Friday, September 22, 2017

Sinopsis Hospital Ship Episode 14


Sumber Gambar: MBC


Hyun bercerita, ia dulu datang ke taman itu bersama keluarganya 20 tahun lalu. Ia bersama Ayah, Ibu, dan Adik perempuannya.

 
"Itu yang pertama dan terakhir kalinya.. keluargaku bersama.. dan tertawa."




Hyun sedih, mereka tidak akan.. punya kesempatan itu lagi. Tidak, ia tidak pantas mendapatkannya.


Eun Jae mengikuti Hyun duduk, bertanya apa ada masalah di Rumah Sakit? Hyun memberikan dokumen pada Eun Jae.

"Dokumen yang ditandatangani. Ini formulir DNR. "Bahkan jika pasien sekarat, dia tidak ingin dilakukan resusitasi (dihidupkan kembali)". Aku senang. Dia mengenalku, dan memilih tanggal lahirku sebagai kata sandi. Aku merasa sangat senang. Sekali lagi, Ayahku meminta untuk membunuhnya.. dengan cara yang berbeda."


Eun Jae membantah, tidak! Kali ini beda. Meminta morfin (penghilang rasa sakit) dan menandatangani formulir DNR--.

"Aku tahu. Aku tahu. Masalahnya... Kau tahu apa masalahnya? Aku merasa lega. "Aku bersyukur. Walaupun jantung Ayah berhenti, Aku tidak perlu menghidupkannya kembali. Aku bersyukur"."

"Dokter Kwak."

"Kau mau tahu sesuatu yang lebih buruk? Aku berharap.. hari itu akan segera tiba. Aku ingin hari itu.. lebih cepat datang daripada menunggu nanti. Sepertinya aku begini... karena Ayahku. Aku tidak bersama dia sepanjang hari, setiap hari. Hanya.. dua tahun."


Eun Jae mengajak Hyun minum lagi, putaran kedua. Dan kali ini, mereka minum tanpa saling bicara.


Saat mereka berjalan, Eun Jae tiba-tiba tertawa, ia menertawakan dirinya sendiri.

"Siapa yang lebih menderita? Seorang anak yang marah karena Ayahnya gila atau anak yang jadi gila karena Ayahnya yang masih waras? Siapa yang lebih menderita?"


Eun Jae mengakui, ayahnya adalah seorang penipu. Hyun refleks ketawa, tapi kemudian ia sadar dan minta maaf. Tapi Eun Jae malah ketawa.


Hyun memberhatikan Eun Jae yang ketawa itu, lalu menariknya dan menciumnya.


Hyun: Terima kasih. Keberadaanmu disini.. membuatku.. sangat nyaman.


Mereka bertatapan sebentar lalu berpelukan lagi.


Esoknya, Hyun terus kepikiran soal ciuman itu. Ternyata Eun Jae juga, bahkan tak bisa fokus jogging.


Hyun terus melamun bahkan saat menyetir, namun beruntung ia berhenti di lampu merah.

Jae Geol: Musik apa.. yang kau dengarkan ini? Ayo jalan. Lampunya sudah hijau!!


Eun Jae masih terus kepikiran Hyun pokoknya.


Hyun dkk sampai di RS kapal. Joon Young menyapa Eun Jae. Tapi Eun Jae langsung kabur saat melhat Hyun.


Hyun juga langsung masuk ke ruangannya. Joon Young heran, apa mereka bertengkar lagi?

"Sepertinya bukan." Jawab Jae Geol.


Eun Jae terkejut melihat seseorang di ruangannya. Orang itu adalah Ah Rim.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku sedang menunggumu."


Eun Jae bingung, untuk apa? Ah Rim menjawab untuk tes.

"Apa mungkin kau lupa? Aku ingat dan kau, Dokter Song Eun Jae, lupa? Apa ada yang terjadi? Sepertinya tidak terjadi sesuatu seperti bencana alam. Apa yang terjadi? Beritahu aku. Dokter Song!"


Hyun juga tidak bisa tenang di ruangnnya, ia terus menggerakkan jarinya mengetuk meja.

"Kenapa kalian disini? Urus pasien kalian." Kata Hyun pada Joon Young dan Jae Geol yang terus memperhatikannya.

"Kita saja belum berlayar." Jawab jae Gel.

Dan Hyun kembali mengetuk meja.

"Bisa berhenti mengetuk? Aku jadi jengkel." Bentak Joon Young.

Hyun lalu berhenti dan minum.

"Ada sesuatu yang terjadi, 'kan? Apa kau merayu Dokter Song?" Tanya Jae Geol dan itu membuat Hyun memuncratkan airnya.


Hyun ke dapur untuk mengambil minum dan Eun Jae menghampirinya, mengajaknya bicara.


Eun Jae berkata, "Semalam kita banyak minum. Anggur, soju, bir, campuran, lebih dari 10 botol. Tingkat alkohol didarah kita setidaknya 0,2 persen."

"Tingkat alkohol dalam darah?"

"Itu sudah bisa membuat SIM kita dicabut. Kemungkinan besar kita kehilangan kontrol dan melakukan sesuatu yang diluar batas. Alkohol juga akan mendorong ekskresi (proses pengeluaran) hormon seperti phenylethylamine, oksitosin, dan dopamin. Oleh karena itu,"

"Oleh karena itu?"

"apa yang terjadi kemarin adalah insiden yang disebabkan oleh reaksi kimia dari alkohol dan hormon."


Hyun tersenyum, ia bersyukur. Sebelumnya ia khawatir itu tidak berarti apa-apa bagi Eun Jae. Eun Jae memperjelas, lebih tepatnya Eun Jae ingin bilang--


Tapi tiba-tiba Hyun menariknya mendekat dan Eun Jae tak mampu berkata.

"Bukankah kau merasa berdebar dan senang? Kau menyalahkan hormon karena bingung."

Eun Jae tak menjawab, ia memilih pergi.


Perawat Pyo dan Won Gong mendatangi rumah pasien. Pasien itu menolak ke RS kapal dan melempari mereka dengan barang-barang tapi mereka tidak menyerah.


Mereka akhirnya berhasil membawa pasien itu ke RS, tapi pasien itu terus membelot, tidak mau ke ruangan dokter.


Kemudian yang lain membantu untuk membawa pasien itu ke ruang dokter, Dokter Joon Young. Joon Young sudah melakukan suntikan, tapi ia malah kena pukul dan hidungnya berdarah.


Joon Young lalu meminta bantuan Jae Geol, sebelum hidungnya yang indah ini rusak.


Jae Geol ternyata mengenali pasien itu dan pasien itu memanggilnya Tuan Muda. Jae Geol memanggilnya Harabong (Kakek Bong).


Jae Geol lalu mengantar Harabom pulang. Jae Geol terkejut melihat rumah Harabong yang berantakan dan kecil.


Joon Young menjelaskan, Harabong (Tuan Park Soo Bong) itu bekerja pada keluarga Jae Geol. Mereka semua kagum, pasti Jae Geol sangat kaya.

"Tn. Park bilang dia melayani keluarga yang dilayani Ayahnya seumur hidup. Itu keluarga dr. Kim?" Tanya Won Gong.

"Iya." Jawab Joon Young.


Jae Geol pulang ke rumah orang tuanya. Ibu sangat senang melihat jae Geol, tapu Jae Geol cuma datang untuk mengambil barangnya.

"Ayo bicara."

"Dimana kunci vila?"

"Kenapa kau memintanya? Kau tidak punya waktu untuk bersantai-santai di vila."

"Berikan."

"Baiklah. Aku akan memberimu kunci vila. Bersenang-senanglah, lalu pulang. Mengapa tinggal di asrama jika punya rumah seukuran istana? Kembalilah, dan sekolah. Keluar dari Pengobatan Korea, dan sekolah Kedokteran. Kau harus mewarisi Rumah Sakit Ayahmu."

"Kunci."

Ibu mendesah.


Jae geol jalan ke taman dan ia melihat potret Ayah-ibunya dulu yang lebih memuji kakaknya daripada dirinya, pilih kasihnya kentara sekali.

Ia juga melihat dirinya yang sedoh melihat semua itu.


Jae geol lalu melihat ayunan dan kembali melihat dirinya kecil disana, sedih setelah melihat ayah-ibu-kakaknya.


Jae geol lalu melihat ayunan dan kembali melihat dirinya kecil disana, sedih setelah melihat ayah-ibu-kakaknya.

Lalu Harabong datang, memberinya mainan, pesawat-pesawatan.


Harabong satu-satunya orang dirumah yang mengajaknya bermain dan menyanjungnya, serta satu-satunya yang bergembira karenanya.


Eun Jae memasak mengikuti buku resep ibunya tapi rasanya aneh. Eun Jae bingung, apanya yang kurang?


Lalu Hyun datang saat ia melihat buku resep. Hyun ikut melihatnya dan tiba-tiba mereka menjadi sangat dekat. Eun Jae mengajak Hyun bicara lagi. Hyun tersenyum.


Eun Jae menjelaskan, disana adalah tempat kerja mereka. Hyun membantah, disana adalah asrama, tempat pribadi mereka.

"Ini disediakan oleh atasan, jadi termasuk tempat kerja kita." Kata Eun Jae.

"Anggaplah begitu. Aku tidak mau bercanda. Tolong serius."


Eun Jae kembali menjelaskan, mereka adalah rekan di Rumah Sakit Kapal, dan sebagai dokter, ia senior Hyun. Mereka disana bekerja. Jika Hyun ingin lebih dari rekan kerja, mulai sekarang, mereka tidak akan bisa jadi rekan. Jadi--


Hyun tiba-tiba melangkah mendekat, "Ini dindingnya? Dan aku tidak boleh lewat?"

"Iya."

"Baiklah. Jika itu yang kau inginkan. Tapi ingat satu hal. Apa yang ada di antara kita bisa saja menjadi pintu, bukan dinding. Kau hanya perlu membuka dan berjalan melewatinya. Aku akan menunggu di depan."

Hyun mengakhirinya dengan senyum manis.


Eun Jae kembali ke kamarnya, ia memeluk buku resep ibunya, lalu membukanya.

"Untuk putriku yang suatu hari nanti akan jatuh cinta. Dari seorang Ibu yang selalu.. mencintaimu."


Kapten Bang mengumpulkan semua staff karena Jung Ho datang bersama Istri dan anaknya yang baru lahir.


Jung Ho berterimakasih pada Eun Jae, berkat Eun Jae ia jadi bisa sering menggendong anaknya. Jung Ho juga menyiapkan hadish untuk Eun Jae.


Dan ternyata ada satu orang lagi yang datang. Hyun terkejut melihat orang yang datang itu.

"Dia seorang pelukis yang belajar di New York. Dia berencana mengadakan pameran pribadi di Geoje. Tema pamerannya adalah Rumah Sakit Kapal." Jelas Kapten Bang.


"Halo, aku Choi Young Eun, seorang pelukis." Perkenalan Young Eun.

Kapten Bang melanjutkan, "Yang lebih penting, dia akan menyumbangkan semua hasil pamerannya untuk perawatan medis orang-orang di pulau ini. Tepuk tangan untuk dia."


Young un lalu mendekati Hyun, "Lama tidak bertemu. Aku tidak tahu akan bertemu disini, Dokter Kwak Hyun."

Hyun melirik Eun Jae sedikit sebelum menjabat tangan Young Eun.


Joon Young mengikuti Hyun masuk ke ruangannya. Joon Young kagum dengan kecantikan Young Eun.

"Bagaimana kau bisa kenal pelukis itu? Apa hubunganmu dengannya?"

"Kenapa kau sangat penasaran dengan semua hal? Jika kau tidak ada kerja, baca grafik pasien. Jangan buat kesalahan lagi."

"Mengapa kau marah?"


Perawat Pyo dan Ah Rim bicara di depan ruangan Eun Jae. Awalnya Eun Jae tidak menghiraukannya untuk fokus menggambar, tapi karena mereka membicarakan Hyun, Eun Jae pun mendengarkan.

"Menurutmu siapa dia? Bagaimana mereka bisa kenal?" Tanya Ah Rim.

"Kenapa kau penasaran?"

"Apa dia pesaingku?"

"Apa maksudmu?"

"Bukankah aku sudah bilang? Aku menyukai Dokter Kwak."

"Apa?! Mengapa?"

"Karena dia seksi. Saat dia menyelamatkan pasien di bus, Aku tahu dialah orangnya. Dialah Dokter Greene yang aku cari.."

"Astaga, Ah Rim. Kau pasti sakit."

"Apa maksudmu?"

"Kau menangis beberapa hari lalu karena pacarmu selingkuh, dan sekarang, kau jatuh cinta lagi?"

"Itulah alasan aku jatuh cinta. Cinta yang baru adalah obat terbaik untuk patah hati. Ini seperti plaster."


Seorang pasien datang ke RS kapal, tapi saat Eun Jae mau melihat luka pasien iru, pasien itu malah menjauhkannya.

"Aku harus melihatnya terlebih dulu untuk mengobatinya." Kata Eun Jae.

"Kenapa kau datang jika tidak mau mendengarnya? ANda tidak bisa bahasa Korea? Do you speak Korean? (Kau bisa bahasa Korea?) Yes or no? (Ya atau tidak?) Or do you speak English? (Atau kau bisa bahasa Inggris?) Bisa atau tidak?" Tanya Perawat Pyo, tapi pasien itu hanya menggumam lalu keluar.


Mereka mengikuti dan berpapasan dengan Hyun. Eun Jae menjelaskan, sepertinya tangan pasien itu terluka tapi dia tidak mau bicara.

Hyun melihat gerakan tangan pasien itu, "Dia sedang bicara sekarang."

Semua mengerti, pasien itu menggunakan bahasa isyarat, ia tunawicara.


Hyun mengajak pasien itu ke ruangannya dan bicara dengannya.

Hyun: Mengapa kau menolak diobati?

Pasien: Aku ke sini bukan karenaku.

Hyun: Lalu siapa?

Pasien: Anakku sakit.

Hyun: Dimana anakmu?

Pasien: Di rumah.

Hyun: Jangan khawatir, aku bisa membantumu.


Eun Jae melihat Hyun dari luar dan tiba-tiba Young Eun menjajarinya. 

"Itulah wajahnya. Itulah wajah pria-ku yang sangat aku rindukan." Kata Young Eun.

"Priamu?"

"Kau tidak tahu? Dokter Kwak dan aku sudah tunangan."

2 komentar

D tunggu kelanjutan y...
Makasih yaa sinopsis y.

Ah udh mulai nih deg2an nya
Thx cingu
Lanjuuut ya
Fighting

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon