Sunday, August 6, 2017

Sinopsis Save Me Episode 1 Part 1

Tags

Sinopsis Save Me Episode 1 Part 1

Sumber Gambar: OCN

[Selamat datang di kota yang penuh dengan semangat dan cinta, Muji]
 
==2014, Muji-gun==
Im Sang Mi

Satu keluarga berkendara di jalan yang sepi, mereka memasuki kota Muji (atau bisa jadi Provinsi). Saat itu tiba-tiba turun hujan disertai petir.

Mereka adalah keluarga Im. Sang Ayah Im Joo Ho, Ibu Kim Bo Eun, Kakak Im Sang Jin, dan adik Im Sang Mi.


Di tempat lain, ada sekumpulan orang yang sedang menyembah pria berkonstum putih. Mereka memanggil pria itu Bapa Rohani (Namanya Baek Jung Gi).

"Jangan Takut! Yang Maha Kuasa akan selalu bersama kalian. Jangan meragukan iman kalian. Yang Maha Kuasa akan jadi penyelamat kalian.

"Kami percaya!" Seru mereka semua dipandu oleh asisten Bapa Rohani, wanita yang memakai baju kuning, Kang Eun Sil.

"Mereka yang mencintai Yang Maha Kuasa, akan dibebaskan dari penyakit dan rasa sakit melalui kekuatan mutlaknya. Apa kalian percaya itu?"

"Ya, kami percaya!"


Mobil keluarga Im tiba-tiba mengalami pecah ban, ayah dan ibu keluar untuk memeriksanya. Mereka bingung apa yang harus dilakukan, terlebih ditengah hujan lebat begitu.


Bapa Rohani membawa seorang bapak Paruh baya, ia menyebutnya Tuan Park. Tuan Park menderita kanker perut stadium akhir dan dokter RS besar Seoul menolaknya, mengatakan dia tidak memiliki kesempatan untuk bertahan hidup.

"Bagi seorang pasien yang ketakutan karena kematian, Mereka mengatakan tidak bisa mengobatinya, dan dia tidak akan bisa bertahan dari kanker, lalu mengirimnya kembali. Apa menurut kalian, mereka melakukan hal yang benar?"

"Tidak!" Jawab mereka berkali-kali.


Saat Ayah dan Ibu masih di luar, ada dua motor yang melewati mereka dan tiba-tiba dua motor itu butar balik mendekati mobil mereka. Ayah dan Ibu tegang dibuatnya.


Ayah melindungi Ibu, meminta Ibu masuk kedalam mobil dan tetap bersama anak-anak. Pengendara motor turun, mereka berempat, saling berboncengan dan memakai jas hujan warna hitam.


Kembali ke Bapak Rohani, menjelaskan bahwa Yang Maha Kuasa tidak akan pernah berpaling dari pasien yang meminta bantuan padanya, dengan mengatakan dia tidak bisa disembuhkan, dan tidak memiliki kesempatan untuk bertahan hidup. Dia tidak akan mengirimnya ke lembah kematian yang gelap.

"Kami percaya! Kami percaya!"

Han Sang Hwan & Woo Jung Hoon
Seok Dong Cheol &Han Sang Hwan

Ternyata pengendara motor itu hanyalah para siswa. Mereka adalah Han Sang Hwan (Taecyeon-2PM), Seok Dong Cheol (Woo So Hwan), Woo Jung Hoon (David Lee) dan Choi Man Hee (Ha Hwe Jung).

Sang Hwan yang memulai bertanya, apa ban mobil ayah bocor dan ayah mengiyakannya.


Im Sang Mi menurunkan kaca mobil, bertanya pada ibunya apa semuanya baik-baik saja. Ibu mengiyakan dan menjelaskan kalau anak-anak itu hanya ingin membantu, lalu Ibu menyuruh Sang Mi menutup kacanya lagi, nanti basah.


Ayah bertanya, apa ada bengkel mobil dekat sana. Jung Hoon mengeluarkan ponselnya untuk menelfon. Ibu jadi tidak enak sduah merepotkan.

Sang Hwan menjawab tidak apa-apa dan sebagian besar tempat disini memang, tutup setelah jam 7 malam, dan juga tidak akan ada orang lain yang datang dalam hujan begini.


Jung Hoon bicara dengan suara keras, "Ada orang yang bannya bocor, tepat di luar kota kita. Oh baiklah. Aku mengerti. Cepatlah kesini."

"kenapa?" tanya Sang Hwan.

"Dia sedang BAB sekarang."

Lalu Jung Hoon menjelaskan pada Ayah kalau pihak bengkel butuh waktu 30 menit untuk sampai ke sana. Ayah tersenyum senang dan Ibu mengucapkan banyak terimakasih.

"Aku tidak tahu bagaimana harus membayar kebaikan kalian." Lanjut Ibu.

"Itu, Anda bisa.."

Sang Hwan menepuk pundak Jung Hoon menghentikannya, ia mewakili teman-temannya pamit.


Dong Cheol menoleh kebelakang sebelum pergi.


Sang Mi bertanya pada kakaknya yang tampak sedang melamun, "Oppa. Apa kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik-baik saja."

"Jangan khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa."

"Aku tidak khawatir tentang itu."

Sang Mi lalu menggenggam tangan kakaknya.


Bapa Rohani menepuk perut Tuan Par sambil membaca mantera (?).

"Dibawah nama penyelamat kita, Yang Maha Kuasa. Aku akan mengeluarkan penyakit jahat yang membuat anakku tercinta, Park Doo Young, menderita kesakitan. Dengan api penyelamatan yang membara, kanker kotor yang berasal dari roh jahat ini akan disembuhkan oleh Yang Maha Kuasa dan menjadi bersih kembali seperti salju."


Tiba-tiba tangan Bapa Rohani yang ia gunakan untuk menepuk perut Tuan Park itu berdarah, ia lalu mengangkat tangannya dan menunjukkan potongan sel kanker yang berhasil ia ambil dari perut Tuan Park secara ajaib.

Semua orang kontan memuji-muji Bapa Rohani sebagai juru selamat mereka.


4 sekawan nongkrong di sebuah restoran. Jung Hoon memulai pembicaraan dengan membahas orang yang dari Seoul tadi, terutama sih Sang Mi yang katanya sangat cantik.


Sang Hwan dan Dong Cheol berdebat kalau tadi Sang Mi menatap mereka. Mereka bahkan taruhan 10 dolar. Jung Hoon ketawa, mengklaim kalau Sang Mi tadi menembakkan laser ke sajahnya.

"Ketika aku melihat laser tersebut, aku menatapnya. Mata kita dibutakan." Lanjut Jung Hoon.

Sontak teman-temannya mekemparinya dengan camilan, kebanyakan ngayal.


Dong Cheol melihat poster Ayah Sang Hwan dipajang di dinding restoran itu. Ayah Sang Hwan mencalonkan Guberbur. Dong Cheol bertanya, apa Sang Hwan pikir ayahnya akan berhasil kali ini?

"Tentu saja, dia akan berhasil. Tidak ada orang yang memenuhi syarat seperti dia." Jawab Jung Hoon.

"Benar." Kata Dong Chaeol setuju.


Jung Hoon memanggil Bibi pemilik restoran, apa minuman mereka sudah siap. Dan Bibi dengan wajah kesal membawakan 4 gelas cola.

"Imo, apa ini? Mengapa ini sangat hitam?" Tanya Jung Hoon.

"Apa kalian ingin ke kantor polisi lagi?"

"Saat itu, aku dalam kondisi yang tidak baik, jadi aku membuat kesalahan kecil."

" "Kondisi yang tidak baik"? Omong kosong apa itu. Kau bisa pergi ke tempat lain jika kau tidak mau ini."

Mau tak mau mereka pun minum cola itu. Semua berunding untuk meminumnya saja, tapi Man Hee malah sudah menghabiskan miliknya lalu bersendawa keras. Semuanya melongo.


Mobil keluarga Im di derek menuju bengkel dan dalam perjalanan itu, tidak ada satupun yang bicara. Sepertinya semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Ibu melihat wajah Ayah yang tampak sedih, ia lalu bicara pada Sang Mi bahwa semua akan baik-baik saja mewakili Ayah.


Ayah menunggu di kantor bengkel untuk mengurus pembayaran, bertepatan ada seorang pengantar JJajangmyeon. Si pengantar itu menatap Ayah penuh selidik.


Lalu pemilik bengkel masuk mengatakan kalau semua sudah selesai, ayah pun mengulurkan uang. Pemilik itu bertanya, apa Ayah pindah dari Seoul dan ayah mengiyakan.

"Astaga, mengapa Anda pindah pada cuaca seperti ini? Tapi mereka mengatakan, kita akan beruntung jika pindah pada cuaca hujan begini." Kata Pengantar dan dibenarkan oleh pemilik bengkel.


Ayah permisi tapi pengantar menyusulnya, untuk promosi restorannya.


Setelah sesi pengobatan, ada pesta, kali ini yang mengkondisikan adalah Jo Wan Tae. Ia menyumbang lagu sambil menyerukan jargon mereka.


Nyonya Kang mengantar Tuan Park yang ingin berterimakasih pada Bapa Rohani, saat ini Bapa Rohani sedang menatap sebuah pohon yang tampaknya sangat tua.

"Tuan. Tidak, Bapak Rohani. Terima kasih banyak telah menyelamatkan hidupku. Aku bertanya-tanya bagaimana aku harus membalas kebaikan yang aku terima darimu hari ini. Dan saat aku datang ke sini, aku mendendengar sesuatu dari Nyonya Kang. Aku dengar ANda akan membangun sebuah gereja. Aku akan, dengan senang hati membantumu."


Tuan Park mengulurkan amplop uang tapi Bapa Rohani hanya tersenyum.

"Saudara. Anda tahu nama pohon ini? Kami menyebut pohon ini.. "Pohon kepercayaan". Seperti yang Anda lihat, pohon ini terlihat lemah, tua, tapi telah hidup selama lebih dari 500 tahun, dengan cabang kokoh itu. Ini semua, berkat kebaikan Yang Maha Kuasa dan yang biasa kita kenal dengan keajaiban."

"Aku percaya." SUara lirih Nyonya Kang.

"Saudara. Aku hanya seorang hamba Yang Maha Kuasa. Jadi Anda tidak perlu berterima kasih padaku. Yang perlu kau lakukan hanyalah berdoa kepada Yang Maha Kuasa karena telah menunjukkan padamu sebuah keajaiban hari ini."

Bapa Rohani pergi.


Jo Wan Tae kelihatan tidak menikmati pesta itu ia terus celingukan mencari-cari seseuatu atau lagi menunggu seseorang ya?


Nyonya Kang meminta amplop itu pada Tuan Park.


Keluarga Im sudah sampai di alamat yang dituju tapi rumahnya diluar perkiraan mereka. Itu adalah rumah kosong yang tidak layak huni, ancur banget pokoknya.

Sang Mi bertanya, apa benar alamatnya itu. Ayah membenarkan, lalu ia turun untuk menelfon.


Ibu ikut turun karena cemas, semuanya baik-baik saja kan. Ayah menjelaskan kalau Sung Ho tidak mengangkat telponnya.

"Sayang, bagaimana jika.."

"Tidak. Sung Ho tidak akan melakukan hal seperti itu. Aku akan mencoba menelponnya lagi."


Petugas polisi Choi mendapat laporan bahwa ada seorang pria mabuk berusia 40-an, menyebabkan kekacauan di depan terminal bus.


Petugas Choi langsung membangunkan Sersan Woo yang tertidur di sampingnya. Karena Sersan Woo tidak bangun-bagun juga, Petugas Choi terpaksa berteriak dan memukulnya.

"Ah, kulitku hampir saja terlepas. Mengapa? Apa yang terjadi?"

"Kita mendapat telepon ada pria yang mabuk. Banyak orang mabuk di sini. Perutku sangat sakit sekarang."

Sersan Woo kembali tidur lagi tapi Petugas Choi tetap memaksanya bangun.


Pria mabuk itu benar-benar brutal sampai naik ke mobil polisi dan mengencinginya. Sersan Woo habis kesabaran ia turun untuk menyeret pemabuk itu tapi malah ia yang dikencingi. Tapi Sersan Woo tidak menyeran sama sekali.


4 sekawan selesai minum cola pada jam 11 malam. Jung Hoo mengajak yang lain ke suatu tempat lagi berhubung ini weekend, tapi tiba-tiba mobil polisi tadi datang.


Sersan Woo sepertinya ayahnya Jung Hoo. Jung Hoo takut gitu saat Sersan Woo memanggilnya.

"Kau tidak membuat masalah, bukan?"

"Tentu saja."

"Kau tahu apa yang terjadi jika mengendarai sepeda motor dengan mabuk, bukan?"

"Aku akan mati."

"Dan kau harus menelepon ibumu jika terlambat pulang."

"Aku baru saja mau menelpon Ibu. Ayah, apa yang terjadi pada wajahmu?"

"Banyak bicara. Yang kau lakukan hanya banyak bicara. Dan juga kalian sekarang sudah SMA, jadi belajarlah dengan serius. Mengerti?"

"ya."


Sersan Woo bertanya pada Sang Hwan, apa ayah Sang Hwan baik-baik saja? Sang Hwan mengiyakannya.

"Dia satu-satunya orang hebat di kota ini. Aku tahu dia akan terpilih sebagai Gubernur."

"Iya, terima kasih."


Si pemabuk itu ternyata ada di dalam mobil pilisi dan sekarang malah muntah disana. Sersan Woo pun menyuruh Petugas Choi segera menjalankan mobil.


"Semuanya, Yang Maha Kuasa akan menyelamatkan kita. Apa kalian semua percaya?" Ujar Jo Wan Tae.

"Ya, kami percaya!"

Wan Tae tidak sendiri ia bersama seseorang yang namanya, Jo Wan Duk. Kayaknya mereka saudara deh, menngingat nama mereka mirip.

Lalu mobil polisi datang, sepertinya ini yang ditunggu Wan Tae sejak tadi, ia langsung kode-kode pada Wan Duk.


Sersan Won dan Petugas Choi disambut oleh Nyonya Kang. Nyonya kang menyajikan teh untuk mereka. Sersan Choi sedikit gombal, katanya tiap ketemu Nyonya Kang, wajah Nyonya kang semakin terlihat lebih muda.

"Di sini, kami memiliki mata air yang membuat kau menjadi lebih muda." Jawab Nyonya Kang.

"Maksudmu Air Kehidupan?"

"Iya. Yang Maha Kuasa telah menganugerahkannya kepada kami."

"Petugas Choi. Kau harus meminumnya juga, bukan begitu?"

"Sersan, hentikan." pinta Petugas choi.


Bapa Rohani datang, Sersan Choi minta maaf karena sering mengganggu Bapa Rohani seperti ini.

"Tolong jangan berkata begitu. Kau membantu jiwa yang hilang untuk kembali ke Yang Maha Kuasa lagi. Kami sangat berterima kasih."

"Aigoo, tidak sama sekali. Sejak kau datang ke Muji-gun, Kota ini bersih dari orang miskin dan tunawisma. Kami yang harusnya berterima kasih."


Won Tae bergabung dengan mereka. Lalu Bapa Rohani bertanya pada Nyonya Kang, berapa banyak sisa ekstrak tanduk rusa mereka?

"Kita sudah memberikannya kepada orang tua hari ini, tapi kita masih punya sekitar 20 kotak." Jawab Nyonya Kang.

Bapa Rohani minta maaf karena menawarkan barang sisa pada Sersan Woo. Sersan Woo tidak masalah soalnya mereka juga dilarang menerima hadiah.

Won Tae menjelaskan, ini bukan suap. Sersan Woo kan telah bekerja keras siang dan malam demi keamanan kota ini. Mereka bahkan tidak menawarimu uang. Jadi tolong anggap hadiah ini sebagai sesuatu yang ditawarkan kerabat.


Nyonya Kang bicara pada Petugas Choi, ia mendengar punggung Ibu Petugas Choi terluka. Petugas Choi kaget, lalu memandang Sersan Woo dan akhirnya mengatakan ya.

"Yang Maha Kuasa mengatakan hal baik harus dibagi di antara tetangga. Ini bukan dari kami. Yang Maha Kuasa yang memberikannya padamu. Jadi tidak apa-apa." Jelas Nyonya Kang.

Bapa Rohani menengahi, "Jangan terima jika ini membuat kalian merasa tidak nyaman. Kami menawarkannya kepada kalian dengan niat baik, tapi kami tidak ingin membuat kalian tidak nyaman."

"Benar begitu? Astaga, banyak mata yang sering melihatku. Aku tidak ingin ada yang bergosip tentang ini. Makan sesuatu yang tidak baik saja bisa menyebabkan cegukan." Jawab Sersan Woo senang.

Tapi sepertinya Won Tae merasa tidak puas.


4 sekawan melanjutkan acara malam mereka dengan pergi ke pemandian umum.


Sepertinya di pemandian umum itu juga keluarga Im bermalam. Ibu tidak makan, katanya perutnya sedikit tidak enak. Sang Mi lalu menanyakan dimana ayah.


Ayah menyendiri di tangga untuk menelfon Sung Ho dan ternyata benar, Sung Ho menipunya dan saat ini Sung Ho ada ditempat judi.

Ayah mencoba menghubungi Sung Ho lagi karena tiba-tiba telfonnya diputus tapi ponsel Sung Ho mati.


Sang Mi tiba-tiba memanggil ayahnya. Ternyata daritadi Sang Mi ada disana mendengar semuanya.


4 sekawan main tembak-tembakan, dimana sepertinya itu dikhususkan untuk anak-anak karena dibelakang mereka ada beberapa anak yang mengantri.


Mereka melihat Sung Mi dan ayahnya lewat, mereka langsung membuntuti. Mereka heran kenapa Sang Mi ada disana padahal mau pindah (tadi mereka melihat barang-barang bawaan keluarga Sung Mi).

Mereka mendorong Jung Hoon untuk mencaritahu tapi saat Jung Hoon keluar dari tempat persembunyian mereka, keluarga Sung Mi malah tidak ada.


Ayah mencari pekerjaan di peternakan sapi disana. Tapi setiap orang yang ia tanya bilang tidak membutuhkan tenaga.


Kebetulan, disana sedang ada kampanye ayah Sang Hwan.

"Semuanya, aku Han Yong Min, kandidat nomor dua!"

Disana Ayah Sang Hwan sepertinya mempunyai banyak pendukung, mereka berharap ayah Sang Hwan terpilih sekali lagi.

"Terima kasih atas dukunganmu. Seperti yang sudah kalian ketahui, sapi Muji adalah yang terbaik di negara kita. Jika kalian mendukungku saat ini, aku berjanji secara aktif akan mendukung kalian dalam mempromosikan kota ini untuk menarik wisatawan."

Ayah Sang Hwan lalu menyalami Ayah Sang Mi, berjanji akan membuat Muji-gun menjadi kota bagi orang-orang pengangguran bisa terus menjalani hidupnya. Dan tiba-tiba setelah Ayah Sang Hwan pergi, seseorang memanggil Ayah Sang Mi untuk memberinya pekerjaan.


Bapa Rohani kembali melakukan sesi pengobatan.

"Tubuh kalian yang sakit akan disembuhkan, dan menjadi tubuh yang sehat dan baru. Atas nama Yang Maha Kuasa, tubuhmu yang sakit akan menjadi sehat lagi seperti tubuh yang baru."


Nyonya Kang dan Wan Tae gencar mendekati orang-orang. Mereka memberikan minuman yang dicampur oleh sesuatu.


==Rumah Perlindungan untuk Orang Tua==

Bapa Rohani tersenyum berdiri di depan gedung itu, tak tahu apa yang ia lihat atau pikirkan.


4 sekawan akan menyebabkan masalah lagi seperti sebelum-sebelumnya. Kali ini sasarannya adalah motor.


4 sekawan mengecat salah satu motor yang terparkir rapi, tapi mereka ketahuan jadi segera kabur.


Pemilik motor itu adalah siswa SMA juga.

"Hei, aku sudah tandai wajah kalian! Aku sudah melihat wajah kalian." Peringatan pemilik motor itu lalu mengejar 4 sekawan yang naik motor.


Pengantar JJajangmyeong kebetulan melihat kejadia itu, ia melongio, "Astaga, mereka luar biasa."

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...