Thursday, September 21, 2017

Sinopsis The King Loves Episode 39


Sumber Gambar: MBC


Won dan Rin sampai di rumah San dan mereka berpencar.


Rin menemukan beberapa orang berpakaian serba hitam terbunuh, di tubuh mereka tertancap anak panah. Lalu Rin melihat Bi Yeon terikat dan matanya ditutup, Rin membantunya.

"Apa yang terjadi?" Tanya Rin.

"Putri Mahkota dan Nona San..."

"Dimana mereka?"

"Mereka di kamar Nona San."

Rin akan kesana tapi Bi Yeon menahannya. Bi Yeon memberi Rin obat penawarnyam, harus diminum sebelum matahari tenggelam, jika tidak akan meninggal.


Won ke kamar San dan ia hanya melihat Dan disana. Dan tidak menjwab saat Won bertanya apa ia baik-baik saja.

"Katakan padaku. Apa yang terjadi? Kenapa kau sendirian di sini? Putri Mahkota. Dan-ah!"

"Nona San.. minum teh beracun.. karena aku."


Won lalu menemukan surat di meja.


Won keluar, ia menitipkan Dan pada Jin Gwan dan yang lain mengikutinya. Rin melihat Won terburu-buru, ia bertanya Won mau kemana tapi Won tidak menjawabnya. Rin menahan dengan memegang lengan Won tapi Won malah menepisnya.

"Dan baik-baik saja." Kata Won.

"Bagaimana dengan Nona San?"

"Dia diculik."


Rin akan pergi bersama Won tapi Won menahannya, karena si penculik ingin Won datang sendiri. Rin bertanya siapa penculik itu? Won menunjukkan suratnya dan mengatakan kalau Song In menginginkan dirinya.

"Kau harus tetap disini. Aku harus pergi sendiri. Kalian juga tidak boleh mengikutiku. Ini perintah."

"Aku bisa sembunyi seperti bayangan." Paksa Rin.

"San diracun."

"Aku punya obat penawarnya."


"Teman yang aku temui saat berusia 12 tahun, menunjukkan dunia padaku. Kau berada di dunia itu. Kau seperti burung kecil, dan aku pohon anggur yang menyukai burung itu. Langit terlalu besar, dan kau sangat kecil. Kau ada dimana?" Narasi Won


Song In membawa San dengan kereta, ia menodong San dengan pisau supaya tidak melawan. Song In mengintip ke luar, berkata kalau musim panas sudah berakhir, langit tampak biru seperti lautan di Sancheon.

"Kita pasti menuju ke Utara." Tebak San.

"Kau tidak akan bertanya tujuan kita?"

"Bukan itu pertanyaanku."

"Aku akan menjawab pertanyaanmu."


San: Delapan tahun lalu, banyak orang yang meninggal bersama Ibuku di Sungjukjae. Apa kau yang memerintahkannya?

Song In menjawab tidak ingat karena sudah lama sekali. San menyuruh Song In mengingat-ingatnya, ia selalu memikirkannya setiap hari selama delapan tahun. "Apa yang harus aku lakukan?" "Apa tidak ada yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan mereka?". Lalu bagaimana SOng In bisa bilang tidak ingat? "Kejadiannya sudah lama sekali?"


Song In berkata, San butuh kerikil dan semen untuk membangun rumah. Jika San mencoba mengingat semua nama kerikil, San tidak akan bisa bangun rumah. Hobi Song In adalah membangun rumah sepanjang hidup, ia membangun rumah kecil dan besar dan menggunakan manusia untuk membuat rumah-rumah itu.

"Jadi, apa yang kau dapatkan?" Tanya San.

"Itu.. Aku sangat senang hari ini."

Song In kembali melihat ke luar, memmberitahu kalau Dan pasti sudah batuk darah sekarang dan jika matahari terbenam Dan akan mati.

"Dengar. Dari semua yang dimiliki Seja, Aku akan menyingkirkan Ibu, teman, dan istrinya. Sekarang, giliranmu."

"Apa ini menyenangkan bagimu?"

"Menyenangkan sekali. "Apa yang harus aku lakukan saat Seja datang?" "Bagaimana cara terbaik untuk membunuhmu di depannya?" Apa aku harus membuatnya memilih antara hidupmu dan obat penawar?"

"Sayang sekali."

"Apa maksudmu?"

"Aku menghancurkan semua kesenanganmu."


San lalu muntah darah. Song In segera memerintahkan untuk menghentikan kereta.


Guru Lee menghadap Raja yang saat ini ada di Ruangan Ratu.

"Kau datang juga. Kau sering mengatakan hal buruk padaku dan akhirnya diusir."

"Anda mengusirku."

"Kau seharusnya tetap datang. Kau harus terus mengatakan hal buruk sampai aku mengerti."

"Itu tidak mudah. Anda hanya suka disanjung."

"Kau..."


Raja kesal, tapi ia menahan amarahnya, ia mengisyaratkan agar Guru Lee duduk. Raja mengelus kursi Ratu, berkata kalau Ratu sudah meninggal, Ratu meninggal saat ia tidur.

"Kudengar Anda tinggal di Wonseongjeon setelah bangun."

"Saat aku bangun, semuanya sudah berakhir. Aku tidak bisa melakukan apapun. Mereka bahkan tidak menunjukkan wajahnya. Aku yang menyebabkan kematiannya. Ini karenaku. Kami menikah. Aku suaminya."

"Anda sedang sakit sekarang. Kudengar Anda juga bisa meninggal."

"Apa lagi yang kau dengar?"

"Kudengar Anda mengumpulkan kelompok yang menentang Yuan. Dan membunuh Putri Won Sung diam-diam karena menentang Anda."

"Apa? Aku?"

"Dan Anda memberi perintah kepada Jujingun di perbatasan untuk menyiapkan perang."


Raja langsung berdiri terkejut, Guru Lee mendengar itu dari siapa? Siapa yang bilang begitu?

Guru Lee juga ikut berdiri karena Raja berdiri, "Orang-orang dari Yuan akan datang dan akan menarik perlindungan di bawah Sejogujae (Sumpah Yuan memperlakukan Goryeo sebagai negara merdeka). Lalu Goryeo akan menghilang, dan Satuan Biro Yuan akan membuat Jepang memerintah. Mereka memintaku untuk menjadi Kepala Biro."

"Lee Seung Hyu. Lancang sekali kau."

"Sepertinya saya memiliki pengaruh besar diantara Goryeo dan Yuan. Saya pasti terkenal."

"Jadi? Kau datang kemari untuk mengambil... negara ini dariku?!"

"Jika saya menjadi Kepala, setidaknya butuh 15 tahun. Itu sia-sia karena hidupku tidak lama lagi. Jadi Raja, Saya ingin Anda melindungi negara ini."


Song In mencari penawarnya tapi tidak ketemu. San masih bisa menanggapinya walaupun lemah sekali.

"Sepertinya rencanamu tidak berjalan baik. Menarik sekali."


Song In memanggil Moo Suk, mengatakan kalau obat penawarnya hilang. Moo Suk menjawab ia yang mengambilnya. Song In memintanya kembali.

"Aku sudah berikan padanya." Kata Moo Suk.

"Apa katamu?"

"Aku ingin mengambil cap emasmu, tapi tidak punya kesempatan. Beri aku cap emas Goryeo." Kata Moo Suk sambil mengambil anak panahnya.


Song In mendekati Moo Suk, sementara San semakin lemah dan akhirnya pingsan.


Song In berjalan mendekati Moo Suk dan Moo SUk menarik busur panahnya.

"Kau ingin mengkhianatiku? Akulah yang menyelamatkanmu. Aku memberi makan, pakaian, dan mengurusmu."

"Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku membunuh orang sesuai perintahmu."

"Dan kau harus tetap seperti itu."

"Aku melakukannya karena kau mengatakan itu demi Goryeo."

"Apa karena aku menyuruh membunuh wanitamu? Itu sebabnya kau marah?"

"Aku tahu kau ingin menyerahkan bangsa kita pada Yuan."

"Moo Suk-ah!!! Jangan begini. Aku masih membutuhkanmu. Saat Seja datang, au harus melindungiku..."

"Ayahku adalah Komandan Sambyeolcho, Unit Pertahanan Khusus."

"Iya. Dia mati ketika bertarung dengan Yuan, meninggalkanmu, anaknya. Itu sebabnya aku.."

"Berikan! Cap Raja."

"Kita sudah seperti.. saudara kandung."


Song In tak takut sama selali mendekati Moo Suk padahal Moo Suk semakin kencang menarik senanr busur panahnya. Moo Suk ragu untuk memanah Song In, jadinya Song In mempunyai kesempatan untuk menyerang Moo Suk, ia menusuk Moo Suk.


"Moo Suk-ah. Ini aku. Aku sudah mengajarimu.. untuk tidak ragu."

Moo Suk pun tumbang, meninggal.


Won dan Rin berhenti di persimpangan. Rin menemukan jejak roda kereta dan itu masih baru. Won melihat darah dari luka Rin, ia menkannya dan Rin kesakitan.

"Kau pergi sejauh ini dengan kondisi begini?"

"Aku bisa melakukannya."

"Aku akan pergi sendiri."

"Kau tidak bisa."

"Kau gila?!"

"Aku tidak bisa tetap diam."

"Aku mengerti, beri aku obat penawarnya. Itu bisa bercampur dengan darahmu."


Rin pun memberikan obat penawarnya. Lalu Won naik duluan ke kudanya dan ia sengaja menepuk kuda Rin sehingga kuda Rin lari duluan.

"Jeoha."

"Tunggu aku. Aku akan membawanya."

Rin akan mengikuti Won tapi ia tidak bisa, jadinya ia mencari jalan pintas.


Rin menemukan Moo Suk yang sudah meninggal.


Sementara itu, Song In mengendarai keretanya sendiri. Ia lalu membawa San ke pinggir laut.

"Matahari akan segera terbenam. Tetaplah bertahan. Sakitnya.. tidak akan lama."


Won melihat kereta Song In, tapi saat ia membukanya isinya sudah kosong.


Song In tiba-tiba muncul, ia tak menyangka seorang Putra Mahkota Goryeo datang sendiri untuk menyelamatkan wanita.

"Dimana dia?"

"Dia sedang sekarat."

"Apa yang kau inginkan?"

"Apa aku akan mendapatkannya?"

"Katakan."

"Aku mempertimbangkan hal ini. "Apa aku harus mengambil Goryeo?" "

"Kau banyak bicara."

" "Apa aku harus membunuh Raja dan memimpin Goryeo, sebagai persembahan baru, dan menjadi pemimpin yang sah?" "

"Kau akan menyerahkan kami ke Yuan?"

"Aku tidak bisa diganggu. Mengambil Goryeo darimu sudah cukup. Karena itu hal terakhir yang kau punya."

"Kau sangat banyak bicara."

"Kau akan membunuhku? Bagaimana dengan Nona San?"

"Aku akan membunuhmu lalu mencarinya."


Won menghunus pedangnya dan mulai menyerang Song In tapi Song In bisa menghindar. Song In mengejek, Won lebih lemah darinya dalam segala hal, baik otak, Otot, dan cara bertarung.


Tapi Song In tidak mengerti, kenapa Won harus yang memerintah Goryeo? Ia Raja yang lebih baik! Ia lebih baik dari Won.


Song In berhasil menjatuhkan pedang Won, ia siap menusuk Won dengan pisaunya tapi tiba-tiba sebuah anak panah menusuk punggungnya. Itu adalah anak panah milik Rin. Rin datang untuk membantu.


Won berusaha mengambil pedangnya kembali tapi Song In tahu dan bergerak cepat dengan menyanderanya. Rin kembali mengambil anak panah dan memasangnya di busur.

Song In ketawa, "Aku ragu kau bisa.. bertahan lebih lama lagi."

Rin melihat lukanya yang makin berdarah, tapi ia memaksa, ia menarik senar busur semakin kencang.

"Tuan Lin. Kau masih.. belum tahu harus.. berada dipihak siapa?"


Rin melepaskan panahnya dan tepat saat itu Won menghindar jadi anak panah Rin mengenai dada Song In. Won bertanya, dimana San! Katakan!

Tapi Song In hanya diam saja. Rin lalu memanggil Won setelah melihat noda darah bercecer.


Sebelum meninggal, Song In kembali melihat Boo Yong. Boo Yong berjalan mendekatinya dan itu membuat Song In tersenyum. 


Won dan Rin menemukan San di pinggir laut, tempatnya namanya Sokcho.


Won dan Rin menemukan San di pinggir laut, tempatnya namanya Sokcho.

Won mengeluarkan penawarnya dan langsung meminumkannya pada San.

"Dia akan baik-baik saja, kan?" Tanya Won.

"Aku tidak tahu. Kau menuangkan semuanya."

"Dia akan baik-baik saja."


Rin meninggalkan mereka berdua untuk mengambil tandu karena San harus segera dibawa ke tabib.


Guru Lee berjaga di gerbang Istana, menanti kedatangan Won.


Won menyuruh Guru Lee untuk merawat pasien di dalam tandu. Guru Lee menahan Won, berkata bahwa ada yang harus Won ketahui terlebih dahulu.


Utusan dari Yuan datang menghadap raja bersama Song Bang Young. Raja bertanya, apa yang Song Bang Young lakukan bersama para utusan itu.

"Para Utusan ingin mengetahui banyak hal, jadi saya membantu mereka."

"Apa yang ingin kau ketahui?"


Utusan menunjukkan sesuatu. bulu-bulu dan ada darahnya.


Kanselir menegur Utusan itu, memberitahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan Raja, jadi jangan berani kasar seperti itu.

Song Bang Young menjelaskan, benda itu (sebuah jimat) ditemukan di bawah kursi kamar Ratu.


"Ratu menerima kutukan sampai mati. Ini buktinya. Ratu Mu membuat barang terkutuk ini. Dan dia wanita Anda." Kata Utusan. Song Bang Young menambahi bahwa banyak dayang istana yang memberi kesaksian.

Raja menyuruh utusan langsung saja.

Utusan: Dia adalah Putri Kublai Khan. Keluarga Kaisar Yuan ingin tahu penyebab kematiannya. Anda harus menemaniku pergi ke Yuan.

Raja ketawa. Sementara Kanselir berkata, almarhum Kaisar berjanji, Raja Goryeo akan mengawasi semua yang terjadi di Goryeo. Itu perintahnya. Apa  Utusan ingin menentang perintahnya dan mencampuri urusan kami? Raja adalah saudara ipar Almarhum Kaisar.

Utusan: Baik itu Almarhum Kaisar maupun Putri Won Sung yang meninggal. Dia bukan saudara iparnya lagi.

Raja: Apa kau mengatakan.. Aku menyuruh seseorang.. membuat kutukan pada Ratuku sendiri untuk membunuhnya? Itu maksudmu? Aku? Mengapa?!!!!

Utusan: Dinegara Goryeo, ada kelompok yang menentang Yuan. Dan kami punya saksi yang mengatakan.. Anda pemimpin kelompok itu.

Kanselir: Itu fitnah.

Utusan: Apa Anda membunuhnya untuk membuat dia bungkam ketika dia ingin mengungkapkan apa yang Anda lakukan?

Kanselir: Utusan.

Utusan: Jika Anda tidak bersalah, datanglah ke Yuan.


Won masuk dan berkata akan membuktikan bahwa Raja tidak bersalah. Won terus berjalan masuk hingga sampai tepat di depan Raja.

"Apamama. Aku mengejar pemimpin kelompok anti-Yuan sesuai perintah Anda. Dia sudah ditembak dengan anak panah, dan langsung meninggal.

Won bahkan menunjukkan bekas darah di tangannya yang masih basah.



Won melanjutkan, orang anti Yuan itu (Song In) membuat pengakuan sebelum kematiannya bahwa dialah orang yang melakukan hal mengerikan itu (meletakkan jimat di kamar Ratu).

Won berbisik pada Raja, "Aku pantas dipuji. Aku melakukannya dengan baik, 'kan?"

Utusan mengenalkan dirinya sebagai Utusan Hokochui. Utusan bertanya, apa Won menemukan cap emasnya?

"Cap emas?" Tanya Won.


Lalu Utusan menunjukkan sebuah dokumen dan Song Bang Young membacanya, "ini surat perintah yang dikirim ke tentara. Isinya memerintahkan tentara diperbatasan harus bersiap-siap perang."

Utusan ketawa, "Dan Yuanlah sisi lain perbatasan itu. Anda ingin berperang dengan kami?"

Kanselir: Kau tidak bisa membuat tuduhan palsu dengan dokumen yang tidak masuk akal itu.

Song Bang Young: Tapi cap emas milik Raja ada disurat ini.

Utusan: Pemimpin kelompok anti-Yuan pastilah orang yang memiliki cap ini. Jeoha. Siapa yang memiliki cap emas ini?

Won dan Raja hanya terdiam.


Guru Lee menjelaskan pada Rin, Pihak Yuan bilang ingin tahu penyebab kematian Ratu, dan menyalahkan Raja karena ingin mengajak perang. Itu semua hanya alasan. Yang mereka inginkan adalah kehancuran Goryeo.

"Apa menurutmu mereka akan membawa Raja ke Yuan?" Tanya Rin.

"Membawa? Mereka menyeretnya. Tanpa Ratu, aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan di Yuan. Aku bahkan tidak ingin memikirkannya."

"Apa yang akan dilakukan Jeoha?"

"Jika kau memikirkannya, ini mungkin kesempatan besar. Jika Raja pergi ke Yuan, dia bisa menjadi Raja baru dan bertahan selama dia inginkan."

"Dia tidak akan begitu."


Guru Lee menjawab kalau Won harus melakukannya. Jika tidak, Goryeo akan berada dalam bahaya. Mereka menginginkan pemimpin kelompok anti-Yuan yang membuat mereka yakin. Itulah satu-satunya cara untuk menenangkan mereka.

Rin: Pemimpin.. yang meyakinkan?

Guru Lee: Setidaknya butuh.. lima besar orang yang bisa menjadi penerus Raja.


Rin menemui San yang harusnya tidur tapi malah bangun. San mengatakan punggungnya sakit jika ia tidur sangat lama.

Rin memperhatikan wajah San dan San masih terlihat tidak sehat, ada lingkaran hitam di bawah mata San.

"Kau ingin bilang aku jelek?!"

Rin tersenyum, "Aku minta maaf."

"Karena kau langsung minta maaf, aku akan memaafkanmu."


Rin bertanya, apa San ingin makan sesuatu? mungkin bubur? Tapi San malah terus mentap Rin. Rin kembali tersenyum dan bertanya kenapa San menatapnya.

"Aku mencoba membaca dirimu. "Apa yang ada di pikiran Lin sekarang?" "

"Aku sedang menatapmu, itu saja."

"Selesai."

"Apa yang aku pikirkan?"

"Pemimpin kelompok anti-Yuan. Menyelamatkan Raja."

"Kau mendengarnya?"

"Goryeo. Yuan. Seja Jeoha."

Rin menghindari topik itu, ia berkaya kalau ia punya bubur kacang pinus, bubur susu, dan bubur nasi.

"Bubur susu." Pilih San.

"Aku akan menyiapkannya."


Rin langsung berdiri, San bertanya, apa Rin akan memasak untuknya?

"Aku akan memesannya." Jawab Rin , tapi ia tak kunjung beranjak dari tempatnya, ia malah menatap San.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya San.

"Aku ingin melihatmu sedikit lebih lama."

Keduanya tersenyum. San kemudian berkata kalau ia tidak bisa membaca pikiran Rin.

"Kau membaca pikiranku lagi?"

"Apa yang ada di pikiranmu.. sampai aku merasa lebih gugup dari sebelumnya?"


Won dan Dan menghadap Raja. Dan membuat kue madu khusus untuk Raja dan Won menyampaikan itu pada Raja, tapi Raja sama sekali tidak menyentuhnya, melihatnya pun tidak.

Won menjelaskan, "Dia tidak menaruh racun. Dia khawatir karena tidak pernah menyapa Anda sampai sekarang. Makanlah. Dia juru masak yang cukup hebat."

Raja malah menjauhkan Kue madu itu darinya. Dan menatap Won, lalu Won berbisik agar Dan tidak memperdulikan Raja, Raja memang orangnya sedikit curigaan, berpikiran sempit, dan pendendam, tapi Raja baik hati.

"Kau tidak bisa mengatakan itu kepada ayahmu yang sakit." Protes Raja.


Won: Anda dengar? Aku baru saja bilang Anda juga pemain yang payah.

Raja: Bagaimana denganmu? Kau tidak tahu apa-apa tentang baduk.

Won: Guruku adalah Ibu. Tidak ada yang bisa menang melawannya di Goryeo.

Raja: Dan aku gurunya.

Won: Tidak mungkin.


Raja: Ck Ck Ck... Kau (Dan) pasti sangat menyesal telah menikahi seseorang seperti dia (Won). Orang tuanya menganggap dia seperti sepatu jerami yang tak berguna. Negara menganggapnya seperti Pangeran berdarah campuran. Dia tidak pernah menerima cinta keluarga. Dia tidak akan tahu bagaimana mencintaimu. Putri Mahkota, Ck Ck Ck... Aku sangat kasihan padamu.

Won kembali berbisik pada Dan, anggap saja omongan Raja itu sebagai restu untuk Dan. Kemudian Won pamit pada Raja karena sudah menyapa.

Setelah Won berjalan beberapa langkah, Raja bertanya, apa Won tahu bagaimana membedakan  batu putih dan hitam?


Won akhirnya main baduk berdua bersama Raja.

Raja: Jika kau berhasil membawaku ke Yuan, kau akhirnya akan memiliki dunia yang kau inginkan. Aku harap kau senang menjadi Raja.

Won: Aku telah melakukan itu saat Anda kehilangan arah karena disihir rubah itu.

Raja: Caramu bicaramu sama seperti preman di jalan.

Won: Aku memang selalu di jalan.

Raja: Apa itu salahku juga?

Won: Aku tidak pernah belajar apapun darimu. Aku harus belajar di jalan.

Raja: Setelah Kakekmu Kaisar, meninggal dunia, kau tidak punya banyak kekuatan.

Won: Sekarang Ibuku sudah meninggal, Aku sudah tidak punya hubungan dengan mereka.

Raja: Mereka menginginkan Goryeo.

Won: Aku tahu itu.


Raja meminta Won untuk melindungi nama Goryeo dengan segala cara. Meskipun.. hal seperti itu tidak penting. Won membantah, hal seperti itu penting baginya.

Raja bertanya, menurut Won apa yang akan terjadi pada orang-orang .yang tidak memiliki nama negaranya? Lalu Raja menjelaskan, mereka akan menjadi budak atau pemberi informasi yang harus berusaha bertahan hidup. Jadi.. tolong lindungi nama itu.

"Siapa yang memiliki cap emasnya?" Tanya Won.

"Aku menghilangkannya."

"Apakah orang yang membuat instruksi kerajaan untuk menyiapkan perang dengan cap emas.. adalah Song In?"

"Aku pikir kau membunuhnya. Kau menemukannya?"

"Tidak ada dengannya."

"Bagaimana caramu mencarinya?"

"Aku akan mengaku kalau aku yang membuatnya."

"Ini tidak masuk akal."

"Tidak ada lagi hubungan kami, tapi aku masih punya darah mereka. Aku akan pergi ke Yuan. Mereka tidak akan membunuhku."

"Itu tidak masuk akal."

"Jika Apamama pergi, kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Dan..."


Won memberikan kelopak bunga Peony yang San kumpulkan. Raja langsung bisa menebak, apa mungkin.. ibu Won yang..

Raja membuka bungkusanya.

"Dia meminta bunga peony sebelum meninggal. Ini bunganya." Jelas Won dan itu membuat Raja menangis.

3 komentar

Entah kenapa aku malah berharap ending nya rin sama san..

Emang sih,Endingnya bikin kesal sama sang pd writer..Seriously....

Makasih recapnya😍😘😘😘😘 adegan favoritku saat won ngobrol sama ayahnya... dan sadar kalo raja cinta juga sama ratu
Selama ini kita di iming-imingi sama PD dan penulisnya kalo endingnya bakal sama Won hehehe aku ngarep banget sampe episode 38 bakal ada keajaiban apa gitu gak taunya... di episode ini aku makin yakin kalo aku tertipu 😑😑😑 Won akan benar benar melepaskan San. Dan san akan memilih pria yang lebih membutuhkannya 😡😡😡😭😭😭😭 My ship is sink good bye WonSan

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon