Wednesday, September 13, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 35


Sumber Gambar: MBC

Rin masih menunggu di jembatan itu, ia bernarasi.

"Sejak kecil, aku selalu selangkah di belakang. Bukan karena lamban. Aku memilih tetap di belakang. Aku lebih suka melihat daripada melakukan. Melihatmu bahagia juga membuatku bahagia. Itu sebabnya aku suka berada satu langkah di belakang."


Won datang ke kamar ibunya, dimana ibunya sudah berbaring tak bernyawa.


Won menangis, "Omamama. Omamama..." Won menggenggam tangan ibunya.


Won meminta tabib menjelaskan padanya. Tabib mengatakan kalau Ratu sudah lama mengidap penyakit dan ia hanya bisa memberi obat penghilang rasa sakit.

"Bukan itu yang aku tanya."

"Saat dia sering batuk, dulu--"

"Bukan itu yang aku tanya. Bukan itu penyebab dia meninggal!"


Won memanggil dayang Jo. Kasim Kim memberitahu bahwa Dayang Jo ditangkap untuk menjadi saksi atas perintah Rin.

"Furuthai!"

"Dia sudah meninggal."

"Apa?"


Lalu seorang pengawal menghadap Won untuk menjelaskan semuanya. Furuthi meninggal saat mengawal Ratu ke Yeongsujeon bersama pengawal lain, dibunuh.

"Mohon balas dendamlah pada mereka, Jeoha!"

"Furuthai.. dan pengawal lain dibunuh di Yeongsujeon?" Ulang Won dan dibenarkan oleh Kasim Kim.

"Saya dengar Raja dan Ratu Mu ada di sana. Ratu memberitahuku saat dia keluar dari Yeongsujeon kalau Ratu Mu ada di sana. "Ratu Mu ada di sana"."

"Baiklah."

Won lalu berjalan keluar.


San mendengar Komandan Yongho dan Jendral Eungyang bercakap, rumorberedar mengenai Raja yang membunuh Ratu.

"Apa Raja ingin menyerang Jeoha?" Tanya Komamdan Yongho.

"Belum ada perintah dari Seja."

"Ini bisa menyebabkan perang sipil."

"Tentara Eungyang sedang siaga darurat untuk berjaga-jaga."

"Tentara Yongho juga. Tapi kita harus dipihak siapa?"

Kemudian datanglah seorang tentara, melapor pada mereka bahwa Won telah pergi dari Wonseongjeon dan menuju Yeongsujeon. San langsung berlari ke Yeongsujeon.


Rin juga diam-diam mengamati, ia melihat Song Bang Young diam-diam ke suatu tempat.


Song Bang Young ternyata akan menemui Song In. SOng In memberi komando pada orang-orangnya.

"Surat itu harus sampai di Jujingun sebelum malam. Cepat."


Song Bang Young: Apa yang kau lakukan? Kau harus melarikan diri atau bersiap perang. Eungyang, Yongho, dan Tentara Istana Kedua telah dikirim. Jika mereka mengelilingi istana, tamatlah kita. Kenapa kau melakukannya? Kau tidak bisa mencegah ini.

Song In: Aku bisa.

Song bang Young: Bagaimana? Kau tidak memberitahuku!

Song in: Aku sudah memikirkannya sebelum membunuh Furuthai. Itu sebabnya aku membunuh dia. Tapi aku tidak tahu akan secepat ini. Ratu seharusnya hidup lebih lama.

Song Bang Young: Setelah terjadi sesuatu pada Ibunya, Seja Jeoha pasti melakukan sesuatu. Kita bisa mati. Astaga, aku terlalu muda untuk mati.


Song In dan Song Bang Young databg ke kamar Raja. Song In bertanya bagaimana keadaan Raja. Boo Yong balik bertanya, Song In maunya seperti apa?/

"Kenapa bertanya? Bangunkan dia!" Kata Song Bang Young. Lalu  Song Bang Young berkata pada Song In, "Para Komandan tidak sepenuhnya mempercayai Seja Jeoha. Ini saatnya Raja mendapatkan kembali kekuatannya dan--"

Song In menanyakan dimana Rin. Song Bang Young mengatakan kalau Rin menyelinap keluar saat rapat.

"Kau harus membawa Wang Jeon atau Wang Rin untuk mendengar surat wasiat Raja. Raja tidak akan pernah bangun." Kata Song In.

Boo Yong menangguk.


Song In menjelaskan, "Seja berpikir kalau Raja yang membunuh ibunya. Semua orang tahu bagaimana sikapnya. Dia kesini untuk membalas dendam Ibunya. Kita tidak tahu dia akan melakukan apa."

"Apa maksudmu tidak tahu?" Tanya Song bang Young.

Song In malah bertanya pada Boo Yong, apaBoo Yong mengerti dan Boo Yong menjawab iya.

"Apa kau--" Song Bang Young hendak bicara tapi Song In selalu memotongnya.

"Bawa salah satu keluarga Wang. Kita butuh Raja."

"Wang Rin? Wang Jeon?"

Song In dan Song Bang Young pergi, lalu Boo Yong mengeluarkan dupa.


Song In melihat rombongan Won datang, maka ia bersembunyi.


Dibelakang Song In ada Song Bang Young tapi tidak sempat bersembunyi karena Won keburu melihatnya. Won bertanya, siapa yang membunuh ibunya. Song Bang Young pura-pura tidak tahu.

Won langsung menarik pedang pengawal dan menodongkannya pada Song Bang Young.


"Saya tahu. Saat Ratu datang, Ratu Mu ada di sini. Dia marah saat melihatnya, dan--" Kata Song Bang Young.

"Dia tidak akan marah karena orang seperti dia. Tapi Raja berpihak pada Ratu Mu, membuatnya marah, dan berteriak pada Ratu. Untuk melindungi Ratu, pengawal menghentikannya, tapi dia memerintahkan untuk membunuh mereka."

"Dimana Raja?"

"Dia ada di dalam. Dia di kamar tidurnya."

"Dia bersama wanita itu?"


Usai membkar dupa, tiba-tiba Rin muncul. Boo Yong sangat kekatkutan sampai menjatuhkan cangkir. Rin melihat dupa itu, ia langsung melemparnya tanpa berkata apapun, hanya menatap Boo Yong tajam.


Boo Yong melarikan diri tapi ia malah bertemu dengan Won. Won datang sambil menyeret pedang dan itu membut Boo Yong mundur ketakutan. 

"Kenapa kau melakukan itu pada Ibuku?"

"Ini salah paham."

"Apa?"

"Anda salah. Kematian Ratu tidak ada hubungannya dengan saya."

"Aku bahkan belum bertanya dengan rinci, tapi kau sudah menjawabnya."

"Ini bukan salah saya."


Won makin mendekati Boo Yong. Boo Yong seharusnya melakukan itu nanti. Ratu kemarin datang ke Istana Won, ingin bicara dengannya, tapi ia tidak ingin mendengarnya karena tidak mempercayainya.

"Aku menyuruhnya pergi dari istana jika dia tidak terima. Aku tidak sadar kalau itu yang terakhir kalinya. Kau seharusnya memberiku kesempatan untuk menemui dan berbicara dengannya. Banyak yang harus kukatakan padanya. Dia tidak bisa mati secepat ini."

"Ratu sendiri yang menjemput mautnya. Ratu seharusnya tidak datang. Dia bisa mengabaikannya. Dengan begitu, tidak akan terjadi apa-apa. Jika dia membiarkannya, dia akan hidup."

"Hentikan."

"Dia seharusnya hidup dengan tenang. Mengapa dia datang dan ikut campur? Mengapa?"


Won langsung menebaskan pedangnya ke leher Boo Yong. Darah terciprat ke dinding.

San datang dan langsung memeluknya dari belakang, momohon agar ia berhenti.

"Masukkan kembali pedang itu! Tolong!"

Tapi Won malah melepaskan pelukan San hingga San terdorong jatuh.


Won masuk ke dalam tapi tidak ada siapa-siapa disana.

"Apamama. Raja. Keluar. Keluar, dan bicara padaku. Mengapa kau membunuhnya? MENGAPA? Apa.. salah Ibu? Raja! Raja! Keluarlah, dan bicara. Jangan bersembunyi seperti pengecut. Keluar!"


San tak tega melihat Won seperti itu, ia mendekat dan memeluknya. Tapi baru sekejap Won sudah melepaskan pekukannya.

Won lalu membanting pedang yang dibawanya, ia berteriak frustasi. AAAAA!!!!!! Aaaaa!!!


Koo Hyung menyampaikan di depan sebuah ruangan, "Tengah malam ini, mereka akan mulai berkabung. Mereka tidak bisa menunggu Raja lagi."

Rin terdengar menjawab dari dalam, "Baiklah. Kerja bagus."


Ternyata di dalam ruangan itu ada Raja, Guru Lee, murid Guru Lee dan Rin sendiri. Rin membawa dupa yang dibakar Boo Yong. Guru Lee mencium bau dupa itu dan merasa baunya seperti racun.

"Dupa ini selalu dibakar di kamar Raja." Jelas Rin.

"Dan dia menyuruh Raja minum teh merah, 'kan?"

"Kalau dipikir-pikir, itu mungkin penawarnya."

"Mungkin."


Rin yakin dupa itu yang melemahkan Raja dan Guru Lee setuju. Rin kemudian bertanya, apa ada cara untuk menangkal racunnya?

"Jika orang yang membuat racun ini sudah mati, kita tidak punya pilihan selain mencari tabib."

"Dimana kita bisa menemukan tabib yang ahli?"

"Orang yang paling ahli i Ibukota pasti berada di Rumah Sakit Istana."

"Aku akan membawanya."


Guru Lee memanggil muridnya, Yeong Su, bertanya apa Yeong Su ada kenal tabib Istana? Yeong Su menjawab ia akan membawanya. Guru Lee berpesan untuk hati-hati.


Guru Lee mengulangi rencana awal Rin adalah memulai rapat dewan dan Ia yang menyelesaikannya setelah Rin pergi. Sementara ia menyelesaikannya, Rin akan melarikan diri dengan hartanya.

"Benar."

"Semuanya tidak berjalan sesuai rencana, tapi tidak sepenuhnya mustahil. Aku akan melaporkan semuanya di pagi hari. Tapi kau harus melarikan diri sebelum pagi tiba. Jangan kehilangan kesempatan ketika semuanya sedang sibuk.

Tapi Rin menatap raja. Guru Lee menasehati, ketika melarikan diri, Rin seharusnya tidak melihat ke belakang,lurus saja kedepan.


Rin keluar tapi ia seperti berat sekali untuk pergi. Guru Lee menyusulnya keluar, bertanya kenapa Rin masih ada di sana?

"Aku merasa seperti.. ada batu yang diikat dikakiku." Kata Rin.

"Aku tak melihat apa-apa."

"Aku yakin Nona San bersama Jeoha sekarang. Itulah dia. Dia tidak akan bisa meninggalkannya sendiri pada saat seperti ini."

"Apa yang kau takutkan? Kau takut dia tidak akan ikut denganmu?"

"Jika dia setuju.. Jika kami pergi, Jeoha akan ditinggal sendiri."

"Itulah batunya."

"Jadi.. Aku tidak akan pergi malam ini."

"Lalu kapan?"

"Setelah aku menyingkirkan batu ini. Setelah aku membuang beban di kaki dan dadaku, lalu aku akan pergi."


Song In ke rungan Raja dan ia melihat darah Boo Yong masih disana.

Kilas Balik...


Saat Boo Yong ditodong Won, ternyata Song In menyaksikan semua itu. Boo Yong juga tahu Song In mengintip dan masih sempat tersenyum pada Song In.

Lalu Won meletakkan pedang di leher Boo Yong, tapi Boo Yong malah semakin berani hingga Won menebasnya.

Song In sangat terpukul, matanya berkaca-kaca.

Kilas Balik Selesai... 


Lalu Song In masuk ke dalam, disana ia melihat Boo Yong (bayangannya saja) sedang menyalakan dupa, lalu setelah melihatnya Boo Yong mendekat dan memeluknya.

"Aku merindukanmu. Aku selalu merindukanmu." Kata Boo Yong sambil menangis.


Song In geram, sedih, menangis, berteriak, "Seja Wang Won. Kau melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Kau harus.. menerima akibatnya.


Won dipakaikan baju berkabung.


San titip salam untuk Rin pada Boo Yong, "Katakan ini pada Tuan Rin. Aku minta maaf tidak datang kesana. Aku tidak dikurung. Sekarang.. belum waktunya pergi, itu sebabnya aku tidak datang."

"Lalu kapan kau akan ikut dengan kami?"

"Saat aku melihat Seja Jeoha tersenyum, aku akan pergi."


Upacara pemakaman digelar. Won selalu berada disamping Won. Dayang Jo sudah dibebaskan, ia yang membakar sepatu Ratu.


Dayang Jo lalu memberikan sebuah kain pada Won dan Won harus memutar-mutar kain itu.

Ternyata Rin melihat Won dari atap, tapi tidak ada yang tahu, termasuk San.

Ada yang berdiri di atap (bukan atap yang Rin naiki) dan berseru, "Ratu sudah meninggal dunia."


Jang Eui membawa seorang penjaga ke hadapan Won, "Ada tandu yang keluar dari istana pagi tadi."

 Won bertanya pada penjaga itu, apa penjaga itu melihat siapa yang didalam tandu? Penjaga itu menjawab tidak. Won bertanya lagi, kenapa?

"Itu dibawa oleh Tuan Rin, jadi saya tidak berani."

"Rin membawa Raja. Mengapa? Menjauhkannya dari siapa? Aku?"



San masih ada disana namun ia hanya bisa diam mendengarkan.


Seseorang datang lagi menjelaskan, "Kami memberinya segel karena dia memintanya. Di waktu pagi tadi."

"Rin juga mengambil segel Raja. Mengapa?"

Won menyuruh untuk mengirim orang ke kamar Dan. Rin pasti menyembunyikan Raja dan segelnya, ia tahu tujuannya. Rin mungkin akan mendatangi adiknya. Jadi awasi Dan dengan ketat.

Jang Eui tampak tidak setuju dengan Won, lalu Won membentaknya, "Aku memberimu perintah." Jang Eui pun terpaksa melakukan perintah itu.


Won ditinggal berdua dengan San. Won berkata, "Kau menyamar sekarang. Kau menyelinap pergi dan kembali, atau kau akan pergi?"

"Aku kembali." Jawab San.

"Lalu Rin akan datang menjemputmu."

"Dia tidak akan melawanmu. Kau mengenalnya lebih dari siapapun."

"Itulah mengapa.. aku menyanderamu. Kau umpan dan perangkap."


Rin bertanya apa rencana Song In, Song In bilang sendiri akan menjadikannya Raja. Song In diam saja. Rin lalu bertanya, apa Song In membunuh Ratu tanpa ada rencana?

"Dia memang sakit." Jawab Song In.

"Penyakit itu tidak akan membunuhnya."

"Kami tidak punya pilihan selain tidak setia."

"Rencanamu."

"Saya akan meminta Kaisar membatalkan tahta Raja (Permohonan untuk membatalkan tahta). Kami akan mengatakan Raja terlalu lemah untuk menjalankan tugasnya dan beliau harus melepaskannya. Namun, anaknya, Won, sangat bengis dan--"

"Kau bisa membuktikannya?"

"Dia membunuh Ratu Mu, seseorang yang harus dipertimbangkan karena dia Ibunya yang lain. Itu membuatnya menjadi binatang buas. Dia harus diturunkan. Kami akan menyarankan Anda menjadi Raja."

"Apa Raja akan setuju?"

"Kita tidak membutuhkan persetujuannya."

"Kenapa?"

"Saya punya segel Raja."


San datang ke kemar Ratu, ia melihat kelopak bunga peony berceceran di lantai, ia lalu mengumpulkannya satu-satu.

Won datang, "Pelayan memang tidak berguna. Mereka bahkan tidak membersihkannya. Aku pikir kau sudah pergi karena aku tidak menemukanmu."


San lalu berdiri menghadap Won, "Ketika aku kecil, kau menyampaikan pesan terakhir Ibuku. Aku ingat sesuatu yang akan kuberitahu padamu. Ratu bilang padaku dia tumbuh seperti bunga peony. Kau sudah tahu?"


Won menggeleng, ibuna tidak pernah ceruta hal itu padanya. San kemudian menjelaskan sambil meletakkan kelopak bunga Peoby itu di atas kain.

"Ratu muda sering melihat Putra Mahkota Goryeo yang datang dari jauh. Suatu hari, saat dia sembunyi ada seseorang yang mengulurkan bunga padanya. Itu Ayahmu, Raja, dan bunga poeny."


San lalu mengulurkan kain dengan kelopak bunga Peony itu pada Won, "Tepat sebelum meninggal, dia meminta bunga peony. Mereka memberinya, dan dia memegangnya didada. Aku rasa ini dia."

"Apa yang ingin kau katakan?"

"Dia pernah mengalami hari yang indah. Kau hanya perlu mengingat kenangan indah itu. Itulah yang ingin aku katakan."

Won akhirnya mau menerima kain itu, "Ibu hanya memilikiku. Dia melawan dunia setiap hari dalam hidupnya. Aku bosan punya ibu seperti itu."


San lalu mengulurkan kain dengan kelopak bunga Peony itu pada Won, "Tepat sebelum meninggal, dia meminta bunga peony. Mereka memberinya, dan dia memegangnya didada. Aku rasa ini dia."

"Apa yang ingin kau katakan?"

"Dia pernah mengalami hari yang indah. Kau hanya perlu mengingat kenangan indah itu. Itulah yang ingin aku katakan."

Won akhirnya mau menerima kain itu, "Ibu hanya memilikiku. Dia melawan dunia setiap hari dalam hidupnya. Aku bosan punya ibu seperti itu."


Won melanjutkan, "Mereka mengejekku ketika aku pertama kali mendapatkan kekuasaan dan memanggil ibuku. Mereka akan mempermalukannya di sana."

"Pasti ada alasannya."

"Tapi Ayah pasti yang lebih dulu mempermalukannya. Itu sebabnya dia memilih mati."

"Ayo keluar dari ruangan ini."

Tapi Won menepis tangan San yang hendak menariknya keluar.


Won: Aku akan berpura-pura tidak tahu perasaanmu pada Rin. Jadi lupakan. Dengan begitu, Rin akan memiliki kesempatan untuk hidup.

2 komentar

Makasih rekapnya☺. Maunya Won sama San aja... 😆

San sm siapa jadi nya ya,msh penasaran d tunggu lanjutn nya mba

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon