemparkan pisau San, bertanya apa itu milik San.San mengiyakan dan balik bertanya kenapa Jeon memiliki pisaunya. Jeon berbohong, pisau itu ditemukan di tempat kejadian (pembunuhan).

San menjelaskan, kalau soal dua orang meninggal itu, ia kesana setelah dua orang itu meninggal. Jeon membantah, lalu bagaimana San bisa tahu untuk pergi ke sana.

San mengakui kalau ia mengikuti seseorang. Jeon bertanya, apa Won memerintah San. San terkejut mendengarnya. Jeon melanjutkan, hanya Won dan pengawalnya yang mengetahui kalau kedua saksi itu ada disana.

"Seja Jeoha? Maksud Anda, Putra Raja?"

"Kau mau bilang kalau kau tidak mengenalnya?"

"Tuan! Lihatlah aku! Bagaimana bisa aku bertemu dengan orang yang statusnya tinggi?"


Jeon mendekati San, mengancam, jika San tidak mengatakan yang sebenarnya, San tidak akan keluar hidup-hidup. San menjelaskan, ia adalah orang rendahan yang mengumpulkan tumbuhan obat-obatan di pegunungan.

"Pangeran Mahkota? Berani-beraninya aku..."

Jeon langsung menampar San, mengancam akan meremukkan tulang San yang berani berbohong. San kembali menjawab, jika Jeon ingin meremukkan tulang orang yang berkata jujur bebarti Jeon ingin memaksa orang itu mengakui jawaban yang sudah diketahui Jeon.

"Bisa Anda katakan apa yang ingin anda dengar dari saya? Maka saya akan menguranginya."

"Dasar kau.." Geram Jeon.

Jeon memandang Kepala Tentara dan Kepala Tentara memerintahkan untuk memulai penyiksaan.


Tepat saat itu, Won datang, berteriak kalau San tidak tahu apa-apa. Won menjelakan pada Raja kalau San tidak tahu kalau ia adalah Putra Mahkota, ia yang sengaja menyembunyikannya dari San.

"Jadi kau kenal dia?"

Won meminta Raja berhenti sebelum San terluka lagi. Raja tidak percaya, bagaimana bisa puteranya.. angeran Mahkota..

"Dia tidak tahu apa-apa, aku yang menyeretnya. Jadi saya mohon.."

"Kau menyeretnya? Kenapa?


Won melihat setrikan panas sudah semakin mendekati San, ia mohon agar Ayahnya menghentikannya sekarang juga.

"Saya tidak bisa menjauh darinya barang sedetik pun. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya jatuh cinta." Aku Won.

Sementara itu, Song In hanya tersenyum tipis, ia menang.


Rin berlari ke ruangan Permaisuri tapi ia malah berpapasan dengan Permaisuri di jalan. Permaisuri menjelaskan kalau Won pergi ke Biro Interogasi dan pasti akan dijadikan pelaku utama.

"Saya sudah mendengarnya." Jawab Rin sopan.

Permaisuri mendekati Rin. "Jika kau adalah temanya. Kau akan membantunya menghindari jebakan, kan?"

"Saya akan pergi ke sana.."

"Bisakah kau menggantikannya? .. masuk dalam perangkap itu?


Jeon membujuk San, akaui atau San akan kehilangan wajah cantiknya itu. San bertanya, apa yang harus ia akui?

"Apa Seja Jeoha memerintahmu?"

San tertawa, "Semua orang mengatakan bahwa Putra Kedua Kanselir memiliki wajah tampan. Aku ingin tahu jika Anda memiliki kepribadian yang baik pula.

"Omong kosong apa ini?"

"Sekarang aku tahu. Tuanku mabuk dan muntah. Kepribadian Anda, sama menjijikannya."

Jeon menjauhi San lagi. Bertanya siapa yang memrintahkan San dengan lantang. San menjawab kalau ia sudah lupa nama yang disebutkan Jeon tadi, bisakah Jeon mengatakannya sekali lagi?

"Kau benar-benar.."


Kepala Tentara melihat San menatap lurus Jeon, ia memeintahkan untuk membakar bola mata San, mulai dari sisi kanan. 


Rin datang, mengakui bahwa ia yang memerintahkan San. Ia mengakui kalau ia yang menempatkan saksi di rumah itu dan ia yang menyuruh San pergi ke sana.

Jeon marah, berani-beraninya Rin mengganggunya, memangnya siapa Rin?

"Dia adalah wanita yang aku cintai."

"Apa.. kau bilang apa?"


Rin mendekati San, ia lalu menghapus darah dibibir San. "Wanita yang kucintai ditangkap dan berdarah. Bagaimana bisa aku tidak ikut campur?"


Raja kesal, mereka seperti badut yang sedang membuat pertunjukan. Keluarga kerajaan berakting begitu bodoh di hadapannya saat ini.

"Rin datang kesini karena saya. Tidak bisakah Anda melihatnya? Dia mencoba membantu saya dengan.."

Raja memerintahkan untuk memenjarakan keduanya. Ia akan memutuskan akan membunuh mereka atu tidak dan bagaimana caranya membunuh mereka.


Won protes.Raja langsung membentaknya, Raja tdak ingin mendengar suara Won jadi Won tutup mulut saja, jangan katakan apapun. Setelahnya Raja pergi meninggalkan Won yang masih shock.


Won melihat San ditarik-tarik kasar, ia bersungut-sungut.


Menteri Eun akan mendatangi penjara San tapi Koo Hyung menghalangi, tolong pikirkan apa pandangan orang-orang nantinya.
 
"Peduli apa kata orang. Anakku..."

"Tuan.."

Menteri Eun kembali ke akal sehatnya, ia memrintahkan Koo Hyung untu menyuap semua orang di Jeonokseo, jika tidak bisa ancammereka. Jika masih tidak bisa lagi, lakukan segala cara pokoknya pastikan San tidak terluka.

"Aku akan bertemu beberapa orang. Kumpulkan semua menteri yang kita tahu. AKu telah banyakmembantu mereka."

"Mereka akan berpikir ini aneh karena Anda melakukan begitu banyak yang berlebihan hanya demi seorang pelayan."

"Pikirkan itu setelah dia dibebaskan! Apa aku tidak menyuruhmu untuk membawanya kenbali ke Gunung Duta secepat mungkin? APa kau tidak tahu kalau dia secepat tupai?"

"Saya minta maaf, Tuan."


Won berlutut di depan Ruangan Raja sampai malam.


Sementara itu, Raja sedang bersama Boo Yong. Boo Yong meminta Raja untuk bersantai tapi Raja bilang kalau santai itu adalah hal tersulit.

"Apa Anda khawatir tentang Seja Jeoha di luar pintu?"

"khawatir? siapa?"

"Di luar sangat dingin."

Raja kesal, ia menyuruh Won menyelidiki, tapi kenapa malah main dengan wanita dan malah menyebabkan rumor pembunuhan saksi? dan siapa yang membunuh saksi itu?

"APa Seja Jeoha membuat banyak kesalahan?"

"Bahkan jika dia melakukannya. Aku tidak bisa berbuat apapun untuk menegurnya. Sebenarnya, dia lebih kuat dari aku. Dia mewarisi darah Kublai Khan. AKu tidak bisa menuduhnya melakukan apapun. Jika dia kenap flu, Kublai Khan akan mengirim utusan khusus. "Beraninya kau membiarkan cucu berhargaku terserang flu?"

Sejak dia lahir, dia memiliki lebih banyak dari yang kumiliki. Bagaimana bisa Putra Mahkota memiliki lebih banyak dari Raja? Bagaimana bisa seorang Anak memiliki lebih banyak dari Ahahnya? Itu tidak mungkin. Dia punya teman dan wanita.. siapa yang akan melindunginya.. jika dia mencoba membahayakan nyawanya. Aku tidak memiliki keduanya, bahkan satu pun. Itu tidak masuk akal."


Raja keluar menemui Won dan Boo Yong mengikuti Raja, membawakan selimut. Won sudah sangat lemas, tapi ia masih memberikan salamnya pada Ayahnya.

"Aku hanya akan menyelamatkan satu diantara mereka. Baik itu wanita yang kau klaim adalah citamu.. atau Rin yang kau pikir sahabat baikmu, kau harus memilih salah satu."


Raja lalu jongkok menjajari Won, "Seseorang harus dihukum karena kesalahan mereka. Kau harus meninggalkan satu untuk menerima hukuman dan aku akan membiarkan satu untuk tetap bebas. Kau yang putuskan siapa dia!"

1 komentar so far

Makasih jadi bisa dapat cerita utuhnya.. keren banget

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon