Friday, September 15, 2017

Sinopsis Hospital Ship Episode 11


Sumber Gambar: MBC

-=EPISODE 11=-
 Aku Akan Selalu Disampingmu


Eun Jae mengejar Hyun, mengatakan kalau Hepatektomi pasca pengangkatan adalah harapan terakhir bagi pasien dan Hyun masih menolaknya? Hyun bertanya, apa dibenarkan membiarkan pasien meninggal karena operasi yang berisiko?

"Paternalisme tidaklah adil, tapi kau tidak punya hak untuk memutuskannya. Hanya Pasien Seol Jae Chan yang bisa memutuskannya." Tutup Eun Jae.


Eun Jae menemui Guru Seol dan ternyata Guru Seol sudah mendengar semuanya, Guru Seol menolak untuk operasi.

"Anda membuat keputusan yang terburu-buru." Kata Eun Jae.

"Tampaknya operasi itu juga tidak aman."

"Apa dr. Kwak yang mempengaruhi Anda?"

"Kenapa kau bertanya?"

"Jika dia menceritakan yang negatif, saya akan menjelaskan yang sebaliknya."

"Tidak. Dia setuju operasi tersebut. Dia mempercayaimu."

"Lalu mengapa?"

"Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku. Istriku meninggal karena kanker 10 tahun lalu. Kanker stadium akhir. Dengan kata lain, Aku tahu apa yang akan terjadi padaku mulai sekarang."


Guru Seol memaksa keluar Rumah Sakit dan Hyun terus membujuknya mereka tidak melakukan operasi, bukan berarti perawatannya dihentikan.

"Ayo ke Seoul sekarang."

"Aku tidak mau. Anak-anakku sudah menunggu."


Eun Jae terus berpikir sambil melihat hasil CT-Scan Guru Seol. Eun Jae memikirkan cerita Guru Seol tadi.

"Kankernya menyebar ke seluruh tubuh, dan dokter menyuruhnya operasi sama sepertimu."


"Tentu. Bagaimana bisa seorang pejuang menghindari pertarungan?" Guman Eun Jae.


Gueu Seol menjelaskan pada Hyun, istrinya dulu tidak mau operasi. Namun, ia hampir memaksanya. Mereka melakukan semua yang disuruh Dokter, termasuk operasi dan kemoterapi. Iatrinya tidak mau, tapi ia--.

"Jangan salahkan diri anda. Sebagai wali, anda melakukan hal yang benar untuk istri anda--"


"Tidak. Bukan untuk istriku. Aku melakukannya demi kepentinganku. Aku sangat menyesal. Perutnya sangat sakit, tapi yang aku berikan hanya obat pencernaan. Aku sangat menyesal. Aku menyesal atas apa yang aku lakukan. Aku mencoba untuk melakukan..

Aku seharusnya tidak melakukannya. Kau tahu.. bagaimana istriku sebelum meninggal? Dia tidak bisa menelan nasi. Dia bilang lebih suka daun musim gugur.. dan ingin terakhir kali, melihat daun jatuh. Aku bahkan tidak.. mengabulkan keinginan itu."

Hyun akan menggemggam tangan Guru Lee tapi ia tidak bisa. Guru Lee melanjutkan, istrinya tetap di tempat tidur sebagai pasien sampai akhirnya meninggal.

"Hyun-ah. Aku tidak ingin... berakhir sekarat seperti itu."


Kepala Kim menghampiri Eun Jae yang sedang sendirian, Kepala Kim tahu pasti Eun Jae sangats edih karena pasiennya menolak untuk dioprasi.

Eun Jae menjelaskan, terkejut bisa membuat orang salah mengambil keputusan. Begitu dia tenang, ia akan--.


"Kau akan membujuknya? Sadarlah. Walinya mencari dokter lain. Spesialis Pengobatan Penyakit Dalam. Ayahnya ahli bedah legendaris, Kwak Sung. Kau harusnya tahu berapa banyak koneksinya. Dia bahkan menghubungi MD Anderson. Aku pikir mereka akan merekomendasikan kami. Kami lebih maju dalam ahli hati, kandung empedu, dan pankreas."

"Langsung saja ke intinya."

"Tn. Seol.. akan memilih kami. Dia bukannya tidak mau operasi. Dia melarikan diri dari dokter muda yang tidak bisa dipercaya."

"Anda bisa pergi sekarang."


Eun Jae akan pergi dan tiba-tiba Kepala Kim mengajaknya untuk membuat kesepakatan. Kepala Kim pasti akan mendapatkan pasien itu, Eun Jae bisa memilih salah satu anggota tim untuk melakukan operasi. Jika perlu bantuan spesialis lain, Kepala akan mencarinya.

"Sebagai gantinya.. publikasikan tesis itu atas namaku. Kau tidak bisa menolak."

"Apa maksud Anda?"

"Menurutmu siapa yang meneleponku kesini?"


Ternyata Direktur Kim yang menelfon Kepala Kim, Eun Jae memastikan hal itu sekarang ini. Eun Jae bertanya alasannya jika boleh.

"Aku butuh verifikasi. Tugasku adalah melatih dokter menjadi ahli, tapi aku juga bertugas melindungi pasien dari penyakit irasional. Aku pikir dr. Kim, guru dan mentormu, akan cocok untuk pekerjaan itu. Apa ada masalah?" Jelas Direktur Kim.

"Dan kesimpulan anda?"

"Seperti yang kau pikir, perasi itu sangat sembrono."


Direktur kim: Apa kau.. bisa meyakinkan pasien? Ini memang upaya sembrono, tapi jika tidak mungkin, dr. Kim tidak akan bergegas kemari.


Dokter Jang berpapasan dengan Eun Jae yang baru keluar dari ruangan Direktur Kim. Eun Jae tampak tidak senang.


Dokter Jang lalu menemui Direktur Kim, protes karena Direktur Kim menyetujui operasi Eun Jae. Bagaimana jika Eun Jae berhasil? Eun Jae akan segera pergi.

"Maka pasien akan hidup." Jawab Direktur Kim.

"Jika dia gagal?"

"Dokter Song akan tetap disini. Menurutmu berapa kemungkinan.. dia berhasil?"

"Entahlah. Kurang dari 10 persen."

"Maka kemungkinan dia tetap disini.. lebih dari 90 persen."


Eun Jae kembali belajar, memcaba jurnal-jurnal penelitian.


Hyun melihat Guru Seol mengajari anak-anak dan Guru Seol tampak sangat bahagia.

Hyun teringat permintaan Guru Seol, "Jangan beritahu anak-anak. Aku tidak ingin jadi beban untuk anak-anak atau yang lain."


Hyun pun pergi dengan langkah berat.


Eun Jae menghubungi Hyun, bertanya Hyun sekarang ada dimana? Hyun menjawab ia ada di sekolah.

"Syukurlah."

"Mengapa memangnya?"

"Kau tidak membawa pasien ke Rumah Sakit lain. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Tidak masuk akal untuk menolak operasi."

"Sulit untuk sepenuhnya percaya dengan ini."

"Itu mungkin bagi pasien."

"Dokter Song Eun Jae."

"Dokter tidak boleh seperti ini. Berhentilah menjadi wali, dan jadilah Dokter Penyakit Dalam yang rasional dr. Kwak."

"Menurutmu apa yang logis dan rasional itu?"

"Sampai jumpa di asrama nanti."


Di asrama, Won Gong memecah semangka tepat saat Eun Jae satang. Ah Rim langsung merangkul tangan Eun Jae, apa yang terjadi pada pasien kanker rektal itu? Apa dia operasi? Kapan? Ia bisa melihat? Ia bisa membantu...

"Apa yang harus aku jawab dulu?" Tanya Eun Jae.


Perawat Pyo menyuruh Eun Jae duduk dan makan semanga dulu. Eun Jae bertanya dimana Hyun. Joon Young menjawab belum pulang, kenapa?

"Dia yang memutuskan aku akan operasi atau tidak."


Won Gong heran, kenapa? Eun Jae menjawab, pasiennya adalah Guru Seol Jae Chan.

"Aigoo. Ini mengerikan."


Joon Young langsung mengabari Jae Geol bahwa Guru Seol menderita kanker.


Joon Young bertanya, kenapa Jae Geol belajar Pengobatan Korea? Jika Jae Geol Pengobatan Korea, itu berarti Jae Geol sama sekali tidak berguna di sekolah, mengapa tidak sekolah kedokteran? Nantinya Jae Geol tidak bisa mewarisi Rumah Sakit Ayahnya.

"Ada orang lain yang mewarisinya. Ketika aku pertama masuk sekolah, dia datang di tahun pertama, dan aku membencinya."


Joon Young bertanya lagi, Siapa? Hyeong-nya Jae Geol? Jae Geol mengangguk. Joon Young masih heran, kenapa Jae Geol berbicara masa lalu dengan kesal? Apa kakaknya berhenti dari sekolah medis?

"Tidak, dia meninggal. Kecelakaan mobil saat menuju Bandara untuk menjemputku."

"Mengapa kau bicara seperti dia orang asing?"

"Lalu aku harus bagaimana? Aku harus menangis? Lupakan. Ini tidak menyenangkan. Ayo pergi."


Saat mereka kembali, Eun Jae masih ada di luar tapi Eun jae terlihat sangat kecewa ketika melihat mereka.

"Kau terlihat sangat menyedihkan. Orang akan mengira kau menunggu pacarmu." Kata Jae Geol.

"Kau suka bercanda?" Tanya Eun Jae.

"Iya."


Eun Jae terus menelfoni Hyun tapi Hyun tidak menangkatnya. Saat ini, Hyun ada di rumah Guru Seol dan memasak makan malam.


Guru Seol duduk di meja makan, ia memuji bau masakan Hyun dan rasanya bahkan lebih luar biasa. Guru Seol menyuruh Hyun makan dengan lahap setelah itu pulanglah naik kapal terakhir.

"Aku akan tidur disini."

"Apa aku akan meninggal malam ini?"

"Bagaimana Anda bisa mengatakan itu?"

"Lalu mengapa kau memperlakukanku seperti akan meninggal? Banyak pekerjaan yang harus kulakukan. Kau akan mengganggu konsentrasiku, dan aku akan sibuk jika kau disini."

"Semalam saja. Biarkan aku menginap semalam."

"Bagaimana dengan Rumah Sakit Kapal?"

"Antar aku pakai perahu sekolah. Itu tidak jauh."


Hyun terbangun tengah malam dan melihat tempat tidur Guru Seol kosong. Ia lelu keluar dan menemukan Guru Seol duduk sendirian di taman bermain.


Hyun menghampiri Guru Seol, bertanya apa Guru Seol tidak bisa tidur? Gure Seol menjelaskan Hyun juga akan seperti dirinya jika sudah seusianya nanti.

"Anda takut?"

"Ini pertama kalinya aku sekarat, jadi--"


Hyun menjelaskan, mereka bisa melawannya. Guru Seol bisa kembali ke Rumah Sakit dan menjalani operasi, atau mereka bisa mencari Dokter lain.

"Tapi satu hal yang pasti, apapun keputusan anda, aku akan bersama anda. Aku akan tetap bersama anda sampai akhir."


Pagi-pagi Eun Jae sudah menunggu Hyun di dermaga, "Darimana saja kau? Apa kau bersama pasien tadi malam? Mengapa kau tidak mengangkat telponku?"

Hyun hanya tersenyum.

"Apa artinya itu?" Tanya Eun Jae.

"Kau terlihat seperti istri yang mengomel suaminya karena tidak pulang."

"Aku tidak ingin bercanda. Apa pasien baik-baik saja?"

Hyun menangguk lalu masuk ke kapal.


Eun Jae mengikuti Hyun dan menyerahkan tesisnya, meski belum selesai. Hyun membacanya dan Eun Jae juga memberikan hasil lain dalam USb, hasil tes pada hewan.

"Dalam beberapa hal, tes pada hewan jauh lebih sulit. Anjing mungkin tampak lebih kuat dari manusia, tapi mereka jauh lebih lemah. Intinya, jika berhasil pada anjing, manusia--" Jelas Eun Jae yang dipotong oleh Hyun.

"Hentikan. Sudah cukup."

"Apa maksudmu?"


Hyun bertanya, apa menurut Eun Jae ini akan membuat pasien yakin? Eun Jae menjawab, Pasien takut karena ini operasi pertama kali, jadi kita harus meyakinkannya--.

"Dengan data tes pada hewan? Kau ingat nama pasien pertama operasimu? Siapa nama pasien pertamamu? Kau tidak ingat, 'kan? Kau bisa melihat operasi dengan jelas, seolah-olah sebagai foto, tapi kau tidak tahu nama pasien, fisik, perjuangan sebelum operasi, dan hal-hal seperti itu, 'kan?"

"Apa salahnya?"

"Itulah mengapa kau seperti ini. Kau tahu apa itu kepercayaan? Itu membuat orang merasa yakin, bukan hanya memegang data dan  mengatakan apa yang kau mau. Kau harus mendengarnya dulu. "Apa yang dia inginkan? Apa yang dia takuti?" Kau tidak memikirkan itu, 'kan? Karena bagimu, pasien hanyalah alat untuk menuju kesuksesanmu."


Eun Jae mengingatkan, menjadi dokter adalah tugas mereka, mengobati pasien juga tugas kita. Mereka dibayar untuk itu, apa itu salah?

"Baik. Anggap saja aku pecandu yang terobsesi pada kesuksesan, yang lebih peduli dengan karir daripada hidup pasien? Lalu apa yang kau lakukan? Kau mencoba menyelesaikannya, tapi intinya.. ada pasien sekarat di depanmu, tapi kau tidak melakukan apapun. Dan kau sebut dirimu dokter?"

"Dokter!"

Eun Jae kesal, ia mengambil kembali hasil tesisinya lalu kembali ke ruangannya dengan kesal.


Semua staf menoleh ke arah mereka.


Saat kembali ke asrama, Won Gong mengajak semuanya berkumpul. Ia melarang Eun Jae naik dan melarang Hyun masuk ke kamarnya.


Won Gong: Kohabitasi artinya kalian ada aturan. Aturan.

Perawat Pyo: Terutama kau, dr. Song. Karena kau masih baru dan bekerja di UGD, kami selama ini sudah sabar. Tapi sekarang, kami ingin kau juga berpartisipasi.

Eun Jae: Apa maksudmu?


Hyun lalu menunjukkan dokumen Aturan Asrama Rumah Sakit Kapal, Eun Jae menerimanya dan membacanya. Eun Jae bertanya, apa yang harus ia lakukan?


Ah Young sudah selesai menulis dan ia menunjukkannya pada semua. Eun Jae terkejut, main tangga?

Ah Rim: Ya, main tangga.

Joon Young: Beginilah cara kami memilih.

Jae Geol: Ini murni keberuntungan.


Lalu semuanya mulai memilih angka dan mulai bermain.


Joon Young mendapat tugas membersihkan kamar mandi lagi. Ah Rim bersorak karena tugasnya adalah memandikan Bong Goo (anjing).

Eun Jae mendapat tugas berbelanja. Hyun juga ternyata.


Hyun meminta Jae Geol bertukar dengannya tapi Jae Geol tentu saja tidak mau.

Perawat Pyo lalu memberikan daftar belanjaan pada Hyun.


Hyun terpaksa pergi belanja bersama Eun Jae. Eun jae melihat daftarnya sekilas dan ia langsung mengambil barang-barang yang dibutuhkan.


Hyun aja sampai kewalahan karena Eun Jae jalannya cepet bangat, plus main lempar-lempar aja.

Hyun mencocokkan daftar belanjaan dengan barang-barang yang diambil Eun Jae pasa saat akan membayar di kasir, ia terkejut karena semuanya benar padahal Eun jae tadi hanya melihat sekilas.

"Tidak ada bedanya dengan menghafal buku pembuluh darah." Jawab Eun Jae.


Selanjutnya mereka pergi ke pasar tradisional. Kali ini Hyun yang berbelanja, tapi Eun Jae kelihatan tidak sabar karena Hyun harus mencici dulu sebelum membeli dan harus menawar dulu.


Hyun lalu bertanya, ikanapa yang enak untuk direbus pada penjual. Eun Jae turun tangan, ia berkata pada penjual kalau mereka butuh ikan batu, usus ikan, dan cumi asin pedas.

"Kerang lebih enak. Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana." Kata Hyun.


Eun Jae menunjukkan daftar belanja mereka, Hyun tidak lihat?

"Aigoo. Suamimu benar." Kata penjual.

"Saya bukan istrinya." Kata Eun Jae.


Lalu Eun Jae memperingati Hyun, Datanglah ke mobil lima menit lagi atau ia pergi. Hyun bertanya, memangnya Eun Jae memegang kunci mobilnya. Eun Jae lalu mengambil kunci mobil yang Hyun taruh di meja penjual.


Penjual bertanya, "Dia pasti istrimu. Kalian bertengkar? Dia akting, 'kan?"

"Aku akan membeli ini dan itu."

"Aigoo. Sangat sulit mencari nafkah. Aku akan memberimu banyak."

"Terima kasih."


Hyun mendapat telfon, ia melupakan acara beli ikannya, ia langsung berlari ke mobil.


Eun Jae terkejut melihat Hyun gugup begitu tapi Hyun tidak mengatakan apa-apa.


Hyun ternyata mendapat telfon dari RS ayahnya, mengabari bahwa Ayahnya kabur. Masalahnya adalah banyak obat penghilang rasa sakit yang hilang.

Dalam pelariannya ayah Hyun membayangkan terjadinya perang.


Hyun ngebut sampai Eun Jae harus berpegangan erat.

Kilas Balik..


Ayah Hyun meminta morfin (Jenis obat yang masuk dalam golongan analgesik opium atau narkotik). Hyun membentak, kenapa ayahnya butuh morfin?!

"Kau tidak tahu?"

"Ayah mau mati? Ayah ingin aku membunuhmu?"

"Aku sudah mati."

"Ayah!"

"Kau pikir.. aku masih hidup? Kau pikir ini hidup?"

Kilas Balik Selesai..


Mereka sampai di rumah sakit. Hyun minta maaf, ia memberikan kunci mobilnya pada Eun Jae, menyuruh Eun Jae menyetir pulang, lalu ia berlari masuk ke dalam.


Hyun beserta staf Rumah Sakit mencari ayahnya ke dalam hutan.


Dan mereka menemukan Ayah sedang menjahit sebatang pohon. Semua orang terkejut.


Ayah teringat ketika dulu ia bertugas di medan perang untuk mengobati para tentara yang terluka.


Hyun akan mendekati ayahnya tapi perawat melarangnya, bukan melarang sepenuhnya sih cuman menyuruh Hyun sangat berhati-hati karena seseorang akan terluka jika mereka gegabah, atau ayah akan menyakiti dirinya sendiri.


Hyun perlahan-lahan mendekati ayahnya.

"Tenang. Kami bukan musuhmu. Tidak apa. Semuanya baik baik saja. Kami bukan musuhmu."


Hyun lalu mengambil senter ayahnya. Ayah bertanya, siapa Hyun.

"Aku Dokter. Aku juga seorang Dokter. Aku akan mengurus pasienmu. Jadi tolong.. istirahatlah. Kau juga harus disembuhkan."

"Apa begitu? Terima kasih, aku merasa lebih baik."

Ayah lalu memberikan peralatan yang ia pegang pada Hyun.

"Perawat akan mengantarmu."


Perawat mendekat dan memegangi ayah. Ayah bertanya lagi, siapa nama Hyun?

"Hyun. Saya Kwak Hyun, Dokter."

" "Kwak Hyun"? Nama belakangmu.. sama denganku. Tolong jaga pasien. Dokter Kwak Hyun."

Ayah juga memberikan obat penghilang rasa sakit, katanya banyak yang diserang, mereka pasti butuh obat itu.

Ayah lalu dibawa pergi oleh perawat.


Sementara itu, Hyun masih disana, memandangi obat itu dan tiba-tiba hujan turun. Hyun masih belum bergerak dari posisinya, ia menangis.


Seseorang mendekat untuk memayunginya. DIa adalah Eun Jae.

3 komentar

wah makin seru aja. semangat eonni. gak sabar nunggu lanjutannya.

min hyuk oppa ....
ganteng nya 😊😊😊

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Sinopsis dengan komentar terbanyak akan diprioritaskan..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...