Wednesday, September 13, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 34

 
Sumber Gambar: MBC


Dayang Jo ditangkap. Furutai langsung mengabari Ratu, bahwa dayang Jo ditangkap karena Jeonbeopsa (Istana Raja) mulai menyelidiki kematian Menteri Keuangan.


Ratu langsung keluar, tapi pengawal yang menangkap Dayang Jo tidak mau mendengarnya, terkesan mengabaikan perintahnya.


Jendral Eungyang dan Komandan Yongho dipanggil ke Istana malam-malam, tapi mereka tidak tahu siapa sesungguhnya yang memanggil.


Ratu datang ke Istana Seja, ia memerintahkan agar pintunya dibuka tapi penjaga pintu hanya diam.


Kasim Kim memberitahu Won bahwa Ratu datnag.

"Aku sudah menyuruh untuk tidak membiarkan siapapun masuk, terutama Omamama."

"Tetapi..."

"Lakukan perintahku."


kasim Kim menyampaikan pada penjaga. Penjaga menjelaskan alasannya, "Tempat ini dikelilingi oleh tali untuk mengusir roh jahat. Tidak ada yang bisa masuk atau keluar tanpa izinnya. Siapapun yang menerobos masuk akan dibunuh terlepas dari siapapun orangnya. Ini perintah Seja Jeoha."

Ratu terpukul mendengarnya, ia sampai akan pingsan dan harus dituntun saat kembali.


Ternyata Rin ada di dekat sana dan mendengar semuanya.


Won kembali ke dalam dan menemukan San sudah terlelapdi tempat tidurnya. Won memperhatikan wajah San lekat-lekat wajah San lalu menggenggamnya.

"Kau telah melepas tanganku dua kali hari ini, dan sekarang juga begitu. Jika aku membuatmu tertidur sepanjang waktu.. Jika aku melakukan itu, Apakah kita bisa hidup dengan tenang? Jadi tidurlah dengan nyenyak untuk waktu yang lama."




Rin bergerak dengan Moo Suk. Moo Suk melapor bahwa ia sudah menemukan keberadaan Guru Lee. Rin langsung ke sana, awalnya saat ia membuka pintu tidak ada siapa-spa tapi Furutai muncul dan menghadangnya, tapi kemudian mengawalnya masuk ke ruangan.


Disana, Guru Lee sedang bersama ratu. Rin memberi salam pada keduanya lalu bertanya apa Guru Lee baik-baik saja?

"Tidak. Aku tidak bisa menghilangkan kebiasaan bicaraku, jadi tubuhku yang menderita. Lihat. Aku ditahan lagi."

"Aku dengar Anda menuduh Ratu di balik kematian Menteri Keuangan." Rin kemudian beralih pada Ratu, "Jadi, Anda di sini untuk membuat dia bungkam?"

"Jika aku melakukannya, kau bisa menghentikanku?"


Rin berkata akan membawa Guru Lee tapi Guru Lee meminta waktu sebentar untuk bicara.

"Seperti yang aku katakan, Tidak ada orang seperti dia yang memiliki hati dan pikiran untuk setia kepada Seja Jeoha sampai akhir. Anda (Ratu) seharusnya tidak memanggilku. Anda seharusnya memanggil dia (Rin) terlebih dulu."


Guru Lee memberitahu Rin bahwa salah seorang Dayang Wonseongjeon membuat pengakuan, ada yang memanfaatkan orang tuanya sebagai sandera untuk menyuruhnya membakar dupa di ruangan Menteri Keuangan berada.

"Membakar dupa?" tanya Rin.

"Dia diracuni sampai mati setelah membuat pengakuan, jadi mereka tidak bisa bertanya lebih jauh."


Ratu berkata, ia mengenal seseorang di istana yang ahli tentang dupa, Penyihir berada di sebelah Raja itu.

"Aku tahu siapa dia." Jawab Rin.

"Penyihir itu membutakan Raja dan datang diantara aku dan anakku. Dia akan segera datang diantara kau dan Seja. Aku memang sedikit dingin padamu sampai saat ini. Tapi kalian berdua selalu berteman. Jika kau temannya, bantu dia. Ini demi Putri Mahkota."


Rin: Sudah terlambat. Penyihir itu sekarang bawahanku, dan Seja Jeoha bukan lagi temanku.

Ratu langsung berdiri, terkejut.

Moo Suk dan orang-orangnya masuk, langsung menghubus pedang. Rin memerintahkan mereka hati-hati, jangan sampai membuat Ratu terkejut.


Rin menjelaskan pada Ratu, mereka hnya akan membawa Guru Lee pergi. Ratu sudah tahu Rin akan melakukan semua ini, selama ini putranya sudah dibodohi Rin.

Rin mengabaikan Ratu, ia mengajak Guru Lee keluar dari sana. Ratu berteriak tapi Rin tetap melanjutkan apa yang ia lakukan.


Ratu menyesal karena tidak menyingkirkan ular kecil itu ketika ia punya kesempatan.


Dalam perjalanan, Guru Lee bertanya, kenapa Rin sampai melakukan semua ini?

"Aku harus menemui Eun San. Namun, Aku tidak punya cara lain untuk bertemu dengannya." Jawab Rin sangat putus asa.


Bi Yeon mondar-mandir di depan gerbang istana dengan membawa bungkusan. Penjaga saling berbisik membahas luka di wajah Bi Yeon.

Moo Suk muncul dan langsung mengajak Bi yeon masuk.


San terbangun karena perbincangan WOn dan Kasim Kim.

Won: Apa yang kau bicarakan? Itu tidak masuk akal.

Kasim Kim: Ada yang memberitahuku.

Won: Bagaimana mereka bisa memulai rapat dewan tanpa perintahku?

Kasim Kim: Itu perintah Raja.

San mendengar semua itu tapi ia pura-pura masih tidur.


Won mengamati San lalu memberi Kasim Kim perintah, jangan biarkan siapapun masuk dan berhati-hati pada orang Wonseongjeon.


Won pergi dan San bangun. San melihat sudah banyak makanan untuknya. tapi di luar pintu banyak penjaga.


Song Bang Young memimpin rapat, Rapat dewan darurat ini tentang--

Won datang memotong perkataan Song bang In, ia bertanya dimana Raja?

"Dia memanggil semua Menteri untuk rapat dewan darurat pagi-pagi buta, jadi dimana Apamama?"


Song Bang Young menjawab, Raja hanya memerintahkan untuk melakukan rapat dewan dan memberikan wewenangnya.

"Memberikan wewenangnya? Kepada siapa? Tidak mungkin kau."


Rin pun masuk, menjawab pertanyaan Won, "Saya Wang Rin.. dan saya datang sesuai perintah Raja untuk memimpin rapat dewan.


Rin lalu berjalan mendekati Won untuk membacakan dokumen yang dibawanya.

"Wang Rin akan menjadi ketua rapat dewan menggantikan Raja. Satu, Menteri Keuangan Eun meninggal di istana, selidiki kasusnya. Dua, Seja Jeoha Wang Won sedang dalam masa pelatihan, para Menteri akan menilainya."


Moo Suk membawa Bi Yeon ke Istana Seja, tapi ia tidak bisa mengantar sampai dalam karena ia tidak bisa dilihat orang lain.

"Kau nanti akan datang, 'kan? Kau tidak akan meninggalkanku di sini sendirian, 'kan?"

Moo Suk menanggauk, "Kau bisa melakukannya?"

"Aku bisa."


Bi Yeon mengetuk pintu brutal memanggil-manggil San sampai ahirnya penjaga membiarkannya masuk, tapi tetap memeganginya. Jang Eun bertanya, kenapa Bi Yeon ada disana?

"Tuan Rin menyuruhku. Untuk merawat Nona San."


San keluar karena mendengar suara Bi Yeon. Bi Yeon hampir menangis, San lalu mengajaknya masuk.


Wang Jeon mengkonfrontasi Song In, kenapa bukan dia dan malah Wang Rin yang menjadi Raja?

"Katakan alasannya. Aku memang ragu, tapi aku akan sabar menahan diri. Apa yang kau rencanakan?"

Song In memelintir tangan Wang Jeon agar melepaskan cengkramannya. Song In menjelaskan kalau Rin bisa melakukan apa yang tidak bisa Jeon lakukan.

"Aku bisa. Aku sudah bilang aku bisa."

"Beri aku waktu sebentar."

"Memangnya kenapa?"

"Adikmu akan menyingkirkan Seja. Setelah itu, aku akan menyingkirkan adikmu."

"Bagaimana aku bisa percaya?"

"Kita sudah mencoba selama bertahun-tahun dan sia-sia untuk menjatuhkan Seja. Adikmu berhasil mengancamnya hanya dalam beberapa hari. Sekarang.. waktumu untuk melihat."


Tabib kerajaan menjelaskan dalam Rapat, "Saya dengar dupa itu dibakar di ruangan Tuan Eun. Tuan Eun memiliki penyakit kronis, dan dupa itu sangat membahayakan baginya."

Song Bang Young bertanya, Menteri Eun menunggu di ruangan siapa? Tabib menjawab, Wonseongjong (Ruangan Ratu). Semua menteri langsung bisik-bisik.


Selanjutnya Komandan Yongho yang memberikan kesaksian, "Saya mendapat catatan tanpa nama. Mereka bilang gandum kita ada di gudang Tuan Eun. Kami sudah mengeceknya, dan memang ada disana. Dari bawah sampai atas, semua dicap dengan stempel kita."


Jendral Eungyang juga, "saya tahu kalau stempel itu aneh, jadi saya melaporkannya pada Seja Jeoha, tapi beliau menyuruh kami untuk membiarkannya. Beliau bilang akan mengurusnya."


Rin meminta ijin menyampaikan kesimpulannya. Won dengan malsa menjawab ia memberi ijin.

"Saya menduga Tuan Eun dibunuh dan dijebak mencuri persediaan tentara."

"Sudah cukup."

"Untuk menyelidiki ini, kita harus mengetahui--"

"Berhenti."

"--dimana awal mulanya. Biarkan Ratu yang menjelaskannya. Saya akan mengirim seseorang supaya beliau datang kemari. Ratu.. harus kemari."


Bi Yeon tak menyangka San di tempatkan di ruanga mewah seperti ini. San bertanya, apa Bi Yeon tidak pergi ke
Pulau Ganghwa bersama Koo Hyung dan yang lain? Bi yeon menjelaskan, tidak ada yang kesana, mereka semua menunggu San di rumah yang mereka sewa di dekat pasar.

"Tuan Wang menemukan kami dan datang pagi-pagi sekali." Lanjut Bi Yeon.

"Tuan Rin?"

"Siapa lagi?"

"Bagaimana dia bisa tahu?"

"Jangan banyak tanya. Dia bahkan tidak tidur tadi malam. Dia mencari cara untuk membawamu. Oh, dia bilang semuanya sudah siap."

"Siap apa?"

"Dia bilang begini, "Aku akan mengeluarkan dia. Nona San bisa pergi setelah itu". Tuan Rin menyuruhku untuk memberimu ini. Dia bilang akan menunggu di sana. Apa yang dia bilang? "Tempat kami memotong benang". Kau tahu dimana itu?"


Di kamar Raja, Boo Yong dan Song In bermesraan, dimana Raja sedang tidur atau pingsan?

Boo Yong: Setelah kau menyingkirkan Seja Jeoha, kau akan menempatkan anak kedua sebagai gantinya?

Song In: Lin bisa kita kendalikan.

Boo Yong: Lalu kau akan membuangnya?

Song In: Aku memikirkan bagaimana caranya, supaya dia tidak membalasnya.

Boo Yong: Apa yang akan kau lakukan padanya? Eun San.

Song In: Kau terdengar seperti cemburu.

Boo Yong: Kau benar.


Ratu tiba-tiba datang dan memergoki mereka, "Apa ini yang kalian lakukan pada Raja? Binatang!"


Ratu lalu membangunkan Raja, bangun dan lihatlah. Binatang-binatang itu, tapi Raja samasekali tidak bangun.

"Kenapa Anda tidak bangun? Ini aku, Raja."

Ratu tahu penyebabnya, dupa itu, ia kemudian membalik meja tempat dupa itu. Ratu memerintahkan menangkap Song In dan Boo Yong, ia harus mencari tahu apa yang mereka lakukan pada Raja.


Tapi Ratu memegangi dadanya, suaranya juga terdengar sangat berat. "Tidak ada orang diluar?"


Kemudian pintu terbuka dan pengawal Ratu disandera. Furutai langsung berdiri melindungi Ratu.

Song In berkata, "Pembunuh bersenjata masuk ke kamar Raja. Pengawal Raja sendiri akan mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi Raja."


Pengawal Ratu dibunuh. Furutai mengajak Ratu pergi tapi Ratu enggan karena melihat Raja menggeliat. Tapi Ratu kalah cepat oleh Boo Yong yang segera menangkan Raja.

Ratu kembali batuk-batuk, Furutai sangat khawatir, ia memapah Ratu keluar tapi ia harus melawan semua penjaga itu.


Furutai meminta Ratu keluar dulu, ia akan menyingkirkan semua pengawal itu.

Furutai kalah jumlah, terlebih Song In diam-diam melawannya dan akhirnya Furutai terbunuh. Ratu shock.


Sementara itu, suasana Ramat tampak kacau, mereka seperti membicarakan Won.

Won menatap Rin tapi Rin malah pergi.

"Ibuku suka bunga peony. Dia jarang tertawa.. tapi dia bisa tertawa dengan melihat bunga peony."


Ratu kembali ke Istananya, langkahnya lemah sekali. Ia kesana diantar oleh Song In.

"Kadang-kadang, dia menangis karena melihat bunga peony. Ketika aku bertanya, dia bilang begini, "Lebih baik aku tidak tahu"."


Ratu akan mengambil bunga peony tapi tangannya gemetar, lalu seorang dayang mengulurkan setangkai untuknya. Ratu membawanya ke kursinya.

"Dia berharap tidak pernah tahu kalau bunga ini ada. Bagaimanapun cantiknya, dia seharusnya tidak menyukainya."


Bi Yeon keluar, ia membawa bungkusan. Pengawal menahannya, bertanya apa itu.

"Barang ini? Nona San menyuruhku membawanya." Kata Bi Yeon."

Tapi itu cuma taktik San agar penjaga lengah, jadi ia bisa keluar. San sudah berganti pakaian dengan pakaian pria.


Rin juga berlari keluar.


Ratu semakin pucat dan lama-lama ia memejamkan mata, tangannya melepaskan bunga Peony yang genggamnya. Ratu menghembusakan nafas terakhir.

Dayang sangat terkejut sampai menjatuhkan teh yang dibawanya, ia lalu keluar mengabari yang lain.


Kasim Kim masuk ruang rapat dengan wajah bercucuran airmata. "Seja Jeoha, baru saja.. Ratu.. Ratu.. meninggal dunia.

Semua orang terkejut dan serempak bersujud pada Won. "Seja Jeoha."

*Nangis bombay.. T.T


"Perkataan ibuku sudah lama melekat padaku, tapi aku tidak pernah mengerti."

Rin menunggu di jembatan itu.

"Mengapa aku tidak pernah berpikir untuk menjadi bunga peony baginya?"


San akan menuju jembatan itu tapi perhatiannya teralih pada orang-orang yang sedang terburu-buru. San bertanya pada salah satu, ada apa?

"Ratu meninggal dunia."

San langsung mematung. Shock.


Won perlahan berdiri.

"Bukannya menjadi bunga, aku malah menjadi duri. Aku menusuk orang-orang didekatku.. dan juga diriku sendiri, dan durinya terus tumbuh."


Eun San masih belum beranjak, mau kembali pada Won atau menemui Rin?

2 komentar

makasih rekapnya... akhirnya aku nangis jugaaaaa... kenapa Won gak pernah dikasih damai...

Kasihan banget won,,satu persatu org yg disayangi pergi.. Niat nya utk melindungi org yg disayang malah jd boomerang..berharap ending yg bahagia bg smua. Meskipun tdk ad yg saling memiliki setidaknya adil bagi smua nya. Smg song in dkk dapat hukuman mati. Hahaha

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon