Wednesday, September 13, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 33

 
Sumber Gambar: MBC



Won didandani untuk upacara pernikahannya dengan Dan, tapi ia sama sekali tak tampak bahagia. Ia menoleh ke arah bunga disampingnya,

"Ibu suka bunga peony."

Kilas balik..


Won kecil membawakan Ratu bunga peony. Ratu menerimanya, menghirupnya, lalu tersenyum membuat Won juga ikut tersenyum.

"Dia jarang tertawa, tapi dia bisa tertawa dengan melihat bunga peony."


Namun suatu hari, Won juga melihat Ratu menangis saat melihat bunga peony.

"Kadang-kadang, dia menangis karena melihat bunga peony. Ketika aku bertanya, dia bilang padaku.."

Ratu: Lebih baik aku tidak tahu. Aku berharap tidak pernah tahu tentang bunga ini. Bagaimanapun cantiknya, aku seharusnya tidak suka.

Won lalu menghapus airmata ibunya.

Kilas Balik Selesai...


Won sudah selesai dandannya, ia sekarang diiring para kasim menuju tempat upacara pernikahan. Tiba-tiab satu kelopak bunga peony yang ada di ruangannya jatuh.


"Perkataan Ibu tumbuh berakar di hatiku dan menjadi duri. Kapanpun aku hampir lupa, duri itu akan menusukku."


Won mengingat saat ia bersama San.

"Bagaimanapun cantiknya bunga itu, Aku harus mencintai dan melupakannya. Aku tidak bisa hanya memberi cinta. Jadi aku bisa berpaling darinya."


"Buang! Aku rasa.. aku cukup pintar dan bisa melakukannya."

*Oh.. berarti yang waktu itu jadi lempar-lemparan adalah kelopak bunga peony. Pertama jatuh ke tangan Rin, lalu melintasi San dan terakhir, Won meniupnya untuk membiarkannya terbang lagi.


Won melalui jembatan itu, ia teringat saat ia melihat sahabatnya, Rin, mencium wanita yang sangat ia cintai, San.

"Aku salah."


Ratu dan Raja akhirnya bertemu untuk menghadiri upacara pernikahan Won. Raja bertanya keadaan Ratu. Ratu merasa raja juga kelihatan tidak sehat.

"Kau bilang begitu padaku, tapi kau sendiri tampak tidak sehat." Jawab Raja.


Ratu menyuruh Boo Yong pergi. Raja menyuruh Boo Yong segera pergi karena jika membuat Ratu jengkel akan membahayakan hidupnya. Boo Yong pun undur diri.

"Sekarang, kau puas?"

"Saya selalu puas dengan hal terkecil. Anda tidak tahu saja." Jawab Ratu.


Won menemui Keluarga Dan untuk meminta Dan.


Ayah berpesan pada Dan, jagalah omongan dan tindakan mulai dari fajar sampai senja, supaya tidak ada yang menemukan kesalahannya.


Prosesi pernikahan dimulai, pengantin wanita dan pengantin pria diminta untuk saling membungkuk. Lalu pengantin pria meletakkan replika angsa secara berdampingan.


Ratu berkata, angsa liar memiliki pasangan seumur hidup. Raja tersenyum, angsa liar terbang berkelompok. Ketika ada yang menangis didepan, mereka akan bertanya, Itulah sopan santun. Begitu mereka menemukan pasangan, mereka tidak akan berpisah satu sama lain, itulah kesetiaan. Itulah dua hal yang dipelajari dari angsa liar.


Ratu melihat Raja seakan tak percaya, Raja masih ingat?

"Ratu mudaku pernah bertanya, "Mengapa burung ini... ada di kamar tidur kita pada malam pertama?""

"Itu pertanyaanku. Anda menjawab semua pertanyaanku saat itu."

Raja akhirnya balik menatap Ratu, "Aku akan bertanya padamu bukan karena perhatian ataupun sopan santun. Kenapa kau tampak tidak sehat?"

"Putra kita dan pengantin wanitanya akan datang. Mengapa banyak penjaga bersenjata disini?" Ratu mengalihkan pertanyaan Raja denganpertanyaan lain.

Raja tertawa, "Supaya aku bisa hidup. Hidupku memang tidak berguna, tapi aku ingin tetap hidup selama mungkin."


Dan dan Won dalam perjalanan menemui Raja-Ratu tapi Won mendadak berhenti.

"Aku sangat sibuk dan tidak bisa berbagi minuman pada malam pertama."

"Anda mau kemana?"

"Aku akan mengunjungimu nanti. Permisi."

Won tidak bisa pergi, Dan mengatakan kalau Raja-Ratu sedang menunggu mereka. Mereka baru saja menikah, jadi harus melapor dan menunjukkan rasa hormat--.

"Mereka sudah lama tidak bertemu dan perlu bicara. Jangan khawatir." Kata Won lalu melepas diasan dikepalanya lalu pergi.


Won kembali ke istananya dan disana ternyata Rin sudah menunggu. Won bertanya, untuk apa Rin disana? Rin tidak datang ke pernikahannya jadi ia pikir Rin sudah pergi.

"Ada yang ingin kubicarakan." Kata Rin.

"Tuan Lin. Kapan kau diangkat? Bukankah kau seharusnya di Jeolla sekarang?"

"Suruh mereka pergi."

"Beraninya kau menghalangi jalan Putra Mahkota?"

"Ini penting."

"Kau ingin diseret?"

Rin pun membiarkan Won dan pengiringnya kembali jalan.


Setelah Won masuk ke ruangannya, Rin menyusul, ia mohon Won untuk mengijinkannya menikahi San karena orang tua  sudah setuju. Won mengingatkan, pemakaman ayah San baru saja berakhir.

"Kami pikir, dengan menikah kami tidak akan berkabung lagi."

"Tidak mungkin."

"Biarkan kami menikah. Kau punya Putri Mahkota dan pasangan Wang Rin ada didekatmu. Itu akan membuat orang berhenti bergosip tentangmu."

"Pasangan Wang Rin?" Won ketawa.

"Kau tahu apa yang mereka katakan tentangmu?! Bentak Rin.


Won menjelaskan, ia tahu semua yang Rin lakukan, Rin harus camkan itu. Rin melanjutkan, mereka bilang Won bahkan membunuh demi mendapatkan wanita dan hartanya.

"Apa itu alasanmu datang kemari? Kau ingin menikahi San karena aku?

"Biarkan.. Nona San pergi."


Won menunjukkan dokumen itu, dimana ia memaksa ibunya untuk mengecapnya kemarin. Ia menjelaskan kalau ia mengangkat San untuk bertanggung jawab atas keuangan setelah Ayahnya meninggal, jadi San harus tinggal di sampingnya dan patuh perintahnya.

"Dia akan menjadi bawahanku, jadi dia tidak bisa kemana-mana." Tutup Won.


Won menjauh dari Rin dan membuat Rin bicara kasar, apa Won akirnya akan memasukkan San kedalam sangkar?

"Kau akan membuatnya berada di sangkarmu, memberinya air dan makanan. Apa itu membuatmu senang?"


Won kembali lagi mendekati Rin, "Kau tahu berapa banyak aku berkorban untukmu? Kau tahu apa yang sudah kuberikan untukmu?"

"Siapa yang membunuh Menteri Keuangan?"

"Beraninya kau menikamku dari belakang?"

"Apa Ratu?"

"Apa maumu?"

"Kau tahu tentang ini?"

"Apa San atau posisiku?"

"Apa yang kau bicarakan?"


Won menjelaskan, Rin harusnya pergi ketempatnya sebagai Inspektur Jenderal, tapi Rin malah bermalaman dan bertemu secara rahasia dengan Raja dan saudara tiri WOn, Pangeran Gang Yang juga ada di rumah itu.

"Aku penasaran apa yang kalian bicarakan sepanjang malam tanpa aku, di belakangku. Kau seharusnya minta padaku. Aku bisa saja memberimu posisi sebagai Putra Mahkota sekaligus mempercayaimu kembali."

"Tidak peduli apa yang aku katakan--"

"Sudah terlambat."

"Aku akan membawa Nona San."

"Sudah aku bilang, itu tidak mungkin."

"Tolong berikan dia izin. Aku tidak ingin melawan perintahmu."


Won memanggil pengawal, menyuruh merekamengurung Rin karena sudah melawan perintahnya dan melalaikan jabatannya. Dan juga, Rin membuat rumor aneh tentang Wonseongjeon.


Dan akhirnya menghadap Raja dan Ratu seorang diri, Raja kecewa dan langsung pergi.

"Aku sudah tahu itu. Dia tidak peduli aku Ayahnya ataupun Rajanya. Dia akhirnya menunjukkan sifat aslinya. Aku akhirnya .semuanya dengan jelas."

Raja juga meminta Dan berhati-hati, Dan harus melakukan yang terbaik agar bisa hidup.


Setelah Raja pergi, semua menteri dan pejabat juga ikut pergi. Ratu bertanya pada Dan, apa Rin datang ke upacara pernikahan?

"Dia tidak bisa datang." Jawab Dan.

"Aku dengar dia ada di istana."

"Saya juga melihatnya, tapi dia harus pergi--"

Ratu langsung pergi bahkan disaat Dan belum menyelesaikan kalimatnya.


San mencari jalan keluar tapi tidak ada. Kebetulan pintunya terbuka karena ada dayang masuk, San berlari keluar tapi di-stop oleh pengawal.

San pun kembali masuk. Dayang menyampaikan bahwa Won mengirim pakaian dan makanan untuk San. San bertanya, kenapa? Tapi kedua dayang tidak bisa menjawab hanya saling pandang.

San melihat makanannya, tapi tidak ada minuman padahal ia suka. Dayang paham dan berkata akan mengambilkannya untuk San.

"Ya, sekarang." Kata San, lalu menyuruh sayang satunya juga ikut pergi mengambil karena satu botol tidak akan cukup, ia  setidaknya butuh 4 sampai 5 botol."


Sementara itu, Moo Suk dan anak buahnya membantu Rin kabur dari kawalan penjaga yang diperintahkan Won. Rin awalnya ragu, tapi ia memilih untuk mengikuti Moo Suk, demi San mungkin.


Setelah para dayang keluar, San melemparkan piring wadah makanan tadi ke luar pagar untuk mengalihkan perhatian penjaga. Lalu ia meloncati pagar sebelah lain.

Namun San malah kepergok oleh Won, San heran, ngapain Won kesana? Won balik bertanya, kenapa San ada di luar? Belum sempat San menjawab para pengawal mengerumuni mereka. Won mengisyaratkan tidak apa-apa.


Lalu Won bertanya, bukankah San kesana mau bertemu dengannya? San mengiyakan, awalnya, tapi ia pikir lebih baik pergi tanpa melihat Won, jadi ia pergi meninggalkan gerbang istana. Namun, penjaga istana datang dan menyuruhnya ikut dengan mereka.

"Ada Rin di sampingku, dan dia bilang, "Apa yang kau lakukan?" Omong-omong, apa aku  banyak bicara sekarang?" Tanya San.

"Aku mengerti maksudmu."

"Mereka menyeretku ke sini dan bilang itu perintahmu."

"Benar. Itu perintahku. Tapi mereka menyeretmu? Siapa yang melakukannya?"

"Kau ingin mengurungku?"

Won mengoreksi, bukan mengurung tapi melindungi San, ia  tidak ingin San terluka seperti ayahnya. Ia lalu mengajak San pergi.

San bertanya lagi, bukannya hari ini upacara pernikahan Won? Won membenarkan tapi sudah selesai dan ia kembali mengajak San pergi.


Tapi San tak kunjung bergerak membuat Won memperhatikan wajah San, lalu bertanya, apa San menangis terus? San terlihat lebih kurus. Won menyesal tidak bisa berada disisi San.

"Tidak apa. Rin--"


San kembali menyebut Rin, Won langsung memegang tangan San untuk menghentikannya, dan lagi-lagi kembali mengajaknya pergi.

Tapi San menarik tangannya, ia menjelaskan kembali, tadi ia ingin menemui Won, Won memberiku kalung cincin itu, jadi ia datang untuk menepati janji itu. Dan karena sekarang San sudah melihat Won, ia mau pergi.

"Selamat atas pernikahanmu. Ini hari yang membahagiakan bagi kita semua. Kalau begitu, aku permisi."

"Menurutmu apa artinya perintah Seja? Jika kau mengabaikannya seperti ini, itu akan menjadi berita buruk."


Rin merasa sudah aman, ia melarang Moo Suk mengikutinya karena ia harus ke suatu tempat. Tapi Song In datang bersama orang-orangnya untuk menghentikannya.

"Haruskah aku berterima kasih sebelum pergi?" Tanya Rin.


Song In menebak kalau Rin pasti ingin menyelamatkan San. Ia menjelaskan tidak ada gunanya pergi sendiri karena Seja sudah mengurung San. Rin bertanya dimana San. Song In balik bertanya, jika nanti Rin berhasil, apa yang akan Rin lakukan? mau berpegangan tangan dan melarikan diri sekali lagi untuk naik kapal menuju Yuan?

"Kenapa aku harus selalu bertanya dua kali? Dimana dia?"

"Anda menginginkan Nona Eun San, 'kan? Jika Anda sangat ingin memilikinya--"

"Jangan sebut namanya.. dengan mulutmu lagi."

"Baiklah. Namun, Raja berharap pada anda. Anda harus mengunjunginya lebih dulu."


San berjalan-jalan dengan Won, tapi dimana-mana banyak pengawal padahal Won biasanya selalu sendiri. Won menjelaskan mereka itu bukan untuk mengawalnya tapi untuk mengawal San.


"Terkadang, Apamama takut padaku. Dia tidak pernah makan denganku karena dia pikir aku bisa meracuninya. Dia tidak pernah sendirian saat bertemu denganku. Selalu ada orang lain. Walaupun itu wanita. Dia pasti akan  memanfaatkannya sebagai perisai jika aku menggunakan pedang."

"Kau seharusnya memberitahu dia kalau kau tidak akan dan tidak perlu melakukan itu."


Won menjawab, tidak akan ada yang berubah. Orang-orang di dekat Raja sudah salah menafsirkan niatnya. Won  tidak mengerti mengapa Ayahnya selalu cemas dan berpikiran yang tidak-tidak. Tapi sekarang, ia melakukan hal yang sama. Ia selalu was-was.

"Aku takut seseorang mungkin menyakitimu." Lanjut Won.


Won memetik bunga dan memakaikannya pada San. Won tersenyum, bunga itu cocok untuk San. *Itu bunga peony kah?

Won mengakui sambil menggendeng San, "Aku ingin kau berada disisiku sehingga aku bisa melindungimu. Aku sudah punya kekuatan untuk itu sekarang. Lihat (para pengawal)."

Namun lagi-lagi San menarik tangannya. Won kembali menghela nafas berat.


Pengawal Bayangan melapor pada Won bahwa mereka khilangan Rin karena ada yang menjaga Rin, pria-pria bertopeng.


Rin mengunjungi Raja, bertanya bagaimana keadaan Raja. Raja hanya terbaring lemah, kata-katanya pun terdengar tidak bertenaga. Rin akan memanggilkan tabib kerajaan tapi Raja melarang, Boo Yong ada untuknya, hanya Boo Yong yang ia butuhkan.

"Ada yang salah dengan tubuhku." Kata Raja.

"Dimana yang sakit?"

"Kau tidak lihat? Aku tidak punya banyak waktu."

"Anda biasanya tidak pernah bicara hal-hal lemah seperti itu. Anda harus bangun dan mengaum. Anda seharusnya seperti itu."


Raja tertawa, lalu Boo Yong menjauhi mereka, menuju Song In dan Song Bang Young. Raja memastikan hal itu.


Kemudian Raja memagang tangan Rin, mengatakan kalau Menteri Keuangan sudah minggal dan membicarakan soal putrinya, apa sudah meninggal juga?

"Tidak. Dia masih hidup dan baik-baik saja." Kata Rin.

"Tolong selamatkan dia."

"Iya."

"Tolong selamatkan aku juga." Raja terlihat sangat takut, ia mengatakannya sambil melirik ke arah Song In, Boo Yong dan Song bang Young. Rin paham apa maksud Raja.


Rin keluar dari ruangan Raja diikuti Song Bang Young. Song Bang Young mengatakan kalau Seja sudah tidak waras, jika Rin melakukan kesalahan--

"Sekarang hari pernikahannya. Dia pasti bersama istrinya." Kata Rin.

"Tidak. Selesai upacara pernikahan, dia meninggalkan istrinya sendirian. Dia mengabaikan Raja dan Ratu dan pergi tanpa sepatah kata. Demi wanita itu."

"Wanita?"

"Putri Menteri Keuangan. Semua orang di istana sedang membicarakannya. Semua orang dari pejabat sampai pelayan rendahan berbicara tentang mereka."

"Dimana dia sekarang?"

"Jangan mimpi bertemu dengannya. Pergi menemuinya saja, bisa dianggap sebagai pengkhianatan."

"Aku harus menemuinya. Kau bisa beritahu caranya?"

"Entahlah.. Jika kau sungguh ingin merencanakan pengkhianatan... Ha Ha Ha.."

"Apa dia di ruangannya?"

"Mungkin."


Rin lalu memanggil Song In. Dengan tegas Rin mengatakan ia ingin Song In melayaninya.

"Aku akan memberi perintah. Aku ingin kau melakukannya."

"Keinginan anda adalah perintah saya."


Won membawa San ke ruangannya, ke kamarnya lebih tepatnya. San disana haya berdiri saja. WOn bertanya, apa kaki San tidak sakit.

"Sedikit." kata San, WOn lalu menyuruhnya tidur di tempet tidurnya.

San tekejut, "Disana?"

"Kau sudah sering tidur di sana."

"Baru 2 kali."

"Maka akan menjadi 3 kali. Sana."


San lalu mendekati Won , ia akan menggiling tinda lalu pergi, sementara Won bisa melanjutkan apa yang akan WOn tulis dan segeralah datangi Dan yang pasti sudah menunggu.

"Duduk. Aku harus memberitahumu banyak hal."

San hanya diam saja melihat Won.

"Mengapa? Kau juga takut padaku? Kau takut aku meracunimu?"

"Kau berlebihan. Sungguh."


San pun duduk dan ngobrol dengan Won, mereka mengobrolkan Guru Lee. Won tidak mengerti, bagaimana bisa San dengan otak seperti itu menjadi murid Guru Lee? San membalas, jadi Won mau membicarakan tentang otaknya? Won menjawab tidak, San sepertinya lupa apa yang ia katakan, ia lalu mengulanginya lagi.

"San-ah. Kau adalah yang pertama. Kau ingat?"

"Entahlah.. Sepertinya aku pernah dengar."

"Aku pikir kau adalah yang pertama bagiku saat itu. Sekarang, aku rasa kau tidak begitu. Aku pikir kau yang terakhir bagiku."


Won melanjutkan, tidak ada orang lain di sisinya selain San. Ia membuang mereka.

San teringat kata-kata Dan, "Ratu mengatakan hal yang sama. Jika kau tetap di samping Jeoha, kau hanya akan menyakitinya."


San kemudian berkata kalau ia berbohong, ia kesana bukan untuk menepati janji kalung itu, itu hanya alasan. Rin disuruh pergi, ia mau bertanya apa Won bisa menyelamatkan dia?

"Sejauh yang aku tahu, dia tidak disuruh pergi."

"Aku bertemu dengannya. Kami akan pergi bersama sampai akhirnya aku dibawa kemari."

"Apa karena kau mengira Ibuku telah membunuh Ayahmu? Kau akan tetap di sisiku jika aku membalas dendam Ayahmu?"

"Jeoha."

"Terkadang, Orang-orang memintaku memilih diantara dua pilihan. Tak terkecuali kau."

3 komentar

makasih rekapnya... aku mau nulis apa yaaa soalnya aku masih terbawa perasaan Won. gak kebayang perasaannya sedih,merasa dikhianatin. udah gitu buat aku yang milih WonSan ngerasa gak ada yang belain. dimana-mana googling tentang The King In Love komennya, review-nya ulasan, baik artikel dalam dan luar negeri bahasannya tentang RinSan... huhuhu... penulis naskahnya kejam banget sama Won yaa gak pernah dikasih istirahat... ada aja cobaannya. Padahal dia berusaha yang terbaik. Won gak pernah dikasih damai...

Rin...rin...rin akhirnya kamu bilang juga yang kamu mau ke Won. Ok sekarang sudah dimulai perang terbuka antara Won dan Rin dalam memperebutkan San. Rin gak akan ninggalin Won, dia cuma mau San.

Rin...rin...rin akhirnya kamu bilang juga yang kamu mau ke Won. Ok sekarang sudah dimulai perang terbuka antara Won dan Rin dalam memperebutkan San. Rin gak akan ninggalin Won, dia cuma mau San.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon