Saturday, September 30, 2017

Sinopsis Hospital Ship Episode 20


Sumber Gambar: MBC


Eun Jae mengeluarkan koper Young Eun dari kamarnya, ia menjelaskan pada Perawat Pyo dan Ah Rim bahwa Young Eun tidak akan bekerja di sana. Young Eun bilang akan mengutus orang untuk mengambil barang-barangnya.

Perawat Pyo: Tangan dan kakinya masih berfungsi. Tidak bisa dia ambil sendiri? Kenapa dia mengutus orang lain?


Ah Rim menduga sesuatu tapi kemudian menggelengkan kepalanya. Perawat Pyo menyuruhnya untuk mengatakannya saja.

"Mungkinkah Nona Choi mengidap leukemia?" Kata Ah Rim.

"Omong kosong apa itu?!" Tanggapan Perawat Choi.

"Lalu kenapa Dokter Kwak sangat sering mencari tahu soal itu? Dia mencari tahu sejak Nona Choi dirawat di rumah sakit. Semua ini juga sangat aneh. Dahulu dia memaksa tinggal di asrama kita. Kini, tiba-tiba dia pindah."

"Sepertinya kau ada benarnya." Tapi kemudia Perawat Pyo menggelengkan kepalanya, tidak mungkin.


Hyun mendapat telfon dari Dokter Young Eun, mengabari kalau Young Eun menolak diperiksa. Dokter menduga Young Eun cemas, jadi ia menyuruhnya pulang.

"Anda sudah memberikan diagnosis?" Tanya Hyun.

 "Itu berdasarkan rekam medis yang dia bawa. Ah.. Aku harus memeriksa dia untuk mengatur penanganannya. Jika bukan transplantasi, kemoterapi itu penanganan terbaik."

"Akan kuhubungi dia dahulu."


Hyun menghubungi Young Eun tapi ponselnya tidak aktif. Dan saat akan mencoba lagi, ada telfon masuk. Hyun mengira itu Young EUn tapi ternyata Woo Jae.


Hyun keluar kamarnya dan ia memanggil Eun Jae yang kebetulan mau pergi. Hyun akan mengatakan sesuatu tapi ingat pesan Woo Jae untuk tidak mengatakannya pada Eun Jae.

"Ada apa?" Tanya Eun Jae.

"Bukan apa-apa. kau mau ke mana? Ini akhir pekan."

"Bekerja di UGD."

"Hati-hati di jalan."


Eun Jae mendapat telfon dari Direktur Kim saat ia keluar rumah, Direktur mengajaknya makan siang.

"Ini jadwalku bekerja di UGD." Kata Eun Jae.

"Santai saja. Aku sudah mengirimkan mobil ke sana." Lalu Direktur Kim menutup telfon.


Eun Jae naik mobil yang dimaksud dan ia diturunkan di dermaga, ternyata ia masih harus naik kapal juga.


Lokainya baguuuusss.. itu adalah tempat yang Eun Jae datangi dulu bersama Hyun setelah dari rumah sakit ayah Hyun.


Hyun menemui Woo Jae untuk memastikan apa yang Woo Jae katakan di telfon tadi, benar ayah Woo Jae menderita kanker? Woo Jae mengangguk. Hyun bertanya lagi, bagaimana Woo Jae bisa tahu?

Woo Jae menunjukkan diagnosis dari tiongkok yang ayahnya terima. Semuanya dalam ahasanya Mandarin dan Inggris, jadi ia tidak yakin, tapi bukankah kanker seperti dugaannya? Kondisinya buruk?
 
"Di mana dia sekarang?" Tanya Hyun.

"Seburuk apa kondisinya?"

Hyun hanya mendesah.


Eun Jae sampai ditempat Direktur Kim, tapi ia malah disapa oleh Jae Geol. Eun jae heran, kenapa Jae Geol bisa ada disana?

"kau lupa aku putranya? Ini acara kumpul keluarga. kau tamu kami. Kau merasa tertekan? Langkah berikutnya bisa membuatmu lebih tertekan."


Lalu Jae Geol meminta Eun Jae mengikutinya.


Jae Geol membawa Eun Jae pada ayahnya yang sedang mancing. Eun Jae menunduk memberi salam, hormat. Direktur Kim lalu meminta Eun Jae mendekat dan meminta Jae Geol meninggalkan mereka.


Jae Geol berbisik, sudah dibilang tadi kan? Eun Jae akan lebih tertekan. Fighting!


Direktur Kim bertanya, apa Eun Jae pernah memancing? Eun Jae ternyata baru pertama kali melakukannya. Direktur Kim menjelaskan, Eun Jae harus mencoba memancing karena itu hobi yang sempurna untuk dokter bedah.

"Bagus jika sesekali melamun dan tidak memikirkan apa pun. kau belum bisa melakukannya, ya?"

Eun Jae membanarkan.


Direktur Kim kembali mejelaskan, dahulu pulau itu tidak berpenghuni. Seorang nelayan menemukan pulau itu saat dia hanyut ke sana karena badai. Baginya, badai adalah krisis, tapi dia mengurus pulau ini dan menjadikannya seperti sekarang. Ternyata itu peluang bagus.

"Kurasa, bagi keluargaku, kau ibarat pulau ini. Istriku menjumpai badai dan kau memberinya tempat bernaung yang sempurna."

"Tidak, Pak. Saya hanya--"

"Kini giliran kami. Seperti sang nelayan yang mengurus pulau ini, kini giliran kami memperhatikan dan membantumu."

*Kode keras!

Eun Jae tampak keberatan. Direktur Kim mengerti, ia mengajak Eun Jae makan saja.


Ibu Jae Geol sengaja memasak makanan rumahan untuk Eun Jae.

"Silakan makan. Semoga kau menyukai masakanku." Lanjut Ibu.

Jae Geol: Ibu tahu Ibu pandai memasak.

Ibu: Ibu orang terpelajar. Orang terpelajar haruslah rendah hati.

Ayah: Abaikan dia. Makanlah. kau bisa kelaparan jika mendengarkan obrolannya terus.

Ibu: Tega sekali kau.

Eun Jae tersenyum mendengar obrolan mereka.


Woo Jae menghubungi ayahnya tapi tidak diangkat. Hyun menyuruhnya untuk mencoba terus.


Hyun mendapat telfon dari seseorang, ia memberi nama kontaknya, "Heo Jeong Rim". Hyun sedikit menjauh dari Woo Jae.

"Tadi kau menghubungiku?" Tanya Heo Jeong Rim.

"Ya. kau tahu Young Eun di mana?"

"Dia bersamaku."

"Bisa berikan ponselnya kepada dia?"

"Dia baru saja keluar."

"Kalau begitu, dia pasti baik-baik saja. Ya. Kondisinya tidak tampak terlalu buruk. Ada apa? Kalian berdua berhubungan kembali?"

"Hubungi aku saat dia kembali. Jika dia tidak mau, kau saja yang menghubungi. Terima kasih. Sampai jumpa."


Hyun kembali mendekati Woo Jae dan ternyata ayah masih belum juga mengangkat telfonnya. Woo Jae khawatir, bagaimana kalau ayahnya pingsan di suatu tempat? Bagaimana jika dia tidak menjawab karena itu? Bagaimana ini?

Hyun menenangkan, "Jangan terlalu cemas. Katamu kau yang membelikan ponselnya, bukan?"

"Ya."

"Atas nama siapa?"

"Namaku, untuk berjaga-jaga. Oh.."

"Lacaklah lokasinya. Jika ponselnya atas namamu, kau bisa melacaknya."


Woo Jae mulai melacaknya dan ia tahu dimana lokasi ponsel ayahnya. Ia lalu berlari ke mobil Hyun.


Ibu Jae Geol memperhatikan Eun Jae, ia meminta Eun Jae malan banyak karena Eun Jae kurus sekali. Eun Jae tersenyum, ia sedang berusaha. Jae Geol juga tersenyum.


Ponsel Eun Jae berbunyi. Eun Jae meminta maaf dan mengatakan kalau itu dari rumah sakit. Direktur Kim menyuruhnya mengangkat.

Itu adalah telfon dari Dokter Kang, UGD sedang membutuhkannya. Direktur Kim heran, ia kan sudah menugaskan Dokter Kang untuk menggantikan Eun Jae.

"Dia tidak bisa bekerja karena radang lambung akut." Jawab Eun Jae.


Direktur mengerti dan menyuruh Eun Jae kesana. Ibu menyesalkan, makanan Eun Jae saja belum habis. Sementara Direktur Kim menyuruh Jae Geol untuk mengantar Eun Jae, Ibu juga setuju.


Hyun dan Woo Jae ngecut ke lokasi ayah.


Jae Gel bahkan membukakan pintu mobil untuk Eun Jae. Setelah di dalam mobil Eun Jae sibuk dengan ponselnya. Jae Geol menyuruhnya untuk memasang sabuk pengaman, tapi EUn Jae diam saja.

"Aku bisa memasangkannya jika kau ingin agak romantis." Lanjut Jae Geol.

Eun Jae sontak memelototi Jae Geol, lalu segera memasang sabuk pengamannya.


Woo Jae dan Hyun sampai, ternyata ayah ada di rumah persemayaman. Disana ayah pingsan.

Woo Jae panik, ayahnya baik-baik saja kan?

"Bangunlah, ayah."


Ayah kesana untuk mengunjungi ibu.


Jae Geol bertanya, apa Eun Jae senang pergi memancing? Eun Jae sendiri tidak yakin. Jae Geol memberitahu, ayahnya tidak memancing dengan sebarang orang, ayahnya sangat berhati-hati memilih teman memancingnya.

"Apa kriterianya?"

"Keluarga atau kawan seperjuangan."

"Aku bukan keduanya."

"Kurasa kau keduanya. Sepertinya ayahku ingin kau menjadi keluarga dan kawan seperjuangannya."


Jae Geol lalu bertanya, "Bagaimana jika kita menikah? Kami membutuhkan pewaris rumah sakit. Bidangku tidak tepat. Kurasa dia ingin menyerahkannya kepadamu.. Sebagai menantunya. kau tertarik?"

"Tentu."

"Semudah itu?"

"Untuk apa mempersulitnya? Aku akan mendapatkan rumah sakit."

"kau tidak menyukaiku."

"Tidak, aku menyukaimu." Jawab EUn Jae sambil melihat ke arah Jae Geol.


Jae Geol memperhatikan raut wajah Eun Jae, ia tahu kalau Eun Jae benar-benar menyukainya.

"Jika kau tahu, fokuslah mengemudi." Kata Eun Jae.

"Bagaimana dengan wak Hyun? kau menyukainya?"

"Tidak, itu..." Eun Jae tidak bisa melanjutkannya.

"Ini menarik."


Mereka sampai di rumah sakit bertepatan dengan datangnya ambulan. Jae Geol berkata, ia merasa sedikit termotivasi, ia suka kerumitan, terutama jika pihak wanita keras kepala.


Ambulan itu membawa Ayah dan Woo Jae menangis saat ayahnya diturunkan dari ambulan.


Eun Jae mendekati Woo Jae dan memanggilnya.

"Noona!"

Eun jae terkejut melihat ayahnya. Hyun mengatakan ayah harus dibawa masuk dulu, suhu tubuhnya 38,5 derajat dan organ vitalnya tidak stabil.


Mereka masuk, tapi Eun Jae mematung di tempatnya. Jae Geol mendekat, ia bertanya apa wali pasien tadi adik kandung Eun Jae?

Eun Jae tidak menanggapi ia berjalan masuk.

"Tapi.. tapai.. Siapa pasiennya?" Tanya Jae Geol lagi, tapi Eun Jae malah meninggalkannya untuk berjalan masuk.


Dokter Kang memeriksa Ayah, penyakit kuningnya parah dan suhunya 38,5 derajat. Dokter Kang minta diambilkan USG dan minta pemeriksaan dengan pindai CT.


Hyun dan Woo Jae lalu mendekat. Hyun meminta Dokter Kang membaca hasil pemeriksaan dari tiongkok. Menurut diagnosisnya, Ayah mengidap kanker saluran empedu.

Sementara Eun Jae menatap dari pintu otomatis.

"A--Apa? Kalau begitu, penyakit kuning dan septisemianya disebabkan oleh tumor yang menyumbat sistem empedunya?" Kata Dokter Kang.


Dokter Kang menyadari ada Eun Jae, lalu ia bertanya,apa Eun Jae juga mengetahui penyakit ayah itu? Woo Jae menangis memanggil kakaknya,

"Noona, bagaimana ini? Apa yang akan terjadi kepadanya?"


Tapi Eun Jae malah pergi. Hyun meminta Woo Jae tenang, ia yang akan bicara pada Eun Jae.


Hyun mengejar Eun Jae, tapi Eun Jae malah membanting pintu di depan Hyun.

Di dalam, Eun Jae kelihatan sekali sedang menahan tangisnya.


TIba-tiba jantung ayah berhenti berdetak. Woo Jae panik dan Dokter Kang langsung melakukan tindakan. Untung Hyun kembali tepat saat itu jadi ia bisa menenangkan WOo Jae.

Dokter Kang berhasil mengembalikan detak jantung ayah. Mereka agak lega.


Dan tiba-tiba Eun Jae masuk, menyuruh perawat menyiapkan ruang operasi. Dokter Kang tampak tidak setuju.

"Demam dan penyakit kuning adalah tanda-tanda kanker saluran empedu akut. Kita periksa, lalu lakukan terapi salir empedu."

"Akan kau lakukan sendiri?"

"Ya."

"Tidak perlu. Kita bisa meminta bantuan pakar radiologi."

"Jika tidak melakukannya sekarang, semua organnya akan berhenti berfungsi."


Jae Geol mendekati Hyun, bertanya apa yang terjadi. Hyun menjelaskan, mereka akan memasukkan kateter ke saluran empedunya.

"Itu ayahnya. Dia akan melakukannya sendiri?" Heran Jae Geol.


Eun Jae benar-benar melakukan operasi aayahnya ayahnya. Dokter Kang bertanya sekali lagi, apa Eun Jae sungguh sanggup mengoperasi ayahnya sendiri?

"Mari kita mulai." Jawab Eun Jae, lalu mulai memasukkan kateter ke perut ayahnya.


Yang lain menunggu di depan ruang operasi.


Eun Jae keluar dan WOo Jae langsung memanggilnya. Eun Jae menyuruh Woo Jae masuk.

Woo jae pun masuk dan Hyun mengikutinya. Sementara Eun Jae melanjutkan jalannya dan Jae Geol memutuskan untuk mengikuti.


Eun Jae berpapasan dengan seorang perawat. Perawat itu menyampaikan ada panggilang dari ruang operasi, ada operasi darurat.

"Aku akan naik sekarang." Jawab Eun Jae.


Jae Geol memprotes Dokter Kang, tidak bisakah Eun Jae beristirahat dari operasi lain hari ini? Bisakah mereka meminta dokter lain?

"Tentu saja bisa." Jawab Dokter Kang.

"Lalu kenapa tidak? Dokter Song tidak mau. Dia mengatakannya sendiri."


Eun Jae bersiap untuk melakukan operasi. Tapi sebelum masuk ruang operasi, entah kenapa ia memejamkan matanya dulu sejenak.


Woo Jae merawat ayah, lebih tepatnya menunggui sih. Saat Woo Jae memegang tangan ayahnya, tiba-tiba tangannya bergerak. Woo jae senang, ia pun memanggil-manggil ayahnya.

Ayah mengeluarkan sura. Woo Jae snagat lega jadinya, ia kira Ayah akan meninggal.

"Di mana ayah?"

"Kita di rumah sakit tempat Noona bekerja."

Ayah tiba-tiba mennggenggam erat tangan Woo Jae.


Eun Jae keluar dari ruang operasi dan Jae Geol menyambutnya, kerja bagus! Jae Geol menjelaskan perihak ayah Eun Jae yang telah siuman. Demamnya turun dan organ vitalnya stabil.


Eun Jaa hanya mengangguk, lalu akan menuju ruang perawatan. Tapi Jae Geol membalik badannya menuju arah berlawanan.

"Dia ada di gedung baru. Di ruang VIP. Dibandingkan rumah sakit besar di Seoul, itu tidak begitu mewah."

"Itu tidak perlu."

"Tentu saja perlu. Ingatlah semua nyawa yang telah kau selamatkan. Salah satunya istri direktur rumah sakit ini. kau pantas menerima keistimewaan ini. Nikmati saja."


Hyun tidak kelihatan dari tadi, jadi Woo jae mencarinya dan ternyata Hyun sedang menyendiri di lorong kosong.

"Hyung. Sedang apa kau di sini? Aku mencarimu ke mana-mana."

"Sudah makan malam?"

"Sudah, aku menikmatinya. Terima kasih."

"Tapi.. ayah ingin bertemu denganmu sebentar."

"Dia ingin bertemu denganku?"


Hyun pun kesana. AYah malah bangun dan Hyun membantunya. Ayah mengucapkan terimakasih, ia sudah dengar daro Woo Jae bahwa Hyun lah yang menyelamatnya hidupnya.

"Tidak, aku tidak banyak membantu."

"Dokter.. Bagaimana caraku membalas kebaikan Dokter?"

"Dokter.. Jangan berkata begitu. Tidak perlu sekaku itu kepadaku, Pak."

"Astaga. Bolehkah?"

"Ya."


Ayah pun mulai bicara santai, ia ingin bertemu dengan Hyun karena ingin meminta bantuan Hyun tanpa sepengetahuan Eun Jae.

"Karena sudah menyelamatkanku, bisakah kau.. membantuku sedikit lagi?"

"Apa maksud Bapak?"

 
Perawat menyapa Eun Jae, menyampaikan kalau kondisi ayah Eun Jae sudah sangat membaik.

"Terima kasih." Jawab Eun Jae sopan.


Eun Jae menuju kamar ayahnya, jadi ia mendengar percakapan ayahnya dengan Hyun.

Ayah: Aku mengikuti program asuransi proteksi kanker sebulan lalu. Jika aku didiagnosis terkena kanker, 90 hari setelah mendaftar, aku akan dibayar 15.000 dolar. Aku punya 10 rencana. Sebelum 90 hari, jangan sampai ada catatan soal diagnosis itu.

Hyun: Aku tidak mengerti maksud Bapak.


Ayah memegang kepalanya pusing, "Fakta bahwa aku didiagnosis terkena kanker hari ini harus dihapuskan!"

"Bapak memintaku..."

Eun Jae masuk dan melanjutkan maksud ayahnya, "Dia memintamu untuk merekayasa rekam medisnya."

Ayah menyuruh Eun Jae keluar. Tapi Eun Jae malah menyuruh Hyun keluar, jangan mendengarkan omong kosong ayahnya. Keluarlah!

Hyun bingung, ia terus memandang Ayah dan Eun Jae bergantian.



5 komentar

Lanjutannya belom yaaa...penasaran sana lanjutannya. Semangat ya

Kak di, knp ga lanjut padahal aku ga puas kalo ga baca disini

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon