Thursday, August 17, 2017

Sinopsis Manhole Episode 3 Part 1

Tags

Sinopsis Manhole Episode 3 Part 1

Sumber Gambar: KBS2


Bong Phil kembali ke masa depan dan ia terkejut bukan main saat penampilannya berubah menjadi seorang preman.

"Siapa ini? Jangan bilang.. ini.. ini.. Aku? Kenapa aki berantakan sekali? Dan apa yang terjadi pada lingkungan ini?"

Dan tiba-tiba ada dua orang yang memberi salam padanya Bong Phil, padahal Bong Phil sama sekali tidak mengenal mereka.


Bong Phil akhirnya menemukan ponselnya dan melihat bahwa hari ini adalah tahun 2017. Bong Phil mengerti, ia sudah kembali ke masa depan, tapi dirinya yang sekarang bukan dirinya yang ia ingat kemarin.

 
-=Episode 3=-
Masa Lalu Menciptakan Masa Kini


Bong Phil mengingat apa yang terjadi kemarin, dimana ia masuk ke lubang itu dan kembali juga dari lubang itu.

"Ah.. Baru saja kejadian, tapi 10 tahun sudah terlewati?"

Bong Phil melihat tato di tangannya, ia mencoba menghapusnya dengan ludah *err, tapi tidak bisa, tatonya nyata.


Bong Phil melihat ayah Ibunya melewatinya begitu saja. Bong Phil lalu menghentikan mereka. Ayah Ibu malah tidak senang Phil menyapanya karena mereka sudah sepakat untuk melupakan hubungan keluarga.

Ayah dan Ibu menjelaskan kalau ia sudah mengubur putra yang mereka yang imut di hati paling dalam, putra 7 tahun mereka.

"Jadi berhenti mengatakan kami ini keluargamu, bahkan jika kau ditangkap polisi. Aku sudah terlalu sering kesana sampai malu." Kesal Ibu.

"Omo.. kita sudah memutuskan untuk melupakan semuanya. Kau sangat emosional." Tegur Ayah.

Ibu minta maaf, cat kuku jarinya agak berantakan, jadi bawaannya kesal saja. Ayah menjelaskan pada Bong Phil kalau mereka akan segera pindah dan melarang Bong Phil mencari mereka.


Bong Phil berkeliling dan lingkungannya yang dulu bersih berubah menjadi semrawut. Sampah dimana-mana dan banyak pencuri.


Sampai ia menemukan toko rental DVD Dal Soo. Bong Phil masuk ke dana dan tokonya jadi suram banget dan penuh debu. Penampilan Dal Soo pun berubah 180 derajat. Dal Soo jadi gondrong dan kayaknya kecanduan alkohol.

"Si--siapa kau?" Tanya Bong Phil dan saat ia mendekat baru ia tahu kalau itu Dal Soo.

"Bong Phil."

"Dal Soo Hyeong. Ah.. Dal... Oh? Hyeong, bagaimana kau bisa sampai seperti ini?"

"Di mana dan kapan segalanya mulai menjadi salah pun aku tidak tahu. Kalau aku tahu, pasti sudah coba aku ubah. Aku tak akan hidup begini. Ada apa kau ke sini?"


Phil merasa sedikit aneh. Dalam perjalanan kemari ia terlibat perkelahian, lalu tanpa sadar ia secara otomatis menangkis semua pukulan. Dan ia juga terkejut saat melihat polisi. Lalu, ayah dan ibunya pun mengatakan hal yang aneh. Mereka bahkan tidak memperlakukannya selayaknya manusia.

"Kenapa kau menanyakannya padaku setelah pergi selama tiga tahun?"

"Tiga tahun? Sebentar, Hyeong. Aku kembali setelah tiga tahun?"

"Benar."

"Lalu, di mana aku tinggal sekarang?"

"Kau tinggal di mana aku juga tidak tahu. Oh, kau tinggal di sekitar "distrik merah", itu yang Seok Tae katakan padaku."

Phil tetap tidak mengerti, kenapa ia seperti itu? Dal Soo memegang kedua pundak Phil dan menatap mata Phi, apa Phil sekarang menyesali hidupnya yang dipenuhi dengan darah, pukulan, dan teriakan?

"Apa yang sedang kau bicarakan? Jelaskan agar aku mengerti."

"Okay. Ready? Action."

Dan lampu menyala..

 
"Setelah perkelahian di gereja, kau dikeluarkan dari sekolah, dan ditendang dari tim lari. Setelah itu, kau menjadi sangat brutal. Kau punya banyak waktu luang, jadi kau mulai berkelahi dengan geng sekitar. Kau tampak seperti seorang monster yang haus darah."

"Lalu, beberapa orang mulai merasa tersudut karenamu, jadi untuk "menyambut" wajah baru yang menjadi musuh mereka, beberapa anggota geng menyiapkan pesta (Pesta dalam geng preman berarti duel). Namun satu-satunya yang menikmati pesta itu hanya kau. Segala sesuatunya sangat bagus untukmu saat itu."

"Kau menjadi pusat semua kekacauan, juga buronan paling dicari oleh Kepolisian. Kau menjadi musuh semua orang. Public Enemy (musuh publik)."


Phil tidak percaya, "Sungguh... sungguh aku ini mantan narapidana? Ini benar-benar gila. Jadi? Aku... sungguh jadi berandalan?"

"Setelah pertarungan berdarah itu, kau sungguh menjadi berandalan. Kenapa tiba-tiba kau menanyakannya? Kau menolak dirimu sendiri. Itu penolakan. Tak apa, lanjutkan saja. Teruskan, tolak dirimu sendiri."


Selanjutnya, Phil menanyakan bagaimana dengan Soo Jin dan Dal Soo mengatakan kalau Soo Jin akan menikah minggu depan. Namun Dal Soo heran kenapa Phil menanyakannya?

"Karena aku menyukai Soo Jin. Kau kan tahu."

"Kau? Kenapa?"

"Apa maksudmu kenapa?"

"Kau dan Soo Jin tidak pernah bersama lagi sejak SMA, lalu kenapa?"


Phil menyesal, segalanya berubah karena ia menghajar Oppa Gereja itu, masa depan berubah.


Phil mencari Seok Tae di ruang belajar tapi ia malah bertemu dengan si Oppa Gereja itu. Oppa Gereja itu menjadi sangat alim dan masih taat beribadah, ia mengatakan kalau Seok Tae barusan keluar tadi.

"Hei, apa yang sedang kau lakukan di sini?"

"Belajar, kenapa?"

"Kenapa kau belajar? Tidak sepertimu biasanya."

"Ah, aku harus belajar agar bisa menjadi manusia seutuhnya."


Phil sadar, Oppa Gereja belajar di meja yang biasa ia gunakan dulu. Oppa Gereja menjawab, sudah tidak mudah menjadi polisi.

"Kau mau jadi polisi? Kau tidak lebih dari preman."

"Dulu memang begitu, sebelum aku bertemu denganmu 10 tahun lalu. Malam itu, aku mendapat pelajaran berharga. Aku terselamatkan, bisa dibilang begitu."

Batin Bong Phil: Hidupku dan bajingan ini tertukar. Aih, sialan benar. Astaga.


Ayah dan Ibu Soo Jin mengeluhkan bisnis mereka yang semakin sepi sambil makan siang. Lalu Soo Jin datang dan langsung berbaring di sofa. Ibu bertanya, apa Soo Jin sudah menemukan perabot yang sekiranya Soo Jin suka?

"Tidak, terlihat sama saja. Satu-satunya yang kuinginkan terlalu mahal, sedangkan yang sesuai dana kurang bagus." Jawab Soo Jin.

"Maka dari itu, kenapa mertuamu membelikan apartemen yang sangat besar untuk kalian? Memenuhi perabot di dalamnya saja butuh banyak uang." Balas Ibu.

"Ukuran apartemennya bagus. Biarkan saja banyak ruang kosong. Tidak perlu penuh perabot." Bantah Ayah.

Ibu: Aigoo, mudah mengatakannya. Mertuanya bisa-bisa memandang rendah Soo Jin, mau? Kenapa juga kau harus memulai bisnis aneh dan kehilangan semua uangmu?


Soo Jin keluar lagi dan pergi ke apotek tunangannya. Jae Hyun memperlakukannya seperti pelanggan biasa, bertanya apa yang bisa dibantu dll. Lama-lama mereka melakukan skinship.


Apoteker Senior gerah melihat mereka dan membentak mereka untuk berhenti.

"Hei, kalian sedang bergurau, ya? Keluar sana! Apa? Apa? Apoteker berusia 40 tahun juga manusia! Kalian membuatku merinding. Keluar sana!"


Dal Soo mengatakan pada yang lain kalau Phil kembali dan semuanya jelas kaget, apa? kenapa? Dal Soo kemana-mana membawa soju dan kali ini Jin Sook menggantinya dengan jus.

Goo Gil: Wah, aku tidak dengar kabar darinya cukup lama, jadi aku kira dia dipenjara.

Seok Tae: Tapi, apa saja kerja polisi? Lingkungan kita kacau sekali.

Jin Sook: Hei, jangan bilang begitu! Bagaimanapun, dia dulu sahabat kita. Phil itu, bagaimanapun juga, bukan orang jahat.

Dal Soo: Omong-omong Phil agak aneh. Dia bilang, "Kenapa hidupku menjadi seperti ini?" Dia juga bilang jatuh cinta pada Soo Jin.

Jung Ae: Kenapa Soo Jin? Apa dia sudah gila? Soo Jin akan segera menikah.


Seok Tae mengakui, dulu Phil memang menyukai Soo Jin. Gara-gara ia mengatakan menyukai Soo Jin, Phil sempat memukulinya di taman bermain.

"Kalian juga lihat sendiri bagaimana dia memukuli bocah itu 10 tahun lalu, 'kan? Padahal Hyeong Gereja itu orang baik. Bagaimanpun, sudah kuduga dia akhirnya jadi preman. Dia perlu dipenjara erapa kali lagi. Dia sudah tidak bisa diperbaiki."


Seok Tae tidak sadar kalau Phil ada di belakangnya. Seok Tae lalu cepat-cepat berdalih saat Phil memegang pundaknya.

"Ah... ah... maksudku... Aku bicara tentang temanku Young Phil, yang itu. Bong Phil kita adalah orang yang sangat baik."


Phil akhirnya ikut bergabung dengan mereka. Dal Soo ingin sojunya lagi dan Jin Sook segera menjauhkannya, ia benar-benar kecanduan alkohol sampai tangannya terus gemetar gitu.


Phil bertanya, ngapain mereka disana, dan kenapa toko Goo Gil tutup? Goo Gil sedih, ia berpikir untuk menutupnya, lalu berbisnis yang lain.

"Karena itu pemberian ayahmu, kau bilang akan mempertahankannya sampai mati." Kata Bong Phil.

Jung Ae melarang Phil ikut campur urusan mereka. Goo Gil lalu cepat-cepat menenangkan Jung Ae dengan memanggilnya sayang. Phil heran mendengarnya dan menuntut penjelasan.

"Bisnis kami, kenapa?" Tanya Phil.

"Bisnis Goo Gil Oppa dan aku. Kenapa?" Bentak Jung Ae.

"Sayang, hentikan. Kumohon." Pinta Goo Gil.

"Kalian... jangan-jangan... Hei, kau tinggal bersama Goo Gil... Kalian rekan bisnis?"

"Benar, kenapa?"


Phil kembali heran, lalu Dal Soo bagaimana? Jung Ae kan juga menjalankan bisnis bersama Dal Soo?

"Apa yang kau bicarakan sekarang?! Dal Soo Oppa dan aku? Apa maksudmu? Apa kau sudah gila?"

Batin Phil: Apa ini? Jung Ae seharusnya tinggal bersama Dal Soo Hyeong. Ah.. Ini rupanya penyebab dia kacau.

Dal Soo menjelaskan, Jung Ae dulu pernah menyukainya, bahkan memberinya surat cinta. Jung Ae dan Goo Gil  menegaskan bahwa semua itu masa lalu.


Jin Sook menyela mereka, ia ingat apa yang Phil katakan 10 tahun lalu, "Saat itu kau, tiba-tiba mengatakan sesuatu yang aneh. 10 tahun lalu."


Phil lalu ikut ke rumah Jin Sook dan menjelaskan semuanya, itu bukan 10 tahun yang lalu tapi baru kemarin.

"Jadi maksudmu, kau melakukan perjalanan waktu lewat manhole?"

"Entah bagaimana caraku menjelaskannya. Hei, ini bukanlah kehidupanku yang sebenarnya. Kau tahu benar, bahwa aku tak akan punya nyali jadi preman begini."

"Jadi maksudmu, karena kau melintasi waktu, lalu menghajar Oppa Gereja itu, maka hidupmu saat ini kacau balau?"

"Benar, seperti itu. Hei, aku mengerti kau tidak akan memercayaiku. Aku bahkan tidak memercayai diri sendiri."


Phil mendengar suara sirine mobil polisi dan ia refleks bersembunyi. Phil lalu bertanya, apa yang terjadi pada lingkungan mereka ini?

"Hei. Itu gara-gara bar dan motel di sana. Katamu kau juga tinggal di sana."

"Aku bahkan tidak tahu di mana aku sekarang tinggal. Dan juga, aku ini baru kembali dari masa 10 tahun lalu."

"Hei, Phi-ah. Apa mungkin kau... narkoba?"

"Astaga, benar-benar. Auh... Bagaimana caraku hidup kalau seperti ini? Astaga, aku bisa gila."

"Dia serius. Tidak kelihatan sedang berbohong. Apa? Soo Jin melalui waktu yang sulit gara-gara kau."

"Kenapa?"

"Kenapa lagi, gara-gara perkelahian itu, kau dikeluarkan dari sekolah, bahkan dari tim lari juga. Dia berpikir telah menghancurkanmu. Dia menangis untukmu, tahu."

"Hei. Sungguh Soo Jin melalui waktu yang berat karena aku?"

"Benar."

"Hei. Terima kasih."


Soo Jin melihat hasil fotonya dan ia tidak puas, itu bukan foto untuk koleksi tapi untuk selebaran. Mendadak Phil datang ke galerinya dan itu membuatnya terkejut.

"Oh.. Ohil.. Phil-ah."

"Lama tidak jumpa."

"A--apa yang membawamu ke sini?"


Phil melihat isi galeri Soo Jin dan ia berkomentar bahwa semuanya masih sama, masih kacau saja.

"Di... di sini? Tapi kau belum pernah ke sini." Kata Soo Jin.

"Tak apa. Menjelaskan hanya membuatku tampak idiot."

"Oh, bagaimanapun, sudah lama, ya? Apa selama ini kau baik-baik saja?"


Batin Phil: Bahkan bahuku masih sakit gara-gara pukulanmu kemarin. Sudah lama apanya!?
Phil hati-hati bertanya, selama 10 tahun terakhir, apa mereka tidak pernah sekalipun terlibat satu sama lain? Soo Jin tak mengerti apa maksud Phil itu.

"Kudengar gara-gara aku berubah jadi begini, kau mengalami waktu yang sulit."

"Oh, itu? Ya, sepertinya begitu."

"Kenapa?"

"Kau... gara-gara aku menjadi seperti ini. Padahal kau seharusnya menjadi atlet hebat. Tapi hidupmu berantakan gara-gara perkelahian itu. Kau berkelahi dengannya karena aku."

"Lalu, kenapa kau tidak menjagaku dengan baik, sehingga hidupku tidak berantakan?"

"Benar. Seandainya begitu, aku mungkin bisa membantumu hidup lebih baik."


Soo Jin mengingatkan, saat SMA dulu ia merobohkan cermin besar di sekolah. Dan saat itu, Phil bertanggungjawab untuknya. Itu saat pertama kalinya Phil tampak sangat keren. Tapi kemudian Soo Jin menyesal telah membicarakan itu.

Phil membelakangi Soo Jin, "Perkelahian itu maupun karir atletku, tidak saling berhubungan. Bagaimanapun, saat itu aku sudah ingin berhenti. Aku sungguh buruk dalam mengawali start, sehingga tak ada gunanya sekalipun lariku kencang. Sebab itu, kau tidak perlu merasa tak enak ataupun bersalah. Aku hanya tidak kompeten. Aku datang untuk mengatakannya."


Phil akan pergi dan ia tersandung oleh kipas angin yang dirusakkan Soo Jin kemarin. Phil bertanya, apa Soo Jin punya lakban?

Phil memperbaikinya, tapi kepala kipasnya tidak bisa berputar, hanya menghadap satu arah saja. Walaupun begitu Soo Jin kelihatan kagum sama Phil.

"Dan, teruslah memotret. Kau sangat bagus dalam memotret. Kau dulunya lebih bagus dalam melukis, tapi aku... Yah, melukis ataupun memotret sebenarnya sama. Aku pergi."


Phil kembali menyesal, ia masih tidak bisa percaya ia bisa sampai kehilangan Soo Jin,

"Aku mencintai dia sejak lama. Auh.. Astaga."


Tiba-tiba seseorang yang tidak Phil kenal mendatangi Phil, "Cinta? Cinta itu hebat. Di hadapan gadis yang kau kasihi, kelihatannya kau ingin menyembunyikan kehidupanmu yang seperti sampah."

Batin Phil: Siapa lagi ini?

"Aku datang karena bos mengirimku." Lanjut Pria itu.


Pria itu mengejar Phil sampai Phil ngos-ngosan berlari dan meminta Pria itu berhenti sebentar.

"Hei, mestinya bilang saja kau ingin dijemput."

"Se-sebentar. Aku... akan jalan dengan kedua kakiku."

"Tidak bisa. Aku akan membawamu. Aku frustrasi sekali sekarang."

Bahkan Pria itu memukulkan paving ke kepalanya sendiri. Phil shock melihatnya, ia takut dan terus mnundur saat Pria itu mulai mendekat.

"Hei, sebentar, sebentar. Setidaknya katakan padaku. Kenapa kau seperti ini?"

"Kuberitahu kau... setelah sadar nanti."


Pria itu mulai menghujani Phil dengan pukulan-pukulan tapi ajaibnya Phil bisa refleks menghindari pukulan-pukulan itu bahkan ia bisa memukul balik. Dan yang lebij mencengangkang lagi, Phil mampu menghancurkan paving dengan pukulannya.


Phil akhirnya bisa melumpuhkan pria itu tanpa usaha keras. Ia sangat senang.

"Astaga, daebak. Aku menemukan bakatku."


Seok tae melihat kejadian itu dan ia langsung menghubungi polisi.

"Dengan Kantor Polisi? Saya adalah saksi tidak bersalah. Ada seorang preman di lingkungan saya yang mengacau. Kami memerlukan petugas untuk segera datang."


Saat Phil jalan di trotoar semua orang takut padanya dan beberapa memanggilnya Hyungnim. Phil kesal dipanggil begitu sampai tiba-tiba sebuah panci mendarat di sampingnya. Phil akan melemparkannya kembali ke dalam tapi tidak jadi saat melihat papan nama. Itu adalah tokonya Goo Gil. Ia heran, kenapa juga dengan tempat itu, lalu memutuskan masuk ke dalam.


Di dalam ada Jung Ae yang sedang membuang semua tongkat bilyard, sementara Goo Gil menghalanginya dan Dal Soo memperhatikan keduanya.

"Kau tidak bisa membuangnya. Semua itu peninggalan mendiang ayahku."

"Kita tidak bisa menggunakan meja bilyard di toko kosmetik, tahu!"

"Kenapa tidak? Kan bisa belanja kosmetik sekaligus main bilyard. Tidak masalah menjalankan dua bisnis di satu tempat."

"Siapa coba yang mau main bilyard saat belanja?"

"Bodoh, berikan padaku!"

Jung Ae dan Goo Gil berebut tongkat Bilyard itu dan tak sengaja Jung Ae jatuh saat Goo Gil melepaskan tongkat yang mereka pegang. Goo Gil kesal, ia kan sudah bilang untuk berhenti menyebutnya bodoh. Tapi kenapa Jung Ae selalu lupa?

Dal Soo memanfaatkan kesempatan itu, ia membantu Jung Ae berdiri dan Jung Ae langsung memeluknya. Goo Gil tidak terima dan memisah mereka.


Phil masuk saat mereka saling tarik. Phil kesal sampai memukulkan panci ke kepalanya sendiri 2 kali. Phil berteriak "YAAAA!!!!!" dan mereka semua akhirnya berhenti.

"Dasar idiot dan bodoh kalian semua! Aku tahu hidupku memang berantakan, tapi kenapa kalian semua seperti ini juga?"


Jung Ae menceritakan bagaimana ia bisa jatuh cinta pada Goo Gil dulu, yaitu saat Goo Gil menyelamatkannya dari pukulan Oppa Gereja. Tapi Jung Ae menyesalinya sekarang.

Batin Phil: Bagaimana bisa banyak sekali yang berubah akibat satu insiden?


Goo Gil memohon, ia masih mencintai Jung Ae sampai sekarang.

"Tutup mulutmu! Kau itu idiot keras kepala." Bentak Jung Ae.


Jung Ae membenarkan Bong Phil, ia dulunya menyukai Dal Soo Oppa. Phil heran, lalu kenapa tinggal bersama Goo Gil?

"Entahlah. Mungkin itu sebabnya mereka bilang kalau wanita mudah sekali berubah pikiran."


Dal Soo menggoda Jung Ae, "Kurasa begitu. Act Three dari Verdi Rigoletto. Hati wanita mudah berubah bagaikan buluh yang terguncang."

Goo Gil tidak terima dan kembali memisahkan mereka tapi ia takut pada Jung Ae kalau mau memukul Dal Soo.


Jung Ae mengaku, ia menyukai pria yang pintar yang tahu banyak hal.

Phil: Hei, sebuah buluh hanya akan goyah. Namun tidak berpindah dari tempatnya.

Goo Gil: Benar.

Jung Ae: Aish.

Phil: Kalian menjalani kehidupan penuh kebodohan. Sedangkan aku menjalani hidup dengan hati terbakar.

Jung Ae: Segala sesuatunya kacau.


Phil melewati lorong di dekat manhole itu dan disepanjang dinding lorong ditempeli selebaran pencarian dirinya. (Dicari akibat tindak kekerasan. Hadiah 10 juta won disediakan.)

Phil kesal dan mencopot semua selebaran itu.

"Apakah lingkunganku jadi begini gara-gara kesalahanku? Dal Soo Hyeong juga kacau, hati Jung Ae berubah, lalu Soo Jin juga hidup dengan rasa bersalah. Apakah semua ini gara-gara tindakanku? Padahal aku hanya bertarung sekali. Bukan ini yang kuharapkan. Soo Jin-ah. Harus bagaimana aku? Apa aku sungguh harus menjalani kehidupan ini? Apa aku bisa kembali ke manhole itu?

Tidak. Sekalipun aku kembali, hati Soo Jin akankah dapat berubah?"

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...