Monday, September 25, 2017

Sinopsis Andante Episode 1 Part 2

Tags


Sumber Gambar: KBS1

-=EPISODE 1=-
Kematian Yang Pertama  


Besoknya, mereka ada di dalam truk pindahan untuk menuju suatu tempat. Shi Young membuka jendela mobil dan Shi Kyung mengeluh kedinginan tapi Shi Young tidak mau menutup jendelanya.

"Kita mungkin akan ditendang keluar." Kata Shi Young.

"Kenapa?" Tanya Shi Kyung.

"Akankah nenek membiarkan kita masuk rumahnya? Tidakkah kau ingat pergi ke sana saat kita kecil, dan dia tidak mau membukakan pintu?"

"Iya kah?"


Ketua geng menelfon Shi Kyung dengan ponsel Jae Hoon, untuk mengatakan agar Shi Kyung tetap bersikap seperti itu, seorang pengecut seperti biasanya.

"Aku akan melakukannya! Ishhh!" Jawab Shi Kyung lalu menutup telfon.


Shi Young bertanya, kenapa Shi Kyung begitu? Shi Kyung bilang tidak apa-apa, tapi ia tampak frustasi.

"Apa kau akan pindah sekolah?" Tanya Shi Young kemudian tapi Shi Kyung tidak menanggapi. Shi Young lalu mengambil pnsel SHi Kyung agar SHi Kyung mendengarkannya.

"Berikan itu padaku." Kesal Shi Kyung.

"Katakan saja kita ingin tinggal di Seoul. Kita bisa tinggal di rumah teman atau menyewa kamar. Aku tidak ingin tinggal dengan Nenek."

"Aku juga tidak mau, tapi itu tidak mudah." Jawab Shi Kyung sambil mendesak agar Shi Young mengambalikan ponselnya.


Tapi Shi Young malah tak sengaja melepaskan ponsel Shi Kyung dan membuatnya jatuh ke luar. Shi Young meratap, ponselku!!!

Shi Young meminta Ibu menghentikan mobil untuk mengambil ponselnya tapi ibu tidak merespon, begitupula Ahjusshi supir. AKhirnya Shi Kyung pun harus merelakan ponselnya.


Shi Kyung dan Shi Young tertidur selama perjalanan dan saat bangun, mereka melihat ada gunung di kanan kiri jalan.


Dan karena perjalanannya masih jauh, mereka tertidur kembali.


Bibi Jung Soo mengendarai mobilnya sendiri dan sekarang ia sudah sampai di lokasi tujuan, rumah nenek. Bibi Jung Soo membawa barang yang Ibu maksud dan meminta Ibu cepat datang.

Bibi Jung Soo melihat nenek pulang, ia buru-buru sembunyi, takut nenek melihatnya.


Ibu bingung dengan alamat nenek, jadi meminta Ahjusshi supir untuk berhenti sebentar. Mereka berhenti tepat di bawah pohon dan Shi Kyung melihat sesuatu yang anah.

Ada seorang gadis, mungkin siswa sekolahan sedang bergantung di pohon tidak bergerak, mirip mayat.


Shi Kyung lalu mengambil ponsel Shi Young untuk memotretnya.

"Apa itu? Pura-pura menjadi mayat di sini juga?" Kata Shi Young.

"Berpura-pura menjadi mayat?"

"Anak-anak di sekolahku banyak yang melakukan itu. Tapi, aku belum pernah melihat ada yang melakukannya sendiri."


Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap ke arah Shi Kyung, gadis itu adalah Kim Bon (Kim Jin Kyung). Shi Kyung melongo menatap Bon sampai ia tak sadar ponselnya diambil Shi Young.


Shi Young akan menghapus foto-foto Bon tapi Shi Kyung melarangnya. Mobil kembali jalan dan Shi Kyung masih tetap melihat Bon. Bon juga memandang ke mana arah mobil berjalan.


Akhirnya mereka sampai di depan rumah nenek. Shi Kyung langsung menggerutu pada ibunya soal ponselnya tadi. Gimana dong?!

Ibu akan marah tapii bisa menahannya.


Nenek keluar, ada apa ini?! Ibu minta maaf karena tidak pernah berkunjung dan sekalinya berkunjung, mereka membawa semua barang.

"Kalian... Apa..." Nenek gagap melihat pemandangan di depannya.

"Tidak ada jalan lain bagi kami bertiga untuk hidup. Mereka adalah darah anda juga, jadi tolong biarkan kami masuk. Kumohon."

"Apa? "Biarkan kami masuk""

"Setelah apa yang terjadi pada ayah mereka, kami tidak pernah menemui anda lagi, Ibu. Jadi, aku mencoba melakukan apapun yang kubisa sendiri. Tapi, tidak ada tempat yang bisa kutuju dan tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku juga tidak punya uang. Tolong bantu aku."

"Kau pasti gila. Kau menyia-nyiakan waktumu. Pulang saja."


Nenek akan masuk lagi, tapi berbalik saat melihat Shi Kyung. Nenek mendekati Shi Kyung. Ia akan menyentuh Shi Kyung, nenek memanggilnya Shi Yoon.


Ibu menjelaskan sebelum nenek menyentuh Shi Kyung. Shi Kyung adalah putra sulung, sangat mirip dengan ayahnya.

"Tapi, dia adalah siswa yang nakal. Dia kecanduan game dan bahkan berani memalsukan rapornya."


Ibu juga mengenalkan Shi Young, "Kupikir dia pintar, jadi aku mengirimnya ke sekolah setahun lebih awal. Sekarang, dia sangat nakal dan hanya berkeliling dan bertingkah aneh."

"Apa yang kau harapkan dariku?" Tanya nenek.

"Aku sibuk mencari nafkah, dan aku tidak bisa fokus mendidik anak-anakku. Jika aku tidak fokus mendidik mereka sekarang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka. Mereka adalah cucu-cucu anda. Tolong biarkan mereka masuk."

"Kau membesarkan mereka dengan buruk. Apa yang kau ingin aku lakukan? Tak ada yang bisa aku lakukan. Pergilah!"

Nenek lalu masuk dan menutup pintu.


Ibu menyuruh Ahjussi supir untuk menurunkan barang-barang mereka. Bibi Jung Soo panik, apa yang coba Ibu lakukan ini?

"Bagaimana dengan tenda?" Tanya Ibu.

Bibi Jung Soo pun memberikannya. Ibu menerimanya lalu memerintah Shi Kyung untuk membantu Ahjusshi, tidak ding, mereka akan menurunkan barang bersama-sama lalu mereka akan mendirikan tenda disana.

"Bu, kita akan mendirikan tenda?" Tanya Shi Young.

"Dimana? Kenapa?" Imbuh Shi Kyung.


Di halaman, nenek sedang membersihkan guci penyimpan makanan (seperti kimchi, pasta kacang, pasta cabai dan bumbu-bumbu). Tapi ia tidak tenang karena mendengar keributan di luar.

Di luar mereka ribut mendirikan tenda tapi gagal terus.


Ibu kesal, sudah berapa jam mereka mencoba tapimasih belum berhasil juga. Kalau begitu Shi Young menyuruh Ibu untuk mendirikannya sendiri. Ibu tambah kesal, apa?!

"Ibu tidak bisa melakukannya sendiri, jadi kenapa membawanya kesini?"

"Shi Young-ah~" Tegur Bibi Jung Soo.

Shi Kyung bertanya pada Bibi Jung Soo, apa benar Bibi Jung Soo membawa tenda yang tepat (masih dalam keadaan baik)? Bibi Jung SOo juga tak yakin, ia hanya membawanya saja karena diperintah Ibu.

Shi Kyung: Ibu, misalkan kita mendirikan tenda, apa ibu benar-benar berpikir kita bisa tidur disini?

Shi Young: Itu yang kumaksud. Bahkan untuk semalam pun. Bagaimana bisa empat orang tidur di dalamnya? Apa menurut ibu jika kita melakukan ini, Nenek akan mengasihani kita dan membuka pintu?

Ibu: kalau ini berhasil bagaimana? Kecuali kau memiliki solusi yang lebih baik, jangan katakan sepatah kata pun dan pasang tendanya.

Shi Young: Masih ada yang lebih baik dari pada tenda. Aku benci tenda ini!

Shi Young berjalan pergi, ia bagkan tak memperdulikan Ibu yang memperingatkannya kalau mereka sedang tidak di Seoul sekarang, melainkan di tempat asing.


Shi Kyung turun tangan, ia berkata akan membawa Shi Young kembali. Maka, Ibu hanya berdua dengan bibi Jung Soo untuk mendirikan tenda.

Shi Kyung berhasil mengejar Shi Young dan akhirnya Shi Young berhenti tapi bukan karena Shi Kyung melainkan sesuatu yang ada di depan mereka.


Itu adalah iring-iringan pemakaman yang biasanya hanya dijumpai di drama sejarah. Shi Young dan Shi Kyung terkejut melihatnya, tak menyangka tradisi itu masih ada.

Dalam iring-iringan itu ada Park Ga Ram (Baek Chul Min) yang ikut memikul tandu.


Shi Young: Kau pikir kau bisa  tinggal di sini? Ada gadis berpura-pura menjadi mayat dan sekarang ada pemakaman. Tidakkah semuanya terasa aneh?

Shi Kyung: Lalu bagaimana?

Shi Young mengajak Shi Kyung untuk kabur ke Seoul. Mereka bisa bekerja paruh waktu untuk membiayai hidup selama disana. Shi Kyung berteman dengan Myung Soo Oppa, maka tinggallah di warnet dan ia bisa tinggal di rumah temannya.

"Aku yakin setelahnya Ibu akan mendapatkan tempat tinggal untuk kita. Ayo kembali sekarang, buat tenda, dan berpura-pura mendengarkan Ibu. Kita bisa menyembunyikan barang-barang kita di mobilnya Bibi Jung Soo--"

"Kau ingin pergi malam ini. Bagaimana?"

"Lalu! Apa kau akan tidur di tenda itu?"

"Tidak."

"Aku akan mencari cara untuk pergi. Ayo kembali."



Shi Young jalan duluan, tapi Shi Kyung masih tertarik melihat iring-iringan oemakaman itu.


Nenek keluar dengan membawa bungkusan kain merah muda. Ia melihat tenda dan semua barang-barang disana, ia berdecak.


Sementara keempatnya ada di mobil Bibi Jung Soo. Shi Kyung dan Shi Young tak mau keluar dari mobil, mereka akan tidur disana.

"Tidur di tenda saja. Keluar." Paksa Ibu.

"Apa Ibu berencana melakukan demonstrasi tenda kepada Nenek?" Tanya Shi Kyung.

Ibu tetap memaksa mereka keluar dan bicarakan semuanya.


Saat mereka keluar, barulah mereka sadar nenek memperhatikan. Ibu lalu mengejar nenek untuk memohon.


Shi Young mengkode Shi Kyung untuk melarikan diri sekarang.


Bibi Jung Soo khawatir melihat ke arah Ibu dan saat ia menoleh, sudah tidak ada siapa di samping mobil. Bibi bingung, kemana juga mereka ini?


Nenek ke rumah sakit dan seorang dokter menyapanya, mau keluar lagi? Nenek heran, dokter itu masih di sana selarut ini?

"Aku harus bertemu kakek Yong Gi." Kata nenek.

"Oh, benar. Anda pasti  punya tamu di rumah."

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku dengar dari Ga Ram. Dia bilang dia melihat beberapa anak."


nenek lalu duduk bersama Dokter dan mulai cerita. Cucu-cucunya dan menantunya datang. Dokter terkejut,pasti nenek senang mereka datang.

"Masalahnya adalah aku sama sekali tidak senang bertemu mereka."

"Kenapa?"

"Apa mereka pernah mengunjungi atau meneleponku? Apa mereka pernah mengirimiku sesuatu saat liburan? Karena sekarang mereka tidak punya tempat tujuan, mereka membawa semua barang mereka. Apa mereka pikir aku akan lari menyambut mereka sampai lupa memakai sepatu?"

"Rasanya aneh. Aku tidak ingat seperti itu."

"Apa maksudmu?"

"Bahkan tahun lalu, menantumu datang bersama anak-anak. Siapa yang mengunci pintu dan mengusir mereka? Apa itu orang lain?"

"Aku tidak pernah melakukan itu."

"Saat menantumu menelepon selama liburan, kau menutup telepon dan menyuruhnya diam. Aku melihatnya dengan mataku sendiri, tahu?"


Nenek canggung jadi ia berdiri. Dokter bertanya, apa yang akan dilakukan nenek selanjutnya? Akan mengusir mereka?

"Sejak kapan kau begitu tertarik dengan urusan orang lain?"

"Orang lain? Anda bukan orang lain. Anda adalah anggota keluarga hospice."

"Benar. Keluarga hospice lebih dari cukup untukku. Aku tidak peduli jika mereka pergi atau tinggal disini. Beritahu mereka untuk melakukan apa yang mereka inginkan."

"Kakek Yong Gi pergi ke tempat penyimpanan."


Shi Kyung dan Shi Young terus jalan. Shi Kyung kedinginan jadi ia membuat suara. Tapi Shi Young menyuruhnya berhenti, katanya suara Shi Young itu bisa mengundang hantu.

"Hei, itu hanya takhayul." Kata Shi Kyung dan kembali membuat suara tadi, Ia lalu melihat ke atas dan mengatakan bintangnya sangat indah.

Shi Young tak peduli, ia menarik kakaknya itu untuk cepat karena mereka bisa ketinggalan bisa terakhir.


Shi Kyung menyadari ia ada di bawah pohon itu, pohon yang Kim Bon gunakan untuk bergantung. Ia membayangkan kejadian tadi.


Ibu dan Bibi Jung Soo terus menghubungi Shi Young tapi tidak ada jawaban. Bibi Jung Soo panik, bagaimana ini? Harus lapor polisi kayaknya.

"Tidak, biarkan mereka." Putus Ibu.

"Eonni~"

"Mereka merencanakannya dan melarikan diri. Tinggalkan mereka, dan biarkan mereka menderita."

"Mereka tidak tahu jalan, dan mereka tidak punya uang."

"Mereka akan kembali jika mereka tidak punya tempat untuk pergi."


Ibu kedinginan dan mengajak Bibi Jung Soo masuk ke tenda. Bibi Jung Soo pun menurut. Bibi tahu cuacanya sungguh dingin, tapi ia menyuruh Ibu untuk mencoba tidur sebentar. Jangan khawatir, ia akan berjaga.

"Baiklah kalau begitu." Kata Ibu, tapi Ibu rasa ia juga tidak bisa tidur.

"Kau mengejutkanku berkali-kali hari ini. Kau menyuruhku membawa tenda ini benar-benar merupakan misteri. Tapi bagaimana kau tahu nenek akan bereaksi demikian?"

"Jika kau mengenalnya, itu tidak mengejutkan lagi."

"Kupikir kau akan sedikit naif sepertiku. Kau sangat kuat. Jujur saja, kau sedikit tidak tahu malu..."

"Bagaimana denganmu? Kau mengikutiku. Bukankah kau yang tidak tahu malu?"

"Aku ikut kesini kalau-kalau dia mengizinkan kalian masuk."

"Apa kau bonus tambahan?"

"Mungkin. Apapun itu, aku tidak seperti kalian. Tapi, kau dan Nenek hidup seperti orang asing. Sekarang, kau membawa semuanya, dan mendatanginya seperti ini."

"Apa yang bisa kulakukan? Ini satu-satunya pilihanku."

"Aku tahu aku mengikutimu ke sini. Tapi, aku sangat takut pada Nenek jadi aku merasa jantungku akan berhenti. Kau benar-benar pandai berakting."

"Ah, tidak juga! Ini hanya naluri bertahanku."


Bibi Jung Soo kembali khawatir, apa kakaknya akan meninggalkan anak-anak seperti ini?

"Aku tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Aku harus menunggu Ibu membuka pintu. Yang bisa kulakukan hanyalah menunggu anak-anak kembali." Jawab Ibu.

"Akankah Nenek benar-benar membuka pintu?"

"Entahlah. Setelah apa yang terjadi dengan ayahnya anak-anak.. dia membenciku. Dia mungkin takkan pernah membuka pintu."

"Lalu apa yang akan kita lakukan?!"

"Dia tidak mau membuka pintu untukku. Kupikir dia akan berubah pikiran untuk anak-anak."


Anak-anak ketinggalan bis terakhir, jadi mereka berusaha menumpang mobil apa saja yang bersedia. Tapi setelah beberapa kali berusaha menghentikan mobil, mereka tidak berhasil.

Shi Young menyalahkan Shi Kyung sehingga mereka ketinggalan bis.

"Itu karena kau jelek." Kata Shi Young.

"Apa?!"

"Pakailah makeup."

"Kenapa tidak kau saja?"

"Kau makhluk yang jelek."

"Tidakkah kau melihat ke cermin?"

"Aku tidak punya cermin!"


Ada mobil lagi dan mereka mencoba lagi, kali ini berhasil! mobilnya mau berhenti. Si penumpang keluar, tapi ternyata dia adalah Si ketua geng dan kroninya. Shi Kyung terkejut, ia pun melarikan diri.

Shi Young panik, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, mana Shi Kyung meninggalkannya sendirian lagi?


Shi Young memutuskan untuk menghubungi Ibu. Ibu panik mendengar cerita Shi Young, ia berkata akan segera kesana bersama Bibi Jung Soo. Tapi kemudian ingat, mereka harus menghubungi polisi terlebih dahulu.

"Polisi? Apa ada yang terjadi pada Shi Kyung?" Tanya Bibi Jung Soo kaget.

"Cepat cari nomor kantor polisi di sini." Perintah Ibu.


Shi Young lari sekuat tenaga sambil memohon agar mereka tidak mengikutinya lagi.


Shi Young berlari ke rumah sakit. Mereka juga mengejar sampai kesana tapi tertangkap oleh perawat. Mereka takut, jadi balik arah.


Shi Kyung ternyata masuk ke salah satu bangsal untuk sembunyi. Namun, itu bertepatan dengan dokter yang mengumumkan kematian pasien di bangsal itu. Shi Kyung terkejut, ia pun diam-diam keluar lagi.


Namun sayang, geng melihatnya, tapi beruntung ia masih bisa lari. Shi Kyung pokonya lari sebisa mungkin dan ia malah menuju ruang penyimpanan.


Shi Kyung masuk ke dalam peti jenazah. Ia pikir sudah aman disana tapi geng mengetahuinya. Geng melihat ujung jaketnya keluar tadi tutup peti.

Lalu mereka memaku tutup peti. Shi Kyung panik, jangan!!!!! Tapi ia tidak bisa apa-apa.
"

Shi Kyung pasrah, apalagi mereka meninggalkan tempat setelah memaku peti itu.

"Aku tiba-tiba mengingat kata-kata Ibu. Apa ini kematian pertamaku?"


Ibu dan Bibi Jung Soo sampai di tempat Shi Young. ibu panik, kenapa Shi Kyung dikejar?

"Gak tahu. Apa ibu sudah menelepon polisi?"

Bibi mengiyakan lalu bertanya, apa Shi Young tahu kemana arah mereka lari? Shi Young menunjuk satu arah. Lalu polisi datang.


Shi Young menjelaskan pada pak polisi bahwa kakaknya dikejar tiga orang.

"Seseorang di rumah sakit mengatakan kalau empat siswa menyusup masuk. Ayo pergi kesana." Kata Pak polisi.

Bibi mengerti dan menyuruh mereka semua masuk mobil, ia akan mengikuti pak polisi dari belakang.


Staff RS juga menunggu di depan. Nenek heran, kenapa ada siswa menyusup kesana? Perawat juga tidak tahu karena hal ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Dokter: Mereka sepertinya bukan berasal dari sekitar sini.

Nenek: Hal-hal aneh terus terjadi. Siapkan peti matinya.

Seorang kakek: Baiklah.

Dokter: Siapa yang butuh peti mati hari ini?

Kakek: Seorang pemuda yang mengalami kecelakaan sepeda motor. Dia juga tidak punya saudara.

Nenek: Kupikir dia harus dikirim dengan pakaian pemakaman, jadi aku membawanya.

Dokter: Baiklah.


Lalu polisi datang bersama Ibu dan Bibi. Nenek terkejut melihat semua ada disana, ia mengira Ibu mengikutinya sampai ke sana.


Kakek yang menyiapkan peti tadi berteriak, ada orang di peti matinya. Mereka terkejut, lalu kesana untuk menyaksikan.

Si kakek membuka peti mati itu dan ternyata di dalamnya ada Shi Kyung. Keluarga khawatir, apa Shi Kyung masih hidup?

Perawat lalu memeriksa denyut nadi Shi Kyung dan untunglah masih ada.


Shi Kyung lalu dipindahkan ke bangsal perawatan. Semua menunggu sampai Shi Kyung membuka matanya. Shi Kyung perlahan membuka mata dan mengedarkan pandangan, semua senang melihatnya.

"Dimana ini?" Tanya Shi Kyung dan ingatannya tentang kejadian tadi langsung muncul.


Shi Kyung terbangun kaget. Bibi Jung Soo bertanya, apa yang terjadi? Perawat juga bertanya, ketiga anak laki-laki tadi yang melakukannya, bukan? dan memutuskan harus melapor ke polisi.

"Tidak, bukan mereka." Bantah Shi Kyung.

"Kenapa? Ini adalah kejahatan karena mengurung seseorang di peti mati." Balas Perawat.

"Sudah kubilang bukan  itu yang terjadi. Aku masuk ke peti mati sendiri."


Ibu tidak mengerti, apa alasannya? Dokter tak percaya, Shi Kyung tidak mungkin bisa memalunya sendiri.

"Aku tertidur disana. Seseorang pasti melakukannya secara tidak sengaja."

"Apa itu masuk akal? Bagaimana mungkin ada orang yang tidak tahu kau ada di sana?" Bantah Ibu.

"Kau masuk kesana sendiri? Kau masuk peti mati itu sendiri? Kenapa kau melakukannya?" Tanya nenek.

"Karena.. Karena aku tidak memiliki tempat untuk tidur. Aku tidak mau tidur di tenda."

"Karena kau tidak mau tidur di tenda? Itu tidak masuk akal. Katakan yang sebenarnya sekarang." Bentak Ibu.

"Itu yang sebenarnya terjadi. Aku tidak mau tidur di tenda. Tidak ada tempat untuk tidur."

Shi Young mendukung alasan Shi Kyung itu.

Kemudian ibu meminta ijin dokter untuk membawa putranya. Shi Kyung panik, ia berbaring lagi dan bilang kalau ia sedang sakit, ia benar-benar sakit.

Perawat: Dia tidak terluka di manapun. Dia bisa pergi.

Shi Kyung: Tidak, aku benar-benar sakit. Aku mengalami trauma mental dan merasa panik. Aku merasa sangat pusing, dan lengan serta kakiku mati rasa.

Nenek akhirnya luluh, mengajak mereka semua pulang.


Sampai di rumah, Ibu menyuruh mereka segera memasukkan semua barang ke halaman sebelum nenek berubah pikiran.


Nenek keluar untuk membagi kamar. Bibi dan Ibu bisa di kamar satu. Sementara Shi Young bisa tidur dengannya. Shi Young menolak, tapi Ibu memukulnya supaya mau.

Dan untuk Shi Kyung, nenek menyuruhnya menggunakan ruangan terpisah. Nenek menjelaskan kalau kamar itu belum pernah ditinggali seseorang dalam waktu yang lama, jadi akan terasa dingin di kamar itu tapi nenek sudah menyalakan pemanas dan meletakkan selimut di sana.


Shi Young protes, kenapa Shi Kyung mendapat kamar sendiri sementara ia harus berbagi dengan nenek. Ibu sigap, ia langsung menutup mulut Shi Young supaya diam.

"Kenapa kau memanggil kakakmu dengan namanya, Shi Kyung?"

"Aku memanggil Shi Kyung, Shi Kyung. Kenapa?"

Ibu menjelaskan, Shi Young dan SHi Kyung ada di kelas yang sama jadi Shi Young belum terbiasa memanggil Oppa. Ibu minta maaf.

Nenek menjelaskan pada Shi Kyung, kamar yang akan Shi Kyung gunakan adalah kamar ayahnya dulu sebelum kuliah. Ayah menggunakannya ketika seusia Shi Kyung.

"Dia selalu memiliki begitu banyak rahasia. Dia selalu mengunci kamarnya. Sekarang, kau bisa menggunakannya." Lanjut nenek sambil memberikan kuncinya pada Shi Kyung. Nenek lalu menyuruh Shi Kyung istirahat.


Bibi Jung Soo berkata, sepertinya mereka beruntung karena Shi Kyung.


Shi Kyung melihat ke arah kamar itu. Ia masuk ke sana dan ternyata ada banyak barang disana.


Shi Kyung juga melihat foto ayahnya.

"Jadi seperti ini ayahku saat seusiaku?"


Shi Kyung memandangi dinding, lalu memandangi gembok yang neneknya berikan.

"Rahasia? Rahasis apa itu?"

Shi Kyung meletakkan asal gembok itu di atas meja lalu menindihnya dengan tasnya.

Shi Kyung membaringkan diri di ranjang.

"Anehnya, aku tidak memiliki kenangan tentang Ayahku."


Shi Kyung menyibak selimutnya dan tak sadar sudah menjatuhkan sesuatu. Shi Kyung lalu menutup matanya.

"Malam itu, aku bermimpi tersesat di tempat yang tidak kukenal."


Pagi pun tiba, Ibu berteriak dari luar membangunkan Shi Kyung karena Shi Kyung harus ke sekolah.

Shi Kyung pun bangun dan ia baru melihat apa yang ia jatuhkan semalam. Disana tertulis, "Aku tahu jika aku tinggal cukup lama, hal seperti ini akan terjadi"


Sebelum berangkat, Ibu memberikan ponsel untuk mereka, ponsel model jadul. Shi Young tak mau dan ia mengembalikannya, tapi Shi Kyung menerimanya saja karena ia butuh betul-betul.

Shi Young berangkat duluan. Shi Kyung meneriakinya, mau kemana? Shi Young kan tidak tahu arah sekolah itu kemana?


Ibu memperingati Shi Kyung. Mulai hari ini SHi Kyung dilarang main game dan pulang larut.

"Ibu!"

"Dan juga, siapa tiga anak itu tadi malam? Apa itu.. tentang kau menjadi saksi?"

"Bukan. Bukan apa-apa, jadi jangan khawatir, Bu. Sudah kukatakan, bukan itu!"

"Ibu tidak perlu mengkhawatirkanmu?"

"Ya, benar!"


Ibu kesal dan kembali memukul Shi Kyung.

"Ibu! Aku dirawat di rumah sakit kemarin."

"Jangan pernah berpikir untuk melakukan sesuatu seperti yang kau lakukan di Seoul. Mengerti?"

"Tapi, ini tetap tidak benar. Aku banyak menderita kemarin. Aw.. Aw.. Aw... Ibu, kupikir aku butuh CT scan."

"Cepat dan ikuti Shi Young."


Shi Kyung naik bis dengan tidak bersemangat.

"Entah itu di Seoul atau disni, Semua gadis di Korea terlihat sama dari belakang. Rambut panjang, seragam sekolah, dan rok pendek. Mereka bahkan terlihat mirip dari samping dan depan. Mereka juga melihat ponsel mereka, berfoto selfie, atau bergosip."

Sementara Shi Young malah tidur.


Sampai Shi Kyung melihat gadis yang membuka jendela bis. Ia teringat, itu adalah gadis mayat kemarin. Ia jadi bersemangat.

"Ada seorang gadis di Korea yang berbeda dari yang lainnya."

2 komentar

D tunggu lnjtan sinopsisnya mba😊

Kayaknya bakal seru...Ditunggu kelanjutannya min,, hwaiting...!!!!

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon