Saturday, September 16, 2017

Siniopsi Hospital Ship Episode 12

 
Sumber Gambar: MBC

-=EPISODE 12=-
Kematian Adalah Akhir, Bukan Kegagalan



Hyun dan Eun Jae berakhir minum bersama. Hyun menceritakan perihal ayahnya, ayahnya didiagnosis Alzheimer dua tahun lalu, ayahnya keluar dari Suriah dan didiagnosis di Turki tapi ayahnya menyembunyikannya.

"Menurutmu mengapa dia tidak mau pulang?" Tanya Eun Jae.

"Mungkin dia tidak mau jadi beban. Seiring kondisinya memburuk, ia mulai kehilangan arah. Pemberontak menangkapnya. Mereka membebaskannya karena dia Dokter.."

"Tapi semua orang akhirnya tahu."

"Kami mendapat telepon untuk menjemputnya. Saat itu.. pertarungan sesungguhnya dimulai."


Ayah Hyun kabur dari rumah sakit dan Hyun mengejarnya.

Hyun menjelaskan melalui narasinya, "Aku pikir ingatan Ayahku berhenti saat berada di markas pemberontak. Mungkin dia berpikir Seoul tempat yang luas. Dia tidak pernah berhenti.. melarikan diri."


Ayah berlari menuju jalan besar, naik taksi juga tapi di lampu merah ia keluar lalu berlari lagi. Ayah bingung karena bayak kendaraan, ia berhenti di tengah jalan. Hyun langsung meminggirkan mobilnya dan menghampiri ayahnya, ia memeluk ayahnya untuk menenangkan.

"Aku belajar untuk ujianku, bekerja shift malam, dan bermain petak umpet dengan Ayahku setiap hari."


Dan saat Hyun kembali, pasiennya mengalami gagal jantung. Dokter seniornya yang menangani tapi gagal mengembalikan detak jantung pasien, pasien meninggal.


Hyun dimarahi oleh dokter itu, ia dipukul tepat di depan pasien yang meninggal.

"Kau sebut dirimu Dokter? Anak magang sekalipun bahkan tidak membuat kesalahan seperti ini. Ingat! Pasien meninggal karena kau. Kau bukan Dokter!"

"Lalu aku mengacaukan semuanya. Aku membuat kesalahan bahkan tidak ada dokter atau anak magang yang melakukan itu."


Hyun melanjutkan, saat itulah tangan kirinya jadi tidak berguna. Setelah ayahnya sadar, selalu meminta padanya beberapa morfin, jadi ayahnya bisa mati.


"Bukankah itu lucu? Seorang Ayah dokter ingin anak Dokternya membunuh dia. Itulah alasan.. aku tidak menghentikan Tn. Seol. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa menghentikannya. Walaupun bukan Alzheimer seperti Ayahku, penyakit bisa membuat orang kehilangan identitasnya, bukan? Tn. Seol ingin menjaga harga dirinya tetap utuh. Dia ingin mati.. dengan memiliki harga diri dan layak."

Hyun merasa mungkin itu lebih baik, lebih baik daripada menjalani kehidupan dengan perasaan yang hancur seperti Ayahnya.


Hyun membenarkan Eun Jae, ungkin ia memang kurang pantas menjadi Dokter. Eun Jae tak bisa menjawabnya, hanya menungakan soju ke gelas Hyun.


Mereka kemudian jalan bersama menuju asrama.


Direktur bertanya pada Eun Jae, apa Eun Jae belum membujuk Guru Seol? Eun Jae menjawab belum. Direktur bertanya lagi, bagaimana jika kau terlalu lama dan melewatkan kesempatan?

Direktur lalu menyemangati Eun Jae, tidak perlu kesal! Eun Jae pasti akan bertemu banyak kasus untuk menyelesaikan tesisnya nanti.


Eun Jae kembali ke ruangannya, belajar. Ia menggambar hasil simulasinya kemarin, sambil melihat hasil CT-Scan Guru Seol.


Eun Jae menghubungi Kepala Kim, ia setuju dengan tawaran Kepala Kim.


Hyun baru turun dari kapal dan ia mendapat telfon dari seseorang. Hyun lalu ke SD untuk menemui Guru Seol, tapi Guru Seol pingsan. Hyun pun langsung menggendongnya ke rumah sakit.


Eun Jae yang menangani Guru Seol. Guru Seol sadar, bertanya siapa yang.. Eun Jae paham, lalu menjawab bahwa Hyun yang membawanya. Guru Seol memandangi sekitar, Eun Jae lalu mengatakan kalau Hyun keluar untuk menelfon.

"Terima kasih. Aku menderita sakit perut yang mengerikan. Aku sudah baikan sekarang. Sepertinya aku bisa..."

"Anda mau keluar lagi?"

"Iya."


Guru Seol duduk, Eun Jae menjelaskan, ini hanya solusi sementara., tanpa perawatan apapun, semua akan bertambah buruk. Jadi...

"Bulan November nanti, aku akan menerbitkan buku puisi. Isinya masih sedikit, dan aku harus.. lanjutkan menulis."

"Pasien."

"Aku sudah menulis lebih dari 10 tahun. Aku tidak bisa tiba-tiba berhenti. Aku tidak boleh begini pada pembacaku. Yang paling penting, piknik musim gugur bersama anak-anak."

"Enam bulan. Anda mungkin suka mengajar dan menulis, tapi Anda hanya bisa melakukannya selama enam bulan lagi. Kemungkinan terburuk--"

"Tiga bulan. Aku punya waktu tiga bulan. Itu waktu yang lama. Jika aku mati ketika operasi, aku bahkan tidak bisa memimpikan itu lagi."


Eun Jae menyerah, ia lalu keluar dan mengabari Hyun kalau Guru Seol ingin keluar RS secepatnya, Guru Seol harus naik kapal pertama supaya sampai kekelas tepat waktu.

"Apa kau masih.. tidak mau membujuknya? Aku bukannya mengatakan harga dirinya tidak penting. Tapi.. apa itu lebih penting dari hidupnya?"


Hyun dan Guru Seol naik kapal bersama. Guru Lee berkata, langit dan laut sama-sama biru, tapi tidak seperti kemarin, sangat berbeda.


"Jika aku Dokternya, Jika aku punya hak, aku seharusnya tidak mengikutimu. Jika aku tidak bisa membujukmu, aku harus menculikmu dan membawamu ke ruang operasi." Jujur Hyun.

"Hyun-ah."

"Ini bukan pertarungan tapi pertolongan dokter. Kematian adalah kegagalan. Apapun yang orang katakan, kematian adalah sebuah kegagalan. Itu sebabnya seorang Dokter sepertiku, tidak akan menerima kegagalan dengan mudah. Aku seharusnya tidak menyerah. Aku harus berjuang."

"Apa alasanmu mengatakan kematian sebagai kegagalan? Kematian pasti datang pada semua orang. Mengapa itu bisa jadi kegagalan? Kematian adalah akhir, bukan kegagalan. Itulah akhir yang aku pilih. Aku tidak bisa bilang tidak takut, tapi aku baik-baik saja. Istriku.. telah menunggu selama 10 tahun. Dia pemalu dan sulit mendapat teman. Dia pasti sangat kesepian. Aku ingin.. pergi dan menemuinya."


Guru Seol meminta maaf dan berterimakasih pada Hyun. Mata Hyun selalu menatapnya, khawatir padanya, dan terkadang, lebih sakit dari dirinya.

Guru Seol menggenggam tangan Hyun, "Karena mata itu, aku jadi tidak sakit. Kau tahu, Aku pikir.. matamu, dan empatimu pada pasien akan menjadi obat medis terbaik yang bisa kau berikan pada pasien."

Hyun menangis dan Guru Seol merangkulnya.


Ternyata Eun Jae mendengarkan percakapan Hyun dan Guru Seol itu.


Saat dalam perjalanan kembali ke asrama, Eun Jae mampir ke toko buku dan membeli buku-buku Guru Seol.


Ia membacanya sambil berjalan.

"Setiap hari, saat matahari terbenam, aku berjalan ke pepohonan. Setiap hari, saat matahari terbenam, aku berjalan kesungai. Setiap hari, saat matahari terbenam, aku berjalan ke gunung. Sangatlah indah, berjalan ke pohon, gunung, dan sungai saat matahari terbenam."


Sementara itu, Guru Seol sedang bersama anak didiknya belajar di alam.


Eun Jae bahkan membaca semua buku Guru Seol sampai malam.

"Saat matahari terbenam, aku merindukan cintaku, dan berjalan menuju kearahnya. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang lebih indah dari itu."


Hyun menghampiri, bertanya sedang apa Eun Jae. Ia melihat buku-buku Eun Jae dan mendapat jawaban kalau Eun Jae sedang membaca buku puisi.

"Sudah 14 tahun 8 bulan." Jawab Eun Jae.

"Aku lihat ini semua puisi Tn. Seol."

"Seseorang bilang.. jika ingin meyakinkan seseorang, aku harus memahaminya lebih dulu."

"Apa yang kau pikirkan?"

"Bergerak. Lebih baik bergerak daripada tidak menyelamatkannya."


Eun Jae meletakkan bukunya dan mulai berdiri. Hyun menghalangi jalan Eun Jae, bertanya Eun Jae hendak kemana,

"Aku sudah bilang. Lebih baik bergerak daripada membiarkannya."

"Biarkan dia."

"Tidak, aku tidak bisa."

"Mengapa kau sangat ingin melakukan operasi? Kenapa kau sangat terobsesi?"

"Apa dokter butuh alasan untuk menyelamatkan nyawa pasien?"

"Tidak, ada alasan lain."

"Apa maksudmu? Kau tidak capek begini?"

"Kau punya alasan lain."


"Baiklah, aku egois. Aku egois, dan terobsesi untuk kembali ke Seoul. Aku mencoba menambah tesisku--"

"Berhenti bohong. Jika tesis sangat penting, mengapa kau menawarkannya pada dr. Kim Do Hoon? Aku dengar jika dia membiarkan kau operasi, dan memberimu staf terbaik, dia bisa mengambil tesismu. Mengapa kau pergi sejauh ini?"


Eun Jae menjawab, ibunya meninggal karena dirinya tidak disana. Tapi.. ia di sini untuk pasien itu. Ibunya bisa saja selamat, Ibunya bisa saja selamat, tapi ia.. memotong kesempatan.. Kesempatan Ibunya untuk hidup.

Eun jae mulai berkaca-kaca, "Aku tidak akan mengulanginya. Pasien masih hidup, dan selama masih hidup, selalu ada harapan. Jadi aku tidak bisa menyerah. Tidak, aku tidak mau menyerah. Jika aku menyerah, aku..."


Eun Jae berbalik tapi Hyun langsung menariknya kedalam pelukannya, "Itu bukan salahmu. Itu bukan salahmu."

*Hyun mengatakannya menggunakan banmal (Informal).


Mereka kemudian jalan bersama. Hyun memberikan surat untuk Eun Jae dari Guru Seol, surat pernyataan bahwa Guru Seol bersedia menyumbangkan organ tubuhnya, ia ingin menyumbangkannya untuk Eun Jae.

"Beliau minta maaf karena tidak bisa operasi, tapi beliau ingin berkontribusi dalam penelitian. Tn. Seol Jae Chan bilang.. kematian.. bukan sebuah kegagalan, tapi akhir."

"Bagaimana menurutmu?"

"Aku belum yakin. Masalah ini sangat sulit."

"Ini juga pertanyaan yang akan selalu kita hadapi selama menjadi dokter."


Eun Jae kali ini bertugas di darat. Ia mendatangi pasien, tapi ia lupa membawa obatnya.


Sementara itu, staff RS kapal yang lain membuka pengobatan disebuah pondok. Ah Rim bahkan menari dan bernyanyi untuk menghibur para pasien.


Eun Jae menghubungi Hyun, mengatakan kalau ia lupa membawa obat, jika ada orang yang tidak sibuk sekarang..

Eun Jae membatalkannya karena bisnya sudah datang, ia ke sana.


Eun Jae kebetulan naik bis yang dinaiki murid-murid Guru Seol. Murid menjelaskan kalau mereka akan sedang piknik dan mereka bisa memakai semua bus. mereka akan membawanya ke Seoul.

"Wow.. kalian beruntung." Tanggapan Eun Jae.


Eun Jae kemudian bicara pada Guru Seol, menanyakan bagaimana kondisi Guru Seol.

"dr. Kwak sering datang merawatku."


Hyun kembali menghubungi Eun Jae, bertanya kelanjutannya. Eun Jae mengatakan ia sudah di dalam bus untuk menuju ke sana. Hyun mengatakan kalau Won Gong sudah pergi.

Tiba-tiba terdengar suara tabrakan. Hyun panik, memanggil-manggil Eun Jae, apa yang terjadi?


Bis Eun Jae mengalami kecelakaan dan terguling, Eun Jae memecah kaca belakang untuk keluar. Lengannya terluka.


Sementara itu, Tim medis segera menuju lokasi.


Eun Jae dan Guru Seol membantu mengeluarkan anak-anak, ada juga beberapa wali murid.


Tim medis datang, mereka lalu membantu Eun Jae memeriksa keadaan anak-anak.

Hyun mengkhawatirkan Guru Seol. Guru Seol menjawab ia baik-baik saja dan meminta Hyun merawat anak-anak saja dulu, cepat!


Won Gong menghubungi bantuan, katanya akan tiba 30 menit lagi untuk helicopter, sementara kapal akan tiba satu jam lagi.

Eun Jae: Triage (tindakan mengkategorikan pasien menurut kebutuhan perawatan) hampir selesai. Syukurlah tidak banyak korban kritis. Perawat Yoo Ah Rim, tolong beri 578 neck brace (alat medis ortopedik untuk menyangga kepala dan leher pasien).


Dan untuk dokter Kwak-- Eun Jae berhenti dan memegangi lengannya, nyerinya main parah. Hyun khawatir, ada apa?

"Tidak apa. Sepertinya dislokasi (cedera pada sendi)." Jawab Eun Jae.

"Kau harus diobati."

"Selamatkan dulu 23 pasien. Mereka berjuang untuk bernapas. Mudah-mudahan bukan pneumotoraks (penyakit paru-paru. Cepat."


Hyun pun bergerak untuk menangani anak-anak. Sementara itu, Jae Geol menghampiri Eun Jae, memaksa untuk melihat tangan Eun Jae.

"Selamatkan pasien terlebih dahulu."

"Kau juga pasien sekarang. Jika kau kehilangan sirkulasi, lenganmu mungkin tidak akan berfungsi. Kau tidak percaya padaku?"

"Kau pernah melakukan ini?"

"Sering."

Jae Geol meminta Eun Jae menahan sakit. lalu Jae Geol membetulkan lengan Eun Jae. Hyun lega melihatnya.


Eun Jae menghampiri supir bus, dia berkata rsanya perutanya bercampur aduk, ia mau muntah. Perawat Pyo dan Kapten bang menghampiri. Eun Jae mengintruksi mereka untuk membaringkan supir bis itu pelan-pelan.


Joon Young dan perawat asistennya menangani anak yang giginya patah. Joon Young meminta Perawat untuk mencari susu di semua tas anak-anak.


Perawat Pyo membuka baju pasien dan ternyata perutnya melepuh sampai.. maaf, ususnya keluar. Kapten Bang keceplosan, "Ya ampun!"

Perawat Pyo mengingatkan Kapten Bang untuk tetap tenang. Pasien bertanya, bagaimana perutnya? Apa yang terjadi? Apa ada masalah?

"Iya." Jawab Eun Jae.

"Apa parah?"

"Aku tidak bisa bilang tidak.

"Lalu aku akan mati? Aku akan mati?"

"Tidak. Kau tidak akan mati. Garam."


Hyun datang dan ia menangkan pasien itu, tugas seorang dokter adalah menyelamatkan pasien jadi mereka tidak akan membiarkan pasien kehilangan nyawa.

"Pasien. Kau sangat beruntung. Kau bersama ahli bedah terbaik. Tarik napas dalam-dalam."


Hyun lalu beralih pada Eun Jae, Apa yang bisa ia bantu?

"Kita akan melakukan abdominal silo (Suatu suspensi prostetik yang dapat menjaga organ-organ intrabdomen tetap hangat dan menjaga dari trauma mekanik terutama saat organ itu dimasukkan kedalam rongga abdomen). Kau mengerti maksudku? Mari kita mulai."

Kemudian mereka saling membantu untuk menutup perut pasien, termasuk Perawat Pyo dan Kapten Bang juga.


Guru Seol gugup, San tidak ada, ia tidak bisa menemukan San dimana-mana.

*Pak Guru! San ditahan Won di Istana, jadi maklum kalau tidak ada.. wkwkwkwk.. SalFok!


Hyun menengok ke dalam bis, ia memanggil, "Sa-ah. Kang San! (Untung bukan Eun San). Dan Hyun melihat sebuah tanagn terkulai dibalik salah satu bangku.


Hyun berjalan masuk, tapi itu membuat bisnya makin miring, tapi ia tidak berhenti dan tetap masuk. Semua orang panik.

Hyun lalu memeluk San, ia pasrah.

4 komentar

Jadi sebenernya kesalahan apa itu kok pasiennya meninggal??

Gak paham juga aku. Soalnya gak dijelasin detailnya cuma sekilas2 gitu. Tebakanku mungkin Hyun salah diagnosa karena kurang fokus, terlebih ia gak ada saat pasiennya kritis..

Makasih ya sinopsis y, d tunggu kelanjutan y...

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...