Sunday, September 24, 2017

Sinopsis Hospital Ship Episode 16


Sumber Gambar: MBC


Eun Jae tidak bisa tidur, ia bangun lalu tidur lagi, bengun lagi dan tidur lagi.

"Kenapa dia belum datang? Untuk apa aku kesana? Menjambak rambutnya dan menariknya keluar? Tentu saja. Dia pantas mendapatkan itu. Haruskah aku lakukan? Bukankah dr. Kwak akan kecewa jika aku mencurigainya? Mari kita cari tahu tujuannya."


Eun Jae mengendap-endap turun, tapi di depan kamar Ah Rim dan Perawat Pyo tiba-tiba Ah Rim menegurnya, mau kemana?

Eun Jae terkejut, tapi sebenarnya Ah Rim hanya mengigau, "Beraninya kau tidur dengan dr. Kwak?"

Eun Jae kembali tenag dan lanjut jalan.


Tapi saat menuruni tangga ia sadar, "Song Eun Jae! Apa yang kau lakukan?"

Eun Jae pun kembali ke kamarnya, "Aku tidak akan menyiakan hidupku dengan perasaan yang tidak penting."


Tapi keesokan harinya, mata Eun Jae menghitam tanda Eun Jae tidak tidur semalaman.


Eun Jae turun untuk berolahraga, ia ingin melihat kamar Hyun tapi egonya menghalangi, "Bukan urusanku. Jangan dilihat."

Dan tiba-tiba ia berpapasan dengan Young Eun.

"Udara disini sangat segar. Aku tidur nyenyak tadi malam." Kata Young Eun.

"Baguslah." Jawab Eun Jae lalu keluar.


Tapi sebenarnya Eun Jae kesal.


Young Eun akan mengikuti Hyun tapi Jae Geol menari tangannya. Hyun akan mandi apa Young Eun juga akan ikut?

"Lepaskan aku."

"Kau harus pergi ke hotel atau... berpakaianlah dengan baik. Aku sih tidak masalah, tapi ini ruang umum."

Young Eun malu dan langsung berlari ke kamarnya.


Eun Jae berlari dan kali ini larinya makin kencang.


Sementara itu, Hyun mengguyur tubuhnya, ia teringat kejadian tadi malam.


Hyun terbangun saat Young Eun tiba-tiba menyusulnya tidur.

"Apa yang kau lakukan?"

"Kenapa? Aku ingin melihatmu."

"Naik ke atas."

"Tidak."

"Jangan berisik. Orang bisa dengar."

"Oppa terus mengomelku. Ayo tidur. Baringlah."

"Aku tidak punya pilihan."

Hyun turun dari ranjang. Young Eun menarik tangannya tapi Hyun menepisnya. Hyun keluar.


Di RS kapal, Eun Jae sedang mengambil obat-obatan. Tiba-tiba Hyun datang. Hyun senenag menemukan Eun Jae disana, ia ingin bicara.

Eun Jae terkejut, ia sudah akan keluar tapi kembali lagi untuk menghindari Hyun. Ia mengambil beberapa barang tapi malah jatuh semua karena terburu-buru.


Hyun melindungi Eun Jae dari kejatuhan barang itu. Hyun khawatir, apa Eun Jae baik-baik saja? Tapi Eun Jae tak menjawab, ia buru-buru mengambil barangnya lalu keluar.


Hyun mengejar tapi Eun Jae tidak mengiraukan, bahkan Eun Jae menutup ruangannya di depan Hyun.


Jae Geol melihat semua itu, ia berkomentar. Eun Jae pasti salah paham.

"Aku pikir begitu." Jawab Hyun.

"Ini pertanda baik. Dia setidaknya sangat peduli padamu."


Di ruangannya, Eun Jae galau, ia tidak bisa bekerja, tidak bisa menggambar apapun. Lalu ponselnya berdering.

"Siapa ini?" Tanya Eun Jae terkejut.


Di ruangannya, Hyun juga gelisah, ia mondar-mandir sejak tadi.

Lalu Hyun mengirim pesan pada Eun Jae.


Eun Jae menerimanya dan membacanya.

"Kau ada waktu malam ini? Ada yang ingin aku bicarakan."


Tapi hanya membaca saja, tidak membalasnya. Hyun tidak bisa menunggu lagi, ia mendatangi ruangan Eun Jae.

Eun Jae yang menghubungi RS Geoje Jeil, meminta jadwalnya diubah sampai akhir pekan.

"Apa kau bisa? Kau tidak capek?"

"Aku mohon bantuan Anda."

Lalu Hyun datang.


Hyun ingin bicara pada Eun Jae. Eun Jae melarang Hyun bicara kalau bukan masalah kerjaan.

"Tadi malam--"

"Berhenti."

"Jangan salah paham. Tidak ada--"

"Aku bilang berhenti. Apa hubungan kalian dan apa yang kau lakukan bukanlah urusanku."


Eun Jae lalu keluar. Perawat Pyo tak sengaja mendengar mereka dan ia tersenyum. Ia paaham apa yang terjadi.


Eun Jae keluar untuk menghirup udara segar dan sepertinya orang yang tadi menelfon EUn Jae kembali menelfon.

"Aku tidak punya waktu untuk mengurus hal seperti itu. Aku tidak tahu. Aku sungguh tidak tahu. Ayahku bahkan tidak datang ke pemakaman Ibuku." Jawab Eun Jae lalu menutup telfon.


RS Kapal beroperasi seperti biasa dan Young Eun juga mulai mengerjakan tugasnya. Ia menggambar apa yang ia ambil memalui ponselnya.


Eun Jae dan Perawat Pyo bertugas di darat, tapi Eun Jae kebanyakan melamun sampai Perawat Pyo harus memanggilnya beberapa kali baru Eun Jae sadar.

"Dokter, banyak yang harus kita lakukan." Kata Perawat Pyo.


Saat jalan bersama Eun Jae memegangi kepalanya. Perawat Pyo bertanya, apa kepala Eun Jae sakit? Eun Jae membenarkan, sedikit.

"Bukankah kau merasa gelisah dan bingung? Dan tidak nafsu makan. Kau hampir tidak menyentuh makan siangmu."

"Sebentar lagi juga baikan." Jawab Eun Jae.

"Tidak. Ini akan semakin memburuk. Sejauh yang aku tahu, inilah gejala jatuh cinta--"


Eun Jae langsung membantahnya, tidak tuh! Perawat Pyo menduga-duga, ini bukan pertama kalinya, 'kan? Eun Jae hanya diam, menghindar.


Perawat Pyo semakin yakin, "Apa pertama kali? Ini pasti pertama kali. Itu sebabnya kau menghindarinya? Jangan begini. Majulah ke depan. Cinta adalah sesuatu yang baik. Cinta adalah segalanya. Kau tidak dengar?"


Mumpung ingat, perawat Pyo mengatakan soal semalam, tidak ada yang terjadi tadi malam. Ia yakin Dokter Kwak tidur di kamar Dokter Kim. Eun Jae tersenyum tipis mendengarnya tapi cepat-cepat bersikap biasa lagi.


Ibu Jae Geol berkunjung ke RS kapal, tepat saat itu Eun Jae dan Perawat Pyo kembali. Ibu mengenali Eun Jae tapi EUn Jae tidak.

"Maaf. Aku melihatmu di TV, api kau tidak akan mengenalku. Aku Ibu Jae Geol."

Perawat Pyo memberi salam kemudian meninggalkan mereka berdua.


Eun Jae ingin memastikan, jadi Ibu itu.. Ibu Jae Geol menyela, ia adalah juru masak Direktur Kim.

"Senang bertemu dengan Anda." Salam Eun Jae.

Ibu tiba-tiba memegangi perutnya dan meringis sakit. Eun Jae khawatir, apa ibu sakit?

"Perutku sangat lemah. Senang bertemu denganmu. Ayo berjabat tangan."

Eun jae pun menjabat tangan Ibu.


Eun Jae lalu membawa Ibu ke ruangan Jae Geol, meninggalkannya disana. Eun Jae masih kepikiran, Ibu terkena gangguan pencernaan kah?


Tak berapa lama kemudian, Jae Geol datang. Jae Geol menebak, ibunya pasti dari vila. Ibu membenarkan.

"Nn. Hong menelepon. Apa yang terjadi? Mengapa kau menyingkirkan semuanya? Mengapa kau merubah interior vila?"

"Aku harus melakukannya."

"Untuk apa? Kau akan pindah ke sana?"

"Iya. Dengan Harabong."

"Apa?"


Jae Geol menjelaskan, "Harabong mengalami stroke dan hidup sendirian. Jika Ibu mengerti apa yang dia lakukan untuk kita selama ini, kita harus melakukan ini."

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan orang lain."

Ibu kembali meringis sakit di perut bagian aiasnya.


Di ruangannya, Eun Jae mondar-mandir, ia terus kepikiran Ibunya Jae Geol. Ia teringat saat berjabat tangan tadi, ia mendengar denyut nadi Ibu.


Ibu meminta Jae Geol memberinya obat sakit perut. Jae Geol tanya, untuk apa?

"Aku butuh obat. Jadi berikan padaku." Jawab Ibu.

Tiba-tiba Eun Jae datang, mengatakan kalau Ibu bukan sedang mengakami gangguan pencernaan. Eun Jae lalu menyuruh Ibu berbaring dan memanggilnya pasien.

"Pasien"?" Ulang Ibu kaget.

"Tidak ada waktu lagi. Cepat."

Ibu pun berbaring dan saat itu, Hyun masuk.


Eun Jse mulai memeriksa, ia menyuruh Ibu menarik nafas dalam-dalam. Lalu menyuruh Ibu berbaring kesamping.

"Tahan nafasmu. Aku tahu ini sakit, tapi sekali lagi."

Ibu sangat kesalitan. Jae Geol tak mengerti, apa yang coba Eun Jae lakukan pada ibunya?

Eun Jae tak menjawab, ia fokus mendengarkan detak jantung Ibu. Dan ternyata iramanya sama dengan detak jantung yang selama ini ia dengar ketika jogging. Jadi bukan musik yang selalu Eun Jae dengarkan saat Jogging tapi detak jantung.


Eun Jae menyuruh mereka memanggil helicopter. Ia rasa Ibu mengalami infark miokard (kondisi terhentinya aliran darah dari arteri koroner pada area yang terkena yang menyebabkan kekurangan oksigen). Ibu membantah, ia baik-baik saja kok.

Hyun tak percaya karena Eun Jae mendiagnosisnya hanya dengan auskultasi, sedangkan mereka perlu lakukan EKG dll untuk memastikannya.


"Aku mendengarnya. Aku mendengar suara yang sama sebelumnya." Jawab Eun Jae lalu memberikan ponselnya pada Hyun.


Eun Jae buru-buru keluar, ia meminta Perawat Pyo untuk membawakan nitrogliserin (obat yang memiliki kapasitas luar biasa untuk melebarkan pembuluh darah) sekarang juga.

EUn Jae lalu ke ruang iperasi dan membawa yang diperlukan. Perawat Pyo membantu.


Eun Jae kembali, Hyun bertanya, apa Eun Jae beneran mendengar irama detak jantung itu pada Ibu Jae Geol? Eun Jae membenarkan.


Hyun lalu menyuruh Jae Geol untuk menghubungi penjaga pantai, "Jika suaranya seperti ini, kita harus bergegas."

Jae Geol: Aku tidak mengerti maksudmu.

Eun Jae: Tidak ada waktu lagi. Lakukan seperti yang diperintah.

Hyun: Aku akan menelpon mereka.


Jae Geol panik melihat ibunya dipasangai alat-alat itu. Ia masih belum percaya, apa Eun Jae yakin?

"Tunggu di luar!" Kata Eun Jae.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ibu.

"Kami akan memonitormu  sampai helikopter tiba. ANda tidak perlu khawatir."

lalu Ah Rim datang membawakan obat yang Eun Jae minta tadi.


Jae Geol menyingkirkan Eun Jae, ia akan memeriksa ibunya sendiri tapi tiba-tiba jenuh ogsigen ibu turun. Eun Jae mengambil alih.


Jae Geil bingung, ia memanggil-manggil ibunya. Eun Jae memerintahkan yang untuk membawa Jae Geol keluar. Kemudian Eun Jae melakukan intubasi.


Akhirnya ambulan datang, Ibu pun sekarang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit. Melihat keadaan Ibu Jae Geol, mengingatkan Eun Jae pada ibunya sendiri.


Jae Geol tidak bisa melakukan apa-apa, seperti ia dulu, tapi setidaknya Jae Geol masih bisa memegang tangan Ibunya.


Hyun masih mendengarkan detak jantung dari ponsel Eun Jae. Sekarang ia mengerti apa yang selalu Eun Jae dengarkan sambil jongging.


Young Eun datang, mengajaknya pulang karena yang lain juga sudah pada pergi.

"Nn. Choi, tolong. Kau bisa tinggalkan aku sendiri?"

"Apa yang terjadi hari ini? Kenapa kau--"

Hyun berdiri, memotong kalimat Young Eun dan langsung berjalan keluar.


Hyun meniru cara Eun Jae mendengarkan detak jantung itu. Sepertinya ia menyesali sesuatu.


Jae Geol menunggu di depan ruang operasi, lalu Direktur Kim datang, bertanya menenai keadaan Ibu.

"Didalam." Kata Jae Geol.


Direktur Kim marah, apa Jae Geol membuat Ibu marah lagi? Jae Geol membenarkan, sedikit.

"Dasar bodoh. Mengapa kau pergi kerumah Pelayan kita? Untuk membuatku marah?? Apa yang membuatku marah hanya akan membuat jantung berhenti!"

"Ayah."

"Apa?! Kau pikir dirimu dokter? Baik. Lalu apa yang telah kau lakukan untuknya? Apa yang kau lakukan untuknya sebagai Dokter? Kau tidak melakukan apapun. Apa kau masih menganggap Pengobatan Korea itu ilmu kedokteran?"


Lalu Eun Jae datang, ia menjawab pertanyaan Direktur Kim itu. Itu karena Jae Geil adalah wali ibu, jadi tidak bisa berbuat apa-apa, bukan karena Jae Geol seorang ahli medis Korea.

"Dokter Song!"

"Bukankah kita semua sama? Kita bisa menyelamatkan 3 atau 4 nyawa sehari, tapi pada keluarga kita sendiri, kita tidak bisa bertindak seperti dokter. Kita menjadi dingin atau acuh tak acuh. Operasi berjalan dengan lancar. Dia sedang masa pemulihan. Dia akan segera dipindah ke bangsal."


Ada sedikit rasa kagum dari Jae Geol pada Eun Jae.


Setelah Ibu dipindahkan ke bangsal. Jae Geol menungguinya samalaman. Sementara Direktur Kim hanya bisa melihat dari pintu.


Eun Jae minum sendiria, lalu Hyun datang. Hyun menuangkan minuman untuknya. Hyun juga mengembalikan ponsel Eun Jae.


Hyun bertanya, sejak kapan? Sejak Ibunya meninggal, apa Eun Jae mendengarkannya setiap hari? Eun Jae hanya diam saja.

"Ibumu. Apa yang akan terjadi jika aku mengambil.. tindakan lanjut padanya? Jika aku melakukan sesuatu, seperti pemeriksaan.. Kau tidak menyalahkanku?"

"Aku tidak punya waktu untuk itu. Aku sibuk menyalahkan diri sendiri."

"Maafkan aku."

Eun Jae menggeleng dan menuang minuman lagi.


Lalu Eun Jae melangkah keluar meninggalkan Hyun. Hyun tampak sangat merasa bersalah.


Esoknya, Eun Jae menjenguk Ibu Jae Geol. Ibu sudah dengar semuanya, ia masih hidup karena Ibu Eun Jae.

"Mulai sekarang.. aku akan menjadi Ibumu. Anggap aku sebagai Ibumu." Kata Ibu sambil memegang tangan Eun Jae.

"Terima kasih.. karena sudah selamat. Terima kasih." Jawab Eun Jae.


Eun Jae keluar dari bangsal Ibu dan Jae Geol melihatnya. Jae Geol tidak memanggilnya, melainkan mengikutinya.


Ternyata Eun Jae pergi menyendiri dan menumpahkan tangisnya. Jae Geol melihatnya dari kejauhan.

"Astaga. Dia bahkan cantik saat menangis." Gumam Jae Geol.


Esoknya lagi, Jae Geol sengaja menunggu Hyun sebelum naik kapal.

"Apa kau kembali kerja hari ini? Bagaimana Ibumu?" Tanya Hyun.

"Seberapa banyak kau menyukai Song Eun Jae? Jika kau menyukainya, berhati-hatilah. Aku mungkin akan mencurinya darimu."

Asyeeek...

17 komentar

Haiii...
Baru berani coment.
Kerennn... Makasih ya, sinop2 ini selalu nemani aq kala sendiri.
Semangat nulis sinopnya yaaa...

"Seberapa banyak kau menyukai Song Eun Jae? Jika kau menyukainya, berhati-hatilah. Aku mungkin akan mencurinya darimu."
Wouw, si dokter satu ini blak blakan sekali. Keren 👍...

ha ji won dikelilingi brondong2 imut..wasssyyyeeekkk ..lanjutkan sinopnya..Daebak bgt.persaingan cinta..dr.Kwak semangat yess

Makin seru aza, d tunggu kelanjutan..makasih ya sinopsi y keren bgt😊😊

Makin seru, ngak sabar. Cinta segitiga mulai 😍

Akting ha ji won sebgai dr. Song keren sekali, sangat menjiwai dan berkarakter tegas.. Dramax bagus n sayang untk dilewatkan..

Asiik jae geol dan hyun udh mulai bersaing demi cinta,tambh seru ni d tunggu lanjutan nya mba

Ho ho ho aku suka aku suka....lanjuuut please....

Haiii...
Baru berani coment.
Kerennn... Makasih ya, sinop2 ini selalu nemani aq kala sendiri.
Semangat nulis sinopnya yaaa...

Kyaaaaaa....
Tmbah seru..
Lnjut mbk nlisnya.fighting!

Ahay.... makin zeruuuu
Gomawo Cingu
💪💪💪

Dlunya jae goel tidak suka dokter song malah mulai suka dokter song. Kra2 siapa yg mendptkan dokter song ya. Ada cinta segi empat kayaknya nih

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon