Monday, September 11, 2017

Sinopsis Attention, Love! Episode 6 Part 1

 
Sumber Gambar: CTV
Pasangan Jin Li akhirnya muncul. Shao Xi kecewa karena Li Zheng gak jenguk dia waktu di Rumah Sakit, waktu pulang pun Li Zheng gak dirumah.

Kembali saat Li Zheng selesai mengobati kaki Shao Xi. Li Zheng heran, kenapa Shao Xi gak bilang kakinya lecet dan malah jalan terus?

"Kau tidak perlu Sok Berani di depan ku. Kau bisa mengandalkanku tahu!"

Li Zheng lalu berlutut membelakangi Shao Xi, menyuruh ShaoXi naik ke punggungnya.

"Tidak perlu! Aku bukan Cewek yang Lemah. Aku bisa jalan sendiri kok."

"Aku akan memberimu dua pilihan. Pertama, aku akan menggendongmu didepan, kedua aku akan menggendongmu dibelakang. Cepatlah!"


Shao Xi pun terpaksa naik ke punggung Li Zheng. Ia mengerti sekarang rasnay digendong oleh seorang cowok, karena sebelumnya ia yang menggendong para cowok.

"Maaf." Kata Shao Xi tiba-tiba.

Li Zheng pun mulai jalan, "Jika kau menyukainya, aku akan menggendongmu seperti ini lagi nanti."

Diam-diam Shao Xi tersenyum.


Jin Li kembali bertemu kakaknya. Kata kakaknya mereka akan bertemu orang penting, Presdir Lu dari Qiang Feng Corporation dan putrinya.

"Jangan-jangan ini perjodohan? Plis kak! Aku merasa sudah seperti Anjing pengembangbiakan kakak dan ayah."

"Jangan katakan kata-kata yang mengerikan itu. Kebetulan saja kita punya bisnis dengan mereka hari ini, plus kalian umurnya sama. Kau mengenalnya, itu akan bagus untuk kemitraan bisnis kita."

"Aku tidak mengerti, kenapa kau mendengarkan ayah? Sama sekali tidak ada gunanya bagiku untuk mengenal atau berkencan dengan seseorang demi keluarga Wang."

"Itu karena hal-hal yang kita hargai tidak sama. Di hatiku, Ayah dan kau berada di peringkat pertama. Siapapun yang bersamaku atau siapa yang aku nikahi, tidak jadi masalah."

"Tidak heran kenapa ayah sangat bangga padamu. Aku tidak bisa sama sepertimu. Baik, aku akan bersikap sopan hari ini, aku tidak akan kabur. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena berdebat denganmu hari itu."


Presdir Lu akhirnya datang dengan putrinya, An Xiao Qiao. Tapi An Xiao Qiao meminta Jin Li memanggilnya Angelina.

Presdir Lu menjelaskan, Xiao Qiao itu sepantaran dengan Jin Li dan tahun lalu Xiao Qiao tidak melakukan yang terbaik di tahun ketiga SMA, makanya dia bepergian ke luar negeri selama setengah tahun dan baru kembali beberapa hari ini, dia mengatakan ingin masuk Universitas.

Xiao Qiao mengoreksi, ia bukannya liburan tapi study tour di luar negeri. Presdir Lu setuju saja apa kata putrinya asalkan putrinya bahagia.


Presdir Lu melanjutkan, "Dia hanya tidak pandai dalam pelajaran Bahasa, Matematika, Humaniora, Sains, Olah Raga.. Emm.. pokoknya dia tidak pandai dalam hal apapun. Maksudku, dia tidak pandai menghafal barang. Aku ingin dia mendaftar ke Long Hua melalui skrining dan rekomendasi sehingga mudah bagi ku untuk mengawasinya. Tapi untuk tugas-tugasnya, bisakah aku merepotkanmu? untuk mengajarinya?"

Presdir Lu mengatakan kalau putrinya itu memiliki kepribadian yang sangat baik, benar-benar lembut dan baik hati, hanya saja sedikit manja.


Jin Li tak berani menolak, dan Presdir lu nampak lega. Jin Li bertanya, apa ayahnya tidak memberitahu Presdir Lu kalau nilainya jelek? Kakak tiba-tiba menepuk paha Jin Li, mengatakan ada nyamuk dan otomatis Jin Li berhenti bicara.

Kakak menjelaskan, Jin Li juga masuk ke Long Hua melalui skrining dan rekomendasi, itu juga baru sekitar setahun. Tapi kakak percaya Jin Li dapat membantu Xiao Qiao dalam ujian dan wawancara.

Presdir Lu ketawa, ia benar-benar lega sekarang. Kakak lalu mengajak Presdir Lu lihat-lihat, sementara anak-anak biar jalan berdua.


Ternyata Xiao Qiao anaknya sangat tidak sopan, ia tadi bersikap baik karena ada ibunya, ia tidak mau Jin Li sok akrab dengannya.

Xiao Qiao lalu mengajak Jin Li jalan, Jin Li heran, mau kemana mereka. Xiao Qiao menyadari, Jin Li memang tidak pandai, bahkan jika mereka tidak saling menyukai, untuk hari ini, mereka setidaknya harus berpura-pura. Mereka hanya perlu berkeliling dan berpura-pura sudah saling mengenalkan diri masing-masing.

"Setelah itu, Aku hanya akan mengatakan bahwa kita tidak cocok. Lalu kita tidak perlu saling bertemu lagi. Kau Paham?" Tanya Xiao Qiao.

"Aku paham."


Tapi Jin Li ada masalah lagi, ia hanya punya satu helm.

"I-don't-care. Aku tidak pernah duduk di mobil pria, terutama "mo-tor-cy-cle."

"Lalu bagaimana kita bisa pergi? apa dengan Bis? Kereta bawah tanah? atau sepeda?"

"Plis deh, aku punya mobil, oke? Les't Go!."


Xiao Qiao ternyata pemilik mobil sport warna kuning itu, tapi ia benar-benar pengendara yang buruk. Saat akan keluar area parkir, ia sudah menabrak dua mobil, dari depan dan belakang, tapi ia sama sekali tidak merasa bersalah.

Jin Li bergumam, apa Xiao Qiao membeli SIM-nya? Dan terakhir, Xiao Qiao menabrak motor kesayanagn Jin Li.

"Itu motor ku! An Xiao Qiao!" Teriak Jin Li, namun Xiao Qiao kembali bersikap tak bersalah.


Li Zheng mengajak Shao Xi ke toko sepatu. Shao Xi merasa sepatu bukan hadiah yang cocok untuk ibunya. Li Zheng menjawab, ia beli untuk Shao Xi bahkan tahu ukuran sepatu SHao Xi.

"Bagaimana Kau tahu ukuran sepatu ku?" Tanya Shao Xi.


Li Zheng selalu memperhatikan saat Shao Xi latihan berlari. Li Zheng bahkan menyadari sepatu Shao Xi sudah usang. Saat di rumah, ia diam-diam mengamati sepatu Shao Xi.


Di toko, Li Zheng berbohong, ia hanya tahu dari menebak. Sepatu Shao Xi datang, Shao Xi ingin memekainya sendiri, SHao Xi tidak pakai kaus kaki dan mereka juga sudah terlalu lama jalan, kakinya mungkin bau.

"Tidak apa-apa. Aku sudah menciumnya saat Aku memberikan plester di kakimu. Bau ini masih bisa kutahan." kata Li Zheng lalu memakaikan sepatunya.

Penjaga toko mengira Li Zheng adalah pacar Shao Xi, Shao Xi mau membantahnya tapi Li Zheng keburu memotongnya, jadi ia tidak bilang apa-apa.


Saat membayar di kasir, Shao Xi sengaja berdiri di samping Li Zheng, ia meletakkan tangannya disamping tangan Li Zheng, jadi ketika dilihat melalui bayang-bayang mereka seperti bergandengan.


Sementara itu, Jin Li naik mobil Xiao Qiao dimana Xiao Qiao yang mengemudi. Jin Li takut-takut gitu jadi tangannya tak lepas dari pegangan yang dipintu. Jin Li kesal, Xiao Qiao boleh saja menolak naik motornya tapi jangan ditabrak juga kali.

"Come On, Please! Mekanik bilang hanya butuh waktu tiga hari untuk memperbaiki motormu. Mereka akan menjadikannya motor baru yang sempurna. Bukannya aku tidak mampu membelinya, parahnya aku bisa mengimbangimu dengan yang lebih mahal."

Jin Li berteriak agar Xiao Qiao melihat depan karena dari tadi Xiao Qiao melihatnya.


Saat akan menyeberang, Shao Xi sengaja geser agar lebih dekat dengan Li Zheng. Shao Xi berkata akan mengganti uang Li ZHneg nanti setelah di rumah.

"Tidak perlu. Anggap saja itu hadiah karena sudah menang lomba." Kata Li Zheng.

"Tapi itu..."

"Jangan berpikir terlalu banyak. itu hal yang wajar, aku memberimu hadiah karena kau telah mencapai suatu keberhasilan. Bukankah kita berteman?

Shao Xi menangguk.


Lampu hijau sudah menyala dan Li Zheng langsung menyeberang tapi Shao Xi masih berdiri di tempatnya.


Sementara itu di dalam mobil, ponsel Xiao Qiao jatuh dan ia akan mengambilnya, tapi malah menginjak kuat pedal gas. Jin Li marah-marah, menyuruh untuk memperhatikan jalan selama menyetir.

Dan begitulah ceritanya bagaimana Shao Xi tertabrak, Xiao Qiao terkejut karena Shao Xi muncul tiba-tiba saat mobilnya melaju kencang. Beruntung Jin Li sigap, ia menahan Xiao Qiao dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menarik rem tangan, jadi mobil langsung berhenti, namun tetap saja Shao Xi tertabrak.


Shao Xi langsung dibawa ke Rumah Sakit. Xiao Qiao panik, bagaimana kalau Shao Xi mati? Jin Li menenangkan, Shao Xiakan baik-baik saja.

"Tapi dia hanya bisa terbaring diam. Tidak peduli apa yang aku lakukan, dia tidak akan bangun. Apa aku akan di penjara karena hal ini?"

"Jika Aku bilang dia baik-baik saja, maka dia akan baik-baik saja."


Ayah dan Ibu sampai, mereka panik, menanyakan pada Li Zheng apa yang terjadi. Li Zheng menjelaskan semuanyadan saat ini Shao Xi sedang dalam penanganan dokter.

"Siapa supirnya?" tanya ayah.


Xiao Qiao sudah meringsut takut, tapi tanpa disangka Li Zheng berdiri dan mengucapkan maaf. Ayah langsung mencengkeram kerah Li Zheng.

"Itu kamu, ya. Kau taruh dimana matamu saat menyetir hingga menabrak anakku? Biarku beri tahu. Jika sampai putriku tidak sadarkan diri, aku akan patahkan tulangmu!"

Ibu mengingatkan ayah, ini di Rumah Sakit, jadi ayah harus menjaga sikap, pelankan bicaranya.


Presdir Lu datang, Xiao Qiao langsung menghampiri. Presdir Lu heran, bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana Xiao Qiao bisa menabrak orang? Sontak ayah dan Ibu langsung menoleh pada mereka.

"Aku tidak sengaja menginjak pedal gas, Jadi aku menabrak cewek itu Mom!" Jawab Xiao Qiao.


Presdir Lu lalu menggandeng Xiao Qiao dan mengucapkan maaf pada Ibu dan Ayah, semua ini terjadi karena kebodohan anaknya, ia benar-benar minta maaf, ia akan bertanggung jawab sampai akhir, semua biaya pengobatan dan tagihan rumah sakit Shao Xi akan ia tanggung.

Ibu: Jangan bicara tentang itu sekarang. Putriku masih di ruang gawat darurat. Semuanya berantakan sekarang, Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Kita akan bahas lagi setelah dokter keluar.


Tak lama kemudian dokter keluar, menjelaskan kalau hasil pemeriksaan Shao Xi terlihat baik-baik saja, tidak ada luka dalam di otak atau organ dalamnya. Ada beberapa goresan di bahu dan lengan tapi mereka sudah mengobatinya, tidak serius.

"Tapi ligamen lututnya sepertinya cidera, kita perlu mengamati untuk melihat apa dia memerlukan pembedahan."


Setelah itu, Ayah, Ibu, Presdir Lu, dan Xiao Qiao masuk. Presdir Lu minta maaf atas kesalahan putrinya, Shao Xi bisa memaafkannya kan?

"Maaf, Aku tidak sengaja menabrakmu." Kata Xiao Qiao takut-takut.

"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, Aku juga tidak mati." Jawab SHao Xi sedikit bercanda jadi membuat ibu memukulnya karena bicara ngawur.

"Kau aman sekarang dan tidak ada yang terjadi karena Tuhan melindungimu." Kata Ibu.


Shao Xi celingukan ke arah pintu karena disana ada Li Zheng tapi tak kunjung masuk. Malah Jin Li yang masukduluan. Shao Xi jelas terkejut melihat Jin Li ada disana.

"Aku tidak menyangka bisa bertemu kau dalam situasi ini. Jika aku tahu ini, aku pasti sudah mengajak mu untuk menonton film."

Presdir Lu bertanya, apa Jin Li mengenal Shao Xi. Jin Li akan mengatakan yang sebenarnya tapi SHao Xi segera memotong dengan mengatakan kalau Jin Li adalah temannya.


Dokter datang, Shao Xi menanyakan bagaimana keadaan kakinya. Dokter menjelaskan kalau kaki SHao Xi yang paling berdampak parah, ligamen dan Tulang lutut Shao Xi mengalami cidera, mereka harus menunggu sampai bengkaknya hilang sebelum melakukan pembedahan atau fisioterapi.

"Apa kedepannya aku masih bisa berlari lagi?"

"Itu tergantung dari pemulihan dan terapi fisik. Tapi jika kau seorang atlet lari sebelumnya, mungkin butuh waktu lebih lama. Kau harus siap."


Shao Xi nampak sedih. Ayah menenangkan, dokter bilang Shao Xi masih bisa melakukan terapi fisik jadi Shao Xi masih memiliki kesempatan pulih dan bisa kembali berlari.

"Saat kita pulang, Ibu akan membuat sup ikan lebih banyak untukmu. sehingga Kau bisa makan lebih banyak dan banyak lagi. Kau masih sangat muda, terapi fisik tidak masalah." Kata Ibu.

Presdir Lu juga ikut menenangkan, ia pastikan Shao Xi akan ditangani staff terbaik di RS ini, baik dokter mapuoun fisioterapisnya.

"Jangan khawatir, kau pasti bisa berlari lagi." Kata Li Zheng.

"Jika kau membutuhkan bantuan, kau bisa memberi tahuku. Aku akan membantu mu." Kata Xiao Qiao.


Hanya Li Zheng seorang yang tidak mengatakan apapun, Li Zheng malah menghilang. Li Zheng ke Toilet, gak paham apa yang sedang dipikirkannya.


Presdir Lu dan Xiao Qiao dalam perjalanan pulang. Xiao Qiao cerita kalau tadi Jin Li melindunginya jadi ia tidak terluka, baik saat kecelakaan terjadi maupun saat di Rumah sakit, melindunginya dari ayah SHaoXi yang tampak menakutkan.

"Sepertinya Kau memiliki perasaan padanya." Kata Presdir Lu.

"Siapa yang memiliki perasaan padanya?"

Tapi walaupun membantahnya, Xiao Qiao tetap mengingat bagaimana baiknya Jin Li tadi.


Xiao Yu dan Ru Ping menjenguk Shao Xi, mereka mengatakan gosip yang beredar di sekolah bahwa Shao Xi terluka karena berkelahi. Shao Xi kesal, ia menjelaskan kalau ia ditabrak mobil, apa perlu ia minta catatan kepolisian untuk membuktikannya, hah?

Ru Ping lalu bertanya, apa kata dokter, kapan Shao Xi bila pulang? Shao Xi menjawab, ia hanya perlu tinggal selama beberapa hari dan melihat apakah ada efek samping, ia akan istirahat di rumah beberapa hari dan begitu kakinya membaik, ia bisa kembali ke sekolah.

Ru Ping lega mendengarnya dan tanpa mereka tahu Li Zheng sampai di depan pintu, tapi memilih tidak masuk, hanya mendengarkan.


Ru Ping cerita, ia bertanya pada Li Zheng bagaimana keadaan Shao Xi tapi Li Zheng bilang untuk menjenguk Shao Xi saja jika ingin tahu, ia bahkan mengajak Li Zheng datang bersamanya dan Xiao Yu.

"Lalu kenapa dia tidak ikut dengan kalian?" Tanya Shao X.

"Dia mengabaikan kita. Sepertinya dia tidak peduli denganmu." Jawab Xiao Yu tapi mendapat tendangan dari Ru Ping, akhirnya ia mengoreksi "Aku rasa dia mungkin mengira kau selalu terlihat kuat pasti kau tidak akan mati."

Tapi itu malah membuat Ru Ping kesal, "Jika Kau tidak tahu bagaimana cara berbicara, maka jangan bicara."

Ru Ping bertanya pada Shao Xi, apa Li Zheng datang menjenguknya? Shao Xi menggeleng sedih. Di luar, Li Zheng berjalan pergi


Untuk mengembalikan suasana hati Shao Xi, Ru Ping mengatakan akan mentraktir makanan, ia juga menunjukkan suplemen yang ia bawa.


Sampai malam, Li Zheng masih belum datang menjenguk Shao Xi. Shao Xi memutuskan untuk mengirim pesan duluan.


"Yan Li Zheng, kamu sangat sibuk akhir-akhir ini? Lihatlah kakiku! Bengkaknya sudah berkurang. Aku akan segera pulang."

Li Zheng ternyata masih ada di Rumah Sakit, ia ada di tangga. Lalu pesan Shao Xi kembali masuk, "Hei, apa kamu baik-baik saja? Jika ada sesuatu, Kau harus memberi tahu ku dulu."

Li Zheng tak menjawabnya, ia malah sedih. Shao Xi sendiri sedang sakit, tapi kenapa masih peduli dengan perasaannya?


Shao Xi menunggu jawaban, ia bergumam, apa Li Zheng sudah tidak peduli padanya? Sebenarnya ada apa?


Li Zheng memegang pegangan pintu, siap membuka pintu. Lalu kita melihat pintu kamar Shao Xi terbuka tapi yang masuk malah perawat untuk memeriksa keadaannya. Shao Xi tampak kecewa.

Li Zheng sendiri masih ada di luar, tapi tidak berani masuk.


Li Zheng terbagun dari tidurnya karena mimpi buruk mengenai kecelakaan mobil yang ia alami dulu, ia trauma. Oh~~ mungkin ini sebabnya Li Zheng tak bisa menemui Shao Xi.


Li Zheng lalu turun, ia melihat sepatu SHao Xi, awalnya noda darah di sepatu itu hanya sedikit tapi lama-lama menjadi semakin melebar. Li Zheng terejut dan langsung melemparnya.


Li Zheng kembali mendengar suara tabrakan mobil, ingatannya kembali, ia mengingat bagaimana dulu ia mengalami kecelakaan mobil bersama Ibu dan ayahnya. Mobil terbalik dan bahan bakar menetes ke aspal. Ia menangis ketakutan dipelukan ibunya.


Li Zheng lalu mengambil kembali sepatu Shao Xi, berusaha membersihkan noda darah dengan lengan bajunya.


Kebetulan ayah turun dan melihat apa yang dilakukan Li Zheng itu, tapi ayah tidak menghampiri, ayah membiarkan Li Zheng dan memilih kembali ke kamar.


Shao Xi sudah diijinkan pulang, ayah selesai berkemas dan Shao Xi kembali memandangi ponselnya, Li Zheng masih belum membalas pesannya.

Shao Xi menggerutu dalam hati, "Aku sudah berada di rumah sakit selama beberapa hari. Yan Li Zheng bahkan tidak pernah menemuiku. Dia sungguh terlalu. Baiklah, Kau ingin mengabaikanku, kan? Lalu, aku juga akan mengabaikanmu!"


Pintu terbuka, tapi yang masuk hanya Ibu seorang. SHao Xi bertanya dimana Li Zheng, ini hari sabtu pasti Li Zheng tidak sekolah, kan? Li Zheng bahkan tidak datang saat ia meninggalkan rumah sakit?

"Apa yang sedang kau ocehkan? Li Zheng sangat lelah. Dia sedang beristirahat di rumah." Jelas Ibu.

"Betul. Jangan berpikir bahwa Li Zheng tidak memiliki hati nurani dan tidak datang mengunjungi Kau. Dia juga sangat lelah karena kau dirawat di rumah sakit." Kata Ayah.


"Kau bahkan tidak tahu. Beberapa hari kau dirawat di rumah sakit. Selain sekolah, Li Zheng membantu kita di toko. Dia bahkan membantu pekerjaan rumah. Dia mencuci pakaian dan melakukan semua pembersihan. Terkadang saat kita terlalu sibuk untuk makan, Li Zheng pergi membeli makanan untuk kita." Jelas Ibu.


Ibu memuji Li Zheng yang sangat perhatian dan baik banget. Tapi Shao Xi masih cemberit karena Li Zheng bahkan tidak datang sekalipun untuk menjenguknya.


Shao Xi sudah kembali ke rumah. Ayah memanggil Li Zheng tapi Li Zheng tidak menjawab, ayah pun memeriksa di kamar Li Zheng, tapi ternyata Li Zheng tidak di rumah.

"kemana? Aku melihatnya di rumah sebelum aku pergi. Aku bahkan bertanya apa dia ingin ikut bersama kita untuk menjemput Shao Xi." Jelas Ibu.


Shao Xi tambah cemberut. Ibu menenangkan, hanya kebetulan saja Li Zheng pergi saat Shao Xi pulang, Li Zheng tidak mungkin sengaja, bahkan Li Zheng sudah menyiapkan hadiah untuk Shao Xi, ibu lalu mengambilkannya.


Hadiah Li ZHeng adalah catatan semua pelajaran selama SHao Xi tidak masuk. Ibu kembali memuji Li Zheng yang sangat perhatian.

Tapi itu sama sekali tdak mengubah suasana hati SHao Xi, "Lalu kenapa dia tidak mengunjungiku di rumah sakit? Aku mungkin meninggal di rumah sakit dan dia masih mencatat."

Ibu menoyor kepala Shao Xi, "Ngomong apa sih kau ini?"

"Tapi memang seperti itu! Aku berada di rumah sakit selama beberapa hari. Ru Ping datang menemuiku. Bahkan Xiao Yu pun datang. Tapi Yan Li Zheng tidak."

"Kau juga tidak akan segera membaik bahkan jika Li Zheng datang menjenguk, kan?"

Ayah ikut bicara, "Malam ini kita akan merayakan kepulangan  putri kita yang berharga dari rumah sakit. Jangan marah, oke? Ayah akan menelfonnya."


Tapi Li Zheng tidak bisanya pulang sangat larut, katanya ada teman yang meminta tolong untuk menggantikan bekerja. Ia setuju karena ia berhutang padanya.


SHao XI kembali kecewa setelah mendengar cerita ayah. Tapi ia pura-pura baik-baik saja, mereka bisa makan-makan bertiga saja!


Li Zheng membatin, "Jika Kau hanya bisa membawa ketidakbahagiaan kepada orang lain, apa hakmu untuk bahagia?"


Di rumah. Shao Xi makan enak dengan keluarganya, sementara Li Zheng malah menyendiri di luar menatap rembulan.


Shao Xi mendengar Li Zheng pulang, ia siap-siap merapikan rambutnya lalu keluar. Tapi Li Zheng langsung masuk kamar dan menutupnya rapat.

Shao Xi akan mengetuk pintu kamar Li Zheng tapi tidak jadi. Li Zheng sebenarnya di dalam menunggu di depan pintu.


Li Zheng melamun, sebenarnya ia datang ke rumah sakit tapi Shao Xi sudah tidur, Li Zheng bahkan menyentuh tangan Shai Xi.

Shao Xi menggeliat, Li Zheng akan pergi karena takut SHao Xi bangun tapi Shao Xi malah menggenggam jarinya. Pelan-pelan sekali Li Zheng melepaskan jarinya lalu keluar. Li Zheng tampak terluka.


Di luar, Li Zheng menangis.


Shao Xi kembali ke kamarnya, ia mengingat saat-saat sebelum ia kecelakaan, dimana Li Zheng memperlakukannya dengan manis.

1 komentar so far

Ditunggu lanjutannya mba... Terima kasih

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...