Sunday, September 10, 2017

Sinopsis Hospital Ship Episode 7


Sumber Gambar: MBC

-=EPISODE 7=-
Dia Membutuhkan Transplantasi


Ny. Park langsung menjambak Eun Jae begitu Eun Jae bilang kalau ia akan meninggal. Semua Tim RS heboh dan mencoba memisahkan mereka tapi tidak ada yang berhasil, sampai akhirnya Hyun membisiki Ny. Park baru Ny. Park mau melepaskan Eun Jae dan mengikuti Hyun.


Joon Young penasaran apa yang Hyun bilang, lalu Hyun membisiki Joon Young.

Yang lain bertanya, apa yang Hyun katakan.

"Double. Dia akan membayarnya dua kali lipat." Jawab Joon Young.


Won Gong berkomentar, apa uang itu penting bagi mudang (paranormal)? Perawat Pyo menjawab, uang adalah segalanya, jadi tidak heran jika seorang mudang suka uang.


Ah Rim penasaran, kira-kira berapa bayarannya? Perawat Pyo mengatakan kalau Ny.Park sangat hebat, begitu melihat Eun Jae, dia tahu kalau Ibu Eun Jae meninggal.

"Daebak, itu pasti sangat mahal. Aku akan membayar 30 dolar." Kata Ah Rim.

"Aku akan membayar 50 dolar." Kata Perawat Pyo.

Won Gong menegur mereka, mengingatkan kalau semua pasien melihat mereka, tidak malu kah? Perawat Pyo lalu menyuruh yang lain kembali ke ruangan dokter.


Ah Rim mengikuti Hyun ke ruangan. Di sana, Hyun menyuruh Ny. Park minum air dulu, baru setelah itu ia akan memeriksa.

"Aigoo, anak ini. Kau memikatku dengan uang, dan sekarang ingin memeriksaku."

"Anda harus sehat untuk bisa bekerja. Anda sangat hebat akhir-akhir ini. Anda meramalkan kalau ada kebakaran di rumah Tuan Kim."

"Astaga. Apa itu? Kenapa kau banyak tahu tentangku? Apa kau memeriksa latar belakangku atau semacamnya?"

"Mungkin kekuatan spiritual Anda bisa Anda turunkan padaku."

"Anak nakal." tapi Ny. Park tersenyum.


Hyun mulai memeriksa dan Ny. Park mulai membaca peruntungan Hyun, katanya Hyun itu tidak punya keberuntungan dengan wanita. Wanita pertama yang Hyun sukai, menyakiti Hyun, 'kan? Apa wanita itu membuat Hyun menyukainya lalu pergi begitu saja?

Hyun terdiam karena kata-kata Ny. Park benar. Ny. Park kasihan pada Hyun, bahkan wanita berikutnya juga tidak mudah Hyun dapatkan.


Eun Jae meminta dipanggilkan pasien berikutnya tapi Won Gong melarangnya. Won Gong menyuruh Eun Jae istirahat saja dan bisa bisa pulang terlebih dahulu jika kapal mereka berlabuh.

"Kau tidak perlu bersikap baik padaku. Aku bukan amatiran yang tidak bisa bekerja hanya karena pasien yang kasar." Kata Eun Jae.


"Aku melakukan ini bukan karena pasien. Kau mengeluarkan amarahmu pada pasien dan bukan merawatnya. Kami tidak butuh dokter seperti itu."

"Apa maksudmu?"

"Apa karena mereka pasien non-bedah? Kau harus melakukan operasi untuk menjadi bintang, dan harus menjadi bintang supaya bisa kembali. Apa itu mengganggumu kalau kau hanya mendapatkan pasien non-bedah dengan penyakit kronis?"

"Bukan begitu--"

"Lalu apa? Apa karena ibumu? Ibumu yang tidak tahu kalau dia sakit dan membiarkan dirinya semakin sakit."

"Tuan Chu!"

"Selain itu, kau bahkan tidak bisa membantunya--"

"Kau sudah selesai?"

Won Gong melanjutkan, apa Eun Jae marah pada ibunya karena membuatnya merasa bersalah? Apa itu sebabnya Eun Jae mengeluarkan amarahnya pada pasien?

Kata-kata Won Gong selalu benar dan Eun Jae sama sekali tidak bisa menjawabnya dan memilih menghindar.


Eun Jae menghirup udara segar di luar, ia mendesah dalam.


Hyun melakukan USG pada Ny. Park. Ny. Park berkata tidak ada gunanya Hyun melakukan itu, ia melarang Hyun mengatakan apapun padanya dan beri saja ia obat.

"Ahli bedah itu benar. Anda harus ke rumah sakit yang lebih besar. Lakukan pemeriksaan secara menyeluruh--"


Ny. Park langsung bangun, marah, semuanya sama saja, suka mempermainkan orang tua seperti dirinya. Namun tiba-tiba Ny. Park muntah darah.


Hyun langsung membaringkan Ny. Park dan Ah Rim menyiapkan peralatan. Hyun sudah siap melakukan intubasi tapi ia kembali bengong, Ah Rim memanggil-manggilnya tapi ia tidak bergerak atau menyahut.


Ah Rim memutuskan untuk memanggil bantuan, ia memanggil Eun Jae.


Eun Jae buru0buru ke ruangan Hyun dan langsung mengambil alat Intubasi dari Hyun. Selama melakukan Intubasi, Eun Jae menyuruh Ah Rim untuk memanggil  Penjaga Pantai dan ambulan ke dermaga, dan menyuruh Perawat Pyo untuk menyiapkan mesin hisap dan tabung SB (pernafasan).

Eun Jae menjelaskan, "Varix esofagus-nya (Kondisi pembuluh darah abnormal dimana pembuluh darah membesar di bagian bawah kerongkongan) pecah. Kita harus memasangnya dengan cepat."


Setelah Eun Jae selesai, Hyun masih berdiri mematung di tempatnya tadi, bahkan posisi tangannya pun tidak berubah. Eun Jae tidak bertanya apapun, hanya memandangnya sekilas.


Eun Jae membawa Ny. Park RS Geoje Jeil. Ia akan melakukan endoscopi.


Sementara itu di RS Kapal, Hyun sepertinya merasa sangat bersalah dan kesal.


Hyun lalu berlatih melakukan Intubasi pada manekin dan ia selalu berhasil tak perduli berapa kalipun ia mencoba. Hyun kesal sendiri jadinya.


Hyun menuju mobilnya dan ia mendapat telfon dari adiknya, membicarakan soal ayah mereka dengan panik.


Hyun langsung menuju RS ayahnya (Oh.. ternyata ayahnya di rawat di RSJ bukannya sedang di luar negeri yang selama ini orang-rang ketahui). Hyun bertanya pada ibu dan adiknya, apa yang terjadi pada ayah.

"Ia mencoba melarikan diri lagi. Staf membawanya kembali. Obat penenang itu membuatnya terjatuh."

Hyun miris melihat ayahnya yang kedua kaki dan tangannya diikat.


Hyun pun duduk, bertanya kenapa adiknya ada disana. Adiknya nampak jutek, ia ingin melihat apa ayah baik baik saja dan ia menyuruh Hyun meminta sesuatu pada ayah jika ayah sudah sada, minta ayah mengantarnya ketika menikah.

"Mertuaku ingin kami menikah setelah Ayah kembali dari luar negeri. Mereka ingin menunda pernikahan jadi Ayah bisa mengantarku. Mereka akan menunggu selama itu."

"Kau tidak memberi tahu mereka?"

"Aku tidak bisa. Aku sangat malu. Haruskah aku memberitahu mereka kalau dia sudah meninggal?"

"Ji Eun-ah!"


Ibu menegur Ji EUn, Ji Eun tidak bisa mengatakan itu, walaupun kau membenci ayah. Ji Eun membentak ibunya untuk diam, ia juga berharap bisa memberitahu semua orang kalau Ibu sudah meninggal.

"Apa??"

"Hanya orang gila yang akan berkencan dalam situasi seperti ini. Apa kau masih ingin berkencan diusiamu?"

"YAA!!"

"APA?!!"


Hyun membentak mereka untuk berhenti, DIAM! Ibu kesal dan memilih pergi dari sana.

Hyun bertanya pada Ji Eun, apa yang akan Ji Eun lakukan. Ji Eun tak punya pilihan, ia akan membuat alasan dan meminta Hyun membunyikan Ayah atau mungkin ia akan mati. Hyun sedih.


Hyun melepas semua ikatan ayahnya dan ayahnya terbangun tapi tidak mengenalinya.


kemudian Hyun mengajak ayahnya jalam-jalan. Ayahnya bicara sangat formal padanya, bertanya dimana mereka. Hyun menjelaskan kalau disana adalah kampung halaman ayahnya, ayahnya merawat orang di sana selama lebih dari 10 tahun.

"Dulu aku.. merawat orang disini?"


Hyun jongkok di depan ayahnya, "Iya. Ayah bekerja sangat keras. Ayah menyelamatkan banyak nyawa anak-anak dan menyembuhkan orang cacat. Beberapa orang bahkan menjadi dokter karena Ayah. Apa ayah siapa yang jadi dokter? Ayah bisa mengingatnya?"

Ayah menggeleng frustasi. Hyun sedih melihatnya.


Eun jae sedang melihat hasil CT-scan Ny. Park ketika Direktur Kim datang menghampiri, bertanya apa Eun Jae sedang melihat data pasien yang tadi ia bawa ke UGD" Eun Jae membenarkan sambil berdiri.

"Bagaimana? Hasilnya?" Tanya Direktur Kim lagi.

"Sudah saya urus." Jawab Eun Jae.


Direktur Kim manggut-manggut puas, lalu melihat hasil CT-scan dan menemukan adanya Sirosis hati (Pengerasan pada hati sehingga sel-sel hati akan kehilangan fungsinya) yang cukup serius.

"Satu-satunya cara adalah transplantasi." Kata Eun Jae.

"Dia akan menjadi prioritas kita. Bukankah menunggu pendonor yang mati otak total membutuhkan waktu lama?"

"Kita harus mencari donor. Menerima transplantasi dari pendonor hidup adalah langkah terbaik. Kami menghentikan pendarahan dengan operasi endoskopik dan melepaskan ventilator (sebuah perangkat yang memompa udara ke paru-paru) saat pasien sudah bisa bernapas sendiri. Begitu pasien stabil, ia akan bicara dengan anggota keluarganya.


Ny. Park sudah siuman, ia bertanya dimana dia dan kenapa Eun Jae memasang banyak alat ke tubuhnya. Eun Jae menjelaskan dengan dingin, Ny. Park ada di UGD karena kesehatannya memburuk.

"Aku muntah darah?"

"Anda ingat."

"Singkirkan ini dariku. Semua ini pasti mahal."

"Saya tidak bisa melakukan itu."


Ny. Park langsung bangun menentang. Eun Jae meminta Ny. Park menghubungi keluarganya tapi Ny. Park bilang tidak punya anggota keluarga.

"Anda harus diobati dan menerima transplantasi hati setelah anda stabil."

"Mengapa? Kau bilang aku akan meninggal lagi?"

"Park Oh Weol-nim."

"Aku tidak punya keluarga. Bahkan jika punya, aku tidak akan meminta hati mereka. Tutup mulutmu dan singkirkan ini. Kau tuli? Singkirkan ini dariku. Singkirkan sekarang juga!"

Eun Jae mengerti, ia kemudian menyuruh perawat mengambil surat janji. Surat janji itu menyatakan kalau Ny. Park menolak pengobatan dan tidak akan membuat Eun Jae bertanggung jawab atas apa yang terjadi dikemudian hari, jadi Ny. Park harus menandatanganinya.

Ny. Park tanpa ragu langsung mengambil surat janji itu dak menandatanganinya.


Ny. Park keluar dari RS dan Eun Jae memperhatikannya. Sebenarnya Eun Jae kelihatan berat membiarkan Ny. Park keluar RS.


Ayah Hyun kembali tertidur dan Hyun membersihkan tubuh ayah dengan handuk basah. Tiba-tiba pintu terbuka, ibu datang. Hyun terkejut karena ibunya tidak kembali ke Seoul.

"Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak bekerja besok?" Tanya Ibu,

"Mereka tidak akan mengikatnya jika ada orang disini."


Ibu akan berjaga disana, ia mungkin juga akan tidur disana. Hyun agak senang apa Ibu memperdulikan Ayah?

"Ini demimu. Ini demimu, bukan dia. Kau akan begadang semalaman dan langsung bekerja di pagi hari. Jika kau dapat masalah lagi seperti terakhir kali--"


Ibu keceplosan dan segera menghentikan omongannya, lalu bertanya apa Hyun baik-baik saja, Apa semuanya baik-baik saja di rumah sakit kapal?. Hyun tak menjawabnya, ia lanjut membersihkan tubuh ayahnya.

"Kau sebaiknya pergi. Pergilah sekarang."


Hyun tidak menjawabnya sama sekali. Ibu kesal dan membuang handuk yang Hyun pakai untuk membersihkan tubuh ayahnya.

"Dia melarikan diri tanpa memikirkan kita. Yang dia lakukan sekarang merusak karirmu. Kenapa kau peduli padanya?"

"Ini bukan karena Ayah."

"Kau sangat naif. Bagaimana kau bisa berpihak pada Ayahmu disituasi seperti ini? Jika dia tidak melarikan diri malam itu, kau tidak perlu mencarinya sepanjang malam. Kau tidak akan dapat masalah. Ini semua--"

"Aku pergi."

"Kau anak kasar."


Sebelum Hyun benar-benar pergi ibu kembali bertanya, apa Hyun.. baik-baik saja? Apa semuanya berjalan lancar? Hyun menangguk lalu pergi.


Saat di luar, Hyun menelfon RS Geoje Jeil, bertanya bagaimana keadaan Ny. Park, tapi ia malah dikabari kalau Ny. Park sudah pulang.

"Pulang? Bukankah dr. Song Eun Jae ada di sana?"

"Dia yang membolehkannya pulang."


Hyun langsung ke RS dan menarik Eun Jae untuk bicara berdua. Hyun tak mengerti, kenapa pasien yang mengidap sirosis hati dan varix esofagus diijinkan pulang?

"Dia yang ingin pulang."

"Bagaimana kau bisa membiarkannya? Kau seharusnya membujuknya."

"Bagaimana? Bagaimana aku bisa menahannya saat dia sudah menandatangani janji? Apa aku harus memaksanya?"


Eun Jae pergi dan Hyun menghubungi Won Gong, menjelaskan semuanya lalu meminta kontak Ny. Park.

"Aku akan mencari tahu. Aku akan menghubungimu segera."


Hyun meminta tolong seseorang untuk memeriksa rumah Ny. Park, tapi rumahnya kosong.

"Dia tidak naik kapal yang terakhir. Jika dia naik kapal nelayan, aku juga sudah datang kerumahnya." Kata orang itu

"Iya. Terima kasih bantuannya. Tolong hubungi aku jika dia kembali. terima kasih."


Sementara itu, Ny. Park sedang dalam perjalanan di dalam bis.


Hyun kembali mendatangi Eun Jae, kali ini ia meminta Eun Jae memesan Terlipressin (Obat vasoaktif untuk mengobati hipotensi), ia membutuhkan obat itu.

"Kau mau memberikan suntikan itu kepada pasien secara langsung?" Tanya Eun Jae.

"Kita harus meringankan kondisinya terlebih dahulu. Dengan begitu kita punya lebih banyak waktu."

"Tidak perlu. Kita hanya bertanggung jawab pada pasien di rumah sakit. Kita tidak bertanggung jawab atas semua pasien."

"Aku akan menunggu."

Hyun lalu keluar, mmebuat Eun Jae mendesah.


Hyun terus menghubungi Ny. Park tapi ponselnya tidak aktif.

Ny. Park ternyata mendatangi restoran Putrinya.


Tapi sang putri sangat dingin pada Ny. Park, bertanya ngapain Ny. Park kensana? Ny. Park khawatir, apa putrinya selalu bekerja sampai larut malam begini?

"Bukan urusanmu. Kenapa kau peduli?"

"Tentu aku peduli. Aku Ibumu."

"Kenapa kau tidak sekalian mengiklankannya? Kau ingin mikrofon? Kau ingin semua orang tahu kalau aku anak seorang mudang?"

"Bukan begitu. Aku hanya.. Aku hanya ingin.. menyapamu."

"Bagaimana jika dia melihatmu di sini?"

Sang Putri membenarkan tanpa merasa ragu, mengingat Ny. Park sering tidak sadarkan diri dan pingsan, Ny. Park menari dengan pisau di mulutnya. Apa aku harus bahagia punya Ibu seperti itu?

"Pergi. Jangan pernah kembali."


Ny. Park tidak kelihatan sedih, malah bertanya sambil tersenyum, apa persiapan pernikahan putrinya berjalan lancar? Tapi putrinya kembali menjawab dengan jutek, apa Ny. Park akan datang ke pestanya? Jangan berani datang!

"Dengar, Sun Hwa-ya."

"Tolong. Tolong tinggalkan aku, Ibu. Ketika aku pindah 10 tahun lalu, aku meninggalkan semuanya. Aku meninggalkan semuanya termasuk rumah dan ibuku, jadi tolong."

"Baiklah, aku mengerti. Aku mengerti maksudmu."

Ny. Park kemudian memberikan buku tabungan serta stempelnya pada Sun Hwa, itu untuk persiapan pernikahan Sun Hwa.

"Aku tidak butuh."

"Terimalah. Aku mungkin pelit, tapi uang tidak. Ini uang yang aku dapatkan sebagai mudang, tapi tidak ada yang tahu. Jadi ambillah."

Ny. Park lalu pergi setelahnya. Sun Hwa meremas buku tabungan itu, ia merasa campur aduk tapi tetap tidak bisa melihat ibunya pergi, ia menangis.



Hyun menunggu Eun Jae di parkiran, Eun Jae heran karena saat ini sudah sangat larut. Hyun mengatakan kalau ia sangat membutuhkan obat itu.

"Aku bisa antar ke asramamu." Jawab Eun Jae.

"Kau tidak punya tumpangan, 'kan? Masuklah." Hyun lalu membukakan pintu mobilnya.


Eun Jae menebak, Hyunmerasa bersalah? itu sebabnya Hyun melakukan semua ini? Eun Jae mengingatkan, Hyun tidak bisa mengatasi kesalahannya dengan terus mengikuti dirinya.

"Dokter."

"Mengapa kau selalu payah saat intubasi? Apa kau pernah mengalami kecelakaan? Apa kau pernah mengalami kecelakaan mobil atau cedera yang fatal?"

"Tidak."

"Lalu apa masalahmu?"

"Hentikan. Bukankah kau membuat kesalahan fatal dengan pasien? Itu sebabnya--"


Hyun kesal dan menghentikan mobil mendadak. Ia menjelaskan, tidak semua orang sama seperti Eun Jae. Eun Jae memang mengesankan, hebat dan cekatan, bahkan setelah ibunya mendadak meninggal, Eun Jae tetap tenang dan kompeten, sangat mengejutkan, tapi.. tidak semua orang seperti Eun Jae, tidak semua orang bisa seperti Eun Jae.

"Kau sudah selesai? Kalau begitu ayo jalan. Aku lelah."


Eun Jae dan Hyun sampai di asrama saat subuh dan ternyata disana sudah menunggu Bibi Eun Jae (Adiknya Ibu Eun Jae, aku lupa namanya).


"Bagus sekali." Tegur Bibi, "Ada apa denganmu? Kenapa kau bersama pria jam segini?"

Hyun akan menjelaskan tapi Eun Jae menyuruhnya untuk masuk duluan. Hyun protes tapi Eun Jae memaksa, ia yang akan bicara pada bibinya.


Eun Jae bertanya, apa yang membawa bibinya ke sana? Bibi melangkah ke depan untuk mendekati Eun Jae, ia tidak pernah berpikir hal seperti ini akan menimpanya, ia tidak percaya harus mendengar berita tentang keponakannya sendiri di TV.

"Kau pindah ke tempat yang sangat dekat denganku. Kau tidak berpikir ingin mengunjungiku? Kau tidak penasaran.. dimana aku meletakkan peristirahatan terakhir ibumu?"


Bibi kesal karena Eun Jae punya waktu untuk jalan dengan pria sepanjang malam, tapi tidak punya waktu untuk Ibunya?

"Lihat dirimu. Kau punya hidung untuk bernafas. Kau tetap diam dengan mulut tertutup, dan kau meremehkan yang lain."

Eun Jae hanya menatap bibinya tanpa mengatakan apapun atau setidaknya mencoba untuk menjelaskan.

"Apa? Apa yang kau lihat? Apa kau hebat? Kau memang dokter, tapi kau membunuh ibumu sendiri. Kau bahkan tidak meneteskan air mata sepanjang pemakaman ibumu. Apa aku salah? Jika ada yang ingin kau katakan, katakan."

Bibi menunggu tapi Eun Jae sama sekali tidak mengatakan apapun.


Bibi lalu memberikan barang Ibu Eun Jae, bibi sudah membuang pakaiannya, dan itu satu-satunya yang tersisa.

"Eun Jae-ya, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi." Kata bibi lalu pergi.


Hyun tertanya belum masuk ke dalam, ia melihat dan mendengar semuanya tadi.


Eun Jae membawa kotak barang ibunya ke kamarnya tapi ia sama sekali tidak menyentuhnya lagi sampai matahari bersinar terang.


Hyun diam-diam menengok ruangan Eun Jae tdapi kosong dan tiba-tiba saja Eun jae sudah berdiri di belakangnya,  mengagetkan.

"Kau terlambat." Kata Hyun.

Eun Jae tiba-tiba memberi Hyun kopi.

"Apa ini? Jika ini tentang kejadian pagi tadi.. Aku sedikit bodoh. Aku cepat lupa."

"Kau sepertinya salah paham. Aku membelikannya untukku, dan aku dapat gratis satu."

Walaupun begitu Hyun tetap saja senang dan terus memandangai kopi pemberian Eun Jae itu.

1 komentar so far

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon

loading...