Friday, August 11, 2017

Sinopsis Manhole Episode 2 Part 1

Tags

Sinopsis Manhole Episode 2 Part 1

Sumber Gambar: KBS2


Soo Jin terus menelfon Phil sepanjang jalan tapi Phil tak juga menjawab telfonnya. Ia menggerutu, Phil benar-benar luar biasa, sudah membuang undangan pernikahannya juga dirinya dan sekarang tidak menangkat telfonnya.


Soo Jin langsung menghubungi Jin Sook, Phil disana, kan? Jin Sook mengingatkan, Soo Jin lah yang membawa Phil tadi.

"Apa? Dia tidak kesana?"

"Kenapa? Kau kehilangan dia?"

"Si gila itu meninggalkanku dan pergi entah ke mana!"

"Diamlah, seolah dia lenyap dan kau tidak tahu rumahnya saja. Sana, pulanglah ke rumah. Dia juga sedang kurang baik belakangan ini. Hei, pokoknya kalau dia ketemu, ajak dia pulang. Aku akan mentraktirnya minum nanti."


Soo Jin mendesah, Phil benar-benar lelaki aneh. Selalu seperti ini. Tidak bisa diprediksi. Mereka tidak pernah cocok satu sama lain.

"Ya, tidak akan pernah. Kami tidak cocok. Kami tidak akan cocok sekalipun aku bereinkarnasi. Kami tidak memiliki kesamaan. Sama sekali tidak."

 
-= E P I S O D E 2 =-
Oh, hidup yang kacau. Sekali lagi?

Saat Soo Jin sampai di rumah, Jae Hyun mengiriminya pesan, "Temanmu terlalu kasar. Maaf, karena aku menggunakan kekerasan. Hubungi aku jika kau sudah merasa baikan."


Soo Jin masih penasaran dengan Phil, ia kembali melihat undangan yang diremas Phil, lalu ia menghubungi Phil lagi. Namun Phil tetap saja tidak mengangkatnya.


Soo Jin pun mengirim pesan.

"Hubungi aku."
"Kalau kau tidak menghubungiku, kita tidak akan pernah bertemu lagi."

Soo Jin menunggu tapi Phil tak juga menjawab pesannya. Ia pun kembali mengirim pesan.

"Aku benar-benar akan membunuhmu! Ada yang harus aku katakan!"
"Lupakan saja, berengsek."
"Semoga kau hidup bahagia, idiot."
"Cuih (meludah)!"
*Ini Soo Jin saking kesalnya karena Phil mengabaikannya. Akhirnya Soo Jin menutup ponselnya dengan bantal. KESALLL!


Saat sarapan, Ibu Phil mengatakan pada Ayah kalau anak Ayah tidak pulang kemarin.

"Apa katamu? Aku kan tidak punya putra."

"Kalau begitu kukoreksi, 'bocah yang dulu sempat jadi putramu'."

"Tidak baik menghilangkan selera makanku bahkan sebelum mencicipinya."

"Baiklah, mari kita makan dan mengunyahnya dengan baik."

"Ya, mari kita kunyah makanan ini dengan baik."


Jin Sook memeriksa kiriman buah-buahan untuk bahan jusnya, tapi strawberry-nya tidak ada padahal itu salah satu buah utama.

"Tolong bawakan lagi."

"Baiklah."

"Aku sudah merasa ada yang kurang. Aneh. Meski begitu, aku tetap merasa kehilangan sesuatu."


Seok Tae sedang buang air sambil belajar tapi tisu-nya habis.


Komputer Dal Soo tiba-tiba eror padahal ia lagi sibuk. Sementara itu, Jung Ae kehilangan handuk wajahnya.


Goo Gil masak ramen, tapi di dalam bungkus ramen yang ia beli gak ada bumbunya, cuma mie.


Mereka berlima berpikir ada yang hilang. Dan bersamaan menemukan jawabannya, "Tunggu, Bong Phil hilang!"


Bong Phil kembali ke masa SMA-nya, ia terkejut dan baru sadar apa yang barusan ia lakukan pada gurunya tadi.

"I--itu, Gu--Guru, sudah lama. Sa--saya senang bertemu Anda, tapi semestinya saya tidak berada di sini sekarang. Ini... ini tidak masuk akal."

"Kau benar. Bocah di tim pelari sekolah, juga tidak kuharapkan ada di kelas pagiku. Terutama kalau itu kau, anggota terburuk mereka."

"Ti--tidak. I--ini, jadi.. Ini mimpi, 'kan?"

"Apa kau belum bangun dari tidurmu, Phil? Bagaimana tadi kau menyebutku? Terburuk, paling dibenci, dan menjengkelkan : Gestapo? Aku selalu bertanya sebelum menghadiahi pukulan, bukan? Sebutkan masing-masing satu artikel pasti dan tidak pasti."

"Wa--waktu habis, Pak. Saya.. tidak peduli sama sekali soal artikel. Saya hanya ingin tahu bagaimana bisa saya berada di sini, juga kenapa kalian semua di tempat ini juga."

"Dengan bertingkah pura-pura tidak waras, kau sedang mencoba menghindari situasi ini, Phil?"

"Astaga, sungguh ini juga membuat saya gila, tapi sesuatu yang tidak saya ketahui 10 tahun lalu, bagaimana saya mengetahuinya saat ini? Dan kalau 10 tahun lalu Anda memukul saya, kena--kenapa sekarang hendak memukul saya lagi?"

Gestapo menyuruh semuanya menunduk termasuk Phil juga dan langsung memukuli bokong Phil berkali-kali.


Goo Gil membantu Phil mengoles salep ke memar Phil akibat pukulan tadi, sementara Dal Soo menyanyikan lagi. Phil meringis kesakitan.

"Ingatanku terpatri kuat layaknya onak duri. Meskipun menyakitkan, aku tak menyadari rasa sakitnya." Lagu Dal Soo.

Goo Gil: Wah, ini parah sekali. Tidak akan berhasil kalau begini.

Dal Soo: Kau itu atlet yang hanya dapat kelas di pagi hari. Kenapa selalu berakhir dipukul? Misterius sekali.


Seok Tae datang membawakan makan siang mereka semua. Dal Soo membukakan bekal Phil.

Phil: Hyeong, ini hanya lelucon, 'kan?

Dal Soo: Benar, lelucon bahwa kau masih hidup setelah ocehan gilamu.

Goo Gil: Hei, anak-anak di kota kita kan memang harus bernyali besar.


Phil bangun, berkata kalau ia tahu dimana mereka tapi ia tidak mengerti kenapa mereka ada di sana.

Dal Soo: Apa itu semacam pertanyaan jebakan?

Seok Tae: Dasar gila.

Phil: Hyeong, kita itu sudah lama lulus dari sini. Kenapa begini? Kau membuatku takut!


Mereka merasa Phil juga dipukul dikepala, lalu mereka ramai-raai memeriksa kepala Phil.


Phil merenung di atas pohon, ia memegang ponsel 2G nya yang sudah lama tidak ia pegang. Ia kembali ke tahun 2007, tepatnya 10 tahun yang lalu.

"Apa aku sudah gila? Pahaku sakit sekali begini, jadi tidak mungkin ini mimpi."


Jin Sook datang-datang malah menepuk pahanya yang sakit. Jin Sook heran dengan reaksi berlebihan Phil itu karena Phil sudah sering dipukul, apa Phil tidak latihan?

"Jin Sook-ah. Kau.. adalah murid paling pintar, jadi aku ingin bertanya padamu."

"Apa?"

"Apa kau percaya perpindahan waktu?"

"Maksudmu, seperti perjalanan waktu, begitu?"


Phil turun, "Bagaimana kalau aku mengatakan padamu kalau aku Phil dari masa depan?"

"Lalu, ke mana kau yang di masa kini? Katamu kau dari masa depan. Maka itu berarti seharusnya kau di sini dengan dirimu masa kini. Sebab itu, aku harus bertatap muka dengan kalian berdua."

"Benar."

"Astaga. Kalau hanya ada salah satu di antara kalian, itu berita buruk. Sedangkan kalau keduanya ada, maka ini adalah malapetaka bagi seisi bumi. Ya kan, Lelaki-Masa-Depan? Aigoo, waktu makan siang sudah habis. Berhentilah omong kosong dan lari sana! Pergi, latihan sana! Kumohon! Tanganmu! Masa depan, omong kosong!"

Batin Phil: Apa dia benar? Lalu, apa yang terjadi? Bagaimana ini bisa terjadi? Ah! Lalu, apa semua itu mimpi? Termasuk soal pernikahan Soo Jin, segala sesuatu 10 tahun ke depan, aku hanya memimpikannya, begitu?


Phil ke lapangan, tapi ia hanya mengawasiteman-temannya yang sedang bersiap latihan. "Aku sudah berhenti berlari sekian lama. Apa sebenarnya yang terjadi sekarang?"


Pelatih menghampiri Phil karena diam saja, tidak ikut bergabung dengan yang lain.

"Hei, Bocah, dengar aku baik-baik. Saat kau berlari, kau memiliki akselerasi yang sangat bagus. Namun masalahnya ada saat start. Terlalu lambat. Saat kau menegakkan badan, yang lain mungkin sudah lari jauh. Tidak bisa begitu."

Batin Phil: Benar, start-ku memang sangatlah terlambat. Aku selalu buruk dalam mengawali sesuatu.
"Hei, ayolah. Fokus, fokus! Sadarkan dirimu itu! Tatap mataku! Berapa kali sudah kukatakan padamu? Lomba lari itu soal momentum. Momen start dan finish-nya! Semuanya bergantung pada momentum tersebut. Oke?"


Soo Jin di dalam kelas sedang memotret dengan kemera digital. Memotret Seok Tae yang sedang tidur dan Jin Sook yang sedang belajar.

Jin Sook meminjam kamera itu, apa Soo Jin membelinya. Tidak, ia meminjam tapi ia boleh memilikinya.

"Mari kita ambil banyak foto saat konser." Ajak Soo Jin.

"Setuju! Tapi.. Siapa yang memberimu kamera ini secara cuma-cuma?"

"Ada, kau tidak mengenalnya."

"Apa, sih? Siapa? Oppa Gereja? Kau memutuskan berkencan dengan si Oppa Gereja?"

"Apa maksudmu?"


Latihan dimulai, tapi saat pelatih menembakkan pistol mainan, Phil bukannya lari sepanjang lintasan malah menghampiri pelatih.

"Coach-nim. Saya keluar dari tim."

Setelahnya Phil baru berlari.

"Si berengsek itu sedang bergurau denganku, ya?"


Soo Jin dan Jin Sook melihat hal itu dari kelas. Jin Sook mengakui kepopulerannya Phil, tapi tidak dengan Soo Jin. Soo Jin tidak mengerti kenapa Phil begitu populer padahal lari saja tidak becus.

"Sejujurnya, selain kau, semua orang menyukai dia. Phil menyukaimu. Dia selalu saja menggodamu sejak SD." kata Soo Jin.

"Apa maksudmu menyukaiku? Dia tidak pernah sekalipun mengatakan menyukaiku."


Jin Sook: Perlu ya dikatakan? Jika dia mengganggumu seperti ini, jelas mereka menyukaimu. Sulit jujur pada seorang teman akan perasaan seperti itu. Sebab, beresiko besar kehilangan teman tersebut.


"Apa? Kau... menyukai Phil, ya? Sorot mata apa itu? Astaga.."

"Hei, aku tidak menyukai maupun membenci dia. Dia temanku. Bagiku, dia itu.. seperti meja ini. Bukan soal suka atau tidak suka. Namun tentang nyaman atau tidak."


Soo Jin: Nyaman atau tidak. Kalau begitu, Phil, bagiku adalah meja yang sangatlah tidak nyaman.


Phil istirahat dengan para Hyeong. Goo Gil tak menasehati, pelari seperti Phil itu tidak boleh memiliki start yang buruk. Dal Soo mengingatkan, satu-satunya yang Phil miliki hanya kecepatan. Phil tidak berbakat. Tidak berbakat.

Goo Gil: Sepertiku, pura-pura bodoh saja sekalian. Dengan begitu, kau tidak perlu berlari di bawah terik matahari.

Dal Soo: Benar, bahkan lomba lari 100 meter ada batasannya. Harus ditempuh dalam waktu kurang dari sembilan detik. Dan mustahil bagimu bisa melakukannya.

Goo Gil: Hoooo....

Dal Soo: Hei, coba kau pikirkan, Phil selalu saja mencoba hal-hal yang mustahil, 'kan? Saat dia mencoba menyantap lima ekor ayam utuh, dia berakhir masuk IGD.

Goo Gil: Hei, jangan coba melakukannya lagi. Tapi, dia itu benar-benar kompetitif. Medali emas (untuk sisi kompetitifnya).


Phil bertanya pada mereka, "Apa mungkin kalian pernah melihatku di tempat lain? Bukan aku yang ini, tapi aku yang lain. Diriku yang lain."

Phil melanjutkan saat keduanya menatapnya, "Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak sedang berbohong. Aku ini.. sebenarnya dari masa depan."

Keduanya sama sekali tidak percaya, Phil berbohong.


Phil maju karena mereka berdua membelakanginya, "Hyeong. Soal ini aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku yang berdiri di sini sekarang bukan diriku masa kini. Namun diriku 10 tahun mendatang. Tidak berarti aku ini bukan Phil. Aku benar Phil."

Phil lalu menatap ke lapangan, "Saat itu, aku sedang lari kencang dan kemudian berada di tubuh masa laluku. Sudah sepuluh tahun berlalu, tapi aku masih memilikinya. Kecepatan! Tidak, aku masih saja lambat. Tapi.."

Phil berbalik, tapai para Hyeong sudah tidak ada disana, Phil kesal, "Tolong dengarkan aku! Aku serius!"


Phil mengingat apa yang terjadi semalam, "Tadi malam, aku.. sedang mengantar Soo Jin pulang ke rumah. Aku bisa gila."


Bel masuk berbunyi dan Phil tiba-tiba merasa sakit kepala.


Phil melihat Soo Jin akan segera kejatuhan sesuatu.


Phil langsung berlari menemui Soo Jin.

Saat ini, Soo Jin sedang membawa net dan tak sengaja net itu menyangkut di tiang cermin. Soo Jin menariknya tapi cermin itu malah roboh.

Soo Jin ketakutan, takut cermin itu roboh di tubuhnya.


Phil kesana tapi ia terlambat, cerminnya sudah roboh ke lantai, namun beruntung, Soo Jin tidak kerobohan.


Soo Jin tetapketakutan, "Phil-ah, aku harus bagaimana?"

"Diam di situ, jangan bergerak."

"Tapi, aku hanya sedang--"

"Ya, ya. Aku mengerti, jangan bergerak."

"Lalu ini ambruk."

"Jangan bergerak. Tetap di situ."

"Aku tidak melakukannya."

"Tak apa. Aku mengerti. Tak apa, semuanya akan baik-baik saja. Ini berbahaya, jadi bangunlah. Tak apa-apa. Ayo, hati-hati."


Teriakan Pak Guru mendekat. Soo Jin semakin gugup, ia takut dihukum.

"Aku ingat. Hari di mana Soo Jin yang memiliki "Tangan Penghancur", merubuhkan cermin sekolah. Aku... apa yang dulu kulakukan? "Kau, masuklah. Semuanya akan baik-baik saja"."

Phil menyuruh Soo Jin masuk, semuanya akan baik-baik saja.


Soo Jin sebenarnya tidak ingin pergi begitu saja tapi Phil mendorongnya pergi. Pak Guru datang dan hanya melihat Phil disana.

"Phil-ah. Ada apa lagi ini?"

"Saya... merubuhkannya."

"Kenapa?"

"I--itu... Sa--saya... Ah! Saya memiliki waktu start yang buruk. Saya kira, ini karena pistol ini, jadi saya menendang lalu melemparnya begini."

Pak guru super kesal, lalu menjewer Phil untuk ikut dengannya.


Soo Jin masih gugup, apalahi melihat Phil dihukum lagi karena dirinya.


Pak Guru membawa Phil ke pelatih sambil terus menjewer Phil.

Pak Guru: Atlet lari sekalipun masih tetap seorang murid. Aku, sebagai dekan sekolah tidak akan tinggal diam. Terakhir kali, dia lari di koridor dan menubruk Kepala Sekolah. Sampai beliau dirawat di rumah sakit 3 minggu.

Pelatih juga menjewer Phil, "Dia ingin berlari, lalu aku bisa apa? Itu sebabnya dia jadi atlet lari!"

"Hahaha.. Tetap saja, dia tidak bisa lari menubruk sana sini seperti banteng!!!"

"Dia itu masih bocah. Bocah! Aigoo, Phil kita ini hanya bocah lelaki yang manis. Kau juga tahu bagaimana anak seusianya penuh dengan energi! Apa mungkin kau tidak mengetahuinya?"

"Begitukah? Kalau begitu, dia pasti tidak kesakitan meski dibeginikan."

Phil berteriak, sakittt. Pelatih menyuruh Phil berlari, Phil memotongnya, 50 putaran, kan?

"Berandal ini bisa membaca pikiran orang?"

Lalu Pak Guru menyuruhnya berlari 100 putaran.

Batin Phil: Sial, dulu hanya 50 putaran. Sialan. Keadaan bisa berubah?

"Mulai!!!"

"Baik. Saya lari!"


Saat pelajaran, Soo Jin tidak mendengarkan Ibu Guru, ia menegok ke luar, ke arah Phil yang sedang berlari di lapangan.


Tak berapa lama kemudian, bel pulang berbunyi dan Soo Jin langsung ke lapangan untuk memotret Phil. Tapi saat Phil mendekat, ia memutar badan memunggungi Phil. Soo Jin hanya memotret saat Phil jauh darinya.

"Pasti sangat panas. Tapi melihatnya seperti ini. dia kelihatan agak keren. Hanya sedikit."


Phil berlari sambil memikirkan apa yang terjadi, "Semalam, aku mengantar Soo Jin pulang ke rumah. Soo Jin kemudian memberiku undangan pernikahan. Lalu, aku berpikir untuk menyatakan perasaanku. Namun, mendadak aku harus buang air kecil. Aku berdiri di samping lampu jalan di depan sebuah terowongan--"

Phil berhenti karena kecapean. Ia menemukan jawabannya, "Oh, benar. Ma--manhole (lubang buatan manusia)! Ma--manhole itu! Manhole! Benar, manhole itu penyebabnya!"


Phil langsung berlari menuju manhole itu. Phil melewati Jin Sook tapi ia tidak peduli.

"Oh, hei, Phil-ah! Phil!" Teriak Jin Sook, "Ah.. Kenapa dia buru-buru begitu? Padahal akhirnya aku mendapatkan informasi yang dia inginkan."


Ia memanggil-manggil Manhole itu, "Hei, hei!!! Manhole-ah! Tarik aku masuk lagi!!!"

Phil mencoba membuka tutup Manhole itu tapi tidak bisa. Ia menginjak-injaknya kesal. Sampai ia mohon-mohon agar ditarik kembali, ia sungguh tidak ingin menjadi murid SMA lagi!

"Aku benci padamu, dasar Manhole berengsek! Jangan bilang aku harus menjalani kehidupan yang sama kedua kali? Kehidupan yang bahkan tidak dapat kumulai?"

BTW, semua orang yang lewat memandang Phil aneh.


Soo Jin mencetak foto yang tadi diambilnya tapi kebanyakan hanya fotonya Seok Tae yang sedang tidur di kelas, ia sebal, tapi akhirnya ada juga foto Phil.


Soo Jin senang, ia membalik foto itu, hendak menulis di belakang foto itu tapi bingung apa yang mau ia tulis. Seok Tae masuk, tapi Soo Jin tidak sadar karena ia sibuk menulis.

Soo Jin menulis, "20 Juni 2007. Hari di mana dia lari 100 putaran di lapangan."


Soo Jin lalu memasukkan foto itu di amplop dan saat itu Seok Tae mendekatinya dan mengagetkannya.

"Kau membuatku kaget! Hei, bagus bertemu kau. Ini, foto-fotomu."


Seok Tae menerima foto-foto itu. Tapi ia kesal karena disemua foto, ia sedang tidur.


Soo Jin keluar duluan, ia memasukkan amplop foto Phil tadi ke dalam kotak pos. Sebelumnya ia berdoa, "Kumohon sampailah dengan aman."


Seok Tae mendadak memaksa Soo Jin untuk membawakan tasnya, padahal Soo Jin bilang kalau ia baik-baik saja, tasnya tidak berak kok.


Phil kembali, ia terus berpikir bagaimana caranya ia pulang. Sampai ia melihat Seok Tae dan Soo Jin jalan bersama.

"Hah! Apa dia selalu mendekati Soo Jin begitu?"


Phil mendekati mereka, ia memanggil Soo Jin. Seok Tae gugup, ia segera menjelaskan kalau semua ini salah paham, ia membawakan tas Soo Jin karena Soo Jin bilang lengannya sakit.

"Kapan aku bilang begitu?"

"Oh? Apa kakimu, ya? Tolong selamatkan aku."

"Bagaimana caranya?"

Phil meminta tas Soo Jin dari Seok Tae dan menyuruh Seok Tae ke tempat bilyard Goo Gil Hyeong.

"A--aku tidak bisa. Aku harus belajar."

"10 tahun mendatang pun kau masih tetap belajar, jadi jangan membantah dan pergi saja ke sana!"

Seok Tae takut, jadi ia menurut saja.


Phil akhirnya berdua saja dengan Soo Jin. Soo Jin meminta tasnya kembali karena Phil hanya akan membuantnya merasa tidak nyaman.

"Hei! Hei, dengan Seok Tae tidak masalah, tapi denganku tidak nyaman?"

"Aku merasa tidak nyaman karena kau orangnya. Kau selalu menjadi meja yang tidak nyaman sejak dulu.

Batin Phil: Jauh lebih baik kalau aku benar-benar jadi mejamu saja. Karena saat kau tidak sengaja ketiduran di atasnya aku--
Phil sadar, Soo Jin harus pergi dengannya dan ia memaksa Soo Jin.


Phil membawa Soo Jin ke Manhole itu, Soo Jin kesal dan akan pulang tapi Phil menghalanginya.

"Hei, Soo Jin-ah. Kau.. Soo Jin masa kini, atau Soo Jin masa depan?"

"Kau bicara apa, sih?"


"Baiklah, coba pikirkan. Kemarin pukul 12 malam, kau menunggu aku di sana. Saat itu, aku harus buang air kecil, lalu jatuh ke manhole ini. Saat itu, apa kau ke sini juga?"

"Phil-ah, atas yang kau lakukan hari ini, aku berterima kasih sekaligus minta maaf."

"Hei, demi aku, aku sanggup lari 100 atau bahkan 1000 putaran! Jadi lupakan itu, dan cobalah mengingat. Semalam, aku mengantarmu pulang. Tadi malam. Kau ingat, 'kan? Kau pasti ingat, karena kau memberikan sesuatu padaku. Kau ingat, 'kan?"

"Apa gara-gara lari seratus putaran kau jadi tidak waras? Bicara apa sih kau? Semalam aku tidur lebih awal setelah menonton drama! Bagaimana mungkin aku menemuimu di sini pukul 12 malam? Apa kau sedang mengigau? Hei, sadarkan dirimu! Kau pasti mati kalau jatuh ke dalam sini! Mati sana. Mati! Sialan! Kalau kau sampai jatuh ke situ lalu mati, kubunuh kau!"

Soo Jin meninggalkan Phil kesal. Phil yakin, Soo Jin sungguh Soo Jin masa kini. Dia tidak mengingat apa pun. Sial. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


Phil menyusul Soo Jin mengajaknya jalan bersama.

"Aku tahu kau selalu gila, tapi hari ini kau tampak lebih sinting lagi." Kata Soo Jin.

"Aku.. Mungkin itu karena aku ingin bunuh diri rasanya karena harus wajib militer sekali lagi. Baiklah. Ingat tempat ini. Saat kau berumur 20, atau 21, kau belajar mengendarai motor matic, dan berakhir patah lengan. Keseimbangan tubuhmu buruk, jadi jangan mencobanya."

Lalu Phil menunjuk satu tempat. Saat Phil wajib militer, ia libur dan ingin menemui Soo Jin, jadi ia tidur di sana. Saat itu gara-gara para senior membuatnya banyak minum, ia tidak sengaja mengganggu Soo Jin, jadi Soo Jin jangan pernah salah paham.

"Sedang bicara apa sebenarnya kau ini? Kenapa sih kau? Dia pasti habis kena serangan jantung."

"Astaga, baiklah. Mustahil juga kau memahaminya."


Phil menunjuk seorang apoteker, meminta Soo Jin hati-hati dengan apoteker karena Soo Jin akan dibawa olehnya ke ruang-hiburan-serba-guna. Lalu dia akan melakukan sesuatu.

"Apa katamu? Dia kenapa, sih?"


Phil dan Soo Jin berpapasan dengan Jin Sook di depan sebuah toko.

Jin Sook: Aku memanggilmu, tapi kau mengabaikan aku. Apa kau berlari menemui Soo Jin?

Phil: Orang tuamu kan punya toko juga di gang sebelah, kenapa kau ke toko orang lain begitu?

Jin Sook: Orang tuaku tidak menjual pembalut.

Soo Jin: Hei, jaga ucapanmu.

Jin Sook: Tak apa, aku dan dia tidak saling menyimpan rahasia.

Phil: Makanya, ini saatnya kita memutus hubungan satu sama lain.

Jin Sook: Tapi, hari ini kau harus bertemu denganku.


Jin Sook membisiki Phil, meninggalkan Soo Jin dibelakang.

"Ini bukan saatnya kau berlaku begitu padaku." Kata Jin Sook.

"Memang kenapa?"

"Sial. Soo Jin sedang dekat dengan Oppa Gereja. Tapi, Oppa Gereja itu mata keranjang dan setiap gadis cantik di lima sekolah berbeda area sini sudah diciumnya. Sudah kukatakan padamu kemarin, berengsek!"

"Dan, sekarang adalah harinya?"


Soo Jin memisah mereka dengan menarik tasnya dari Phil, ia cemburu kayaknya, "Kuharap kalian berdua hidup bahagia bersama selamanya. Aku pergi."


Phil akan menyusul Soo Jin tapi Jin Sook menahannya.

"Hei, aku belum memberitahumu di mana tempatnya."

"Ciuman. Ciuman itu bukan apa-apa. Kemarin, dia bersama apoteker itu, pergi ke tempat-hiburan-serba guna. Sebentar. Kenapa juga aku memberitahu dia? Tak tahulah. Aku pergi."


"Hei, hei, astaga. Dia akan mencium Oppa Gereja itu! Siapa lagi apoteker yang kau maksud? Ruang-hiburan-serba-guna apa? Dia yang memintaku menceritakan segala sesuatu tentang Soo Jin."


Phil ribut di jalan, ia nonjok-nonjok udara. "Lalu, harus bagaimana aku dengan apoteker itu? Apoteker itu!"

Sampai akhirnya ia terpeleset karena terkejut oleh Jung Ae. Jung Ae dengan dandanan noraknnya juga heran, kenapa dengn Bong Phil?

"Kau pun tidak akan memahami aku. Tapi kenapa kau bersembunyi di sini?"

"Aku tidak punya pilihan. Ada orang gila yang lari-lari seperti ini (membicarakan Bong Phil)."

"Riasan wajahmu itu persis seperti hantu! Apa kau selalu memakai riasan wajah seperti ini?"

"Selalu? Kapan? Baru juga dua bulan."

"Tidak peduli apa pun yang kau lakukan dengan wajahmu, suamimu tidak akan berubah."

Phil geloyor sambil menggerutu, "Aku tidak menyangka harus bertemu mereka lagi."


Jung Ae memanggilnya, Jung Ae ingin minta tolong padanya. Jung Ae melakukan Aegyo tapi Bong Phil malah sakit kepala lagi, "Apa ini? Astaga, aku dapat deja vu lain."


Jung Ae meminta Phil untuk mengajak para pria makan bersama. Jung Ae yang traktir dan itu membuat Dal Soo merasa aneh.

"Aku tadi tidak bilang akan mentraktir semuanya. Hanya Oppa (Dal Soo) saja yang hendak kutraktir."

"Oppa yang mana?" tanya Goo Gil.

Jung Ae melirik Phil tidak suka. Phil tak mau disalahkan karena dulu mereka juga pergi bersama. Jung Ae kesal, ia jelas hanya minta Dal Soo Oppa tadi.

Merasa tidak diundang, Goo Gil mengajak yang lain pergi. Seok Tae memintnaya duduk saja dan makan, toh mereka sudah terlanjur disana.

Goo Gil: Hei, kita ini bukan pengemis.

Dal Soo: Bukan pengemis, tapi sedang lapar lebih dari mereka.

Seok Tae: Bagianmu akan kumakan kalau kau pergi.

Goo Gil: Aku hanya akan duduk saja.


Dal Soo meminta Jung Ae mengatakan apa yang ingin Jung Ae katakan karena ia harus lekas kembali dan main bilyard.

"Itu, aku..."

Batin Phil: Langsung katakan saja! Aigoo. Tidak ada yang berubah.

Jung Ae mengulurkan surat ke meja tapi Goo Hil malah mengambilnya. Phil kesal, ia membatu Jung Ae merebut surat itu dari Goo Gil.

Jung Ae pun akhirnya bisa memberikan surat itu pada Dal Soo.

"Jangan menunjukkannya pada yang lain." kata Jung Ae dan buru-buru pergi.


Phil memperingatkan kalau lantainya basah, tapi ia terlambat. Jung Ae sudah terpelest, jatuh. Kesialan Jung Ae tidak sampai disitu, wajahnya juga menabrak pintu karena ia terlalu gugup dan malu, akibat jatuh tadi.

Tapi Jung Ae tetap tersenyum karena ia bisa memberikan surat itu pada Dal Soo.


Surat itu berakhir bersama sampah bungkus burger. Goo Gil iri karena Dal Soo bisa mendapat suratcinta.

Dal Soo: Hei, aku tahu kau menyukai Jung Ae. Kenapa juga aku harus meresponnya?

Goo Gil: Hei, kalau begitu, sobek saja sekarang juga.


Dal Soo siap menyobeknya tapi Phil gemas melihat mereka berdua. "Berhentilah kekanakan! Hentikan, tolonglah!"

Goo Gil: Cintaku kekanakan menurutmu?

Phil: Cinta memang kekanakan. Hyeong, jangan buang waktu dan lupakan Jung Ae. Aku akan memberikan ini (burgernya) padamu, jadi kumohon. Lupakan saja dia.

Goo Gil: Cinta itu adalah perjuangan. Aku tidak akan pernah menyerah terhadapnya.

Goo Gil membuang burger Phil dan Seok Tae mengambilnya. Phil mendesah, ia mengajak semua minum soju saja. Ia tidak tahan lagi. Ia butuh minum!


Phil benar-benar mabuk, tapi ia tidak sadar kalau sekarang ia masih SMA. Sementara itu, yang lain hanya memandanginya dari jauh.

Dal Soo: Dia jadi tidak terkendali dalam semalam.

Goo Gil: Hei, kelihatannya terjadi sesuatu. Dia bicara omong kosong terus. Aku akan dapat masalah kalau ayahku sampai datang.

Dal Soo: Apakah terjadi sesuatu.

Seok Tae: Sebenarnya, aku tertangkap olehnya membawakan tas Soo Jin.

Dal Soo: Kau benar-benar mencari masalah.

Goo Gil: Seok Tae-ah. Kau minta dihajar, ya?

Seok Tae: Ah, Hyeong (Dal Soo), tolong bantu aku.

Dal Soo: Tak apa, semua akan baik saja.


Beberapa pelanggan datang, mereka memakai baju tentara. Mereka membicarakan Phil yang berani minum padahal masih SMA. Phil mendengarnya dan ia berteriak marah.

"Aku... sebentar lagi berusia 30 tahun! Kenapa aku tidak boleh minum?"

Mereka mengabaikannya dan Phil tidak terima, Phil akan menyerang.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon