Friday, September 29, 2017

Sinopsis Hospital Ship Episode 19


Sumber Gambar: MBC


Syukurlah Woo Jae masihhidup, memang tangannya terluka tapi tidak parah. Saat ini ia sedang bersama Hyun di taman rumah sakit, makan roti dengan sangat lahap.

Hyun bertanya, Woo Jae belum makan? Dengan mulut penuh Woo Jae menjawab, ia hanya makan tadi pagi.

"Cepat habiskan. Mereka mencarimu."


Woo Jae minta susunya pada Hyun. Hyun pun menyuapinya dan Woo Jae merasa bisa hidup sekarang, ia sukses menelan rotinya.

"Apa hubunganmu dengan kakakku?" Tanya Woo Jae.

"Sudah kubilang, kami rekan kerja."

"Kau menyukainya, ya?"

Hyun refleks memencet kardus susu sampai isinya muncrat ke Woo Jae. Hyun panik, ia meletakkan susunya dan membersihkannya.

"Wah... Kau pasti menyukainya. kau gila? Kenapa kau menyukai orang seperti dia?"

"Aku juga heran."


Woo Jae mengakui, ia cukup menyukai Hyun. Hyun mengucapkan terimakasih dengan formal. Woo Jae menyuruhnya santai saja dan minta ijin memanggilnya kakak ipar (Mehyung).

"Kakak ipar?" Hyun agak kikuk.


Dan saat Woo Jae kembali memanggilnya begitu, Hyun tetap menjawab formal. Woo Jae kembali menyuruhnya bicara santai.

"Baiklah."

"Aku ingin minta tolong. Jangan beri tahu Kakak tentang kejadian malam ini."

"Kenapa?"

"Dia akan khawatir tanpa sebab. Aku juga tidak terluka parah."

"Namamu pasti akan disebutkan di berita."

"Kakak tidak menonton berita. Dia hanya memedulikan operasi. kau menyukainya, tapi begitu saja tidak tahu?"


Hyun tersenyum.


Woo Jae kembali masuk. Hyun membantunya menyiapkan ranjang. Saat itu Eun Jae masuk, Woo Jae melihatnya duluan, ia langsung sembunyi dibalik selimut.


Eun Jae hampir menangis melihat tubuh Woo Jae tertutupi selimut semua begitu, ia pelan-pelan mendekati mereka. Tiba-tiba Woo Jae bersuara, berbisik pada Hyun apa yang terjadi?

Eun Jae langsung berhenti dan menatap Hyun tajam. Hyun menjawab Woo Jae, ia rasa.. Woo Jae memotong, kakak melihatku?

Eun Jae semakin mendekat dan sekarang tepat disamping Woo Jae. Hyun menyuruh Woo Jae bangun. Woo Jae gak mau, ia malah menyuruh Hyun ikut sembunyi, cepat!

"Song Woo Jae!" Panggil Eun Jae sambil berkacak pinggang. Eun Jae akan membuka selimut Woo Jae. Woo Jae ketakutan jadi ia lari.


Eun Jae menyuruh adiknya berhenti. Adiknya malah balik bertanya, jika Eun Jae jadi dirinya, apa Eun Jae juga akan berhenti?


Hyun memblokir jalan Woo Jae. Woo Jae lalu bersembunyi di belakang Hyun. Hyun menyuruh Woo Jae menuruti apa kata Eun Jae.

"Kukira kita teman. kau bukan kakak iparku lagi."

"Berhenti berkata begitu. Ayo ikut kakak!"


Woo Jae masih takut, tapi Hyun memaksanya untuk mengikuti Eun Jae.


Eun Jae menarik Woo Jae ke taman lalu mendudukkannya di bangku. Apa? Kerja paruh waktu? Bagaimana dengan kuliah? Kenapa bekerja?

"Untuk mencari uang. Kakak kira aku bermain-main?"

"Kakak sudah mengirimkan uang saku."

"Suka-suka aku dong!"

"Lalu kenapa kau meminta uang lagi kepada kakak? Kakak mengirimkan 300 dolar..."


Eun Jae langsung bisa menebak, Woo Jae memberikannya pada ayah kan? benar kan? Woo Jae tak bisa berbohong, ia mengangguk.

"Kalian berjumpa?"

Woo Jae kembali mengangguk.

"Kapan? Kapan dia kembali?"

"Dua bulan lalu."

"Selama itu? Dia mengambil semua uangmu?"


Woo Jae membantahnya, bukan mengambil, ia lah yang memberikannya. Eun Jae memastikan, hanya uang saku saja? Uang semester tidak kan?

"Tidak, Ayah bilang dia punya urusan."

"kau percaya? Dia membohongi kita--"

"Lebih dari sekali. Aku tahu dia sering membohongi kita."

"Lantas?"

"Aku memang ingin diperdaya olehnya. Tapi.. Dia tetaplah ayah kita."

Eun Jae tidak bisa menjawabnya lagi.


Eun Jae mengulurkan amplop pada Hyun sebagai ganti uang Hyun yang digunakan untuk membayar biaya rumah sakit Woo Jae tadi.

"Itu cukup untuk biaya bensin pulang dan lain-lain. Yang tidak bisa kukembalikan dengan uang, tekanan dan waktumu yang terbuang, akan kuganti dengan cara lain."

"Tidak. Ini cukup. Jika kita membahas sampai sejauh itu, aku berutang banyak kepadamu. Hanya ini yang kuperlukan. Aku ingin mengantarmu--"

"Aku naik taksi saja."

"Baiklah. Hati-hati di jalan."


Woo Jae mengikuti kakaknya, tapi ia menoleh sekali lagi pada Hyun.


Eun Jae pulang ke kamar kos Woo Jae. Eun Jae terkejut melihat keadaan kamar Woo Jae yang super berantakan.


Eun Jae tidak berkomentar, ia malah membantu Woo Jae mengeringkan rambutnya. Woo Jae gak mau tapi Eun Jae mamaksa.


Hyun minum sendiri di pantai. Lalu Young Eun datang mengambil botol sojunya.

"Kenapa kau sendirian? Dokter Song belum kembali. Kukira kau bersamanya."


Young Eun meminta Hyun menuangkan minuman untuknya juga.


Eun Jae membersihkan kamar Woo Jae. Ia menyuruh Woo Jae tidur disana malamini dan besok harus pergi ke rumah bibi.

"Kami tidak dekat, tapi kau akur dengannya. Kenapa tidak menjawab? kau tidak mau?"

"Kakak seperti Ibu. Melihat Kakak seperti itu, aku jadi teringat Ibu."

"Begitu mencoba bubur buatan kakak, kau akan menyesali ucapanmu."

Woo Jae ketawa.


Young Eun tahu Hyun sedang sedih, karena Eun Jae kan? Ia bisa mengerti. Maksudnya.. tidak apa-apa bersedih. Eun Jae itu keren, bahkan bagi wanita sepertinya, dia memukau. Eun Jae cantik, berbakat, dan berkarisma. Yang terpenting, Eun Jae polos dan jujur.

"Tidak masalah jika bersedih.. untuk wanita hebat seperti dia. Tapi apa kau tahu, Oppa? kau juga sehebat Dokter Song. Tidak, kau lebih hebat darinya. Dokter Song.. akan segera menyadarinya. Mungkin dia sudah menyadarinya. Dia baru kehilangan ibunya. Dia membutuhkan waktu."

"kau tidak seperti biasanya. Jika ada yang ingin kau sampaikan, katakan saja."


Young Eun mengaku kalah, ia wanita yang cukup kompeten, tapi a tidak bisa menandingi Eun Jae. Eun Jae sangat luar biasa hingga ia tidak bisa menyamainya. Apalagi... Kini Hyun menyukai Eun Jae.

"Oppa lebih menyukai dia daripada aku. Aku merestui. Cintailah Dokter Song sesuka hatimu, tapi beri aku waktu dua tahun. Bisakah kau menunggu dua tahun? Dua tahun lagi, aku akan pergi."


"Young Eun-ah." panggil Hyun karena merasa Young Eun sangat berbeda.

Young Eun mulai menangis, saat ia menghilang dari dunia ini, Hyun boleh mencintai Eun Jae sesuka hati.

"Apa maksudmu? Apa maksudmu?!"

"Aku didiagnosis menderita leukemia mieloid akut. Dokter bilang.. aku akan meninggal."


Eun Jae tidur di kos Woo Jae malam ini. Woo Jae berpesan, Eun Jae harus makan lebih teratur. EUn Jae kelihatan makin kurus sekarang ini.

"Uruslah dirimu sendiri."

"Astaga."

"Woo Jae-ya.. Mulai sekarang, jika Ayah menghubungimu, beri tahu kakak, paham? Kenapa tidak menjawab?"

"Baiklah, aku dengar."


Woo Jae tiba-tiba membahas Hyun yang tampaknya orang baik, tapi kenapa Eun Jae sangat dingin kepadanya?

"Apa maksudmu?"

"Kakak tidak berbelanja di swalayan. Kakak langsung mengembalikan uangnya tanpa berterima kasih. Bersikaplah lebih baik kepadanya. Tampaknya dia menyukai Kakak."

"Jangan sembarangan bicara dan tidurlah."


Tapi Woo Jae malah bangun, Eun Jae juga menyukai Hyun kan? Tidak? Kenapa diam saja? menyukainya atau tidak?

"Menyukainya atau tidak, itu tidak penting."

"Tentu saja penting. Kisah cinta kalian akan bagus. Kakak belum pernah merasakan cinta sejati. Hidup tidak boleh begitu."


"Woo Jae, kau tahu? Ibu mengencani Ayah sejak berumur 20 tahun."

"Mereka saling mencintai sepenuh hati."

"Rupanya kau tahu."

"Astaga. Aku lebih tahu daripada Kakak."

"Lihatlah akhir kisah cinta mereka yang menggebu itu. Ibu.. meninggal sebelum Ayah sempat berpamitan. kau masih ingin memedulikan cinta?"


Hyun mencaritahu soal leukimia mieloid akut setelah kembali ke asrama.


staff kapal berkumpul di dapur. Mereka menikmati kopi pagi ini.


Eun Jae masuk dan Ah Rim langsung menghampirinya, habis dari rumah sakit? Bagaimana kondisi adik?

"kau bingung kenapa kami tahu?" Tanya Perawat Pyo dan Eun Jae membenarkannya.

"Mana mungkin tidak tahu? Kami dihubungi terus-menerus di rumah sakit kapal dan asrama." Jawab Won Gong.

"Maafkan aku." Ucap Eun Jae.

"Tidak perlu meminta maaf. Bagaimana kondisi adikmu?" Balas kapten Bang.

"Untungnya, dia tidak terluka parah. Dia sudah boleh pulang semalam."

Semuanya bersyukur mendengarnya. Lalu Kapten Bang mengajak mereka mulai bekerja. Salah satu perawat mengatakan kalau Young Eun belum datang.

"Nona Choi tidak akan datang hari ini. Dia harus dirawat di rumah sakit beberapa hari." Jelas Won Gong.

"Berapa hari? Dia sakit?" Tanya Ah Rim.

"Kurasa begitu."


Ah Rim membawakan kopi untuk Hyun, tapi Hyun tidak menanggapinya, ia sibuk mempelajari mengenai leukimia.

"Itu soal leukemia? Kenapa mencari tahu soal itu? Ada yang sakit?" Tanya Ah Rim.

"Tidak. Aku ingin mencari sesuatu."


Hyun lalu keluar, berpikir.


Young Eun harus menjawlani serangkain pemeriksaan. Young Eun bertanya, haruskah ia melakukannya lagi? Dokter hanya mendesah.


Dokter Young Eun telfonan dengan Hyun, menjelaskan kalau Leukimia Young EUn adalah yang paling buruk. Sulit mengobatinya, bahkan dengan kemoterapi sekalipun. Mereka harus mempertimbangkan prosedur cangkok sel induk hematopoietik. Saat ini, belum ada donor yang pas. Mari cari solusi lain.


Hyun tambah sedih mendengarnya.


Young Eun berpapasan dengan Ibu Hyun usai pemeriksaan. Young EUn bertanya, kenapa Ibu ke Rumah sakit.

"Untuk pemeriksaan kesehatan. Manusia akan terserang penyakit seiring bertambahnya usia. Bagaimana denganmu? Kenapa kau kemari? kau sakit?"

"Tidak. Ya, maksudku..."

"Apa maksudmu? Sakit atau tidak?"

"Aku permisi dahulu. Aku agak sibuk."

"Dia bahkan tidak menyapaku dengan benar. Dia pikir aku hanya ibu dari mantan pacarnya. Dasar tidak sopan." Gerutu Ibu.

Tapi sebenarnya Young Eun tidak benar-benar pargi, ia cuma sembunyi.


Joon Young selesai bekerja, ia masuk dapur minta makan siang. Tapi makan siangnya tidak ada karema Microwave-nya rusak, jadi, juru masak tidak bisa memasak.

"Jadi itukah yang kita makan hari ini?"


Jae Geol lalu menawari Joon Young makan ramyeon mentah miliknya, enak lho! Joon Young menolaknya mentah-mentah.

"Aku bosan makan Ramyeon."

"Kalau begitu tidak usah makan. Bersyukurlah kita masih memiliki ini." Kata Ah Rim.

Joon Young mengacak-acak rambunta kesal.

"Jangan mengeluh. Seperti tidak makan beberapa hari saja." Kata Kapten Bang.


Pasien Joon Young tadi adalah kenalan Kapten Bang, jadi ia menyapa dulu sebelum pergi. Dan ia heran melihat semuanya makan remyon mentah.

"Kerja kalian tidak akan bagus jika makan makanan begitu."


Lalu pasien itu menawari Joon Young makan panekuk boga bahari di restoran saudaranya di Pulau Jisim. Panekuk boga bahari buatan sudaranya paling enak di Korea.

"Dokter sudah mengobatiku dengan sungguh-sungguh dan gigiku sudah tidak sakit lagi. Aku merasa jauh lebih baik. Akan kutraktir sebagai ungkapan terima kasihku. 10 porsi cukup?"

"Tapi Pulau Jisim cukup jauh dari sini." Kata Won Gong.

"Hanya 15 menit dengan perahuku dari sini."

Joon Young minta ijin, ia akan membeli untuk semuanya sebelum waktu makan siang usai. Ah Rim mengangkat tangan, ia juga mau ikut.


Seseorang menelfon RS Kapal karena ada ayahnya tidak bisa bernafas saat mereka sedang makan. Eun Jae menjawab telfonnya lalu memberi aba-aba. 

"Sepertinya ada yang tersangkut di tenggorokannya. Bu, harap tenang dan nyalakan pengeras suara ponsel Anda."

"Baik."


WOn Gong menelfon penjaga pantai dan akan segera ke lokasi. Hyun berkata akan kesana tapi Perawat Pyo teringat ada yang bisa lebih capat.

Hyun lalu menghubungi Joon Young.

"Hai, Hyun. Ada apa? kau sedang di Pulau Jisim?"

"Ya. Kenapa nada suaramu begitu serius?"

"Nyawa pasien tanggung jawabmu sekarang."

"Apa?"


Si anak mencoba melakukan seperti aba-aba Eun Jae.

"Kepalkan tangan Anda di ulu hatinya dan tutup kepalan tangan Anda dengan tangan satunya. Tekanlah keras-keras ke arah jantungnya."

"Tidak bisa."

"Coba lagi."


Hyun berdoa semoga Joon Young cepat sampai. Joon Young sendiri berlari kencang ke lokasi.


Si anak mencoba lagi tapi tetap tidak bisa. Ia takut, apa ayahnya akan mati seperti itu. Eun Jae menjelaskan,

"Dengarlah. Seorang dokter sedang menuju ke sana, tapi orang yang bisa menyelamatkan ayah Anda saat ini hanya Anda."

"Aku tidak bisa. Tidak bisa."

"Pasti bisa. Tenanglah. Anda harus menyelamatkan ayah Anda. Ayo."

Joon Youg akhirnya sampai. Hyun menyuruh Joon Young melakukan manuver Heimlich. Cepat!


Joon Young melakukannya dibantu Ah Rim. Tapi Joon Young bilang percuma saja. Hyun dan Eun Jae saling pandang.

Lalu Hyun memutuskan, "Coba manuver Heimlich sekali lagi. Berikan CPR jika itu tidak bisa."


Joon Young melakukannya sekali lagi dan akhirnya ia berhasil.

"Joon Young, jawablah. Jawab. Ada apa?"

"Dokter Cha sedang tidak bisa berbicara."

"Kenapa? Bagaimana kondisi pasien?"

"Untungnya, pasien terselamatkan. Tapi.. tampaknya Dokter Cha tidak sadarkan diri."

"Tidak sadarkan diri?"


Joon Young menangis saking senangnya karena sudah menyelamatkan nyawa pasien.

"Seandainya aku terlambat..."

"Sudahlah. Jangan menangis. Semuanya berakhir baik."

2 komentar

Wahhh cepet nich up date nya.
Semangattt,,, ditunggu sinop selanjutnya.

Ngakak si jon young sidokter gigi hahahaha

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon