Monday, September 4, 2017

Sinopsis Attention, Love! Episode 5 Part 2


Sumber Gambar: CTV 
 

Shao Xi tetap khawatir, ia tidak bisa pergi begitu saja. Shao Xi kembali untuk memberikan sesuatu.

"Jangan khawatir, aku tidak melihat apapun. Kau lanjutkan saja, aku pergi."


Jin Li tak berkata apa-apa, ia melihat catatan yang Shao Xi tinggalkan dan membacanya.

"Wang Jin Li, meskipun aku tidak tahu apa yang Kau tangisi, tapi aku dengar jika kau makan permen saat kau tidak bahagia, akan membuat hati mu merasa lebih baik! Semangat!"

Jin Li menggerutu, Shao Xi memanglah sesuatu, bahkan Shao Xi salah menuliskan namanya, bagaimana Shao Xi akan menghiburnya?

Tapi Jin Li tetap tersenyum dan makan permen coklat pemberian Shao Xi.


Di sekolah. ibu guru memperingatkan kalau ujian masuk Universitas tinggal empat bulan lagi, jadi pastikan untuk besiap, jangan malas-malasan.

Bu Guru Khusus menunjuk Shao Xi untuk lebih giat belajar.


Ru Ping menggerutui Bu Guru setelah kelas usai, selalu saja membicarakan ujian masuk Universitas, seperti tidak ada harapan lain saja kalau mereka gagal.


Obrolan mereka terhenti kala mereka mendengar suara motor dan itu adalah Jin Li yang membawa motornya ke dalam sekolah. Li Zheng melihat saat Jin Li mendekati Shao Xi.


Shao XI terkejut melihat kenekatan Jin Li mengendarai motor di dalam sekolahnya. Jin Li mejawab, ia tidak mau repot mencari Shao Xi dengan jalan kaki jadi ia mengendarai motornya saja.

Shao Xi akan protes lagi tapi Ru Ping segera menyela, untuk apa Jin Li mencari Shao Xi? Jin Li memberikan bekal makan siang, Ru Ping yang menerimanya.


Jin Li lalu menempel kertas di jidat Shao Xi dan menuliskan sesuatu. Ia memberitahu Shao Xi cara penulisan namanya yang benar.

Shao Xi kesal tapi belum sempat marah karena pak satpam datang mengejar Jin Li. Jin Li takut ketangkap, jadi ia cepat-cepat keluar.


Li Zheng semakin kesal melihatnya.


Ru Ping ciriga, kenapa Li Zheng berterimakasih pada Shao Xi, apa sesuatu terjadi diantara mereka? Ru Ping yakin benar dan memaksa Shao Xi memberitahunya apa itu.

"Tidak ada perkembangan selanjutnya!" Tegas Shao XI.

"Jangan bohong!"


Li Zheng tidak konsen selama pelajaran, ia mengingat bagaimana Jin Li bela-belain datang ke sekolah hanya untuk mengantarkan makan siang untuk Shao Xi.


Saat pulang sekolah, Jin Li ternyata sudah menunggu Shao Xi di depan gerbang. Ru Ping tak menyangka kalau Jin Li bakalan melakukan itu, ia menyimpulkan kalau Jin Li benar-benar menyukai Shao Xi.

"Ya Tuhan, aku bisa melihat seorang pria Tampan datang menunggumu! Aku sangat tersentuh. Aku memutuskan untuk mendukungnya."


Shao Xi membentak Ru Ping untuk berhenti bercanda dan ia menegaskan jangan menyebarkan hal ini kemana-mana, jika ia samoai mendengar rumor tentang Jin Li dan dirinya, ia pasti akan membuat perhitungan dengan Ru ing.

"Hei, apa hubungan ini denganku? Seluruh sekolah telah melihatnya datang menemuimu. Aku tidak menyebarkan itu! Zhong Shao Xi! Fighting!"


Shao Xi mendekati Jin Li, lalu mengajak Jin Li ikut bersamanya.


Li Zheng keluar dan kebetulan ia melihat Shao Xi dan Jin Li jalan bersama. Wajahnya tak enak.


Shao Xi mengajak Jin Li ke gang yang sepi, ia memperingatkan Jin Li untuk tidak datang ke sekolahnya lagi lain waktu, atau jangan salahkan ia jika nantinya ia bersikap tidak sopan pada Jin Li.


Jin Li punya alasan kuat kenapa ia datang ke sekolah Shao Xi, ia menyukai Shao Xi dan ingin mengejar Shao Xi.

"Kau nggak Punya Otak ya? kita baru bertemu beberapa kali, apa yang kamu suka dariku!"

"Aku hanya berpikir Kau menarik, dan pasti menyenangkan berada di sekitarmu. Apa itu salah?"

"Tentu saja salah! Bagaimana orang ini bisa begitu sembrono. Karena menurutmu aku menarik kmu bisa bilang kamu menyukaiku? Kesukaanmu itu tidak wajar."

"Lalu, menurutmu, apa yang harus aku lakukan untuk memenuhi standar keinginanmu? Dengan logikamu, jika aku bertemu denganmu beberapa kali, aku punya hak untuk mengatakan bahwa aku menyukaimu."


Shao Xi menjelaskan, menyukai orang itu tidak bisa diukur dari seberapa sering bertemu, tapi begitu menemukan kekuatan dan kelemahan orang yang hendak disukai.

"Kau akan ingin bersama orang itu, dan ingin benar-benar menghargai orang itu. Kau ingin dia bahagia dan menjadi orang yang membawa kebahagiaan itu. Perasaan tulus seperti itu yang seharusnya disebut menyukai seseorang."


Jin Li tiba-tiba maju dan menyudutkan Shao Xi, ia bisa menebak Shao Xi tidak pernah menjalih hubungan sebelumnya. Shao Xi menghindar dan mengelak, siapa bilang ia tidak pernah menjalin hubungan?

Jin Li semakin menemukan perbedaan Shao Xi dari cerita teman-temannya dan ia semakin tertarik. Shao Xi adalah cewek yang belum pernah ia koleksi sebelumnya, ia pikir berhubungan dengan Shao Xi akan sangat menghibur.

"Koleksi?"

"Bagiku, menyukai seseorang adalah sejenis intuisi. Aku dapat dengan jelas memutuskan apa aku menyukai seorang gadis saat pertama kali melihatnya. Sedangkan untukmu adalah seseorang yang membuatku jatuh hati sejak pandangan pertama."



Shao Xi memperingati Jin Li untuk menjauh darinya, karena biasanya cowok yang dekat dengannya akan terluka dengan sangat mudah.

Shao Xi langsung menendang perut Jin Li tanpa peringatan dan Jin Li dengan mudah tersungkur ke tanah.


Shao Xi membenarkan, ia memang tidak pernah menjalin hubungan sebelumnya, tapi apa benar Jin Li pernah benar-benar menyukai seseorang sebelumnya? Jika pernah maka Jin Li harus tahu bawasannya setiap gadis yang mengatakan menyukai Jin Li itu sangat serius.


Shao Xi lalu menjelaskan sambil mengingat perasaannya pada Li Zheng selama ini.

"Mereka mungkin menghabiskan waktu yang sangat lama sebelum mereka mengkonfirmasi apakah mereka menyukaimu atau tidak. Mereka sudah ragu, menunggu, khawatir menunggu sebelumnya, khawatir sebelumnya. Karena tindakan orang yang mereka sukai membuat mereka bahagia atau sedih sebelumnya. Ketika mereka membuka mulut mereka untuk mengatakan bahwa mereka menyukaimu, dibutuhkan banyak keberanian. Karena begitu mereka menjadi tulus dan serius, mereka takut terluka."


"Jadi, ketika ada cewek yang bilang mereka menyukaimu, pastikan kau menghargainya. Jadi apa benar orang sepertimu mengoleksi gadis-gadis untuk bersenang-senang, trus tiba-tiba kau bilang, kau menyukainya?"


Jangan karena Jin Li tampan maka berhak melakukan semuanya itu. Tapi jika Jin Li berpikir bisa memainkan Shao Xi seperti Jin Li memainkan cewek-cewek lain, Jin Li salah besar. Jika perlu, Shao Xi bisa memukuli wajah Jin Li sedemikian rupa sampai orang tua Jin Li tidak mengenali Jin Li lagi.


Jin Li bangun dengan susah payah, ia mengerti sekarang kenapa Shao Xi dijuluki Brader Zhong.

"Kalau kau sudah tahu! Menjuhlah dariku. "

"Tapi apa yang harus dilakukan? setelah aku melihat sisimu yang ini, sepertinya aku semakin menyukaimu."

"Apa kau mengira aku tidak mampu mengalahkanmu?"

Jin Li percaya Shao Xi mampu melakukannya tapi ia tetap menyukai Shao Xi, serius. Shao Xi sama sekali tidak mengerti, ia barusan memukul Jin Li tapi Jin Li malah bilang semakin menyukainya? Jin Li benar-benar tidak waras, cepat ke dokter sana!


Shao Xi pergi dengan penuh amarah. Jin Li memanggil, meminta SHao Xi mengosongkan waktu minggu ini, ia akan menjemput Shao Xi untuk nonton film bersama. Shao Xi berbalik, bukan untuk menyetujui tetapi untuk menunjukkan bogemnya.


Shao Xi melampiaskan kekesalannya dengan memukul helm Jin Li. Jin Li hanya bisa melarang dari jauh, tapi kemudian ia tersenyum.


Sementara itu, Li Zheng jalan sendirian di taman, ia bahkan sampai membayangkan kalau Jin Li dan Shao Xi berciuman.


Li Zheng lalu tiduran dibawah terik matahari, tapi bayangan Shao Xi malah muncul dari mana-mana. Pertama, muncul dari atasnya dan bertanya, kenapa ia merasa terluka saat membayangkan dirinya dan Jin Li berciuman?

"Aku tidak tahu." Jawab Li Zheng.

Kedua, Shao Xi muncul di sebelah kanan Li Zheng dan bertanya kenapa Li Zheng tidak suka dirinya bergaul dengan cowok lain? Kenapa Li Zheng penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan dan bahkan khawatir kalau aku akan tertarik dan bahkan akhirnya menyukainya?

"Aku tidak tahu." Jawab Li Zheng lagi.

Shao Xi kembali muncul kali ini di kiri Li Zheng, "Kau sangat pintar, Kau pasti tahu. cemburu! Akui saja. Kau suka aku."

"Bukan itu."


Li Zheng kembali ke rumah saat sudah gelap dan ia melihat Shao Xi di pinggir jalan hendak menyebrang. Li Zheng tersenyum lalu mendekati Shao Xi.

Shao Xi bertanya, kenapa Li Zheng pulang telat? Li Zheng juga balik bertanya, kenapa Shao Xi juga pulang telat?

"Ada hal yang harus aku bicarakan pada seorang teman, baru selesai, makanya aku baru pulang."

"Teman? Siapa?"

"Itu.."


Tiba-tiba ponsel Shao Xi berdering, dari nomor yang tidak Shao Xi kenal tapi Shao Xi tetap mengangkatnya. Itu adalah telfon dari Jin Li, Saho Xi terkejut, ia meminta Li Zhneg pulang duluan saja. Tapi Li Zheng tak mau, ia akan menunggu Shao Xi.


kemudian SHao Xi bicara agak jauh dari Li Zheng. Shao Xi bertanya, bagaimana Jin Li bisa tahu nomornya. Jil Li menjawab ia memintanya dari Ru Ping. Shao Xi kesal pada sahabatnya itu, tapi ia mencoba bersabar dan bertanya pada Jin Li, bukankah tadi ia sudah memperjelas semuanya pada Jin Li, tapi kenapa masih menghubunginya?

Jin Li menjawab, Shao Xi hanya memperjelas dari pihaknya saja, sementara ia belum. Jin Li kembali meminta Shao Xi mengosongkan hari minggu ini, ia akan mengajak nonton.

"Kapan Aku setuju nonton denganmumu?!" bentak SHao Xi,

Li Zheng mendengarnya dan hanya bisa mendesah kesal.


"Jangan menolakku dengan mudah begitu. Seperti yang Kau katakan, aku harus tahu kekuatan dan kelemahan seseorang, sebelum aku dapat mengetahui apakah aku menyukai seseorang atau tidak. Aku menghargaimu. Itulah sebabnya Aku telah memutuskan untuk bermain sesuai peraturanmu, Kita bisa mulai dengan mengenal satu sama lain. Minggu ini, kita bisa menonton film bersama. Dan pada saat yang sama, saling mengenal satu sama lain. Pelajari lebih lanjut tentang kekuatan dan kelemahan satu sama lain, maka mari kita lihat apakah kita bisa cocok."

"aku.. jangan.."

"jangan tolak aku dulu. Siapa tahu setelah film, Aku mungkin menyadari bahwa kau itu super membosankan dan sama sekali bukan tipe ku. Lalu aku tidak akan mengganggumu lagi, Tidakkah kamu setuju? Juga, Ru Ping memberi ku akun SOSMED mu, Aku telah menambahkanmu.Kau harus menambahkanku juga. Bye"


Shao Xi kembali pada Li Zheng, Li Zheng bertanya, teman Shao Xi mengajak Shao Xi nonton bareng? APa Shao Xi mau?

"Aku tidak tahu, aku akan pergi jika Aku dalam suasana hati yang baik." Jawab Shao Xi.

"Aku lupa memberitahumu, Tante mengirimiku pesan pagi ini menanyakan bagaimana hasil ujianku. Aku lupa membalasnya, jadi aku baru saja menjawab kalau peringkatmu turun 56 poin dari sebelumnya. Tante  terdengar marah."


Li Zheng lalu jalan mendahului Shao Xi. Shao Xi mengejarnya kesal, bagaimana Li Zheng bisa melaporkan hal itu pada ibunya. Kenapa Li Zheng menusuknya begini?

"Maka pergilah nonton!"

"Siapa bilang aku pergi? Aku bahkan tidak setuju."

"Kau sedang mempertimbangkannya."

"Konyol. Kau akan membuat ku dalam masalah!"


Semua anak takut saat melihat Shao Xi tidak seperti biasanya, bahkan Ru Ping pun menghindari Shao Xi. Shao Xi makin kesal dan mengejarnya, Shao Xi tak paham, bagaimana Ru Ping bisa menghianatinya dengan memberikan nomor ponsel dan akun sosmed-nya pada Jin Li.


Ru Ping merasa itu bukan masalah utama, ia menjelaskan apa yang ia dengar hari ini. Kemarin banyak yang melihat Shao Xi dijemput Li Zheng jadi hari ini mulai tersebar rumor bahwa Shao Xi tidak selera dengan siswa SMA dan mulai merayu mahasiswa.

"Apa?" Dia yang mendekati ku lebih dulu."


Shao Xi menceritakan apa yang ia lakukan pada Jin Li kemarin dan bagaimana tanggapan Jin Li. Shao Xi sama sekali tidak mengerti kenapa Jin Li masih berani bilang menyukainya.

Ru Ping menyesal karena tak melihatnya, ia harusnya menjadi saksi momen bersejarah itu, dimana ada seorang cowok yang berani menyatakan suka pada Zhong Shao Xi. Ia harus menghormat padanya.

Shao Xi kesal dan mencoba menggelitik Ru Ping. Ru Ping minta maaf, lalu bertanya apa yang terjadi setelah Jin Li mengungkapkan perasaannya itu.


SHao Xi murung karena setelah itu Jin Li menggunakan kata-katanya untuk melawannya, mereka belum akrab jadi Shao Xi belum boleh memutuskan menyukainya atau tidak. Jin Li mengajak nonton bareng agar bisa saling mengenal.

Ru Ping antusias, apa Shao Xi setuju. SHao Xi bilang ia belum menjawab. Ru Ping menasehati, apa sih yang SHao Xi tahan? Setelah ditolak apa Shao Xi tidak akan mengijinkan pria lain mendekat?

"Jadi di duniamu, satu-satunya cowok yang bisa kamu lihat adalah Yan Li Zheng?"


Shao XI menyadari Li Zheng datang, jadi ia cepat-cepat menutup mulut Ru Ping. Li Zheng menyapa Shao Xi dan Shao Xi memlasanya biasa.


Setelah Li Zheng naik, Ru Ping sengaja mengeraskan suaranya, tetap menyuruh Shao Xi pergi nonton bersama Jin Li, berilah Jin Li kesempatan!

"Oke, cukup. Li Ru Ping."

"Aku ingin mengatakannya terutama di depan wajahnya. Biarkan dia tahu apa yang dia lewatkan. Jika dia tidak menyukaimu, tentu saja orang lain akan melakukannya. Mengapa Shao Xi kita perlu dipengaruhi oleh orang lumpuh wajah itu? Hmph!"

"Sudahkah kamu selesai bicara?"

"Shao Xi, jika kamu takut itu terlalu canggung, aku bisa menemanimu disana."

"Baiklah baiklah. Eh! Bagaimana jika pada akhirnya, kau dan Wang Jin Li yang menjadi pasangan?"

"Itu tidak terdengar terlalu buruk. Wang Jin Li.. Dia.. Aku bisa menerimanya."

"Baik! aku akan memberitahu Xiao Yu sekarang, dan memintanya datang pada hari Minggu ini."

"Ahh, Aku mohon, tolong jangan. Dia akan menggangguku seperti orang gila."


Tanpa mereka sadari, Li Zheng ternyata menguping pembicaraan mereka.


Di rumah, Li Zheng membantu Ayah untuk membuka bisnis online. Tapi karena sudah larut, ayah kasihan pada Li Zheng dan meminta Li Zheng mengajarinya lagi nanti.


Li Zheng tiba-tiba membahas soal lingkaran di kalendar rumah, tanggal apa itu karena nama Ibu tertulis disana? Ayah baru ingat, itu adalah tanggal ulang tahun pernikahannya, ia bersyukur Li Zheng membahasnya.

"Oh, tidak heran." Kata Li Zheng.

"Tidak heran apa?"

Li Zheng tak sengaja mendengar Ibu bergumam tadi pagi di dapur, apa Ayah akan melupakannya lagi? Dan lihat saja kalau sampai itu terjadi. Ayah terlihat sangat khawatir.

"Om, apa Om beneran belum menyiapkan hadiah? Tapi melihat dari jadwal toko, Om seharusnya pergi belanja teh di pegunungan. Tidak akan ada waktu untuk menyiapkannya."

Ayah tambah bingung, lalu Li Zheng menawarkan bantuan, ia bisa membelinya tapi ia tidak tahu apa selera Ibu. Ayah mengerti, ia akan mencari pembantu untuk Li Zheng.


Ayah kemudian meminta Shao Xi untuk membantu Li Zheng membeli hadiah. Saho Xi sebenarnya agak malas. Ayah lalu mengingatkan Shao Xi bagaimana marahnya Ibu tahun lalu karena Ayah tidak menyiapkan apa-apa, mereka bahkan hampir berpisah.

Ayah lalu memberi Shao Xi uangnya sambil berkata kalau kehidupan pernikahannya bergantung pada Li Zheng dan Shao Xi.


Kebetulan Li Zheng keluar dari kamarnya, Ayah langsung berkata kalau Shao Xi akan membantu Li Zheng membeli hadiahnya. Ia akan bilang pada Ibu kalau mereka berdua sedang belajar di perpustakaan.

Ayah langsung pergi dan Li Zheng kembali ke kamarnya untuk bersiap, ia juga menyuruh Shao XI bersiap. Shao Xi kesal kenapa mereka berdua tidak mau mendengarkannya!


Shao Xi menghubungi Jin Li untuk membertahu kalau ia tidak bisa nonton bersama Jin Li, meskipun sebelumnya ia tidak berjanji tapi ia merasa tetap harus memberitahu.

Jin Li menduga Shao Xi hanya membuat-buat alasan saja supaya tidak jadi pergi dengannya. Shao Xi menjelaskan, ia benar-benar ada urusan.

Tapi ternyata Jin Li hanya bercanda, ia juga ada urusan lain sebenarnya. Tapi pastikan lain kali SHao Xi menerima ajakannya nonton.


Li Zheng dikamarnya menunggu dan saat Shao Xi mengetuk pintunya mengajaknya pergi, ia tersenyum. *Oh.. jadi Li Zheng pura-pura ingin membelikan kado supaya bisa pergi sama Shao Xi dan Shao XI gagal nonton bareng Jin Li.


Shao Xi sudah siap tapi ia melihat sepatunya gak feminim sama sekali, ia pun meminta Li Zheng menunggunya mengganti sepatu, alasannya sih karena sepatunya terlalu ketat.


Shao Xi melihat pasangan lain jalan sambil makan es krim, ia iri. Tapi Li Zheng sama sekali gak peka.


Shao Xi menyarankan untuk beli ini dan itu tapi Li Zheng selalu menolak, katanya itu semua bukan selera Ibu.

Shao Xi mebeli es krim, ia ingin berbagi tapi Li Zheng menolaknya.


Shao Xi malah keasyikan belanja permen, bukan hadiah untuk ibunya. Li Zheng kesal dan mengembalikan semua permen yang hendak Shao XI beli. Shao Xi kesal dan hanya membeli satu permen.


Akhirnya mereka mendapatkan hadiahnya, tapi karena terlalu banyak berjala, kaki Shao Xi lecet. Li Zheng bergerak cepat, ialangsung mengobati kaki SHao Xi dan menempelkan plester.

"Yan Li Zheng, jika kau tidak menyukaiku, janganlah terlalu baik adaku, oke?" Batin Shao Xi.


Li Zheng tidak mengerti kenapa dari tadi Shao Xi diam saja tanpa memberitahunya kalau kakinya luka? Li Zheng menoyor kepala Shao Xi manis. Shao Xi hanya diam saja.


Saat akan menyeberang, Shao Xi malah mematung, sementara Li Zheng sudah sampai seberang jalan. Li Zheng memanggilnya dan Shao Xi langsung berlari tanpa menengok kanan-kiri.


Li Zheng berteriak memberitahu Shao Xi kalau ada mobil melaju cepat ke arahnya. Shao Xi terkejut bukan main. Li Zheng akan menolong tapi ia kalah cepat dengan laju mobil itu. Kecelakaan pun tidak terhindarkan.

3 komentar

Caiyoo trs sinopsisny...daku penasaran...hehehe...xie xie ni 😀

Ditunggu kelanjutannya... Semakin menarik

Ditunggu lanjutanya

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...