Saturday, September 16, 2017

Sinopsis Attention, Love! Episode 7 Part 1


Sumber Gambar: CTV


Ibu mengatakan pada semuanya tentang hasil chekup Shao Xi. Dokter menyarankanSaho Xi untuk tidak ikut ujian dulu karena bisa tambah parah nanti, tapi Shao Xi kekeh pengen ikutan. Ayah tidak setuju, lebih baik Shao Xi mengulang daripada malah tambah sakit, kesehatan itu penting.

Shao Xi lalu minta pendapat Li Zheng. Li Zheng menjelaskan, masih ada jalan masuk Universitas, tanpa harus mengikuti ujian praktek. Shao Xi bisa menggunakan hasil pertandingan Shao Xi sebelum-sebelumnya, ia akan cari bagaimana caranya.

"Kenapa kau mengatakan itu juga?" Kesal Shao Xi.

"Zhong Shao Xi, ini bukan saatnya untuk memaksakan diri. Jika kau tidak pulih dengan cukup baik, kau mungkin tidak bisa berlari lagi. Apa kau masih bersikeras untuk mengikuti ujian praktek?"


Jin Li angkat tangan, ia tidak setuju dengan yang lain, ia mendukung Shao Xi untuk ikut ujian. Ayah membentak, ini bukan urusan Jin Li, Jin Li hanya seorang pekerja Part time!


Jin Li menjelaskan, jika Shao Xi tidak mencobanya, bisa dipastikan Shao Xi akan menyesalinya, Shao Xi akan kepikiran tiap hari, "bagaimana jadinya jika aku tetap ikut ujian?" Karena sejatinya dibandingkan dengan kegagalan, apa yang membuat orang lebih kesal adalah penyesalan.

"Apalagi aku sudah meneliti hal ini. Ada atlet lari yang ligamennya juga terluka seperti Shao Xi berhasil kembali berkompetisi dalam tiga bulan setelah melalui terapi fisik bersamaan dengan diet yang tepat dan hasilnya tidak berbeda dari sebelumnya. Jadi, pemulihan total dalam waktu tiga bulan bukanlah tidak mungkin."

Shao Xi senang mendengarnya, ia berterimakasih.


Shao Xi akan mulai pemulihannya. Saat ini ia memakai sepatu dan Li Zheng tiba-tiba menghampiri.

"Akanku temani." Kata Li Zheng.


Dan begitulah, setiap hari Li Zheng menemani Shao Xi latihan, ia juga membawakan Shao Xi minum.


sampai akhirnya Shao Xi mampu berjalan dengan kecepatan orang normal, ia sangat senang dan berharap ia mulai berlari sebelum ujian.


Li Zheng melarang Shao Xi memaksakan diri, harus tetap menjaga istirahatnya. Shao Xi tersenyum, ia tidak khawatir lagi kali ini, ia pasti sembuh total sebelum hari ujian.


Sementara itu, Jin Li lagi nyantai di kafe, ia iseng mencari syarat-syarat ujian yang akan diikuti Shao Xi. Jin Li bergumam, sepertinya Shao Xi akan sulit pulih sebelum ujian.

"Apa dia akan memaksa dirinya terlalu keras lagi? Dia pasti akan melakukannya."


Jin Li melihat ke luar dan disana ada sepasang kekasih sedang berciuman. Jin Li heran tob ada sebuah motel berjarak 500 meter di sebelah kanan, kenapa mereka terburu-buru gitu sih?


Xiao Qiao tiba-tiba datang, Jin Li refleks menutupi mukanya agar tidak dilihat Xiao Qiao.


Ternyata cowok yang berciuman dengan kekasihnya itu adalah kekasih Xiao Qiao. Xiao Qiao memergoki mereka dan marah besar. Xiao Qiao mengguyur mereka air.


Xiao Qiao berakata, jika ingin putus katakan dengan jelas, jangan diam-diam menjalin hubungan begini?

"kau anggap aku apa?"

Si cewek itu juga marah dan mengguyur pacar Xiao Qiao.

Sang pacar tidak mengerti, kenapa Xiao Qiao bersikan begini padanya? Mereka kan sudah putus lewat telfon kemarin? Apa perlu diverivikasi lewat e-mail juga?


Si pacar akan balik memukul Xiao Qiao tapi Jin Li datang dan menahan tangannya.

"Selingkuh itu cukup buruk. Tidak benar memukul wanita juga, bukan?"

Sang pacar tak terima, hendak menghajar Jin Li tapi Jin Li tentu saja lebih unggul. Jin Li memperingati, wanita itu harus dilindungi, bukan dikasari, apalagi dipukul.


Jin Li lalu membawa Xiao Qiao pergi dengan menggendeng tangannya, mengaku kalau mereka sekarang berpacaran.


Xiao Qiao makin terpesona dengan Jin Li.


Jin Li pun melepaskan Xiao Qiao setelah mereka agak jauh. Jin Li memanggil Xiao Xi dengan nama aslinya, Xiao Xi mengoreksi, namanya itu Angelina.

"Terserah. apa kamu terluka?"

"Tidak."

"Apa yang salah dengan tanganmu?"

Xiao Qiao lalu menyembunyikan tangannya kebelakang, sedaritadi ia menggenggam tangannya yang tadi digandeng Jin Li.

"Bukannya aku ingin mengejekmu. Tapi selera mu benar-benar buruk. Bagaimana kau bisa menyukai pria yang akan memukul cewek?"

"Dia tidak seperti itu sebelumnya."


Xiao Qiao menjelaskan, mantannya itu sebelumnya sangat baik padanya, tidak pernah kasar. Sebelum Xiao Qiao mulai menyukainya, dia terus mengatakan betapa dia menyukainya. Namun, ketika akhirnya ia mulai jatuh cinta padanya. Dia tidak lagi mencintainya.

"Baginya, membuat wanita menyukai dia seperti permainan. Begitu wanita menyukainya, permainan sudah berakhir."

Jin Li lalu teringat kata-kata Shao Xi saat ia mengutarakan perasaannya dulu.

Jin Li berkata, "Orang seperti dia yang mengejar cewek hanya untuk kesenangannya tidak punya hak untuk mengucapkan kata "suka". Saat kau mulai menyukai seseorang, tindakan mereka akan membuat kau merasa bahagia atau sedih. Itu berarti tandanya orang itu benar-benar menyukai mu, mereka tidak akan menyakiti mu dengan mudah. Tapi kau tidak bisa disalahkan. Orang itu adalah orang yang salah. Seharusnya dia tidak mengatakan kalau dia sangat menyukaimu."


Jin Li tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Xiao Qiao, "Jadi ke depan, jaga agar matamu tetap terbuka lebar. aku percaya kalau setiap gadis, termasuk kau, memiliki seorang pria yg layak kau cintai, menunggumu untuk menyukai mereka. Jadi lupakan si brengsek itu."

Jin Li lalu pamit duluan. Xiao Qiao memandangi punggung Jin Li yang semakin menjauh, ia membatin, "Seorang pria layak untuk ku cintai..."


Jin Li bengong saat sedang bersama teman-temannya, ia kembali mengingat kata-kata Shao Xi.

"Karena cowok yang dekat denganku, terluka sangat mudah."



Jin Li tiba-tiba tersenyum sendiri, temannya menyadari dan bertanya apa ada kabar baik yang ingin Jin Li bagikan kepada mereka?

Jin Li kesal, apa ia harus berbagi semuanya? Lalu, apa temannya ingin juga berbagi pacar?


Seseorang gadis menghampiri Jin Li, marah-marah karena Jin Li tidak ada kabar, juga tidak mau membalas pesannya, apa Jin Li masih menganggapnya pacar?

Jin Li kembali teringat Shao Xi, "Orang-orang seperti mu yang menggunakan kata-kata seperti "mengumpulkan", "senang-senang" untuk mengejar gadis demi kesenangannya, apa gunanya kamu menggunakan kata "SUKA"?"


Jin Li mendapatkan ide. Ia mengumpulkan semua gadis yang sedang didekatinya dan menjelaskan secara gamblang.

"aku sedang dalam fase menggoda Kalian semua, aku ingin memacari kalian, tapi aku tidak pernah benar-benar menyukai kalian. Bahkan jika aku bilang begitu, itu hanya untuk menghiburmu dengan mengatakannya dengan santai. Tapi aku tidak ingin melanjutkannya lagi. Jika kalian merasa kesal atau marah karena aku putusan kalian semua pada saat bersamaan maka pukuli aku."


Semua gadis itu mengeroyok Jin Li. Teman-teman Jin Li bersembunyi, mereka ragu mau menolong Jin Li atau tidak, mereka baru tahu kalau wanita itu sangat menakutkan.


Jin Li sedang dalam perjalanan saat ini. Ia membayangkan waktu itu di bioskop hanya ada dia dan Shao Xi, dimana Shao Xi menangis dan ia menyodorkan tissu. Jin Li tersenyum.


Jin Li ke rumah Shao Xi, tapi ayah yang dirumah, Jin Li memaksa untuk dipanggilkan Shao Xi. Ayah menyuruh Jin Li pergi baik-baik selagi ia masih sabar.


Ibu kebetulan turun dan langsung membukakan pintu untuk Jin Li. Jin Li memuji Ibu yang terlihat maikin cantik walaupun ia tidak melihatnya dalam sehari.

"Aiyo! kau benar-benar tahu bagaimana cara berbicara, kau anak nakal nakal!"

"Saya hanya mengatakan fakta."


Ibu melihat luka diujung bibir Jin Li dan hendak memriksanya tapi ayah cekatan dan langsung menjauhkan ibu dari Jin Li. Ayah kesal, Jin Li kemarin mengejak putrinya dan sekarang malah istrinya.

Jin Li tidak begitu menghiraukan ayah, ia bertanya pada Ibu dimana Shao Xi. Ibu menjawab Shao Xi sepertinya ada di danau, cari saja kesana. Jin Li langsung berterimakasih dan pergi kesana.


Ayah kembalikesal, kenapa Ibu memberitahu dimana Shao Xi? Ibu menjelaskan seorang pria yang mengatakan langsung kalau dia menyukai seorang gadis adalah benar-benar ganteng.

"Sama sepertimu saat kau masih muda." Lanjut ibu.

"aku tahu."


Jin Li melihat Shao Xi, ia langsung berjalan mendekat.


Shao Xi terjatuh, dan ada dua pria yang membantunya berdiri. Li Zheng menyuruh Jin Li melepaskan Shao Xi, ia bisa membantunya sendiri.

"Berdasarkan apa? aku jelas memeganginya lebih dulu. Jika seseorang harus melepaskannya, seharusnya kau lah dia."

Shao Xi menengahi, ia melepaskan diri dari mereka berdua, ia bisa sendiri kok.


Shao Xi bertanya, kenapa Jin Li ada disana? Jin Li ragu mau bilang alasannya, tai ia mengatakannya juga bahwa ia datang untuk meminta Shao Xi bertanggung jawab.

"Tanggung jawab apaan?"

"Apa kau ingat kata-kata yang kau katakan kepadaku? kau mengatakan tipe orang sepertiku yang menggunakan kata-kata "mengumpulkan", "bersenang-senang" tidak punya hak untuk mengatakan "suka". Karena semua yang kau katakan, aku memutuskan kalau aku tidak akan pernah menggunakan sikap itu untuk menjalin hubungan dan karena itu juga aku bertemu dengan semua gadis yang sedang aku mainkan."


Jin Li memegang kedua bahu Sha Xi, "Dan kemudian mengatakan kepada mereka bahwa aku tidak menyukai mereka. Ddan karena itu aku dipukuli! Tidakkah kau pikir kau harus bertanggung jawab? Zhong Shao Xi, kau adalah wanita pertama yang membuatku sangat serius untuk membuktikan bahwa aku menyukaimu."


Li Zheng langsung mendorong Jin Li menjauh. Jin Li mempertanyakan status Li Zheng saat ini, teman Zhong Shao Xi atau pacar Zhong Shao Xi?

"Teman." Jawab Li Zheng.

"Kata-kata yang baruusan aku katakan, membuatnya tak nyaman? Atau kau yang tak nyaman?"


Shao Xi kembali menghentikan mereka, tak usahlah bertengkar.


Shao Xi menjelaskan pada Li ZHeng, Jin Li memang begitu orangnya (baca: menyebalkan), selalu membicarakan hal yang tidak berhubungan, ayo pergi saja.


Jin Li tidak terima, tidak berhubungan bagaimana? Ia sangat serius tadi.

"Kau serius? Baguslah kau berubah, tapi jangan menyeretku segala." Kata Shao Xi.


Jin Li memasang wajah sedih, setelah SHao Xi mengatakan bagaimana seharusnya saat menyukai seseorang, ia mulai ingin seperti Shao Xi.

"ku menghabiskan cukup banyak waktu, memikirkan kenapa aku menyukaimu. Dan jika cinta ini nyata atau tidak. Sama sepertimu, aku ragu-ragu, menunggu, dan frustrasi sebelumnya. aku akan merasa senang dan sedih dengan kelakuanmumu. Apa kau tidak merasakannya sama sekali?"

Shao Xi agak tersentuh, bukannya ia tidak tidak merasakannya.. Sebenarnya, ia merasa... kata-kata Jin Li itu lebih serius dari sebelumnya.


"benarkah?" Jin Li berbinar.

"Tapi hanya ini saja! Tidak ada arti lain Jangan terlalu memikirkannya sendiri!"

"Jangan khawatir, aku tidak akan berpikir terlalu banyak. Bagiku, itu sudah cukup. Paling tidak, dia tidak akan memperlakukan cintaku seperti lelucon." Kalimat terakhir Jin Li itu ia khususkan untuk Li Zheng.


Saat perjalanan pulang, Shao Xi dibelakang bersama Jin Li. Jin Li heboh sendiri mau menggendong Shao Xi tapi tentu saja Shao Xi tidak mau. Li Zheng kesal, jadi ia jalan lebih cepat biar tidak melihat mereka.


Xiao Qiao juga tak sengaja melihat Jin Li dan Shao Xi. Xiao Qio membatin, ia yang menabrak SHao Xi, tapi kenapa Jin Li lebih peduli pada Shao Xi lebih dari?

"Wang Jin Li, tidak akan suka gadis yang dipanggil Zhong Shao Xi itu kan? Zhong Shao Xi."


Li Zheng dikamarnya memikirkan pertanyaan Jin Li tadi mengenai statusnya dan ia hanya menjawab teman Shao Xi. Ia terus berpikir sampai Shao Xi mengetuk pintu kamarnya.


Li Zheng membukakan pintu. Shao Xi bilang ada yang ingin ia katakan pada Li Zheng. Ia minta ijin masuk dan Li Zheng membiarkannya tanpa mengatakan apapun.


Li Zheng kembali sibuk di meja belajarnya. Shao Xi jadi tak enak, ia merasa sudah mengganggu. Li Zheng menjawab Shao Xi tidak mengganggu dan meminta Shao Xi mengatakan apa yang ingin dikatakannya tadi.


"Hanya.. apa kau benar-benar tidak menyukai Wang Jin Li? Tapi bagaimanapun, dia bekerja di rumah kita. Jika kau benar-benar tidak ingin melihatnya,  apa kau ingin aku berbicara dengannya?"

Li Zheng akhirnya menoleh pada Shao Xi, bagaimana perasaannya pada Jin Li itu tidak penting, yang terpenting adalah bagaimana perasaan Shao Xi terhadap Jin Li.

"Jika Wang Jin Li mengatakan betapa dia mencintaimu, apa yang akan kau lakukan? Menolaknya? Atau menerimanya?"

"kau ingin aku... untuk menerima Wang Jin Li? Dan bersamanya?"

Shao Xi menunggu jawaban Li Zheng tapi Li Zhneg hanya diam saja. Shao Xi lalu meminta Li Zheng untuk melupakannya saja.


Shao Xi berjalan keluar dan Jin Li tiba-tiba mengaku, ia benci Wang Jin Li, ia tidak ingin melihat Shao Xi bersamanya.


"Tapi tidak berarti kau harus peduli dengan perasaanku. kau hanya perlu tahu, siapa pun yang kau suka di masa depan, siapa pun yang kau inginkan; kau akan tetap menjadi sahabat terbaikku. Tidak akan pernah berubah."

"Aku tahu."

"Bagus kalo gitu."


Shao Xi kembali ke kamarnya, galau. Tapi bukan hanya Shao Xi saja, Li Zheng juga merasa hal yang sama.


Shao Xi kembali masuk sekolah bertepatan dengan pelajaran Ibu Guru Matematika. Ibu Guru baru sadar hari ini hari terakhir di tahun ini, Ibu Guru bertanya, apa ada yang akan menonton kembang api Tahun Baru? dan konser kan? srta acara hitung mundur?

Semuanya bersorak. Tapi ibu guru melanjutkan, mereka semua itu ditahun terakhir SMA, jadi jangan lupakan ujian masuk Universitas. Semua soswa kembali murung.


Setelah kelas usai, Ru Ping mendekati Shao Xi karena Shao Xi kelihatan sangat tidak baik jadi Ru Ping khawatir. Shao Xi menjelaskan, ia sudah dalam suasana hati yang buruk dan sekarang Ibu Guru malah membuatnya lebih buruk lagi, padahal ia sudah berencana menonton kembang api.

"Pergi saja jika kau ingin. Tidak usah mendengarkan Ibu "Energi Negatif", apalagi kau sudah berkerja keras akhir-akhir ini jadi satu hari libur tidak masalah."


Shao Xi menunjuk kakinya yang terluka, ia masih tidak nyaman kemana-mana dan ia masih tidak bisa berdiri lama-lama.  Tapi jika ia menonton siaran langsungdirumah, malah akan memperburuk suanana hatinya.


Xiao Yu diam-diam mendekati mereka, tujuannya untuk mengajak Ru Ping kencan tapi Xiao Xi menyela. Shao Xi mengajak Ru Ping merayakan tahun baru dirumahnya saja.

Ru Ping minta maaf, sepupunya sudah mengundangnya ke pesta hitung mundur dirumah. Shao Xi sedih, begitupula Xiao Yu yang sudah pasti gagal mengajak Ru Ping kencan.


Jin Li membantu Ibu membawa teh, Ibu meminta Jin Li meletakkan teh itu di samping Ayah dan meminta ayah untuk mengajari Jin Li dimana harus menyusun teh-teh itu.

Ayah tidak mau ditanya-tanyai Jin Li dan menyuruh Jin Li bertanya saja pada orang yang memberi Jin Li pekerjaan (Baca: Ibu).


Ibu memprotes ayah, gak boleh lah bersikap gitu pada anak kecil, apa salahnya mengajari sedkit saja?

"Baiklah, aku jahat! aku menolak untuk mengajarinya."


Ibu hampir bantah-bantahan sama Ayah kalau Jin Li tidak menghentikannya. Jin Li selalu memperhatikan ayah setiap kali menyusun teh, jadi ia ingat sebagin besarnya.

Ibu sangat kagum, Li Zheng memang bisa diandalkan. Ayah tidak suka dan memilih pergi.


Jin Li menggunakan kesempatan itu untuk mendekati Ibu. Jin Li bertanya apa rencana ayah dan Ibu malam ini untuk merayakan pergantian tahun?

"Kami sudah tua. Kita hanya akan menonton TV dan tidur lebih awal. Hitung mundur seperti itu hanya untuk anak muda sepertimu."

"Bagaimana anda mengatakan itu? Anda berdua ini masih muda lho!"

Ibu tiba-tiba setuju karena jika dipikir-pikir ia dan ayah belum mencapai 40 tahun.


Jin Li lalu menunjukkan dua voucher hotel pada Ibu, lengkap dengan set makan malam (candlelight dinner), juga bisa menyaksikan pesta kembang api Taipei 101 langsung dari jendela kamar. Sangat romantis deh pokoknya.

Ibu mupeng, tapi ia malu sebenarnya. Jin Li memaksa Ibu untuk menerimanya, tidak perlu sungkan. Ibu tahu, Jin Li punya maksud tersendiri kan?

"Tentu saja, saya punya. Semua orang ingin merayakan Tahun Baru dengan yang mereka sukai. Jika saya tidak berusaha membawa anda dan Pak Zhong pergi, bagaimana saya bisa berkencan dengan Shao Xi untuk melihat kembang api saja?"


Ibu terkejut, tak menyangka Li Zheng akan sangat jujur begini. Ibu mengijinkan, tapi ada syaratnya, saat penghitungan mundur 5-4-3-2-1 berakhir, segera bawa pulang Shao Xi, jangan ditunda-tunda, mengerti?

Jin Li hormat, "Iya bu, saya akan membawanya pulang tepat setelah kembang api berakhir."

Ibu pergi dengan berbunga-bunga. Jin Li juga senang, saatnya minta bantuan kakak, ia lalu menghubungi kakaknya. Tapi sepertinya ada yang tidak beres.


Saat pulang sekolah, Shao Xi awalnya jalan dibelakang tapi kemudian ia menjajari Li Zheng. Shao XI bertanya, apa yang akan Li Zheng rencanakan malam ini? Li Zheng tak punya rencana khusus, ia harus belajar untuk ujian besok.


Shao Xi terkejut, ia mengingatkan nanti malam adalah pergantian tahun, dan Li Zheng malah ingin belajar?

"Lalu bagaimana? Apa yang ingin kau lakukan?"

"Tidak ada. aku masih terluka dan tidak bisa ke mana-mana." Shao Xi sedih.


Mereka sampai rumah tapi hanya menemukan catatan di meja. Ibu mengatakan ia dan ayah pergi keluar dan tidak pulang malam ini dan ia sudah memasak ayam minyak wijen untuk mereka.

Shao Xi kesal, ayah-ibu pergi untuk merayakan sendiri? Ibu macam apa dia? Dia memasak ayam minyak wijen dan membiarkan mereka begitu saja?


Ternyata kakak Jin Li sakit dan sampai harus dirawat di rumah sakit. Jin Li tidak mengerti, kenapa kakaknya bekerja begitu keras demi perusahaan sampai jatuh sakit begini? tapi yang lebih membuatnya tidak paham adalah kenapa ayah tidak datang?

"Jangan bilang begitu, Ayah ada di perusahaan untuk membersihkan kekacauanku."

"Kapan kau akan berhenti membela dia?"


Lalu ayah datang, tapi bukannya menanyakan keadaan putranya malah marah-marah karena salah melakukan pekerjaan.


Jin Li menyela, jika ayah mau membicarakan pekerjaan lebih baik keluar saja, ini sudah lewat jam kerja dan kakak butuh istirahat. Ayah kesal, apa itu sikap seorang anak pada ayahnya?

Jin Li kesal juga karena ayahnya tidak peka, kakaknya itu lemah dan sedang butuh istirahat, ia hanya membantunya. Apa sikap ayah saat ini juga pantas disebut ayah?


Ayah menampar Jin Li di pipi kanan. Jin Li akan melawan tapi ayah malah menampar pipi kirinya.

Kakak meminta pada Jin Li tenang dan meminta Jin Li keluar sekarang, ia mohon. Jin Li pun keluar.


Li Zheng membawa Shao Xi ke danau. Shao Xi tidak mengerti, kenapa Li Zheng membawanya kesana? Li Zheng balik bertanya, bukannya Shao Xi ingin lihat kembang api?

"Kembang api malam tahun baru? Kau tidak akan bisa melihatnya di sini."

"Siapa yang bilang begitu? Jika kau tidak percaya padaku, tunggu saja sampai hitungan mundur dimulai. AKu pastikan kau akan melihatnya."


Li Zheng mulai menghitung mundur. Shao Xi melanjutkannya sambil memandang danau. Dan akhirnya Shao Xi sampai pada hitungan 1. Ia berbalik tapi Li Zheng tidak ada.

Shao Xi malah mendengar suara kembang api. Ia terkejut sampai membuka mulutnya lebar-lebar.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...