Tuesday, September 19, 2017

Sinopsis Magic School Episode 2


Sumber Gambar: jtbc


Na Ra makan malam bersama ayahnya. Ayah bertanya, Na Ra  sedang rajin belajar bahasa Inggris sekarang, kan? Na Ra membenarkan, ia belajar dengan keras.

Ayah menasehati, Di zaman sekarang, butuh belajar bahasa Inggris dengan serius. Ayah akan mendaftarkan Na Ra ke tempat les bahasa Inggris, liburan semester. Na Ra menjawab tidak apa-apa, ia masih bisa belajar sendiri.

"Tidak.. Jika nanti kau sudah jadi PNS, kau akan sering dinas keluar negeri juga, kan?"

"Aku mempelajarinya lewat internet."

"Bukan begitu, kau harus melakukan apa yang orang lain lakukan juga."


Na Ra kemudian mengeluarkan kue ulang tahun, ia ingin ayahnya mencobanya. Ayah mengangkat sumpitnya untuk mencoba kue itu.


Ayah kemudian memberi sesuatu untuk Na Ra sambil mengucapkan selamat ulang tahun, tapi ayah sama sekali tidak kelihatan senang.


Ayah selesai makan dan akan membereskan sisa makannyanya, tapi Na Ra melarang, ia yang akan membereskannya. Na Ra lalu bertanya, apa Ayah sudah mengunjungi Ibu?

"Sudah waktu itu." Jawab Ayah.

"Oh, sudah ya."

Ayah lalu masuk ke dalam kamar.


Na Ra menghela nafas, ia melihat ke kalender, disana ada tanggal yang ditandai, tanggal 12, hari peringatan kematian Ibu.


Na Ra saat ini sedang mencuci piring, ia memulai narasinya.

"Setiap hari peringatan kematian Ibu, terasa berat bagiku dan Ayah. 22 tahun yang lalu, Ibuku meninggal setelah melahirkanku. Karena aku masih kecil, aku.. yang belum mengerti tentang kematian, saat itu tidak merindukan Ibuku yang belum pernah aku lihat. Aku percaya bahwa suatu hari aku akan bertemu dengannya."


Na Ra kemudian masuk ke kamarnya, akan mulai belajar lagi.

"Terlebih lagi, aku tidak suka melihat Ayahku sedih setiap hari ulang tahunku. Setelah aku beranjak dewasa, aku mulai mengerti kenapa Ayah bersedih.  Ulang tahunku hanya.. hari dimana aku merasa bersalah pada Ayahku."


Na Ra kemudian mengeluarkan celana dalam kado dari Woo Ri satu per satu dan jumlahnya genap 10.

"Apa.. dia sudah gila?" Gumam Na Ra.


J dan seorang magician lagi, namanya Kei datang ke sebuah jembatan, mereka dikelilingi oleh Reporter dan penonton, sepertinya akan ada pertunjukkan atau bilangnya atraksi ya?


J kelihatannya masih baru waktu itu, mungkin ia baru asisten atau semacamnya. Kei kemudian mencopot jubahnya dan memberikannya pada J, mereka tidak bicara sepatah katapun.


Kei bersiap, tangannya digembok dan kunci gemboknya dibuang ke sungai. J tampak khawatir.


Kei menaiki tangga satu persatu hingga sampai diatas, sejajar dengan pagar jembatan.


Kei menoleh menatap J, Ja balik menatapnya, lalu K melompat. Semua orang ber-huuu, saking terkejutnya.


J terbangun, semua itu hanya mimpi J. J lalu menoleh ke samping dan jubah Kei waktu itu tergantung disana. J mengatur nafasnya, lama-lama ia tenang.


Ponsel J berdering. Si penelfon bertanya, apa J tidur dengan nyenyak? J bilang ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Si penelfon terkejut, apa karena tempat tinggal J saat ini? J tak menjawabnya, ia menyuruh si penelfon mengatakan saja apa alasannya menelfon.

"Baiklah. Aku menghubungimu karena jadwal hari ini."

"Tidak. aku mau istirahat."

"Ya? Tapi kau ada lima wawancara hari ini."

"Nanti aku hubungi kau lagi."


Joon sedang makan di ruang dokter sambil menyaksikan Trik-trik Magic School di laptopnya. Rekannya yang kemarin menyapanya kembali.

"Ramen lagi?"

"Ya."

"Kelihatannya kau sering makan ramen waktu di Amerika dulu."

"Tidak kok. Aku makan ramen pertama kali di Korea."

"Enak ya?"


Joon berpikir sebelum menjawab, ia mengerti maksud rekannya itu tapi enggan berbagi. Tapi ia akhirnya menawari rekannya itu, mau ta?

"Tidak kok. Makan sajalah."

Joon pun bisa tersenyum lebar, baiklah, ia akan makan sendiri.

Rekannya itu bertanya, kenapa Joon makan ramen setiap hari? Joon menjelaskan, ia ingin menghemat uang. Rekannya tak mengerti, kenapa Joon bersikap seperti orang susah, sih.

"Itu karena.."

"Sudahlah! Setidaknya kau kan punya uang untuk beli cemilan yang lebih layak? Kenapa kau bersikap menyedihkan begini? Seperti kebiasaan buruk."


Setelah mengatakan itu, rekan Joon pergi. Joon plonga-plongo, gak ngerti dia kalimat terakhir rekannya tadi.

"Ak-chim? Ak-cwi-im?"

Joon lalu melihat di internet dan katanya artinya itu bau busuk. Joon terkejut dan mencium bajunya sendiri, tapi gak bau kok.


J kembali datang ke Magic School. Ada Yi Seul dan Jong Man disana tapi J malah asyik membaca.


Yi Seul akhirnya berkata, "permisi~"

"Siapa? Aku?" Tanya J.

"Ya, kau!"

"Kenapa?"

"Kenapa kau datang ke rumah orang lain, lalu duduk seenaknya tanpa izin?"


J mengedarkan pandangan ke sekeliling, apa ini bisa disebut rumah? Sangt kumuh begini?

"Aku makan dan tidur di sini, jadi ini adalah rumah." Kata Yi Seul dan ia tak terima J mengatai rumah mereka kumuh.

J lalu bertanya, kemana Master Han pergi?

"Aku kan sudah memberikan nomor hp dia padamu."

"Dia tidak mengangkat teleponku."

"Itu artinya dia menghindarimu."

J membantahnya, Master Han tidak memiliki alasan untuk menghindarinya. Yi Seul balik bertanya, kenapa J menyimpulkan begitu?

"Lalu kenapa kau juga menyimpulkan begitu?" J menanyakan hal yang sama.

"Apa-apaan?"

"Katamu Master Han menghindar dariku."

"Maksudku itu.."


Jong Man membisiki Yi Seul, menyuruh Yi Seul berhati-hati karena J tampaknya sungguh pria yang berpikir rasional.

"Apa yang sedang kau maksud, sih?!" Kesal Yi Seul.


Na Ra sedang belajar di Perpus. Si Hyung yang kemarin mengiriminya pesan, mengajaknya minum. Na Ra membalas, ia sedang belajar.

"Kalau gitu mau belajar minum dariku? "

"Tidak, aku sedang serius belajar."

"Kau takut, kan? Nara-ah.. Ayo bermain."

"Hyung, aku harus belajar~"



Ponselnya berdering lagi, tapi bukan pesan melainkan dering panggilan. Na Ra mengira itu Hyung tapi ternyata Woo Ri.

Na Ra langsung keluar untuk menangkatnya. Woo Ri sepertinya sedang mabuk, ia bertanya dimana Na Ra sekarang.

"Aku di perpus. Apa kau sedang mabuk?"

"Ya~."

"Mabuk beratkah?"

"Hmm~ Aku tidak dapat berjalan lurus."

"Apa kau bilang?! Kau dimana sekarang?"


Woo Ri sekarang ada di depan minimarket. Na Ra langsung kesana dengan sepedanya. Na Ra mencoba membangunkan Woo Ri.


Tapi ternyata Woo Ri tidak sendirian. Woo Ri bersama seorang pria. Pria itu mengenalkan dirinya pada Na Ra, pria itu orang yang membuat film bersama Woo Ri, mereka pergi bersama lalu Woo Ri menjadi mabuk.

"Oh, begitu ya."

"Aku Nara, temannya Woo Ri."

"Jadi kau itu Nara! Aku sering mendengarmu dari Woo Ri. Walaupun ini pertemuan pertama kita, tapi jadi terasa seperti kita sudah kenal lama."

"Woo Ri bercerita tentangku padamu?"

"Ya."

"Baiklah, terima kasih. Aku akan mengantarnya pulang."

"Ya sudah. Kalau gitu aku duluan, ya."


Na Ra duduk di depan Woo Ri, mencoba membangunkannya tapi Woo Ri tidak merespon.


Na Ra pun harus menggendong Woo Ri pulang. Na Ra berhenti sebentar, ia mendudukkan Woo Ri di sebuah bangku pinggir jalan.


Woo Ri masih belum membuka matanya. Na Ra lalu merebahkan kepala No Ri pada bahunya.


Beberapa detik meudian Woo Ri menggeliat, ia bertanya dimana mereka.

"Kita hampir sampai di rumahmu." Kata Na Ra, lalu memberi Woo Ri air minum.


Woo Ri tiba-tiba mengubah posisi duduknya, ia tersenyum lebar dan meminta Na Ra melihatnya. Na Ra heran, kenapa? kenapa lagi? Apa yang akan Woo Ri lakukan?

"Nara-ku tampan sekali."

"Apa maksudmu, sih~"


Woo Ri tiba-tiba mengalungkan tangannya ke leher Na Ra. Lalu mencium Na Ra, lalu kembali tak sadarkan diri.


Na Ra terkejut, "Ke--Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?"

Na Ra memegang bibirnya, lalu memandang Woo Ri.

Chingudeul, Tuliskan komentar kalian yah..
Kamsahamnida..😘😚
EmoticonEmoticon